Menggali Sejarah Penyebutan nama-nama Allah dalam PL, PB, dan agama resmi di Indonesia serta Agama Suku
I. PENDAHULUAN
Mempelajari nama-nama Allah dapat menyatakan karakter atau sifat-Nya kepada kita secara lebih mendalam. Jika kita merenungkan nama-nama Allah, kita dapat lebih mengerti sifat atau hakikat-Nya dan lebih mengerti tenteng cara Dia berkarya dalam hidup kita. Walaupun manusia yang fana tidak mengerti sifat atau hakikat-Nya secara sempurna, namun Allah telah menyatakan diri-Nya melalui Firman-Nya dan telah memberikan Roh Kudus sebagai pembimbing kita untuk mengenal Dia. Karena kita hanyalah manusia yang fana, maka kita hanya dapat “mengenal dengan tidak sempurna” (1 Kor. 13:12). Pemahaman kita yang terbatas tidak akan tidak akan dapat mengerti secara sempurna mengenai keberadaan maupun perbuatan Allah yang tidak terbatas. Tetapi jika kita bertumbuh dalam pengenalan kita akan nama-nama Allah, kita akan dapat lebih memahami diri Allah. Alasan kedua untuk mempelajari nama-nama Allah yaitu agar kita dapat memahami hubungan-hubungan berbeda yang dapat kita nikmati bersama Allah. Nama-nama Allah memiliki arti yang lebih dalambagi kita pada saat kita mempunyai suatu hubungan yang baru atau hubungan yang berkembang dengan diri-Nya.
II. PEMBAHASAN
2.1.Penyebutan Nama Allah ditinjau dari Biblika
2.1.1. Penyebutan Nama Allah ditinjau dari Perjanjian Lama
a. Adonai
Kata ‘adonai adalah bentuk jamak dari kata ‘adon yang berarti “tuan, pemilik, penguasa, junjungan”. Dalam hubungan dengan nama Allah, kata ini digunakan dalam bentuk jamak dengan diberi akhiran pemilik orang pertama tunggal, dan secara harfiah berarti “tuan-tuanku’. Cukup dikatakan bahwa secara teologis penggunaan bentuk jamak harus diartikan sebagai “tuan di atas segala tuan, yang Mahamulia, Sang Junjungan, dan Sang Pemilik. Contoh menggunaannya terdapat dalam Mazmur 97:5 yang menyebut Allah sebagai “Tuhan seluruh bumi”. Dalam perkembangan berikutnya, sebutan Adonai seringkali digunakan sebagai sebagai ucapan pengganti bagi nama Yahweh (YHWH), agar umat Israel terhindar dari menyebutkan nama Yahweh dengan sembarangan, sebagaimana yang ditegaskan dalam hukum ke-3 dari Dasa Titah ( Kel 20:7).
b. El/Elohim
Penyelidikan terhadap agama bangsa-bangsa Kanaan dan sekitarnya, yang menjadi konteks keagamaan bagi agama Israel, menunjukkan bahwa El adalah nama dewa yang menjadi kepala pantheon ( dewan para dewa) dalam agama-agama Kanaan dan sekitarnya sebagai dewa yang beristri banyak, juga sebagai dew yang kekal yang memerlukan banyak dewa-dewa pembantu untuk mengatasi kuasa-kuasa chaos (kegelapan) dan untuk mengerjakan tugas-tugas kedewaan lainnya.
Umat Israel menggunakan nama “El” untuk menyebut Allah ayang telah menyatakan diriNya kepada para leluhur mereka sebagai Allah Abraham (‘El ‘abi ‘Abraham), Allah Ishak ( “El “abi Yizak ), dan Allah Yakub ( ‘El ‘abi Ya’aqov). Nama El adalah nama umum yang lazim digunakan dikalangan rumpun bangsa Semit (dimana Isral termasuk salah satu di dalamnya) untuk menyebutkan Allah yang Mahakuasa dan Mahatinggi. Jadi, tidak mengeharnkan bila bangsa Israel juga menggunakan kata El untuk menyebut Allah mereka. Jika kita membandingkan pemahaman mengenai El-Israel sebagaimana terdapat didalam PL dengan pemahaman bangsa-bangsa Kanaan mengenai El-Kanaan, akan terlihat perbedaan sangat mencolok. Perbedaan itu ada karena PL tidak mengmbil alih sifat-sifat lemah dan kemanusiaan El-Kanaan ketika memberikan kesaksian tentang El-Israel.
Dengan demikian, sekalipun El adalah nama umum bagi ilah dalam lingkungan agama-agama Kanaan dan sekitarnya, namun bangsa Israel yang taat tidak tergoda sedikit pun untuk menyamakan El-Israel dengan El-Kanaan begitu saja. Jadi, tidak semua sifat dan unsur yang melekat pada El-Kanaan digunakan atau dikenakan kepada Allah (El) Israel. Sesuai dengan hakikat Allah Israel sebagai Yang Mahakudus dan Mahamulia, maka telah terjadi suatu seleksi yang ketatatas sifat-sifat dan sebutan-sebutan yang melekat pada El-Kanaan.
Penggunaan bentuk jamak bagi Allah Israel barangkali telah disalahpahami oleh kebanyakan orang Israel sehingga timbul pemahaman yang politeistis di antara mereka. Untuk mengatasi kesalahpahaman seperti itu, lahirlah rumusan kredo Syema Israel dalam Ulangan 6:4 yang berbunyi “Dengarlah hai Israel, Tuhan Allah kita, TUHAN itu esa...”. Rumusan ini jelas menegaskan bahwa Yahweh yang disebut sebagai Elohim itu esa (satu) adanya. Dari rumusan tersebut dapat ditemukan suatu kerelaan yang sangat besar dari Allah Israel yang bersedia mengkontekstualisasikan diri-Nya begitu rupa bagi umatNya, dengan risiko besar bahwa Ia disalahpahami oleh mereka. Namun, dengan cara ini Ia menunjukkan kebesaran dan kemahakuasaanNya yang melebihi segala ilah yang dikenal manusia. Ia memasuki konteks berpikir manusia tanpa takut martabatNya dikekang dan dikurung oleh keterbatasan konteks manusia.
c. Yahweh
Dibandingkan dengan nama El, yang merupakan sebutan umum bagi Allah dalam kehidupan bangsa-bangsa Semit, nama Yahweh dapat dikatakan merupakan sebutan yang secara khusus lahir dalam konteks kepercayaan bangsa Israel. Nama itu terbentuk dari empat huruf mati (konsonan) yakni YHWH. Sesuai dengan ketentuan dalam Sepuluh ukum TUHAN ( Dasa Titah) untuk tidak menyebutkan nama YHWH ini dengan sembarangan, maka setiap kali orang Yahudi menemukan nama ini dalam bagian Kitab Suci yang sedang dibacanya, mereka membacanya sebagai Adonai. Nama ini terdapat kurang lebih 6.823 kali dalam PL. Jumlah inimemperlihatkan betapa pentingnya nama Allah dalam kepercayaan umat Israel. Secara historis nama Yahweh mulai diperkenalkan oleh Allah kepada Musa di Gunung Sinai dalam penyataanNya yang berbunyi: ‘Ehyeh ‘asyer ‘Ehyeh, yang dalam Alkitab PL terjemahan Klinkert diterjemahkan secara tepat menjadi “Aku ada yang Aku ada”. Sampai sekarang masih ada perdebatan tentang arti sesungguhnya dari nama Yahweh ini.[1]
Sehubungan dengan penggunaan nama Yahweh ada dua sebutan yang ingin dibicarakan di sini secara khusus, yaitu:
- Yahweh Elohenu
Sudah sejak awal ketika Allah Israel pertama kali memperkenalkan diri-Nya sebagai Yahweh, Allah sendiri menghubungkan nama-Nya dengan El atau Elohim. Dalam keluaran 3:6 misalnya Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa dengan berkata sebagai berikut:
“Akulah Allah ayahmu (‘êlohe ‘abikã), Allah Abraham (‘êlohe ‘avrãhãm), Allah Ishak (‘êlohe yitshãq) dan Allah Yakub (‘êlohe ya’aqov)”.
Namun, ketika Musa menanyakan siapakah Ia sesungguhnya, agar Musa dapat meyakinkan umat Israel akan tugasnya memperjuangkan pembebasan umat Israel dari perbudakan di Mesir, Tuhan sekali lagi menegaskan bahwa Ia adalah Elohim (Allah) dari nenek moyang mereka. (Bnd. Kel 3:15). Dalam perkembangan selanjutnya, yakni setelah menetap di Tanah Kanaan, bsngsa Israel segela berhadapan dengan kepercayaan suku-suku setempat. Dalam proses akulturasi yang terjadi sebagai akibat logis dari perjumpaan antar kebudayaan-kebudayaan dari dua bangsa itu, terjadi pula proses saling pempengaruhi antara kepercaayaan asli Kanaan dengan kepercayaan Israel kepada Yahweh (Yahwisme). Salah satu hasil positif dari proses ini ialah umat Israel menyebutkan Yahweh dengan sebutan-sebutan yang umum dipergunakan di Kanaan bagi El. Dengan demikian nama Yahweh sering dihubungkan dengan El atau Elohim, sehingga menjadi Yahweh Elohim atau Tuhan Allah.
Sekalipun demikian penggabungan ini dibarengi pula dengan sikap hati-hati dan waspada. Ada perbedaan hakiki antara pemahaman mengenai El-Kanaan dan pemahaman mengenai El-Israel. Jelaslah bahwa yang dimaksudkan dengan Elohenu (Allah kami) disini adalah Allah Israel. Dengn demikian kombinasi Yahweh-Elohenu adalah hasil perumusan iman Israel yang sangat kontekstual.[2]
2.1.2. Penyebutan Nama Allah ditinjau dari Perjanjian Baru
a. Roh
PB mengungkapkan berbaai segi mengenai hakikatdan sifat Allah melalui sejulah gelar yang berbeda, bukan secara formal, namun penting artinya. Dalam injil Yohanes Yesus menyatakan bahwa Allah adalah Roh ( Yoh 4:24). Para pembaca injil Yohanes mengetahui bahwa arti pernyataan itu tidak kurang dari pengertian bahwa Allah tidak dapat didefinisikan dalam kategori-kategori jasmani. Hakikat Allah adalah Roh yang membuat doktrin mengenai Roh Kudus dapat dipahami.
b. Juruselamat
Meskipun dalam PB gelar “Juruselamat” umumnya diterapkan kepada Yesus Kristus, naun gelar itu juga digunakan bagi Allah, sesuai dengan tindakan Allah yang menonjol dalam PL. Pengungkapan-pengungkapan yang utama dari gelar ini terdapat dalam surat-surat penggembalaan ( 1 Tim 2:3, Tit 2:10,13; 3:4 ), tetapi juga muncul dengan ciri PL dalam nyanyian pujian Maria ( Luk 1:47). Sesungguhnya, teologi Kristen berpusat pada tema mengnaiAllah yang menyelamatkan umatNya.
c. Yang Mahatinggi
Ini adalah gelar yang menyatakan bahwa Allah adlah yang paling yang menunjukkan keunggulan Allah diatas segala ilah lain. Gelar itu digunakan oleh juru tenung dalam Kisah Para Rasul 16:17, oleh setan-setan yang menguasai seorang laki-laki dari Gerasa ( Luk 8:28; Mrk 5:7), oleh Yesus sendiri ketika menasihati orang-orang untuk mengasihi musuh-musuh mereka ( Luk 6:35), dan oleh zakaria dalam nyanyiannya tentang Yohanes Pembaptis (Luk 1:76). Juga digunakan dalam uraian mengenai keimanan Melkisedek (Ibr 7:1).
d. Allah nenek moyang Israel
Beberapa kali Allah disebut secara khusus sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub ( Mat 8:11; 22:3). Demikian juga Ia disebut “Allah nenek moyang kita” dalam Kisah Para Rasul 22:14. Dalam kalangan Yahudi penggambaran hubungan Allah dengan para bapa leluhur memberikan arti yang sangat penting. Hubungan itu enonjolkan Allah yang jauh lebih besar daripada suatu ilah kesukuan saja.
e. Alfa dan Omega
Sebutan mengenai Allah ini hanya terdapat dalam Wahyu 1:8 dan 21:6. Dalam akhir dari Kitab Wahyu sebutan ini juga digunakan kepada Kristus (22:13). Sebutan ini merupakan bentuk kiasan yang mempunyai arti mencakup segala sesuatu, dengan demikian sebutan ini berarti bahwa baik awal maupun akhir dari segala sesuatu diantaranya harus dihubungkan dengan Allah. Seluruh perjalanan sejarah dipandang sebagai aktivitas Allah. Tidak ada masa-masa diluar penyertaan Allah. Hal ini erat kaitannya dengan pengertian mengenai Allah sebagai Pencipta.[3]
2.2.Penyebutan Nama Allah ditinjau dari Dogmatika
Sebagaimana telah disebutkan pada bagian terdahulu bahwa Allah dikenal oleh Dia yang memeperkenalkan diriNya. Dalam mengenal Allah, tidak bisa dilepaskan dengan mengenal namaNya. Nama-nama Allah yang dinyatakan di dalam Alkitab adalah penyataan Allah yang bersifat antropomorfisme. Sehingga dapat dikenal oleh umat Allah (manusia). Didalam dan melalui nama itulah dapat dikenal karakter Allah. Nama adalah sesuatu yang bersifat personal, bukan hanya sekedar “angka” atau “bilangan”. Didalam Alkitab seringkali ditemukan bahwa nama mempunyai arti yang begitu penting. Demikian juga nama-nama seringkali mempunyai arti yang spesifik bukan hanya sekedar sebutan yang berbeda dengan yang lain. Misalnya Adam memberi nama “Hawa” (Kej 3:20), Kain (Kej 4:1), Set (Kej 4:25), Nuh (Kej 5:29), Babel ( Kej 11:9), Ismael (Kej 16:11), Esau dan Yakub (Kej 25:25), Musa, Yesus dan lain-lain.
Perubahan nama juga sering ditemukan didalam Alkitab, ketika seorang pribadi memulai fungsi atau peranan yang baru yang berbeda dengan sebelumnya seperti Abram menjadi Abraham (Kej 17:5) Sarai menjadi Sarah (Kej 17:15); Yedija, Petrus dan yang lainnya. Nama Allah dikenal bukan karena umat memberikan nama kepadaNya melainkan Ia memberi nama bagi diriNya sendiri. Nama Allah dikenal oleh karena penyataanNya,pertama-tama di dalam Perjanjian Lama dan lebih jelas lagi didalam Pperjanjian Baru, di mana Anak Allah menyatakan diriNya di dalam dan melalui Yesus Kristus, kepada umatNya.
Allah dengan namaNya mempunyai hubungan yang amat dekat. Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa bukan manusia yang memberikan nama kepadaNya. Sebab hanya yang lebih berkuasa yang memberikan nama. Sehingga dilihat dari segi kekuasaan, maka tidak mungkin manusia memberikan nama kepada Allah. NamaNya sesuai dengan sifat-sifat dan kebajikanNya, kemuliaanNya, kehormatanNya, kuasaNya dalam menebus manusia (bnd Mzm 8:1; 72:19; Im 18:21, Mzm 86:11, 102:15; Kel 15:3; 3:21, dll). Nama yang Dia sendiri nyatakan adalah kudus, benar dan sebagainya.
NamaNya Yesus sebab Dia menyelamatkan umatNya dari dosa-dosa (Mat 1:21). NamaNya adalah yang diberikan dari atas, dan didalam nama itu saja orang percaya dapat diselamatkan (Kis 4:12). Didalam namanya juga mujizat dapat dilakukan (Kis 4:7) dan menerima penebusan, pendamaian, pengampunan dan hukuman. Didalam namaNya orang percaya juga mempunyai hak menjadi anak-anak Allah (Yoh 1:12), dan hidup yang kekal ( 1 Yoh 5:13). Di mana ada dua atau tiga orang bersekutu di dalam namaNya, maka Dia akan ada bersama-sama dengan mereka ( Mat 18:20). Barangsiapa berdoa di dalam namaNya, maka doanya akan didengar (Yoh 14:13), Barangsiapa berseru memanggil namaNya akan diselamatkan (Kis 2:21). Nama Bapa, Anak dan Roh Kudus menandai kesempurnaan keselamatan manusia. Dibaptis didalam nama itu merupakan bukti, tanda persekutuan dengan Allah.
Nama Allah yang dinyatakn di dalam Alkitab yang dinyatakan oleh Allah sendiri, bertujuan supaya mengarahkan iman kita kepadaNya. Apa yang Allah nyatakan tentang dirinya sendiri diekspresikan dalam arti-arti nama. Allah yang Esa mempunyai keistimewaan, berada dalam kebersamaan penciptaan dan penebusan – releaved of his being in creation and redemption. Penyataan Allah bersifat antropomorphism, karena itu manusia mengenal sejumlah sejumlah istilah yang sesuai dengan pengalaman manusia seperti Ia mempunyai jiwa ( Im. 26:11; Mat 12:28), mempunyai Roh dan hati. Manusia tidak dapat melihat Allah, sebagaimana di dalam Dia sendiri, manusia melihat Dia di dalam karya-karyaNya. Manusia melihat Dia sesuai dengan pernyataan sendiri didalam karya-Nya.[4]
2.3.Penyebutan Nama Allah ditinjau dari Ilmu Agama-agama
2.3.1. Penyebutan Nama Allah dari Agama Hindu
Agama Hindu mulai dengan politeisme dan berakhir dengan panteisme. Semula didalam Weda Samhita diakui adanya dwa yang bermacam-macam. Dari cara orang menguraikan sifat-sifat para dewa itu dapat disimpulkan bahwa para dewa yang disebutkan di dalam Weda Samhita tidak lain adalah kekuatan-kekuatan alam yang dipersonifikasikan. Dalam Hinduisme ada satu Allah yang menggunakan banyak wujud yang dapat dilihat. Tampaknya yang pasti adalah bahwa di dalam Hinduisme hanya ada satu Allah yang dipuja melalui berbagai bentuk dan cara. Allah yang satu ini disebut Brahman. Brahman adalah roh yang paling tinggi, diluar jangkauan manusia, tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Brahman dapat dijumpai di seluruh alam semesta, Dia diatas segalanya. Dia adalah asal dari segala ciptaan hakikat rahasia, hakikat sukacita, dan sang sejati. Brahman adalah seluruh dunia yang mengelilingi kita namun Dia adalah dunia yang juga berada didalam diri kita. Dalam Hinduisme Allah bukan laki-laki ataupun perempuan, tetapi karena Brahman melingkupi segala makhluk, ia bisa berwujud laki-laki atau perempuan bahkan binatang.[5]
Tuhan dalam agama Hindu sebagaimana yang disebutkan dalam Weda adalah Tuhan tidak terwujud dan tidak dapat digambarkan, bahkan tidak bisa dipikirkan. Dalam bahasa Sansekerta keberadaan ini disebut Acintyarupa yang artinya: tidak berwujud dalam alam pikiran manusia. Tuhan Yang Maha Esa ini disebut dalam beberapa nama, antara lain:
a. Brahman: asal muasal dari alam semesta dan segala isinya
b. Purushottama atau Maha Purusha
c. Iswara (dalam Weda)
d. Parama Ciwa (dalam Whraspati tatwa)
e. Sanghyang Widi Wasa (dalam lontar Purwabhumi Kemulan)
f. Dhata: yang memegang atau menampilkan segala sesuatu
g. Abjayoni: yang lahir dari bunga teratai
h. Srsta: yang menciptakan
i. Kamalasana: yang duduk diatas bunga teratai
j. Srsta: yang menciptakan
k. Prajapati: raja dari semua makhluk/masyarakat
l. Vedha: ia yang menciptakan
m. Vidhata: yang menjadikan segala sesuatu
n. Visvart: ia yang menciptakan dunia
o. Vidhi: yang menciptakan atau yang menentukan atau yang mengadili.[6]
2.3.2. Penyebutan Nama Allah dari Agama Islam
Pada zaman pra-Islam, zaman jahilliyah, ALLAH adalah nama DEWA bangsa Arab yang mengairi bumi.ini tidak bermaksud mengatakan bahwa nama Allah Islam diambil dari Dewa Air masa jahilliah, tetapi ia hanya menggambarkan bahwa pengertian Allah itu bagi orang Islam ternyata berbeda dengan penggunaannya. Dan untuk menunjukkan bahwa nama itu tidak berasal dari nama panggilan berhala masa jahilliah, secara implisit, ia mengemukakan tentang kelompok hanif yang jauh sebelumnya sudah memanggil ‘Allah’ monotheisme Abraham yang adalaah ‘El’. Sebagai bukti yang menunjukkan hal ini kita dapat melihat konteks kutipan itu yang lebih lengkap sebagai berikut:
Nama “Allah” itu sendiri sering dinamakan isma al-jalalah atau ism al-jam, yaitu nama yang mencakup atau mewadahi semua nama Tuhan yang lain. Karena itu pengertian kata: “Allah” mengacu pada Tuhan dalam keabsolutannya, suatu dzat Maha Akbar dan Gaib, yang hakekatnya kualitasnya tidak mungkin bisa dideskripsikan dan ditangkap oleh nalar manusia. Kata “Allah” sendiri sudah dikenal jauh sebelum Islam dating di Arab. Namun “Allah” dalam pengertian orang-orang pra-Islam itu berbeda dengan “Allah” dakam Islam. Menurut Winnert, seperti dikutip oleh al-Faruqi dalam The Cultural Atlas of Islam, Allah bagi orang-orang Arab pra-Islam dikenal sebagai dewa yang mengairi bumi sehingga menyuburkan pertanian dan tumbuh-tumbuhan serta memberi minum ternak. Islam dating dengan mengubah konsep Allah yang selama itu diyakini oleh orang Arab. Allah dalam Islam dipahami sebagai Tuhan yang Maha Esa, tempat berlindung bagi segala yang ada. Maka ia pun meyakini Tuhan sebagai Pencipta langit dan bumi serta segala yang ada ini.[7] Pandangan terhadap Tuhan dalam Islam berbeda dengan kepercayaan pada agama lain. Islam menegaskan bahwa Tuhan itu Esa, Tuhan itu tidak beranak dan tidak pula di peranakkan, Tuhan tidak bergantung pada siapapun karena Tuhan Maha Kuasa atas segala sesuatu dan tidak satupun yang setara denganNya. [8]
Dari kutipan lengkap ini menjadi jelaslah bahwa bukan maksud untuk menyebutkan bahwa nama Allah asalnya adalah nama Dewa Masa Jahiliyyah, tetapi ia hanya menunjukkan bahwa nama Allah tu dipakai dengan pengertian berbeda pada masa pra-Islam dan Islam mengubah sesuai dengan pengertian agama hanif yang menjurus kepada kepercayaan monotheisme Ibrahim yang sudah ada sebelum masa jahiliyyah di mana penggunaan nama itu telah merosot, bukan lagi untuk menyebut nama Allah monotheisme Abraham melainkan untuk menyebut berhala-berhala kafir yang pada masa pra-Islam mempengaruhi bangsa Arab. Kelihatannya jalur kepercayaan monotheisme Abraham yang dipercayai oleh kaum hanif inilah yang mempengaruhi ajaran Islam, karena itulah pengertian ‘Allah’ dalam agama Islam merupakan pemulihan kembali (restorasi) pengertian Allah yang telah merosot semasa jahiliyyah. [9]
Tuhan memiliki banyak kata yang merujukNya dalam AlQur’an. Kata “Allah” saja dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 2697 kali. Belum lagi kata Wahid, Ahad, Ar-Rabb, Al llah atau kalimat yang menafikkan adanya sekutu bagiNya baik dalam perbuatan atau wewenang menetapkan hokum atau kewajaran beribadag kepada selainNya serta penegasan lain yang semuanya mengarah pada penjelasan tentang Tauhid. Menurut konsep ketuhanan dalam Islam dikenakan konsep Tauhid. Tauhid berasal dari Bahasa Arab yaitu wahhada yang berarti menunggalkan, mengesakan. Maka Tauhid dapat dikatakan sebagai sebuah konsep yang harus diyakini bahwa Tuhan itu Esa atau keyakinan akan keesaan Allah Swt. Konsep Tauhid telah dimulai sejak zaman Nabi Adam as., kemudian diperkuat pada zaman Nabi Ibrahim as.[10]
2.3.3. Penyebutan Nama Allah dalam Agama Buddha
Sebutan untk Tuhan Yang Maha Esa antara lainnya parama buddha, sanghyang adi budha, hyang tathagata, Yang Esa dan lainnya. Walaupun sebutannya berbeda-beda, namun hakekatnya Tuhan Esa itu adanya. Dalam Kitab Suci Udana telah menyebutkan tentang hakekat Tuhan Yang Maha Esa. Adi-Buddha adalah salah satu sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa dalam agama Buddha. Sebutan ini berasal dari tradisi Aisvarika dalam aliran Mahayana di Nepal, yang menyebar lewat Benggala, hingga dikenal dipulau Jawa.Aliran ini merupakan salah satu percabangan dari aliran Tantrayana yang tergolong Mahayana. Sebutan bagi Tuhan Yang Maha Esa dalam aliran ini adalah Adi-Buddha.[11] Dalam Agama Buddha, sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa antara lainnnya parama budha, sanghyang adi budha, hyang tathagata, Yang Esa dan lainnya. Walaupun sebutannya berbeda-beda namun hakekatnya Tuhan itu esa adanya.[12]
2.4.Penyebutan Nama Allah ditinjau dari Agama Suku
2.4.1. Penyebutan Nama Allah ditinjau dari Agama Suku Karo
Pemena adalah kepercayaan ataupun agamasuku masyarakat suku Karo. Pemena, dalam Bahasa Karo, memiliki arti pertama atau yang awal. Pemena memiliki makna kepercayaan yang pertama, yang dipegang dan dipahami oleh orang Karo. Suku Karo merupakan percampuran dari ras Proto Melayu dengan ras Negroid (negrito). Percampuran ini disebut umang. Hal ini terungkap dalam legenda Raja Aji Nembah yang menikah dengan putri umang. Umang tinggal dalam gua dan sampai sekarang masih dapat dilihat bekas-bekas kehidupan umang di beberapa tempat. Pada abad pertama setelah masehi, terjadi migrasi orang India Selatan ke Indonesia termasuk ke Sumatra. Mereka beragama Hindu. Mereka memperkenalkan aksara Sansekerta, Pallawa, dan ajaran dalam agama Hindu. Pada abad kelima, terjadi pula gelombang migrasi india yang memperkenalkan agama Buddha dan tulisan Nagari. Tulisan Nagari akan menjadi cikal aksara Batak, Melayu, dan Jawa kuno.[13]
Orang-orang dari India Selatan yang datang ke Tanah Karo memperkenalkan ajaran Pemena. Pemena berarti pertama, yang artinya kepercayaan awal orang Karo. Mereka juga mengajarkan beberapa aksara, yang kemudian menjadi aksara Karo. Akhirnya, orang-orang Karo mulai mengenal agama ini dan menganutnya. Masyarakat Karo percaya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini, baik yang dapat dilihat maupun yang tak dapat dilihat, adalah merupakan ciptaan Dibata. Ada tiga pemahaman dibata menurut orang Karo, yakni:
· Dibata Datas. Dibata Datas disebut juga Guru Batara, yang memiliki kekuasaan dunia atas (angkasa).
· Dibata Tengah. Dibata Tengah disebut juga Tuhan Padukah ni Aji, Dibata inilah yang menguasai dan memerintah di bagian dunia kita ini.
· Dibata Teruh. Dibata Teruh juga disebut Tuhan Banua Koling. Dibata inilah yang memerintah di bumi bagian bawah bumi.[14]
Selain itu, ada dua unsur kekuatan yang diyakini, yaitu sinar mataniari (sinar matahari) dan si Beru Dayang. Sinar Mataniari adalah simbol cahaya dan penerangan. Ia berada saat matahari terbit dan matahari terbenam. Dia mengikuti perjalanan matahari dan menjadi penghubung antara ketiga Dibata. Siberu dayang adalah seorang perempuan yang tinggal di bulan. Si beru dayang sering kelihatan dalam pelangi. Ia bertugas membuat dunia tengah tetap kuat dan tidak digoncangkan angin topan.[15]
III. Analisa
Allah yang Esa menyatakan dirinya pada dunia. Allah yang nyata bagi manusia dan yang selalu ada diantara ciptaannya. Nama Allah adalah Tuhan sebagi pencipta bagi alam semesta dan disembah oleh seluruh orang yang beriman. Nama Allah yang banyak bukan menandakan Allah yang banyak melainkan untuk menandakan Allah yang tak terselami dan turut bekerja dengan caranya sendiri sehingga manusia menami Tuhan dengan pemaknaannya sendiri melalui penyertaan Tuhan atas dia. Gelar Allah bukan penyataan atas nama orang melainkan sebagai penujuk pribadi yang berkuasa atas segala ciptaan. Allah merupakan penguasa bahkan dari segala penguasa dunia.
IV. KESIMPULAN
Allah suatu hakikat yang mutlak. Nama Allah banyak dikarenakan pengalaman spiritual umat dan dengan Allah itu sendiri yang menyatakan cara kerja serta penyertaannya yang luar biasa atas manusia. Dalam teologi Kristen, nama Allah telah selalu memiliki arti penting dan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar label atau penanda. Dalam Kekristenan, nama Allah tidak dipandang sebagai suatu temuan manusia, tetapi memiliki asal usul ilahi dan didasarkan pada wahyu ilahi. Yohanes 12:27 menyajikan pengorbanan Yesus sebagai Anak Domba Allah, dan keselamatan yang kemudian disalurkan melalui-Nya sebagai pemuliaan nama Allah, dengan suara dari Surga yang mengkonfirmasikan seruan Yesus ("Bapa, dimuliakanlah nama-Mu!") dengan perkataan: "Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!" yang mana mengacu pada Pembaptisan dan Penyaliban Yesus.
V. DAFTAR PUSTAKA
Bangun, Roberto, Mengenal orang Karo, Jakarta: Yayasan Pendidikan Bangun, 1989
Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jakarta:Cipta Adi Pustaka, 1988
Giri, Putra, U.P.W. dan Upa, Medan: Fakultas Dharma Acarya, 1994
Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru 1, Jakarta: Gunung Mulia, 2015
Hadiwijono, Harun, Agama Hindu dan Buddha, Jakarta: Gunung Mulia, 2008
Herlianto, Siapakah yang bernama Allah itu?, Jakarta: BPK-GM, 2005
Hihombing, Lotnatigor, Teologi Sistematika, Jakarta:STT AMANAT AGUNG, 2016
Keene, Michael, Agama-agama Dunia, Jakarta: Gunung Mulia, 2008
Mawene,Marthinus Theodorus, Perjanjian Lama & Teologi Kontekstual, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017
Tambun P., Adat-Istiadat Karo Jakarta: Balai Pustaka, 1952
Tarigan, Henry Guntur & Jago Tarigan, Bahasa Karo , (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1979
Umar, Mardan & Feiby Ismail, Buku Ajar Pendidikan Agama Islam, Jawa Tengah: CV. Pena Persada, 2020
Van, Niftrik, G. C. & Boland, B. J., Dogmatika Masa Kini, Jakarta: Gunung Mulia, 2001
[1] Marthinus Theodorus Mawene, Perjanjian Lama & Teologi Kontekstual, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017), 26-30
[2] Niftrik, G. C. van & Boland, B. J., Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: Gunung Mulia, 2001), 76
[3] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 1, ( Jakarta: Gunung Mulia, 2015), 61-63
[4] Lotnatigor Hihombing, Teologi Sistematika, ( Jakarta:STT AMANAT AGUNG, 2016), 46-50
[5] Michael Keene, Agama-agama Dunia, ( Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 53
[6] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 53
[7] Herlianto, Siapakah yang bernama Allah itu?, (Jakarta: BPK-GM, 2005), 68-69.
[8] Mardan Umar& Feiby Ismail, Buku Ajar Pendidikan Agama Islam, (Jawa Tengah: CV. Pena Persada, 2020), 38-39.
[9] Herlianto, Siapakah yang bernama Allah itu?, (Jakarta: BPK-GM, 2005), 68-70
[10] Mardan Umar& Feiby Ismail, Buku Ajar Pendidikan Agama Islam, (Jawa Tengah: CV. Pena Persada, 2020), 38-39.
[11] Ensiklopedi Nasional Indonesia, (Jakarta:Cipta Adi Pustaka, 1988), 34
[12] Putra, U.P.W. Giri dan Upa, (Medan: Fakultas Dharma Acarya, 1994), 86
[13] Roberto Bangun, Mengenal orang Karo, (Jakarta: Yayasan Pendidikan Bangun, 1989), 64
[14] Henry Guntur Tarigan & Jago Tarigan, Bahasa Karo , (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1979), 97-99
[15] P. Tambun, Adat-Istiadat Karo (Jakarta: Balai Pustaka, 1952), 37
Tidak ada komentar:
Posting Komentar