Jumat, 16 April 2021

PEMIMPIN PILIHAN TUHAN

 

PEMIMPIN PILIHAN TUHAN

( Tinjauan biblika, historika, sistematika, praktika, ilmu agama, dan social politik )

 

 

I.                   Latar belakang

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kata “kepemimpinan” berasal dari kata dasar “pemimpin” yang artinya orang yang memimpin.[1] Pemimpin atau memimpin, dalam bahasa Inggris disebut leader yang akar katanya adalah “to lead” dan maknanya mengandung pengertian; bergerak lebih awal, berjalan di depan, mengambil langkah pertama, berbuat paling dulu, mempelopori, menuntun, menggerakkkan orang lain.[2] Pemimpin Kristen adalah orang yang telah dipanggil, dan mendapat karunia serta tanggungjawab dari Allah untuk memimpin suatu kelompok tertentu.[3] Pemimpin dalam Perjanjian Lama merupakan alat Allah untuk melayani Dia dan umat-Nya guna menghadirkan “shalom” Allah di tengah-tengah dunia ini di bawah otoritas Allah. pemimpin dalam Perjanjian Lama dipanggil dan dipilih oleh Allah sendiri (Kel. 6:25-29 ; Bil. 26:2). Pemimpin dalam Perjanjian Baru berasal dari kata hodegos.Dari dua kata hodos yakni jalan,dan hegomai artinya saya memimpin. Karena itu hodegos berarti seorang pemimpin, instruktur. Sehingga seorang pemimpin adalah seorang penuntun, pemandu, guru untuk memandu orang lain.[4] Dari Perjanjian Baru ditemukan fakta-fakta kepemimpinan dan prinsip-prinsip kepemimpinan yang terdapat dalam ajaran Yesus

II.                Pembahasan

2.1.Pengertian Pemimpin secara umum

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kata “kepemimpinan” berasal dari kata dasar “pemimpin” yang artinya orang yang memimpin.[5] Pemimpin atau memimpin, dalam bahasa Inggris disebut leader yang akar katanya adalah “to lead” dan maknanya mengandung pengertian; bergerak lebih awal, berjalan di depan, mengambil langkah pertama, berbuat paling dulu, mempelopori, menuntun, menggerakkkan orang lain.[6] John Mac Arthur mengatakan bahwa kepemimpinan berkaitan dengan pengaruh. Ada banyak orang yang sederhana, lemah lembut, memiliki belas kasih, dan berjiwa melayani, namun tidak cocok berperan sebagai pemimpin. Seorang pemimpin sejati selalu menjadi sumber inspirasi bagi para pengikutnya. Pemimpin yang ideal adalah seorang yang memiliki hidup dan karakter yang berwibawa dan memiliki cara hidup yang benar dan layak untuk diteladani.[7]

2.2.Pengertian Pemimpin Menurut Alkitab

Para pemimpin dunia hanya memberi defenisi kepemimpinan sebatas pencapaian visi,misi,sukses,keuntungan,dan target. Pemimpin kristen memberi defenisi tentang kepemimpinan lebih kepada transformasi kehidupan orang-orang yang dipimpin ke arah keserupaan dengan gambar khalik-Nya. Pemimpin adalah seseorang yang dianugerahkan kemampuan dari Tuhan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab kepemimpinan sesuai dengan kehendaknya, yakni membuat umat Allah sampai pada tujuan yang telah ditetapkan-Nya.[8] Pemimpin Kristen adalah orang yang telah dipanggil, dan mendapat karunia serta tanggungjawab dari Allah untuk memimpin suatu kelompok tertentu.[9]

2.2.1.      Pandangan Perjanjian Lama Tentang Pemimpin

Dalam perjanjian lama, Allah bertindak dalam sejarah dengan maksud dan rencana untuk mendirikan Kerajaan Allah. ini berarti bahwa Tuhanlah raja mereka, dan inilah yang disebut dengan theokrasi yaitu pemerintahan Allah yang sesungguhnya dan benar atas umat-Nya. Namun, Israel secara terang-terangan tidak menghendaki theokrasi. Dengan demikian, Israel menolak Allah atau Israel ingin melihat raja dari Allah digantikan oleh raja dari manusia sebagaimana dikatakan oleh umat Israel, ”angkatlah seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada bangsa lain ( 1 Samuel 8:5 )”. [10] Pemimpin dalam Perjanjian Lama merupakan alat Allah untuk melayani Dia dan umat-Nya guna menghadirkan “shalom” Allah di tengah-tengah dunia ini di bawah otoritas Allah. pemimpin dalam Perjanjian Lama dipanggil dan dipilih oleh Allah sendiri (Kel. 6:25-29 ; Bil. 26:2). Allah yang memiliki peran untuk memilih dan menyertai umat-Nya di padang gurun dan membawa umatnya ke kanaan. Kata memimpin tidak hanya memiliki pengertian sekedar memimpin tetapi mengarah kepada seseorang pandu yang menunjuk jalan, akan tetapi pemimpin di sini mempunyai pengertian memelihara, membawa ke tujuan, berbuat apa yang perlu sehingga umat itu sampai masuk ke tempat yang dituju.[11]

Dalam Perjanjian Lama dapat ditemukan beberapa bentuk dan sistem kepemimpinan. Bentuk kepemimpinan yang paling awal adalah kepemimpinan keluarga/marga/suku, ini dikaitkan dengan model kepemimpinan sosial yang bersifat non-formal yang dapat ditemukan dimana-mana. Model seperti itu secara otomatis menempatkan "orag tua" (ayah/kakek tertua) sebagai pemimpin (Kejadian 4:9).[12] Kejadian 10 menyinggung model kepemimpinan yang disebut "tapihan sosial" yang artinya pengembangan sistem monarki yang akhirnya menjadi kepemimpinan yang bersifat formal. Perjanjian Lama menyaksikan ada berbagai cara yang digunakan Allah untuk memilih pemimpin. Umumnya raja-raja diangkat melalui tokoh masyarakat atau melalui persetujuan bangsa Israel. Umpamanya dalm pengangkatan Saul (1 Samuel 11:15), Rehabeam (1 Raja-raja 12:1), Omri (1 Raja-raja 16:16), dan banyak raja-raja lain. Dan dalam Perjanjian Lama metode dan cara pemilihan itu berada dibawah hak prerogatif dan inisiatif Allah sendiri.[13]

 

2.2.2.      Pandangan Perjanjian Baru Tentang Pemimpin

Pemimpin dalam Perjanjian Baru berasal dari kata hodegos.Dari dua kata hodos yakni jalan,dan hegomai artinya saya memimpin. Karena itu hodegos berarti seorang pemimpin, instruktur. Sehingga seorang pemimpin adalah seorang penuntun, pemandu, guru untuk memandu orang lain.[14] Dari Perjanjian Baru ditemukan fakta-fakta kepemimpinan dan prinsip-prinsip kepemimpinan yang terdapat dalam ajaran Yesus. Tuhan Yesus merujuk kepada diri-Nya sebagai pemimpin Mesias (Mat. 23:18) yang memberi indikasi kuat akan peran-Nya sebagai pemimpin (band. Ibr. 13:8, 20-21). Sebagai pemimpin, Tuhan Yesus membuktikan bahwa diri-Nya adalah pemimpin lengkap dengan karakter tangguh, pengetahuan yang komprehensif dan lebih khas, serta kecakapan sosial dan teknis yang sangat andal dalam kepemimpinan-Nya ( band. Luk. 4:32; Mat.7:28,29 yang berisi pengakuan atas keandalan Tuhan Yesus sebagai pemimpin). Yesus secara mental sanggup menerima dan memadukan ketidakadilan sebagai bagian dari suatu rencana cinta kasih yang lebih besar.[15]

. Contoh kepemimpinan ialah pemimpin yang mampu mengayomi, melindungi, bersemangat tetapi ada juga pemimpin yang memerintah secara otoriter, demokratis. Salah satu contoh pemimpin yang dapat dicontoh ialah Tuhan Yesus yang melayani. Dalam kitab Matius 20:28 “sama seperti anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi orang banyak”.Artinya bahwa kita sebagai pemimpin harus bisa menjadi seorang yang mampu untuk mempengaruhiantar pribadi atau antar orang dalam suatu situasi tertentu melalui aktivitas komunikasi yang terarah untuk mencapai suatu tujuan atau tujuan-tujuan tertentu.Dalam kepemimpinan selalu terdapat unsur pemimpin (influencee), yakni yang mempengaruhi tingkah laku pengikutnya (influencer) atau para pengikutnya dalam suatu situasi yang ada.[16]

2.3. Hakekat Kepemimpinan Dalam Pelayanan

Kepemimpinan sendiri merupakan kegiatan sentral di dalam sebuah kelompok (organisasi), dan seorang pemimpin sebagai figur sentral yang memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam mengefektifkan organisasi untuk mencapai tujuannya. Bila melihat kepemimpinan pelayan Tuhan dalam gereja, maka tentu harus bisa dilihat apakah ada karakter sebagai seorang pemimpin dalam diri setiap pelayan Tuhan yang mampu untuk tampil sebagai pemimpin dalam bidang pelayanan tertentu.

Jadi sangat penting dimana setiap orang dapat memiliki kemampuan dalam memimpin. Dalam hal ini kepemimpinan diperoleh dari setiap pengalaman hidup yang menuntun kita untuk terus belajar dan dibentuk. Kepemimpinan untuk tujuan organisasi tidak hanya bagi kepentingan orang banyak dan secara pribadi tidak hanya melihat kepada laki-laki saja tetapi juga perempuan yang memiliki kemampuan sebagai pemimpin. Dengan demikian seorang pemimpin haruslah memiliki kemampuan dan tujuan yang sama yaitu memiliki karakter atau ciri khas yang mampu memimpin sebuah organisasi tertentu. Tetapi akibat perubahan dewasa ini, muncul juga persoalan lain yang sering dihadapi oleh seorang pemimpin umum atau gereja. Seringkali seorang pemimpin merasa dirinya hebat, dan merasa bahwa ia tidak memerlukan lagi orang lain. Padahal mereka sesungguhnya sangat membutuhkannya. Pemimpin itu ingin menjadi orang yang luar biasa secara cepat atau instan. Ada juga motivasi dari pemimpin tersebut berpusat pada dirinya dan pada keinginannya untuk berkuasa. Yakob Tomatala berkata tentang kepemimpinan Kristen adalah: Suatu proses terencana yang dinamis dalam konteks pelayanan Kristen (yang menyangkut faktor waktu, tempat, dan situasi khusus) yang didalamnya oleh campur tangan Allah, Ia memanggil bagi diri-Nya seorang pemimpin (dengan kapasitas penuh) untuk memimpin umat-Nya (dalam pengelompokan diri sebagai suatu institusi/organisasi) guna mencapai tujuan Allah (yang membawa keuntungan bagi pemimpin,bawahan, dan lingkungan hidup) bagi dan melalui umat-Nya, untuk kejayaan Kerajaan-Nya.[17]

Kepemimpinan untuk tujuan organisasi tidak hanya bagi kepentingan orang banyak dan secara pribadi tidak hanya melihat kepada laki-laki saja tetapi juga perempuan yang memiliki kemampuan sebagai pemimpin. Dengan demikian seorang pemimpin haruslah memiliki kemampuan dan tujuan yang sama yaitu memiliki karakter atau ciri khas yang mampu memimpin sebuah organisasi tertentu. Tetapi akibat perubahan dewasa ini, muncul juga persoalan lain yang sering dihadapi oleh seorang pemimpin umum atau gereja.

Seringkali seorang pemimpin merasa dirinya hebat, dan merasa bahwa ia tidak memerlukan lagi orang lain. Padahal mereka sesungguhnya sangat membutuhkannya. Pemimpin itu ingin menjadi orang yang luar biasa secara cepat atau instan. Ada juga motivasi dari pemimpin tersebut berpusat pada dirinya dan pada keinginannya untuk berkuasa. Yakob Tomatala berkata tentang kepemimpinan Kristen adalah: Suatu proses terencana yang dinamis dalam konteks pelayanan Kristen (yang menyangkut faktor waktu, tempat, dan situasi khusus) yang didalamnya oleh campur tangan Allah, Ia memanggil bagi diri-Nya seorang pemimpin (dengan kapasitas penuh) untuk memimpin umat-Nya (dalam pengelompokan diri sebagai suatu institusi/organisasi) guna mencapai tujuan Allah (yang membawa keuntungan bagi pemimpin,bawahan, dan lingkungan hidup) bagi dan melalui umat-Nya, untuk kejayaan Kerajaan-Nya.[18]

Hal yang sering terjadi dalam kepemimpinan itu sendiri sering terjadinya penyimpangan yang terjadi dalam kepemimpinan. Hal yang menyebabkan terjadinya hal tersebut disebabkan oleh kurangnya kecerdasan intelektual seorang pemimpin. Kecerdasan intelektual sangat dibutuhkan oleh setiap pemimpin untuk dapat menyelesaikan masalahmasalah yang terjadi. Disamping itu juga penyimpangan yang terjadi dalam sebuah pemimpin yaitu kurang memiliki keterampilan untuk mengerjakan sesuatu, sehingga banyak hal yang membuat seorang pemimpin tidak bisa mencapai sasaran yang ingin dicapai. Dengan demikian sangatlah penting kepemimpinan dalam gereja agar para pemimpin mampu menghubungkan kembali eklesiologi dan misiologi dengan demikian gereja didefinisikan pertama dan terutama oleh misi yang diberikan Allah. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh penulis banyak ditemukan pelbagai hal yang dilakukan dengan cara yang tidak benar dalam menentukan berbagai pemimpin pelayan Tuhan di berbagai sektor pelayanan yang terjadi dalam gereja. Mengapa penulis mengambil sebuah penelitian di dalam gereja karena banyak posisi seorang pemimpin pelayan Tuhan tidak mampu untuk memimpin tugas dan fungsinya dengan baik sehingga pelayanan yang dilakukan tidak sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai karena memimpin dengan hati gembala adalah tentang melayani, menuntun, mengarahkan, menantang, danmembantu orang lain dan untuk bertumbuh. Kepemimpinan gembala tidak menyangkut soal aktivitas manajemen namun menumbuhkan orang yang kita pimpin.[19]

 

2.4. Teori Latar Belakang Sejarah Lahirnya Seorang Pemimpin

Pemimpin ialah seorang yang mengetahui tujuannya dengan jelas, serta mampu mempengaruhi, menggerakkan dan mengarahkan orang-orang lain untuk mencapai tujuan tersebut secara efektif. Dalam hal ini akan dikemukakan timbulnya seorang pemimpin. Teori yang paling menonjol adalah menurut Kartini Kartono yaitu:

1.      Teori Genetis

Teori ini mengatakan bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena dia dilahirkan dengan bakat yang luarbiasa untuk menjadi pemimpin, dalam hal ini dia menjadi seorang pemimpin oleh karena memang dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinannya. Dia dilahirkan menjadi pemimpin dalam kondisi dan situasi bagaimanapun. 

2.      Teori Sosial

Teori ini mengatakan bahwa setiap orang akan menjadi pemimpin apabila ada usaha penyiapan dengan diberi pendidikan dan latihan serta pengkaderan untuk diberi kesempatan menjadi pemimpin.

3.      Teori Ekologis

Penganut teori ini berpendapat bahwa seorang dapat menjadi pemimpin dan akan sukses dalam kepemimpinannya apabila sejak lahirnya telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan. Kemudian bakat-bakat tersebut dikembangkan melalui pendidikan dan latihan secara teratur, juga melalui pengalaman yang mengakibatkan perkembangan lebih lanjut sesuai dengan tuntutan lingkungan (ekologinya). Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari teori genetis dan teori sosial. Dapat dikatakan bahwa teori inilah yang baik dalam teori kepemimpinannya.[20]

 

2.5. Pengertian Pemimpin Gereja Menurut Tokoh Gereja 

Berbicara mengenai pelayan gereja, Luther angkat bicara mengenai persoalan jabatan gereja. Berdasarkan pergumulannya mengenai Alkitab dan ajaran gereja, ia disadarkan bahwa pemahaman tentang jabatan gereja yang diberlakukan dalam lingkungan GKR, pada waktu itu secara teologis menyimpang dari amanat Alkitab. Inti ajaran Luther bahwa firman dan sakramen harus menjadi pusat kehidupan gereja Kristiani, sehingga menurut Luther jabatan terpenting (tetapi bukan tertinggi atau memiliki dignitas rohani yang lebih tinggi) dan yang memerlukan tahbisan khusus adalah jabatan pemberita firman dalam hal ini pendeta.[21]

            Menurut Calvin, Allah telah mempersiapkan dua jenis jabatan gerejawi sebagi pelayan-pelayan firmanNya, yaitu pendeta/gembala dan guru (dalam artian seorang pengajar). Disamping pendeta dan guru sebagai pengajar, perlu dicatat pula peranan orang-orang lain yang diangkat serta dididik jemaat dalam gereja sehingga mampu memenuhi panggilan tersebut.[22]

            Sementara Bucher berfikir dan berkata-kata mengenai gereja dari persfektif Kerajaan Allah di dunia. Gereja berada di dunia sebagai “pelayan” Kerajaan Allah. pelayan adalah jika gereja hal ini harus tampak dalam segala pekerjaan gereja: pelayan dari ajaran, pelayan dari sakramen-sakramen dan pelayan dari disiplin gerejawi. Maka yang menentukan jabatan gerejawi (pemimpin gereja) bukan jubahnya melainkan fungsinya.[23]

 

2.6. Tokoh Pemimpin Dalam Perjanjian Lama

Kepemimpinan dalam PL hakekatnya adalah berasal dari Allah (Teokrasi), yang berarti bahwa pemimpin dalam PL adalah orang yang mendapat kepercayaan dan mandat dari Allah sebagai saluran atau wakil-Nya di bumi. allah juga melibatkan orang-orang yang dipimpin-Nya menjadi teman sekerjanya, mereka itu adalah Musa, Yosua, Para Hakim, Imam, Raja dan Nabi.[24] tentunya dalam hal ini mereka semua memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing sesuai dengan kebutuhan umat dan untuk memberi penyelamatan kepada Umat-Umat-Nya.[25]

            Pada zaman PL umat Allah hidup dibawah beberapa pemerintahan atau kepemimpinan. contohnya di Israel ada tiga macam pemimpin yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Israel yaitu:[26]

 

a)   Raja

      Raja bekerja untuk mempersatukan kedua belas suku Israel menjadi satu bangsa, dan memperkuat dalam melawan musuh-musuh Israel. Bangsa Israel mempercayai Allah telah memberikan tanah bagi mereka dengan maksud agar kehidupannya tentram dan bebas dari ancaman di negeri itu, oleh karena itu mereka berkeinginan memiliki seorang raja dengan harapan raja tersebut akan berhasil mempertahankan keamanan dan mengalahkan musuh-musuh mereka. maka tugas raja berhubungan dengan maksud Allah karena pemilihan dan pengangkatan seorang raja harus mendapat persetujuan dari Allah. Seorang raja sangat menentukan bagi keberlangsungan bangsa Israel. Tapi banyak Raja bersifat jahat dan tidak mengenal Allah sehingga mendorong terjadinya ketidakadilan dan kejahatan  terutama setelah peristiwa terpecahnya Kerajaan terpecahnya kerjaan Israel Raya (1 Raj 14:16, 2 Raj 21:16). Salah satu hal yang menarik yaitu tampilan Raja Yosia selesai peristiwa pecahnya bangsa Israel berusaha melakukan pembaharuan kembali. Dengan pengaruh para Nabi Yosia menghindari penyelewengan para Raja dan pemerintah dengan meminta nasihat para nabi Tuhan (2 Sam 12:1, 1 Raj 18:17). Raja-raja Israel dan Yehuda mempunyai sebagian kepemimpinan religius dan sangatlah penting bahwa Raja ditahbiskan di Bait Allah. Tetapi di Israel dan Yehuda tidak pernah Raja itu dipandang sebagai Ilahi. Mereka tetap berbicara sesuai kehendak Allah dan melakukan segala sesuatu atas kehendak Allah.[27]

 

b)  Imam

      Tugas Imam untuk memimpin dalam peribadahan bangsa Israel supaya peribadahan dapat berjalan dengan teratur sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. seoang imam juga sebagai orang yang mempelajari dan menafsirkan peraturan-peraturan dan hukum-hukum tentang korban persembahan sebagai hal yang penting dalam peribadahan bangsa Israel , serta memberikan nasehat-nasehat mengenai peribadahan yang baik. Imam sebagaimana halnya Raja merupakan pribadi yang dihormati. Serdadu-serdadu Israel tidak berani membunuh Imam di Nob (1 Sam 22:17) dan pada kesempatan yang sama Daud tidak berani meyerang orang yang diurapi oleh Yhwh yaitu Raja (1 Sam 24:5, 26:9, 2 Sam 1:15). Seorang imam adalah orang yang ahli dalam soal ibadah. Untuk itu diperlukan pengetahuan khusus. Ia memberikan bimbingan dan putusan khusus mengenai soal keagamaan, upacara dan hukum. Apalagi bila ada suatu kasus hukum yang berat, Ia adalah pelaksana dan penganjur hukum Allah.[28] Dalam Perjanjian Lama Imam Eli terkenal sebagai salah satu Imamyang melayani di pusat peribadatan di Silo (1 Sam 1:3). Ucapan yang dikatakan oleh para Imam bersumber pada 2 wibawa Ilahi yaitu tradisi imamt dan penggunaan batu undian kudus (urim dan tumim). Para Imam memimpin serta bertanggungjawab atas segala acara dan upacara persembahan di bait suci. Ia hidup dari sebagian persembahan yang ipersembahkan oleh umat. Namun mempersembahkan korban bukanlah unsur yang terutama dan peranan khusus dalam bait Allah. Dapat juga dicatat bahwa para imam juga sering disebut sebagai para Nabi yang mendapat Ilham.[29]

 

c)   Nabi

      Nabi merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani "Nebiim", pelihat 'ro'eh yaitu mereka yang memiliki karunia untuk menyampaikan pesan Allah (1 Sam 9:9). Musa dipandang sebagai Nabi yang pertama dalam PL karena dalam perkataan Musa (sejak ia terpanggil) kehendak Allah dinyatakan bagi bangsa Israel, mujizat tetap menjadi ciri kenabian bahkan Nabi selalu mendapat Ilham untuk menyatakan hal-hal atau peristiwa yang akan dataang. Para Nabi adalah pejuang keadilan, merek mengutuk ketidakadilan dan mengkritik kemerosotan moral maupun ibadat yang menyimpang dari kehendak Allah.[30]

Didalam kehidupan bangsa Israel, minat para Nabi terhadap bidang politik menentukan juga peranan mereka termasuk nubuat dan tindakan mereka. Ada beberapa nama yang mungkin dapat berperan sebagai Nabi dalam kehidupan Israel (Kerajaan Israel). Misalnya Samuel yang telah melihat akan muncul raja-raja Israel termasuk yang berperan dan proses pengurapan raja. Dalam kehidupan politik maka tidaklah mengherankan kalau para nabi berhubungan berat dengan kehidupan raja Daud baik sewaktu ia dikejar Saul maupun ketika memerintah. Gad adalah seorang pelihat yang merupakan orang kepercayaan raja Daud bahkan menjadi penasehat raja Daud (1 Sam 22:5) Gad menjadi seorang yang berpengaruh dalam kegiatan peradilan Daud bahkan Gad juga memberikan nasihat kepada Daud untuk memberikan Altar bagi Tuhan (2 Sam 24:10-17). Setelah Daud menjadi Raja bahkan dalam kegiatan peradilan kerajaan dan pemerintahan Daud di dampingi oleh Natan yang menjalani tugas kenabian waktu Natan yang pertama kali mengecam Daud dan menyampaikan kehendak Allah bahwa Allah murka karena Daud telah berzinah dengan mengambil Batsyeba (isteri Uria) sebagai Isterinya (2 Sam 12:1-15). Lewat Peranan kedua Nabi kerajaan ini maka ada 2 hal yang menjadi ciri khas Nabi yaitu: Ucapan kenabian menginterpretasi, menafsirkan, memahami dan menilai keadaan waktu itu. Kedua, ucapan para Nabi dapat berisi ancaman atau bahaya yang akan dialami pada masa yang akan datang akibat suatu pelanggarang yang dilakukan oleh seorang raja atau bangsa.[31]

2.7.Beberapa Sistem Pemilihan Pemimpin Dalam Alkitab

Untuk menentukan atau memilih seorang pemimpin  ada beberapa cara atau metode yang dapat diterapkan. Dalam pesta demokrasi di sebuh negara ada berbagai sistem yang diberlakukan sesuai dengan peraturan atau perundang-undangan yang berlaku. Metode yang diterapkan dalam pesta demokrasi untuk memilih para pemimpin negara, adakalanya juga relevan diberlakukan untuk memilih pemimpin partai politik, organisasi masyarakat dan gereja. Hal ini tentunya berdasarkan pertimbangan dan kesesuaian dengan kondisi dan peraturan  lembaga tersebut. Semua sistem pemilihan pemimpin mempunyai kekuatan dan kelemahan tersendiri, karena sistem-sistem tersebut perlu dipahami lebih dalam. Sistem atau cara pemilihan pemimpin yang bisa diterapkan anatara lain[32]:

1.      Penetapan

Sistem penetapan adalah salah satu metode yang dapat diberlakukan dalam mengangkat seorang pemimpin, khususnya pemimpin gereja (sinode). Jika ditelusuri kisah pemanggilan atau pemilihan Musa, Yosua, Raja-raja Israel dan Yehuda (Khususnya Saul, Daud, dan salomo), nabi-nabi,rasul,pelayan meja,diaken dan penatua, maka secara umum yang terjadi adalah melalui penetapan. Panggilan itu oleh Allah sendiri dengan berbagai cara seperti theopani, melalui nabi, langsung oleh Yesus bagi para murid, visi atau penglihatan kepada Paulus dan penetapan dengan menentukan syarat-syarat oleh Paulus kepada Timotius untuk para diaken dan penatua. Sistem penetapan yang terjadi dalam berbagai kisah di Alkitab sangat kelihatan denominasi otoritas Allah untuk memanggil dan memilih orang tertentu berdasarkan kehendak-Nya. Jika suksesi kepemimpinan melalui penetapan berdasarkan kedaulatan Tuhan, maka hal itu dapat mengurangi kemungkinan resistensi karena orang yang ditetapkan itu tepat atau memenuhi syarat-syarat yang sesuai dengan kebenaran Alkitab. Tetapi jika sebaliknya, apabila orang yang ditetapkan itu salah,  maka peluang untuk stagnasi dan konflik internal dapat terjadi. Karena itu penetapan harus sesuai dengan kriteria dan otoritas Allah karena Dia melihat hati manusia (bd. 1 Sam 16:7).[33]

2.      Aklamasi

Jenis lain dari cara pemilihan atau pemungutan suara untuk menetukan pemimpin adalah apa yang dikenal dengan sebutan aklamasi. Aklamasi menurut Cicero merupakan cara menyatakan persetujuan atau penolakan dengan memberikan suara atau berteriak. Pengertian lain dari aklamasi adalah cara pemilihan tanpa menggunakan kertas suara untuk menyampaikan pilihannya, tetapi dengan bertanya langsung siapa yang mendukung atau yang menolak kandidat yang ada. Metode ini biasanya diterapkan dalam sebuah persidangan atau kongres yang bukan dalam skala besar dengan massa mengambang (floating-mass)

 

2.8. Jenis-jenis Pemimpin

2.8.1.      Pemimpin Rohani

Pemimpin Rohani adalah seseorang yang telah dipanggil Allah sebagai pemimpin, yang ditandai dengan kapasitas memimpin dan tanggung jawab Allah untuk memimpin (menggerakkan atau mempengaruhi suatu kelompok umat Allah). Pemimpin Rohani harus memahami bahwa dasar kepemimpinannya adalah bahwa ia telah dipanggil sebagai pelayan atau hamba.[34]

2.8.2.                  Pemimpin Politis

Secara etimologis kata “politik” berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari perkataan polis yang mempunyai arti kota atau negara kota. Kata polis tersebut berkembang menjadi kata lain seperti politis yang berarti warga negara.[35] Sebutan politik atau politis dalam kepemimpinan politik menunjukkan kepemimpinan yang berlangsung dalam suprastruktur politik (lembaga-lembaga pemerintahan).[36]

2.9. Kriteria Pemimpin

2.9.1.      Setia Tanpa Akhir

Kata setia merupakan kata yang sarat makna dalam hidup dan kehidupan manusia. Karena itu, kata “setia” adalah kata yang paling disenangi dan dirindukan oleh semua manusia, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Di dalam Alkitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dapat disebutkan beberapa tokoh sentral yang teruji kesetiannya terhadap tugas panggilannya sampai pada titik akhir perjalanan tugasnya. Nama-nama antara lain, Abraham (Kej.11:29-30), Yusuf (Kej. 39:1-23). Jadi dapat dikatakan bahwa seorang pemimpin yang setia ditandai melalui kemampuannya membangun konsep berfikir yang utuh tentang sesuatu dalam sebuah rentang waktu yang panjang kedepan. Seorang pemimpin adalah seorang pemikir, karena itu ia mampu merancang visi yang jelas dan tajam tentang organisasi yang dipimpinnya.[37]

2.9.2.      Rendah Hati

Dalam Amsal 29:23 dikatakan bahwa orang yang rendah hati menerima pujian. Pengajaran Yesus juga sesungguhnya memberikan perintah yang lebih jelas tentang menjadi hamba dan saudara . “Setiap orang yang meninggikan diri akan direndahkan dan dia yang merendahkan diri akan ditinggikan” (Lukas.14:11). Berulang kali ia mengajar murid-murid-Nya bahwa kebesaran yang sejati dalam kerajaan-Nya ialah melalui kerendahan hati.[38] Yesus menasehati agar pemimpin rendah hati seperti Dia, supaya jiwa mendapat ketenangan. Yesus Kristus, Anak Allah itu telah datang ke dunia dengan kerendahan hati. Oleh karena itu, maka pemimpin juga harus memiliki kerendahan hati dalam kepemimpinannya. Seorang pemimpin perlu berhikmah dalam mempengaruhi jemaat untuk tidak membedakan jemaat yang miskin, jemaat yang bodoh atau yang rendah kedudukannya. Pengajaran ini memberikan pemahaman bahwa kerendahan hati secara sederhana diartikan ketiadaan yang menyeluruh, yang muncul ketika menyadari betapa besarnya Allah dari segala sesuatu, dan di mana kita membuat jalan bagi Allah agar dia segala-galanya.[39]

2.9.3.      Berdoa

Dengan berdoa seorang pemimpin akan mengetahui kekuasaan Allah yang melebihi kemampuan manusia. Dari berdoa seorang pemimpin mengetahui juga kehendak Allah yang berbicara setiap hari kepadanya. Doa setiap hari adalah tanda kesetiaan, tanda kedisplinan seorang pemimpin kepada atasannya yang lebih tinggi.[40] Ada beberapa tokoh Alkitab yang selalu berdoa untuk menjalankan kepemimpinannya, seperti Samuel ( Hakim terakhir yang selalu meminta petunjuk kepada Tuhan melalui doa bahkan setelah dia pensiun, 1 Sam. 12:23), Daud (Maz. 55:17-18), Daniel (Dan. 6:11). Hal tersebut menjelaskan bahwa ada kesadaran dari para pemimpin bahwa mereka tidak bisa menjalankan kepemimpinannya tanpa campur tangan dari Tuhan. Pemimpin yang dikenal memiliki integritas yang baik, dengan kehidupan keseharian yang baik dan mampu menjadi teladan pemimpin Kristen tidak hanya memiliki kemampuan untuk memimpin tetapi yang paling utama adalah mampu menjadi teladan, karena perilaku memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan kata-kata.[41]

2.10.                    Kisah Tentang Panggilan dan Pemilihan Pemimpin dalam Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama dituliskan ada beberapa kisah tentang panggilan dan penetapan para pemimpin, baik untuk nabi, imam dan raja. Yaitu untuk melihat bagaimana pemanggilan dan penetapan itu terjadi, oleh sebab itu pemilihan tokoh itu berdasarkan pada ciri khas panggilan dan penetapan mereka yang relevan dengan tantangan dan kebutuhan pada zamannya.

2.10.1.  Musa Sang Pembebas Israel

Ketika orang Israel dalam penderitaan yang besar oleh perbudakan di Mesir, mereka berseru dan mengerang kepada Allah serta memohon pertolongan-Nya untuk pembebasan. Jeriatn tersebut didengar Allah dan tergeraklah hati-Nya untuk membebaskan Israel (Kel. 2:23-25). Allah yang memperhatikan keadaan Israel bermaksud untuk menolong, sehingga Dia memanggil Musa untuk tugas tersebut. Musa yang sedang menggembalakan ternak mertuanya. Yiro di Midian, mendapat panggilan dari Allah, melalui sebuah Theofani, Allah berseru dari tengah-tengah semak duri yang terbakar dan memperkenalkan diri-Nya kepada Musa lebih dahulu. Dalam kisah pemilihan dan pemanggilan Musa ini ada beberapa hal yang dapat dipelajarinya, antara lain:

1.      Allah Memperkenalkan Diri-Nya Kepada Musa

Ada beberapa alasan mengapa Allah lebih penting dahulu memperkenalkan diri-Nya kepada Musa sebelum menyampaikan maksud-Nya (Kel. 3:6). Allah melihat itu perlu agar Musa tahu dan mengenal bahwa yang memanggilnya itu adalah Allah yang telah disembah oleh nenek moyang, sejak mulanya (Allah yang disembah Abraham, Ishak, dan Yakub).[42] Musa yang selalu menggembalakan ternsk di Midian, juga adalah seorang “buronan” dari Mesir karena dia pernah sebelumnya membunuh orang Mesir yang menyiksa seorang budak Israel. Tindakan ini dilakukan Musa karena ia tidak tahan melihat kaumnya sendiri disiksa oleh bnagsa lain dan ada dorongan baginya untuk membela mereka. Musa dipanggil dari “Zona amannya”untuk pergi membebaskan orang Israel dimana dia pernah hidup dan menikmati didikan selama sekitar 40 tahun hal inilah yang menjadi alasan mengapa Allah perlu memperkenalkan diri-Nya kembali kepada Musa adalah supaya dia juga tahu bahwa yang memerintah dia untuk misi itu bukanlah manusia dari pekerjaan tersebut juga adalah mulia dengan mandat Ilahi. Pengenalan akan pribadi yang memanggil dan memerintah sangat penting bagi setiap orang dalam mengerjakan kepemimpinan, karena hal tersebut menentukan sikap dan respon  seseorang dalam menjalankan tugasnya.

2.      Allah Membagi Beban (sharing) dengan Musa

Setelah memperkenalkan diri, Allah membukakan tentang keadaan Israel yang sangat menderita dan mengerang memohon pertolongan Allah. Allah juga memberitahukan bagaimana Dia memperhatikan dan mendengar seruan mereka sehingga Dia mau melpaskan dan menuntun mereka keluar dari Mesir menuju Kanaan. Allah membagi beban dengan Musa, supaya Musa selain melihat tugas tersebut sama seperti hati Allah terhadap Israel. Musa mengerjakan mandat pembebasan Israel karena sebatas perintah maka hal tersebut tidak akan maksimal dan dia sendiri pun tidak akan mengerjakannya dengan sukaita.  

3.      Allah Memanggil dan Mengutus Musa

 Pengenalan yang benar akan pribadi yang memerintah dan sahring beban yang jelas, juga perlu disertai dengan tugas yang pasti. Musa mendapat tugas yang jelas , yaitu memimpin Israel keluar dari perbudakan Mesir. Kepemimpinan yang benar juga membutuhkan ketiga aspek diatas yang memampukan seseorang bertindak setia dan berintegritas dalam mengaktualisasikan mandat ilahi. Allah memanggil Musa dengan tugas yang jelas sehingga dia tidak meraba tentang apa yang dilakukannya (Kel.3:10). Seorang pemimpin seharusnya mengetahui tugas yang akan dikerjakan jika menduduki suatu jabatan dengan demikina dia meiliki perenanaan dan target yang jelas bagi kebaikan suatu kesejahteraan orang atau gereja yang dipimpinya. Musa dipanggil dengan tugas dan tujuan yang jelas sehingga dia mengetahui dengan jelas apa yang akan dikerjakannya dan hal itu tentunya berasal dari Allah bukan berdasarkan target atau keinginan pribadi. Pemimpin sejati, yang dipanggil Allah haruslah mendapat mandat ilahi akan apa yang akan dikerjakannya sehingga dia berambisi untuk menuntaskan tugas tersebut melalui jabatan yang akan diperayakan.[43]

 

III.             AnalisaPenyeminar

Dari hasil pemahaman diatas dapat membuat sebuah kesimpulan mengenai  Pemimpin atau memimpin, dalam bahasa Inggris disebut leader yang akar katanya adalah “to lead” dan maknanya mengandung pengertian; bergerak lebih awal, berjalan di depan, mengambil langkah pertama, berbuat paling dulu, mempelopori, menuntun, menggerakkkan orang lain. Pemimpin adalah seseorang yang dianugerahkan kemampuan dari Tuhan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab kepemimpinan sesuai dengan kehendaknya, yakni membuat umat Allah sampai pada tujuan yang telah ditetapkan-Nya.  Pemimpin Kristen adalah orang yang telah dipanggil, dan mendapat karunia serta tanggungjawab dari Allah untuk memimpin suatu kelompok tertentu.

Bila melihat kepemimpinan pelayan Tuhan dalam gereja, maka tentu harus bisa dilihat apakah ada karakter sebagai seorang pemimpin dalam diri setiap pelayan Tuhan yang mampu untuk tampil sebagai pemimpin dalam bidang pelayanan tertentu.

Jadi sangat penting dimana setiap orang dapat memiliki kemampuan dalam memimpin. Dalam hal ini kepemimpinan diperoleh dari setiap pengalaman hidup yang menuntun kita untuk terus belajar dan dibentuk.

Di dalam Kitab Suci, Allah sering kali dikatakan sedang mencari seseorang yang mempunyai cirri tertentu, bukannya banyak orang, melainkan satu orang. Bukannya satu kelompok, melainkan satu pribadi. Baik Kitab Suci maupun sejarah Israel dan secara sejarah Gereja membuktikan bahwa jika Allah mendapatkan seseorang yang sesuai dengan persyaratan rohaniNya, maka Ia akan memakai dia sepenuhnya, meskipun ia penuh kekurangan. Pada konteks saat ini, gereja tentunya membutuhkan pemimpin yang benar-benar mengandalkanTuhan dalam kepemimpinannya. Kriteria yang dipakai Gereja hingga saat ini ialah pemimpin yang melakukan tugas kepemimpinannya sebagai panggilan dari Tuhan, pemimpin yang memiliki karakter yang baik, rendah hati, memiliki hati hamba, berintegritas, jujur, lemah lembut, seseorang yang tidak bercacat dan dapat menahan diri, sehingga Pemimpin  yang dipilih oleh Allah tidak dapat diganggu gugat oleh manusia.

 

IV.             DaftarPustaka

Akan hal kenapa Allah perlu memperkenalkan diri sebagai yang disembah oleh Abraham, Ishak, Yakub, Terene E. Fretheim mengatakan: “The divine eletion of this people is rooted in the relationship between God and Abraham, Isaa, and Jaob” (Pemilihan ilahi untuk orang ini mengakar dalam hubungan antara Allah dan Abraham, Ishak, dan Yakub). Terene E.Fretheim, Interpretation of Exodus, Louisville:John Knox Press,1991

Ale Motyer menyebutkan beberapa alasan atau dalih Musa adalah ina deuay (Ex. 3:11). Ketidaklayakan, ketidakmampuan , ketidakefektikan, ketidak kompotenan, dan keengganan untuk tunduk). Ale Motyer, The Message of Exodus , Leiester-England:Intervasity Press, 2005

Aritonang Jan S.,  Berbagi Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja, Jakarta:BPK-Gunung Mulia, 2016

Arthur John Mac, Kitab Kepemimpinan: 26 Karakter Pemimpin Sejati Jakarta: BPK-Gunung Mulia,2008

Baker F.L, Sejarah Kerajaan Allah I PL, Jakarta: BPK-GM,1990

Bangun Yosafat , Intergritas Pemimpin Pastoral, Yogyakarta: ANDI,2010

Barlay William , Pemahaman Alkitab setiap hari: Kitab Kisah Para Rasul, Jakarta:BPK-GM,2007

Barth C.,  Teologi Perjanjian Lama II, Jakarta: BPK-GM, 2013

Barth C., Teologi Perjanjian Lama 1, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2004

Darmawijawa, Jiwa Dan Semangat Perjanjian Lama II, Yogyakarta: Kanisius, 1990

Djadi Jermia, “Kepemimpinan yang Efektif,” Jurnal Jaffray 7, No. 1 (2009): 16, diakses 22 februari 2017,http://ojs.sttjaffray.ac.id/index.php/jjv71/article/view/5/pdf_3

Howard David. M.,  Kitab-Kitab Sejarah Dalam Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2002

Jones Laurie Beth, Yesus Chief Executive Officer, Jakarta: Mitra Usaha, 1997

Krodel Gerhad A., Augsburg Commentary of the New testament:act, Minneapolis:Augsburg Publishing House, 1986

Mangunhardjana, Kepemimpinan, Yogyakarta: Kanisius, 1990

Murray Andrew , Kerendahan Hati, Yogyakarta: ANDI, 1999

Owie A.P., Oxford Learner’s Dictionary, Oxford: Oxford University Press,1990

P Oktavianus.,  Menagemen dan Kepemimpinan Menurut Wahyu Allah, Gandum Mas: Malang, 1998

Poerwadarminta W. J. S., Kamus Umum Bahasa Indonesia Jakarta: Balai Pustaka, 1986

Ronda Daniel , “Kepemimpinan Model Gembala,” Jurnal Jaffray 7, No. 2 Oktober 2009.

Saragih Agus Jetron, Teologi Perjanjian Lama Dalam Isu-isu Kontekstual, Medan: Bina Media Perintis, 2015

Sipayung Jonriahman, Panggilan Seorang Pemimpin, dalam News Letter ABDI SABDA Medan,EdisiJanuari-April 2012

Sirait Midian K.H. , Panggilan Melayani ,Jakarta: Surya Judika Ray,2000

Siringo-ringo V.M., Theologi Perjanjian Lama, Yogyakarta: ANDI,2013

Sitompul A.A., Dipintu Gerbang Pembinaan Warga Gereja 2, Jakarta:BPK-GM,1979

Soerjadi A., Pemimpin & Hamba Berhati Bapa, Jakarta:Buana Printing, 2008

Strauh Alexander, Manakah Yang Alkitabiah: Kepenatuaan atau Kependetaan, Yogyakarta: ANDI, 1986

Surbakti Ramlan, Memahami Ilmu Politik, Jakarta: Grasindo, 1990

Tomatala Yakob, Kepemimpinan Kristen, Jakarta: YT Leadership Foundation, 2012

Vrizen Th. C, Agama Israel Kuno, Jakarta: Gunung Mulia, 2006

Walton H.Jhon & Andrew E. Will , Survei Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2008

Wuysang Hans,  Pengantar Kitab 1 Samuel, Jakarta: Yayasan Persekutuan Pembaca Alkitab, 2008



[1]W. J. S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1986), 729.

[2] Midian K.H.Sirait, Panggilan Melayani,(Jakarta: Surya Judika Ray,2000), 54

[3] Yosafat Bangun, Intergritas Pemimpin Pastoral, (Yogyakarta: ANDI,2010), 131

[4]JonriahmanSipayung, PanggilanSeorangPemimpin, dalam News Letter ABDI SABDA Medan,EdisiJanuari-April 2012

[5]W. J. S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1986), 729.

[6] Midian K.H.Sirait, Panggilan Melayani,(Jakarta: Surya Judika Ray,2000), 54

[7] John Mac Arthur, Kitab Kepemimpinan: 26 Karakter Pemimpin Sejati (Jakarta: BPK-Gunung Mulia,2008), 9

[8] Yosafat Bangun, Intergritas Pemimpin Pastoral, (Yogyakarta: ANDI,2010), 130

[9] Yosafat Bangun, Intergritas Pemimpin Pastoral, (Yogyakarta: ANDI,2010), 131

[10] V.M.Siringo-ringo, Theologi Perjanjian Lama, (Yogyakarta: ANDI,2013), 84

[11] C.Barth, Teologi Perjanjian Lama 1, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2004), 197

[12] Yakob Tomatala, Kepemimpinan Kristen, (Jakarta: YT Leadership Foundation, 2012), 34

[13] Agus Jetron Saragih, Teologi Perjanjian Lama Dalam Isu-isu Kontekstual, (Medan: Bina Media Perintis, 2015), 158

[14]JonriahmanSipayung, PanggilanSeorangPemimpin, dalam News Letter ABDI SABDA Medan,EdisiJanuari-April 2012

[15] Laurie Beth Jones, Yesus Chief Executive Officer, (Jakarta: Mitra Usaha, 1997), 55

[16]Jermia Djadi, “Kepemimpinan yang Efektif,” Jurnal Jaffray 7, No. 1 (2009): 16, diakses 22 februari 2017,http://ojs.sttjaffray.ac.id/index.php/jjv71/article/view/5/pdf_3

[17] Yakob Tomatala, Kepemimpinan Yang Dinamis, (Jakarta: YT Leadership Foundation, 1997), 43.

[18] Yakob Tomatala, Kepemimpinan Yang Dinamis, (Jakarta: YT Leadership Foundation, 1997), 43.

[19] Daniel Ronda, “Kepemimpinan Model Gembala,” Jurnal Jaffray 7, No. 2 (Oktober 2009): 18.

[20] P. Oktavianus, Menagemen dan Kepemimpinan Menurut Wahyu Allah, ( Gandum Mas: Malang, 1998), 54-55

[21] Jan S.Aritonang, Berbagi Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja, (Jakarta:BPK-Gunung Mulia, 2016), 40-41

[22] Jan S.Aritonang, Berbagi Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja, (Jakarta:BPK-Gunung Muia, 2016), 58

[23] Jan S.Aritonang, Berbagi Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja, (Jakarta:BPK-Gunung Muia, 2016),151

[24] C. Barth, Teologi Perjanjian Lama II, (Jakarta: BPK-GM, 2013), 15

[25] Hans Wuysang dkk, Pengantar Kitab 1 Samuel, (Jakarta: Yayasan Persekutuan Pembaca Alkitab, 2008), 158

[26] David. M. Howard. Kitab-Kitab Sejarah Dalam Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 2002), 126-128

[27] Darmawijawa, Jiwa Dan Semangat Perjanjian Lama II, (Yogyakarta: Kanisius, ), 56

[28] Mangunhardjana, Kepemimpinan, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), 11

[29] Th. C Vrizen, Agama Israel Kuno, (Jakarta: Gunung Mulia, 2006), 85

[30] Andrew E. Will & Jhon. H. Walton, Survei Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 2008), 285

[31] F.L Baker, Sejarah Kerajaan Allah I PL, (Jakarta: BPK-GM1990), 551

[32] William Barclay, Pemahaman Alkitab setiap hari: Kitab Kisah Para Rasul, (Jakarta:BPK-GM,2007),25 

[33] Gerhad A.Krodel, Augsburg Commentary of the New testament:act, (Minneapolis:Augsburg Publishing House, 1986 ), 67-68

[34] Yakob Tomatala, Kepemimpinan Kristen,( Jakarta: Leadership Foundation, 2002), 15-16

[35] A.P.Cowie, Oxford Learner’s Dictionary, (Oxford: Oxford University Press,1990), 190

[36] Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, (Jakarta: Grasindo, 1990), 134

[37] A.Soerjadi, Pemimpin & Hamba Berhati Bapa, (Jakarta:Buana Printing, 2008), 31-33

[38] Alexander Strauch, Manakah Yang Alkitabiah: Kepenatuaan atau Kependetaan, (Yogyakarta: ANDI, 1986), 12

[39] Andrew Murray, Kerendahan Hati, (Yogyakarta: ANDI, 1999), 4

[40] A.A.Sitompul, Dipintu Gerbang Pembinaan Warga Gereja 2, (Jakarta:BPK-GM,1979), 20

[41] John Mac Arthur, Kitab Kepemimpinan: 26 Karakter Pemimpin Sejati (Jakarta: BPK-Gunung Mulia,2008), 205-208

[42] Akan hal kenapa Allah perlu memperkenalkan diri sebagai yang disembah oleh Abraham, Ishak, Yakub, Terene E. Fretheim mengatakan: “The divine eletion of this people is rooted in the relationship between God and Abraham, Isaa, and Jaob” (Pemilihan ilahi untuk orang ini mengakar dalam hubungan antara Allah dan Abraham, Ishak, dan Yakub). Terene E.Fretheim, Interpretation of Exodus, Louisville:John Knox Press,1991), 59

[43] Ale Motyer menyebutkan beberapa alasan atau dalih Musa adalah ina deuay (Ex. 3:11). Ketidaklayakan, ketidakmampuan , ketidakefektikan, ketidak kompotenan, dan keengganan untuk tunduk). Ale Motyer, The Message of Exodus , Leiester-England:Intervasity Press, 2005),75-78.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar