Jumat, 16 April 2021

Gereja Dan Diakonia

 


Gereja Dan Diakonia

(Suatu Tinjauan Historis Praktis Terhadap Gereja dan Diakonia Di GKPS Bangun Raya Huluan untuk meningkatkan pelayanan Diakonia dan Bagaimana Implikasinya dalam Kehidupan Jemaat)

I.                   Latar Belakang Masalah

Berbicara mengenai gereja pastinya kita akan membahas yaitu mengenai diakonia yang dimana di dalam tri tugas tugas panggilan gereja ada tiga tugas panggilan gereja yang harus kita lakukan yaitu Marturia, Koinonia, Diakonia. Salah satunya ialah diakonia yang diartikan sebagai pelayanan. Pelayanan diakonia ini sangat begitu luas. Tetapi dalam seminar kali ini penyeminar mengangkat yaitu mengenai gereja dan diakonia yang ada di gkps Bangun Raya Huluan. Dan hal inilah yang menjadi salah satu program ataupun suatu kegiatan yang di laksanakan di gkps bangun raya huluan. Yang berawal dari tata peraturan yang ada di gkps. Namun sejauh ini penyeminar melihat bahwa di gereja gkps bangun raya huluan masih kurang di dalam pelaksanaan diakonia. Yang dimana penyeminar melihat bahwa diakonia yang dilakukan itu masih sangat perlu untuk diperbaharui kembali, yang dimana penyeminar melihat bahwa diakonia yang dilakukan hanya diakonia bukanlah sekedar persoalan memberi uang. Diakonia merupakan sebuah panggilan untuk berbagi hidup dan solidaritas, dengan yang miskin dan tertindas. Diakonia tidak dimaksudkan sekedar untuk menunjukkan hubungan antara pemberi dan penerima. Diakonia harus dijalankan dalam rangka Missio Dei. Oleh sebab itu penyeminar mengangkat judul kita pada saat ini yaitu mengenai gereja dan diakonia dengan suatu tinjauan historis praktis terhadap gereja dan diakonia yang ada di gkps bangun raya huluan untuk meningkatkan pelayanan diakonia dan bagaimana implikasinya dalam kehidupan berjemaat. 

 

II.                Pembahasan

2.1. Pengertian Gereja

Di dalam Perjanjian Baru, kata Gereja berasal dari bahasa Yunani yaitu “Eklesia” yang berasal dari kata “Kaleo” yang artinya mereka yang dipanggil keluar.[1] Di dalam Perjanjian Baru juga kata ini digunakan untuk menunjuk kepada orang sehingga sesungguhnya Gereja itu adalah orangnya (mereka yang dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang Kristus) atau eklesia disebut dengan jemaat (milik Allah).[2] Dalam prakteknya, tidak dapat disangkal bahwa persepsi umum tentang Gereja, baik dikalangan orang Kristen maupun di kalangan bukan Kristen, adalah gedungnya.[3] Jadi dapat dikatakan gereja adalah sekumpulan orang yang merupakan milik Allah yang percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat dan hidup di dunia ini untuk melakukan dan meneruskan pekerjaan yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus.

2.2.Tri Tugas Panggilan Gereja

Dalam kehidupan dan keberadaannya di tengah-tengah dunia Gereja memiliki tugas panggilan yang disebut dengan Tri Tugas Panggilan Gereja  yaitu marturia, Koinonia, dan Diakonia. Dimana ketiga tugas Gereja tersebut memiliki peranannya masing-masing dan tidak dapat dipisahkan. Marturia adalah tugas Gereja yang berperan untuk memproklamasikan shalom. Sedangkan Koinonia berperan untuk menyatakan bagaimana supaya shalom itu nampak dan Diakonia  berperan untuk menerjemahkan shalom dalam pelayanan yang konkret sebagai demonstrasi solidaritas yang jelas dengan jemaat.[4]

2.3.Pengertian Diakonia Secara Umum

2.3.1.      Pengertian Diakonia

Secara Harafiah “ diakonia” berarti” memberikan pertolongan atau pelayanan”. Kata ini berasal dari kata Yunani  diakonia ( pelayanan), diakonein ( melayani), diakonos ( pelayanan).[5] Diakonia adalah tindakan dari Diakonein, sedangkan Diakonos adalah orang yang melakukan diakonia. Dalam konteks, sosio cultural, fungsi diakonia adalah fungsi yang rendah dimana pelayan harus melayani orang lain.[6] Diakonia juga dapat diartikan sebagai tindakan memberi atau uluran tangan kepada sesama manusia yang memerlukan bantuan, ini merupakan suatu tanda kasih kepada sesama. Dan juga diartikan sebagai pekerjaan yang dilakukan dalam pelayanan bagi Kristus di jemaat. Dengan kata lain ini dapat dikatakan bahwa secara harafiah diakonia berarti memberi pelayanan atau pertolongan.[7] Kamus Besar Bahasa Indonesia kata diakonia diartikan sebagai pelayanan Gereja.[8] Dalam Gereja-gereja diakonia pada umumnya dipakai bagi aktivitas Gereja untuk membantu anggota-anggota Gereja yang lemah ekonominya. Diakonia biasanya diterjemahkan “pelayanan”.[9] Diakonia bukanlah sekedar persoalan memberi uang. Diakonia merupakan sebuah panggilan untuk berbagi hidup dan solidaritas, dengan yang miskin dan tertindas. Diakonia tidak dimaksudkan sekedar untuk menunjukkan hubungan antara pemberi dan penerima. Diakonia harus dijalankan dalam rangka Missio Dei.[10]  

 

2.4.Dasar Alkitabiah

2.4.1.      Dalam Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama dasar diakonia adalah sebagai berikut:

1.      Allah sebagai pencipta dan ciptaan-Nya

Dalam kisah penciptaan Allah menunjukkan pelayanan kepada ciptaanya. Sebab dalam kesaksian alkitab, kisah penciptaan ditutup dengan kata “ sungguh amat baik”. Dan dalam artian manusia sebagai makluk yang diciptakan menurut gambar-Nya ( kej. 1:20-28) manusia telah ditugaskan sebagai “ wakil raja” di bawah Tuhan Allah untuk melayani-Nya.[11]

2.      Allah sebagai pemeliharaan

Diakonia dalam ciptaan juga berarti bagaimana Allah menyatakan kepada manusia untuk melakukan pemeliharaan kepada alam semesta dan isinya.

3.      Allah sebagai pembebas

Allah israel dalam hubungan perjanjian dengan umat-Nya mengembangkan pemeliharaan diakonia-Nya kepada semua orang yang berada dalam kesusahan, yang tidak memiliki penolong. Untuk itulah ia membebaskan umat-Nya untuk menolong melakukan pelayanan bagi sesamanya ( Kel. 2:24).[12]

 

2.4.2.      Dalam Perjanjian Baru

1.      Inkarnasi Yesus

Sumber dasar bagi diakonia dalam perjanjian baru adalah peristiwa inkarnasi, karena mulai dari awal sampai akhir hidup dirangkum oleh suatu kata yaitu melayani (Mark 10:45).[13]

2.      Yesus datang untuk melayani bukan untuk dilayani

Kerendahan dari pelayan kristen lebih ditekankan lagi dengan kata doulos atau hamba karena itulah bentuk perhambaan yang dipakai Kristus ( Flp. 2:7) dan menuruti teladannya menjadi hamba Allah. [14]

3.      Penyaliban Yesus

Bagi Kekristenan kematian Yesus di salib mempunyai pengaruh yang luar biasa dalam hidup mereka. Dalam perjanjian lama dan perjanjian baru yang merupakan dasar diakonia tersebut secara langsung dan memberikan teladan bagi manusia dalam hal pelayanan diakonia.

 

2.5.Jenis-Jenis Diakonia

a.      Diakonia karitatif

Diakonia karitatif merupakan bentuk diakonia yang tertua, yang dipraktikan oleh Gereja dan pekerja sosial. Diakonia karitatif sering diwujudkan dalam bentuk pemberian makanan dan pakaian untuk orang miskin, menghibur orang sakit dan perbuatan amal kebajikan. Hubungan yang dibangun dalam diakonia karitatif menggambarkan hubungan antara pemberi dan penerima. Bentuk diakonia karitatif yang lazim dilakukan oleh Gereja adalah mengunjungi orang dalam penjara dengan membawa makanan dan memimpin renungan, menyediakan beras untuk membantu keluarga miskin, serta mendirikan poliklinik gratis atau murah untuk orang miskin. Tidak dapat disangkal bahwa diakonia karitatif mempunyai kelemahan dan keterbatasan. Yang diperlukan pelayan sosial masyarakat (diaken Gereja) adalah pemahaman dan kemampuan mengubah diakonia karitatif menjadi diakonia yang memberdayakan umat. Diakonia karitatif mengandung pengertian perbuatan dorongan belas kasihan yang bersifat kedermawanan atau pemberian secara sukarela. Motivasi perbuatan karitatif pada dasarnya adalah dorongan perikemanusiaan yang bersifat naluriah semata-mata. Pelayanan Gereja terutama pada tindakan-tindakan karitatif atau amal berdasar pada Matius 25:31-36. Model ini merupakan model yang dilakukan secara langsung, misalnya orang lapar diberikan makanan (roti).[15]

b.      Diakonia Reformatif

Dengan pembangunan, kemiskinan dan kelaparan di dunia diharapkan dapat diatasi melalui pertumbuhan ekonomi. Jurang antara yang kaya dan miskin dirasakan. Dalam era pembangunan banyak petani di desa menjadi buruh tani dan buruh pabrik. Kemajuan sektor pertanian tidak memberikan keuntungan pada petani miskin melainkan hanya memberikan keuntungan pada petani berdasi dan pemilik modal besar. Dalam suasana “pembangunan” inilah Gereja juga ikut berpartisipasi dalam pembangunan. Gereja harus meletakkan pembangunan dalam proporsi yang sebenarnya. Gereja harus bersikap kritis terhadap semboyan dan ideologi “pembangunan”. Ideologi pembangunan merupakan ideologi yang muncul di tengah perang dingin ketika terjadi persaingan antara kapitalisme dan komunisme. Ideologi pembangunan dapat dianggap sebagai ideologi untuk menghindari dan menjinakan semangat revolusi melawan kapitalisme dan komunisme di negara yang sedang berkembang. Ideologi pembangunan ditawarkan sebagai ideologi alternatif untuk mengurangi kemiskinan. Model diakonia ini lebih menekankan pembangunan. Pendekatan yang dilakukan adalah Community Development seperti “pembangunan pusat kesehatan, penyuluhan, bimas (Bina masyarakat), usaha bersama simpan pinjam, dan lain-lain.[16] Karakteristik diakonia ini dapat dilihat sebagai berikut, pertama, lebih berorientasi pada pembangunan lembag-lembaga formal, tanpa perombakan struktur dan system yang ada, kedua, sudah menggunakan analisis sosial-kultural, namun tidak menggunakan analisis structural, dan yang ketiga, pendekatan pelayanan ini masih bersifat top-down. Diakonia Transformatif ini dipelopori oleh gereja di Amerika Latin untuk menjawab kemiskinan yang sangat parah. Dalam diakonia ini, bukan hanya berarti member makanan, minum, pakaian, kerja, lingkungan yang sehat, yang telah hilang karena dirampas oleh pihak lain atau yang menindas. Memiliki akses untuk mengontrol kebijakan-kebijakan public, yang menyangkut nasib hidup mereka. Kita butuh nasi namun kita memperolehnya dengan keadilan, kebebasan, martabat, dan pengharapan. Hak hidup yang lebih manusiawi dan beradab inilah yang menjadi orientasi diakonia transformatif.[17]

 

2.6.Gereja dan Diakonia Pada Masa Reformasi

2.6.1.      Martin Luther

Peran Negara dan pemerintah yang pada akhir abad pertengahan tetap memegang urusan diakonia selanjutnya tetap berlaku pada masa kehidupan Luther. Dan dalam hal ini Luther berpendapat bukan hanya pembaharuan ibadat yang penting tetapi juga pembaharuan juga bagi masyarakat, sehingga Luther mengusulkan dibangunnya sekolah-sekolah untuk mendidik anak-anak baik laki-laki maupun perempuan, hal ini dilakukannya sebagai pelayanan yang dipenuhinya terhadap Allah. Karena itu, ia menyarankan kepada dewan-dewan kota di semua Jerman untuk membangun sekolah Kristen, bukan hanya itu tetap telah menjadi kewajiban  pemerintah dapat membantu gereja dalam keuangan.[18]  Disampin itu pada tahun 1520 Luther menulis tiga karya yang sangat penting yang membahas tentang pembaharuan:

a.       An den Christlichen adel Deutscher Nation von des Christlichen Standes Besserung (seruan kepada pemimpin-pemimpin Jerman)

Dalam karangan ini Luther mengajak para pemimpin untuk memperbaharui Gereja. Hal ini diperlukan karena Gereja tidak mau membenahi tubuhnya sendiri. Para pemimpin haruslah memenuhi kewajibannya memerintah yaitu dengan menindak penindasan yang dilakukan Gereja. Disamping itu sebagai orang Kristen yang dibabtis, para pemimpin ikut serta dalam “Imamat” yang menjadi bagian semua orang percaya. Pandangan Katholik Roma yang ditolak oleh Luther adalah bahwa kaum rohaniawan merupakan kasta imam tersendiri dan kaum rohaniawan merupakan Gereja. Semua orang  Kristen berstatus rohaniawan dan mempunyai status yang sama.[19]

b.      De Captivitate Babylonica Ecclesiae Praeludium (Pembuangan Babel Gereja)

Disini Luther menyerang ketujuh sakramen Katolik Roma. Ia mengurangi sakramen menjadi dua yaitu yang ditekankan Yesus Kristus sendiri’ baptisan dan ekaristi. Tetapi Luther tidak saja mengubah sakramen tetapi ia juga menentang doktrin Katolik Roma tentang Ekaristi yang tidak membenarkan penggunaan cawan bagi kaum awam.

c.       Van der Freihei eines Christenmenschen (Kebebasan Orang Kristen)

Disini Luther membedakan antara manusia yang lahiriah dengan manusia yang batiniah. Ia mengatakan bahwa kita dibenarkan hanya oleh karena iman bukan karena oleh perbuatan-perbuatan baik. Perbuatan baik buknlah suatu cara untuk memperoleh jalan untuk menuju kebenaran tetapi buah dari kebenaran. Buah iman yang hidup menjadi nyata dalam pelayanan untuk yang miskin dan menderita. Hal yang ini dicapai Luther adalah orang suka memberi dan tergerak hatinya bagi orang-orang yang miskin dan sesama.[20] Luther juga mempunyai pemahaman tentang diakonat Gereja yaitu hidup dari kebebasan untuk orang lain. hal ini dilandaskan dari Yesus Kristus yang dengan sukarela menanggung sengsara dan mati menggantikan yang oleh pemberontakannya melawan Allah memutuskan hubungannya dengan Dia. Oleh karya penyelamatan Yesus Kristus itu hubungan antara Allah dan manusia pulih kembali. Kristus bukan saja menyelamatkan manusia. Ia juga membaharuinya sehingga tiap-tiap orang Kristen menjadi Kristus bagi sesamanya manusia. Kita melayani sesama manusia karena kasih Kristus di dalam kita.[21]

2.6.2.      Johanes Calvin

Calvin adalah seorang tokoh reformasi dari perancis yang melakukan reformasi di Jenewa. Ia adalah sarjana hokum yang berminat dengan ilmu teologi. Calvin merupakan seorang warga kota Jenewa, ia hanya sebagai seorang pendeta di sana.[22] Hal yang paling mencolok dari tokoh ini yang paling dikenal orang adalah ketertiban dan keteraturannya atau disiplinnya, sehingga ia berusaha bagaimana agar gereja dan Negara berdampingan dalm arti sama-sama bertugas melaksanakan kehendak Allah dan mempertahankan kehormatan-Nya, sebab pada saat itu Jenewa terkenal dengan orang-orang yang pemabuk, penjudi, dan berzinah.[23] Calvin mengutamakan kemandirian gereja yang menjadi dasar baginya bahwa Yesus Kristus adalah kepala gereja dan ia memerintah gerejanya melalui orang khusus. Diakonia adalah proyek keagamaan yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan dunia dan diselenggarakan oleh gereja dan Negara. Pemahaman Calvin mengenai hubungan gereja dan Negara dalam masyarakat Kristen harus takluk kepada firman Allah yang diajarkan oleh Negara, selain itu Calvin telah menekankan bahwa pemerintahan Negara adalah karunia Allah untuk orang-orang Kristen dan bukan hal yang dijauhi.[24]

 

2.7.Diakonia Di GKPS

2.7.1.      Sejarah Singkat GKPS

Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) merupakan salah satu gereja yang berlatar belakang kesukuan, yaitu Batak simalungun. RMG adalah sebuah badan pngabaran Injil dari Jerman sebagai bagian dari upayanya menyebarkan Injil bagi suku simalungun. Semenjak tahun 1900-an RMG mendirikan gereja-gereja di simalungun sebagai bagian dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yaitu dengan menggunakan bahasa toba sebagai bahasa pengantar. Yang dimana Injil masuk ketanah simalungun pada tanggal 2 september 1903 oleh seorang utusan RMG (Rheinische Missinsgesellshaft), yaitu Pdt. August Theis. Selain August Theis, nama-nama Zendeling lainya adalah G.K.Simon, Hendri Guillaume, Edward Muller dan Carl Gabriel. Penginjilan di tanah simalungun tergolong lambat karena setelah beberapa tahun sejak penginjilan masuk ke tanah simalungun ada memberikan dirinya untuk dibaptis. Jaulung Wismar Saragih (1888-1968) dibaptis pada tanggal 11 September 1910. J. Wismar juga menjadi Pendeta pertama dari tanah Simalungun . Lambatnya perkembangan injil di tanah simalungun disebabkan karena pemberitaan injil tidak dilakukan menggunakan  bahasa simalungun, melainkan bahasa toba. Kurangnya perhatian para zendeling terhadap orang-orang simalungun membuat Jaudin Saragih dan Pdt. J. Wismar Saragih mengambil inisiatif untuk memenangkan orang simalungun menggunakan orang simlaungun dan bahasa simalungun. Jaudin Saragih dan Pdt J. Wismar Saragih membentuk organisasi-organisasi untuk memperkenalkan injil kepada orang simalungun, diantaranya adalah Komite Na Ra Marpoda, Kong Laita, dan Parguruan Saksi ni Kristus. Pada tanggal 1 September 1963 HKBPS memandirikan dirinya dan berganti menjadi nama GKPS.[25]

 

2.7.2.      Bentuk-bentuk Diakonia

Untuk menunaikan panggilan dan suruhan gereja sebagaimana dimaksud pada pasal 6, GKPS mempunyai tugas dan tanggung jawab yang merupakan sebagai bentuk-bentuk diakonia, sebagai berikut:

1.      Mewujudkan persekutuan dikalangan orang-orang percaya

2.      Memberitakan Firman Tuhan dan mengabarkan Injil serta melaksanakan pelayanan sakramen

3.      Menyelenggarakan usaha-usaha pengasihan dan pelayanan

4.      Memimpin, membingbing dan membina jemaat berdasarkan Firman Tuhan serta melaksanakan Siasat Gereja

5.      Melaksanakan pelayanan dan perbuatan kasih untuk menyejahterakan sesama manusia

6.      Membina hubungan yang harmonis dengan semua golongan atau kelompok masyarakat. [26]

 

2.7.3.      Diakonia Menurut GKPS

Dengan berlandaskan iman, pengharapan dan kasih GKPS  terpanggil dan disuruh untuk:

a.       Bersekutu Dalam Yesus Krsitus

Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti kita adalah satu. Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku” (Yohanes 17:21-23).

b.      Bersaksi melalui perkataan dan perbuatan

Lalu ia berkata kepada mereka; pergilahlah keseluruh duna, beritakanlah Injil kepada segala makhluk(Markus 16:15)

c.       Melayani sesuai dengan teladan Yesus Kristus

Karena Anak manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45).[27]

 

2.8.Diakonia di GKPS Bangun Raya Huluan

2.8.1.      Sejarah Singkat GKPS Bangun Raya Huluan

GKPS Bangun Raya Huluan berdiri pada tanggal 03 Desember 1995 yang berada di Bangun raya Huluan. Pimpinan yang menjabat sebagai pengurus di GKPS Bangun Raya Huluan pada tgl 03 Desember tahun 1995 sudah almarhum. Yang dimana pemimpin yang menjabat dipengurusan mulai pada tahun 1995-2005 sudah almarhum juga. Pada tahun 2005-2010 yang menjabat sebagai porhanger di GKPS Bangun Raya Huluan ialah St. S.Purba. dan pemimpin mulai dari tahun 2010-2015 ialah Porhanger St.D.Saragih, Wakil Porhanger St.J.Tarigan, Bendahara St.H.Saragih dan Sekrtaris Sy.E.Purba. setelah selesai masa periode selama 5 tahun pemimpin di GKPS Bangun Raya Huluan terpilih menjadi: Porhanger St.D.Saragih, Wakil Porhanger St.A.Saragih, Bendahara St.H.Saragih, dan Sekretaris Sy.E.Purba. inilah yang menjadi pemimpin pada periode tahun 2020-2025. Yang dimana jumlah jemaat yang ada di GKPS Bangun Raya Huluan ada berjumlah 114 Jemaat. TB: 20. TE: 12. GKPS Bangun Raya Huluan ialah pagaran dari GKPS RK IV, ynag dimana RK IV terdiri dari 5 pagaran dan 1 resort dan jumlah keseluruhan ada 6 gereja. Dan Pdt yang bertugas sekarang di GKPS RK IV ialah Pdt. Mega Rozayani, S.Th.[28]

                                                                       

2.8.2.      Diakonia Menurut GKPS Bangun Raya Huluan

Dari hasil wawancara yang penulis lakukan diakonia gkps Bangun Raya Huluan  secara khusus melalui peraturan yang ada di gkps yang sudah ditetapkan dalam tata gereja gkps. Oleh sebab itu melalui peraturan gkps yang ada di gkps bangun raya huluan, itulah yang menjadi dasar untuk melakukan diakonia. Sebuah diakonia yang dilakukan bahwasanya bukan hanya sebagai tugas Pimpinan Harian yang ada di jemaat tersebut, tetapi itu menjadi tugas dan tanggung jawab bersama seperti; para Sintua, syamas, dan seluruh warga jemaat yang ada di gkps bangun raya huluan. Di GKPS Bangun Raya Huluan diakonia diberikan kepada yatim piatu dan para janda yang berjemaat di gkps Bangun Raya Huluan. Itu merupakan suatu tanda kepedulian untuk dapat meningkatkan kemandirian dan kerjasama yang baik di dalam suatu jemaat. Jadi diakonia itu sangat penting sekali di gkps bangun raya huluan itu untuk mempererat hubungan dengan jemaat, karena diakonia itu merupakan sesuatu pekerjaan yang harus dilaksanakan di dalam setiap gereja.[29]

 

2.8.3.      Bentuk-bentuk Diakonia GKPS Bangun Raya Huluan

Diakonia yang dilaksanakan biasanya di GKPS Bangun Raya Huluan adalah melakukan kunjungan-kunjungan kepada jemaat-jemaat yang dalam keadaan  sakit dan juma tanganan. Yang dimana ketika ada jemaat yang sakit maka jemaat itu dijenguk dan didoakan bersama.  Diakonia juga dilaksanakan kepada orang-orang yang ditimpa kemalangan .  yang dimana itulah sebagai kasih yang dilakukan di gkps Bangun Raya Huluan yaitu mengadakan penghiburan kepada keluarga yang sedang berdukacita. Yang dimana jemaat gkps Bangun Raya Huluan ini mengadakan penghiburan kepada jemaat yang berduka itu haarus dibicarakan pimpinan harian terlebih dahulu, supaya di hari minggu sewaktu selesai kebaktian minggu diumumkan supaya jemaat itu pun mengetahui informasi. Jadi ketika jemaat tersebut seang berduka tidak hanya pimpinan yang ada dijemaat itu saja yang datang tetapi juga bersama dengan jemaat tersebut.[30]

 

2.9. Suatu Tinjauan Historis Praktis Terhadap Gereja dan Diakonia Di GKPS Bangun Raya Huluan untuk meningkatkan pelayanan Diakonia dan Bagaimana Implikasinya dalam Kehidupan Jemaat

 

Di dalam Perjanjian Baru, kata Gereja berasal dari bahasa Yunani yaitu “Eklesia” yang berasal dari kata “Kaleo” yang artinya mereka yang dipanggil keluar.[31] Gereja adalah sekumpulan orang yang merupakan milik Allah yang percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat dan hidup di dunia ini untuk melakukan dan meneruskan pekerjaan yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus. Secara Harafiah “ diakonia” berarti” memberikan pertolongan atau pelayanan”. Kata ini berasal dari kata Yunani  diakonia ( pelayanan), diakonein ( melayani), diakonos ( pelayanan).[32] Diakonia juga dapat diartikan sebagai tindakan memberi atau uluran tangan kepada sesama manusia yang memerlukan bantuan, ini merupakan suatu tanda kasih kepada sesama. Dan juga diartikan sebagai pekerjaan yang dilakukan dalam pelayanan bagi Kristus di jemaat. Dasar yang dilakukan di GKPS Bangun Raya Huluan ialah dengan melaksanakan adanya diakonia ialah dengan berdasarkan tata gereja dan peraturan yang ada di dalam GKPS. Yang dimana pemimpin yang ada di dalam GKPS bangun raya huluan mengingatkan kepada seluruh jemaat yang ada di gkps bangun raya huluan bahwasanya gereja melakukan diakonia dengan adanya peraturan dan tata gereja. Yang dimana tertulis dalam tata gereja Bab III pasal 6 mengenai hal melayani berlandaskan iman, pengharapan dan kasih.[33] Oleh sebab itu inilah yang menjadi dasar jemaat gkps bangun raya huluan melaksanakan adanya diakonia. Oleh sebab itu kegiatan yang dilakukan di GKPS Bangun Raya Huluan ini diantaranya adalah sebagai berikut: menjenguk orang yang sakit, melakukan perkunjungan kepada orang yang berdukacita, dan memberikan sembako kepada yatim piatu dan janda/duda. Yang dimana saat ini GKPS Bangun Raya Huluan masih melakukan pelayanan diakonia dalam bentuk bidang-bidang yang bergabung di dalam diakonia tersebut dengan tujuan untuk melayani sesuai dengan kasih sesuai dengan teladan Kristus. Di dalam GKPS Bangun Raya Huluan diakonia dilakukan dengan bersama-sama dalam artian pimpinan harian bersama dengan para sintua dan syamas. Karena di GKPS Bangun Raya Huluan belum dibentuk badan diakonia (BDS). Ini yang menjadi kekurangan yang dimana Team khusus bidang diakonia di gkps bangun raya huluan belum terbentuk. Akhirnya diakonia itu kurang berjalan dengan baik dikarenakan masih ada hal yang tidak bisa dijalankan berhubung para petugas/team khusus yang mengurusi bidang diakonia tersebut. Ketika kepengurusan terbentuk sesuai dengan team yang akan menjalankan maka kegiatan diakonia di GKPS Bangun Raya Huluan bisa berjalan dengan baik. Hal ini perlu dilakukan supaya kegiatan bisa berjalan baik nantinya.[34] Seperti hal program yang belum terjalankan yaitu mengenai parjuma tanganan. Yang dimana parjuma tanganan ini merupakan suatu program yang perlu dilakukan di GKPS Bangun Raya Huluan yang dimana parjuma tanganan ini salah satu kelompok yang ditetapkan untuk melaksanakan adanya kunjungan kerumah jemaat yang dimana ketika jemaat tersebut jarang untuk datang kegereja. Hal ini bertujuan untuk menjalin komunikasi yang baik dan adanya kepedulian kepada jemaat tersebut.  Dengan adanya diakonia di GKPS Bangun Raya Huluan lebih melihat apa yang menjadi prioritas utama yang paling dibutuhkan jemaat di GKPS Bangun Raya Huluan dengan berbagai tantangan yang harus dilalui demi meningkatkan diakonia di dalam jemaat tersebut. Dalam hal khusus mengenai parjuma tanganan dan melakukan pelayanan tukar mimbar di pagaran RK IV. Tujuannnya untuk meningkatkan pemahama ataupun kekeluargaan yang harus dilakukan  demi guna untuk diakonia semakin lebih baik. Oleh sebab itu ketika hal itu bisa terjalin maka tri tugas panggilan gereja itu bisa benar-benar berjalan.

 

III.             Analisa

Berdasarkan analisa yang dapat saya paparkan ialah diakonia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan orang percaya.  Oleh sebab perlu adaya setiap kesadaran yang dilakukan gereja untuk dapat berperan aktif dalam mengembangkan diakonia di dalam gereja masing-masing untuk mewujudkan adanya solidaritas bahkan kepedulian terhadap sesama yang ada di dalam persekutuan gkps Bangun Raya Huluan. Yang dimana disini kita perlu untuk mengenal identitas sebagai salah satu perwakilan Yesus Kristus di dunia yang siap untuk melayani dunia. Yang dimana kita tahu bahwa gereja itu merupakan tubuh kristus yang dapat  berperan dalam hal diakonia. Bahwa gereja itu adalah garam dan terang dunia yang melayani setiap yang membutuhkan. Dalam hal peningkatan diakonia inilah tidak hanya para pimpinan harian bahkan sintua, syamas yang hanya bertugas didalamnya. Tetapi seluruh jemaat yang dapat berperan aktif dalam meningkatkan diakonia yang ada di gkps bangun raya huluan agar benar-benar kristus itu hadir dalam setiap pribadi kita msing-masing. Oleh sebab itu dengan adanya kesatuan antar pemimpin dan jemaat maka diakonia yang ada di gkps bangun raya huluan dapat meningkat dan dapat berjalan dengan baik, yan g dimana setiap orang yang berada di dalamnya dapat mempertanggungjawabkan dengan baik trhadap tugas yang telah diemban. 

 

IV.             Kesimpulan

Perjalanan Diakonia dalam sejarah gereja yang dinamis. Yang dimana diakonia dilakukan oleh gereja, pemerintah, dan juga lembaga, dan juga gerakan-gerakan yang ada berdasarkan konteks dimasa tertentu. Akan tetapi hal yang terpenting adalah bahwa kita harus belajar banyak dari Yesus Kristus yang telah menjadi tokoh diakonia sepanjang masa yang ada dan akan terus dikenang di masa kehidupan ini. Sehingga baiknyalah setiap orang terbeban untuk pelayanan diakonia yang akan kita lakukan, agar terlihatlah bahwa gereja itu adalah tubuh Kristus.

V.                Daftar Pustaka

 

Abineno J.L,Ch., Sekitar Theologia Praktika II, Jakarta: BPK-GM, 1969

Abineno J.L.Ch., Djemaat, Jakarta: BPK-GM, 1965

Choeldahono Novembri, Gereja Lembaga Pelayanan Kristen dan Diakonia Transformatif dalam Agama dalam Praksis, Jakarta: BPK-GM, 2003

Damanik Jan.J.,Gereja dan Tantangan Kontemporer”, dalam jurnal Teologi Tabernakel STT Abdi Sabda Medan, Edisi XXVII, Medan: STT Abdi Sabda, 2012

Grath Alister E.Mc, Sejarah Pemikiran Reformasi, Jakarta: BPK-GM,2007

Hasil wawancara dengan St. D.Saragih dilaksanakan pada tanggal 20  November  2020 Pukul 13.00 WIB

Hasil wawancara dengan  St. A.M. Saragih  pada tanggal 21 November 2020 Pukul 17.00 WIB

Hasil wawancara dengan St. H.Saragih dilaksankan pada tanggal 21 November  2020 Pukul 14.00 WIB

Hasil wawancara dengan Sy. E.Purba dilaksanakan pada tanggal 20 November  2020 Pukul 15.00 WIB

Sumber Internet                      

https://pmtagkps.wordpress.com, diakses pada tanggal 21 November 2020 , pukul 18.00 wib

Jonge Christian De, Apa Itu Calvinisme?, Jakarta: BPK-GM,2001

Joseph. A. Grassi, Tindak Peduli dalam Kehidupan Sosial, Yogyakarta: Kanisius, 1989

Kantor Pusat GKPS,Tata Gereja dan peraturan-peraturan GKPS, Pematang siantar: Kolportase Gkps, 2013

Kooiman W.J., Martin Luther,  Jakarta:BPK-GM,2001

Melcolm Brownlee,  Tugas Manusia dalam Dunia Milik Tuhan, Jakarta: BPK-GM, 1989

Nanulaitta Th. J.,“Holistik Ministri, Suatu Tinjauan Perjanjian Baru” dalam Jurnal Teologi STT Abdi Sabda Edisi IX, 2002

Noordegraaf A.,  Orientasi Diakonia Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2004

Poerwadarminta W.J.S., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1986

Saragih Jahenos, Manajemen Kepemimpinan Gereja, Jakarta: Suara Gereja Kristiani Yang Esa Peduli Bangsa, 2008

Soedarmo, Kamus Istilah Teologi, Jakarta : BPK-GM, 2002

Sopater Sularso, Kepemimpinan Dan Pembinaan Warga Gereja, Jakarta: PT Sinar Agape Press, 1998

Subandrijo Bambang ,Agama Dalam Praksis, Jakarta: BPK-GM,2003

Subandrijo Bambang, Agama dan Praksis, Jakarta: BPK-GM,2003

Tony Lane, Runtut Pijar, Jakarta:BPK-GM,2005

Widyatmadja Josef, Yesus & Wong Cilik Praksis Diakonia Trasformatif dan Teologi Rakyat di Indonesia, Jakarta : BPK-GM, 2010

 



[1] Jahenos Saragih, Manajemen Kepemimpinan Gereja, (Jakarta: Suara Gereja Kristiani Yang Esa Peduli Bangsa, 2008), 12

[2] J.L.Ch. Abineno, Djemaat, (Jakarta: BPK-GM, 1965), 16

[3] Sularso Sopater, Kepemimpinan Dan Pembinaan Warga Gereja, (Jakarta: PT Sinar Agape Press, 1998), 59-60

[4] J.L,Ch.Abineno, Sekitar Theologia Praktika II, (Jakarta: BPK-GM, 1969), 20-21

[5] A. Noordegraaf, Orientasi Diakonia Gereja, ( Jakarta: BPK-GM, 2004), 2

[6] Bambang Subandrijo, Agama Dalam Praksis, (Jakarta: BPK-GM,2003), 33-35

[7] A.Noordegraaf, Orientasi Diakonia Gereja, (Jakarta:BPK-GM, 2004), 2

[8] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia,(Jakarta : Balai Pustaka, 1986), 26.

[9] Soedarmo, Kamus Istilah Teologi, (Jakarta : BPK-GM, 2002), 19

[10] Josef Widyatmadja, Yesus & Wong Cilik Praksis Diakonia Trasformatif dan Teologi Rakyat di Indonesia (Jakarta : BPK-GM, 2010), 9.

[11] A. Noordegraaf,  Orientasi Diakonia Gereja,  (Jakarta: BPK-GM, 2004), 25

[12] Joseph. A. Grassi, Tindak Peduli dalam Kehidupan Sosial, (Yogyakarta: Kanisius, 1989), 22-23

[13] Melcolm Brownlee,  Tugas Manusia dalam Dunia Milik Tuhan, ( Jakarta: BPK-GM, 1989), 14

[14] Th. J. Nanulaitta, “Holistik Ministri, Suatu Tinjauan Perjanjian Baru” dalam Jurnal Teologi STT Abdi Sabda Edisi IX, 2002, 36

[15] Novembri Choeldahono, Gereja Lembaga Pelayanan Kristen dan Diakonia Transformatif dalam Agama dalam Praksis, (Jakarta: BPK-GM, 2003), 48-49 

[16] Novembri Choeldahono, Gereja Lembaga Pelayanan Kristen dan Diakonia Transformatif dalam Agama dalam Praksis, (Jakarta: BPK-GM, 2003), 50-51

[17] Jan.J.Damanik, “Gereja dan Tantangan Kontemporer”, dalam jurnal Teologi Tabernakel STT Abdi Sabda Medan, Edisi XXVII, (Medan: STT Abdi Sabda, 2012), 49-50

[18] W.J.Kooiman, Martin Luther,  (Jakarta:BPK-GM,2001), 124

[19] Tony Lane, Runtut Pijar, (Jakarta:BPK-GM,2005), 134

[20] A. Noordegraaf,  Orientasi Diakonia Gereja,  (Jakarta: BPK-GM, 2004), 87

[21] Bambang Subandrijo, Agama dan Praksis, (Jakarta: BPK-GM,2003), 35

[22] Alister E.Mc Grath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (Jakarta: BPK-GM,2007), 187

[23] Alister E.Mc Grath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (Jakarta: BPK-GM,2007), 282

[24] Christian De Jonge, Apa Itu Calvinisme?, (Jakarta: BPK-GM,2001), 286

[25] https://pmtagkps.wordpress.com, diakses pada tanggal 21 November 2020 , pukul 18.00 wib

[26] Kantor Pusat GKPS,Tata Gereja dan peraturan-peraturan GKPS, ( Pematang siantar: Kolportase Gkps, 2013), 7

[27] Kantor Pusat GKPS,Tata Gereja dan peraturan-peraturan GKPS, ( Pematang siantar: Kolportase Gkps, 2013), 5-6

[28] Hasil wawancara dengan St. D.Saragih dilaksanakan pada tanggal 20  November  2020 Pukul 13.00 WIB

[29] Hasil wawancara dengan St. H.Saragih dilaksankan pada tanggal 21 November  2020 Pukul 14.00 WIB

[30] Hasil wawancara dengan  St. A.M. Saragih  pada tanggal 21 November 2020 Pukul 17.00 WIB

[31] Jahenos Saragih, Manajemen Kepemimpinan Gereja, (Jakarta: Suara Gereja Kristiani Yang Esa Peduli Bangsa, 2008), 12

[32] A. Noordegraaf, Orientasi Diakonia Gereja, ( Jakarta: BPK-GM, 2004), 2

[33] Kantor Pusat Gkps,Tata Gereja dan peraturan-peraturan Gkps, ( Pematang siantar: Kolportase Gkps, 2013), 5

[34] Hasil wawancara dengan Sy. E.Purba dilaksanakan pada tanggal 20 November  2020 Pukul 15.00 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar