Jumat, 16 April 2021

Menjelaskan arti dan Makna kehidupan Hamba Tuhan yang Berintegritas dan Spritualitas dan Implikasinya bagi Kehidupan dan Pelayanannya di tengah Umat

 

Menjelaskan arti dan Makna kehidupan Hamba Tuhan yang Berintegritas dan Spritualitas dan Implikasinya bagi Kehidupan dan Pelayanannya di tengah Umat (Tinjauan Biblika, Sistematika, Praktika, Ilmu Agama-agama diperhadapkan dengan Krisis Moral Para Hamba Tuhan Masa kini)

I.                   Pendahuluan

Hamba Tuhan boleh dikatakan memiliki derajat lebih tinggi dari jemaat biasa karena dipercaya memiliki pengalaman rohani yang ditunjukkan dalam moralitas yang baik, cerdas secara emosional, santun dalam berbicara karena sebutan hamba Tuhan merupakan wibawa yang harus dijunjung oleh pengembannya, sebagai golongan yang dianggap sebagai perpanjangan tangan Tuhan.

Kehidupan pendeta sebagai hamba Tuhan dikaburkan dengan arus globalisasi dan modernisasi sehingga muncullah kehidupan yang hedonis. Standar kesuksesan pelayanan pendeta sebagai hamba Tuhan diukur dengan banyaknya harta dan tahta yang diperoleh, alhasil sukar disangkal belakangan ini sebutan hamba Tuhan sudah mengalami degradasi makna. Degradasi itu tentu disebabkan oleh berbagai faktor antara lain motivasi untuk melayani, disiplin rohani, pemaknaan akan hamba Tuhan dan lain sebagainya.

Belakangan ini semakin banyak muncul kekecewaan jemaat atas perilaku penyandang gelar hamba Tuhan, khususnya di gereja-gereja suku karena dianggap sudah tidak berperilaku sebagai hamba, tapi telah menjadi seorang tuan; tidak lagi berperilaku sebagai pemimpin tetapi berubah menjadi bos.

Dimana seharusnya hamba Tuhan tentunya harus mengerjakan apa yang dikehendaki oleh tuannya, seorang hamba harus melakukan apa yang diperintahkan oleh tuannya, dan seorang hamba harus tunduk kepada tuannya, dan seorang hamba bergantung pada tuannya karena seluruh kehidupannya tergantung kepada tuannya. Dalam hal ini penulis ingin mengulas arti dan makna kehidupan Hamba Tuhan, apakah gelar hamba Tuhan masih diimani dan apakah masih layak dikenakan para hamba Tuhan masa kini!

II.                Pembahasan

2.1. Hamba Tuhan

Hamba Tuhan adalah manusia biasa, yang secara iman kedudukannya sama dengan jemaat di hadapan Tuhan namun Allah memiliki harapan yang besar bagi hamba-Nya untuk menjadi contoh dan teladan dalam pola hidup sebagai warga kerajaan Allah. Hamba Tuhan (Ibrani, ‘eved yahwe) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada Allah Yahwe. Hamba dalam arti ‘eved adalah budak atau pelayan, yaitu orang yang bekerja untuk keperluan tuan yang mempekerjakannya. Jadi jelas kedudukan seorang hamba sangat mencerminkan kehendak dan pribadi Allah. Hamba adalah bukti nyata kehadiran Allah sehingga memiliki tanggungjawab terdepan dalam menyaksikan kehendak Allah. Posisinya yang sangat urgen dalam kerajaan Allah sekaligus mengharuskan gereja agar tak terhenti-henti membicarakan dan mengevaluasi hamba Tuhan agar tetap memperbaharui diri sesuai dengan kehendak Allah dan relevan dalam pembangunan tubuh Kristus.[1]

Nabi-nabi Israel dan Yehuda adalah penyandang jabatan dalam theokrasi. Mereka memenuhi peran profetis dengan mendengarkan nasihat ilahi dan menyampaikan melalui pemberitaan firman dan simbol-simbol tentang apa yang telah mereka dengar. Nabi adalah juru bicara bagi Allah dengan panggilan khusus untuk menjadi duta Allah. Setiap nabi adalah “seperti Musa” dan sesuai dengan tujuh kriteria yang diberikan dalam penyataan melalui musa: (1) orang Israel, (2) dipanggil oleh Tuhan dan (3) dimampukan oleh Roh Kudus; (4) melayani sebagai juru bicara Allah, (5) otoritasnya adalah berbicara dalam nama Tuhan; (6) seorang gembala yang baik atas umat Allah; dan (7) membuktikan beritanya dengan tanda-tanda ajaib. Para nabi terutama adalah sebagai pembicara ucapan-ucapan; ucapan ilahi mereka pada akhirnya dituliskan. Mereka, karena panggilan yang unik, adalah anggota dewan ilahi, dan posisi mereka dalam komunitas manusia adalah sebagai juru bicara bagi Allah.[2]

2.2. Integritas

Kata Ibrani “tom”, diartikan ke dalam bahasa Inggris dalam banyak arti, di antaranya adalah: “perfect, uprightly, uprightness, blameless life, clear conscience purity (sempurna, kehidupan yang tidak dapat dipersalahkan, hati nurani yang jernih, kemurnian). Mereka yang mempunyai integritas dalam Perjanjian Lama biasanya dihubungkan dengan kehidupan yang bergaul karib atau intim dengan Yahwe. Gambaran orang yang berintegritas adalah mereka yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, tidak berjalan di jalan orang berdosa, tidak bergaul dan bersekutu dengan pencemooh (Mazmur 1:1-2). Sebaliknya, mereka adalah orang yang takut Tuhan (Amsal 1:7). Mereka menyukai dan merenungkan Taurat Tuhan secara intensif, berjalan di jalan yang benar dan menjauhkan diri dari kejahatan (Mazmur 1:2, 6).

Makna mendasar dari kata “integrity” dalam Perjanjian Lama adalah “Soundness of character and andherence to moral principle (kesehatan karakter dan kepatuhan terhadap prinsip moral)”. Mereka adalah orang yang memiliki ketulusan dan kejujuran (Kejadian 20:5).

Integritas merupakan cerminan karakter seseorang. Karakter terbentuk dari dan akibat pergaulan seseorang dengan Tuhan, yang mengakibatkan sifat-sifat moral Allah dimiliki oleh orang trsebut. Implikasi etisnya adalah ia berusaha hidup benar dalam relasi dengan Tuhan, diri sendiri, sesame, dan lingkungan, tempat ia hidup.[3]

Integitas adalah gambaran pribadi yang kuat dan teguh, memiliki kualitas diri dalam aspek hidup. Seseorang yang berintegritas tidak mudah menyerah, memiliki pikiran yang utuh dan lengkap selaras perkataan dengan keinginan tanpa berpura-pura, tidak tercemar. Integritas adalah bentuk kesetiaan seorang kepada hal-hal benar dalam hidupnya: diawasi atau tidak, baik saat disaat berada di depan orang lain maupun tidak, baik dalam situasi menyenangkan maupun menyakitkan. Orang yang memiliki integritas akan tetap setia melakukan yang benar tanpa kepalsuan karena setiap perkataan, pemikiran dan perbuatan terdapat sinergi yang kuat dan harmonis. Integritas sebagai kepenuhan kebenaran yang ditandai dengan kebaikan, keadilan, kemurnian, keteguhan, ketulusan, kejujuran, kesetiaan, ketaatan, keberanian, kepatuhan dan kepatutan.[4]

2.3. Spritualitas

Kata ‘spritualitas’ berasal dari kata Hibrani ‘ruach’ – sebuah istilah kaya yang biasanya diterjemahkan dengan ‘spirit’ atau ‘roh’. Namun kata itu juga mencakup serangkain makna termasuk ‘spirit’ dan ‘angin’. Kalau kita berbicara tentang ‘spirit’, berarti kita mau membahas sesuatu yang memberikan kehidupan maupun semangat bagi seseorang. Maka dari itu, ‘spritualitas’ berkaitan dengankehidupan iman – yakni apa yang mendorong dan memotivasinya dan apa yang menurut orang-orang dirasa bisa membantu untuk melanggengkan dan mengembangkannya. Spritualitas juga menyangkut apa yang memberi semangat terhadap kehidupan orang-orang beriman serta mendorong mereka untuk memperdalam dan menyempurnakan apa yang pada saat ini baru saja dimulai.

Spritualitas merupakan benteng terluar dalam kehidupan nyata iman religius seseorang – apa yang dilakukan orang bila mereka percaya. Spritualitas tidak sekedar menyangkut ide-ide, meskipun ide-ide dasar iman Kristen sungguh penting bagi spritualitas Kristen. Spritualitas Kristen menyangkut cara bagaimana kehidupan Kristen dipahami serta dihayati. Spritualitas menyangkut bagaimana orang secara penuh merengkuh realitas Tuhan secara penuh. Maka dari itu, spritualitas Kristen mungkin bisa dipahami sebagai cara bagaimana orang-orang Kristen sebagai pribadi maupun sebagai kelompok-kelompok berusaha memperdalam pengalaman mereka tentang Tuhan.[5]

2.4.Tinjaun

2.4.1.      Tinjauan Biblika

1.      Perjanjian Lama

Dalam PL, seorang nabi juga disebut dengan kata elohim yang diterjemahkan yang diterjemahkan abdi Allah (2 Raj.4:21), hamba Allah (Yes. 20:3; Dan. 6:20), orang yang memiliki Roh Allah atasnya (Yes. 61:1-3), penjaga (Yeh.3:17), dan utusan Tuhan (Hag. 1:13). Nabi-nabi juga menafsirkan mimpi-mimpi yang bersifat nubuat (mis. Yusuf, Daniel) dan memberikan pengertian mengenai sejarah: baik yang sekarang maupun yang akan datang dari pandangan kenabian.

Jadi seorang nabi bukan sekedar pemimpin agama dalam sejarah Israel, melainkan seorang yang telah dimasuki dan dikuasai oleh Roh Allah dan Firman Allah (Yeh. 37:1,4) karena dalam dirinya mempunyai tiga ciri sebagai berikut:

1.      Pengetahuan yang dinyatakan secara ilahi. Seorang nabi menerima pengetahuan yang diberikan Allah mengenai orang, peristiwa, dan kebenaran penebusan. Maksud utama pengetahua adalah mendorong umat Allah agar tetap setia kepada Allah dan perjanjian-Nya. Ciri khas nubuat PL yang menonjol ialah bahwa kehendak Allah bagi umat-Nya dijelaskan melalui ajaran, teguran, dan peringatan. Allah memakai para nabi untuk menyatakan hukuman-Nya sebelum trjadi.

2.      Kuasa yang diberikan secara ilahi. Para nabi tertarik ke dalam lingkaran ajaib ketika dipenuhi Roh Allah. Melalui para nabi, kuasa dan hidup Allah ditunjukkan secara adikodrati di tengah-tengah dunia yang pada umumnya tertutup bagi itu semua.

3.      Gaya hidup yang khusus. Pada umumnya nabi-nabi meninggalkan kegiatan hidup sehari-hari untuk hidup semata-mata bagi Allah. Mereka dengan gigih menentang penyembahan berhala, kebejatan, dan berbagai kejahatan di antara umat Allah, serta mengecam korupsi dalam kehidupan para raja dan imam; mereka merupakan aktivis yang mendukung perubahan kudus dan benar di Israel. Para nabi, yang senantiasa giat demi kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, memperjuangkan kehendak Allah tanpa memikirkan risiko pribadi.[6]

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa imam dalam PL adalah hamba Tuhan yang dipilih Allah untuk tugas tertentu yang telah diberikan Allah. Dalam PL imam disebut dengan kata kohen yang berarti yang berdiri. Kata kohen dalam agama Israel dipakai sebagai jabatan resmi seorang imam yaitu sebagai orang yang melayani Allah, sehingga imam berhubungan erat dengan ibadat kepada Allah, melaksanakan peradilan dan mengajar rakyat. Tugas seorang imam berkaitan dengan persembahan kurban, mereka mempelajari dan menafsir maksud dari peraturan-peraturan dan hokum-hukum tentang kurban. Mengajarkan hokum taurat (Ul. 33:10; Yer. 18:18), mengucapkan berkat (Bil. 6:22-27), menanyakan kehendak Allah (Ul. 33:8).[7]

Dalam Perjanjian Lama Nuh adalah Tamim, kata tamim yang dipakai yang dipakai untuk Nuh adalah menggambarkan sikap dan kedudukan Nuh dihadapan Allah. Kata tamim ini merupakan gambaran sikap atau cara hidup yang benar di hadapan Allah.[8] Hidupnya terarah pada kebaikan di hadapan Allah. Dan Ayub juga adalah tokoh yang memiliki integritas dimana integritas yang dimiliki Ayub terlihat dari kesalehannya. Kesalehan adalah wujud integritas Ayub. Dimana dalam situasi da keadaan yang sulit sekalipun Ayub masih tetap mampu mempertahankan integritasnya.[9]

2.      Perjanjian Baru

Semua orang sependapat bahwa sedikitnya ada dua golongan pemimpin dalam gereja-gereja Perjanjian Baru, yaitu para penatua dan diaken. Tidak semua orang setuju bahwa keduanya diperlukan pada masa kini. Misalnya, ada yang mengatakan bahwa karena Paulus hanya menyebutkan para penatua dalam Titus I (walaupun ia menulis tentang para penatua maupun diaken dalam I Tim. 3), maka jabatan diaken merupakan pilihan dalam organisasi gereja.[10]

Di dalam Perjanjian Baru istilah hamba disebut dengan istilah “doulos” yang artinya pelayan dan budak, kata doulos parallel dengan Perjanjian Lama dengan istilah ‘bd. Di dalam dunia Yunani dan di dalam dunia Helenistik kata ini memiliki kelompok, karena bagi orang-orang Yunani memiliki pandangan kebebasan personal itu sangat tinggi, jadi kelompok ini adalah kelompok yang direndahkan, da n sangat dihinakan. Seorang hamba itu juga dipahami sebagai orang yang harus bergantung kepada Allah sebagai Tuannyam Allah yang memilih dan melayakkan seseorang itu menjadi seorang pelayan-Nya, bukan untuk merendahkan pelayan tersebut.[11]

Kualifikasi sebagai gembala menurut 1 Tim. 3:2-7[12]:

1.      Kualifikasi Sosial: Tidak bercacat, punya reputasi baik, dihormati dan disegani

2.      Kualifikasi Mental: Moral tidak diragukan dan dapat mengendalikan diri

3.      Kualifikasi Kepribadian: Bijaksana, sopan, cakap mengajar, peramah suka memberi tumpangan dan bukan hamba uang

4.      Kualifikasi Rohani: Dewasa rohani, bukan baru bertobat agar tidak sombong

2.4.2.      Tinjauan Sistematika

Rasul. Singkatnya, sebutan ini hanya diberikan kepada dua belas rasul yang dipilih oleh Yesus dan kepada Paulus. Tetapi, sebutan ini juga diberikan pada rasul yang menyertai Paulus dalam pekerjaan dan pelayanannya dan kepada mereka juga diberikan karunia dan anugerah kerasulan, Kis 14:4,14; 1 Kor 9:5,6. Para rasul memiliki tugas khusus untuk meletakkan dasar berdirinya Gereja di segala abad. Hanya melalui perkataan merekalah maka semua orang percaya di jaman-jaman berikutnya dapat memiliki persekutuan dengan Tuhan Yesus. Jadi, mereka merupakan para rasul Gereja jaman sekarang seperti mereka juga adalah rasul pada gereja mula-mula.[13] 

1.      Dogmatika

Semua orang Kristen adalah Imamat yang Rajawi di hadapa Allah, karena iman kepada Kristus. “Kamulah… imamat yang rajani” (1 Pet. 2:9). Karena fakta ini mereka adalah pemilik asli dan yang empunya Jabatan Kunci (Office of the Keys) dan implikasinya dari jabatan ini. Mereka harus menjadi saksi Kristus, mengakuiNya di depan manusia, menganjarkan FirmanNya, menegur dosa dan kesalahan, menegur dan menghibur, berdoa dan memohon pengampunan dosa bagi orang lain; dan apabila dibutuhkan, mereka juga dapat membaptis dan melayankan upacara pengampunan dosa.

Jabatan pelayanan tidak diciptakan oleh manusia, tetapi dilembagakan oleh Allah. Ini adalah kehendak Allah agar anak-anakNya mengajarkan Firman Allah.

Tujuan jabatan ini bukanlah bahwa pelayan sebagai seorang imam mendamaikan umat dengan Allah – hal ini telah dilakukan oleh Kristus – tetapi pelayan adalah seorang nabi dan utusan Allah untuk memberitakan kepada manusia tentang pengampunan dosa dan pendamaian yang telah disempurnakan, serta membujuk dan mengajak manusia untuk menerima dengan iman, apa yang ditawarkan Allah kepada mereka (2 Kor. 5:19,20). Dengan alasan inilah, tujuan jabatan ini bukan menghadirkan ajaran Alkitab secara akademis, seperti seorang dosen yang mengajarkan filsafat; injil harus diberitakan dan Sakramen harus dilayankan untuk tujuan yang berguna dan pasti, sebagai berikut:

-          Pelayan ada untuk menjadikan manusia menjadi murid Kristus dan mengajar mereka untuk melaksanakan apa yang diperintahkanNya (Mat. 28:19,20)

-          Pelayan ada untuk memperlengkapi orang-orang kudus dan memajukan gereja Allah (Ef. 4:12)

-          Pelayan ada untuk menyelamatkan jiwa-jiwa (1Tim. 4: 16).

Karena itu dapat ditegaskan, bahwa jabatan pelayan adalah: pelayanan umum sarana anugerah dengan tujuan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.[14]

2.      Etika

Nabi Yahweh tidak hanya dipanggil, tetapi juga mendapatkan pesan dan misi. Itulah yang terjadi pada Debora (Hak. 4-5), Yesaya (Yes. 6:8-9), Amos (Am. 7:15), dan Yohanes Pembaptis (Yoh. 1:6-8). Rasul dari Tarsus (Paulus—ed.) ini pun sangat yakin Allah menetapkannya sebagai penginjil ke kalangan non-Yahudi (1 Kor. 9:16). Tak pelak, pelayan injil Yesus Kristus dipilih dan diutus oleh Allah untuk memenuhi misi ilahi. Pelayan adalah vocation, panggilan Allah. Meskipun pengabdian utama pelayan ditujukan kepada Allah, pengabdian ini sama sekali tidak boleh menjadi dalih untuk menghindari tugas-tugas pastoral. Hak dan tanggung jawab tercakup dalam pelayanan. Panggilan pelayan harus selalu dikonkretkan di suatu komunitas, yang biiasanya berupa jemaat local. Kita tidak bisa melayani Kristus tanpa melayani orang lain sebab melayani orang lain berarti melayani Kristus (Mat. 25:31-46).

Oleh karena kita sedang mencari pemahaman yang jelas tentang panggilan pelayan, harus dicatat bahwa arti istilah “panggilan”, “profesi”, dan “karier” itu bermacam-macam. William May dari Southern Methodist University mengatakan bahwa kerancuan istilah ini menimbulkan ketegangan. Ia menegaskan bahwa ada panggilan kepada tiap orang Kristen yang biasanya berarti komitmen kepada Allah dan sesama.

Jadi, secara keseluruhan, Alkitab adalah sumber rujukan utama tindakan etis. “Para penulis Alkitab sebenarnya memberi panduan, mereka mengajukkan jenis pendekatan etika yang layak dikuasai orang Kristen – meskipun rinciannya masih harus dilengkapi”. Salah satu cara agar “rincian itu lengkap” adalah melalui karya Roh Kudus, sebuah cara penyingkapan subjektif. Sama seperti Krisrus adalah model moralitas, Roh Kudus adalah kuasa yang memungkinkan adanya kehidupan Kristen (Rm. 8:13-14).

Meskipun beberapa etikus yakin bahwa kunci moralitas adalah pemebntukan karakter, jumlah yang sama mungkin mengatakan bahwa rahasia perbuatan yang benar adalah cara mengamalkan etika. Baik “berwatak baik” (karakter) maupun “bertindak baik” (perilaku) sama-sama penting. Kedua unsur itu saling bergantung. Seperti biola dan alat geseknya, keduanya bekerjasama menghasilkan music y7ang selaras yang disebut visi moral-cara “hidup baik”. Kata yang paling menggambarkan kehidupan moral pelayan adalah integritas, istilah yang merupakan tema buku ini dan unsur pemersatu yang memadukan karakter, perilaku, dan visi moral menjadi “hidup sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (Ef. 4:1).[15]

Mengatakan bahwa pelayanan pastoral adalah panggilan berarti suatu tanggapan bebas terhadap panggilan Tuhan di dalam dan melalui komunitas untuk megabdikan diri dalam dan melalui komunitas untuk mengabdikan diri dalam cinta demi pelayanan kepada sesame. Sebagai suatu panggilan, pelayanan pastoral merupakan suatu tanggapan bebas atas pengalaman kita akan Tuhan di dalam dan melalui komunitas.

Melalui pelayanan, kita mengahayati hidup pelayanan yang memajukan misi Gereja untuk membawa setiap orang ke dalam persekutuan yang penuh dengan Tuhan. Keberadaan kita sebagai kehadiran simbolis Tuhan mendesak kita untuk menghargai tuntutan-tuntutan untuk menjadi professional, karena pengalaman orang akan diri kita sungguh dikaitkan dengan pengalaman mereka akan Tuhan.[16]

2.4.3.      Praktika

Allah ingin para pelayanNya berhasil, tetapi kita melakukannya dengan iman. Selekasnya asas iman itu dipahami, kita dapat beranjak dari situ untuk mencapai hal-hal yang terbaik dari Allah. Selanjutnya menyediakan sepuluh hal yang bersama iman akan mendatangkan hasil yang banyak:[17]

Bagi orang Kristen, pemimpin utama adalah Tuhan dan orang Kristen yang mendapat kepercayaan memimpin mendapat kehidupan dan kekuatan mengemban tugasnya hanya karena penyertaan sang Pemimpin Agung itu. Secara konkret seorang pemimpin utama adalah seorang yang kehidupan doanya terpelihara baik dan ini hidupnya dipimpin oleh Tuhan sebab, pemimpijn yang layak didengar adalah pemimpin yang mau mendengar Tuhan dalam hidupnya. Pemimpinj yang layak ditaati adalah pemimpin yang taat kepada Tuhan.[18]

1.      Menghayati Hidup Disiplin (I Kor. 9:27)

Tak seorang pun dapat berhasil dalam pelayanan jika dia tidak disiplin. Ada terlampau banyak gembala yang tak disiplin, terlampau banyak penginjil yang tak berdisiplin terlalu banyak pelayanan Injil yang tak disiplin: Untuk dapat berhasil seseorang HARUS BERDISIPLIN

2.      Firman Allah Harus Mendapat Tempat Utama Dalam Hidup Anda (Yoh. 8:31,32)

Dapat dipastikan bahwa hamper tak dapat menjumpai seorang Kristen dimana pun yang tak memiliki Alkitab. Mereka mempunyai kebenaran, namun mereka tetap lesu dan kalah seperti orang berdosa mana pun juga. Mereka mengetahui kebenaran terdapat di Alkitab tetapi mereka masih kalah. Jadi, bukanlah hanya dengan memiliki kebenaran saja yang memerdekakan. Tetapi perhatikanlah ucapan Yesus dalam ayat ini: “dan kamu akan MENGETAHUI kebenaran …” memiliki kebenaran dan mengetahuinya tidaklah sama.

3.      Doa (I Kor. 14:4)

Jika pelayan tidak dipenuhi dengan Roh Kudus, maka sesungguhnya pelayan tidak mengetahui cara untuk berdoa. Metode doa yang akan membantu agar berhasil ialah metode berdoa dalam Roh, dan anda tak dapat berdoa dalam Roh sebelum anda dipenuhi dengan Roh Kudus.

4.      Latihan Jasmani (I Timoteus 4:8)

Jika anda mau makmur dalam pelayanan, anda harus meletakkan sedikit latihan jasmani. Setiap orang harus bersenam. Terlampau banyak pendeta yang kondisi badannya buruk. Mengendalikan berat badan dengan diet yang wajar dan latihan jasmani yang wajar merupakan bagian dari keberhasilan. Ingatlah bahwa tubuh anda ialah bait Roh Kudus, dan Allah bekerja melalui bait itu.

5.      Jadilah Teladan (I Pet. 5:3)

Sebagai gembala harus menjadi teladan atau contoh kepada mereka yang kita gembalakan. Jika seorang pendeta menjadi teladan dalam segala sesuatu yang diperbuatnya, kemungkinan besar akibatnya ialah jemaatnya akan menjadi seperti dirinya. Karena secara normal apapun yang anda jumpai dalam jemaat, berasal dari mimbar.

6.      Menanggung Aniaya dan Kecaman (II Tim. 3:10)

Kata “menderita” berarti menghadapi atau tahan. Seorang Pelayan akan dianiaya, dan aniaya akan datang dalam bentuk kecaman. Itu adalah sebagian dari aniaya. Orang-orang akan mengecam dan iblis akan mempengaruhi orang-orang untuk mencoba menghentikan kesaksian dan pemberitaan anda. Begitulah caranya dapat menjelaskan tentang pola pertumbuhan seorang Kristen.

7.      Persaingan Dalam Pelayanan (I Kor. 1:11-13)

Sadar atau tidak, ada persaingan dalam pelayanan – para Pendeta dengan sengaja berusaha menjadi lain daripada rekan-rekannya demi memikat “langganan”. Tak perlu ada persaingan di antara persaudaraan Kristen

8.      Mengenal Perbedaan antara Memegahkan Diri dan Laporan Yang Baik (Mrk. 5:19,20)

Keberhasilan dalam pelayanan dapat dicapai dengan salah satuya mengetahui perbedaan antara kemegahan dan kesaksian! Jika seorang pelayan tak dapat membedakannya, maka akan dapat merusak iman dengan menyangka bahwa seorang tersebut sedang melakukan sesuatu dengan kekuatannya dan bukannya memberikan kemuliaan kepada yang berhak yaitu Tuhan!

9.      Luangkan Waktu Bersama Pasangan dan Anak-anak Anda (Mrk. 6:30,31)

Begitulah seharusnya pelayanan dapat diatur. Para pendeta menolak waktu libur pasangan mereka dan keluarga mereka terlepas dari gereja dan pelayanan. Para pendeta mempunyai gagasan yang keliru. Mereka menyangka bahwa mereka sendirilah yang akan menyelamatkan setiap orang. Itulah keakuan yang berusaha membuat sesuatu dapat terjadi.

10.  Gembalakanlah Kawanan Domba (I Pet 5:2)

Para Hamba Tuhan mempunyai suatu tanggungjawab besar sebagai pelayan-pelayan Injil. Yesus bersabda kepada Petrus, Gembalakanlah domba-dombaKu. Pemberitaan Injil ialah untuk para pendosa, pengajaran adalah untuk orang-orang Kristen. Para pendosa perlu diilhami untuk diselamatkan; para orang Kristen tak memerlukan suatu ilhampun. Mereka harus menjadi ilham mereka sendiri jika mereka diajarkan Firman dengan wajar.

Pelayan sebagai gembala perlu tetap mengingat, merenungkan, dan melakukan:

1.      Datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani dengan kata lain Did not come to be served, but so serve (Mrk 10:45)

2.      Upahku adalah bahwa aku boleh melayani Tuhan sebagai hamba, partner kerja di lading Tuhan sebagai penjala manusia seperti Simon Petrus (Lks 5:10).

3.      Sebagai Hamba Tuhan lihatlah sekelilingmu dan pandanglah lading-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Karena itu sebagai Hamba Tuhan berangkatlah sekarang. Jangan tunggu besok atau lusa tetapi sekarang juga

4.      Jadilah tim kerja yang solid akan pelayanan di jemaat dan laksanakanlah Job Description (pembagian tugas) yang telah disepakati bersama.

5.      Kasih adalah dasar utama bagi kita pelayan untuk melayani warga jemaat, kasih “Agave” yang bersumber dari Yesus Kristus (Yoh 21:15-17). Perlu dicatat dan diingat bahwa Tuhan Yesus Kristus sebagai kepala gereja dan Hakim Agung akan meminta pertanggungjawaban dari kita apakah kita sudah melakukan tugas dan tanggung jawab atau tidak sebagai gembala.[19]

2.4.4.      Ilmu Agama-agama

1.      Hindu

Dalam Agama Hindu menurut tradisi, ada empat warna yang diciptakan oleh Brahman, dewa tertinggi, pada waktu penciptaan. Waktu berjalan terus dan banyak suku bangsa dipengaruhi oleh Hinduisme dan system kasta semakin kompleks tumbuh dan berkembang. Warna putih dipercayai sebagai warna tertinggi – kasta Brahmana – berasal dari mulut Perusha, yang termasuk kasta Brahmana adalah para pendeta yang memimpin pelayanan dan upacara-upacara keagamaan serta menyanyikan ayat-ayat Kitab Suci, sebagai kasta tertinggi dari empat warna yang berasal dari Perusha para Pendeta adalah orang-orang suci.[20]

2.      Budha

Sebenarnya Budhisme dalam wujud yang semula tidak dapat disebut sebagai agama, karena ajarannya tidak mempunyai konsep tentang ajaran Ketuhanan, gambaran sifat-sifat Tuhan kewajiban manusia terhadap Tuhan, dan sebagainya. Dalam konteks itulah Budhisme mungkin hanya dinamakan filsafat hidup (philosophy of life) yang memuat beberapa ajaran tentang budi pekerti, moral, delapan jalan kelepasan, keyakinan terhadap nirvana.[21]

Para biarawan dan biarawati atau rahib Buddha, yang disebut bikkhu – yang sama sekali tergantung pada kaum awam Buddha untuk makanan dan pakaian mereka – adalah mereka yang terbebas dari tugas rumah tangga sehingga mereka mempunyai kesempatan yang baik untuk mencapai nirvana. Dari antara mereka, yang paling dekat pada pencerahan adalah para “rahib hutan” yang menjalankan meditasi dengan santat ketat.

2.5. Realitas Hamba Tuhan Masa Kini

Kerendahan hati bukan sesuatu yang kita bawa kepada Allah atau yang dianugerahkan. Secara sederhana kerendahan hati merupakan pengertian tentang ketiadaan menyeluruh yang muncul ketika kita melihat betapa benarnya Allah dalam segala sesuatu, dan di mana kita membuat jalan bagi Allah agar Dia menjadi segalanya. Manusia harus menyadari bahwa kerendahan hati merupakan keluhuran sejati. Ia harus sepakat, dengan kehendaknya, pikirannya, dan kepuasannya, untuk menjadi suatu bejana di mana hidup dan kemuliaan Allah bekerja dan mewujudkan. Maka ia akan melihat bahwa kerendahan hati secara sederhana merupakan pengakuan kebenaran akan kedudukan sebagai manusia sebagai hamba Tuhan.

Penulis tidak mengatakan seluruh hamba Tuhan masa kini sudah memiliki sifat kesombongan karena statusnya sebagai hamba Tuhan yang tentunya adalah orang yang mendapat penghormatan/respect dari orang lain terkhususnya dari para jemaat yang dipimpinnya, tetapi kecenderungan para hamba Tuhan masa kini telah buta ataupun dapat dikatakan tenggelam dalam hasrat dan keinginan pribadi, sehingga motivasi sang hamba Tuhan sudah dipenuhi dengan segala kebutuhannya

Melayani adalah mengosongkan diri dan menempatkan kepentingan diri sendiri dibawah kepentingan Tuhan dan kepentinganorang lain, sehingga kecenderungan banyak para hamba Tuhan sungguh bertolak belakang dengan jalan hidup yang lazim di mana justru mengutamakan kepentingan diri sendiri. Juga jabatan dalam struktur dalam kepriodean majelis pusat, sehingga perburuan jabatan sebatas hanya meninggikan derajatnya dan tentunya pendapatannya menambah dan tentunya makna sesungguhnya melayani sudah kabur dalam diri seorang Hamba Tuhan. Perlu disadari para hamba Tuhan dalam pemanggilan dan pemilihan hamba Tuhan selalu diinisiatif oleh Allah untuk tugas yang telah ditentukan oleh Tuhan, dunia saat ini menawarkan kebahagiaan yang semu dan sementara, namun percayalah Tuhan melihat dan mengetahui apa yang kita butuhkan dan alami untuk hidup sungguh-sungguh sebagai hamba Tuhan dan harus benar-benar mengimaninya. Kerelaan dan kepatuhan terhadap Tuhan, jujur dan setia kepada Tuhan, karena hamba Tuhan adalah duta-duta Tuhan, juru bicara Tuhan, pemimpin pengabdian kepada Tuhan.

Demikianlah juga hendaknya dengan seorang pendeta yang pada masa kini dipahami dan dipercayai sebagai hamba Tuhan, harus bertindak dan meneladani dari kehidupan Tuhan Yesus untuk memiliki makna spritualitas dan integritas sebagai hamba Tuhan, sehingga dengan demikian seorang pendeta akan memberikan dirinya sepenuhnya dalam tugas pelayanannya, dan dia bukan bekerja seperti tuan terhadap anggota jemaatnya melainkan dia tetap bekerja seperti seorang hamba yang berbuat sesuai dengan kehendak tuannya, sebagaimana Kristus yang ke dunia ini telah memberikan diri-Nya untuk melayani banyak orang bukan untuk dilayani.

III.             Kesimpulan

Hamba Tuhan seharusnya kembali kepada pemahaman apa, siapa, untuk apa seseorang itu ditetapkan sebagai hamba Tuhan dan mengimani, dengan pemurnian kembali pemahaman itu maka sesungguhnya segala permasalahan baik Integritas dan Spritualitas hamba Tuhan masa kini itu bisa diperbaiki dan Hamba Tuhan masa kini tetap dipandang sebagai representasi Tuhan dalam pelayanannya.

IV.             Daftar Pustaka

Bangun Yosafat, Integritas Pemimpin Pastoral, Yogyakarta: ANDI, 2010

Berkhof Louis, Teologi Sistematika Volume 5: Doktrin Gereja, Surabaya: Momentum, 1991

Butrick George Arthur dkk (ed), The Interpreter’s bible Volume III,

Gemeren Willem A. Van, Penginterpretasian Kitab Para Nabi, Surabaya: Momentum, 2016

Gula Richard M., Etika Pastoral, Yogyakarta: KANISIUS, 2009

Keene Michael, Agama-agama Dunia, Yogyakarta: Kanisius, 2006

Koehler Edward W. A., Intisari Ajaran Kristen, Kolpotase GKPI

McGrath Alister E., Spiritualitas Kristen, Medan: Bina Media Perintis, 2007

Price Frederick K. C., Sasaran-sasaran Praktis Untuk Pelayanan Yang Berhasil, Jakarta: IMMANUEL, 1993

Rahardjo N. Susilo, Etika Pelayan Gereja Peran Moral dan Tanggung Jawab Etis Pelayan Gereja, Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2012

Rummo Gregory J., The View From The Grass Roots Another Look, Enumclay: Pleasant World, 1984

Ryrie Charles C., Teologi Dasar 2, Yogyakarta: ANDI, 2010

Saragih Agus J., Hamba Tuhan Panggilan, Spritualitas, dan Pelayanannya Sudut Pandang Perjanjian Lama, Jurna Theologi Tabernakel Edisi XXXIV, Medan STT Abidi Sabda 2015

Saragih Jahenos, Ini aki Utuslah aku Suatu Pengantar Kepada Biblika, Sistematika, Historika dan Praktika dalam Pelayanan Gereja Masa Kini, Jakarta: Suara Gereja Kristiani Yang Esa Peduli Bangsa, 2005

Scullion Jhon J., Claus Westermann Genesis 1-11, Amerika: United States, 1984

Siringoringo V. M., Teologi Perjanjian Lama, Yogyakarta: Andi, 2013

Situmorang Jainal M., Hamba Tuhan dan Pendritaan Dalam Perjanjian Lama diperhadapkan Dengan Pendeta Sebagai Hamba Tuhan, Jurna Theologi Tabernakel Edisi XXXIV, Medan STT Abidi Sabda 2015

Tambunan Victor, Gereja dan Orang Percaya, Pematangsiantar, L-SAPA STT HKBP, 2006

Thalhas T. H., Pengantar Study Ilmu Perbandingan Agama, Jakarta: Galura Pase, 2006



[1] Agus J. Saragih, Hamba Tuhan Panggilan, Spritualitas, dan Pelayanannya Sudut Pandang Perjanjian Lama, Jurna Theologi Tabernakel Edisi XXXIV, Medan STT Abidi Sabda 2015, 2

[2] Willem A. VanGemeren, Penginterpretasian Kitab Para Nabi, (Surabaya: Momentum, 2016), 32-33

[3] Yosafat Bangun, Integritas Pemimpin Pastoral, (Yogyakarta: ANDI, 2010), 90-91

[4] Bnd. Gregory J. Rummo, The View From The Grass Roots Another Look, (Enumclay: Pleasant World, 1984), 264

[5] Alister E. McGrath, Spiritualitas Kristen, (Medan: Bina Media Perintis, 2007), 2-3

[6] V. M. Siringoringo, Teologi Perjanjian Lama, (Yogyakarta: Andi, 2013), 95-97

[7] Jainal M. Situmorang, Hamba Tuhan dan Pendritaan Dalam Perjanjian Lama diperhadapkan Dengan Pendeta Sebagai Hamba Tuhan, Jurna Theologi Tabernakel Edisi XXXIV, Medan STT Abidi Sabda 2015, 30-31

[8] Jhon J. Scullion, Claus Westermann Genesis 1-11, (Amerika: United States, 1984), 41

[9] George Arthur Butrick dkk (ed), The Interpreter’s bible Volume III, 923

[10] Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 2, (Yogyakarta: ANDI, 2010), 210-211

[11] Jainal M. Situmorang, Hamba Tuhan dan Pendritaan Dalam Perjanjian Lama diperhadapkan Dengan Pendeta Sebagai Hamba Tuhan, Jurna Theologi Tabernakel Edisi XXXIV, Medan STT Abidi Sabda 2015, 23-24

[12] Jahenos Saragih, Ini aki Utuslah aku Suatu Pengantar Kepada Biblika, Sistematika, Historika dan Praktika dalam Pelayanan Gereja Masa Kini, (Jakarta: Suara Gereja Kristiani Yang Esa Peduli Bangsa, 2005), 64

[13] Louis Berkhof, Teologi Sistematika Volume 5: Doktrin Gereja, (Surabaya: Momentum, 1991), 64

[14] Edward W. A. Koehler, Intisari Ajaran Kristen, (Kolpotase GKPI) 289-296

[15] N. Susilo Rahardjo, Etika Pelayan Gereja Peran Moral dan Tanggung Jawab Etis Pelayan Gereja, (Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2012), 20-53

[16] Richard M. Gula, Etika Pastoral, (Yogyakarta: KANISIUS, 2009), 27-28

[17]  Frederick K. C. Price, Sasaran-sasaran Praktis Untuk Pelayanan Yang Berhasil, (Jakarta: IMMANUEL, 1993), 21-61

[18] Victor Tambunan, Gereja dan Orang Percaya, (Pematangsiantar, L-SAPA STT HKBP, 2006), 82

[19] Jahenos Saragih, Ini aki Utuslah aku Suatu Pengantar Kepada Biblika, Sistematika, Historika dan Praktika dalam Pelayanan Gereja Masa Kini, (Jakarta: Suara Gereja Kristiani Yang Esa Peduli Bangsa, 2005), 66

[20] Michael Keene, Agama-agama Dunia, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), 12

[21] T. H. Thalhas, Pengantar Study Ilmu Perbandingan Agama, (Jakarta: Galura Pase, 2006), 74

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar