Kesetiaan
dan Integritas Hamba Tuhan dalam Daniel dan Hosea
I.
Pendahuluan
Fenomena
yang muncul sepanjang zaman adalah sulitnya menemukan orang yang berbuat
seperti hebatnya dia berbicara. Sangat mudah menemukan pikiran-pikiran besar,
amat banyak orang mampu berbicara tegas, tidak teramat sulit menemukan orang
yang berkata benar, tetapi menemukan orang yang beriman dan berbudi luhur, yang
berbicaranya menyatu dengan perbuatannya, yang pintar dan bermoral, dermawan
sekaligus rendah hati, yang berpikir besar sekaligus berjiwa besar sama
sulitnya. Pernyataan ini menyimpulkan bahwa hingga masa kini sulit menemukan
orang-orang yang setia dan berintegritas.
Pada
pembahasan kali ini kita akan membahas bagaimana kesetiaan dan Integritas
Hamaba Tuhan dalam Daniel dan Hosea. serta implementasinya di tengah-tengah
hamba Tuhan. Yang dimana kesetiaan Daniel dan hosea akan mempengaruhi pola
pikir kita bagaimana hidup dalam kasih setia Tuhan, dan untuk hidup dengan
mengandalkan Tuhan dalam setiap aspek hidup kita, terkhusus menjadi hamaba
Tuhan yang taat ditengah-tengah persoalan ini dan bagaimana mengambil sikap
yang baik. Dan untuk lebih lengkapnya mari kita simak pembahasan ini serta
kiranya dapat menambah wawasan kita bersama.
II.
Pembahasan
2.1.Pengertian
Kesetiaan Secara Umum
Kesetiaan mempunyai akar
kata setia yang berarti berpegang teguh pada janji atau pendirian, taat, patuh,
tetap dan teguh hati di (dalam persahabatan), dan kesetiaan berarti keteguhan
hati, ketaatan (dalam persahabatan, perhambaan), kepatuhan.[1]
2.2.Pengertian
Integritas Secara Umum
Kata integritas berasal dari
bahasa Latin yaitu integer yang artinya utuh. Dalam Bahasa Inggris kata
integritas yaitu integrity artinya "moral yang dapat diandalkan" atau
"kejujuran" yang mendapat wujud dalam karakter pribadi yang utuh dan
lengkap. Dalam konsep ini integritas adalah keutuhan yang berasal dari kualitas
sikap seperti kejujuran dan konsistensi karakter.[2]
Jika dihubungkan dengan hal kualitas berarti kondisi pribadi yang tidak lemah
(teguh), tidak mudah terpengaruh oleh keinginan dan godaan. Dalam KBBI
Integritas adalah mutu, sikap, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh
sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan, kejujuran.[3]
Menurut kamus Webster's New World, Integritas adalah mutu atau sifat yang utuh,
keadaan tidak terpecah, tidak terpisah-pisah, sempurna, tidak rusak, sehat dan
tak bernoda secara moral, benar dan Jujur.[4]
Integritas adalah gambaran
pribadi yang kuat dan teguh, memiliki kualitas diri dalam aspek hidup.
Seseorang yang berintegritas tidak mudah menyerah, memiliki pikiran yang utuh
dan lengkap selaras perkataan dengan keinginan tanpa berpura-pura, tidak
tercemar. Integritas adalah bentuk kesetiaan sescorang kepada hal-hal benar
dalam hidupnya: diawasi atau tidak, baik disaat berada di depan orang lain
maupun tidak, baik dalam situasi menyenangkan maupun menyakitkan. Orang yang
memiliki integritas akan tetap setia melakukan yang benar tanpa kepalsuan
karena setiap perkataan, pemikiran dan perbuatan terdapat sinergi yang kuat dan
harmonis. Integritas sebagai kepenuhan kebenaran yang ditandai dengan kebaikan,
keadilan, kemurnian, keteguhan, ketulusan, kejujuran, kesetiaan, ketaatan,
keberanian, kepatuhan dan kepatutan. Paul J. Meyer menyatakan bahwa integritas
itu nyata dan terjangkau mencakup sikap seperti: bertanggungjawab, jujur,
menepati kata-kata, dan kesetiaan.[5]
Jadi saat berbicara tentang integritas tidak pernah lepas dari kepribadian dan
karakter seseorang, yaitu sifat-sifat seperti dapat dipercaya, komitmen,
tanggungjawab, kejujuran, kebenaran dan kesetiaan.
Dari pemaparan di atas saya memberikan
kesimpulan bahwa Integritas itu adalah keutuhan dan konsistensi sikap
(Kepribadian yang utuh) dalam melakukan tindakan yang sesuai dengan
prinsip-prinsip kebenaran sehingga memiliki kualitas diri dalam aspek
kehidupan. Dimana integritas yang berwujud pada karakter pribadi seperti: dapat
dipercaya, komitmen, bertanggungjawab, kejujuran, kebenaran dan kesetiaan dll.
Dan orang yang berintegritas akan setia melakukan hal-hal yang benar dalam
seluruh aspek kehidupannya,
2.3.Pengertian
kesetiaan Menurut Perjanjian Lama
Kata bahasa Ibrani kata
setia disebut dengan אמת (‘mn) yang berarti setia, taat, percaya, menaruh
kepercayaan dalam sehingga mengandung makna bahwa manusia harus percaya kepada
Allah karena Allah itu teguh dan kuat.[6]
Dari kata ‘mn diperoleh kata אמת (emet ) yang
berarti kebenaran.[7]
PL sering memakai kata emeth ini
untuk menunjukkan kesetiaan kepada umatnya, kesetiaan berhubungan erat dengan
kepercayaan dan keyakinan kepada Allah di dalam ketetapan dan keteguhan dengan
segenap hati. Kesetiaan tidak terlepas dari iman dan kepercayaan. Kesetiaan
menyatakan sikap kita terhadap Tuhan sehingga hidup dalam kesetiaan berarti
hidup dalam persekutuhan dengan Tuhan, dengan menaruh kepercayaan sepenuhnya
kepada Dia.[8]
Setia dan taat adalah dua sifat yang harus dimiliki oleh seluruh umat Allah
dalam konteks kehidupannya. Kesetiaan dan ketaatan umat kepada Allah
menggambarkan kepatuhan kepada Allah
sebagai menaati suaraNya melalui pemberian hukum-hukumNya.[9]
2.4.Pengertian
Integritas Menurut Perjanjian Lama
Dalam bahasa lbrani konsep
integritas banyak diungkapkan dari akar kata תמם (tmm). Dalam Perjanjian Lama kata ini
muncul sebanyak 200 kali dalam berbagai bentuk dan fungsinya. Yang di mana kata
ini mengandung arti diantaranya adalah: utuh, tidak bercacat, adil, jujur, sempurna,
damai dll. Kata ini juga menjelaskan sifat dan sikap yang mencerminkan
kebenaran/keaslian atau yang dapat dipercaya.[10]
Secara etimologi kata תמם (tmm) yang
dalam bahasa sematik banyak ditemukan dengan arti dasar "sempurna atau
selesai" dalam Ugar kata ini diterjemahkan sebagai "(be finished)
menyelesaikan" dalam bahasa Aram diterjemahkan "menjadi lengkap,
utuh".[11]
Dalam ranah etika dan
keagamaan kata dalam Ibrani menjelaskan tentang sikap dan jalan hidup yang
"utuh dan lengkap" yang awalnya memberikan contoh pada pemikiran,
perkataan, dan perbuatan diri sendiri yang berhamonisasi atau menyatu dengan
norma-norma hidup yang mengatur manusia. Dalam ranah keagamaan kata ini
eenderung menekankan suatu ploralitas mutlak dari dua cara hidup yang benar atau
yang salah. Kata ini memberikan penjelasan tentang perilaku yang benar, ramah,
tulus, dan setia, baik terhadap diri sendiri dan orang lain. Dalam naskah
gulungan laut mati kata תמם (tmm) banyak
diterjemahkan untuk pengertian etika atau moral. Yang menggambarkan kondisi
sikap atau kepribadian yang selalu menjalankan keinginan Allah yaitu berjalan
dalanm keiuiuran dan tidak mengikuti nafsu dan keinginan sendiri. Dalam kitab
Sirach kata ini hanya muncul sebagai istilah untuk beberapa orang yang benar. Seperti
Henokh dan Nuh (Sirach 44:16-17), dan dalam kitab Qumran dijelaskan tentang
Raja Yosia yang mengabdikan hatinya sepenuhnya untuk Tuhan, ini mengambarkan
bahwa raja Yosia adalah contoh yang berintegritas ia tidak memakai otoritasnya
sebagai raja untuk mengambil keuntungan yang dapat merusak integritasnya."[12]
Dibawah ini akan dijelaskan
bcrbagai bentuk, arti dan fungsi dari akar kata תמם (tmm), yaitu
sebagai berikut:
1.
Kata
kerja תׇּמֵם (tamam)
berarti menjadi lengkap, selesai, sempurna atau memiliki integritas
(berintegritas), kata ini ditemukan dalam bahasa lbrani kuno dan moderen, kata
ini juga ada di kitab Ugarit kuno. ditemukan sebanyak 54 kali dalam bentuk qal
banyak ditemukan dalam kitab Jeremia, Josua, 8 kali dalam bentuk hipil, 2 kali
dalam bentuk hiphil. Dimana bentuk ini memiliki pengertian yang berbeda satu
sama lain, mulai dari menjadi sclesai, dalam arti yang lain "menjadi
sempurna" atau "menjadi tak bercela. Arti dasar dari kata ini adalah menjadi
lengkap atau selesai (1 Raj. 6:22 yang artinya bahwa pembangunan itu sudah
selesai dengan utuh atau lengkap tanpa adalagi penambahan bahan bangunan),
demikian pula dengan akhir dari sebuah pidato yang disampaikan Ayub (Ay. 31:40)
menunjukkan bahwa siklus pidato Ayub adalah "lengkap". Kadang-kadang
kata ini juga dipakai untuk mengungkapkan moral dan etika.[13] Dalam
betuk kata kerja hipil kata ini dikaitkan dengan penyelesaian dari sebuah
tindakan contohnya dalam 2 Raja-Raja 22:4 atau memasak dengan baik (Yeh.24:10).
Dalam pengertian etis kata ini di definisikan dalam kitab Ayub 22:3 yaitu
menggambarkan atau berbuat kebenaran' tidak bercacat (hidup saleh). Dapai
disimpulkan bahwa jika kata dihubungkan dengan binatang maka bermaka "tidak
memiliki cacat fisik", jika kata ini dihubungkan dengan waktu maka akan
bermakna "putaran waktu penuh".[14]
2.
ׇ תׇּמׅים (kata sifat, bentuk nominatif) maka artinya
adalah utuh, sempurna, atau tidak bercacat/bercela. Dalam PL kata ini sering
dikaitkan dengan kultus atau upacara pemberian persembahan kurban. Aturan imam
(Im. 22:21) dalam pemberian kurban ditentukan bahwa setiap korban "harus
tanpa cacat atau cela untuk dapat diterima" (kepadaTuhan); tamim menunjuk
kepada kondisi keutuhan dari kurban persembahan (hewan), yang sehat, tanpa
cacat, dan bebas dari cacat cela (Im. 9: 2; lih Kel.12:5; Bil.6:14; 28:19).
Kata ini juga banyak digunakan untuk menunjukkan hubungan baik antara Allah dan
orang-orang benar (Kej 6:9; 17:1; Ul 18:13; Yos 24:14), demikian juga
kepercayaan dari hubungan yang tulus dan setia di antara mahluk manusia (Hak
9:16; Am 5:10; Yeh 28:15). Persamaan kata ini juga dapat kita temukan dalam
kata yasar (tegak) dan saddig
(benar). Dalam pemahaman yang sama kata ini juga melambangkan orang benar dan
bijaksana. "Karena orang jujurlah akan hidup di tanah dan tidak bercela
akan tetap tinggal di situ (Ams. 2:21). Dalam Perjanjian Lama dijelaskan bahwa
menjadi tamim juga berarti menjadi saleh dan tulus/jujur di hadapan
Tuhan."[15]
3.
Dalam
bentuk kata sifat תׇּם (tam) banyak ditemukan dalam kitab Ayub
dengan arti yang berbeda-beda seperti: tidak bersalah, tidak bercela, tulus,
tenang, damai, saleh, murni, sehat, dll. Dalam kitab Ayub terkhususnya kata ini
memiliki kata dasar yang artinya adalah sempuna, ketika dalam bentuk kata sifat
digunakan untuk mengambarkan Ayub (1:1, 1:8), artinya bahwa dia benar-benar
"sempurna" atau dengan kata lain ia "tidak bercela" atau
memiliki integritas (tidak bersalah secara moral).[16]
Kata תׇּם (tam)
menuniuk kepada sifat seseorang menunjukkan kepatuhan kepada nilai-nilai
kebenaran yang dengan jelas membedakan orang yang takut akan Tuhan dan
orang-orang fasik, mereka disebul tidak bersalah (Mzm. 94:4,5, Ay. 8:20:
9:20-22), yang saleh benar (Ay. 1:1,8 2:3). Kata ini lebih menunjukkan kepada
sifat Allah. Dalam kidung agung 5:2, dan 6: 9 kata ini digunakan dengan
terjemahan istilah dari sayang yaitu tanpa cacat yang sempurna.
4.
Kata
benda dalam bentuk nominatif תּם (tom) yang muncul 25 kali dalam
perjanjian lama biasanya memiliki arti utuh atau lengkap, integritas atau
sempurna. Menunjukkan kepada suatu kualitas dari jiwa/pribadi yang menunjukkan
sikap dan cara bertindak atau sifat seseorang yang melakukan kebenaran dengan
penuh dan tanpa curiga atau dengan ketulussan hati (Kej. 20:5-6, Mzm. 26:1, 11;
101:2, Am. 2:7; 28:6, 1 Raj. 9:4). Kata ini juga menjelaskan tentang keinginan
terdalam dari hidup atau sikap yang menunjukkan keharmonisan antara Allah dan
manusia (Ams.10:9, 13:6; 19:1), dalam literatur kata ini secara abstrak
diterjemahkan sebagai integritas atau kesempurnaan. Kata sifat nominative תֵּמׇּה(Tumma) terkhususnya banyak digunakan dalam kitab Ayub. Kata ini
menggambarkan karakter dan kualitas
hidup yang didasari karena rasa takut akan Tuhan dan dengan prinsif-prinsif
etika seperti kejujuran dan loyalitas yakni Integritas (Ay. 2:3, 9, 27:5). Kata
ini menggambarkan sikap manusia yang konsisten dalam mempertahankan karakter
yang benar dalam segala keadaan atau situasi.[17]
Dalam Perjanjian Lama
tuntutan untuk berintegritas dalam hubungan manusia diterapkan dalam menjaga
hubungan dalam tatanan sosial yang berdasarkan pada status moral yang
ditetapkan oleh Allah, yang mana juga dipengaruhi oleh kehendak Allah sendiri:
Pekerjaan Allah (Ul. 32:4), jalan Allah (2 Sam. 22:31 Ams. 18:31) yang
sempurna. Firman Allah membebaskan (Mzm. 19:8). Karena itu setiap orang hanus
berintegritas pada Allah, Tuhan mereka (UI. 18:13), Dia senang dengan jalan
orang benar (Ams. 11:20), mereka yang bertingkahlaku dengan ketulusan maka
Allah juga memperlakukan mercka dengan ketulusan (2 Sam. 22:26/ Mzm. 18:26). Mereka
yang jalan hidupnya tidak bercela adalah mereka yang berjalan menurut taurat
atau hukum Tuhan (Am. 119:1). Hidup yang berintegritas sangat dijunjung tinggi
dalam Perjanjian Lama, berjalan dalam integritas adalah menjadi dari suatu
harapan (Ay. 4:6), memberikan upah: "Siapa pun yang berjalan dalam
integritas akan berjalan dengan aman (Am. 10:9). Dan hidup berintegritas akan
menuai kemahawujudannya dalam pemeliharaan dan pemberian Tuhan (Ams. 2:7);
keamanan mereka terjamin (Ams. 2:21; 28:18), dipandu untuk hidup (Ams. 11:3),
memperoleh manfaat yang melebihi kekayaan (Ams. 19:1; 28:6). Artinya karakter
terbentuk dari dan akibat pergaulan seseorang dengan Tuhan, yang mengakibatkan
sifat-sifat moral Allah dimiliki oleh orang tersebut.[18]
Dalam Perjanjian lama konsep integritas tidak berarti sempurna tanpa dosa,
karena dalam perjanjian lama tidak pernah mengajarkan bahwa setelah kejatuhan
manusia ke dalam dosa masih ada manusia yang hidup dalam keadaan sempurna tanpa
dosa, tetapi dalam Perjanjian Lama kita melihat bahwa banyak tokoh yang
digambarkan sebagai orang yang tidak bercela atau berintegritas karena: Mereka
telah berpaling dari dosa-dosa mereka, Dosa-dosa mereka telah diampuni oleh
Allah dan mereka bertekad untuk mematuhi kehendak Tuhan, integritas dalam arti
kesempurmaan bukan berarti tanpa dosa.[19]
Dalam Perjanjian Lama Nuh adalah Tamim,
kata tamim yang dipakai untuk Nuh
adalah menggambarkan sikap dan kedudukan Nuh dihadapan Allah. Kata tamim ini
merupakan gambaran sikap atau cara hidup yang benar di hadapan Allah.[20]
Hidupnya terarah pada kebaikan di hadapan Allah. Dan Ayub juga adalah tokoh
yang memiliki integritas dimana integritas yang dimiliki Ayub terlihat dari kesalehannya.
Kesalehannya adalah wujud dari pada integritas Ayub. Dimana dalam situasi dan keadaan
yang sulit sekalipun Ayub masih tetap mampu mempertahankan integritasnya.[21]
Dari penjelasan diatas
penulis menyimpulkan bahwa integritas dalam bahasa Ibrani banyak ditemukan
dalam akar kata תמם (tmm) dengan
beberapa bentuk dan arti serta fungsinya masing-masing. Dalam perjanjian lama
"integrity" (integritas)
berati "Suatu kualitas dari jiwa/pribadi", orang yang benar
"bertindak/ berprilaku di dalam integritas atau sesuai integritas.
Integritas adalah karakter dirinya, dimana integritas mengindikasikan hasil dari
gerak hati/ keinginan jiwa. Ini menunjukkan bahwa integritas adalah sebuah
tindakan manusia yang menunjukkan hubungan yang benar dengan Allah.[22]
Yang dimana integritas akan mewujudkan kepribadian yang menjunjung tinggi
nilai-nilai kebenaran (karakter-karakter yang benar) dalam segala situasi yang
nampak dalam tindakan dan gaya hidup sehari-hari. Sehingga dalam Perjanjian
Lama dijelaskan bahwa manusia yang berintegritas merupakan manusia yang
berjalan dengan hati yang setia atau tulus kepada Allah dan rendah hati kepada
sesama manusia (Ams. 25:21, Kej. 6:9). Implikasi etisnya adalah ia berusaha hidup
benar dalam relasi dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan, tempat
ia hidup.
2.5.Kitab
Daniel
Nama Daniel yang berarti
“Tuhan adalah Hakimku”, Dan berarti
“penghakiman atau hakim”, i adalah
“ku” dan el berarti Allah. Ada juga
tulisan nama Danie’l (dalam bahasa ibrani:דָּנִאֵל) yang dicatat didalam kitab Yehezkiel pasal 14 ayat 14 dan 20,
serta pasal 28 ayat 14 dan selain itu ditemukan pada inskripsi palmyren. Pelafalan “Danie’l” (Allah
adalah Hakimku) lebih mungkin dari pada “Danie’l” Allah adalah hakim), karena
lebih serasi dengan struktur umum nama ibrani.[23]
Daniel adalah seorang muda yang dibawa dari Yerusalem ke Babel oleh
Nebukadnezar untuk dilatih melayani dalam istana raja.[24]
Daniel adalah seorang berpendidikan, dia naik pangkat dari tawanan menjadi
seorang pemimpin di negara asing. Didalam jabatan itu, Daniel selalu
melaksanakan tugasnya dengan baik. Tetapi yang lebih penting lagi ialah
kesetiaannya kepada Allah. Ketiga rekannya: Sadrakh, Mesakh dan Abednego pun
bersikap demikian.[25]
Kitab Daniel adalah salah
satu kitab yang tergolong pada kita sastra yaitu sastra apokaliptik[26]
di dalam PL. kitab apokaliptik adalah kitab yang berisi tentang rahasia-rahasia
kehidupan yang akan datang. Status Daniel dalam kanon Ibrani[27]
menempatkan Daniel dalam kelompok Ketubin
(kitab-kitab) sebab isinya berisi tentang sejarah bangsa-bangsa mulai dari
Mesir, Babel, Persia, dan Romawi. Sedangkan kanon Yunani pada kelompok nebi’im sebab isinya tentang nubuat-nubuat dan
penglihatan-penglihatan. Kitab Daniel berbentuk sastra apokaliptik yang berarti
bahwa berita nubuatnya menyingkapi pernyataan Allah, yang meliputi:
1.
Meliputi
penglihatan, mimpi dan lambing
2.
Untuk
memberikan semangat kepada umat Allah pada masa krisis dalam sejarah
3.
Untuk
membayangkan pengharapan Israel mengenai kemenangan akhir kerajaan Allah dan
keberadaan-Nya dibumi.[28]
2.5.1. Pribadi
Kehidupan Daniel
Daniel dalam bahasa Ibrani danie’l דׇנָיּאַל (hakimku ialah Allahku). Arti lain dari
kata Damiel adalah “Allah adalah maha kuasa”. Hal ini juga terdapat didalam
tulisan Babilonia. Daniel yang diceritakan dalam kitab Daniel adalah orang yang
tertawan yang dibawa ke Babel pada tahun 605 SM, kemudian mendapat kepercayaan
dari Raja Nebudkanezar sehingga diangkat menjadi seorang pejabat penting dalam
kerajaannya. Pada masa pemerintahan Nebudkanezar raja Babel, nama Daniel
beserta ketiga kawan-kawannya diubah ke
dalam bahasa Babel.[29]
Daniel adalah seorang yang lebih tepat dikenal sebagai orang yang berhikmat dan
bijak. Ada beberapa data tentang kemampuan Daniel dalam memahami dan
menafsirkan tulisan atau mimpi misalnya:
·
Menafsirkan
mimpi raja pohon ditebang (2:28-45).
·
Menafsirkan
tulisan yang dilihat (5:26), empat binatang akhir kerajaan dunia yang akan
diganti dengan kerajaan Allah (1:2).
·
Penglihatan
tentang domba dan kambing (8:26), pemulihan tentang Yerusalem (9:25).
Diperkirakan Daniel dibuang
ke Babel pada masa muda (1:6 bnd. Yeh. 4:14, 20, 28), atau pada masa penaklukan
Yerusalem oleh Nebukadnezar tahun 603 sM. Di Babel dia menafsirkan mimpi
Nebukadnezar tahun 603, hingga tahun 598 sM masih melayani sebagai pegawai di
Babel.[30]
Daniel tidak hanya menduduki jabatan penting pada masa pemerintahan
Nebukadnezar (Kerajaan Babilonia) tetapi reputasinya tetap bertahan, bahkan
ketika kerajaan Babilonia runtuh dikelilinginya; meskipun sudah semakin tua,
karirnya mencapai puncaknya pada waktu ia ditetapkan sebagai salah satu pejabat
tinggi tiga serangkai yang menduduki jabatan kedua sesudah raja dalam kerajaan
Media-persia yang sedang berkembang.[31]
Didalam Alkitab, nama Daniel tersapat dalam beberapa nats, antara lain dalam 1
Tawarikh 3:1;nama Daniel disebutkan sebagai salah satu keturunan Daud (anak
Daud yang kedua) dari Abigail, yang disebut juga “Khileab”, dalam Ezra 8:2
Daniel disebutkan sebagai seorang turunan Imamar yang mempunyai Ezra dan
sebagai penandatangan (yang membubuhi materai) pada perjanjian (Neh. 10:1,
6-7). Daniel juga disebut sebagai seorang yang hikmatnya dan kebenarannya luar
biasa, yang namanya digabungkan dengan Nuh dan Ayub (Yeh. 14:14, 20;28:3). Daniel
juga dikategorikan selaku orang yang bijaksana bersama-sama dengan Nuh dan
Ayub. Seterusnya ia dikenal sebagai seorang yang luar biasa, lebih dari
ahli-ahli Babel.
Dapat penyaji simpulkan
bahwa Daniel adalah seorang Yehudi (yang dibawa dari Yerusalem pada masa ke
Babel) yang awalnya dilatih di babel bersama dengan teman-temannya pada masa
pemerintahan Nebukadnezar untuk dilatih melayani di istana kerajaan. Dalam
kitab Daniel sendiri ia digambarkan sebagai sosok yang berhikmat dan bijaksana
hal ini dibuktikan dari kepintaran dalam menterjemahkan atau menafsirkan
mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan. Dari pengalaman Daniel yang luar biasa
ia juga digambarkan sebagai sosok teladan yang tetap setia dan berani
mempertahankan imamnya meskipun nyawa yang menjadi taruhan dan Daniel selalu
mendapatkan jabatan-jabatan tinggi.
2.5.2. Kesetiaan
dan Integritas Hamba Tuhan dalam Daniel
Hamba Tuhan adalah manusia
biasa, yang secara iman dan kedudukannya sama dengan jemaat di hadapan Tuhan,
namun Allah memiliki harapan besar bagi hamba-hamba-Nya untuk menjadi contoh
dan teladan dalam pola hidup sebagai hamba Tuhan. Hidup menjadi teladan berarti
hidup berinteritas di hadapan Allah, artinya dalam kehidupannya hamba Tuhan
harus membagun integritas. Integritas merupakan sesuatu hal yang sangat penting
untuk dimiliki oleh semua orang terkhususnya seorang yang dipanggil untuk
menjadi seorang hamba Tuhan. Karena kunci keberhasilan pelayanan sangatlah
dipengaruhi oleh integritas yang dimiliki. Sebagai seorang hamba Tuhan maka
harus menunjukkan integritas atau hidup berintegritas dalam setiap situasi
bahkan ditengah situasi yang sulit sekalipun tanpa berkompromi bahkan hanyut
dalam ancaman serta kenyamana.[32]
Seseorang yang memiliki
integritas akan selalu memperlihatkan tanggung jawabnya dalam aspek
kehidupannya. Terkhusunya juga tanggung jawab seorang hamba Tuhan dalam hal
pelayanan, sama dengan apa yang dipraktekkan oleh Daniel. Banyak hamba Tuhan
yang telah hilang ciri khasnya. Banyak hamba Tuhan yang hanya mementingkan
kepentingan sendiri dan mulai melupakan tanggung jawabnya sebagai hamba Tuhan.
Inilah sebagian kegiatan hamba Tuhan dengan alasan bahwa mereka harus
menyekolahkan anak-anakNya dan memikirkan masa depan. Integgritas seorang hamba
Tuhan juga harus lebih takut kepada Tuhan ketimbang kepada para pejabat atau
penguasa. Namun dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang yang menyebut dirinya
hamba Tuhan menjadi lebih takut kepada pejabat atau penguasa ketimbang kepada
Tuhan. Ini sering terjadi karena kepentingan diri sendiri, sehingga tidak lagi
menyuarakan suara Tuhan tetapi menyuarakan kepentingan pejabat.[33]
Jadi seorang Daniel telah
memperlihatkan kepada kita bagaimana menjadi seorang hamba Tuhan yang berintegritas
dan yang mempunyai kesetiaan kepada Tuhan dan menjadi hamba Tuhan yang kuat di
dalam iman dan menjadi hamba Tuhan yang teguh akan hukum Tuhan dengan sikap
yang takut akan Tuhan.
2.6.Kitab
Hosea
Nama Hosea berarti
“keselamatan”. Keterangan tentang nabi Hosea tidak terlalu banyak, Nabi Hosea adalah nabi kitab satu-satunya
yang berasal dari kerajaan utara (Israel). Hosea memberi tekanan pada dua hal :
(1) kasih-setia Tuhan, dan (2) ketidaksetiaan bangsa Israel. Kedua hal tadi
tercermin dalam hidup perkawinan sang nabi sendiri.[34]
Permulaan pelayanan Hosea sebagai nabi bertepatan dengan teman sekerjanya yang
terkenal yaitu Amos. Sebagai orang yang sezaman dengan Amos, dia melayani
paling sedikit 30 tahun, barangkali mulai dari akhir masa pemerintahan Yerobeam
II, raja Israel (th. 782-753 SM) dan berakhir dengan keruntuhan Samaria pada
th.722 SM.[35]
Pada waktu itu kerajaan Israel menuju keruntuhannya. Namun Frank Boyd dalam
bukunya Kitab Nabi-Nabi Kecil mencatat bahwa pada waktu Hosea memulai
pelayanannya, Israel sangat makmur dan berhasil yaitu pada masa pemerintahan
raja Yerobeam II. Memang secara akhlak dan jasmani bangsa itu lemah dan
semata-mata cabul. Namun ketika Yerobeam meninggal dunia dan tangannya yang
kuat yang telah mencegah pergolakan dan pelanggaran hukum bangsa itu, tidak
terasa lagi maka timbullah kekacauan, pembunuhan dan huru hara.[36]
Jadi berdasarkan keterangan
di atas, belum dapat dipastikan kapan tepatnya pelayanan Hosea apakah pada masa
pemerintahan raja Yerobeam II atau di akhir pemerintahan raja tersebut. Namun
yang pasti pada masa itu, keadaan Israel mengalami kemerosotan moral yang
paling cemar yaitu penyembahan berhala, kemunafikan, dan ketidakjujuran yang
didukung oleh pemimpin-pemimpin agama, dan terjadi penindasan terhadap rakyat
jelata. Itu sebabnya Allah mengutus Hosea, untuk memberitakan penghukuman
Israel atas ketidaksetiaan mereka kepada Allah.
2.6.1. Pribadi
Kehidupann Hosea
Hosea berarti “tindakan
penyelamatan” atau “penyelamat”. Hosea adalah anak dari Beeri dari suku yahuda.
Namun Beeri tidak ditemukan dalam
Perjanjian Lama sebagai nama diri, tetapi ada sebuah desa dekat Betel disebut
dengan Beeri.[37]
Nabi hosea mengawali karyanya sekitar tahun 750-an, dikerajaan Utara pada zaman
pemerintahan raja Yerobeam II. Dalam kitab Hosea 1:1 disebutkan beberapa nama
raja-raja Yehuda yang semasa dengan raja Israel yaitu nabi Hosea berkarya
sekitar zaman Uzia (781-740 SM).[38]
Permulaan pelayanan Hosea sebagai Nabi, ia bekerja bersama seorang temannya
yang terkenal yaitu Amos, nabi Gembala. Pelayanan Hosea lebih lama, dan hampir
sampai kepada kejatuhan Israel di Utara tahun 721 SM.[39]
Hosea menikah dengan Gomer
yaitu perempuan yang amoral tetapi dia sangat mencintainya. Cinta kasih nabi
juga kelihatan dari kelahiran anak-anaknya. Perkawinan dan keluarga hosea merupakan lambing nubuat
Allah atas umat Israel pada zaman itu. Hosea memiliki tiga orang anak dan
mereka memiliki makna sesuai isi pemberitaan nabi hosea. Anaknya yang pertama
bernama Yizreel artinya Tuhan akan
menghukum (1:4); Lo rumahi diartikan
tidak ada lagi kasih (1:6), Lo ami
artinya tidak ada umatku (1:9). Perzinahan yang dilakukan Gomer dan anak-anak
adalah sikap Israel yang meninggalkan Allah.[40]
Sumber dari
Alkitab mengatakan bahwa
“Hosea bin Beeri
pada zaman Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia, raja-raja Yehuda, dan pada
zaman Yerobeam bin
Yoas, raja Israel.”[41] Sumber
dalam Alkitab hanya
memberitahukan bahwa nabi
Hosea melayani pada
zaman empat raja. Hanpir
senada dengan sumber
yang ada dalam
Alkitab. Menurut
Ensiklopedia Alkitab Masa
Kini “Ia berasal
dari wilayah, dan satu-satunya nabi
dari kerajaan Israel
utara. Tradisi Yahudi
mempertahankan bahwa Hosea
adalah nabi kononik
pertama.”[42] Dari
sini dapat diketahui
bahwa nabi Hosea
ialah nabi yang
berasal Kerajaan Israel
utara. Hosea mewartakan pertobatan
secara khusus di wilayah
kerajaan Israel utara. Bahkan
nabi Hosea adalah
nabi yanag disebut
sebagai nabi kanonik
pertama.
Ada berbagai
sumber yang mengemukakan
bahwa masa pelayanan
nabi Hosea sekitar
30-40 tahun. Seperti asumsi
yang dinyatkan oleh
A. Simanjuntak “Masa pelayanannya, sebagai nabi
selama 30 tahun.”[43] Berbeda
dengan asumsi yang
dikemukakan oleh Simanjuntak. W.S Lasor mengemukakan
pendapatnya bahwa “ Pelayanan
Hosea pada masa
pemerintahan Uzia, Yotam, Ahas,
dan Hizkia di Yehuda dan
Yerobeam II di Israel. Minimum lamanya
masa itu adalah
sekitar 40 tahun.” Ada
pemahaman dan penafsiran
yang berbeda dari
dua penulis buku
ini. Perbedaan ini adalah
hal yang menarik, karena dua tokoh
ini memandang dari
dua sudut pandang
yang berbeda tentang
masa pelayanan nabi
Hosea. Selain masa pelayanan
dan darimana nabi
Hosea berasal yang
dikupas, W.S. Lasor juga berpendapat
bahwa nabi Hosea
adalah “Seorang yang berhati
lembut, sehingga ia sering
dibandingkan dengan Yeremia
dalam Perjanjian Lama
dan dengan Yohanes
dalam Perjanjian Baru. Ia
dikuasai oleh kasih
Allah yang tak terbatas dan
tak berubah.” [44]
Sesuatu yang
menarik disini bisa
dilihat bahwa nabi
Hosea memiliki keprbadian
yang lemah lembut. Walaupun pelayanan
nabi Hosea berada diantara
para orang berdosa
dan dikelilingi oleh
orang-orang yang bersundal.
Dari pendapat diatas
maka saya menyimpulkan bahwa
nabi Hosea adalah
nabi yang berasal
dari Kerajaan Israel
Utara dan dijuluki
sebagai nabi kanonik
pertama serta melayani
selama 40 tahun
di wilayah Kerajaan Israel
utara. Nabi Hosea memiliki
kepribadian yang lemah
lembut serta dikuasai
oleh kasih Allah
yang tak terbatas
dan tak berubah.
2.6.2. Kesetiaan
dan Integritas Hamba Tuhan dalam Hosea
Secara keseluruhan pewartaan
Nabi Hosea sama dengan pewartaan Amos. Keduanya
menyampaikan kecaman atas pelanggaran keadilan dan penindasan bagi kaum lemah, tersingkir yang
menunjukkan bagaimana Israel tidak setia terhadap perjanjian dengan Yahwe. Ketidaksetiaan ini menantang Israel untuk
kembali setia pada perjanjian itu.
Nabi Hosea mewartakan belaskasih Allah kepada umat Israel yang tidak setia pada-Nya, dan mengungkapkan kasihan karena telah
menghukum Israel yang melanggar
perjanjiaannya dengan Yahwe. Gambaran yang digunakan Nabi Hosea adalah masa pengembaraan di Padang gurun dimana hal ini
merupakan pengalaman mesra bersama
Yahwe. Selain itu juga Nabi Hosea menggunakan bahasa pengadilan untuk menuntut Israel agar dapat hidup menurut hukum
Allah atau menepati kembali
perjanjiaannya dengan Yahwe. Allah menghukum umat Israel dengan maksud mengantar Israel kembali kepada-Nya dan mengembalikan
sukacita dan kasih yang pernah
mereka alami. Kumpulan nubuat-nubuat yang disampaikan Nabi Hosea adalah:
“Dengarlah firman TUHAN, hai orang Israel, sebab TUHAN
mempunyai perkara dengan penduduk negeri ini, sebab tidak ada kesetiaan dan
tidak ada kasih, dan tidak ada pengenalan akan Allah di negeri ini. Hanya mengutuk,
berbahong membunuh, mencuri, berzinah, melakukan kekerasan dan penumpahan darah
menyusul penumpahan darah. Sebab itu negeri ini akan berkabung, dan seluruh
penduduknya akan merana, juga binatang-binatang di padang dan burung-burung di
udara, bahkan ikan-ikan di laut akan mati lenyap" (Hos 4:1-3).
Untuk menyatukan
nubuat-nubuat singkat ini, tidak menemukan adanya kesepakatan, maka yang perlu
diperhatikan adalah ayat-perayat sesuai dengan konteksnya. Dalam Hos 4:1, yang
sangat menonjol adalah soal tuntutan pengadilan, dimana Israel dituntut untuk
menjawab perkara, di depan hakim. Dalam hal ini bukan karena Israel melanggar
kejahatan khusus, tetapı karena secara umum Israel pantas diadili. Hos 4:2,
mengungkapkan kekurangan mutu penghayatan dan cara hidup yaitu menolak mengakui
Allah sebagai sumber hidup Israel, yang terdiri dari kutukan, bohong,
pembunuhan, pencurian dan kekerasan lainnya. Sedangkan dalam Hos 4:3, gejala
alam yang terjadi dan manusia kurang peduli akan hidup sekelilingnya. Hal ini
terlihat dimana binatang di padang mati, burung merana, ikan- ikan yang
tercemar, semua ini memberi tanda bahwa manusia tidak peduli, tetapi Hosea peka
dengan isyarat alam ini.
Pokok pewartaan Nabi Hosea :
Israel yang diberi cap sebagai istri pezinah, tidak setia, tidak tahu berterima
kasih atas kasih karunia Yahwe, hal ini nampak dalam Hos 1-3; 7:13-6; 11 : 4.
Dimana-mana terdapat isyarat kehancuran yang mengancam, ibadat hanya nampak
secara lahiriah saja, pemujaan berhala-berhala, kurang beriman kepada Yahwe,
kekejaman, pembunuhan dan tindakan kekerasan lainnya. Pada dasarnya Israel
kehilangan semangat cinta kepada Yahwe yang sudah mereka hayati sejak keluar
dari Mesir, (Hos 11:1-4; 13:4-8). Maka Hosea mewartakan kasih Allah kepada umat
Israel yang tidak setia dengan perjanjian Allah, untuk kembali kepada Allah, sebagai
umat yang disayangi-Nya.[45]
Allah adalah Allah yang penuh kasih dan pengampunan, Allah tidak menghitung-hitung
lagi kesalahan umat Israel, tetapi Allah mencintai umat Israel dengan kasih dan
kesetiaan-Nya.
"Aku adalah Tuhan
Allahmu sejak di tanah Mesir" (Hos 13:4), dari Mesir Kupanggil anak-Ku
(Hos 11:1), ini merupakan penegasan yang terkait dengan arah utama untuk
mengartikan cerita dan pewartaan yang disampaikan Nabi Hosea, secara teologis
dan gagasan kenabian yang sangat menarik. Maksudnya dalam pewartaan Nabi Hosea
ini ia berusaha memikat hati umat Israel untuk kembali ke Padang Gurun. Kembali
ke Padang Gurun ini merupakan bagian dari tipologi pernikahan Hosea dan
perjanjian antara Allah dan umat Israel. Padang Gurun merupakan tempat dimana
terjadinya perjanjian antara Allah dan umat Israel yang berfungsi sebagai
tempat masa depan pembaharuan pernikahan. Hal ini merupakan Eskatologi Hosea
yang digunakan sebagai konsep tentang restorasi Israel di masa depan, yang
berpola pada masa lalu.[46]
Dalam Kitab Hosea 11:3-4
dilukiskan bagaan Allah dengan setia selalu memberi makan kepada umat-Nya,
seperti seorang ibu yang harus memelthara anaknya yang begitu sulit diurus.
Gambaran-gambaran kasih Allah yang lan dalam Kitab Suci melukiskan Allah
bagaukan seorang perempuan yang menggeadong memberi makan, melindungs menyembuhkan,
mendisiplinkan, (mendidik) menghibur dan menguatkan, mencuci serta mengenakan pakaian
bagi anak-anak-Nya.[47]
Ketika penulis membaca Kitab
Suci Perjanjian Lama dan Kitab Suci Perjanjian Baru, penulis juga menemukan
bagaimana Allah menggambarkan Kasih dan Kesetiaan-Nya kepada umat Israel. Nabi
Yesaya 46:3-4, menggambarkan bagaimana Allah menggendong anak-anak-Nya, Yes 66
13-14, mengatakan bagaimana seorang ibu, Allah akan menghibur umat-Nya. Nabi
Yehezkiel 36.25, diungkapkan bagaimana Allah membersihkan anak-anak-Nya dani
segala macam kotoran. Kitab Kej 3:21, Allah yang membuat pakaian dari kulit
binatang bagı Adam dan Hawa serta mengenakannya pada mereka. Kitab Wahyu 21:4,
menggambarkan bagaimana Allah menghapus segala air mata dari mata manusia.
Dalam Injil Lukas 12:28, melukiskan bagaimana Allah yang mendandani rumput-rumput
di ladang juga akan mendandani kita umat-Nya.
Tuhan mengasihi Israel,
ketika ia masih muda (Hos 11:1) dan tetap mengasihinya dengan sukarela (Hos
14:5). Hosea adalah Nabi pertama yang berani mengatakan bahwa Allah tidak hanya
mengenal dan memilih Israel tetapi juga mengasihi dan mencintainya (kata ahab
mencakup kasih dan cinta). Ketidaksetiaan Israel dengan ikatannya pada Baal
terjadi di masa lampau, sedangkan kini Tuhan memperhatikan kembali dengan penuh
sayang "istri dan anak" yang kelak akan bersatu dengan Allah secara
sempurma di tanah yang diberkati Hukuman yang dinyatakan dengan
sejelas-jelasnya dan Tuhan yang kcudus mengasihi dan mengasihi umat-Nya serta
menjanjikan hidup damai di tanah yang diberkati Kasih Allah bagi Israel
bagaikan anak-Nya.[48]
2.7.Refleksi
Teologis
Bagi Daniel hanya Tuhan Allah yang dikenalnya
sejak kecil yaitu Tuhan Allah yang membebaskan bangsa Israel dari Mesir itulah
satu-satunya Tuhan yang patut disembah dan ditaati. Apapun yang terjadi Daniel
tidak mau menyembah Allah lain bahkan raja sekalipun karena baginya hormat dan
kemuliaan itu hanya bagi Tuhan (Lih Daniel 3). Ia tidak mau menukarkan imannya
dengan apapun sebab dia hanya percaya kepada Tuhan sumber penolongnya dan untuk
itulah dia tetap setia. Kita sebagai orang percaya juga harus menyadari karya
Allah dalam hidup kita, Allah telah memberi kita segalanya, Allah selalu ada
didalam setiap aspek kehidupan kita. Sebab sesungguhnya, Allah adalah setia,
yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih
kepadaNya dan berpegang pada perintahnya (Ulangan 7:9) dan untuk itulah kita
harus merespon kesetiaan Allah itu dengan menggaransi diri kita untuk menjadi
orang-orang yang taat dan setia akan perjanjian Tuhan.
“Dalam Kitab Hosea dapat dibagi menjadi dua
bagian: (1) Hosea 1:1-3:5 merupakan gambaran seorang istri yang berzinah dan
seorang suami yang setia, sebuah simbolik mengenai ketidaksetiaan Israel
terhadap Allah melalui penyembahan berhala, dan (2) Hosea 3:6-14:9 merupakan
sebuah kecaman terhadap bangsa Israel, terutama Samaria, atas penyembahan
berhala mereka, yang pada akhirnya bisa dipulihkan kembali. Bagian pertama
kitab ini mengandung tiga sajak yang unik, sebagai ilustrasi bagaimana
anak-anak Allah berulang kali kembali kepada penyembahan berhala. Allah
memerintahkan Hosea untuk menikahi perempuan sundal, Gomer. Akan tetapi,
setelah tiga kali melahirkan anak, ia berpaling dari Hosea kepada kekasihnya
yang lain.”
Fokus dari kisah ini dapat dilihat dengan jelas
pada pasal pertama, dimana Hosea membandingkan tindakan bangsa Israel saat itu
seperti mencampakkan pernikahan dan kembali hidup sebagai pelacur. Hosea juga
mengecam bangsa Israel, yang kemudian diikuti janji dan belas kasih Allah. Kitab
Hosea merupakan nubuat tentang kasih Allah yang tak kunjung padam bagi
anak-anakNya. Sejak semula, ciptaan Allah yang tidak berterima kasih dan tidak
layak ini telah menerima kasih, rahmat, dan belas kasihan Allah, tapi tidak
pernah bisa menahan diri dari kejahatan. Bagian akhir kitab Hosea menggambarkan
bagaimana kasih Allah memulihkan anak-anakNya. Ia melupakan kesalahan mereka
ketika mereka berpaling kembali padaNya dengan hati yang bertobat. Hosea juga
menubuatkan kedatangan Mesias 700 tahun mendatang. Kitab Hosea sering dikutip
dalam Perjanjian Baru. Bayangan: Hosea 2:23 merupakan nubuat dari Allah yang
melibatkan kaum non-Yahudi sebagai anakNya sebagaimana tertulis dalam Roma 9:25
dan 1 Petrus 2:10. Bangsa non-Yahudi pada awalnya bukan "umat Allah."
Tetapi, melalui belas kasih dan rahmatNya, Ia menyediakan Yesus Kristus, dan
melalui iman kepadaNya, kita dicangkokkan ke dalam pohon umatNya (Roma
11:11-18). Ini adalah kebenaran yang luar biasa mengenai Gereja, sesuatu yang
bisa dianggap "misteri." Sebelum Kristus datang, umat Allah dianggap
hanya bangsa Yahudi. Ketika Kristus datang, bangsa Yahudi dibutakan sementara
"sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk" (Roma
11:25).
Dalam Kitab Hosea memberi kita kepastian
mengenai kasih Allah yang tak bersyarat bagi umatNya. Akan tetapi, kita juga
dapat melihat gambaran bagaimana Allah tidak dihormati dan dibuat murka oleh
tindakan anak-anakNya. Bagaimana mungkin seorang anak yang telah dikaruniai
kasih, belas kasihan, dan rahmat berkelimpahan memperlakukan Bapaknya dengan
begitu tidak hormatnya? Namun, manusia telah melakukan hal itu untuk
berabad-abad lamanya. Ketika kita melihat bagaimana bangsa Israel telah
berpaling dari Allah, kita hanya perlu bercermin untuk melihat bayangan yang
sama pada diri kita. Hanya dengan mengingat betapa banyaknya karya Allah dalam
hidup kita, barulah kita bisa menerimaNya sebagai Juruselamat, yang memberi
kita kehidupan kekal dalam kemuliaan; bukannya neraka yang sepantasnya kita
terima. Betapa pentingnya kita belajar untuk menghormati Sang Pencipta. Hosea
telah menunjukkan bahwa ketika kita melakukan kesalahan, jika kita mempunyai
hati yang sedih dan berjanji untuk bertobat, maka Allah akan menunjukkan
kasihNya yang tak berkesudahan bagi kita (1 Yohanes 1:9).
Jadi, walaupun hamba Tuhan (Pendeta, Sintua,
Syamas/Diaken) adalah manusia biasa yang secara iman kedudukannya sama denggan
jemaat dihadapan Tuhan, namun Allah memiliki harapan yang besar bagi hambaNya
untuk menjadi contoh dan teladan dalam pola hidup sebagai warga kerajaan Allah.
Di dalam pelayanannya, tidak jarang hamba itu menghadapi banyak tangtangan dan
hambatan bahkan persoalan hidup, terkadang mereka dianiaya, dibenci, ditolak
dan di hina bahkan juga persoalan kebutuhan hidup. Namun keadaan inilah Allah
menginginkan hamba Tuhan untuk tetap memperlihatkan kesetiaan dan integritas
sebagai hamba Tuhan yaitu setia kepada Allah dan hidup rendah hati di hadapan
Allah.
III.
Kesimpulan
Integritas dan Kesetiaan
ataupun setia adalah ketaatan yang merupakan suatu prinsip yang kokoh dan
berpegang teguh untuk tidak meyimpang. Dan hal itu dapat kita lihat dalam
kepribadian Daniel dan Hosea yang taat dan beriman kepada Tuhan dalam
kesetiaanNya. Dalam setiap pergumulannya dan dalam segala hal yang terjadai
dalam hidupnya, Daniel dan Hosea tetap mengandalkan Tuhan dan menjadikan Tuhan
sebagai nomor satu dalam hidupnya. Kesetiaan Daniel dan Hosea dapat di
imlementasikan dalam integritas dan kesetiaan hamba Tuhan, bahwa persoalan itu bukan lah sesuatu yang harus diperdebatkan
sehingga memicu konflik, akan tetapi melalui persoalan itu, solidaritas hamba
Tuhan dapat lebih meningkat, kesadaran hamba Tuhan untuk menaati tatanan nilai
dan moral dapat terlaksana dengan baik, serta menjadi hamab Tuhan yang
mengandalkan Tuhan dan mengikutsertakan Tuhan dalam segala aspek kehidupanNya.
IV.
Daftar Pustaka
….Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011.
….KBBI, Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2015.
…The American Heritage
Dictionary of the English Language, Amerika: El-shaddai, 2009.
Andrew, J. Dearman, , The Book Of Hosea, Michigan: William B.
Eerdmans Publishing company, 2010.
Baker, David L., mari
Menggenal Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
Barken, David
L., Pelayanan Dalam Perjanjian Baru, Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2013.
Benson,
C. H., Pengantar
Perjanjian Lama II, (Jakarta
:BPK Gunung Mulia,2007.
Boland,
B. J., Inti Sari Iman Kristen, Jakarta:
BPK-Gunung Mulia, 1999.
Boyd, Fran. M., Kitab
Nabi-nabi Kecil, (Malang: Gndum Mas, 2006.
Butrick,
George Arthur, dkk, The Interpreter 's
bible Volune III, 0, 923.
Darmawijaya, Warta
Nabi Abad VII, Yogyakarta: Kanisius , 1990.
Dennis,
Green, Pembimbing pada Pengenalan
Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2001.
Ernst Jenni
& Claus Westermann, Theological Lexcion Of The Old Testament, Basel: tp,
1975.
Frommel, C. Barth, M. C. Barth, Teologi Perjanjian Lama 2, Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2010.
G. Johanes
Botterweek dkk (ed), Thealogical
Dictionary Of The Old Testament Yolume XV, Cambrid, Eermands Publishing
Company 1993.
Gemeren, Willem
A. Van, New International Dictionary Of
Old Testament Thealogi & Exgetis Volume 4, Amerika: United States,
1997.
Green, Denis, Pembimbing
Kepada Pengalaman Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2004.
Hariman,
Gultom, Diktat Kuliah Pengantar
Perjanjian Lama Kitab Para Nabi, Batam: Sekolah Tinggi Theologia Basom.
Jaffray, R. A., Tafsiran
Kitab Daniel, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2008.
Jepsen, Theological Dictionary of the old Testament vol , Grand
Rapids-Michingan: William B. Eerdmas Publishing Company, 1990.
Kakiay,
M. Ferry H, Hamba Tuhan Dan Integritas, Banyuwangi:
YAPAMA, 2013.
Karris, B. Dianne, CSA. R. J., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yoggyakarta: Kanisius, 2002.
Kristiyanto,
E., Sinar Sabda Dalam Prisma Hermeneutika
Kontekstual, Yogyakarta: Kanisius, 2005.
W. S., Lasor dkk, Pengantar
Perjanjian Lama 2, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994.
Munadhi, D.
Darmawangsa & I., Fight Like A Tiger
Win Like A Champion, Jakarta:PT Elex Media Komputindo, 2007.
Packer, J. I., Taat,
Menaati dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II, Jakarta: YKBK-OMF,
2003.
Poerwadarminta,
W. J.S., Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Bandung: Citra Umbara, 1997.
Rummo, Gregory
J., The View From The Grass Roots Another
Laok, Enumclay Pleasant World, 1984.
Saragih,
Agus Jetron, Kitab Ilahi Pengantar
Kitab-kitab Perjanjian Lama, Medan: Bina Media Perintis, 2016.
Scullion,
Jhon J., Claus Westernann Genesis 1-11,
Amerika: United States, 1984.
Simanjuntak, A., Tafsiran
Alkitab Masa Kini
II, Jakarta : Yayasan
Komunikasi Bina Kasih,1994.
Thomson, J.G.S.S., Ensiklopedi
Alkitab Masa Kini I, peny, H.A. Oposunggu, pen. M.H.
Simanungkalit, Jakarta : Bina Kasih,1997),402.
Tim penyusun, Alkitab
Penuntun Hidup Berkelimpahan, Jakarta: Gamdum Mas, 2005.
Van
Gemeren, Willem A., New International
Dictionary Of Old Testament Thealogi & Exgetis Volume 3, Cumbria:
Paternoster Press, 1989.
Vine, W.E. dkk, Vine 'S Complete Exspository Dictionary Of
Hebrew Words, Amerika: Publishing, 1940.
Walton, Andrew E. Hill & John
H., Survei Perjanjian Lama, Jawa
Timur: Gandum Mas, 2008.
Webster's
New World, Delhi: IDG Books India, 2000.
Westermann,
Enst Jenni & Claus, Theological Lexeion Of The Old Testament, 1427.
[1]
….KBBI, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2015), 1295.
[5]
Bnd. Gregory J. Rummo, The View From The Grass Roots Another Laok,
(Enumclay Pleasant World, 1984), 264
[6]
Willem A. VanGemeren, New International Dictionary Of Old Testament Thealogi & Exgetis Volume 3, (Cumbria: Paternoster Press, 1989), 430.
[7]
Jepsen, Theological Dictionary of the old
Testament vol , (Grand Rapids-Michingan: William B. Eerdmas Publishing
Company, 1990), 294.
[8]
B. J. Boland, Inti Sari Iman Kristen, (Jakarta:
BPK-Gunung Mulia, 1999), 15.
[9]
J. I. Packer, Taat, Menaati dalam
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II, (Jakarta: YKBK-OMF, 2003), 433.
[10]
Willem A. Van Gemeren,
New International Dictionary Of Old
Testament Thealogi & Exgetis Volume 4, (Amerika: United States, 1997), 306.
[11]
G. Johanes Botterweek
dkk (ed), Thealogical Dictionary Of The
Old Testament Yolume XV, (Cambrid, Eermands Publishing Company 1993), 700.
[12] G. Johanes
Botterweek dkk (ed), Thealogical
Dictionary Of The Old Testament Yolume XV, 710-711.
[13]
W.E. Vine dkk, Vine 'S Complete Exspository Dictionary Of
Hebrew Words, (Amerika: Publishing, 1940), 281.
[14]
W.E. Vine dkk, Vine
'S Complete Exspository Dictionary Of Hebrew Words, 282.
[15]
W.E. Vine dkk, Vine
'S Complete Exspository Dictionary Of Hebrew Words, 307.
[16]
W.E. Vine dkk, Vine
'S Complete Exspository Dictionary Of Hebrew Words, 307.
[17]
Ernst Jenni &
Claus Westermann, Theological Lexcion Of The Old Testament, (Basel: tp, 1975).
121
[18]
D. Darmawangsa &
I. Munadhi, Fight Like A Tiger Win Like A Champion, (Jakarta:PT Elex Media
Komputindo, 2007), 271.
[19]
G. Johanes Botterweek
dkk (ed), Theological Dictionary Of The
Old Testament Volume xV. 709.
[20]
Jhon J. Scullion, Claus Westernann Genesis 1-11, (Amerika:
United States, 1984), 41.
[21]
George Arthur Butrick
dkk (ed), The Interpreter 's bible Volune
III, 0, 923.
[22]
Enst Jenni & Claus
Westermann, Theological Lexeion Of The Old Testament,1427.
[23]
Lasor W. S. dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1994), 14.
[24]
Lasor W. S. dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2, 411.
[25]
David L. Baker, mari Menggenal Perjanjian Lama, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1996), 117.
[26]
Di dalam kitab Apokaliptik biasanya berisi tentang: 1. Simbol: kitab
apokaliptik banyak mengandung symbol-simbol dan biasanya sulit dipahami.
Alasannya adalah karena pesan itu sangat terbatas dan terlarang. Kitab
Apokaliptik biasanya lahir dalam kontek wilayah dimana umat Tuhan harus
menggunakan bahasa Rahasia. 2. Masa yang akan datang: apokaliptik biasanya
berisi tentang hal-hal yang akan datang. Meskipun soal yang akan datang tetapi
Apokaliptik sangat berhubungan dengan situasi zaman peristiwa itu terjadi.
Sehingga dalam memahami kitab Apokaliptik harus menyelidiki isi berita yang
akan diungkapkan dan sekaligus hubungannya dengan dunia pada zamannya. 3.
Penghiburan: sasaran kitab Apokaliptik adalah menguatkan dan menghibur umat
Tuhan. Umat sedang menghadapi masalah besar namun mereka harus kuat dan setia
didalam iman. Demi iman mereka mungkin bertarung termaksuk mempertaruhkan nyawanya
sekalipun. 4. Kemenangan: inti rahasia adalah orang setia pasti akan memperoleh
mahkota kemenangan. Saat itu kerajaan-kerajaan dunia akan diganti dengan
kerajaan Allah. Allah akan berkuasa secara mutlak atas umat dan umat akan
beroleh hidup yang kekal. (Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi Pengantar Kitab-kitab Perjanjian
Lama, (Medan: Bina Media Perintis, 2016), 212-213).
[27]
Dalam pandangan orang yahudi kedudukan/ status Daniel agak berbeda dengan
jabatan nabi-nabi yang lain. Seorang nabi adlah yang diangkat oleh Tuhan untuk
memberitakan Firman Tuhan kepada bangsa Israel, tetapi Daniel tidak dipanggil
Tuhan dengan tugas yang terbatas, melainkan dia menjadi seorang ahli kenegaraan
di istana raja-raja asing (Babel dan Persia), sehingga dia tidak melayani bangsanya
secara langsung. Sebagai seorang ahli kenegaraan Daniel memang mempunyai
karunia seorang Nabi, walaupun dia tidak menjabat sebagai seorang nabi, oleh
sebab itu orang yahudi menganggap tulisannya tidak sama dengan tulisan-tulisan
lain seperti Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel. Dan menempatkan kitab Daniel
bersama-sama dengan Tulisan-tulisan yang tidak menjabat dengan nabi. (Denis
Green, Pembimbing Kepada Pengalaman
Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 2004), 323).
[28]
Tim penyusun, Alkitab Penuntun
Hidup Berkelimpahan, (Jakarta: Gamdum Mas, 2005), 1339.
[29]
Daniel yang berarti Allah
adalah hakimku, diubah menjadi Beltsazar, yang berarti: menjadi hamba dewa
bel/tentara baal; Hanya yang berarti karunia Allah, diubah menjadi Sadrakh yang
berarti Anugrah baginda (Babel), Misael yang berarti Allah yang maha mulia,
diubah menjadi mesakh yang berarti dewa yang maha tinggi dan Azarya yang
berarti dilindungi Allah berubah menjadi Abednego yang berarti tentara dewa
bintang. Lih. R. A. Jaffray, Tafsiran
Kitab Daniel, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2008), 23-25.
[30]
Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi Pengantar Kitab-kitab Perjanjian
Lama, 212-213.
[31]
Andrew E. Hill & John H. Walton, Survei
Perjanjian Lama, (Jawa Timur: Gandum Mas, 2008), 575.
[32]
M. Ferry H Kakiay, Hamba Tuhan Dan Integritas, (Banyuwangi:
YAPAMA, 2013), 15.
[33]
David L. Barken, Pelayanan Dalam Perjanjian Baru, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2013), 51.
[34]
Gultom Hariman, Diktat Kuliah Pengantar Perjanjian Lama
Kitab Para Nabi, (Batam: Sekolah Tinggi Theologia Basom), 108.
[35]
Green Dennis, Pembimbing pada Pengenalan Perjanjian Lama, (Malang:
Gandum Mas, 2001), 185.
[36]
Frank M Boyd, Kitab Nabi-nabi Kecil, (Malang: Gandum
Mas, 2006), 58.
[37]
B. Dianne, CSA. R. J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, (Kanisius:
Yoggyakarta, 2002), 630.
[38]
Darmawijaya, Warta Nabi Abad VII, (Yogyakarta: Kanisius
, 1990), 69.
[39]
Fran. M. Boyd, Kitab Nabi-nabi Kecil, (Malang: Gndum
Mas, 2006), 59.
[40]
Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi, 168.
[42]
J.G.S.S. Thomson, Ensiklopedi Alkitab
Masa Kini I, peny, H.A.
Oposunggu, pen. M.H. Simanungkalit, (Jakarta : Bina Kasih,1997),402.
[43]
A. Simanjuntak, Tafsiran Alkitab
Masa Kini II, (Jakarta : Yayasan Komunikasi
Bina Kasih,1994), 570.
[45]
Darmawijaya, Warta Nabi Abad VII, 70-74.
[46]
J. Andrew Dearman, The Book Of Hosea,
(Michigan: William B. Eerdmans Publishing company, 2010), 21-22.
[47]
E. Kristiyanto, Sinar Sabda Dalam Prisma Hermeneutika
Kontekstual, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), 86.
[48]
C. Barth, M. C. Barth Frommel, Teologi
Perjanjian Lama 2, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 324-325.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar