KEHIDUPAN
(arti dan makna kehidupan dalam kitab Pengkhotbah diperhadapkan dengan pemahaman dalam ilmu pengetahuan (science, sistematika, ilmu agama-agama, agama suku dan kaum ateis) di tengah-tengah krisis kehidupan manusia masakini)
I. Pendahuluan
Berbicara mengenai kehidupan tidak akan pernah ada habisnya. Kehidupan adalah bagian penting dalam hidup manusia, ia meliputi bagaimana konsep dan manusia menghayati bagaimana mereka hidup. Pergumulan tentang kehidupan selalu mempertanyakan apa arti dan tujuan hidup? Ini, mungkin, pertanyaan paling penting yang pernah diajukan. Sepanjang zaman, para filsuf menganggapnya sebagai pertanyaan paling mendasar. Ilmuwan, sejarawan, filsuf, penulis, psikolog, dan orang awam semuanya bergulat dengan pertanyaan di beberapa titik dalam kehidupan mereka. Lalu, bagaimana kita menemukan tujuan hidup? Demi mencapai makna ini maka banyak tokoh-tokoh, ahli-ahli, komunitas kehidupan masyarakat memberikan pandangan dan paham mereka tentang kehidupan. Masing-masing pandangan dan paham itu tentu saja berbeda-beda sesuai dengan bagaimana mereka menghayati hidup mereka.
Pertanyaan untuk apa dan bagaimana kita hidup menjadi pergumulan penting di dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Banyak orang yang memandang bahwa kehidupan itu akan baik jikalau di dalam kehidupan ini kita dapat menemukan dan memiliki apa yang kita inginkan, rasanya kita pasti akan sangat setuju apabila dikatakan bahwa dengan memiliki apa yang kita perlukan segala sesuatu berkecukupan, maka banyak orang akan merasa bahwa hidupnya Bahagia dan berarti. Karena itu tidaklah mengherankan apabila banyak orang di dunia ini memahami dan mecari kehidupannya dengan memiliki harta yang banyak, bahkan sampai melakukan segala sesuatu demi mencapai apa yang ia inginkan.
Di sisi lain ternyata banyak orang yang telah memiliki segalanya dalam ukurang dunia, memiliki harta dan kekayaan, segala sesuatunya berkecukupan, memiliki pangkat dan profesi yang mantap, namun tetap saja hidupnya tidak Bahagia. Lantas apakah yang salah? Dari sini kita dapat melihat bahwa ternyata kekayaan, popularitas dan kemewahan tidak menjadi jaminan atas kehidupan ini. Jika kita menggunakan istilah Pengkhotbah mengatakan bahwa “segala sesuatu sia-sia”. Harta dan kemewahan bukanlah tujuan hidup yang sebenarnya, semuanya itu hanya kesiasiaan belaka, lalu apakah tujuan hidup yang sebenarnya? Kita akan melihat arti dan makna hidup dalam perspektif kitab Pengkhotbah dan diperhadapkan dengan pandangan-pandangan lainnya.
II. Pembahasan
2.1.Sekilas tentang Kitab Pengkhotbah
Pengkhotbah adalah padanan untuk kata Ibrani Qohélét, yang artinya “seorang yang mengumpulkan”. Penulis kitab ini tidak diketahui, tetapi banyak yang berpendapat bahwa ia adalah seorang guru, pengkhotbah, atau filsuf. Penulis tidak menuturkan cerita, tetapi menyampaikan pemikirannya tentang makna hidup. Ia memakai ucapan-ucapan, amsal dan syair untuk mengungkapkan sudut pandangnya. Ungkapan kuncinya adalah “kesia-siaan belaka”. Ungkapan ini dipakai untuk memulai dan mengakhiri kitabnya (1:2, 12:8) dan diulangi di banyak pertanyaan mengenai hidup ini tidaklah mudah ditemukan.[1]
Kitab ini berbicara tentang upaya menemukan makna hidup. Penulis melihat dari sudut pandang manusia bahwa hidup ini sarat dengan kontradiksi dan misteri. Kerja keras adalah pemberian Allah (5:19), tetapi pekerjaan bisa menyusahkan dan sia-sia (2:17), sebab setelah mati, orang tidak mempunyai apapun yang dapat diperlihatkan sebagai bukti kerja kerasnya (5:13-15), dan orang lain yang akan menikmati kekayaan mereka (6:2). Ketika seorang miskin, tidak ada yang memberi perhatian kepadanya (9:16), tetapi menjadi orang kaya juga tidak menjamin kebahagiaan (2:4-11, 5:10-12). Hikmat lebih baik dari pada kebodohan, tetapi baik orang berhikmat maupun orang bodoh, semuanya akan mati (2:13-16, 3:20). Mempunyai pengetahuan yang banyak juga menysahkan (1:18). Di atas segalanya, hikmat manusia tidak dapat menolong siapa pun untuk mengerti jalan Allah (8:17) yang membuat segala sesuatu terjadi (3:11, 6:10, 7:13-14, 9:1). Manusia harus menghormati dan menaati Allah (5:7, 8:12-13, 12:13); Ia akan menghakimi perbauatn mereka (12:4, 3:17). Hal yang sama juga akan dialami oleh semua orang, baik mereka yang hidup benar maupun orang yang berdosa (9:2).
Dengan hidup yang penuh kontradiksi, di mana kah manusia dapat menemukan makna hidup? Di satu sisi bila dilihat kitab Pengkhotbah sepertinya tidak memiliki pengharapan dan tidak memberi jawaban berkaitan dengan makna hidup. Namun di sisi lain dalam kitab ini ada harapan dan jawaban dalam ajakan yang diulangi oleh penulis untuk menikmati hidup sebagai satu pemberian Allah (2:24-26). Penulis kitab ini menghadapi realita kehidupan dan melihat betapa sia-soanya hidup bagi manusia dengan pengertian yang terbatas. Namun, ia juga menyadari anugerah Allah dan menemukan sukacita di dalamnya. Ia tidak dapat memahami jalan Allah yang penuh dengan rahasia, tetapi ia tahu bahwa Allah mengatur masa depan. Sebab itu, ia berharap pada Allah dan mendorong orang lain untuk takut akan Allah dan memelihara hukum-Nya.[2]
2.2.Pandangan Kitab Pengkotbah Tentang Kehidupan
Pengkhorbah adalah satu kitab sastra hikmat yang terdapat di dalam Kitab PL. Pengkhotbah adalah orang yang beridiri di depan siding / jemaat untuk mengajar atau memberitahukan jalan-jalan Tuhan. Tujuan pengajaran adalah memahami arti dan makna kehidupan.
Manusia dalam segala zaman pasti berusahan untuk memahami makna dan peranannya baik secara pribadi maupun universal. Ditengah-tengah persoalan-persoalan kehidupan manusia senantiasa merenungkan maksud kehadiranNya baik secara Individu sebagai mahkluk ciptaan maupun sebagai umat Tuhan. Kitab Pengkhotbah lebih menekankan sumbernya adalah berdasarkan kepada pengamatan dan pengalaman pribadi tentang arti hidup. Sumber pengajaran Pengkhotbah adalahpengalamannya sendiri tentang kehidupan. Banyak hal yang Pengkhotbah lihat dalam kehidupan ini yang merupakan kesiasiaan belaka. Kitab Pengkhotbah banyak menggambarkan secara khusus berbicara tentang kehidupan manusia yang fana atau sementara. Hidup ini mengandung banyak pertanyaan yang memang tidak dapat dijawab sepenuhnya. Ada banyak hal yang memang memberikan sukacita, tetapi juga tidak sedikit yang membuat kita frustasi. Memang begitulah kenyataan hidup ini, menurut kitab Pengkhotbah dan semua itu tetap harus dusadari sebagai karunia Allah.[3]
Dalam memaknai kehidupan ini Pengkhotbah memberikan beberapa pandangan tentang kehidupan umat manusia.
1. Pengkotbah mengatakan bahawa segala sesuatu dalam hidup ini, kemewahan adalah sia-sia. Sia-sia dalam hal ini bukan berarti tidak perlu, tidak berguna dan harus diabaikan akan tetapi sesuatu yang tidak sempurna, tidak abadi, tidak kekal. Hidup adalah berkat yang harus disyukuri dan dijaga, namun perlu diingat bahwa hidup dan kekayaan tidak mampu menyempurkan hidup. Semuanya tidak berarti apa-apa (1:3-9). Hal ini dilihat pengkhotbah dari pengalaman hidupnya (1:12-3:9). Itu disebabkan karena manusia tidak bisa mengetahui maksud Allah (3:11), hanya Allah yang mengetahuinya, sedangkan manusia tidak tahu apa-apa (3:14) manusia hanya harus menerima kehidupannya dari tangan Allah. Pengkhotbah melihat banyak perlakuan yang kurang adil di dunia ini, dan tak pernah melihat bahwa Allah menghukum orang jahat. Karena itu penulis kecewa dan mengatakan bahwa manusia harus berdiam diri terhadap Allah dan harus taat kepada-Nya (4:17-5:6).[4] Manusia tidak dapat memilih kehidupan yang lain bagi dirinya, hanya kehidupan inilah yang diberikan oleh Allah kepadanya. Oleh karena itu yang bisa dilakukan oleh manusia ialah hanya menerima dan memahaminya.[5]
2. Kitab Pengkhotbah mengajarkan agar di dalam kehidupan ini manusia harus memiliki kemampuan memahami ketidaksempurnaan hidup, harta dan kekuasaan adalah jalan masuk ke dalam kehidupan yang sempurna. Pengkhotbah menyadari bahwa di luar kehidupan manusia, ada sesuatu kekuatan atau otoritas yang dahsyat, Yang Maha Tahu, Yang Maha Kuasa dan Maha Ada yaitu Sang Pencipta (6:12). Orang yang dekat dengan Tuhan maka ia akan mampu untuk mengungkapkan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia (1:2).
3. Kesia-siaan bukanlah sebuah sikap yang pesimis. Bukan berarti kita harus menjauhkan diri dan tidak peduli terhadap kehidupan ini akan tetapi justru sebaliknya kita harus aktif, kreatif dan super aktif menjaga kehidupan. Hanya orang-orang yang menghargai hal-hal kecil dapat menerima tanggung jawab yang lebih besar. Dalam hal ini kita diberikan pandangan untuk dapat mengelola harta dunia dengan baik maka kitapun akan dapat mengelola surgawi. Hal ini senada dengan apa yang pernah Tuhan Yesus katakan bahwa siapa yang setia dalam perkara kecil akan diberikan perkara yang besar.
4. Kitab Pengkhotbah juga mengajarkan bahwa di dalam kehidupan ini kita harus mampu mengelola dan menjaga kehidupan. Dengan mengarahkan hidup dan segala yang ada pada kita kepada Allah dan ingatlah kepada Penciptamu pada masa mudamu (Pasal 3:11, Pasal 12:1).
5. Di dalam kehidupan ini ketika kita hidup di dalam Tuhan maka segala sesuatu tidak akan ada yang sia-sia, perjalanan umat Allah menuju sorga atau hidup yang kekal. Paulus juga berkata bahwa di dalam Kristus segala jerih payah tidak ada yang sia-sia. (1 Korintus 15:58).[6]
2.3.Pandangan Agama-agama Tentang Kehidupan
2.3.1. Agama Hindu[7]
Pandangan agama Hindu mengenai tujuan hidup sangat berpengaruh di Indonesia. Tanda-tanda ini tampak jelas dalam perpustakaan Jawa Kuno. Demikian juga dalam moral cerita-cerita wayang. Dalam pandangan agama Hindu tentang tujuan hidup, di dalamnya terdapat beberapa tujuan yang hendak dicapai, dari tingkat bawah menuju ke tingkat yang lebih tinggi, yang bertalian dengan masa umur tertentu dan yang dalam setiap masa mau membentuk gaya hidup tertentu.
1. Tujuan hidup yang pertama adalah ‘kama’, yakni kenikmatan, kesenangan. Terutama kenikmatak kelamin, tetapi juga kenikmatan dalam emas dan permata, makan enak dan lain-lainnya.
2. Tujuan hidup yang kedua adalah ‘artha’, yakni usaha untuk mendapat harta benda dan kekuasaan, kehormatan di dalam masyarakat, pangkat setinggi mungkin, hubungan-hubungan dan kawan-kawan yang banyak.
3. Tujuan hidup yang ketiga adalah ‘dharma’, yakni kesesuaian dengan hukum, keselarasan, keberaturan, keseimbangan, pengekangan diri. Itulah tujuan hidup bagi orang-orang yang telah mendapat pengalaman hidup dan bagi yang sudah mencapai kedudukan tertentu di dalam masyarakat. Dalam pandangan agama Hindu sangat dititikberatkan agar memenuhi dharma, sehingga membawa upah sorga dan jika dilanggar, maka akan membawa hukuman, yaitu ke neraka.
4. Tujuan hidup yang tertinggi adalah ‘mokhsa’, yakni kelepasan dan kebebasan. Tujuan tertinggi haruslah terangkat lepas dari penitisan berantai (penjelmaan dan perpindahan jiwa). Tujuan tertinggi adalah agar Atman (jiwa manusia) terlarut dalam Brahma (‘ada’ yang tidak berpribadi).
Dalam salah satu Upanishad ada tertulis yang berikut, “Seperti sungai mengalir dan melebur di dalam samudera, hilang Namanya, lenyap bentuknya, demikian pulalah dia, yang telah mencapai paham yang tertingggi, melebur di dalam hakikat yang tertinggi, bebas dari namanya, bebas dari bentuknya”. Maka bebaslah orang itu dari maut, penyakit, usia dan terutama dari “avidya”, ketidaktahuan.
Segala sesuatu di luar “Brahma” oleh avidya diakui sebagai kenyataan. Seperti di dalam keadaan gelap, seutas tali kerapkali di sangka di luar, demikian pula avidya menandang segala sesuatu sebagai kenyataan. Tetapi barangsiapa telah bebas dari “avidya”, maka hanya Brahma yang tidak berpribadi itulah yang dikenalnya sebagai kenyataan dan dengan demikian ia telah mencapai moksha.
Barangsiapa berusaha mencapai kama, artha dan dharma dengan cara yang benar, sesuai dengan masa-masa umurnya dan dengan “sikap” yang tepat, maka sudahlah ia melangkahkan kakinya di jalan yang menuju ke moksha.
Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan hidup dalam paham agama Hindu terdapat hubungan antara perbuatan etis yang dilakukan oleh manusia dan tujuan hidup. Akan tetapi hubungan itu hanyalah bersifat sementara waktu. Sebab tujuan tertinggi ialah penghapusan segala etika.
2.3.2. Agama Buddha[8]
Dalam agama Buddha tujuan tertinggi adalah “Vimutti”, yakni pembebasan dari reinkarnasi (samsara) berantai, dari penjelmaan atau perpindahan jiwa. Pemusnahan (nirodha) penjelmaan berantai itu berarti pula pemusnahan karma (atau kamma), artinya pemusnahan segala perbuatan manusia dan hukum pembalasan yang menguasai perbuatan-perbuatan itu.
Isi vimutti ialah: Nirvana. Nirvana itu digambarkan sebagai pemusnahan kehidupan manusia sebagai mahluk dengan segala nafsunya: “Musnah kelahiran, sempurna kelakuan yang suci, terpenuhi kewajiban, berakhir kehidupan di dunia ini”.
Menurut agama Buddha, “menjadi” (Bhava) itu telah hapus. Tidak ada lagi yang tinggal, baik semu maupun bayangan dari kehidupan perseorangan.
“Seperti segala air di bumi dan di langit mengalir dan bermuara ke lautan tanpa menyebabkan tergenang atau kekeringan, demikian pula unsur Nirvana tidak akan menjadi lebih penuh ataupun lebih kosong, betapa banyak pun pengikut Buddha mendapat jalan masuk ke Nirvana itu”. Jadi Nirvana adalah suatu keadaan, di mana segala perbuatan perseorangan dan ketaatan perseorangan pada hukum-hukum telah berakhir dan lenyap sama sekali.
Memenuhi kewajiban-kewajiban untuk menaati hukum-hukum (dharma), melakukan kebajikan-kebajikan yang dijunjung tunggi seperti: karuna (berbelas-kasihan), mudita (turut bersuka-cita dengan orang yang bersuka cita), upeksa (bersabar hati kepada segala kejahatan dan kecemaran) dan metta (kasih yang meliputi segala sesuatu), itu semuanya hanyalah mempunyai sebagai persiapan. Etika ini hanya bernilai sebagai Latihan untuk dapat sampai ke wilayah nirvana. Tetapi barangsiapa menginjakkan kakinya di daerah itu, ia sudah meninggalkan segala etika, segala kewajiban, segala kebajikan bahkan segala “metta”, kasih itu.
Menurut agama Buddha, kasih pun akan lenyap. Dan keadaan yang terakhir adalah suatu keadaan, di mana tidak lagi terdapat perbedaan antara baik dan buruk, kebajikan dan kejahatan, kasih dan benci. Di dalam agama Buddha, tujuan perbuatan etis ialah pemusnahan segala perbuatan etis.
2.3.3. Agama Islam
Dalam agama Islam tujuan hidup ialah kehidupan di Firdaus (Arab: Firdaws) yang sering disebut juga dengan kata Arab: janna, artinya taman atau “Jannat Eden”, yakni taman Eden.[9]
Dalam gambaran Firdaus tidak terdapat sudut-sudut etis. Di dalam gambaran tentang Firdaus tidak dibicarakan tentang kesucian, kesempurnaan, keadaan tidak berdosa. Dalam tulisan-tulisan yang kemudianlah para ahli Teologi Muslim memperlihatkan corak etis dan mistik dalam gambaran-gambaran tentang Firdaus.terutama dalam salah satu tulisan Ghazali yang bernama “Mutiara berharga dari ilmu pengetahuan tentang dunia akhirat”, corak-corak etis dan mistik diuraikan lebih lanjut. Ia menulis tentang tempat nabi-nabi dan malaikat-malaikat Firdaus, demikian pula tentang takhta Tuhan. Artinya, diuraikan tentang pergaulan dengan rasul-rasul dan nabi-nabi di Firdaus. Ditegaskan tentang kedudukan terpenting yang diambil oleh kitab Quran asli di dalam Firdaus. Dan terutama memandang Tuhan secara rohani diuraikan sebagai puncak kehidupan di Firdaus.
Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia diberi nilai sebagai jasa. Berpuasa, melakukan salat, naik haji dan lain-lain, dipandang sebagai perbuatan yang berpahala, yang dapat diterima sebagai penebus dosa dan yang membawa hak memperoleh Firdaus. Oleh sebab itu, terdapat juga dalam agama Islam hukum (agama legalistis). Tiada seorang pun tahu apakah sudah cukup perbuatan-perbuatannya yang baik untuk memperoleh keselamatan.
Lagi pula tidak ada seorang pun yang mempunyai kepastian tentang “Kadar” Allah, yakni kehendak Tuhan. “Dapatlah terjadi bahwa perbuatan seseorang untuk sementara waktu bercorak seperti perbuatan orang yang tinggal di neraka, tetapi perbuatan-perbuatannya yang terakhir, jika ia memang disediakan untuk Firdaus, bercorak seperti perbuatan orang yang tinggal di Firdaus. Perbuatan-perbuatan manusia haruslah dipertimbangkan menurut perbuatan-perbuatannya yang terakhir. Barangsiapa menyiapkan diri utnuk Firdaus, ia akan melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan itu. Di dalam kebaikan maupun keburukan, setiap orang dipimpin kepada tujuan yang untuknya ia dijadikan”.
2.3.4. Ateisme[10]
Dalam sejarah perjalanan umat manusia, ateis merupakan salah satu aliran yang juga memiliki pandangan tentang bagaimana manusia menghidupi kehidupannya. Dalam melihat tujuan hidup menurut ateisme, jika dilihat, sebenarnya tidak ada bentuk atau ajaran yang baku tentang ateisme, sebab ia hanyalah merupakan ideologi perseorangan dan jarang memiliki atau meleburkan diri ke dalam suatu komunitas, seperti aliran kepercayaan lainnya. Karena itu untuk dapat melihat pandangan mereka, saya dalam hal ini mengambil pandangan tokoh Karl Marx dan Vladimir Lenin, sebagai tokoh komunis. Mungkin jika menurut tokoh ateis lain mereka bisa jadi punya pemahaman yang lain tentang bagaimana itu tujuan hidup dalam perspektif ateisme.
Menurut Marx dan Lenin, sejarah merupakan suatu kejadian yang penuh arti. Di dalam sejarah itu terlaksanalah suatu rencana. Sejarah itu akan bermuara pada suatu negara Bahagia duniawi, ialah negara Bahagia yang masyarakatnya tidak berkelas. Di dalam masyarakat yang akan datang itu tidak aka nada lagi majikan dan buruh. Tidak akan ada lagi krisis dalam dunia ekonomi.
Proses produksi akan berlimpah-limpah sedemikian rupa, hingga setiap orang akan Makmur secara material. Negara dengan alat-alatnya berupa: pengadilan, kepolisian dan Angkatan perang, tidak akan perlu lagi. Itu semua akan dibuang seperti besi tua. Di dalam masyarakat itu akan hidup seorang manusia baru, manusia yang hidup dengan tidak takut akan maut dan pedih, tidak terganggu oleh kegelisahan yang ditimbulkan oleh suara hati, tidak takut akan Allah, tidak tersiksa oleh pertanyaan tentang arti hidup di bumi ini.
Tujuan manusia adalah suatu masyarakat tanpa Allah, tanpa moral, tanpa agama. Suatu negara Bahagia, di mana malapetaka sesungguhnya yang mengancam umat manusia, seperti dosa, penyakit dan maut, tidak akan dapat dikalahkan.
2.4.Tujuan Hidup Menurut Teologi Sistematika[11]
Jika ditanyakan bagaimanakah seharusnya orang Kristen hidup maka ada dua prinsip etika kehidupan seorang Kristen.
Prinsip pertama dari etika kehidupan seorang Kristen adalah suatu kehidupan yang dijalani demi “kemuliaan Allah”. Prinsip ini didasarkan pada 1 Korintus 10:31: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Hidup untuk kemuliaan Allah adalah hidup dalam jalan yang membawa kemulian bagi nama Allah yang baik dan sempurna: berhati-hati agar tidak ada satupun dalam pikiran, kata-kata, atau tindakan kita yang mencemarkan Dia, melainkan membuat orang-orang menghargai Dia.
Prinsip kedua dari etika Kristen didasarkan pada perintah agung Yesus, ‘Mengasihi Allah dan mengasihi sesame seperti diri sendiri.’ Hal ini dikenal dengan ‘prinsip kasih’. kita harus menjadikan kasih sebagai tujuan tertinggi dari kehidupan kita, berjuang setiap hari untuk membuat pikiran, kata-kata, tindakan kita merefleksikan sebuah kehidupan kasih.
Prinsip kasih sangat terkait erat dengan prinsip kemuliaan Allah. Dalam 1 Korintus 10:31, kita dapat melihat keterkaitan antara kasih dan kemuliaan Allah. Dalam ayat 24 dan 33 diringkaskan pesan dari ayat 31.
“Jangan seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.”
“Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.”
Ayat-ayat ini mengisyaratkan bahwa menghidupi kehidupan yang memuliakan Allah dan untuk kebaikan orang lain, sesungguhnya adalah satu dan hal yang sama. Sebuah kehidupan Kristen yang dihidupi untuk kemuliaan Allah diterjemahkan sebagai suatu kehidupan yang dihidupi untuk kepentingan orang lain. Suatu gaya hidup kasih terhadap orang-orang di sekitar kita adalah sebuah gaya hidup yang membawa kemuliaan bagi Allah.
Kehidupan penuh kasih adalah kehidupan yang memperhatikan kebutuhan orang lain, mendukung mereka dalam wilayah kelemahan mereka dan menannggung beban mereka. Sederhananya kehidupan kasih itu adalah sebuah kehidupan yang ditandai dengan tindakan melayani dan berbagi. Kita akan membawa kemuliaan bagi Allah dengan hidup sebagai agen kasih.
III. Analisa Penyeminar
Di dalam kehidupan ini pertanyaan penting mengenai kehidupan adalah bagaimana manusia itu hidup. Banyak orang yang berusaha menghidupi kehidupannya dengan memenuhi dirinya atas harta dan kekayaan dunia dan lain sebagainya sehingga banyak orang menujukan kehidupannya hanya untuk dunia ini. Namun seperti kata Pengkhotbah bahwa “segala sesuatu adalah sia-sia” semua nya itu harta dan kekayaan tidak ada artinya. Kehidupan ini tidak dipandang dan dimaknai hanya dari material dan kesenangan jasmani semata, akan tetapi perlu mencari makna dan tujuan hidup secara khusus bagi orang percaya.
Pengkhotbah menyadari dan memahami bahwa ternyata di dalam kehidupan ini banyak kesia-siaan, “segala sesuatu adalah sia-sia”. Harta dan kekayaan, jabatan dan popularitas semuanya sia-sia. Bukan berarti semua itu tidak perlu, tidak ada gunaya dan harus diabaikan atau disingkirkan. Akan tetapi perlu diingat bahwa harta dan kekayaan itu tidak akan pernah dapat menyempurnakan kehidupan.
Namun di atas semuanya itu ada tawaran yang diberikan oleh Pengkhotbah bahwa perlu adanya kesadaran akan adanya suatu kekuatan atau otoritas di luar dirinya. Otoritas itu adalah Allah yang Maha kuasa, yang Maha ada, yang Maha tahu itulah Allah Sang Pencipta (6:12). Karena itu perlu mendekatkan diri kepada Allah, hal ini nampak dalam seruan Pengkhotbah bahwa hendakla manusia itu mengingat penciptanya pada masa muda (3:11, 12:1). Kesadaran ini perlu dibangun adalah agar manusia tidak hanya berfokus kepada kehidupan duniawi semata, hanya memikirkan dirinya sendiri sehingga meninggalkan Tuhan dalam upaya itu. Akan tetapi harus diingat bahwa ada Tuhan di dalam kehidupan ini yang harus ditakuti agar tidak melulu memikirkan kesenangan dunia. Itulah arti dan makna kehidupan yang sebenarnya menurut kitab Pengkhotbah.
Dalam kehidupan sekarang ini ditengah era post modern dan di era teknologi, kehidupan manusia sudah semakin canggih di sana-sini terdapat kemewahan dan godaan-godaan duniawi akan harta dan kekayaan dunia ini. Manusia secara aktif siang dan malam berlomba-lomba membangun dan mencari harta kekayaan kepada dirinya. Pandangan umum pun berlaku bahwa harta dan kekayaan itu adalah hal yang utama dan banyak orang melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya dan memahami bahwa itulah tujuan hidup. Banyak orang menggunakan cara-cara kotor untuk mendapatkan segala sesuatu dengan bukan jalannya.
Dalam hal ini lah seruan Pengkhotbah itu didengungkan kembali bahwa segala sesuatu adalah sia-sia. Mencari harta dan kekayaan, jabatan dan popularitas semuanya itu hanya lah kesia-siaan belaka jika tidak diikuti dengan penghayatan takut akan Tuhan. Menjadi penting digumulkan kembali seperti apa yang dikatakan oleh Yesus “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Seturut dengan penghayatan iman yang dikatakan oleh Pengkhotbah meskipun kita memiliki segalanya jika tidak di dalam Tuhan maka segala sesuatu itu adalah sia-sia. Karena itu di dalam menjalani kehidupan terlebih dahululah harus memiliki dan menanamkan rasa takut akan Tuhan sebagai arti dan makna hidup, lalu semuanya itu akan ditambahkan oleh Tuhan.
IV. Kesimpulan
Di dalam kehidupan ini pasti kita semua ingin memiliki kehidupan yang Bahagia. Kita ingin segala sesuatunya berkecukupan dan terpenuhi, ya semua manusia pasti menginginkannya. Sehingga banyak orang dalam hidup ini mengupayakan segala cara untuk mendapatkannya bahkan bisa dikatakan hingga cara-cara yang melupakan Tuhan. Makna kehidupan sudah dipahami oleh kebanyakan dengan memiliki harta dan lain sebagainya.
Kehidupan bukanlah persoalan harta dan kekayaan, jabatan dan popularitas, tetapi harus memiliki rasa takut akan Tuhan. Kehidupan ini harus digumulkan prosesnya bersama-sama dengan Tuhan, jika tidak demikian maka akan sia-sialah segala sesuatu karya dan upaya yang dilakukan oleh manusia. Bukan berarti semuanya itu tidak perlu, sehingga mengabaikan segala sesuatu dan bermalas-malasan untuk menjalani kehidupan ini dan juga bukan menjadi alasan atas kemiskinan. Namum penekanan ini ditekankan adalah demi upaya untuk memberikan pemahaman bahwa hidup ini tidak melulu soal uang, harta, kekayaan, materi, jabatan, pangkat dan lain sebagainya akan tetapi harus dilandaskan kepada rasa takut akan Tuhan. Itulah arti dan makna kehidupan yang sesungguhnya.
V. Daftar Pustaka
Alkitab Edisi Studi, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2016.
Darmaputera, Eka, Merayakan Hidup: Pemahaman Kitab Pengkhotbah tentang Kesia-siaan Segala Sesuatu, Jakarta: Gunung Mulia, 2013.
Blommendaal, J., Pengantar kepada Perjanjian Lama, Jakarta: Gunung Mulia, 2008.
Saragih, Agus Jetron, Kitab Ilahi: Pengantar Kitab-kitab Perjanjian Lama, Medan: Bina Media Perintis, 2016.
Verkuyl, J., Etika Kristen Bagian Umum, Jakarta: Gunung Mulia, 2018.
Chung, Sung Wook, Belajar Teologi Sistematika dengan Mudah, Bandung: Visi Press, 2010.
[1] Alkitab Edisi Studi, (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2016), 1050.
[2] Alkitab, 1050-1051.
[3] Eka Darmaputera, Merayakan Hidup: Pemahaman Kitab Pengkhotbah tentang Kesia-siaan Segala Sesuatu, (Jakarta: Gunung Mulia, 2013), 2-4.
[4] J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama, (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 158-159.
[5] Eka Darmaputera, Merayakan 4.
[6] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi: Pengantar Kitab-kitab Perjanjian Lama, (Medan: Bina Media Perintis, 2016), 155, 158-159.
[7] J. Verkuyl, Etika Kristen Bagian Umum, (Jakarta: Gunung Mulia, 2018), 268-270.
[8] J. Verkuyl, Etika, 270-271.
[9] Untuk melihat gambaran tentang Eden silakan lihat dalam buku J. Verkuyl, Etika Kristen Bagian Umum, (Jakarta: Gunung Mulia, 2018), 271-272.
[10] J. Verkuyl, Etika, 273-274.
[11] Sung Wook Chung, Belajar Teologi Sistematika dengan Mudah, ( Bandung:: Visi Press, 2010), 171-173.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar