Selasa, 31 Maret 2020

Kesetiaan dan Integritas Hamba Tuhan dalam Daniel dan Hosea


Kesetiaan dan Integritas Hamba Tuhan dalam Daniel dan Hosea
I.              Pendahuluan
Fenomena yang muncul sepanjang zaman adalah sulitnya menemukan orang yang berbuat seperti hebatnya dia berbicara. Sangat mudah menemukan pikiran-pikiran besar, amat banyak orang mampu berbicara tegas, tidak teramat sulit menemukan orang yang berkata benar, tetapi menemukan orang yang beriman dan berbudi luhur, yang berbicaranya menyatu dengan perbuatannya, yang pintar dan bermoral, dermawan sekaligus rendah hati, yang berpikir besar sekaligus berjiwa besar sama sulitnya. Pernyataan ini menyimpulkan bahwa hingga masa kini sulit menemukan orang-orang yang setia dan berintegritas.
Pada pembahasan kali ini kita akan membahas bagaimana kesetiaan dan Integritas Hamaba Tuhan dalam Daniel dan Hosea. serta implementasinya di tengah-tengah hamba Tuhan. Yang dimana kesetiaan Daniel dan hosea akan mempengaruhi pola pikir kita bagaimana hidup dalam kasih setia Tuhan, dan untuk hidup dengan mengandalkan Tuhan dalam setiap aspek hidup kita, terkhusus menjadi hamaba Tuhan yang taat ditengah-tengah persoalan ini dan bagaimana mengambil sikap yang baik. Dan untuk lebih lengkapnya mari kita simak pembahasan ini serta kiranya dapat menambah wawasan kita bersama.
II.           Pembahasan
2.1.Pengertian Kesetiaan Secara Umum
Kesetiaan mempunyai akar kata setia yang berarti berpegang teguh pada janji atau pendirian, taat, patuh, tetap dan teguh hati di (dalam persahabatan), dan kesetiaan berarti keteguhan hati, ketaatan (dalam persahabatan, perhambaan), kepatuhan.[1]
2.2.Pengertian Integritas Secara Umum
Kata integritas berasal dari bahasa Latin yaitu integer yang artinya utuh. Dalam Bahasa Inggris kata integritas yaitu integrity artinya "moral yang dapat diandalkan" atau "kejujuran" yang mendapat wujud dalam karakter pribadi yang utuh dan lengkap. Dalam konsep ini integritas adalah keutuhan yang berasal dari kualitas sikap seperti kejujuran dan konsistensi karakter.[2] Jika dihubungkan dengan hal kualitas berarti kondisi pribadi yang tidak lemah (teguh), tidak mudah terpengaruh oleh keinginan dan godaan. Dalam KBBI Integritas adalah mutu, sikap, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan, kejujuran.[3] Menurut kamus Webster's New World, Integritas adalah mutu atau sifat yang utuh, keadaan tidak terpecah, tidak terpisah-pisah, sempurna, tidak rusak, sehat dan tak bernoda secara moral, benar dan Jujur.[4]
Integritas adalah gambaran pribadi yang kuat dan teguh, memiliki kualitas diri dalam aspek hidup. Seseorang yang berintegritas tidak mudah menyerah, memiliki pikiran yang utuh dan lengkap selaras perkataan dengan keinginan tanpa berpura-pura, tidak tercemar. Integritas adalah bentuk kesetiaan sescorang kepada hal-hal benar dalam hidupnya: diawasi atau tidak, baik disaat berada di depan orang lain maupun tidak, baik dalam situasi menyenangkan maupun menyakitkan. Orang yang memiliki integritas akan tetap setia melakukan yang benar tanpa kepalsuan karena setiap perkataan, pemikiran dan perbuatan terdapat sinergi yang kuat dan harmonis. Integritas sebagai kepenuhan kebenaran yang ditandai dengan kebaikan, keadilan, kemurnian, keteguhan, ketulusan, kejujuran, kesetiaan, ketaatan, keberanian, kepatuhan dan kepatutan. Paul J. Meyer menyatakan bahwa integritas itu nyata dan terjangkau mencakup sikap seperti: bertanggungjawab, jujur, menepati kata-kata, dan kesetiaan.[5] Jadi saat berbicara tentang integritas tidak pernah lepas dari kepribadian dan karakter seseorang, yaitu sifat-sifat seperti dapat dipercaya, komitmen, tanggungjawab, kejujuran, kebenaran dan kesetiaan.
Dari pemaparan di atas saya memberikan kesimpulan bahwa Integritas itu adalah keutuhan dan konsistensi sikap (Kepribadian yang utuh) dalam melakukan tindakan yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran sehingga memiliki kualitas diri dalam aspek kehidupan. Dimana integritas yang berwujud pada karakter pribadi seperti: dapat dipercaya, komitmen, bertanggungjawab, kejujuran, kebenaran dan kesetiaan dll. Dan orang yang berintegritas akan setia melakukan hal-hal yang benar dalam seluruh aspek kehidupannya,
2.3.Pengertian kesetiaan Menurut Perjanjian Lama
Kata bahasa Ibrani kata setia disebut dengan אמת (‘mn) yang berarti setia, taat, percaya, menaruh kepercayaan dalam sehingga mengandung makna bahwa manusia harus percaya kepada Allah karena Allah itu teguh dan kuat.[6] Dari kata ‘mn diperoleh kata אמת (emet ) yang berarti kebenaran.[7] PL sering memakai kata emeth ini untuk menunjukkan kesetiaan kepada umatnya, kesetiaan berhubungan erat dengan kepercayaan dan keyakinan kepada Allah di dalam ketetapan dan keteguhan dengan segenap hati. Kesetiaan tidak terlepas dari iman dan kepercayaan. Kesetiaan menyatakan sikap kita terhadap Tuhan sehingga hidup dalam kesetiaan berarti hidup dalam persekutuhan dengan Tuhan, dengan menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Dia.[8] Setia dan taat adalah dua sifat yang harus dimiliki oleh seluruh umat Allah dalam konteks kehidupannya. Kesetiaan dan ketaatan umat kepada Allah menggambarkan kepatuhan kepada Allah  sebagai menaati suaraNya melalui pemberian hukum-hukumNya.[9]
2.4.Pengertian Integritas Menurut Perjanjian Lama
Dalam bahasa lbrani konsep integritas banyak diungkapkan dari akar kata תמם (tmm). Dalam Perjanjian Lama kata ini muncul sebanyak 200 kali dalam berbagai bentuk dan fungsinya. Yang di mana kata ini mengandung arti diantaranya adalah: utuh, tidak bercacat, adil, jujur, sempurna, damai dll. Kata ini juga menjelaskan sifat dan sikap yang mencerminkan kebenaran/keaslian atau yang dapat dipercaya.[10] Secara etimologi kata תמם (tmm) yang dalam bahasa sematik banyak ditemukan dengan arti dasar "sempurna atau selesai" dalam Ugar kata ini diterjemahkan sebagai "(be finished) menyelesaikan" dalam bahasa Aram diterjemahkan "menjadi lengkap, utuh".[11]
Dalam ranah etika dan keagamaan kata dalam Ibrani menjelaskan tentang sikap dan jalan hidup yang "utuh dan lengkap" yang awalnya memberikan contoh pada pemikiran, perkataan, dan perbuatan diri sendiri yang berhamonisasi atau menyatu dengan norma-norma hidup yang mengatur manusia. Dalam ranah keagamaan kata ini eenderung menekankan suatu ploralitas mutlak dari dua cara hidup yang benar atau yang salah. Kata ini memberikan penjelasan tentang perilaku yang benar, ramah, tulus, dan setia, baik terhadap diri sendiri dan orang lain. Dalam naskah gulungan laut mati kata תמם (tmm) banyak diterjemahkan untuk pengertian etika atau moral. Yang menggambarkan kondisi sikap atau kepribadian yang selalu menjalankan keinginan Allah yaitu berjalan dalanm keiuiuran dan tidak mengikuti nafsu dan keinginan sendiri. Dalam kitab Sirach kata ini hanya muncul sebagai istilah untuk beberapa orang yang benar. Seperti Henokh dan Nuh (Sirach 44:16-17), dan dalam kitab Qumran dijelaskan tentang Raja Yosia yang mengabdikan hatinya sepenuhnya untuk Tuhan, ini mengambarkan bahwa raja Yosia adalah contoh yang berintegritas ia tidak memakai otoritasnya sebagai raja untuk mengambil keuntungan yang dapat merusak integritasnya."[12]
Dibawah ini akan dijelaskan bcrbagai bentuk, arti dan fungsi dari akar kata תמם (tmm), yaitu sebagai berikut:
1.      Kata kerja תׇּמֵם (tamam) berarti menjadi lengkap, selesai, sempurna atau memiliki integritas (berintegritas), kata ini ditemukan dalam bahasa lbrani kuno dan moderen, kata ini juga ada di kitab Ugarit kuno. ditemukan sebanyak 54 kali dalam bentuk qal banyak ditemukan dalam kitab Jeremia, Josua, 8 kali dalam bentuk hipil, 2 kali dalam bentuk hiphil. Dimana bentuk ini memiliki pengertian yang berbeda satu sama lain, mulai dari menjadi sclesai, dalam arti yang lain "menjadi sempurna" atau "menjadi tak bercela. Arti dasar dari kata ini adalah menjadi lengkap atau selesai (1 Raj. 6:22 yang artinya bahwa pembangunan itu sudah selesai dengan utuh atau lengkap tanpa adalagi penambahan bahan bangunan), demikian pula dengan akhir dari sebuah pidato yang disampaikan Ayub (Ay. 31:40) menunjukkan bahwa siklus pidato Ayub adalah "lengkap". Kadang-kadang kata ini juga dipakai untuk mengungkapkan moral dan etika.[13] Dalam betuk kata kerja hipil kata ini dikaitkan dengan penyelesaian dari sebuah tindakan contohnya dalam 2 Raja-Raja 22:4 atau memasak dengan baik (Yeh.24:10). Dalam pengertian etis kata ini di definisikan dalam kitab Ayub 22:3 yaitu menggambarkan atau berbuat kebenaran' tidak bercacat (hidup saleh). Dapai disimpulkan bahwa jika kata dihubungkan dengan binatang maka bermaka "tidak memiliki cacat fisik", jika kata ini dihubungkan dengan waktu maka akan bermakna "putaran waktu penuh".[14]
2.      ׇ  תׇּמׅים (kata sifat, bentuk nominatif) maka artinya adalah utuh, sempurna, atau tidak bercacat/bercela. Dalam PL kata ini sering dikaitkan dengan kultus atau upacara pemberian persembahan kurban. Aturan imam (Im. 22:21) dalam pemberian kurban ditentukan bahwa setiap korban "harus tanpa cacat atau cela untuk dapat diterima" (kepadaTuhan); tamim menunjuk kepada kondisi keutuhan dari kurban persembahan (hewan), yang sehat, tanpa cacat, dan bebas dari cacat cela (Im. 9: 2; lih Kel.12:5; Bil.6:14; 28:19). Kata ini juga banyak digunakan untuk menunjukkan hubungan baik antara Allah dan orang-orang benar (Kej 6:9; 17:1; Ul 18:13; Yos 24:14), demikian juga kepercayaan dari hubungan yang tulus dan setia di antara mahluk manusia (Hak 9:16; Am 5:10; Yeh 28:15). Persamaan kata ini juga dapat kita temukan dalam kata yasar (tegak) dan saddig (benar). Dalam pemahaman yang sama kata ini juga melambangkan orang benar dan bijaksana. "Karena orang jujurlah akan hidup di tanah dan tidak bercela akan tetap tinggal di situ (Ams. 2:21). Dalam Perjanjian Lama dijelaskan bahwa menjadi tamim juga berarti menjadi saleh dan tulus/jujur di hadapan Tuhan."[15]
3.      Dalam bentuk kata sifat תׇּם (tam) banyak ditemukan dalam kitab Ayub dengan arti yang berbeda-beda seperti: tidak bersalah, tidak bercela, tulus, tenang, damai, saleh, murni, sehat, dll. Dalam kitab Ayub terkhususnya kata ini memiliki kata dasar yang artinya adalah sempuna, ketika dalam bentuk kata sifat digunakan untuk mengambarkan Ayub (1:1, 1:8), artinya bahwa dia benar-benar "sempurna" atau dengan kata lain ia "tidak bercela" atau memiliki integritas (tidak bersalah secara moral).[16] Kata תׇּם (tam) menuniuk kepada sifat seseorang menunjukkan kepatuhan kepada nilai-nilai kebenaran yang dengan jelas membedakan orang yang takut akan Tuhan dan orang-orang fasik, mereka disebul tidak bersalah (Mzm. 94:4,5, Ay. 8:20: 9:20-22), yang saleh benar (Ay. 1:1,8 2:3). Kata ini lebih menunjukkan kepada sifat Allah. Dalam kidung agung 5:2, dan 6: 9 kata ini digunakan dengan terjemahan istilah dari sayang yaitu tanpa cacat yang sempurna.
4.      Kata benda dalam bentuk nominatif תּם (tom) yang muncul 25 kali dalam perjanjian lama biasanya memiliki arti utuh atau lengkap, integritas atau sempurna. Menunjukkan kepada suatu kualitas dari jiwa/pribadi yang menunjukkan sikap dan cara bertindak atau sifat seseorang yang melakukan kebenaran dengan penuh dan tanpa curiga atau dengan ketulussan hati (Kej. 20:5-6, Mzm. 26:1, 11; 101:2, Am. 2:7; 28:6, 1 Raj. 9:4). Kata ini juga menjelaskan tentang keinginan terdalam dari hidup atau sikap yang menunjukkan keharmonisan antara Allah dan manusia (Ams.10:9, 13:6; 19:1), dalam literatur kata ini secara abstrak diterjemahkan sebagai integritas atau kesempurnaan. Kata sifat nominative          תֵּמׇּה(Tumma) terkhususnya banyak digunakan dalam kitab Ayub. Kata ini  menggambarkan karakter dan kualitas hidup yang didasari karena rasa takut akan Tuhan dan dengan prinsif-prinsif etika seperti kejujuran dan loyalitas yakni Integritas (Ay. 2:3, 9, 27:5). Kata ini menggambarkan sikap manusia yang konsisten dalam mempertahankan karakter yang benar dalam segala keadaan atau situasi.[17]
Dalam Perjanjian Lama tuntutan untuk berintegritas dalam hubungan manusia diterapkan dalam menjaga hubungan dalam tatanan sosial yang berdasarkan pada status moral yang ditetapkan oleh Allah, yang mana juga dipengaruhi oleh kehendak Allah sendiri: Pekerjaan Allah (Ul. 32:4), jalan Allah (2 Sam. 22:31 Ams. 18:31) yang sempurna. Firman Allah membebaskan (Mzm. 19:8). Karena itu setiap orang hanus berintegritas pada Allah, Tuhan mereka (UI. 18:13), Dia senang dengan jalan orang benar (Ams. 11:20), mereka yang bertingkahlaku dengan ketulusan maka Allah juga memperlakukan mercka dengan ketulusan (2 Sam. 22:26/ Mzm. 18:26). Mereka yang jalan hidupnya tidak bercela adalah mereka yang berjalan menurut taurat atau hukum Tuhan (Am. 119:1). Hidup yang berintegritas sangat dijunjung tinggi dalam Perjanjian Lama, berjalan dalam integritas adalah menjadi dari suatu harapan (Ay. 4:6), memberikan upah: "Siapa pun yang berjalan dalam integritas akan berjalan dengan aman (Am. 10:9). Dan hidup berintegritas akan menuai kemahawujudannya dalam pemeliharaan dan pemberian Tuhan (Ams. 2:7); keamanan mereka terjamin (Ams. 2:21; 28:18), dipandu untuk hidup (Ams. 11:3), memperoleh manfaat yang melebihi kekayaan (Ams. 19:1; 28:6). Artinya karakter terbentuk dari dan akibat pergaulan seseorang dengan Tuhan, yang mengakibatkan sifat-sifat moral Allah dimiliki oleh orang tersebut.[18] Dalam Perjanjian lama konsep integritas tidak berarti sempurna tanpa dosa, karena dalam perjanjian lama tidak pernah mengajarkan bahwa setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa masih ada manusia yang hidup dalam keadaan sempurna tanpa dosa, tetapi dalam Perjanjian Lama kita melihat bahwa banyak tokoh yang digambarkan sebagai orang yang tidak bercela atau berintegritas karena: Mereka telah berpaling dari dosa-dosa mereka, Dosa-dosa mereka telah diampuni oleh Allah dan mereka bertekad untuk mematuhi kehendak Tuhan, integritas dalam arti kesempurmaan bukan berarti tanpa dosa.[19] Dalam Perjanjian Lama Nuh adalah Tamim, kata tamim yang dipakai untuk Nuh adalah menggambarkan sikap dan kedudukan Nuh dihadapan Allah. Kata tamim ini merupakan gambaran sikap atau cara hidup yang benar di hadapan Allah.[20] Hidupnya terarah pada kebaikan di hadapan Allah. Dan Ayub juga adalah tokoh yang memiliki integritas dimana integritas yang dimiliki Ayub terlihat dari kesalehannya. Kesalehannya adalah wujud dari pada integritas Ayub. Dimana dalam situasi dan keadaan yang sulit sekalipun Ayub masih tetap mampu mempertahankan integritasnya.[21]
Dari penjelasan diatas penulis menyimpulkan bahwa integritas dalam bahasa Ibrani banyak ditemukan dalam akar kata תמם (tmm) dengan beberapa bentuk dan arti serta fungsinya masing-masing. Dalam perjanjian lama "integrity" (integritas) berati "Suatu kualitas dari jiwa/pribadi", orang yang benar "bertindak/ berprilaku di dalam integritas atau sesuai integritas. Integritas adalah karakter dirinya, dimana integritas mengindikasikan hasil dari gerak hati/ keinginan jiwa. Ini menunjukkan bahwa integritas adalah sebuah tindakan manusia yang menunjukkan hubungan yang benar dengan Allah.[22] Yang dimana integritas akan mewujudkan kepribadian yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran (karakter-karakter yang benar) dalam segala situasi yang nampak dalam tindakan dan gaya hidup sehari-hari. Sehingga dalam Perjanjian Lama dijelaskan bahwa manusia yang berintegritas merupakan manusia yang berjalan dengan hati yang setia atau tulus kepada Allah dan rendah hati kepada sesama manusia (Ams. 25:21, Kej. 6:9). Implikasi etisnya adalah ia berusaha hidup benar dalam relasi dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan, tempat ia hidup.
2.5.Kitab Daniel
Nama Daniel yang berarti “Tuhan adalah Hakimku”, Dan berarti “penghakiman atau hakim”, i adalah “ku” dan el berarti Allah. Ada juga tulisan nama Danie’l (dalam bahasa ibrani:דָּנִאֵל) yang dicatat didalam kitab Yehezkiel pasal 14 ayat 14 dan 20, serta pasal 28 ayat 14 dan selain itu ditemukan pada inskripsi palmyren. Pelafalan “Danie’l” (Allah adalah Hakimku) lebih mungkin dari pada “Danie’l” Allah adalah hakim), karena lebih serasi dengan struktur umum nama ibrani.[23] Daniel adalah seorang muda yang dibawa dari Yerusalem ke Babel oleh Nebukadnezar untuk dilatih melayani dalam istana raja.[24] Daniel adalah seorang berpendidikan, dia naik pangkat dari tawanan menjadi seorang pemimpin di negara asing. Didalam jabatan itu, Daniel selalu melaksanakan tugasnya dengan baik. Tetapi yang lebih penting lagi ialah kesetiaannya kepada Allah. Ketiga rekannya: Sadrakh, Mesakh dan Abednego pun bersikap demikian.[25]
Kitab Daniel adalah salah satu kitab yang tergolong pada kita sastra yaitu sastra apokaliptik[26] di dalam PL. kitab apokaliptik adalah kitab yang berisi tentang rahasia-rahasia kehidupan yang akan datang. Status Daniel dalam kanon Ibrani[27] menempatkan Daniel dalam kelompok Ketubin (kitab-kitab) sebab isinya berisi tentang sejarah bangsa-bangsa mulai dari Mesir, Babel, Persia, dan Romawi. Sedangkan kanon Yunani pada kelompok nebi’im  sebab isinya tentang nubuat-nubuat dan penglihatan-penglihatan. Kitab Daniel berbentuk sastra apokaliptik  yang berarti bahwa berita nubuatnya menyingkapi pernyataan Allah, yang meliputi:
1.      Meliputi penglihatan, mimpi dan lambing
2.      Untuk memberikan semangat kepada umat Allah pada masa krisis dalam sejarah
3.      Untuk membayangkan pengharapan Israel mengenai kemenangan akhir kerajaan Allah dan keberadaan-Nya dibumi.[28]
2.5.1.      Pribadi Kehidupan Daniel
Daniel dalam bahasa Ibrani danie’l דׇנָיּאַל (hakimku ialah Allahku). Arti lain dari kata Damiel adalah “Allah adalah maha kuasa”. Hal ini juga terdapat didalam tulisan Babilonia. Daniel yang diceritakan dalam kitab Daniel adalah orang yang tertawan yang dibawa ke Babel pada tahun 605 SM, kemudian mendapat kepercayaan dari Raja Nebudkanezar sehingga diangkat menjadi seorang pejabat penting dalam kerajaannya. Pada masa pemerintahan Nebudkanezar raja Babel, nama Daniel beserta ketiga kawan-kawannya diubah  ke dalam bahasa Babel.[29] Daniel adalah seorang yang lebih tepat dikenal sebagai orang yang berhikmat dan bijak. Ada beberapa data tentang kemampuan Daniel dalam memahami dan menafsirkan tulisan atau mimpi misalnya:
·         Menafsirkan mimpi raja pohon ditebang (2:28-45).
·         Menafsirkan tulisan yang dilihat (5:26), empat binatang akhir kerajaan dunia yang akan diganti dengan kerajaan Allah (1:2).
·         Penglihatan tentang domba dan kambing (8:26), pemulihan tentang Yerusalem (9:25).
Diperkirakan Daniel dibuang ke Babel pada masa muda (1:6 bnd. Yeh. 4:14, 20, 28), atau pada masa penaklukan Yerusalem oleh Nebukadnezar tahun 603 sM. Di Babel dia menafsirkan mimpi Nebukadnezar tahun 603, hingga tahun 598 sM masih melayani sebagai pegawai di Babel.[30] Daniel tidak hanya menduduki jabatan penting pada masa pemerintahan Nebukadnezar (Kerajaan Babilonia) tetapi reputasinya tetap bertahan, bahkan ketika kerajaan Babilonia runtuh dikelilinginya; meskipun sudah semakin tua, karirnya mencapai puncaknya pada waktu ia ditetapkan sebagai salah satu pejabat tinggi tiga serangkai yang menduduki jabatan kedua sesudah raja dalam kerajaan Media-persia yang sedang berkembang.[31] Didalam Alkitab, nama Daniel tersapat dalam beberapa nats, antara lain dalam 1 Tawarikh 3:1;nama Daniel disebutkan sebagai salah satu keturunan Daud (anak Daud yang kedua) dari Abigail, yang disebut juga “Khileab”, dalam Ezra 8:2 Daniel disebutkan sebagai seorang turunan Imamar yang mempunyai Ezra dan sebagai penandatangan (yang membubuhi materai) pada perjanjian (Neh. 10:1, 6-7). Daniel juga disebut sebagai seorang yang hikmatnya dan kebenarannya luar biasa, yang namanya digabungkan dengan Nuh dan Ayub (Yeh. 14:14, 20;28:3). Daniel juga dikategorikan selaku orang yang bijaksana bersama-sama dengan Nuh dan Ayub. Seterusnya ia dikenal sebagai seorang yang luar biasa, lebih dari ahli-ahli Babel.
Dapat penyaji simpulkan bahwa Daniel adalah seorang Yehudi (yang dibawa dari Yerusalem pada masa ke Babel) yang awalnya dilatih di babel bersama dengan teman-temannya pada masa pemerintahan Nebukadnezar untuk dilatih melayani di istana kerajaan. Dalam kitab Daniel sendiri ia digambarkan sebagai sosok yang berhikmat dan bijaksana hal ini dibuktikan dari kepintaran dalam menterjemahkan atau menafsirkan mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan. Dari pengalaman Daniel yang luar biasa ia juga digambarkan sebagai sosok teladan yang tetap setia dan berani mempertahankan imamnya meskipun nyawa yang menjadi taruhan dan Daniel selalu mendapatkan jabatan-jabatan tinggi. 
2.5.2.      Kesetiaan dan Integritas Hamba Tuhan dalam Daniel
Hamba Tuhan adalah manusia biasa, yang secara iman dan kedudukannya sama dengan jemaat di hadapan Tuhan, namun Allah memiliki harapan besar bagi hamba-hamba-Nya untuk menjadi contoh dan teladan dalam pola hidup sebagai hamba Tuhan. Hidup menjadi teladan berarti hidup berinteritas di hadapan Allah, artinya dalam kehidupannya hamba Tuhan harus membagun integritas. Integritas merupakan sesuatu hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh semua orang terkhususnya seorang yang dipanggil untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Karena kunci keberhasilan pelayanan sangatlah dipengaruhi oleh integritas yang dimiliki. Sebagai seorang hamba Tuhan maka harus menunjukkan integritas atau hidup berintegritas dalam setiap situasi bahkan ditengah situasi yang sulit sekalipun tanpa berkompromi bahkan hanyut dalam ancaman serta kenyamana.[32]
Seseorang yang memiliki integritas akan selalu memperlihatkan tanggung jawabnya dalam aspek kehidupannya. Terkhusunya juga tanggung jawab seorang hamba Tuhan dalam hal pelayanan, sama dengan apa yang dipraktekkan oleh Daniel. Banyak hamba Tuhan yang telah hilang ciri khasnya. Banyak hamba Tuhan yang hanya mementingkan kepentingan sendiri dan mulai melupakan tanggung jawabnya sebagai hamba Tuhan. Inilah sebagian kegiatan hamba Tuhan dengan alasan bahwa mereka harus menyekolahkan anak-anakNya dan memikirkan masa depan. Integgritas seorang hamba Tuhan juga harus lebih takut kepada Tuhan ketimbang kepada para pejabat atau penguasa. Namun dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang yang menyebut dirinya hamba Tuhan menjadi lebih takut kepada pejabat atau penguasa ketimbang kepada Tuhan. Ini sering terjadi karena kepentingan diri sendiri, sehingga tidak lagi menyuarakan suara Tuhan tetapi menyuarakan kepentingan pejabat.[33]
Jadi seorang Daniel telah memperlihatkan kepada kita bagaimana menjadi seorang hamba Tuhan yang berintegritas dan yang mempunyai kesetiaan kepada Tuhan dan menjadi hamba Tuhan yang kuat di dalam iman dan menjadi hamba Tuhan yang teguh akan hukum Tuhan dengan sikap yang takut akan Tuhan.
2.6.Kitab Hosea
Nama Hosea berarti “keselamatan”. Keterangan tentang nabi Hosea tidak terlalu banyak,     Nabi Hosea adalah nabi kitab satu-satunya yang berasal dari kerajaan utara (Israel). Hosea memberi tekanan pada dua hal : (1) kasih-setia Tuhan, dan (2) ketidaksetiaan bangsa Israel. Kedua hal tadi tercermin dalam hidup perkawinan sang nabi sendiri.[34] Permulaan pelayanan Hosea sebagai nabi bertepatan dengan teman sekerjanya yang terkenal yaitu Amos. Sebagai orang yang sezaman dengan Amos, dia melayani paling sedikit 30 tahun, barangkali mulai dari akhir masa pemerintahan Yerobeam II, raja Israel (th. 782-753 SM) dan berakhir dengan keruntuhan Samaria pada th.722 SM.[35] Pada waktu itu kerajaan Israel menuju keruntuhannya. Namun Frank Boyd dalam bukunya Kitab Nabi-Nabi Kecil mencatat bahwa pada waktu Hosea memulai pelayanannya, Israel sangat makmur dan berhasil yaitu pada masa pemerintahan raja Yerobeam II. Memang secara akhlak dan jasmani bangsa itu lemah dan semata-mata cabul. Namun ketika Yerobeam meninggal dunia dan tangannya yang kuat yang telah mencegah pergolakan dan pelanggaran hukum bangsa itu, tidak terasa lagi maka timbullah kekacauan, pembunuhan dan huru hara.[36]
Jadi berdasarkan keterangan di atas, belum dapat dipastikan kapan tepatnya pelayanan Hosea apakah pada masa pemerintahan raja Yerobeam II atau di akhir pemerintahan raja tersebut. Namun yang pasti pada masa itu, keadaan Israel mengalami kemerosotan moral yang paling cemar yaitu penyembahan berhala, kemunafikan, dan ketidakjujuran yang didukung oleh pemimpin-pemimpin agama, dan terjadi penindasan terhadap rakyat jelata. Itu sebabnya Allah mengutus Hosea, untuk memberitakan penghukuman Israel atas ketidaksetiaan mereka kepada Allah.
2.6.1.      Pribadi Kehidupann Hosea
Hosea berarti “tindakan penyelamatan” atau “penyelamat”. Hosea adalah anak dari Beeri dari suku yahuda. Namun Beeri tidak  ditemukan dalam Perjanjian Lama sebagai nama diri, tetapi ada sebuah desa dekat Betel disebut dengan Beeri.[37] Nabi hosea mengawali karyanya sekitar tahun 750-an, dikerajaan Utara pada zaman pemerintahan raja Yerobeam II. Dalam kitab Hosea 1:1 disebutkan beberapa nama raja-raja Yehuda yang semasa dengan raja Israel yaitu nabi Hosea berkarya sekitar zaman Uzia (781-740 SM).[38] Permulaan pelayanan Hosea sebagai Nabi, ia bekerja bersama seorang temannya yang terkenal yaitu Amos, nabi Gembala. Pelayanan Hosea lebih lama, dan hampir sampai kepada kejatuhan Israel di Utara tahun 721 SM.[39]
Hosea menikah dengan Gomer yaitu perempuan yang amoral tetapi dia sangat mencintainya. Cinta kasih nabi juga kelihatan dari kelahiran anak-anaknya. Perkawinan  dan keluarga hosea merupakan lambing nubuat Allah atas umat Israel pada zaman itu. Hosea memiliki tiga orang anak dan mereka memiliki makna sesuai isi pemberitaan nabi hosea. Anaknya yang pertama bernama Yizreel artinya Tuhan akan menghukum (1:4); Lo rumahi diartikan tidak ada lagi kasih (1:6), Lo ami artinya tidak ada umatku (1:9). Perzinahan yang dilakukan Gomer dan anak-anak adalah sikap Israel yang meninggalkan Allah.[40]
Sumber  dari  Alkitab  mengatakan  bahwa  “Hosea  bin  Beeri  pada  zaman  Uzia, Yotam, Ahas, dan  Hizkia, raja-raja Yehuda, dan  pada  zaman  Yerobeam  bin  Yoas, raja  Israel.”[41]   Sumber  dalam  Alkitab  hanya  memberitahukan  bahwa  nabi  Hosea  melayani  pada  zaman  empat  raja. Hanpir  senada  dengan  sumber  yang  ada  dalam  Alkitab. Menurut  Ensiklopedia  Alkitab  Masa  Kini  “Ia  berasal  dari  wilayah, dan  satu-satunya  nabi  dari  kerajaan  Israel  utara. Tradisi  Yahudi mempertahankan  bahwa  Hosea  adalah  nabi  kononik  pertama.”[42]   Dari  sini  dapat  diketahui  bahwa  nabi  Hosea  ialah  nabi  yang  berasal  Kerajaan  Israel  utara. Hosea  mewartakan  pertobatan  secara  khusus  di wilayah  kerajaan  Israel  utara. Bahkan  nabi  Hosea  adalah  nabi  yanag  disebut  sebagai  nabi  kanonik  pertama.
Ada  berbagai  sumber  yang  mengemukakan  bahwa  masa  pelayanan  nabi  Hosea  sekitar  30-40  tahun. Seperti  asumsi  yang  dinyatkan  oleh  A. Simanjuntak  “Masa  pelayanannya, sebagai  nabi  selama  30 tahun.”[43]  Berbeda  dengan  asumsi  yang  dikemukakan  oleh  Simanjuntak. W.S Lasor  mengemukakan  pendapatnya  bahwa  “ Pelayanan  Hosea  pada  masa  pemerintahan  Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia  di Yehuda  dan  Yerobeam  II  di Israel. Minimum  lamanya  masa  itu  adalah  sekitar 40 tahun.” Ada  pemahaman  dan  penafsiran  yang  berbeda  dari  dua  penulis  buku  ini. Perbedaan  ini  adalah  hal  yang  menarik, karena  dua  tokoh  ini  memandang  dari  dua  sudut  pandang  yang  berbeda  tentang  masa  pelayanan  nabi  Hosea. Selain  masa  pelayanan  dan  darimana  nabi  Hosea  berasal  yang  dikupas, W.S. Lasor  juga  berpendapat  bahwa  nabi  Hosea  adalah “Seorang  yang  berhati  lembut, sehingga  ia  sering  dibandingkan  dengan  Yeremia  dalam  Perjanjian  Lama  dan  dengan  Yohanes  dalam  Perjanjian  Baru. Ia  dikuasai  oleh  kasih  Allah  yang  tak  terbatas  dan  tak  berubah.” [44]   
Sesuatu  yang  menarik  disini  bisa  dilihat  bahwa  nabi  Hosea  memiliki  keprbadian  yang  lemah  lembut. Walaupun  pelayanan  nabi Hosea  berada  diantara  para  orang  berdosa  dan  dikelilingi  oleh  orang-orang  yang  bersundal.  Dari  pendapat  diatas  maka  saya menyimpulkan  bahwa  nabi  Hosea  adalah  nabi  yang  berasal  dari  Kerajaan  Israel  Utara  dan  dijuluki  sebagai  nabi  kanonik  pertama  serta  melayani  selama  40  tahun  di wilayah  Kerajaan  Israel  utara. Nabi  Hosea  memiliki  kepribadian  yang  lemah  lembut  serta  dikuasai  oleh  kasih  Allah  yang  tak  terbatas  dan  tak  berubah.
2.6.2.      Kesetiaan dan Integritas Hamba Tuhan dalam Hosea
Secara keseluruhan pewartaan Nabi Hosea sama dengan pewartaan Amos. Keduanya menyampaikan kecaman atas pelanggaran keadilan dan penindasan bagi kaum lemah, tersingkir yang menunjukkan bagaimana Israel tidak setia terhadap perjanjian dengan Yahwe. Ketidaksetiaan ini menantang Israel untuk kembali setia pada perjanjian itu. Nabi Hosea mewartakan belaskasih Allah kepada umat Israel yang tidak setia pada-Nya, dan mengungkapkan kasihan karena telah menghukum Israel yang melanggar perjanjiaannya dengan Yahwe. Gambaran yang digunakan Nabi Hosea adalah masa pengembaraan di Padang gurun dimana hal ini merupakan pengalaman mesra bersama Yahwe. Selain itu juga Nabi Hosea menggunakan bahasa pengadilan untuk menuntut Israel agar dapat hidup menurut hukum Allah atau menepati kembali perjanjiaannya dengan Yahwe. Allah menghukum umat Israel dengan maksud mengantar Israel kembali kepada-Nya dan mengembalikan sukacita dan kasih yang pernah mereka alami. Kumpulan nubuat-nubuat yang disampaikan Nabi Hosea adalah:
“Dengarlah firman TUHAN, hai orang Israel, sebab TUHAN mempunyai perkara dengan penduduk negeri ini, sebab tidak ada kesetiaan dan tidak ada kasih, dan tidak ada pengenalan akan Allah di negeri ini. Hanya mengutuk, berbahong membunuh, mencuri, berzinah, melakukan kekerasan dan penumpahan darah menyusul penumpahan darah. Sebab itu negeri ini akan berkabung, dan seluruh penduduknya akan merana, juga binatang-binatang di padang dan burung-burung di udara, bahkan ikan-ikan di laut akan mati lenyap" (Hos 4:1-3).
Untuk menyatukan nubuat-nubuat singkat ini, tidak menemukan adanya kesepakatan, maka yang perlu diperhatikan adalah ayat-perayat sesuai dengan konteksnya. Dalam Hos 4:1, yang sangat menonjol adalah soal tuntutan pengadilan, dimana Israel dituntut untuk menjawab perkara, di depan hakim. Dalam hal ini bukan karena Israel melanggar kejahatan khusus, tetapı karena secara umum Israel pantas diadili. Hos 4:2, mengungkapkan kekurangan mutu penghayatan dan cara hidup yaitu menolak mengakui Allah sebagai sumber hidup Israel, yang terdiri dari kutukan, bohong, pembunuhan, pencurian dan kekerasan lainnya. Sedangkan dalam Hos 4:3, gejala alam yang terjadi dan manusia kurang peduli akan hidup sekelilingnya. Hal ini terlihat dimana binatang di padang mati, burung merana, ikan- ikan yang tercemar, semua ini memberi tanda bahwa manusia tidak peduli, tetapi Hosea peka dengan isyarat alam ini.
Pokok pewartaan Nabi Hosea : Israel yang diberi cap sebagai istri pezinah, tidak setia, tidak tahu berterima kasih atas kasih karunia Yahwe, hal ini nampak dalam Hos 1-3; 7:13-6; 11 : 4. Dimana-mana terdapat isyarat kehancuran yang mengancam, ibadat hanya nampak secara lahiriah saja, pemujaan berhala-berhala, kurang beriman kepada Yahwe, kekejaman, pembunuhan dan tindakan kekerasan lainnya. Pada dasarnya Israel kehilangan semangat cinta kepada Yahwe yang sudah mereka hayati sejak keluar dari Mesir, (Hos 11:1-4; 13:4-8). Maka Hosea mewartakan kasih Allah kepada umat Israel yang tidak setia dengan perjanjian Allah, untuk kembali kepada Allah, sebagai umat yang disayangi-Nya.[45] Allah adalah Allah yang penuh kasih dan pengampunan, Allah tidak menghitung-hitung lagi kesalahan umat Israel, tetapi Allah mencintai umat Israel dengan kasih dan kesetiaan-Nya.
"Aku adalah Tuhan Allahmu sejak di tanah Mesir" (Hos 13:4), dari Mesir Kupanggil anak-Ku (Hos 11:1), ini merupakan penegasan yang terkait dengan arah utama untuk mengartikan cerita dan pewartaan yang disampaikan Nabi Hosea, secara teologis dan gagasan kenabian yang sangat menarik. Maksudnya dalam pewartaan Nabi Hosea ini ia berusaha memikat hati umat Israel untuk kembali ke Padang Gurun. Kembali ke Padang Gurun ini merupakan bagian dari tipologi pernikahan Hosea dan perjanjian antara Allah dan umat Israel. Padang Gurun merupakan tempat dimana terjadinya perjanjian antara Allah dan umat Israel yang berfungsi sebagai tempat masa depan pembaharuan pernikahan. Hal ini merupakan Eskatologi Hosea yang digunakan sebagai konsep tentang restorasi Israel di masa depan, yang berpola pada masa lalu.[46]
Dalam Kitab Hosea 11:3-4 dilukiskan bagaan Allah dengan setia selalu memberi makan kepada umat-Nya, seperti seorang ibu yang harus memelthara anaknya yang begitu sulit diurus. Gambaran-gambaran kasih Allah yang lan dalam Kitab Suci melukiskan Allah bagaukan seorang perempuan yang menggeadong memberi makan, melindungs menyembuhkan, mendisiplinkan, (mendidik) menghibur dan menguatkan, mencuci serta mengenakan pakaian bagi anak-anak-Nya.[47]
Ketika penulis membaca Kitab Suci Perjanjian Lama dan Kitab Suci Perjanjian Baru, penulis juga menemukan bagaimana Allah menggambarkan Kasih dan Kesetiaan-Nya kepada umat Israel. Nabi Yesaya 46:3-4, menggambarkan bagaimana Allah menggendong anak-anak-Nya, Yes 66 13-14, mengatakan bagaimana seorang ibu, Allah akan menghibur umat-Nya. Nabi Yehezkiel 36.25, diungkapkan bagaimana Allah membersihkan anak-anak-Nya dani segala macam kotoran. Kitab Kej 3:21, Allah yang membuat pakaian dari kulit binatang bagı Adam dan Hawa serta mengenakannya pada mereka. Kitab Wahyu 21:4, menggambarkan bagaimana Allah menghapus segala air mata dari mata manusia. Dalam Injil Lukas 12:28, melukiskan bagaimana Allah yang mendandani rumput-rumput di ladang juga akan mendandani kita umat-Nya.
Tuhan mengasihi Israel, ketika ia masih muda (Hos 11:1) dan tetap mengasihinya dengan sukarela (Hos 14:5). Hosea adalah Nabi pertama yang berani mengatakan bahwa Allah tidak hanya mengenal dan memilih Israel tetapi juga mengasihi dan mencintainya (kata ahab mencakup kasih dan cinta). Ketidaksetiaan Israel dengan ikatannya pada Baal terjadi di masa lampau, sedangkan kini Tuhan memperhatikan kembali dengan penuh sayang "istri dan anak" yang kelak akan bersatu dengan Allah secara sempurma di tanah yang diberkati Hukuman yang dinyatakan dengan sejelas-jelasnya dan Tuhan yang kcudus mengasihi dan mengasihi umat-Nya serta menjanjikan hidup damai di tanah yang diberkati Kasih Allah bagi Israel bagaikan anak-Nya.[48]
2.7.Refleksi Teologis
Bagi Daniel hanya Tuhan Allah yang dikenalnya sejak kecil yaitu Tuhan Allah yang membebaskan bangsa Israel dari Mesir itulah satu-satunya Tuhan yang patut disembah dan ditaati. Apapun yang terjadi Daniel tidak mau menyembah Allah lain bahkan raja sekalipun karena baginya hormat dan kemuliaan itu hanya bagi Tuhan (Lih Daniel 3). Ia tidak mau menukarkan imannya dengan apapun sebab dia hanya percaya kepada Tuhan sumber penolongnya dan untuk itulah dia tetap setia. Kita sebagai orang percaya juga harus menyadari karya Allah dalam hidup kita, Allah telah memberi kita segalanya, Allah selalu ada didalam setiap aspek kehidupan kita. Sebab sesungguhnya, Allah adalah setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepadaNya dan berpegang pada perintahnya (Ulangan 7:9) dan untuk itulah kita harus merespon kesetiaan Allah itu dengan menggaransi diri kita untuk menjadi orang-orang yang taat dan setia akan perjanjian Tuhan.
“Dalam Kitab Hosea dapat dibagi menjadi dua bagian: (1) Hosea 1:1-3:5 merupakan gambaran seorang istri yang berzinah dan seorang suami yang setia, sebuah simbolik mengenai ketidaksetiaan Israel terhadap Allah melalui penyembahan berhala, dan (2) Hosea 3:6-14:9 merupakan sebuah kecaman terhadap bangsa Israel, terutama Samaria, atas penyembahan berhala mereka, yang pada akhirnya bisa dipulihkan kembali. Bagian pertama kitab ini mengandung tiga sajak yang unik, sebagai ilustrasi bagaimana anak-anak Allah berulang kali kembali kepada penyembahan berhala. Allah memerintahkan Hosea untuk menikahi perempuan sundal, Gomer. Akan tetapi, setelah tiga kali melahirkan anak, ia berpaling dari Hosea kepada kekasihnya yang lain.”
Fokus dari kisah ini dapat dilihat dengan jelas pada pasal pertama, dimana Hosea membandingkan tindakan bangsa Israel saat itu seperti mencampakkan pernikahan dan kembali hidup sebagai pelacur. Hosea juga mengecam bangsa Israel, yang kemudian diikuti janji dan belas kasih Allah. Kitab Hosea merupakan nubuat tentang kasih Allah yang tak kunjung padam bagi anak-anakNya. Sejak semula, ciptaan Allah yang tidak berterima kasih dan tidak layak ini telah menerima kasih, rahmat, dan belas kasihan Allah, tapi tidak pernah bisa menahan diri dari kejahatan. Bagian akhir kitab Hosea menggambarkan bagaimana kasih Allah memulihkan anak-anakNya. Ia melupakan kesalahan mereka ketika mereka berpaling kembali padaNya dengan hati yang bertobat. Hosea juga menubuatkan kedatangan Mesias 700 tahun mendatang. Kitab Hosea sering dikutip dalam Perjanjian Baru. Bayangan: Hosea 2:23 merupakan nubuat dari Allah yang melibatkan kaum non-Yahudi sebagai anakNya sebagaimana tertulis dalam Roma 9:25 dan 1 Petrus 2:10. Bangsa non-Yahudi pada awalnya bukan "umat Allah." Tetapi, melalui belas kasih dan rahmatNya, Ia menyediakan Yesus Kristus, dan melalui iman kepadaNya, kita dicangkokkan ke dalam pohon umatNya (Roma 11:11-18). Ini adalah kebenaran yang luar biasa mengenai Gereja, sesuatu yang bisa dianggap "misteri." Sebelum Kristus datang, umat Allah dianggap hanya bangsa Yahudi. Ketika Kristus datang, bangsa Yahudi dibutakan sementara "sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk" (Roma 11:25).
Dalam Kitab Hosea memberi kita kepastian mengenai kasih Allah yang tak bersyarat bagi umatNya. Akan tetapi, kita juga dapat melihat gambaran bagaimana Allah tidak dihormati dan dibuat murka oleh tindakan anak-anakNya. Bagaimana mungkin seorang anak yang telah dikaruniai kasih, belas kasihan, dan rahmat berkelimpahan memperlakukan Bapaknya dengan begitu tidak hormatnya? Namun, manusia telah melakukan hal itu untuk berabad-abad lamanya. Ketika kita melihat bagaimana bangsa Israel telah berpaling dari Allah, kita hanya perlu bercermin untuk melihat bayangan yang sama pada diri kita. Hanya dengan mengingat betapa banyaknya karya Allah dalam hidup kita, barulah kita bisa menerimaNya sebagai Juruselamat, yang memberi kita kehidupan kekal dalam kemuliaan; bukannya neraka yang sepantasnya kita terima. Betapa pentingnya kita belajar untuk menghormati Sang Pencipta. Hosea telah menunjukkan bahwa ketika kita melakukan kesalahan, jika kita mempunyai hati yang sedih dan berjanji untuk bertobat, maka Allah akan menunjukkan kasihNya yang tak berkesudahan bagi kita (1 Yohanes 1:9).
Jadi, walaupun hamba Tuhan (Pendeta, Sintua, Syamas/Diaken) adalah manusia biasa yang secara iman kedudukannya sama denggan jemaat dihadapan Tuhan, namun Allah memiliki harapan yang besar bagi hambaNya untuk menjadi contoh dan teladan dalam pola hidup sebagai warga kerajaan Allah. Di dalam pelayanannya, tidak jarang hamba itu menghadapi banyak tangtangan dan hambatan bahkan persoalan hidup, terkadang mereka dianiaya, dibenci, ditolak dan di hina bahkan juga persoalan kebutuhan hidup. Namun keadaan inilah Allah menginginkan hamba Tuhan untuk tetap memperlihatkan kesetiaan dan integritas sebagai hamba Tuhan yaitu setia kepada Allah dan hidup rendah hati di hadapan Allah.
III.        Kesimpulan
Integritas dan Kesetiaan ataupun setia adalah ketaatan yang merupakan suatu prinsip yang kokoh dan berpegang teguh untuk tidak meyimpang. Dan hal itu dapat kita lihat dalam kepribadian Daniel dan Hosea yang taat dan beriman kepada Tuhan dalam kesetiaanNya. Dalam setiap pergumulannya dan dalam segala hal yang terjadai dalam hidupnya, Daniel dan Hosea tetap mengandalkan Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai nomor satu dalam hidupnya. Kesetiaan Daniel dan Hosea dapat di imlementasikan dalam integritas dan kesetiaan  hamba Tuhan, bahwa persoalan  itu bukan lah sesuatu yang harus diperdebatkan sehingga memicu konflik, akan tetapi melalui persoalan itu, solidaritas hamba Tuhan dapat lebih meningkat, kesadaran hamba Tuhan untuk menaati tatanan nilai dan moral dapat terlaksana dengan baik, serta menjadi hamab Tuhan yang mengandalkan Tuhan dan mengikutsertakan Tuhan dalam segala aspek kehidupanNya.

IV.        Daftar Pustaka
….Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011.
….KBBI, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2015.
The American Heritage Dictionary of the English Language, Amerika: El-shaddai, 2009.
Andrew, J. Dearman, , The Book Of Hosea, Michigan: William B. Eerdmans Publishing company, 2010.
Baker, David L., mari Menggenal Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
Barken,  David L., Pelayanan Dalam Perjanjian Baru, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013.
Benson, C. H.,  Pengantar  Perjanjian  Lama II, (Jakarta :BPK  Gunung  Mulia,2007.
Boland, B. J., Inti Sari Iman Kristen, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1999.
Boyd, Fran. M., Kitab Nabi-nabi Kecil, (Malang: Gndum Mas, 2006.
Butrick, George Arthur, dkk, The Interpreter 's bible Volune III, 0, 923.
Darmawijaya, Warta Nabi Abad VII, Yogyakarta: Kanisius , 1990.
Dennis, Green, Pembimbing pada Pengenalan Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2001.
Ernst Jenni & Claus Westermann, Theological Lexcion Of The Old Testament, Basel: tp, 1975.
Frommel, C. Barth, M. C. Barth, Teologi Perjanjian Lama 2, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010.
G. Johanes Botterweek dkk (ed), Thealogical Dictionary Of The Old Testament Yolume XV, Cambrid, Eermands Publishing Company 1993.
Gemeren, Willem A. Van, New International Dictionary Of Old Testament Thealogi & Exgetis Volume 4, Amerika: United States, 1997.
Green,  Denis, Pembimbing Kepada Pengalaman Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2004.
Hariman, Gultom, Diktat Kuliah Pengantar Perjanjian Lama Kitab Para Nabi, Batam: Sekolah Tinggi Theologia Basom.
Jaffray, R. A., Tafsiran Kitab Daniel, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2008.
Jepsen, Theological Dictionary of the old Testament vol , Grand Rapids-Michingan: William B. Eerdmas Publishing Company, 1990.
Kakiay, M. Ferry H, Hamba Tuhan Dan Integritas, Banyuwangi: YAPAMA, 2013.
Karris, B. Dianne, CSA. R. J., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yoggyakarta: Kanisius, 2002.
Kristiyanto, E., Sinar Sabda Dalam Prisma Hermeneutika Kontekstual, Yogyakarta: Kanisius, 2005.
W. S., Lasor dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994.
Munadhi, D. Darmawangsa & I., Fight Like A Tiger Win Like A Champion, Jakarta:PT Elex Media Komputindo, 2007.
Packer,  J. I., Taat, Menaati dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II, Jakarta: YKBK-OMF, 2003.
Poerwadarminta, W. J.S., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Bandung: Citra Umbara, 1997.
Rummo, Gregory J., The View From The Grass Roots Another Laok, Enumclay Pleasant World, 1984.
Saragih, Agus Jetron, Kitab Ilahi Pengantar Kitab-kitab Perjanjian Lama, Medan: Bina Media Perintis, 2016.
Scullion, Jhon J., Claus Westernann Genesis 1-11, Amerika: United States, 1984.
Simanjuntak, A., Tafsiran  Alkitab  Masa  Kini  II, Jakarta : Yayasan  Komunikasi  Bina  Kasih,1994.
Thomson, J.G.S.S., Ensiklopedi  Alkitab  Masa  Kini I, peny, H.A. Oposunggu, pen. M.H. Simanungkalit, Jakarta : Bina Kasih,1997),402.
Tim penyusun, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, Jakarta: Gamdum Mas, 2005.
Van Gemeren, Willem A., New International Dictionary Of Old Testament Thealogi & Exgetis Volume 3, Cumbria: Paternoster Press, 1989.
Vine, W.E. dkk, Vine 'S Complete Exspository Dictionary Of Hebrew Words, Amerika: Publishing, 1940.
Walton, Andrew E. Hill & John H., Survei Perjanjian Lama, Jawa Timur: Gandum Mas, 2008.
Webster's New World, Delhi: IDG Books India, 2000.
Westermann, Enst Jenni & Claus, Theological Lexeion Of The Old Testament, 1427.


[1] ….KBBI, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2015), 1295.
[2] The American Heritage Dictionary of the English Language, (Amerika: El-shaddai, 2009), 13.
[3] W. J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Bandung: Citra Umbara, 1997), 383
[4] Webster's New World, (Delhi: IDG Books India, 2000), 742.
[5] Bnd. Gregory J. Rummo, The View From The Grass Roots Another Laok, (Enumclay Pleasant World, 1984), 264
[6] Willem A. VanGemeren, New International Dictionary Of Old Testament Thealogi & Exgetis Volume 3, (Cumbria: Paternoster Press, 1989), 430.
[7] Jepsen, Theological Dictionary of the old Testament vol , (Grand Rapids-Michingan: William B. Eerdmas Publishing Company, 1990), 294.
[8] B. J. Boland, Inti Sari Iman Kristen, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1999), 15.
[9] J. I. Packer, Taat, Menaati dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II, (Jakarta: YKBK-OMF, 2003), 433.
[10] Willem A. Van Gemeren, New International Dictionary Of Old Testament Thealogi & Exgetis Volume 4, (Amerika: United States, 1997), 306.
[11] G. Johanes Botterweek dkk (ed), Thealogical Dictionary Of The Old Testament Yolume XV, (Cambrid, Eermands Publishing Company 1993), 700.
[12] G. Johanes Botterweek dkk (ed), Thealogical Dictionary Of The Old Testament Yolume XV, 710-711.
[13] W.E. Vine dkk, Vine 'S Complete Exspository Dictionary Of Hebrew Words, (Amerika: Publishing, 1940), 281.
[14] W.E. Vine dkk, Vine 'S Complete Exspository Dictionary Of Hebrew Words, 282.
[15] W.E. Vine dkk, Vine 'S Complete Exspository Dictionary Of Hebrew Words, 307.
[16] W.E. Vine dkk, Vine 'S Complete Exspository Dictionary Of Hebrew Words, 307.
[17] Ernst Jenni & Claus Westermann, Theological Lexcion Of The Old Testament, (Basel: tp, 1975). 121
[18] D. Darmawangsa & I. Munadhi, Fight Like A Tiger Win Like A Champion, (Jakarta:PT Elex Media Komputindo, 2007), 271.
[19] G. Johanes Botterweek dkk (ed), Theological Dictionary Of The Old Testament Volume xV. 709.
[20] Jhon J. Scullion, Claus Westernann Genesis 1-11, (Amerika: United States, 1984), 41.
[21] George Arthur Butrick dkk (ed), The Interpreter 's bible Volune III, 0, 923.
[22] Enst Jenni & Claus Westermann, Theological Lexeion Of The Old Testament,1427.
[23] Lasor W. S. dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), 14.
[24] Lasor W. S. dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2, 411.
[25] David L. Baker, mari Menggenal Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 117.
[26] Di dalam kitab Apokaliptik biasanya berisi tentang: 1. Simbol: kitab apokaliptik banyak mengandung symbol-simbol dan biasanya sulit dipahami. Alasannya adalah karena pesan itu sangat terbatas dan terlarang. Kitab Apokaliptik biasanya lahir dalam kontek wilayah dimana umat Tuhan harus menggunakan bahasa Rahasia. 2. Masa yang akan datang: apokaliptik biasanya berisi tentang hal-hal yang akan datang. Meskipun soal yang akan datang tetapi Apokaliptik sangat berhubungan dengan situasi zaman peristiwa itu terjadi. Sehingga dalam memahami kitab Apokaliptik harus menyelidiki isi berita yang akan diungkapkan dan sekaligus hubungannya dengan dunia pada zamannya. 3. Penghiburan: sasaran kitab Apokaliptik adalah menguatkan dan menghibur umat Tuhan. Umat sedang menghadapi masalah besar namun mereka harus kuat dan setia didalam iman. Demi iman mereka mungkin bertarung termaksuk mempertaruhkan nyawanya sekalipun. 4. Kemenangan: inti rahasia adalah orang setia pasti akan memperoleh mahkota kemenangan. Saat itu kerajaan-kerajaan dunia akan diganti dengan kerajaan Allah. Allah akan berkuasa secara mutlak atas umat dan umat akan beroleh hidup yang kekal.  (Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi Pengantar Kitab-kitab Perjanjian Lama, (Medan: Bina Media Perintis, 2016), 212-213).
[27] Dalam pandangan orang yahudi kedudukan/ status Daniel agak berbeda dengan jabatan nabi-nabi yang lain. Seorang nabi adlah yang diangkat oleh Tuhan untuk memberitakan Firman Tuhan kepada bangsa Israel, tetapi Daniel tidak dipanggil Tuhan dengan tugas yang terbatas, melainkan dia menjadi seorang ahli kenegaraan di istana raja-raja asing (Babel dan Persia), sehingga dia tidak melayani bangsanya secara langsung. Sebagai seorang ahli kenegaraan Daniel memang mempunyai karunia seorang Nabi, walaupun dia tidak menjabat sebagai seorang nabi, oleh sebab itu orang yahudi menganggap tulisannya tidak sama dengan tulisan-tulisan lain seperti Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel. Dan menempatkan kitab Daniel bersama-sama dengan Tulisan-tulisan yang tidak menjabat dengan nabi. (Denis Green, Pembimbing Kepada Pengalaman Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 2004), 323).
[28] Tim penyusun, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, (Jakarta: Gamdum Mas, 2005), 1339.
[29] Daniel yang berarti Allah adalah hakimku, diubah menjadi Beltsazar, yang berarti: menjadi hamba dewa bel/tentara baal; Hanya yang berarti karunia Allah, diubah menjadi Sadrakh yang berarti Anugrah baginda (Babel), Misael yang berarti Allah yang maha mulia, diubah menjadi mesakh yang berarti dewa yang maha tinggi dan Azarya yang berarti dilindungi Allah berubah menjadi Abednego yang berarti tentara dewa bintang. Lih. R. A. Jaffray, Tafsiran Kitab Daniel, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2008), 23-25.
[30] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi Pengantar Kitab-kitab Perjanjian Lama, 212-213.
[31] Andrew E. Hill & John H. Walton, Survei Perjanjian Lama, (Jawa Timur: Gandum Mas, 2008), 575.
[32] M. Ferry H Kakiay, Hamba Tuhan Dan Integritas, (Banyuwangi: YAPAMA, 2013), 15.
[33] David L. Barken, Pelayanan Dalam Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013), 51.
[34] Gultom Hariman, Diktat Kuliah Pengantar Perjanjian Lama Kitab Para Nabi, (Batam: Sekolah Tinggi Theologia Basom), 108.
[35] Green Dennis, Pembimbing pada Pengenalan Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 2001), 185.
[36] Frank M Boyd, Kitab Nabi-nabi Kecil, (Malang: Gandum Mas, 2006), 58.
[37] B. Dianne, CSA. R. J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, (Kanisius: Yoggyakarta, 2002), 630.
[38] Darmawijaya, Warta Nabi Abad VII, (Yogyakarta: Kanisius , 1990), 69.
[39] Fran. M. Boyd, Kitab Nabi-nabi Kecil, (Malang: Gndum Mas, 2006), 59.
[40] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi, 168.
[41] ….Alkitab, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 973.
[42] J.G.S.S. Thomson, Ensiklopedi  Alkitab  Masa  Kini I, peny, H.A. Oposunggu, pen. M.H. Simanungkalit, (Jakarta : Bina Kasih,1997),402.
[43] A. Simanjuntak, Tafsiran  Alkitab  Masa  Kini  II, (Jakarta : Yayasan  Komunikasi  Bina  Kasih,1994), 570.
[44] C. H. Benson,  Pengantar  Perjanjian  Lama II, (Jakarta :BPK  Gunung  Mulia,2007), 210.
[45] Darmawijaya, Warta Nabi Abad VII, 70-74.
[46] J. Andrew Dearman, The Book Of Hosea, (Michigan: William B. Eerdmans Publishing company, 2010), 21-22.
[47] E. Kristiyanto, Sinar Sabda Dalam Prisma Hermeneutika Kontekstual, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), 86.
[48] C. Barth, M. C. Barth Frommel, Teologi Perjanjian Lama 2, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 324-325.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar