Jumat, 11 Oktober 2019

Ujud dan Tujuan Kotbah


Nama              : Rindu Roito Situmeang
Kelas               : III-B/Teologi
Mata Kuliah  : Homilitika I
Dosen              : Pardomuan Munthe, M. Th                                              kelompok 5
Ujud dan Tujuan Khotbah
3. Menurut Kotbah-kotbah Rasul Paulus
4. Menurut Kotbah-kotbah Rasul Yohannes
5. Menurut Tokoh-tokoh Homilitika
I.                   Pendahuluan
Khotbah seperti yang telah kita ketahui, dalam aliran protestan khususnya merupakan sentral dari ibadah. Begitu pentingnya berkhotbah dalam suatu ibadah, sehingga dapat digambarkan sebagai “jantung” dari sebuah ibadah. Khotbah selalu identik dengan pemberitaan firman. Adapun ujud dan tujuan khotbah menurut Rasul Paulus dan Yohannes dan tokoh-tokoh Homilitika akan kita bahas dalam sajian kita kali ini. Semoga sajian ini dapat menambah wawasan kita bersama.
II.                Pembahasan
2.1. Pengertian Khotbah
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Khotbah merupakan suatu pidato yang menguraikan ajaran agama.[1] Khotbah adalah salah satu pemberitaan Injil. Akan tetapi, bukan menjadi satu-satunya cara pemberitaan.[2] Khotbah adalah suatu pembicaraan yang menerangkan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus yang dilakukan melalui mulut manuisa menjadi kesaksian bagi manusia lain.[3]
2.2. Ujud Kotbah
Ujud dapat diartikan sebagai sifat, corak, atau khasiatnya khotbah dan itulah yang membedakannya dengan pidato, ceramah, dan sebagainya. Dalam khotbah yang menjadi sumber dalam pemberitaan kita harus dititik beratkan tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, karena olehnya Allah memperdamaikan dunia dengan dirinya sendiri.[4]
2.3. Tujuan Kotbah
Pada umumnya semua khotbah yang Alkitabiah bertujuan agar pendengarannya menjadi taat kepada Allah.[5] Tujuan terbaik dalam khotbah ialah Yesus Kristus dan segala pekerjaannya yang sudah genap sempurna. Khotbah yang semacam ini sering dipakai Roh Kudus untuk mendatangkan mujijat dalam mendatangkan pertobatan, yaitu seorang berdosa yang mengisi dosanya, lalu menghampiri tahta anugrah Yesus Kristus memohon pengampunan dosa.[6]
2.4. Ujud dan Tujuan Khotbah Menurut Kotbah Rasul Paulus
a.      Tujuan Umum
Dalam Kis 9:29, Paulus berkotbah sesudah pertobatannya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Sesuai dengan pernyataan Alkitab, khotbah-khotbahnya dia berkuasa. Khotbah Paulus, Bernabas, dan para rasul lainnya disebut “suatu pemberitaan tentang kasih karunia”. Kisah Parah Rasul 4:1-21 merupakan petunjuk yang sangat bagus mengenai kotbah Paulus dan Yohannes tentang kabar baik di Derbe dan mereka memenangkan orang yang  kemudian dimuridkan. Disini dapat dilihat bahwa tujuan khotbah Alkitabiah adalah memenangkan orang dan merawat iman.[7]
Secara umum khotbah-khotbah Paulus yang beberapa terdapat di dalam  Kis 9:20; Kis 17:23-30; Kis 20:21; Kis 4:1-21; Kis 1:25, adalah untuk memperkenalkan Allah kepada setiap orang agar mau bertobat. Tuhan Yesus haruslah dijadikan sebagai teladan utama dalam hidup (1 Yoh 2:6) atau dengan kata lain Paulus menjelaskan  bahwa tujuan khotbah itu ialah agar setiap orang mau meninggalkan perbuatan yang jahat, buruk, atau sia-sia dan segera memohon ampun kepada Tuhan Yesus, lalu kembali balik dan percaya kepada Yesus Kristus agar diselamatkan serta hanya memuliakan dan meninggikan nama Tuhan.
b.      Tujuan Khusus
Untuk mengetahui salah satu tujuan khusus dari khotbah Rasul Paulus dapat kita lihat, misalnya pada khotbahnya mengenai Pembenaran oleh Iman kepada jemaat di Galatia (Lih. Gal 3:1-14), yaitu:
Dimana ia berkotbah   : digalatia
Siapa pendengarnya    : orang-orang Galatia
Permasalahan                : permasalahannya pada saat itu jemaat Galatia sedang diombang-ambingkan oleh beberapa oknum yang memutarbalikkan injil (gal 1:6-7), seruan Paulus kepada orang-orang Galatia ini sangatlah kerans, tampak pada tekanan kata ‘bodoh’ yang ia sampaikan kepada orang-orang Galatia itu (Gal 3:1).
Solusi                            : Paulus hendak membuka pemikiran orang-orang Galatia, tentang bodahnya orang yang menggantungkan hidupnya pada hukum taurat dan bukan kepada iman didalam yesus kristus. Paulus menegaskan bahwa itu adalah usaha yang sia-sia, sebab jika seseorang telah memulai dengan roh, janganlah ia mengakhirinya di dalam daging (ay. 3). untuk menyadarkan orang-orang Galatia, bahwa kristus adalah semua didalam segala sesuatu dan orang Galatia, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasdihinya, hendaklah itu hidup didalam keseharian orang-orang Galatia (ay 11-12).Dalam nats ini sangatlah jelas bahwa tujuan khotbah Paulus ini adalah menekankan kepada orang-orang Galatia agar hidup didalam iman kepada Yesus Kristus.
Pesan yang diambil       : dari hal ini kita dapat mmelihat bahwa Rasul Paulus adalah salah satu nabi yang ingin menyadarkan orang-orang Galatia yang dimana mereka diombang ambingkan oleh beberapa oknum yang memutar balikkan ajaran injil. Disini juga Paulus menunjukkan kepada kita bahwa injil berbicara tentang keselamatan oleh iman dan bukan oleh perbuatan.
2.5.Ujud dan Tujuan Khotbah Menurut Kotbah Rasul Yohannes
a.      Tujuan Umum
Yohanes menyatakan tujuannya dalam Yoh 20:31, yaitu "supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya." Naskah kuno Yunani dari Yohanes memakai satu dari dua bentuk waktu untuk kata Yunani yang diterjemahkan "percaya". Jikalau Yohanes bermaksud yang pertama, ia menulis untuk meyakinkan orang yang tidak percaya untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan diselamatkan. Kalau yang kedua, Yohanes menulis untuk menguatkan dasar iman supaya orang percaya dapat terus percaya walaupun ada ajaran palsu, dan dengan demikian masuk dalam persekutuan penuh dengan Bapa dan Anak (bd. Yoh 17:3). Walaupun kedua tujuan ini didukung dalam kitab Yohanes, isi dari Injil ini pada umumnya mendukung yang kedua sebagai tujuan utama.
b.      Tujuan Khusus
Untuk mengetahui salah satu tujuan khusus dari khotbahYohanes dapat kita lihat dalam Yohanes 1:19-28, yaitu:
Di mana Ia berkhotbah: di Betania di seberang sungai Yordan
Siapa Pendengarnya     : imam, orang-orang Lewi dan orang-orang Farisi yang di utus Yahudi untuk menanyakan siapakah Yohanes
Permasalahan                : adanya rasa penasaran orang-orang Yahudi terhadap Yohanes, apakah ia Mesias, Elia, atau Nabi. Sehingga mengutus beberapa orang untuk menyelidiki tentang Yohanes.
Solusi                            : yang awalnya Yohanes menjawab setiap pertanyaan mereka dengan kata “bukan” dan akhirnya dia menyampaikan Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Lurus kanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya." 1:24 dan saat ditanyakan kembali, mengapa ia membaptis maka jawaban Yohanes adalah bahwa Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, 1:27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak." 1:28 .
Pesan yang diambil       : dari hal ini kita dapat melihat bahwa Yohanes pembabtis adalah salah satu nabi yang begitu yakin pada Yesus sebagai Mesias. Dari keyakinan inilah ternyata Yesus Tuhan itu tidak bisa terselami oleh makhluk ciptanNya.

2.6.Ujud dan Tujuan Kotbah Menurut Tokoh-tokoh Homilitika
2.6.1.      Pada Zaman Bapa Gereja
1.      Origenes (185-254)
Origenes lahir dari sebuah keluarga Kristen yang sangat saleh pada tahun 185 di kota Aleksandria, Mesir. Origenes adalah orang genius yang menulis banyak buku. Pandangan-pandangan teologinya sangat berpengaruh pada zamannya.[8] Origenes berpendapat bahwa Alkitab tidak bisa dimengerti sepenuhnya, kecuali dengan penafsiran alegoris. Ada bagian-bagian dalam Perjanjian Lama yang kurang menyenangkan kalau diartikan secara harfiah. Maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa kita perlu mengali lebih dalam untuk mencari makna yang terselubung. Origenes banyak menulis tafsiran, kotbah (yang praktis dan banyak mendidik).[9]
Origenes memaparkan tradisi Rasuli,  yang dianggapnya sebagai batu ujian bagi ajaran ortodoksi. Para Rasul telah menyampaikan beberapa doktrin dengan bahasa sederhana kepada semua orang percaya. Origenes mendaftartarkannya. Tetapi ia mengatakan bahwa orang Kristen yang bijaksana boleh menelaah lebih jauh, asal tidak menentang doktrin tersebut.[10] Menurut Origenes, homiletika adalah ilmu yang menerangkan atau menjelaskan arti, isi, maksud, dan tujuan firman Tuhan. Ia mempelopori munculnya metode menerangkan dan mengkhotbahkan firman Tuhan secara somatis, psikis dan pneumatic. Somatis artinya mencari pengertian lain yang lebih luas dari yang tertulis dalam teks, psikis berarti mencari dan mengusahakan keterangan kotbah yang lebih luas dan  mendalam. Pneumatic artinya jauh lebih dalam lagi dari arti psikis.[11]
2.      Agustinus (354-430)
Ia merupakan seorang Bapa Gereja yang pandangan-pandangan teologinya berpengaruh dalam Gereja Barat. Dilahirkan di Tagaste Afrika Utara, tidak jauh dari Hippo Regius pada tanggal 13 November 354.[12] Menurutnya, pentingnya menekankan persiapan rohani seorang penafsir, pemimpinan Roh Kudus, pengertian harafiah dan aspek sejarah teks dalam penafsiran. Agustinus mengatakan bahwa kotbah mencakup unsur mengajar (docere), menyenangkan hati (delektere) adalah percakapan yang penuh arti; flektere ialah yang menimbulkan rasa cinta, keinginan, kerinduan akan isi percakapan dalam kotbah. Agustinus memutuskan tujuan kotbah dengan 3 hal yaitu:
1.      Pateat, supaya kebenaran semakin diketahui
2.      Placeat, supaya kebenaran diterima dengan gembira
3.      Moveat, supaya kebenaran semakin mengerakkan orang
Dalam kotbah menurutnya harus ada aspek “Moveat” agar kotbah jangan hanya menjadi obat telinga atau membuat yang geli-geli atau ketawa-ketawa tapi sesuai kebktian obat telinga itu hilang dan lenyap. Jadi, menurut Agustinus tujuan kotbah adalah supaya kebenaran semakin luas diketahui, supaya kebenaran diterima dengan gembira dan supaya kebenaran semakin menggerakkan orang yang mendengarkan firman Tuhan.[13]
3.      Johanes Chrysostomus (398)
Ia  adalah seorang imam di Antiokhia pada tahun 387. Ia dikukuhkan sebagai uskup tahun 398.[14] Menurut dia, seseorang yang mempelajari teologi tujuannya adalah mengkotbahkan firman Tuhan. Menafsirkan firman Tuhan sama dengan berkotbah. Kotbah, menurut Chrysostomus, selain mengandung aspek pendidikan, juga membangkitkan Roh membangun di jemaat. Pengkotbah adalah pembawa suara dan pangilan Yesus. Kotbah Chrysostomus kebanyakan berisi tafsiran-tafsiran Alkitab dengan aplikasi yang homiletis. Tugas berkotbah bagi Chrysostomus merupakan tugas pengembalaan. Kotbah dan pengembalaan sangat erat hubungannya.[15]
2.6.2.      Pada Zaman Reformasi
1.      Martin Luther (1483-1546)
Martin Luther lahir pada tahun 1483 di Eisleben, Jerman. Dia lebih dikenal sebagai seorang tokoh reformasi gereja di Jerman pada abad ke-16.[16] Martin mengartikan firman Tuhan adalah Kristus, Alkitab dan khotbah gereja Tuhan Allah menyatakan dirinya dalam Yesus Kristus. Oleh sebab itu, firman Tuhan (Alkitab) perlu dikhotbahkan. Tampa Roh Tuhan, maka kata-kata dalam Alkitab hanyalah kata-kata semata. Firman Tuhan dibicarakan, ditafsirkan dan dikhobahkan agar iman dibangkitkan. Menurut Martin Luther, Yesus adalah Allah yang dikhotbahkan. Yesus perlu dikhotbahkan. Khotbah memberitakan keselamatan dan  menuntun pendengar untuk beerperang melawan iblis. Tampa Kristus, Alkitab dan khotbah akan kehilangan arti. Tampa Alkitan dan khotbah, kristus tidak akan sampai kepada kita. Menurut Luther, firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab tetapi tidak diberitakan sama sekali tidak mempunyai arti. Pemberitaan terjadi bila firman itu dikhotbahkan.  Hanya di dalam khotbah, firman tertulis yang dinyatakan pada masa lampau, menjadi hidup dan actual pada masa kini.[17] Firman dan sakramen adalah kata-kata kunci dalam kehidupan gereja-gereja Lutheran dalam nyatanya merupakan pusat ajaran Lutheran “firman” semata-mata mengacu kepada Alkitab sebagai mana dinyatakan lewat semboyan Sola Scriptura, artinya hanya oleh Alkitab.[18]
2.      Ulrich Zwingly (1484-1531)
Zwingly dilahirkan pada tanggal 1 Januari 1484 di Wildhaus, Toggenburg, Swiss.[19] Sehubungan dengan homilitika, Zwingly telah melakukan pembaharuan gereja melalui seminar PL di Zurich pada tahun 1525. Dalam seminar itu, dia dan kawan-kawannya berusaha menafsirkan kitab-kitab PL. dan setiap selesai satu seminar, mereka menyelengarakan khotbah bagi rakyat atau penduduk kota. Menurut Zwingli Khotbah adalah eksplicatio (eksplikasi: menggali isi firman Tuhan) dan aplicatio (aplikasi: menghubungkan dengan kehidupan konkret). Ciri khas khotbah bagi Zwingly ialah eksegetis (langsung menafsirkan Alkitab), humanisti (pengerakan pemikiran manusia yang didasarkan humanisme dan dialaskan atas ajaran Alkitab) dan social politis (konsekuensi dari gerakan humanisme keagamaan, sebab humanisme itu menyangkut semua bidang kemasyarakatan baik kultural, ekonomi, social, politik). Zwingly lebih mengutamakan “sensus anagogicus” yaitu mengali pengertian yang tersirat (Alkitab) sebagai isi khotbah.[20]
3.      Yohannes Calvin (1509-1564)
Yohannes Calvil dilahirkan pada tanggal 10 Juli 1509 di Noyon, disebuah desa di sebelah Utara kota Paris, Perancis. Ia merupakan seorang pemimpin gerakan reformasi gereja di Swiss.[21] Bagi Calvin Alkitab merupakan otoritas tunggal untuk berkotbah. Alkitab hanyalah alat atau instrument yang digunakan Tuhan untuk menyatakan kehendaknya. Alkitab yang memiliki otoritas tunggal bagi gereja dan menjadi satu-satunya norma bagi iman Kristen. Hal ini sesuai dengan ajaran Luther “Sola Sciptura” (hanya Alkitab). Kemudian, Alkitab itu perlu ditafsirkan melalui kotbah. Melalui khotbah yang menafsirkan Alkitab, maka rencana Allah yang menyelamatkan menjadi pemberitaan Injil untuk umat manusia. Khotbah menurut Calvin merupakan kelanjutan tugas kenabian. Khotbah adalah tanda anugrah Allah yang besar terhadap kita oleh karena Allah melalui khotbah berbicara dengan manusia.[22]
III.             Kesimpulan
Dari pemaparan diatas, saya menyimpulkan bahwa ujud khotbah sesuai denga artinya sebagai sesuatu yang dikehendaki ataupun maksud dan tujuan. Adapun maksud dari khotbha Rasul Paulus dan Rasul Yohannes semuannya mengarah kepada Yesus Kristus. Karena tampak, dari tiap khotbah yang disampaikan oleh kedua rasul ini selalu beriontasi kepada Yesus Kristus yang menjadi teladan dalam perbuatan orang Kristen. Tujuan khotbah menurut Paulus adalah lebi-lebih mengarah kepada bagaimana pembaharuan terjadi didalam jemaat-jemaatnya sementara Yohannes menguatkan dasar iman supaya orang percaya dapat terus percaya bahwa yesuslah mesias, anak Allah.
IV.             Daftar Pustaka
Aritonang, Jan. S., Berbagai Aliran di dalam dan Sekitar Gereja, Jakarta: BPK-GM, 1995.
Curtis,  A. Kenneth, dkk, 100 Penting Dalam Sejrah Gereja, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2013.
Gintings, E. P., Homiletika Khotbah dan Pengkhotbahnya, Yogyakarta: ANDI Offset, 2013.
Gintings, E. P., Khotbah dan Pengkhotbah, Jakarta: BPK-GM, 1998.
Gintings, E.P., Homiletika dari Teks Sampai Khotbah, Bandung: BMI, 2012.
Jong, S. de., Khotbah, Jakarta: BPK-GM, 1985.
Lane, Tony, Runtut Pijar, Jakarta: BPK-GM, 2016.
Poerdawinta, W. J. S., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai  Pustaka, 1996.
Pouw, P. H., Uraian Singkat Tentang Homiletik, Bandung: IKAPI, 1997.
Pouw, P. H., Uraian Singkat Tentang Homiletika Ilmu Berkotbah, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2006.
Rothlisberger, H., Homiletika Ilmu Berkhotbah, Jakarta: BPK –GM, 2015.
Wellem, F. D., Riwayat Hidup Singkat, Jakarta: BPK-GM, 2011.



[1] W. J. S. Poerdawinta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai  Pustaka, 1996),  403.
[2] S. de. Jong, Khotbah, (Jakarta: BPK-GM, 1985), 11.
[3] P. H. Pouw, Uraian Singkat Tentang Homiletik, (Bandung: IKAPI, 1997), 10.
[4] H. Rothlisberger, Homiletika Ilmu Berkhotbah, (Jakarta: BPK –GM, 2015), 12.
[5] H. Rothlisberger, Homiletika Ilmu Berkhotbah, 27.
[6] P. H. Pouw, Uraian Singkat Tentang Homiletika Ilmu Berkotbah, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2006), 15.
[7] E. P. Gintings, Homiletika Khotbah dan Pengkhotbahnya , (Yogyakarta: ANDI Offset, 2013), 110-111.
[8] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat, (Jakarta: BPK-GM, 2011), 150-151 .
[9] Tony Lane, Runtut Pijar, (Jakarta: BPK-GM, 2016), 16-17 .
[10] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat, 152 .
[11]  E. P. Gintings, Homiletika Khotbah dan Pengkhotbahnya , 119-120.
[12] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat, 23.
[13] E.P. Gintings, Homiletika dari Teks Sampai Khotbah, (Bandung: BMI, 2012), 114-115.
[14]  A. Kenneth Curtis, dkk, 100 Penting Dalam Sejrah Gereja, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2013),  28.
[15] E. P. Gintings, Homiletika Pengkhotbah dan Khotbahnya , 123-124.
[16] Tony Lane, Runtut Pijar, 132.
[17] E. P. Gintings, Khotbah dan Pengkhotbah, (Jakarta: BPK-GM, 1998), 13-17.
[18] Jan. S. Aritonang, Berbagai Aliran di dalam dan Sekitar Gereja, (Jakarta: BPK-GM, 1995), 45.
[19] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat, 199.
[20]  E. P. Gintings, Khotbah dan Pengkhotbah, 17-18.
[21] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat, 49-50.
[22] E. P. Gintings, Khotbah dan Pengkhotbah, 19-20.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar