Jumat, 16 April 2021

Menjelaskan Arti dan Makna Hari Tuhan dan Eskhatologi PL Diperhadapkan dengan Tinjauan Ilmu Pengetahuan

 


Menjelaskan Arti dan Makna Hari Tuhan dan Eskhatologi PL Diperhadapkan dengan Tinjauan Ilmu Pengetahuan (Science, Sistematika, Ilmu Agama-agama, Agama Suku, Kaum Ateis, Ditengah-tengah Krisis Kehidupan Masakini)

I.                   Latar Belakang Masalah

Berbicara mengenai kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali (eskatologi), adalah merupakan salah satu dasar dari iman Kristen, sehingga pembahasan ini perlu untuk diketahui, diajarkan dan diimani oleh setiap umat Tuhan. Namun karena banyaknya pendapat dan tafsiran mengenai hal kedatangan Tuhan Yesus kedua kali, maka dibutuhkan pembelajaran yang benar dan tepat sesuai dengan kebenaran Firman Allah. Kekurangpahaman mengenai kedatangan Tuhan Yesus kedua kali bisa menyebabkan penafsiran yang menyimpang bahkan bertolak belakang dengan Firman Allah itu sendiri. Tidak sedikit kesalahan dalam penafsiran tentang kedatangan Tuhan yang kedua kali, sebaliknya justru mendatangkan perasaan takut, gelisah, bingung dan penyesatan. Contoh pada tahun 2012, telah berkembang pengajaran yang mengajarkan bahwa pada tanggal 12 Desember 2012 (12-12-12) Tuhan akan datang kedua kali. Pada tahun itu kita semua mengetahui akan hal itu, bahkan sampai di filmkan di bioskop dengan judul “Kiamat 2012”. Namun kenyataanya? Sampai sekarangpun Tuhan Yesus belum datang. Akibatnya adalah umat Tuhan menjadi bingung, banyak umat Tuhan menjadi gelisah, bahkan ada yang sampai disesatkan, dan lain-lain. Artinya bahwa sangat penting sekali untuk kita mengetahui lebih dalam mempelajari eskatologi ini. Untuk memberikan pemahaman yang baik dan benar dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali.

 

 

 

II.                Pembahasan

2.1. Arti dan Makna Hari Tuhan

Ungukapan ini termasuk bagian dari eskatologi Alkitab. Ada beberapa padanannya seperti ‘hari itu’, ‘pada hari itu’. Bagi rakyat biasa itu berarti adalah hari saatnya YHWH akan campur tangan untuk menempatkan Israel menjadi kepala atau pemimpin bangsa-bangsa, tak menjadi soal apakah Israel setia kepada-Nya atau tidak. Amos menerangkan bahwa Hari itu berarti penghakiman bagi Israel. Begitu juga Yes. 2:12 dab; Yeh. 13:5; Yl. 1:15, 11; Zef. 1:7, 14; Za. 14:1.[1] Nabi lain, yang menyadari baik dosa-dosa bangsa lain maupun dosa Israel, menyatakan bahwa Hari itu akan menimpa bangsa-bangsa satu demi satu, sebagai hukuman karena kekejaman mereka. Jadi, Hari Tuhan ialah saatnya YHWH secara aktif bertindak menghukum dosa yang sudah mencapai puncaknya. Hukuman ini bisa saja datang melalui penyerbuan, atau melalui bencana alam, seperti serangan belalang. Pada Hari itu orang yang bertobat dan percaya akan diselamatkan, tetapi orang yang tetap memusuhi Tuhan, biar Yahudi ataupun bukan, akan dihukum (Yl. 2:28-32).[2]

Dalam PB Hari Tuhan ialah kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Dan ungkapan ‘Hari Tuhan Yesus Kristus’ atau yang sama dengan itu terdapat dalam 1 Kor. 1:8; 5:5; 2 Tes. 2:2. Hari itu tak di duga-duga  (1 Tes. 5:2; 2 Ptr. 3:10), tapi harus lebih dulu terjadi tanda-tanda tertentu, dan ini harus dikenal oleh orang Kristen. Dampaknya terhadap alam semesta akan menyertai Hari itu (2 Ptr. 3:12).[3]

Sebagai akibat dari keadaan rohani Yehuda, pada umumnya kitab Zefanya berisi pengumuman tentang datangnya hukuman Allah, yang dirujuk sebagai Hari YHWH atau Hari Tuhan. Ada sembilan belas rujukan tentang istilah itu dalam kitab ini. Pengertian yang terbaik dari Hari Tuhan adalah saat dimana Allah menjatuhkn hukuman langsung kepada dunia, walaupun hal itu mungkin juga menjadi saat pencurahan berkat yang tidak biasa seperti halnya dalam masa seribu tahun. Beban utama dari kitab suci mengenai hari Tuhan menunjuk kepada Hukuman akhir yang berkaitan dengan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Kurun waktu yang langsung dihadapi oleh Yehuda ialah masa penawanan di Babel, yang sesuai dengan keadaan itu, merupakan Hari Tuhan.[4] Hanya sesudah Hukuman dan pemurnian barulah harapan yang menggembirakan itu akan jadi kenyataan. Jadi, Hari Tuhan secara luas umumkan oleh nabi-nabi untuk menyampaikan hukuman Allah atas Israel dan Yehuda yang sudah semakin mendekat.

2.2. Arti dan Makna Eskhatologi Menurut Alkitab

2.2.1.      Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu. Tuhan adalah Raja, raja yang besar mengatasi segala allah (Mzm 93:1; 95:3) adalah konsep dasar seluruh agama perjanjian lama (keluaran 15:18; Yes 43:15). Tetapi pemerintahan Allah ditentang dan dilawan. Iblis mengajak manusia untuk memberontak terhadap Allah (kej 3), bangsa-bangsa memuja berhala dan melakukan kejahatan (2 Raja 17:29) dan Israel sendiri mengalami kemunduran rohani dan mereka  dikalahkan oleh musuh-musuhnya.

Perkataan atau istilah Eskatologi tidak ada disebutkan dan ditemukan dalam dalam dunia Perjanjian Lama. Tetapi hakekat tentang eskatologi memang sudah ada, yang dikenal dengan istilah Hari Tuhan ( יהוה יום ). Istilah יום diartikan dengan waktu yang sangat lama sekali, suatu musim tertentu dimana peristiwa luar biasa terjadi, seperti kemakmuran, kejayaan, dan bahkan suatu peristiwa yang merugikan yang mendatangkan bencana.Jadi dapat dikatakan bahwa Hari Tuhan bisa merupakan suatu hukuman dan rahmat/kesenangan.[5]  Zaman Perjanjian Lama kepercayaan yang berkembang dan populer bagi Israel adalah tentang datangnya suatu hari ketika Allah secara dramatis campur tangan melepaskan umat-Nya dan berbagai ketakutan dan penindasan. Biasanya untuk memperingati peristiwa tersebut diadakan perayaan tahunan dengan mengadakan upacara korban, dengan harapan akan menjadi kemakmuran dan kemenangan Israel atas musuh. Dalam pertengahan abad ke-8 sM menyerukan bahwa kemakmuran yang diperoleh Israel adalah dengan pemerasan dan pelaksanaan agama palsu, dan ketikan hari tiba maka akan nyata dan itulah hari penghakiman (bnd. Am. 5:18-27).

Menurut A. Lamorte dan G. F. Hawthorne ”Prophecy” dalam dictionary of teology bahwa nubuat dalam Perjanjian Lama dibagi dalam dibagi  tiga kategori penting. Pertama, nubuat tentang pembuangan bangsa Israel sebagai hukuman Allah terhadap dosa bangsa pilihan itu, namun Allah berjanji untuk memulihkan atau memulangkan bangsa tersebut setelah selesai periode pembuangan. Kedua, nubuat mesianik meliputi kedatangan seorang penebus Israel dan dunia (Yes 52:13-53:12; Mi 5:1-2). Ketiga, Nubuat eskatologis, yakni menunjuk pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di akhir zaman ketika Mesias datang kembali untuk mendirikan Kerajaan allah dibumi.

Selanjutnya, nubuat dalam Perjanjian Lama dapat dibagi yaitu pertama, yang sudah di genapi meliputi pembuangan Israel ke Asyur 722 SM dan ke Babel 586 SM serta pemulangan kembali bangsa Israel ke tanah perjanjian. kedua, nubuat dalam proses penggenapan  yakni menyangkut restorasi negara israel modern menurut para nabi (9Yes 27:12-13; Yer 31:31; Yeh 37:21). Ketiga nubuat yang belum digenapi yaitu pemulihan secara total tanah palestina bagi bangsa Israel (Yes 27:12-13; Yer 31:1-5; Yeh 37:11-14, penghancuran musuh-musuh Israel, (Yes 17:1-3, Yer 30:11), pertobatan kolektif bangsa Israel Yeh 37:6,10).

Perebutan Yerusalem (586 sM) dan pembuangan Israel Utara dipandang sebagai penggenapan nubuat Amos. Walau demikian, dibalik penghakiman yang diterima suatu hari, yakni pemulihan Israel dan pemerintahan YHWH akan dipulihkan/ditegakkan atas seluruh bumi (Yes. 40)[6].  Soedarmo[7] mengatakan יהוה יום  berisikan beberapa nubuat, yakni:

(1)   Hari Tuhan yang mendatangkan penghukuman.

(2)   Bangsa Israel bertobat dan Tuhan akan mengembalikan dari pembuangan.

(3)   Yerusalem akan dipulihkan dan Bait Allah akan dibangun kembali.

(4)   Sang Mesias akan datang dari keturuan Daud dan akan memegang pemerintahan yang kuat.

(5)   Akhir zaman akan datang kemudian.

Sama seperti Amos, Yeremia (650 sM) menubuatkan bahwa kedatangan Hari Tuhan itu ditandai dengan masa-masa kehancuran Yehuda/Yerusalem, yakni: masa pemerintahan Raja Yosia (621 sM), masa pemerintahan Raja Yoyakim (608-597 sM dan 598 sM), masa pemerintahan Raja Zedekia (597 sM-kematiannya). Walaupun Hari Tuhan datang sebabai hukuman, namun Yeremia tetap yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkan Israel. Ia tetap memberikan semangat bahwa akan ada keselamatan yang sesuai dengan recana Allah. Pengharapan itu berdasarkan pada kebaikan, kesetiaan dan keadilan Allah. Bukan rencana Allah namun rencana Allah akan membawa dalam terang. Nubuat-nubuat yang disampaikan Yeremia mengandung empat komponen, yaitu:

(a). Dasar dari harapan adalah keyakinan atas kesetiaan dari kasih Allah (Yer. 29:5-9, 11).

(b). Keselamatan eskatologis itu berlaku bagi para buangan; jadi sisa bangsa Yehuda dipelihara Allah (Yer. 24:5-7, bnd. Yer. 3:11-13),

(c). Kota suci yang hancur akan dibangun kembali (Yer. 33:4-9),

(d). Datangnya keselamatan dari Tunas Daud (Yer. 23:5ff; 30:9, 21; 33:14-18),

(e). Janji perjanjian baru yang akan diikat YHWH dengan bangsa Israel (Yer. 31:31-34; 32:37-41).[8]

Sehubungan dengan akan adanya harapan di dalam tunas Daud, Yeremia mengkategorikan sebagai berikut:

(a). Ia akan memerintah sebagai raja.

(b). Ia akan berlaku bijaksana; bahwa raja yang akan datang adalah raja yang takut akan Allah, yang berbeda dengan raja-raja masa itu (Yer. 10:21).

(c). Dia disebut sebagai keadilan yang memenuhi tugas sesuai dengan perintah ilahi.

(d) Ia akan melaksanakan teori dan praktik hukum serta keadilan di atas bumi.[9]

Para nabi menatap ke depan, kepada saatnya Allah Israel yang berulang-ulang memperdulikan umat-Nya dalam sejarah mereka. Akan mengindahkan mereka untuk menghukum orang fasik, melapaskan orang-orang benar dan untuk menyucikan bumi dari seluruh kejahatan. Hari Tuhan dengan ungkapan lain ”pada hari itu” mengartikan kepedulian Allah, dan lebih menekankan sifat kejadian itu daripada waktunya. Justru hari Tuhan berarti kepeduluan Allah yang sudah terjadi dalam sejarah (Amsal 5:18; Yoel 1:15) maupun kepedulian terakhir pada akhir zaman (yoel 3:14, 18; Zef 3:11, 16; Za 14:9). Pada hari yang terakhir Allah akan datang untuk mendirikan kerajaanNya. (Yesaya 2:2-4, Hosea 3:15).

Beberapa pribadi bersifat mesianis tampil dalam rangka pengharapan akan perjanjian lama seorang raja dari keturunan Daud (Yes 9:6-7), seorang hamba yang menderita (Yes 53), yang turun dari sorga (Dan 7:13-14) akan tetapi sering kali bahwa yang disangka datang itu adalah Allah sendiri untuk membebaskan umatNya (Yes 26:21; Mal 3:1-2).[10]

Menurut Mowinckel dalam buku Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama ia mengatakan Asal-usul gagasan adanya mesias dapat ditelusuri dengan gagasan raja yang Ilahi. Pengharapan mesias itu timbul karena pengalihan gambaran raja keturunan Daud yang ideal pada masa raja-raja masa yang akan mendatang. Para nabi makin jelas sslangsung. Didalam beberapa bagian Perjanjian Lama sering disebutkan bahwa dinasti Daud akan abadi, tanpa menyebut nama seorang putra Daud ( 2 Sam 7:12-17; Yer 33:17; Maz 88:4, 29; Maz 18:5).[11]

Pengharapan akan Mesias dalam perjanjian lama(khususnya deutro Yesaya) sangatlah besar bagi orang-orang buangan. Mereka-mereka berharap aka ada seorang yang diurapi untuk mengangkat nasib mereka dari pembuangan.Kekristenan menghubungkan eskatologi dengan Yesus dalam Parousia di mana Yesus datang dengan kuasa penghakimanNya.Hari itu dihubungkan dengan Mesias (Yes 4:2; 9:6-7; 11:1-2) Ia merupakan pemimpin yang besar seperti daud ( I Tawarik 17:11-14; Maz 72) dan melalui dia hari Tuhan akan datang dengan membawa penghukuman bagi bangsa-bangsa serta pembebasan bagi Israel (Mal 3:1). Namun hal itu di dahului oleh tanda-tanda akhir zaman (Mat. 24). Dengan demikian orang-orang percaya menanti-menantikan peristiwa itu kapan datang.[12]

2.2.2.      Perjanjian Baru

Dalam Perjanjian Baru eskatologi merupakan gagasan yang kompleks sekitar Kerajaan Allah dalam pengajaran Yesus, kedatangan Anak Manusia, parousia, dan keadaan yang akan terjadi pada zaman yang datang.[13]

Penekanan yang bersifat mesianis nampak jelas dalam penuturan Lukas tentang kelahiran Yesus, pada saat malaikat memberitahukan tentang Yesus bahwa Ia akan disebut Anak Allah Yang mahatinggi, yang akan menduduki takhta Daud dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk.1:32-33). Dalam nyanyian Zakaria Mesias di sebut sebagai tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu (Luk. 1:69). Untuk memperlihatkan hubungan Mesias dengan Kerajaan Allah, yang dimaksud Mesias adalah Anak Allah yang menyangkut masa depan. Hal ini lebih jelas kelihatan dalam perbandingan matius 26:28 dengan Markus 9:1. Matius mengungkapkan: Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya, sedangkan Markus menyatakan: Kerajaan Allah datang dengan segera. Aspek ganda dari kerajaan itu, menerangkan mengapa ucapan-ucapan tentang Anak Manusia menyangkut aspek masa kini dan menyangkut masa depan.[14]

Alkitab Perjanjian Baru menekankan bahwa Eskatologi adalah kerajaan Allah yang sudah dekat dan telah datang di tengah-tengah dunia melalui kehadiran Yesus. Di lain hal juga Perjanjian Baru memenyajikan eskatologi sebagai hari Tuhan(Parousia: kedatangan Yesus kali yang kedua) dengan demikian aka nada tanda-tanda yang mendahului peristiwa itu. Paulus dalam suratnya kerap kali menulis tentang akhir zaman dngan sebutan hari Tuhan, yang terus dipahami bahwa Allah yang memerintah.

Paulus menerima pandangan tentang kedatangan Kristus kedua kali sebagai peristiwa yang sudah dekat yang akan terjadi melalui beberapa peristiwa yang mendahului kedatangan Kristus. Dalam surat kiriman 1 Tes. 4:13 dst, tanda-tanda yang disebutkan menyertai kedatangan Kristus yang kedua kali dan tanda-tanda yang menyertai mempunyai bentuk apokaliptis yang jelas: suara yang keras, seruan penghulu malaikat, bunyi sangkakala dan awan-awan. Dalam Roma 11:25 dst, ia memandang ke depan pada apa yang disebut masuknya jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain yang merupakan batu loncatan yang menentukan keselamatan Israel.[15]

2.3. Tinjauan Ilmu Pengetahuan (Science, Sistematika, Ilmu Agama-agama, Agama Suku, Kaum Ateis, Ditengah-tengah Krisis Kehidupan Masakini)

2.3.1.      Science

Doktrin tentang kedatangan Kristus kedua kali dalam dogmatika dibicarakan dalam bagian Eskatologi (akhir zaman). Studi tentang akhir zaman meliputi pengajaran Alkitabiah mengenai keberadaan sesudah kematian tetapi sebelum dibangkitkan, kebangkitan, pengakatan (pelantikan) gereja, kedatangan Kristus kedua kali, dan kerajaan seribu tahun. Tiga pendekatan dasar yang penting dalam mempelajari eskatologi yaitu Premillianialisme, Postmillianialisme dan Amillinialisme perlu dibahas secara sistematis supaya kita dapat melihat perbedaan pendekatan masing-masing pandangan secara keseluruhan. Kristus mengajarkan bahwa kedatangan-Nya kembali akan merupakan peristiwa yang harafiah dan fisikal; Ia akan kembali dengan cara yang sama sebagaimana para murid-Nya melihat Ia pergi (Kis 1:11).[16] Ia juga mengajarkan bahwa kembali-Nya akan merupakan penghiburan bagi pengikut-Nya karena Ia akan kembali untuk membawa mereka untuk bersama-Nya dalam rumah Bapa-Nya (Yoh 14:1-3). Namun demikian, waktu kembali-Nya tidak akan diketahui, karena itu orang harus berjaga-jaga untuk kedatangan-Nya (Mat 24:36, 42, 25:1-13). Selama ketidakhadiran-Nya, umat-Nya harus menjadi pelayan yang setia (Mat. 24: 45-51), mereka yang dengan setia melayani Dia akan menerima penghargaan dan upah pada waktu Ia kembali (Mat. 25:14-30).[17]

2.3.2.      Sistematika

Ada sebagian orang yang mengaitkan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali dengan pengertian milenium, baik sebelum maupun sesudah kedatangan itu. Kendatipun pengertian ini bukanlah bagian integral dari teologi Reformed, bagaimanapun juga pandangan itu perlu kita bicarakan disini, sebab di banyak kalangan pandangan seperti itu sudah populer. Teologi Refomed tidak bisa mengabaikan pandangan yang sudah sedemikian meluas pada zaman sekarang ini, tetapi harus memberikan definisi yang jelas dari pandangan yang dipegangnya dalam kaitan dengan milenium ini. Sebagian dari mereka yang mengharapkan adanya milenium di masa datang berpendapat bahwa Tuhan akan datang sebelum milenium dan karena itu mereka disebut sebagai orang-orang Premilenialis. Sebaliknya, mereka yang beranggapan bahw kedatangan yang kedua diikuti milenium disebut sebagai orang-orang Postmilenialis. Ada juga sejumlah besar orang yang tidak percaya bahwa Alkitab mengatakan adanya pengharapan akan milenium seperti itu, dan sudah umum jika mereka ini disebut sebagai orang-orang Amilenialis. Seperti yang dikandung oleh namanya, pandangan amilenial ini sebenarnya negatif. Mereka beranggapan bahwa sesungguhnya tidak ada dasar Alkitab yang mengharapkan adanya milenium dan mereka percaya bahwa jaman kerajaan Allah dalam bentuk konsumasi dan kekal. Kita harus ingat bahwa kerajaan Tuhan Yesus disebut sebagai kerajaan yang kekal dan bukan sementara, Yes 9:7; dan Dan 7:14; Luk 1:33; Ibr 1:8; 12:28; 2Ptr 1:11; Why 11:15; dan bahwa masuk kedalam kerajaan-Nya di masa yang akan datang sama artinya dengan masuk kedalam kekekalan, Mat 7:21, 22, masuk ke dalam hidup, Mat 18:8,9 dan diselamatkan, Mrk 10:25, 26. Sebagian golongan Premilenial menyebut Amilenialisme sebagai pandangan baru dan sebagai sesuatu yang paling modern, tetapi sebenarnya pendapat seperti ini tidak sesuai dengan catatan sejarah. Istilahnya memang baru, tetapi pandangan yang dipegang sama tuanya dengan kekeristenan itu sendiri.[18]

2.3.3.      Ilmu Agama-agama

Ø  Agama Kristen

Eskatologi menurut ajaran Kristen terkait dengan pemenuhan janji Allah yaitu keselamatan yang sempurna di dalam Kristus. Harun hadiwijono menyatakan bahwa: “Menurut Alkitab, keselamatan pada zaman akhir ini memiliki dua segi, yaitu bahwa pada zaman akhir ini telah ada keselamatan, akan tetapi di lain pihak dikatakan juga bahwa keselamatan masih di depan kita atau belum ada. Maksudnya adalah keselamatan yang telah diberikan oleh Allah kepada orang beriman, baru “untuk sementara waktu”, belum sempurna. Apa yang telah ada sekarang ini belum sempurna. Akan tetapi apa yang telah ada itu menjadi jaminan atau garansi, bahwa semua yang sempurna akan dianugerahkan juga”.[19] Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hidup orang beriman bukan diarahkan kepada hidup di dunia ini, melainkan kepada apa yang akan datang. Pengharapan orang beriman kepada Kristus harus diarahkan ke masa depan yakni akhir zaman, zaman penuaian untuk memisahkan yang baik dan yang jahat (Mat. 13:39-40,49; 24:3; 28:20). Dalam Ef. 1:10, zaman itu disebut zaman kegenapan waktu untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus sebagai Kepala, baik yang di sorga maupun yang di bumi. Oleh karena itu, dalam 1 dan 2 Tesalonika serta 1 Korintus 15, kita dinasihatkan oleh rasul Paulus agar pengharapan kita orang beriman diarahkan kepada akhir zaman.[20]

Ø  Agama Islam

Agama Islam mengajarkan tentang sorga, yang akan mengakhiri perjalanan dunia ini sebagai berikut: “Orang-orang mati sekarang ini masih berada di dalam alam barzakh sampai pada akhir zaman. Sesudah diadakan penghakiman pada akhir zaman, para manusia dengan melalui syirat al mustaqim menuju ke sorga. Hanya orang yang berimanlah yang akan dapat berhasil melalui syirat atau jembatan itu, sedangkan lainnya akan terjatuh ke dalam jurang neraka yang ada di bawah syirat itu. Dunia yang kita diami sekarang ini akan berakhir, para orang beriman dipindahkan ke sorga.[21] Alam barzakh adalah alam yang berada di antara alam dunia dan alam akhirat. Disini para jiwa manusia belum menerima balasan amalnya. Mereka baru merasakan tanda-tanda dan gejala-gejala penagihan atau pemberian jasa dari apa yang dilakukan ketika hidupnya. Sorga dan neraka baru ditentukan kelak pada akhir zaman”.[22]

2.3.4.      Agama Suku

Agama Suku Murba di Indonesia mengajarkan bahwa di luar dunia manusia ini ada dunia orang mati, yaitu tempat para orang yang telah mati. Tempat ini ada yang digambarkannya sebagai tempat nenek moyangnya, ada yang digambarkan sebagai tempat para dewa, yaitu sorga. Orang yang mati kembali kepada asalnya, tempat nenek moyang itu atau sorga.[23]

2.3.5.      Kaum Ateis

Pemikiran teisme tradisional didominasi oleh teologi dan persepsi-persepsi yang ditafsirkan oleh kitab suci. Tuhan dipikirkan dan disimpulkan sebagai sesuatu yang aktual (actus purus), Tuhan teraktualisasi. Tuhan haruslah aktual atau nyata walaupun dalam caranya sendiri. Tuhan dalam tradisi tersebut tidak bisa tidak harus melebihi manusia, ia lebih nyata, lebih kuat, lebih kuasa. Masalahnya adalah, logika positif selalu menjadi dasar untuk memandang Tuhan. Pandangan ini membawa problematik bahwa ternyata Tuhan harus ditunjuk, dimanakah Tuhan berlokasi? Apakah Tuhan marah? Apakah Tuhan berkehendak?[24]

Pandangan ontoteologis telah mulai ditentang sejak Heidegger, bahwa tidak mungkin mencampur adukan antara “Ada” dengan “pengada”. Sehingga ontoteologi menganggap atau menyamakan “Ada” dengan Tuhan dan Tuhan adalah “Ada”.[25] Pandangan ontoteologis merupakan gabungan antara ontologi yang mempertanyakan “apakah yang Ada?” dengan teologi yang mempertanyakan “apakah pengada tertinggi?” Pertanyaan ontoteologi merupakan dasar universal pengada-pengada. Dalam pemikiran kontemporer, pemahaman tersebut kemudian dibongkar. Dikeluarkan dari kerangka pemikiran dan persepsi kitab suci, Tuhan bukan lagi menjadi otoritas kitab suci, Tuhan bukan lagi milik agama dan manusia yang memeluk agama. Tuhan tidak tidak lagi dikaitkan dengan urusan Ada dan pengada, Tuhan bukan juga bagian dari wilayah metafisika dan ontoteologi. Tuhan dalam tradisi kontemporer menjadi wilayah yang luas baik bagi pemikiran teisme maupun ateisme.[26]

2.3.6.      Kehidupan Masakini

Dalam situasi mewabahnya pandemi  Covid-19 yang menelan ribuan korban jiwa itu, pada saat yang sama orang beriman tetap memiliki dasar pengharapan yang kuat dan teguh. Dalam paham alkitabiah dirumuskan bahwa dasar pengharapan orang beriman adalah Allah sendiri (Roma15:13). Kasih Allah (Roma 5:5), Rasul Paulus maksudkan bahwa orang yang menghadapi kesulitan, disadarkan bahwa ia tidak dapat percaya pada dirirnya sendiri. Kalau dalam kesadaran itu ia tidak menjadi putus asa melainkan tekun berpegang ada Tuhan dan janji-Nya, maka itulah pengharapan. Dan setelah menegaskan bahwa pengharapan tidak mengecewakan, Rasul Paulus menyebut “kasih Allah” yang dari satu pihak dinyatakan dalam Kristus (Roma6-11), dan dari lain pihak “dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus”; sebagai pembenaran (Roma 5:52; 5: 2). Maka jelaslah bahwa akhirnya Allah sendiri yang menjadi dasar pengharapan, dan Alkitab memberi kesaksian mengenai kasih Allah (bdk. Roma 16:26).[27]

Secara kongkrit yang menjadi obyek pengharapan adalah “keselamatan” (I Tesalonika 5:8; bdk.I Korintus 1; 10), “kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Roma 8:20), “kemuliaan Allah” (Roma 5:2), pembebasan tubuh kita” (Roma 8:23), kebenaran (Galtia 5:5), Tuhan Yesus Kristus (Filipi 3:20). Yesus Kristus yang telah bangkit itu sekaligus dasar dan obyek pengharapan, justru karena pengharapan berarti partisipasi pada dinamika karya keselamatan Allah. Keselamatan Allah dalam Kristus sudah masuk dalam realitas hidup manusia, tetapi masih akan diwahyukan dalam diri orang beriman sendiri pada akhir zaman. Karena keselamatan dalam Kristus bersifat eskatologis, artinya: karena bergerak maju menuju kepenuhan dalam pembangkitan orang-orang mati oleh Allah, maka juga pengharapan bersifat eskatologis: secara dinamis terarah kepada kegenapan zaman. [28]

 

 

 

III.             Analisa Penyeminar

Hari Tuhan dan Eskatologi dalam arti teologis adalah secara konkret berbicara mengenai pengharapan orang beriman akan kedatangan Allah. Orang beriman berharap kepada Tuhan (Mzm 31:25; lih 33:22; 38:16; 39:8; 42:6,12; 43:5; 130:7; 131:3). Berpuluh-puluh kali dikatakan bahwa Israel berharap kepada Tuhan. Tuhanlah “pengharapan Israel” (Yer 14:8, lih ay.22; 17:13). Bersama pemazmur, orang Israel yang saleh itu berdoa; “Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah” (Mzm 71:5). Dari kutipan tersebut tampak bahwa pengharapan itu sekaligus ungkapan iman yang kuat, sebagaimana juga tampak dalam kitab Yesaya ini: “Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab Tuhan Allah itu kekuatanku, Ia telah menjadi keselamatanku” (Yes 12:2). Selain unsur kepercayaan ada juga unsur eskatologis sebab pengharapan itu “harapan untuk hari depan: (Yer 31:13; bdk Hos 12:7). Allah bukan hanya tujuan harapan, tetapi juga sumbernya: “hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku” (Mzm 62:6; lih Yer 29:11). Pengharapan ini memberikan perdamaian dan kepastian: “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut” (Mzm 46:2-3). “orang benar merasa aman seperti singa muda” (Ams 28:1). Kepastian pengharapan ini lain daripada kepastian perencanaan: :Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya”(Ams 16:9). Kepastian yang mencirikan pengharapan itu selalu berarti kepercayaan: meletakkan nasib dalam tangan Tuhan. “Mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setiaNya” (Mzm 33:18; lih 40:4; Ams 14:26; 23:17-18). Dengan bertobat dan tinggal diam, kamu akan diselamatkan; dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (Yes 30:15). Termasuk hakikat pengharapan bahwa apa yang diharapkan itu belum dilihat. Oleh karena itu, harapan Yahudi yang sejati terungkap dalam pengakuan ini: “Aku hendak menantikan Tuhan yang menyembunyikan wajahNya terhadap kaum keturunan Yakub; aku hendak mengharapkan Dia (Yes 8:17).

Dasar pengharapan adalah kesetiaan Tuhan akan janji-janjiNya, yang terbukti dalam masa yang lampau (Mzm 105-107). Maka itu, sang nabi dapat berkata dengan mantap: “Aku ini akan menunggu-menunggu Tuhan, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku” (Mikha 7:7; lih Mzm 42:6). Pihak yang kepadanya janji itu diberi adalah bukan pertama-tama orang perorangan melainkan dalam rangka perjanjian: segenap umat, berhubung dengan nubuat kenabian; sisa yang suci, dan baru dalam amanat apokaliptik, orang individual yang setia. Sepadan dengan itu horizon horizon janji menjadi semakin luas, sampai akhirnya mencakup seluruh kosmos dan segala bangsa. Pengharapan menjadi jembatan antara Perjajian pertama dan kedua karena dari dirinya sendiri tidak membakukan cara penampakan Allah, tetapi tinggal terbuka bagi menifestasi yang baru dan mengejutkan mengenai kasihNya yang kudus.

IV.             Kesimpulan

Dari berbagai pandangan di atas tampaklah bahwa semua aliran mempercayai kedatangan kristus kedua kali pada akhir zaman nanti. Kedatangan ini akan disertai dengan bermacam peristiwa-peristiwa eskatologis, seperti: kebangkitan, pengangkatan, penghakiman, dan disusul dengan masuknya atau lebih tepat tibanya keadaan kesudahan yang bersifat kekal. Dengan demikian dari semuanya ini kita dapat melihat bahwa peristiwa “akhir zaman” sebagai “suatu masa” di penghujung zaman akhir, secara kronologis berada di bagian akhir dari masa Perjanjian Baru, yang juga merupakan jangka waktu sebelum dan sesudah kedatangan Kristus kedua kali pada saat mana sejarah alam semesta akan berakhir dan beralih pada keadaan kesudahan yang kekal. Tidak peduli pemahaman apa yang kita setuji namun yang penting adalah kita harus mempersiap diri untuk kedatangan Kristus yang kedua kalinya.

V.                Daftar Pustaka

Bruce, F. F, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2000

Wilson, William, Old Testament Word Studies; The International Standard Bible Encyclopaedia vol. II ,(Peny. James Orr),  Grand Rapids-Michigan: MWB. Eerdmans Publishing Co. Ltd.,  1980

Browning, W.R.F., Kamus Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2007

Soedarmo R., Ikthisar Dogmatika, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006

Siahaan, S.M. Pengharapan Mesias Dalam Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008

Bauckham, R. J., Hari Tuhan; Dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2003

Gutrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru 1, Jakarta; BPK. Gunung Mulia, 2001

Willmington H. L., Eskatologi, Malang: Gandum Mas, 1997

Bauckhman, Richard, Teologi Mesianis, Jakarta: BPk Gunung Mulia, 1993

Smith, David L., Handbook Contemporary Theology, Grand Rapids: Bridgepoint Books, 2000

Athyal, Saphir, Church in Asia Today: Challenges and Opportunities, Singapore: Asia Lausanne Committe For World Evangelization, 1996

John, Piper, Coronavirus And Christ (Kristus dan Virus Corona), Literatur Perkantas Jatim, 2020

Jacob Tom, Syalom, Salam, Selamat, Yogyakarta: Kanisius, 2007

Louis Berkhof, Teologi Sistematika Vol 6: Doktrin Akhir Jaman, Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1998

Paul Enns, The Moody Handbook Of Theology, Malang: Literatur SAAT, 2012

Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 2, Yogyakarta: Yayasan ANDI, 1995



[1]  F. F Bruce, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2000), 368

[2] F. F Bruce, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, 369

[3] F. F Bruce, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, 341

[4] F. F Bruce, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, 345

[5] William Wilson, Old Testament Word Studies; The International Standard Bible Encyclopaedia vol. II ,(Peny. James Orr),  (Grand Rapids-Michigan: MWB. Eerdmans Publishing Co. Ltd.,  1980),  977

[6] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, (Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2007), 132-133

[7] R. Soedarmo, Ikthisar Dogmatika, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 254

[8] S.M. Siahaan, Pengharapan Mesias Dalam Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 27-30

[9] S.M. Siahaan, Pengharapan Mesias Dalam Perjanjian Lama, 35

[10] R. J. Bauckham, Hari Tuhan; Dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini,(Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2003), 286

[11] S.M. Siahaan, Pengharapan Mesias Dalam Perjanjian Lama, 24

[12] S.M. Siahaan, Pengharapan Mesias Dalam Perjanjian Lama, 346

[13] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, 97

[14] Donald Gutrie, Teologi Perjanjian Baru 1, (Jakarta; BPK. Gunung Mulia, 2001),  33-34

[15] Donald Gutrie, Teologi Perjanjian Baru 1, 148-150

[16]  Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 2, (Yogyakarta : Yayasan ANDI, 1995),  263

[17] Paul Enns, The Moody Handbook Of Theology, (Malang : Literatur SAAT, 2012),  467

[18] Louis Berkhof, Teologi Sistematika Vol 6: Doktrin Akhir Jaman, (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1998), 93-94

[19] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, 472

[20] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, 475

[21] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, 473

[22] H. L. Willmington, Eskatologi, (Malang: Gandum Mas, 1997), 265-282

[23] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, 471

[24] Richard Bauckhman, Teologi Mesianis, (Jakarta: BPk Gunung Mulia, 1993), 73

[25] David L Smith, Handbook Contemporary Theology, (Grand Rapids: Bridgepoint Books, 2000), 135

[26] Saphir Athyal, Church in Asia Today: Challenges and Opportunities, (Singapore: Asia Lausanne Committe For World Evangelization, 1996), 17

[27] Piper John, Coronavirus And Christ (Kristus dan Virus Corona), (Literatur Perkantas Jatim, 2020), 203

[28] Jacob Tom, Syalom, Salam, Selamat, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), 65

Tidak ada komentar:

Posting Komentar