Kamis, 27 Oktober 2022

Krisis Ekologi

 

Krisis Ekologi

I.           Pendahuluan

Bumi sebentar lagi akan mengalami titik puncak menuju kehancuran. Begitulah kesan pintas lalu mengenai krisis ekologi yang belakangan begitu marak diperbincangkan. Pelbagai penelitian ahli membuktikan bahwa eksistensi lingkungan hidup kelestariannya mulai terancam secara signifikan. Manusia pada umumnya bergantung pada keadaan lingkungan disekitarnya. Dia tidak pernah bisa terlebas dari lingkungan.  Lingkungan merupakan suatu tempat dimana terdapat makhluk hidup berserta ekositem di dalamnya yang saling berhunbungan satu sama lain. Di dalam lingkungan itu sendiri terdapat berbagai macam makluh hidup. Tidak hanya itu suatu lingkungan juga dapat biota-biota seperti batu, tanah, air dan lain-lain. Di dalam lingkungan hidup manusia dapat hidup  dan beraktivitas.

II.        Pembahasan

2.1.Latar belakang

Di dalam bab ini dimaksudkan apa yang akan dikatakan dunia sekitar kita mengenai krisis Ekologi semakin parah. Kalau alam dapat berkata-kata dengan manusia, maka mereka akan berteriak dengan lantang atau melakukan demonstrasi besar-besaran supaya manusia dapat perhatian akan kerusakan, kemerosotan dan kehancuran yang terjadi akibat ulah manusia. Sehingga didalam buku isu-isu Global ada beberapa yang harus diperhatikan umat manusia yaitu, pertumbuhan penduduk, penipisan umat berdaya dan teknologi yang tak dapat di kendalikan lagi. Ketiga ini saling terkait dan saling mempengaruhi baik itu secara kuantitas maupun kualitas. Sehingga Jhon Stott menegaskan bahwa penyebab utama krisi Ekologi adalah keserakahan insani yang di cerminkan oleh prinsip pembangunan yang di terapkan yaitu mendapat laba ekonomis melalui rugi ekologis.

Krisis yang di tampilkan disini tidak sepenuhnya keseluruhan isu yang di hadapi oleh manusi umumnya dan masyarakat Indonesia khususnya. Namun hal ini bertujuan untuk membuka jendela hati dan kepedulian kita “apa kata dunia” tentang kondisi yang di hadapi bumi yang begitu baik pada awalnya oleh Allah. Memngingat perubahan inklim dan pemanasan global merupakan bentuk krisis ekologi. Sebab itu terjenis krisis ekologi yang di uraikan oerlu melihat dari perspektif dari alkitabiah dan di baca dengan hati, agar dapat menghadirkan sumbangan bagi penyelesaian isu-isu yang di hadapinya.[1] Kerusakan ekologi global, tidak diragukan lagi menjadi ancaman bencana yang sangat serius. Krisis dan bencana lingkungan global itu mencakup kerusakan, pencemaran, kepunahan, kekacauan dan peribahan iklim global dan berbagai masalah sosial yang menyertainya. Bencana ekologi berbeda dengan bencana alam, gemba bumi, tsunami, gunung meletus adalah bencana alam, yang murni disebab oleh pristiwa alam. Sedangkan bencana lingkungan hidup adalah kehancuran, kerusakan, kepunahan dan pencemaran lingkungan hidup yang pertama-tama tidak disebabkan oleh peristiwa mnurni alam, melainkan oleh ulah dan prilaku manusia. Bencana itu disebabkan oleh pola hidup dan gaya hidup manusia, dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, industry, dan ekonomimnya.[2]

2.2.Krisis ekologi dunia

Setelah pembaca di antar untuk meninjau berbagai krisi dan bencana lingkungan hidup global sebagaimana yang di jalaskan dalam bab ini. Disini para pembaca akan diajak untuk melakukan analisi mendalam mengenai sebab atau akar permasalahan dari krisis dan bencana lingkungan hidup dunia tersebut. Analisis ini tentu saja bersifat spekulativ sebagai sebuah kajian ilmiah. Analisis ini akan membantu untuk mencari jalan keluar  memengatasi krisi dalam bencana lingkungan dunia, seperti ;

1.     Faktor fundamental-filososit menyangkut cara pandang manusia dan perilakunya

2.     Faktor kesalahan paradikma pembangunan dan kebijakan para pemerintah yang merupakan hasil peninjauan dari kesalahan Fundamental-filosofis.

3.     Faktor kemajuan peradaban manusia berupa medernisasi.

4.     Faktor buruknya kata kelola pemerintahan

5.     Faktor desantalisasi dan liberalisasi politik yang sedang berkembang di Indonesia sekarang ini.

6.     Faktor lemahnya komitmen moral dan faktor lemahnya penegakan hukum.

Pertumbuhan penduduk terjadi di negara berkembang, dimana keluarga-keluarga miskin hidup dari menebang pohon untuk kayu bakar dan mengolah lahan marginal untuk bertahan hidup. Banyak negara berkembang menggunakan lahan terbaik mereka untuk menanam tanaman untuk di ekspor supaya mereka dapat bayar utang nasional yang benar dari pada untuk menghasilkan dan memenuhi kebutuhan makanan bagi penduduknya. Kita melihat bahwa pertumbuhan penduduk yang terus meningkat tidak sebanding dengan sumber daya alam yang tersedia. Keragaman hayati adalah keragamana yang terdapat diantara berbagai jenis organisme dan ekosistem dimana suatu organisme merupakan bagiannya. Keragaman mansuia merupakan sangat penting karenam mewakili cara menyelesaikan masalah dalam hidup manusia dan lingkungan. Erosi tanah menceritakan bahwa ekosistem alami tanah tidak mendukung kehidupan tumbuhan tetapi mengatus yang tersedia oleh organisme yang hidup didalamnya. Dalam erosi tanah ini adanya pertanian, penggundulan hutan dan penggembalaan yang menyebabkan kerusakan tanah. Deforestasi  merupakan berbagai kehancuran yang disebabkan oleh penebangan hutan dan pembukaan lahan seperti pemukiman dan perkebunan. Fungsi hutan tersebut sanagatlah penting dan bukan hanya berkaitan denganiklim tetapi juga menopang kehidupan dari beberapa penduduk yang terasingkan yang hidupnya bergantung pada hutan.[3] Albert menolak menyatakan bahwa dunia kita bukan sedang mengalami bencana masa depan, melainkan justru sedang berhadapan dengan bencana masa kini. Dunia sedang berhadapan dengan kepunahan, akibat ketamakan manusia.[4]

 

2.3.Krisis Ekologi di Bumi Indonesia

Pertambahan Penduduk terjadinya penurunan pada tahun 1980-1990, penduduk di Indonesia bertambah 1,49/Tahun yang mencapai 237,56 juta jiwa pada tahun 2010. Adapun dampak yang menimbulkan akibat pertambahan penduduk adalah masalah kemiskinan, semua ini memerlukan banyak sumber daya untuk diolah dan apabila pembangunan konvisionan yang telah diterapkan dan dilanjutkan pada saat ini oleh karena itu perlu diupayakan agar maju pertambahan penduduk yang diturunkan dalam kualitas lingkungan serta pola pembanguna yang lebih berwilayah lingkungan.

Urbanisasi memiliki dampak akibat turunan di Indonesia pada tahun 1990 dan 1999. Dampak turunan akibat urbanisasi antar lain, meningkatkan jumlah dan luas daerah perkotaan dengan salah permasalahan, pertumbuhan daerah perkotaan, air bersih yang menjadi masalah lain sebagai akibat dari peningkatan penduduk perkotaan.

Konverensi lahan, di Indonesia terjadi pada sector pertanian dan kehutanan. Perluasan areal terbanyak terjadi pada pertanian lahan kering dan tanaman keras, hal ini menunjukkan bahwa sector pertanian menunjukkan memerlukana tambahan lahan untuk program transmigrasi. Sementara hasil study yang dilakukan VAO pada tahun 1990 menyebutkan bahwa area hutan tinggal 199 juta dari kedudukan luas lahan Indonesia, yang dimana area Indonesia di lindungi mengalami pengurangan, sehingga terjadi konversilahan jadi lahan pertanian juga terjadi degradasi dari are Indonesia. Dalam kaitannya tumbuh dan lahan dampak terbesar adalah terjadinya erosi dan degradasi lahan. Di Indonesia erosi sudah berlangsung cukup lama dan mempunyai kecenderungan yang terus mencapai.

Pencemaran air termasuk sumber daya alam yang dapat di perbaharui dengan kenyataan kesediaan air bersih. Masalah lingkungan yang sering muncul dengan air adalah penurunan permukaan air tanah di hampir semua kota besar di Indonesia, akibat penambangan air tanah yang semakin meningkat. Kualitas air juga menjadi masalah besar akibat limbah yang dihasilkan oleh industry pertanian dan limbah rumah tangga, dan akibat penggunaan pupuk pada lahanlahan pertanian di hulu sungai mendorong peledekan pertumbuhan ganggang dan gulma air.

Pencemaran udara terjadi peningkatan di kota-kota besar saat ini mengalami mengkhawatiran. Demikian pula, asap kendaraan yang menyelimuti setiap sisi jalan di kota-kota besar. Dollaris Riauaty dari Swisscontact yang terlibat dalam  Clean Air Project Jakarta kembali mengingatkan mengenai pencemaran udara, mengingat dampak yang bakal ditanggung sungguh amat mahal bagi bangsa. Dalam pembukaaan hutan, Indonesia merupakan negara dengan luas hutan tropis terbesar kedua setelah Brasil. Namun pembukaan hutan, khususnya melalui penebangan hutan yang tidak bertanggung jawab, konversi lahan untuk berbagai kepentingan yang menyebabkan terjadinya kemerosotan tajam pada luas hutan Indonesia.

Kehilangan keanekaragaman hayati  ini terjadi dalam berbagai bentuk antara lain:

a.     Kehilangan habitat berbagai jenis satwa yaitu kehilangan itu disebabkan oleh beberapa hal, seperti perladangan berpindah, pembukaan hutan dan  perubahan berbagai ekosistem alam menjadi daerah pertanian, peternakan, pemukiman atau pariwisata.

b.     Kepunahan spesies tertentu, spesies tumbuhan atau satwa dapat  hilang atau punah karena dua faktor: pertama, karena faktor alam dan yang kedua faktor manusia.

c.     Erosi gen, yaitu peristiwa kemerosotan keanekaragaman jenis makluh hidup karena kepunahan  jumlah jenis atau varietas.

Dalam pencemaran pesisir pantai dan lautan yang menyebabkan kerusakan terumbu karang, yang tidak hanya penting bagi kelangsungan kehidupan ikan dan akan mengancam mata pencaharian nelayan tetapi juga melenyapkan potensi sebagai objek wisata.[5] Permasalahan krisis ekologi jelas sangat berbeda dengan permasalahan non-ekologis, krisis ekologi tidak dapat diabaikan begitu saja. Kepasifan dan keaktifan manusia dalam merespon permasalahan ini akan menentukan jalan cerita ekosistem lingkungan hidup dan planet bumi dimasa mendatang.

Krisis ekologi ini mulai disuarakan sejak tahun 1960-an, dimana sebagian  besar orang mulai memikirkan kembali relasi mereka terhadap alam ketika tindak-tanduk manusia mulai mengancam keseimbangan alam dan mengalienasikan manusia dengan kehidupan selain dirinya. Puncaknya, pada 1980-an hampir bisa dipastikan kesadaran tiap orang tersedot dengan permasalahan tersebut, bahkan artikel ilmiah yang membahas persoalan ini meningkat tajam. Pada 1960-an, Lynn White, Jr. berpendapat dalam papernya yang mengundang perdebatan hingga kini yang dipublikasikan pada jurnal Science, yaitu The Historical Roots of OurEcological Crisis, bahwa krisis ekologis akibat dari eksploisitas sains dan teknologi berakar pada pandangan antroposentris tradisi Yudeo-Kristiani yang menganggap bahwa manusia dan alam adalah dua hal yang berbeda. Posisi yang berbeda ini meletakkan manusia lebih tinggi dari alam dan oleh karenanya manusia berhak menguasai alam tersebut. Argumentasi White kemudian menekankan bahwa penyebab makin massif, dramatis, serta kompleksnya kerusakan lingkungan adalah ketika cara pandang yang antroposentris itu kemudian didukung oleh berbagai penemuan dari ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang terbukti lebih banyak bersifat destruktif terhadap alam.[6]

Dalam kenyataannya, keterkaitan permasalahan ekologis yang mengancam eksistensi manusia tersebut semakin tampak. seperti polusi, pemanasan global, hujan asam, ledakan populasi, penggurunan atau erosi tanah, naiknya permukaan air laut, longsor, banjir, gizi buruk, kuman dan virus penyakit-penyakit baru, pencemaran air laut, radiasi nuklir, ledakan sampah, pencemaran tanah, makanan sehari-hari yang beracun, dll. Krisis ini merupakan problem akut yang membutuhkan perhatian besar setiap individu. Barangkali terdapat suatupermasalahan yang kendati kita cari jalan keluarnya maupun kita abaikan begitu saja jalan keluarnya, tetap tidak memiliki perubahan atau pengaruh signifikan untuk kehidupan. Tidak begitu halnya dengan permasalahan ekologis. Salah satu karakteristik utama persoalan ekologi adalah perubahan. Kepasifan dan keaktifan kita dalam persoalan ekologi memberikan efek signifikan untuk seluruh kehidupan atau organisme. Krisis ekologis yang tengah terjadi, jika kita abaikan akan semakin mengancam eksistensi kelestarian kehidupan atau organisme. Bahkan, dalam laporan pada Mankind at the Turning Point (Umat Manusia dititik balik), kelompok pemerhati ekosistem malah meramalkan bakal kiamatnya dunia  jika tanda-tanda bahaya peradaban seperti krisis ekologi tidak diperhatikan dengan sungguh-sungguh.[7]

Krisis ekologi ini tidak dapat dikatakan sebagai sebuah peristiwa alami yang terjadi di alam ini, karena manusia tidak bisa melepaskan diri dari kesalinghubungannya terhadap lingkungan. Manusia tergantungi akan dinamika kehidupan lingkungan. Ketika lingkungan tumbuh kembang dengan baik, maka ia akan memberikan nilai kebaikan pula untuk kehidupan manusia. Sebaliknya, ketika ritmik lingkungan mengalami ketidakseimbangan, maka ia akan mengganggu sistem keseimbangan kehidupan; tidak hanya dalam kehidupan manusia atau hewan melulu, melainkan keseluruhan kehidupan itu sendiri.[8]

2.4.Kelemahan

·       Yang harus di tambahkan dalam buku ini ialah pengertian dari Ekologi yang tercantum dari judul pada bab 2.

·       Di dalam penjelasan bab 2 ini, kalimat bahasanya masih baku sehingga sulit untuk memahaminya.

·       Dalam bab ini juga kurang membahas detail mengenai definisi ekologi dan penerapannya, termaksud kaitannya dengan teologi.

·       Namun buku ini memiliki kekurangan yang terletak pada bahasanya yang beberapa meggunakan bahasa ilmiah, namun saya menyarankan untuk membaca buku ini  karna anda akan mendapatkan banyak ilmu dari penjelasan-penjelasan didalam buku ini.

2.5.Kelebihan

·       Membaca buku ini dirasakan sangat menarik, karena mampu memberikan kontribusi pengetahuan akan hal ikhwal hubungan manusia dengan alam sekitar yang tidak begitu diperhatikan tetapi sangat memegang peranan penting dalam hal kelangsungan hidup manusia.

·       Bahasa yang digunakan dalam buku ini sangat mudah untuk dipahami dan sangat komunikatif, dengan demikian pambaca dapat dengan mudah menerima maksud dari teori-teori dari pembelajaran tersebut.

·       Memberikan kesadaran pada masyarakat didunia dan setiap lapisan masyarakat agar lebih peduli terhadap keadaan dibumi dan meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan diharapkan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga kelestarian lingkungan.

·       Selain buku ini menarik untuk dibaca dan dipelajari dengan berbagai teori, buku ini juga dilengkapi dengan gambar-gambar yang mendukung apa isi dari teori-teori yang sudah ada, sehingga sangat mudah untuk dipahami dan dimengerti.

2.6.Tanggapan

Bab ini berisi uraian mengenai permasalahan yang menjadi tantangan global, keIndonesiaan dan tantangan kontekstual bagi gereja. Ekologi merupakan salah satu cabang sains yang mempelajari tentang lingkungan. Ekologi sangat penting untuk mempelajari interaksi mahluk hidup dengan lingkungan atau habitatnya. Dalam mengatasi ekologi ini yang dapat berperan ialah teknologi dengan memiliki bidang ilmu pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan, dimana bidang ilmu ini harus dapat menjabati antara lingkungan sebagai sumber daya alam untuk keberlangsungan kehidupan manusia dengan konvervasi lingkungan.

Krisis ekologi yang terjadi, menjadi bahagian penting direlefsikan semua orang dalam kehidupannya. Mengingat kesatuan manusia dengan alam sebagai sama-sama ciptaan Tuhan meskipun fungsinya yang berbeda adalah milik Tuhan. Alam adalah ciptaan dan karya Allah, maka Allah adalah pemilik dan yang berdaulat atas seluruh ciptaannya termaksud manusia. Manusia bertanggung jawab atas segala sesuatu perubahan yang ada di alam. Meskipun alam yang tidak ilahi, dan manusia mendapatkan pengudusan dari penciptanya, itu memungkingkan nilai-nilai intrinsic,  karena alam diciptakan sungguh amat baik oleh Allah.

Dalam bab mengenai ekologi pembangunan ia mengemukakan manfaat dan resiko lingkungan dalam pembangunan, pembangunan yang berkelanjutan yang memuat proses ekologi, tersedianya sumberdaya yang cukup, serta lingkungan sosial budaya dan ekonomi yang sesuai. Selanjutnya adalah pola hidup sederhana, kemampuan ilmu dan teknologi, pengelolaan lingkungan yang adaptif, serta pengelolaan proyek pembangunan. Pada bab ekologi kependudukan ia memaparkan arti daya dukung lingkungan, daya dukung lingkungan agraris, kepadatan penduduk, transmigrasi, kerusakan lingkungan yang terdiri atas kerusakan lingkungan kota, desa, penanggulangan kerusakan lingkungan serta prioritas penanggulangannya. Selanjutnya ia menjelaskan pula mengenai pencemaran dan penyusutan sumberdaya, serta penanggulangan pencemaran dan penyusutan sumberdaya. Pada bab ekologi pangan ia mengemukakan bagaimana historikalitas pola mata pencaharian manusia dari fase berburu dan mengumpul, peladangan berpindah, pertanian menetap. Ia juga memaparkan sumber pangan, pola pangan, kerentanan pangan, penganekaragaman pangan, serta pola pangan dan daya dukung lingkungan. Pada bab mengena ekologi pariwisata ia mengemukakan kaitannya dengan daya dukung lingkungan, keanekaragaman, keindahan alam, vandalisme, pencemaran, kerusakan hutan, dampak sosial budaya, serta zonasi. Pada bab terakhir tentang energi dalam ekologi pembangunan ia mengemukakan tentan pengertian energi, pemanfaatan energi, peranan energi dalam pembangunan, permasalahan enegi, dan penganekaragaman energi.

III.      Kesimpulan

Dari uraian tersebut, dapat dipahami bahwa krisis ekologi yang terjadi ini merupakan dampak yang nyata dan tak terelakkan dari pandangan dunia dan peradaban modern yang parsial dan reduksionis terhadap alam, seperti budaya materialisme, antroposentrisme, utilitarianisme, dan kapitalisme. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari krisis spiritualitas yang menggerogoti manusia modern yang telah memberhalakan dirinya dan mengingkari realitas Tuhan.

 Krisis ini adalah bukti nyata dari refleksi krisis spiritual paling dalam umat manusia. Problem filosofis ini membutuhkan keterlibatan semua pihak. Keterlibatan dalam wacana penyelamatan ekosistem bumi adalah merupakan bentuk keharusan setiap individu. Dengan cara bersikap kritis dalam melihat pandangan dunia (world view) yang ada sekarang ini dan mendorong manusia agar benar-benar memahami kompleksitas persoalan sampai ke akarnya adalah sebuah upaya terbaik bagi krisis ekologi ini. Dan hanya dengan penguasaan akan isu-isu filosofis mendasar seperti ini maka kita dapat berpartisipasi dalam upaya terbaik bagi kepentingan semua umat manusia terutama pada problematika krisis ekologi kontemporer saat ini.

IV.      Daftar Pustaka

Heriyanto, Husain, Krisis Ekologi dan Spiritualitas Manusia, dalam Majalah Tropika Indonesia, Jakarta: Conservation International Indonesia, Vol.9 No.3-4, 2005.

Keraf, S., Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global, Yogyakarta: kanisius, 2010.

Nasr, Seyyed Hossein, Islamic Life and Thought, London: George Allen, dan Unwin Ltd, 1981.

Nolan, A., Yesus to Day, Spritualitas Kebebasan Radigal, Yogyakarta: Kanisius, 2009.

Pasang, Haskarlianus, Mengasihi Lingkungan, Jakarta: Perkantas, 2011.

White, Jr. Lynn, The Historical Roots of our Ecological Crisis, dalam jurnal Science, New York: Harvard University Center, Vol. 155 No. 3767, 1967.

 



[1] Haskarlianus Pasang, Mengasihi Lingkungan, (Jakarta: Perkantas, 2011), 21-22

[2] S. Keraf, Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global, (Yogyakarta: kanisius, 2010), 26

[3] Haskarlianus Pasang, Mengasihi Lingkungan, 22-29.

[4] A. Nolan, Yesus to Day, Spritualitas Kebebasan Radigal, (Yogyakarta: Kanisius, 2009), 45

[5] Haskarlianus Pasang, Mengasihi Lingkungan, 29-44

[6] Jr. Lynn White, The Historical Roots of our Ecological Crisis, dalam jurnal Science, (New York: Harvard University Center, Vol. 155 No. 3767, 1967), 1205

[7] Husain Heriyanto, Krisis Ekologi dan Spiritualitas Manusia, dalam Majalah Tropika Indonesia, (Jakarta: Conservation International Indonesia, Vol.9 No.3-4, 2005), 21

[8] Seyyed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought, (London: George Allen, dan Unwin Ltd, 1981), 97

Tidak ada komentar:

Posting Komentar