Kedisiplinan Yohanes Calvin
(Suatu Tinjauan Historis-Praktis
terhadap Kedisplinan Yohanes Calvin dan Implementasinya bagi GBKP)
I.
Latar
Belakang Masalah
Berdasarkan
Tata Gereja GBKP sudah dijelaskan bagaimana peran GBKP dalam mengatasi
perjalanan pelayanan GBKP. Kedisiplinan gereja GBKP dalam melaksanakan tugas
dan tanggung jawabnya sudah mulai merosot. Hal ini tentunya akan menjadi
gejolak bagi pertumbuhan gereja GBKP di Indonesia. Karena pertumbuhan gereja
sangat bertolak dari kedisiplinannya. Sehingga kegiatan-kegiatan gereja dapat
berlangsung dengan tertata dan terstuktur. Melihat situasi seperti ini tentunya
tidak sesuai dengan apa yang telah diterapkan oleh Yohanes Calvin sebagai
pelopor utama aliran Calvinis itu sendiri.
Berbicara
tentang kedisiplinan dalam Gereja GBKP, penyeminar bertolak dari pelopor aliran
Calvinis itu sendiri, yaitu Yohanes Calvin. Yohanes Calvin orangnya sangat
disiplin, dan sekali mengambil keputusan ia bersikukuh dalam pilihannya. Study
hukumnya telah mempertajam karunia berpikir secara logis dan ia pun menerapkan
pendidikan awal tersebut pada studi teologinya. Yohanes Calvin sangat banyak
memberikan teladan dalam hal kedisiplinan bagi gereja-gereja Calvinis. Bahkan
dalam reformasinya ia sangat disiplin. Maka dari pada itu untuk mengatasi
masalah merosotnya kedisiplinan dalam gereja GBKP di Indonesia, kita dapat
mengamati dan mempelajari strategi serta upaya dari kedisiplinan Yohanes
Calvin. Oleh karena itu penyeminar membahas judul “Kedisiplinan Yohanes Calvin (Suatu Tinjauan Historis-Praktis terhadap
kedisiplinan Yohanes Calvin dan Implementasinya bagi GBKP”. Semoga seminar ini dapat menambah wawasan
dan pengetahuan kita sekalian.
II.
Pembahasan
2.1.Pengertian
Kedisiplinan
Menurut
W.J.S. Poerdarminta disiplin adalah latihan batin dan watak dengan maksud
supaya segala perbuatannya selalu menaati tata tertib (peraturan), dimana batin
dan watak tersebut perlu dilatih.[1]
Kedisiplinan adalah salah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui
proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan,
kepatuhan, keteraturan dan ketertiban.[2]
2.2.Biografi
Yohanes Calvin (1509-1564)
2.2.1.
Masa
Kecil Yohanes Calvin
Pemikiran
seorang tokoh sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya. Demikian
halnya dengan Yohanes Calvin. Calvin merupakan teolog reformasi generasi kedua
setelah Marthin Luther. Calvin masih berusia delapan tahun ketika Martin Luther
menempelkan Sembilan puluh lima dalilnya di tembok Gereja Wittenberg.[3] Yohanes
Calvin lahir pada 10 Juli 1509 sebagai Jean Cauvin di kota Noyon, Perancis
Utara. Kemudian hari nama Cauvin sesuai dengan kebiasaan di kalangan kaum
berpendidikan waktu itu, dilatinaisasikan menjadi Calvinus.[4] Ayahnya,
Gerard Cauvin, menjabat sebagai seketaris Keuskupan Noyon, selain menjadi
seorang advocad.[5]
Sementara itu, ibunya yang bernama Jeanne Lefrance meninggal ketika Calvin masih
muda. Calvin memiliki empat saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Calvin
termasuk pribadi yang beruntung. Ia tumbuh dalam keluarga yang tekun dalam
ajaran agama Katolik. Pada umur 12 tahun Calvi sudah menerima “tonsur”
(pencukuran rambut dalam upara inisasi biarawan).[6]
Calvin
sebenarnya tidak merasakan penuh warisan kasih sayang dari seorang ibu karena
ibunya meninggal saat Calvin berusia 3 tahun. Warisan kasih sayang yang tidak
dialaminya rupanya turut mempengaruhi perkembangan kepribadiannya yang amat
serius dan berdisiplin. Masa kanak-kanak Calvin dilewatkan di daerah rumahnya
sendiri di tengah-tengah anak laki-laki sebaya di bawah bimbingan seorang guru,
tetapi karena kecerdasannya yang sangat dan kemampuan mengingat yang luar
biasa, dia melampaui semua anak didik lainnya.[7]
2.2.2.
Pendidikan
Yohanes Calvin
Menurut
Profesor Theodore Beza, Calvin merupakan seorang yang ber[erawakan sedang,
bermuka pucat, dan bermata tajam. Tatapannya yang hidup menunjukkan bahwa ia
seorang yang memiliki otak cerdas.[8] Keluarga
Calvin mempunyai hubungan yang erat dengan keluarga bangsawan Noyon. Oleh
karena itu, pendidikan elementernya ditempuh dalam istana bangsawan Noyon.
Itulah sebabnya Calvin memperlihatkan sifat-sifat kebangsawanan.[9]
Calvin
diharapkan akan menjadi seorang imam sejak masa mudanya (1509-15334). Beliau di
harapkan sang ayah untuk menempuh pendidikan tinggi di Universitas Paris, tempat
beliau berhasil menguasai bahasa Latin. Kemudian, Calvin mempelajari filsafat
Aristoteles dan logika hingga meraih gelar M.A. pada tahun 1528. Setelah ayah
Calvin terlibat suatau konflik dengan pihak Gereja, sang ayah meminta Calvin
pindah ke Universitas Orleans; selanjutnya ke Universitas Bourges, tempat
Calvin menekuni bidang hukum. Tetapi pada saat itu Calvin sama sekali tidak
tertarik terhadap bidang kerohanian. Selanjutnya justru beliau tertarik pada
karya-karya kalangan humanis. Kemudian pada saat ayahnya meninggal pada tahun
1931, beliau merasa lebih bebas untuk mengikuti minatnya sendiri, yaitu dengan
menempuh pendidikan yang berciri-ciri humanis.[10]
Pada tahun 1531 ia kembali ke Paris untuk
belajar kesusastraan dan bahasa-bahasa, yaitu bahasa Latin, Yunani dan Ibrani. Disini
diserapnya pengaruh humanis Kristen. Kelompok humanis Kristen terdiri dari
cendikiawan yang ingin menggali akar-akar kebudayaan Kristen dalam zaman gereja
kuno dan kebudayaan Yunani serta Romawi.[11]
2.2.3.
Akhir
Hidup Yohanes Calvin
Pada
tahun 1564 tugas Calvin yang mulia itu sudah selesai. Sudah bertahun-tahun
lamanya badannyayang lemah menderita sakit perut dan sakit kepala yang dahsyat.
Sejak tahun 1558, penyakitnya makin hebat, sampai akhirnya pada permulaan tahun
1564, ia merasa ajalnya sudah dekat. Pada tanggal 27 Mei 1564 dalam usia samapi
55 tahun ia meninggal.[12]
Sepanjang bertahun-tahun sebelum kematiannya, meskipun dalam keadaan sakit,
beliau tidak pernah tidur lebih dari empat jam sehari, mendiktekan penulisan
buku-buku, tulisan-tulisan teologi dan surat-surat berbahasa latin serta
Perancis kepada empat seketaris, berkhotbah setiap hari, melayani banyak orang
yang ramai-ramai datang mengunjungi beliau.[13]
2.3.
Karya-karya Yohanes Calvin
1. Pada
tahun 1532, Calvin menghasilkan karya ilmiah Humanisme (suatu uraian mengenai
karya filsuf Romawi Seneca berjudul Kemurahan
Hati).[14]
2. Pada
tahun 1536, Calvin menerbitkan edisi pertama Institutio: Pengajaran agama Kristen, teologia sistematis yang
dengan jelas membela ajaran-ajaran reformasi.[15]
3. Responsio ad Sadoleti Epistulam (Jawaban
keapada Sadotelo), yang merupakan karya terbaik Calvin.
4. Acta Sidoni Tridentini cum Antidoto
(keputusan-keputusan
dari sidang-sidang awal Konsili Trente beserta penawaran terhadapnya).
5. Calvin
dapat menulis satire setajam Erasmus setajam dari tulisannya: Advertissment tresutile du grand poffit qui
reviendroit a la Chrestiente, s’il se faisoitinventoirede tous les corps
sainctz et reliques (peringatan yang memperlihatkan keuntungan bagi umat
Kristen untuk menginventariskan tubuh dan peninggalan para orang kudus).
6. Calvin
berkhotbah secara teratur selama di Jenewa. Dari tahun 1549 khotbah-khotbahnya
dicatat dengan tulisan steno. Sejumlah khotbah diterbitkan tetapi sebagian
besar tetap diperpustakaan Jenewa dalam bentuk tulisan Steno. Anehnya,
tulisan-tulisan itu dijual kiloan pada tahun 1805. Tiga perempat dari jumlah
tulisan itu hilang. Yang masih tersisa sekarang sedang diterbitkan.
7. Calvin
menulis banyak buku tafsiran tentang kitab-kitab Alkitab: Kejadian-Yosua,
Mazmur, semua nabi kecuali Yehezkiel 21-48 dan selurug perjanjian baru kecuali
Yohanes dan Wahyu.
8. Buku
nyanyian mazmur adalah hasil usaha Calvin bersama Clement Marot dengan
menterjemahkan Mazmur ke dalam bahasa Prancis. Nyanyian Mazmur menjadi nyanian
internasional dan menjadi pengembangan Calvinisme ke Barat. Buku himne Beze dan
Marot yang berisi Mazmur yang berirama menjadi populer dalam gereja.[16]
Sementara
dalam buku karangan Th. Van. Den End, Enam
belas dasar Dokumen Calvinisme, disebutkan karya-karyanya sebagai berikut:[17]
·
Pengakuan Iman gereja Prancis
·
Pengakuan Iman gereja Belanda
·
Pasal-pasal Ajaran Dordrech
·
Pengakuan Iman Westminster
·
Katekismus Jenewa
·
Katekismus Heidelberg
·
Iktisar Agama Kristen untuk mereka yang
hendak turut merayakan Perjamuan malam Tuhan
·
Katekismus besar Westminster, 1647
·
Tata gereja Belanda, 1571
·
Tata gereja Belanda, 1691
·
Pernyataan Savony, 1658
·
Tata ibadah karangan Calvin, 1542-1559
·
Tata Gereja Calvins Belanda
2.4.Kedisiplinan
Yohanes Calvin
1.
Kedisiplinan
Yohanes Calvin dalam Panggilannya
Farel
mendesak Calvin supaya tinggal di Jenewa untuk membantu dalam pekerjaan Reformasi,
tetapi Calvin menolak permintaan itu. Akan tetapi Farel terus mendesak supaya
ia tinggal di Jenewa, tetapi Calvin tetap bersikap keras menolak permintaan
Farel dan Farel berseru, “dengan nama Allah yang Maha Kuasa, akan aku katakana
kepadamu jikalau engkau tidak mau menyerahkan dirimu kepada pekerjaan Tuhan
ini, Allah akan mengutuki engkau, karena engkau lebih mencari kehormatan dirimu
sendiri dari pada kemuliaan Kristus!” di dalam perkataan Farel itu Calvin
mendengar suara panggilan Allah lalu ia tinggal di Jenewa.[18]
Pemerintah
Kota membuat catatan mengenai pekerjaan “orang Perancis itu” Calvin menjadi
pendeta sejak 1536-1538. Namun pada waktu itu masih begitu kurang sabar dan
masih kurang matang. Perkelahian tentang pemerintahan gereja membuat ia
diasingkan dan ia pindah ke Basel untuk melanjutkan Studinya. Namun, sekali
lagi tidak terjadi. Martin Bucer mengajak ia datang ke Strassbourg untuk
melayani jemaat kecil pengungsi Perancic. Calvin menentang sampai Bucer
mencontohi tindakan Farel dan dan mengancam dia dengan contoh Yunus. Calvin
dengan hati berat mengalah.[19]
Pada masa pelariannya di Strassbourg Calvin bertemu dan menikahi Idelette de
Bure.[20]
Idelette adalah seorang wanita yang menarik, cerdas, seorang yang berbudi
bahasa dan dia berasal dari kalangan menengah atas. Dia juga seorang wanita
yang berkarakter dan sangat bersemangat. Idelette merupakan seorang janda yang
ditinggal mati suaminya pada tahun 1540.[21]
2.
Kedisiplinan
Yohanes Calvin dalam Reformasinya
Yohanes
Calvin adalah seorang sarjana Hukum Perancis yang berminat pada ilmu teologi.
Sebab ia menjadi pengikut Luther, ia diusir dari tanah airnya dan menjadi
pendeta di kota Jenewa (Swiss).[22]
Mula-mula Calvin hanya memimpin penjelasan alkitab kepada jemaat-jemaat, tetapi
segera ia menjadi pendeta resmi dan tenaga pendorong dalam segala pekerjaan
Gereja. Tata gereja dibuat Calvin untuk melawan Gereja Katolik Roma dan
semangat keduniawiaan. Calvin mengerti bahwa penemuan kembali Injil sejati
haruslah disusul dan disempurnakan dengan pembaruan bentuk hidup Gereja. Ia
sadar bahwa Kristus mau menguasai dan memerintahi seluruh hidup dan kelakuan
orang-orang yang percaya kepada Dia. Oleh karena itu perlu ada disiplin, akan
tetapi disiplin itu sekali-kali tidak boleh diserahkan kepada pemerintah daerah
atau kota, seperti yang biasa dilakukan Gereja Lutherab dan Zwingli. Kristus
adalah kepala gereja; sebab itu pemerintah dunia tidak berhak dalam urusan
perkara-perkara yang semata-mata mengenai hidup gereja sendiri. Demikian Calvin
menuju kepada penyataan Kristokrasi (pemerintahan Kristus) juga dalam hidup
lahiriah jemaat.
Sayanglah pokok maksud rencana itu
tidak dapat dilaksanakan karena perlawanan dewan kota: dewan itu tetap memegang
disiplin dalam tangannya sendiri, sehingga disiplin itu turun derajatnya
menjadi semacam pengawasan politisi. Akibatnya ialah lawan-lawan Calvin menang
dalam pemilihan dewan kota di bulan Februari 1528. Makin hari makin sukarlah
kedudukan Calvin di Jenewa. Pada bulan April 1538 mereka dipecat dan dibuang.
Waktu Farel dan Calvin diusir dari
Jenewa mereka meninggalkan pengikut-pengikut disana yang tidak kecil jumlahnya.
Pengikut-pengikut itu dinasehati oleh Calvin supaya jangan menceraikan diri
dari jemaat yang sekarang dipimpin oleh pendeta-pendeta dari Bern. Pada tahun
1539 dewan kota mengadakan suatu perjanjian dengan Bern, yang amat merugikan
Jenewa. Oleh karena tindakan itu rakyat mulai memihak pula kepada partai para
pengikut Calvin, sehingga pada tahun berikutnya kawan-kawan Calvin dipilih
untuk membentuk pemerintah baru. Dengan membuang segala cita-citanya sendiri,
Calvin menempuh jalan yang ditunjukkan Tuhan kepadanya untuk kedua kalinya.
Oleh segala pengalaman pada maa yang lalu, sekarang Calvin sudah siap sedia dan
matang untuk menhadapi tugasnya yang mulia, yang membina jemaat dan masyarakat
Jenewa menjadi suatu pusat yang penting bagi sejarah gereja dan dunia.
Soal disiplin diatur dengan keras.
Calvin yakin bahwa segala tindakan itu tak lain dari pada permulaan
pekerjaannya saja. Tujuannya ialah supaya menghilangkan sama sekali semangat
duniawi yang masih merajalela di Jenewa, sehingga didapat suatu jemaat yang
kudus dan sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Allah. Keadaan di Jenewa
makin hari makin genting; rakyat mulai mengadakan huru-hara karena kebenciannya
terhadap peraturan-peraturan disiplin. Ada orang yang mengancam/menghasut
anjingnya terhadap Calvin. Pada tahun 1548 kaum oposisi beroleh kursi yang
terbanyak dalam “dewan kecil” sukar sekali bagi Calvin untuk mempertahankan dan
menjalankan cita-citanya yang theokratis. Rupa-rupanya usahanya tidak akan
berhasil. Malahan segenap kaum Protestan rupa-rupanya harus kalah terhadap
musuhnya, karena pada waktu itu juga Karel V menang atas perserikatan
Smalkalden sehingga Jerman jatuh di bawah Interim Augsburg. Tambah lagi, pada
tahun 1549 isteri Calvin meninggal dunia. Akan tetapi walaupun segala kesusahan
itu, Calvin berjuang terus; imannya tidak berkurang, kesetiannya kepada
panggilannya tidak surut. Sungguh pun ia diusik dalam banyak perkara, yaitu kuasanya
sangat dibatasi, namun ia tidak tahu mundur. Untung bagi Calvin bahwa lawannya
tidak sanggup menciptakan suatu peraturan hidup yang lebih baik bagi Jenewa.
Dan memang semua golongan menuju kepada pembaharuan/reformasi.[23]
3.
Kedisiplinan
Yohanes Calvin dalam Mengatasi Masalah Sosial
The
Bourse merupakan tiang kesejahteraan bagi masyarakat Jenewa. Kepedulian Calvin
terhadap orang miskin, yatim piatu, orang terlantar dan penggungsi-pengungsi
merupakan tanggung jawab gereja. Menurut Calvin gereja dapat diekspresikan
dengan baik melalui diakonia yang dilayankan oleh para diaken-diaken. Pengaruh
Calvin pada budaya reformasi atas keperihatinanya kepada kaum miskin sangat
meringankan penduduk Perancis dalam satu decade 1550—1560 dimana sekitar 600
pengungsi melewati Jenewa dan mendapat pelayanan diakonia.
Nilai-nilai
teologis yang menopang reformasi-reformasi ini membawa beberapa komitmen
praktis namun harus disertai dengan prinsip-prinsip reformasi kesejahteraan
Calvin. Calvin berpendapat bahwa belas kasih gereja yang mula-mula seharusnya
menjadi tolak ukur bagi kekristenan kita sendiri. Ia menegaskan kalau mau
melakukan reformasi gereja harus dimulai dari titik pendeta-pendeta yang secara
murni mengemban doktrin keselamatan dan lalu diaken-diaken yang memiliki
kepedulian terhadap orang miskin.[24] Dari
segala jurusan, teristimewa dari Perancis, datanglah orang pelarian, mencari
perlindungan di Jenewa. Diantaranya terdapat banyak keluarga yang berbakat dan
terpelajar. Calvin menyambut dan memelihara semua saudara itu selaku seorang
Bapa.[25]
4.
Kedisiplinan
Yohanes Calvin dalam Kepemimpinanya
Calvin
di panggil menjadi pendeta di Strassbourg. Disitu ia mewujudkan cita-citanya di
bidang disiplin. Ia menciptakan tata ibadah yang baru. Dan di tahun 1541 Calvin
kembali ke Jenewa dan ia kembali melaksanakan disiplin disana.
Keluarga-keluarga yang terkemuka pun berkelakukan buruk dan merasa tersinggung
kalau di cela. Sanak saudara Calvin juga berbuat dosa. Namun ia tidak memandang
bulu.[26]
Calvin sangat menekankan ketertiban dan keteraturan dalam gereja.[27]
Kembalinya Calvin ke Jenewa kembali menerapkan dasar-dasar dari teoritis yang
sudah dirumuskannya dalam Institotio. Tata
gereja sangat menekankan disiplin dan kemurnian, baik dalam ajaran maupun perilaku.[28]
5.
Kedisiplinan
Yohanes Calvin dalam Memberantas Ajaran Sesat
Satu
kasus termasyur dan telah menuai banyak kritikan tajam terhadap Caklvin pada
masa sekarang ialah eksekusi dengan hukum mati erhadap Michael Serventus pada
tahun 1533. Servetus dikenal sebagai seorang bidat yang begitu gigih menentang
ajaran Trinitas. Dia sudah terusik dari wilayah penganut katolik sehingga
hijrah ke kota Jenewa. Dewan kota dengan persetujuan Calvin mengeksekusi
Servetus dengan cara membakar dia hidup-hidup. Namun, sebelum kita mengkritik
Calvin terlalu tajam, seyogianya kita mengetahui fakta-fakta berikut:
a. Hukum
mati terhadap orang-orang yang menyangkal Inkarnasi adalah praktik yang sudah
lama diajarkan, itu bukanlah ciptaan Calvin.
b. Beberapa
orang yang lain juga telah dihukum mati (dibakar hidup-hidup) karena menyangkal
Trinitas pada masa Calvin.
c. Inskuisisi
Katolik telah memaklumatkan hukum mati terhadap Servetus.
d. Putusan
untuk membakar Servetus hidup-hidup dilakukan olrh dewan kota, bukan keputusan
Calvin. Calvin menyarankan hukuman penggal tetapi dewan menolaknya.
e. Sebenarnya,
Calvin sama sekali tidak bermaksud menjatuhkan hukum mati kepada Servetus.
Untuk mencegahnya beliau telah berjam-jam mengunjungi Servetus, berusaha
membimbing dan meyakinkan dia untuk bertobat dari ajaran bidat.[29]
6.
Kedisiplinan
Yohanes Calvin dalam Meningkatkan Pendidikan
Pendidikan
Akademi adalah gagasan Calvin sendiri, untuk menghentikan pedagogi abad
pertengahan yang membatasi pendidikan terutama untuk kaum elit eristokrasi ia
mendirikan akademi tahun 1559 yang amborionya adalah kalose (sekolah privata,
1558). Akademi ini mendapat sambutan masyarakat terbukti dengan jumlah
mahasiswa yang cukup banyak 280 siswa dan akademi ini berkembang dari bidang
teologia bertambah ke bidang hukum dan kedokteran dan dituliskan bahwa pada
hari kematian Calvin 1567tercatat 1200 mahasiswa dan 300 akademi, akademi
Calvin menjadi pemegang standart untuk pendidikan dalam semua bidang utama.
Kontribusi reformasi Calvin cukup besar dalam dunia pendidikan karena pendirian
sebuah universitas berlangsung berabad-abad.[30]
2.5.Kedisiplinan
Gereja GBKP
Dalam
sebuah diskusi yang diselengarakan oleh Gereja Masehi Injili di Timur (GMIT)
beberapa tahun yang lalu untuk mengetahui seberapa Calviniskah gereja ini,
disimpulkan bahwa unsure-unsur Calvinisme memang ada, tetapi tidak lagi
sungguh-sungguh murni. Kebanyakan gereja-gereja di Indonesia yang mengklaim
dirinya sebagai Calvinis bisa saja susngguh-sungguh Calvinis, terutama dalam
prinsip-prinsip ajaran. Tetapi dalam banyak hal unsure-unsur lainnya juga ada
sesuatu yang tidak terhindarkan. Mungkin juga ada gereja-gereja di Indonesia
yang secara ketat sungguh-sungguh hendak memelihara warisan Calvin. Demikian
juga dengan penyelengaraan disiplin gereja. Bagaimana prinsip ini dapat
diterapkan dalam sebuah masyarakat yang sangat terbuka di mana kontrol sosial
menjadi begitu longgar.[31]
Calvin dan Calvinisme perlu dipelajari dalam hubungan dengan upaya memerangi
“kekafiran”. Karya atau upah Calvin dan para penerusnya harus digali sebagai
salah satu titik dalam sejarah perjuangan injil melawan “kekafiran”.[32]
Dalam
tata gereja GBKP sudah terstruktur dengan baik dan jelas mengenai peraturan
sehubungan dengan berlangsungnya disiplin-disiplin gereja GBKP. Namun dalam
pelaksanaanya masih kurang disiplin. Berdasarkan buku hasil hasil konven
Pendeta tahun 1968-2014 dijelaskan bagaimana GBKP masih kurang disiplin dalam
menerapkan apa yang menjadi keputusan gereja.
Seperti
halnya bentuk-bentuk kepercayaan agama pemena yang tidak boleh dilakukan oleh
orang Kristen adalah:
a. Niktik wari
(menentukan hari)
b. Cabur Bulung (menikah
waktu kecil)
c. Rembah ku lau
(membawa ke air)
d. Ndilo wari udan
(memanggil hujan)
e. Nengget
(menggejuti)
f. Perumah Begu
(menyembah berhala)
Semua
bentuk-bentuk kepercayaan agama Pemena ini dibuat dalam point tata gereja Bab
III pasal 6. Sikap kita sebagai orang Kristen terhadap bentuk-bentuk
kepercayaan agama pemena ini harus dipedomani sebagai keputusan Sidang BPL
Sinode GBKP tahun 1983.[33]
Namun pada kenyataanya masih ada jemaat GBKP yang melakukan kegiatan tersebut.
terkhususnya Ndilo wari udan (memanggil
hujan). Di desa Perbesi kecamatan Tiga Binanga masih melakukan kegiatan
tersebut. Meskipun sudah diupayakan untuk di transformasi. Namun GBKP sendiri
belum memutuskan untuk menerima upaya transformasi tersebut. Fakta diatas
menjadi salah satu gambaran kurang disiplin Gereja GBKP dalam melaksanakan
tugas dan tanggung jawabnya. Sehingga perlu untuk ditingkatkan kembali.
2.6.Tinjauan
Historis-Praktis terhadap Kedisiplinan Yohanes Calvin dan Implementasinya bagi
Gereja GBKP
Yohanes
Calvin adalah seorang pemimpin gerakan reformasi gereja di Swiss. Ia merupakan
generasi yang kedua dalam jajaran pelopor dan pemimpin gerakan reformasi gereja
pada abad ke-16, namun perannya sangat besar dalam gereja-gereja reformatoris.
Gereja-gereja yang mengikuti ajaran dan tata gereja yang digariskan Calvin
terbesar di seluruh dunia. Gereja-gereja itu diberi nama Gereja Calvinis. Di
Indonesia gereja-gereja yang bercorak Calvinis merupakan golongan gereja yang
terbesar.[34]
Salah satu dari gereja Calvinis itu adalah GBKP.
Dalam
bidang kebaktian memang masih sangat jelas unsure-unsur Tata cara kebaktian
(Liturgi) Calvinisme. Pemberitaan firman masih menjadi pusat kebaktian. Tetapi
menyanyi mazmur (dari PL) kelihatannya makin lama makin hilang. Perjamuan kudus
masih dengan setia mengikuti ajaran Calvin, tetapi tata caranya sudah berubah.
Pemakaian cawan-cawan kecil misalnya, yang sekarang sangat lazim dalam
gereja-gereja di Indonesia, tidak dikenal oleh Calvin. Katekisasi sidi tetap
diselenggarakan, tetapi katekisasi rumah (Pembacaan Alkitab di rumah-rumah
tangga) yang merupakan unsur kesalehan dalam Calvinisme tetap dilakukan di
banyak gereja. Dalam bidang pemerintahan gereja (ekklesiologi), tiga jabatan yang diperkenalkan Calvin yaitu
Pendeta, Penatua dan Diaken tetap diperaktekkan.[35]
Adapun
yang menjadi masalah dalam meningkatkan kedisiplinan dalam gereja-gereja
Calvinis di Indonesia adalah terbatasnya kemampuan GBKP baik dalam menjemaatkan
tritugas gereja yaitu koinonia, marturia, diakonia juga pembinaan warga,
peningkatan sumber daya manusi, piñata organisasi, maupun dalam hal keuangan
bagi pengembangan aktivitas gereja. Keterlibatan GBKP dalam kontribusi dengan
gereja-gereja Internasional terkait dengan penanganan masalah-masalah global
masih perlu tetap ditingkatkan. Sejarah panjang GBKP diawali oleh keterlibatan
NZG yang merupakan lembaga keagamaan (missioner)
dan sangat berpengalaman sebenarnya telah memberikan pelajaran besar dan
berharga bagi GBKP mengenai cara mengelola gereja secara efektif.
Pesatnya
perkembangan lingkungan eksternal yang dipicu oleh berbagai faktor seperti
kemajuan ekonomi, perkembangan teknologi, kemajuan pendidikan, tata pergaulan
internasional serta rembesan budaya luar dan lain-lain yang saling memberi
pengaruh secara bersama-sama semakin menumbuhkan dan mengentalkan nilai-nilai
sekuralisme, individualism dan konsumerisme di masyarakat. Pengentalan
nilai-nilai sekuralisme terlihat jelas dalam meningkatnya sikap individualisme,
materialism dan merosotnya toleransi di masyarakat. Perubahan orientasi
nilai-nilai tersebut tidak hanya menuntut peningkatan kualitas sumber daya
gereja tetapi juga kualitas sistem pendekatan.[36]
Dengan
demikian, adapun yang menjadi implementasi kedisiplinan Yohanes Calvin bagi
gereja-gereja Calvinis di Indonesia adalah sebagai berikut:
1.
Kedisiplinan
GBKP dalam Reformasinya
Nilai Calvinis di Indonesia tergantung
dari cara bagaimana kita menafsirkan prinsip-prinsip pemikiran teologi
Calvinisme ini secara baru. Tentu kita tidak harapkan untuk secara kaku
berpegang pada ajaran-ajaran Calvinisme, kalau ternyata ajaran-ajaran tersebut
(yang sedikit banyaknya ikut dipengaruhi oleh waktu dan tempat) tidak mendukung
bagi pelayan gereja, baik di dalam gereja sendiri mau pun di tengah-tengah
masyarakat yang sedang berkembang pesat.[37]
Dalam hal ini Gereja GBKP dapat
melakukan reformasi kembali terhadap Gereja GBKP asalkan berlandaskan alkitab.
Seperti yang kita ketahui, konteks pada zaman reformasi Yohanes Calvin di Swiss
berbeda dengan konteks di Indonesia. Jadi, tidak menjadi masalah bila Gereja
Calvinis (GBKP) di Indonesia mereformasi beberapa bagian dari ajaran/tradisi
Calvin, yang penting tujuannya adalah agar jemaat dapat merasakan hadirat
Tuhan. Contohnya, menyanyi Mazmur (dari PL) kelihatannya makin lama makin
hilang. Bahkan dewasa ini Kidung Jemaat sudah sangat dominan. Hal ini dapat
kita maklumkan karena dewasa ini semakin banyak lagu-lagu rohani yang
diciptakan berdasarkan pengalaman rohani pencipta lagunya yang lebih up to date dengan konteks jaman
sekarang.
Dalam sejarah pelayanan GBKP, pro kontra
terhadap benturan dengan budaya karo menjadi salah satu penghambat dalam
peningkatan jumlah warga GBKP. Ketika GBKP mampu mentransformasi budaya karo
(menerangi budaya karo dengan injil), jumlah warga GBKP semakin bertambah.
Misalnya, pengakuan gereja terhadap alat-alat musik tradisi karo (gendang karo)
sebagai bagian dari alat ibadah mendapat persetujuan dalam sidang sinode IX di
Kabanjahe pada tanggal 25-28 April 1966. Pengakuan ini merupakan salah satu
contoh dari upaya berteologi kontekstual GBKP.[38]
Maka dari itu GBKP harus tetap berjuang untuk mereformasi gereja ke arah yang
lebih baik. Dengan catatan, harus mereformasi gereja dengan berlandaskan kepada
firman Tuhan.
2.
Kedisiplinan
GBKP dalam Mengatasi Masalah Sosial
Gereja GBKP sudah cukup baik dalam
mengatasi masalah sosial. Dalam perjalanannya, GBKP terus melakukan pelayanan
yang diwariskan oleh zending dan keterlibatan GBKP dalam pelayanan sosial
masyarakat. Beberapa diantara pelayan tersebut ialah pengadaan rumah sakit
kusta di Lau Simomo, panti asuhan di Sukamakmur yaitu Gelora Kasih, pendirian
lembaga Partisipasi Pembangunan (Perpem), Alpha Omega dan pengadaan Bank
Pengkreditan Rakyat Pijer Podi Kekelengen.
Kontribusi Perpem GBKP dalam
pelestarian Kalpataru dari Presiden RI pada tahun 1985. Dalam bencana besar
erupsi Gunung Sinabung yang terjadi pada tahun 2010 dan penghujung tahun 2013
yang menimbulkan korban nyawa dan arus besar pengungsi, peran dan dan
kontribusi GBKP dalam pelaksanaan tanggap darurat demikian besar. Peran dan
kontribusi GBKP dalam pelayanan ini telah menghantarkan GBKP meraih penghargaan
bidang kemanusiaan dari BNPB yaitu penghargaan “Reksa Utama Anindha” yang
diberikan dalam rangkaian Puncak peringatan bulan pengurangan resiko bencana di
Bengkulu pada tanggal 13 Oktober 2014 di Hotel Santika-Bengkulu.[39]
Hal ini tentunya harus tetap dipertahankan oleh GBKP. Dan semakin disiplin
dalam melakukan kegiatan sosial baik di dalam gereja GBKP itu sendiri dan juga
terhadap hal-hal di luar GBKP.
3.
Kedisiplinan
GBKP dalam Memberantas Ajaran Sesat
Pada
masyarakat Karo awalnya kepercayaan mereka yaitu “Pemena” yaitu percaya kepada dibata-dibata
atau roh-roh leluhur. Mereka
memperyayai bahwa adanya kehidupan roh-roh gaib (begu). Dan pada masa sekarang ini masih ada warga jemaat yang
melaksanakan ritual agama Pemena. Hal
ini harus ditindak lanjuti oleh gereja . Sebagaimana tugas dan tanggung jawab
gereja itu sendiri sebagai garam dan terang dunia. Gereja harus menjangkau
jemaat-jemaat yang masih mengadakan ritual agama Pemena yang ditolak oleh gereja GBKP. Gereja harus memberikan
pemahaman yang benar mengenai ajaran yang salah maupun sesat. Sama halnya yang
di lakukan Yohanes Calvin terhadap Serventus yang melakukan pengajaran yang
sesat. GBKP mungkin tidak relevan untuk melakukan hukum mati terhadap jemaat
yang masih melakukan ajaran agama Pemena.
Namun gereja GBKP dapat lebih lagi dalam memberikan pemahaman yang benar
tentang Firman Tuhan yang menjadi dasar hidup orang percaya.
4.
Kedisiplinan
GBKP dalam Meningkatkan Pendidikan
Tak dapat disangkal bahwa beberapa
rumpun sekolah Kristen berkembang dalam hal jumlah maupun mutu, terutama yang
ada di kota-kota besar, misalnya yang diasuh Yayasan Perguruan Methodist di
Medan dan Palembang, Yayasan Badan Pendidikan Kristen Penabur (diselengarakan
Gereja Kristen Indonesia), dan sebagainya. Tetapi sebagian besar berada dalam
kondisi yang cukup memperhatikan, terutama yang berada di daerah-daerah yang
dulunya merupakan pusat karya zendeling (Tanah Batak, Nias, Timor, Maluku,
Sulawesi Tengah, Irian Jaya, dan sebagainya).
Undang-undang sistem Pendidikan Nasional
(UUSPN No. 2/1989) memang memberi peluang kepada pihak swasta, termasuk yang
berciri agama, untuk berkiprah di bidang pendidikan. Tetapi di dalam
praktiknya, sejak Indonesia merdeka, tetapi terutama pada dua dasawarsa
terakhir ini, sangat banyak kedala yang dihapi lembaga-lembaga pendidikan dasar
hingga menengah Kristen, baik yang dikelola gereja maupun organisasi Kristen di
luar gereja, yang notabenenya sebagian besar adalah usaha pendidikan zendeling.[40]
Terkait dengan tantangan yang dihadapi
gereja, khususnya Gereja GBKP dalam hal mengembangkan pendidikan, hendaknya
gereja berupaya untuk mengatasi masalh tersebut. Sehingga sekolah-sekolah yang
sudah tidak berfungsi dengan baik dapat diaktifkan kembali bagi penunjang
meningkatnya pendidikan warga jemaat dan warga masyarakat. Gereja GBKP harus
berusaha meningkatkan kualitasnya dalam meningkatkan pendidikan, agar
sekolah-sekolah Kristen dapat menjadi teladan bagi sekolah-sekolah yang ada di
Indonesia.
III.
Analisa
Penyeminar
Yohanes
Calvin telah menanamkan nilai-nilai kedisiplinan terhadap aliran Calvinisme.
Sehingga pada perkembangannya juga gereja Calvinis hendaknya tetap menghidupi
esensi dari kedisiplinan tersebut. Figur Yohanes Calvin sangat penting kita
teladani dalam hal kedisiplinanya. Karena dampak dari kedisiplinannya tampak
bagi perkembangan reformasi gereja, pendidikan, moral dan sebagainya. Sehingga
sangat penting bagi gereja GBKP untuk meneladaninya.
Gereja GBKP bukan tidak menjalankan
tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, tetapi masih ada yang kurang disiplin
dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Geteja GBKP kurang menghidupi
esensi Calvinisme itu sendiri. Gereja GBKP berada dalam ranah perkembangan
jaman dan teknologi yang turut mempengaruhi sistem perkembangannya. Sehingga
kedisiplinan gereja GBKP juga ikut dipengaruhi. Meskipun demikian, Gereja GBKP
hendaknya tetap disiplin dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Mulai
dari hal terkecil hingga kepada hal-hal yang besar. Contohnya, disiplin dalam
waktu dengan cara datang tepat waktu beribadah pada hari minggu atau pada
kegiatan-kegiatan gereja lainnya dan ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan
dan program-program yang dilaksanakan gereja. Dengan terealisasinya disiplin
dalam hal-hal yang kecil tentunya gereja GBKP dapat disiplin dalam perkara yang
lebih besar. Sebagaimana Yohanes Calvin karena disiplinnya dapat memberi
pengaruh bagi dunia, sekiranya gereja GBKP juga dapat memberi pengaruh yang
baik bagi dunia masa kini.
IV.
Kesimpulan
Kedisiplinan
adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari
serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan,
keteraturan dan ketertiban. Adapun kedisiplinan Yohanes Calvin yang dapat di
teladani oleh Gereja GBKP adalah kedisiplinan Yohanes Calvin dalam
panggilannya, kedisiplinan Yohanes Calvin dalam reformasinya, kedisiplinan
Yohanes Calvin dalam Mengatasi masalah sosial, Kedisiplinan Yohanes Calvin
dalam kepemimpinanya, Kedisiplinan Yohanes Calvin dalam memberantas ajaran
sesat. Dalam pengimplementasian kedisiplinan Yohanes Calvin terhadap Gereja
GBKP tidak terlepas dari konteks gereja GBKP itu sendiri. Kedisiplinan Yohanes
Calvin dalam hidup dan karya-karyanya masih relevan untuk diteladani. Karena
pertumbuhan dan perkembangan gereja tidak terlepas dari kedisiplinan dari
gereja itu sendiri. Oleh karena itu gereja GBKP harus meningkatkan kembali
kedisiplinannya sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yohanes Calvin sesuai
dengan konteks kehidupan yang ada di masyarakat.
V.
Daftar
Pustaka
Aritonang,
Jan S., Belajar Memahami Sejarah di
Tengah Realitas, Bandung: Jurnal Ifo Media, 2007
Aritonang,
Jan S., Berbagai Aliran di dalam dan di
sekitar gereja, Jakarta:BPK-GM, 2010
Batlajery,
Agustinus M.L., & Th. Van den End, Ecclesia
Reformata Semper Reformanda, Jakarta: BPK-GM, 2014
Berkhof,
H., & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, Jakarta:
BPK-GM, 2014
Boehike,
Robert R., Sejarah Perkembangan Pikiran
dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, Jakarta: BPK-GM, 1994
Crutis,
A. Knneth, 100 Peristiwa Penting dalam
Sejarah Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2011
Culver,
Jonathan E., Sejarah Gereja Umum, Bandung:
Biji Sesawi, 2013
End,
Th. Van den, Harta dalam Bejana, Jakarta:
BPK-GM, 2009
GBKP,
Moderamen, Garis Besar Pelayanan Gereja
Batak Karo Protestan 2016-2020, Kabanjahe: Abdi Karya, 2015
GBKP,
Moderamen, Keputusan-keputusan Konpen
GBKP, Kabanjahe Abdi Karya, 2014
Hall,
David W., Calvin di Ranah Publik, Surabaya:
Momentum, 2011
Hart,
Michael H., 100 Tokoh Paling Berpengaruh
dalam Sejarah, Jakarta: Hikmah, 2009
Jonge,
Cristian de, Apa itu Calvinisme ?, Jakarta:
BPK-GM, 2008
Lane,
Tony, Runtun Pijar, Jakarta: BPK-GM,
2010
Poerdarminta,
W.J.S., KBBI, Jakarta: Balai Pustaka,
2014
Wellem,
F.D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh
dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2000
Jurnal :
Tarigan,
Setia Ulina, Resensi Buku “Seri Calvin”
dalam jurnal Teologi STT Abdi Sabda Medan, Edisi XXXVIII: Juli-Desember 2017, Memaknai 500 Tahun Revormasi Martin Luther
Yewangoe,
Andreas A., Relevansi Calvinisme Masa
Kini, dalam Beras Piher Jurnal TeologiaVol. 2, No. 2: Januari-April 2004
Sumber Lain:
http://googlweblight.com/i?u=https://witaisma.wordpress.com/2013/05/19/1-pengertian-kedisiplinan-adalah-suatu-kondisi-yang/&hl=id+ID,
diakses pada hari Sabtu, 09 Maret 2019, pukul 20.15 WIB
http://reformed.sabda.org/book/export/html/25
diakses pada hari Selasa, 12 Maret 2019, pukul 11.15 WIB
[1] W.J.S. Poerdarminta, KBBI, (Jakarta: Balai Pustaka, 2014),
254
[2] http://googlweblight.com/i?u=https://witaisma.wordpress.com/2013/05/19/1-pengertian-kedisiplinan-adalah-suatu-kondisi-yang/&hl=id+ID, diakses pada hari Sabtu, 09
Maret 2019, pukul 20.15 WIB
[3] Michael H. Hart, 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah, (Jakarta:
Hikmah, 2009), 303
[4] Cristian de Jonge, Apa itu Calvinisme ?, (Jakarta: BPK-GM,
2008), 6
[5] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, (Bandung: Biji
Sesawi, 2013), 274
[6] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam
Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK-GM, 2000), 64-65
[7] Robert R. Boehike, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek
Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK-GM, 1994), 370
[8] David W. Hall, Calvin di Ranah Publik, (Surabaya:
Momentum, 2011), 55
[9] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam
Sejarah Gereja, 64-65
[10] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, 274
[11] Cristian de Jonge, Apa itu Calvinisme ?, 6
[12] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK-GM, 2014),
170
[13] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, 278
[14] Tony Lane, Runtun Pijar, 149
[15] A. Knneth Crutis, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen,
(Jakarta: BPK-GM, 2011), 82
[16] Setia Ulina Tarigan, Resensi Buku “Seri Calvin” dalam jurnal
Teologi STT Abdi Sabda Medan, Edisi XXXVIII: Juli-Desember 2017, Memaknai 500 Tahun Revormasi Martin Luther,
192-193
[17] Th. Van. Den End, Enam Belas Dasar Dokumen Calvinisme, (Jakarta:
BPK-GM, 2001), np
[18] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 159
[19] Tony Lane, Runtun Pijar, (Jakarta: BPK-GM, 2010), 149
[20] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam
Sejarah Gereja, 66
[21] http://reformed.sabda.org/book/export/html/25 diakses pada hari Selasa, 12
Maret 2019, pukul 11.15 WIB
[22] Th. Van den End, Harta dalam Bejana, (Jakarta: BPK-GM,
2009), 187
[23] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 160-165
[24] Setia Ulina Tarigan, Resensi Buku “Seri Calvin” dalam jurnal
Teologi STT Abdi Sabda Medan, Edisi XXXVIII: Juli-Desember 2017, Memaknai 500 Tahun Revormasi Martin Luther,
189
[25] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 165
[26] Th. Van den End, Harta dalam Bejana, 188
[27] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam
Sejarah Gereja, 50
[28] Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar
gereja, (Jakarta:BPK-GM, 2010), 66
[29] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, 277-278
[30] Setia Ulina Tarigan, Resensi Buku “Seri Calvin” dalam jurnal
Teologi STT Abdi Sabda Medan, Edisi XXXVIII: Juli-Desember 2017, Memaknai 500 Tahun Revormasi Martin Luther,
189
[31] Andreas A. Yewangoe, Relevansi Calvinisme Masa Kini, dalam
Beras Piher Jurnal TeologiaVol. 2, No. 2: Januari-April 2004, 7-8
[32] Agustinus M.L, Batlajery &
Th. Van den End, Ecclesia Reformata
Semper Reformanda, (Jakarta: BPK-GM, 2014), 2
[33] Moderamen GBKP, Keputusan-keputusan Konpen GBKP, (Kabanjahe
Abdi Karya, 2014), 187
[34] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam
Sejarah Gereja, 64
[35] Andreas A. Yewangoe, Relevansi Calvinisme Masa Kini, dalam
Beras Piher Jurnal TeologiaVol. 2, No. 2: Januari-April 2004, 8
[36] Moderamen GBKP, Garis Besar Pelayanan Gereja Batak Karo
Protestan 2016-2020, (Kabanjahe: Abdi Karya, 2015), 14
[37] Andreas A. Yewangoe, Relevansi Calvinisme Masa Kini, dalam
Beras Piher Jurnal TeologiaVol. 2, No. 2: Januari-April 2004, 9
[38] Moderamen GBKP, Garis Besar Pelayanan Gereja Batak Karo
Protestan 2016-2020, 13
[39] Moderamen GBKP, Garis Besar Pelayanan Gereja Batak Karo
Protestan 2016-2020, 13-14
[40] Jan S. Aritonang, Belajar Memahami Sejarah di Tengah Realitas,
(Bandung: Jurnal Ifo Media, 2007), 234
Tidak ada komentar:
Posting Komentar