Menggali Sejarah Penyebutan Nama-nama Allah dalam PL, PB, dan Agama Resmi di Indonesia serta Agama Suku
I. Latar Belakang Masalah
Allah dipahami sebagai Roh Mahakuasa dan asas dari suatu kepercayaan. Tidak ada kesepakatan bersama mengenai konsep ketuhanan, sehingga ada berbagai konsep ketuhanan. Yang paling umum, di antaranya adalah Mahatahu (mengetahui segalanya), Mahakuasa (memiliki kekuasaan tak terbatas), Mahaada (hadir di mana pun), Mahamulia (mengandung segala sifat-sifat baik yang sempurna), tak ada yang setara dengan-Nya, serta bersifat kekal abadi. Penganut monoteisme percaya bahwa Tuhan hanya ada satu, serta tidak berwujud (tanpa materi), memiliki pribadi, sumber segala kewajiban moral, dan "hal terbesar yang dapat direnungkan".Banyak filsuf abad pertengahan dan modern terkemuka yang mengembangkan argumen untuk mendukung dan membantah keberadaan Tuhan. Ada banyak nama untuk menyebut Tuhan, dan nama yang berbeda-beda melekat pada gagasan kultural tentang sosok Tuhan dan sifat-sifat apa yang dimiliki-Nya. Agama-agama ini menggunakan sebutan/panggilan yang berbeda yang disebabkan oleh perbedaan bahasa dan rentang sejarahnya. Pengalaman spiritualitas tiap agama juga menentukan sebutan akan Allah tersebut.
II. Pembahasan
2.1.Penyebutan Nama Allah ditinjau dari Biblika
2.1.1. Perjanjian Lama
Dalam Kitab PL, nama seseorang juga selalu diidentikkan dengan pribadi seseorang (Yoh. 7:9). Nama juga melambangkan pribadi yang hadir aktif (Mzm. 76:1). Nama juga memainkan peranan yang penting (Kej. 2:20a). Manusia ternyata bukan hanya memberi nama bagi makhluk-makhluk ciptaan lainnya, tetapi manusia juga memberikan nama bagi pencipta-Nya.[1] Hingga sekitar tahun 200 S.T.U (Sebelum Tarikh Umum) sudah menjadi kebiasaan agar tidak pernah mengucapkan nama yang sebenarnya dari Allah dalam Kitab Suci, dan sebagai gantinya selalu menyebutkan Adonai atau Tuhan. Anggapan bahwa penyebutan nama Allah sebagai suatu hal yang memungkinkan pelanggaran atas perintah untuk tidak menyebutkan nama-Nya dengan sia-sia merupakan karakteristik kesalehan Ibrani.
Perjanjian Lama sebagai suatu keseluruhan dan juga Torah amat konsisten dalam pernyataan bahwa hanya ada satu Allah. Oleh karena tidak ada Allah kecuali Allah, berhala-berhala yang disembah bangsa-bangsa lain tidak dilihat sebagai gambaran dari makhluk-makhluk ilahi sebab tidak ada makhluk seperti itu yang mungkin dapat eksis.[2]
Ada beberapa nama Allah yang umum dipergunakan dalam Perjanjian Lama, yaitu:
a. Adonai
Kata Adonai adalah bentuk jamak dari kata ‘adon yang berarti “tuan, pemilik, penguasa, junjungan”. Dalam hubungan dengan nama Allah, kata ini digunakan dalam bentuk jamak dengan diberi akhiran pemilik orang pertama tunggal, dan secara harfiah berarti “tuan-tuanku”. [3] Kata Adonai muncul sebanyak 449 kali dalam kitab PL, dan kitab terbanyak memunculkan kata Adonai adalah Kitab Yehezkiel, yakni sebanyak 217 kali. [4]
Mengapa Allah Israel yang Maha Esa disapa dalam bentuk jamak? Gejala Bahasa seperti ini akan dibahas dalam kata ‘Elohim. Cukup dikatakan disini bahwa secara teologis penggunaan bentuk jamak harus diartikan sebagai “tuan di atas segala tuan”, jadi “Tuhan” (bandingkan peran imbuhan “h” dalam kata “tuan”), yang Mahamulia, Sang Junjungan, dan Sang Pemilik. Contoh penggunaannya terdapat dalam Mazmur 97:5 yang menyebut Allah sebagai “Tuhan seluruh bumi”. Jadi, Allah berkenan dikenal dan diakui sebagai sang Pemilik seluruh dunia yang patut disembah dan dimuliakan.
Dalam perkembangan berikutnya, sebutan Adonai seringkali digunakan sebagai ucapan pengganti bagi nama Yahweh (YHWH), agar umat Israel terhindar dari menyebutkan nama Yahweh dengan sembarangan, sebagaimana ditegaskan dalam hukum ke-3 dari Dasa Titah (Kel. 20:7).[5]
b. El/Elohim
Umat Israel menggunakan nama “El” untuk menyebut Allah yang telah menyatakan diri-Nya kepada para leluhur mereka sebagai Allah Abraham (‘El ‘abi ‘Abraham), Allah Ishak (‘El ‘abi Yizak), dan Allah Yakub (‘El ‘abi Ya’aqov). Hal ini dapat dimengerti dengan memperhatikan adanya hubungan keluarga yang erat antara bangsa Israel dengan bangsa Aram (Ul. 26:5-6), salah satu dari bangsa Kanaan. Di samping itu, nama El adalah nama umum yang lazim digunakan di kalangan digunakan di kalangan rumpun bangsa Semit (di mana Israel termasuk salah satu di dalamnya) untuk menyebutkan Allah yang Mahakuasa dan Mahatinggi. Jadi, tidak mengherankan bila bangsa Israel menggunakan kata El untuk menyebutkan Allah mereka.
Jika kita membandingkan pemahaman El-Israel sebagaimana terdapat dalam PL dengan pemahaman bangsa-bangsa Kanaan mengenai El-Kanaan, akan terlihat perbedaan yang mencolok. Perbedaan itu ada karena PL tidak mengambil alih sifat-sifat lemah dan kemanusiaan El-kanaan ketika memberikan kesaksian tentang El-Israel. Misalnya dalam motologi Kanaan, El-Kanaan digambarkan sebagai dewa yang beristri banyak dewi. Namun dalam PL, El-Israel sama sekali tidak digambarkan demikian, karena Ia tak dapat disamakan dengan dewa-dewa kafir dan manusia. Begitu juga sifat kekal pada El-Israel tidak identic dengan hal menjadi tua (uzur) dan lemah seperti pada El-Kanaan yang memerlukan dewa-dewi lain untuk membantunya. Istilah kekal pada El-Israel itu justru hendak menunjukkan kekuatan dan kemahakuasaan-Nya yang tak lekang oleh peredaran waktu. Dengan demikian sekalipun El adalah nama umum bagi ilah dalam lingkungan agama-agama Kanaan dan sekitarnya, namun bangsa Israel yang taat tidak tergoda sedikit pun untuk menyamakan El-Israel dan El-Kanaan begitu saja. [6]
Kata Elohim ini adalah sebutan nama Ilahi pertama yang tertulis dalam PL. [7] Salah satu masalah yang mungkin membingungkan ialah gejala Bahasa yang menggunakan bentuk jamak untuk menyebutkan Allah Israel yang Mahaesa. Bentuk itu adalah kata Elohim yang secara harfiah harus diterjemahkan para El” (‘Elim) atau “Allah-Allah”; suatu istilah yang berkonotasi poloteistis. Hal yang sama telah disinggung ketika membicarakan kata “Adonai”. Masalahnya ialah, bagaimana mungkin Allah Israel yang Esa (Ul.6:4) dapat disebutkan dalam bentuk jamak sebagai Elohim? Dipandang dari sudut etimologi kata ‘elohim adalah bentuk jamak dari kata ‘eloah, agaknya berasal pula dari kata ‘elah dalam Bahasa Aram. Bandingkan kata ‘ilah atau ‘ill dalam Bahasa Arab yang merupakan satu rumpun dengan Bahasa Ibrani.Akar katanya memang adalah ‘el, yang berarti yang berkuasa atau yang kuat. Dari segi langgam Bahasa, penggunaan bentuk jamak ini tidak bermakna harfiah politeistis, tetapi justru bermakna “lebih dari” atau “di atas segala-galanya”. Dengan demiian, sama seperti Adonai yang berarti “Sang Pemilik yang Agung”, demikian pula Elohim tidak bermakna politeistis (para El/Elim) melainkan berarti “Yang Mahakuat”, “Yang Maha Berkuasa” (Bnd. Ul. 10:17). [8]
c. Yahweh
Nama YHWH adalah nama Ilahi terbanyak yang tertulis dalam Kitab PL, yakni tertulis sebanyak 6.823 kali.[9] Dibandingkan dengan nama El, yang merupakan sebutan umum bagi Allah dalam kehidupan bangsa-bangsa Semit, nama Yahweh dapat dikatakan merupakan sebutan khusus lahir dalam konteks kepercayaan bangsa Israel. Nama itu terbentuk dari empat huruf mati (konsonan) yakni YHWH (Ibrani). Sesuai dengan ketentuan dalam Sepuluh Hukum Tuhan (Dasa Titah) untuk tidak menyebutkan nama YHWH ini dengan sembarangan. Nama ini terdapat kurang lebih 6.823 kali dalam PL. jumlah ini memperlihatkan betapa pentingnya nama Allah dalam kepercayaan umat Israel.
Tetragram YHWH dibentuk dari kata kerja hãyãh yang berarti “ada”, “hidup”, atau “menjadi ada”. [10] Secara historis nama YHWH adalah nama Diri Allah Israel yang diwahyukan pertama-tama sekali kepada Musa.[11] di Gunung Sinai dalam pernyataan-Nya yang berbunyi: ‘Ehyeh ‘asyer ‘Ehyeh, yang dalam Alkitab PL terjemahan Klintert diterjemahkan secara tepat menjadi “Aku ada yang Aku ada”.[12]
2.1.2. Perjanjian Baru
Dalam empat kitab pertama dari Perjanjian Baru pertama-tama kita melihat Kepala manusia universal ini. Kepala ini, Kristus, adalah Allah Bapa di dalam Putra oleh Roh membaurkan diri-Nya dengan manusia dan menjadi manusia. Karena itu, Dia adalah Manusia-Allah, Allah berbaur dengan manusia, manusia yang bersatu dengan Allah. Hal pertama yang disebutkan dalam pasal pertama dari Perjanjian Baru adalah Yesus Kristus, yang disebut Imanuel (Mat. 1:1). Imanuel berarti “Allah beserta kita.”.[13]
Perjanjian Baru mengajarkan bahwa sesudah kenaikan, Kristus menerima nama baru di atas segala nama (Flp. 2:9, Ibr. 1:4) dan Yerusalem baru. Demikian juga nama baru akan diberikan kepada orang-orang percaya (Why. 2:17);3:12). Di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya manusia dapat diselamatkan (Kis. 4:12). Di dalam Perjanjian Baru Allah diterima dengan lebih jelas dan mempunyai arti yang lebih dalam bagi manusia oleh karena “Firman” yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah dan Dia juga adalah Allah, datang ke dunia ini di dalam daging (Yoh. 1:1-14). Bahwa tidak seorang pun mengenal Bapa, kecuali Anak dan kepada Anak itulah orang dapat mengenal Bapa (Allah). Barangsiapa percaya kepada Bapa percaya kepada Anak mempunyai Bapa (1 Yoh. 2:23). Barangsiapa telah melihat Dia, Ia telah melihat Bapa (Yoh. 14:9). Demikian juga nama Yesus Kristus menjamin bahwa pengetahuan tentang Allah sungguh dapat di percaya.[14]
Nama-Nya Yesus, sebab Dia menyelamatkan umat-Nyadari dosa-dosa (Mat. 1:21). Nama-Nya adalah yang diberikan dari atas, dan di dalam nama itu saja orang percaya dapat diselamatkan (Kis. 4:12). Di dalam nama-Nya juga mukjizat dapat dilakukan (Kis. 4:7) dan menerima penebusan, perdamaian, pengampunan dari hukuman dari hukuman. Di dalam nama-Nya orang percaya juga mempunyai hak menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12) dan hidup yang kekal (1 Yoh. 5:13). Di mana ada dua atau tiga orang bersekutu di dalam nama-Nya, maka Dia akan ada bersama-sama dengan mereka (Mat. 18:20). Barangsiapa berdoa di dalam nama-Nya, maka doanya akan didengar (Yoh. 14:13). Barangsiapa berseru memanggil nama-Nya akan diselamatkan (Kis. 2:21). Nama Bapa, Anak dan Roh Kudus menandai kesempurnaan keselamatan manusia. Dibaptis di dalam nama itu merupaka bukti, tanda persekutuan dengan Allah. [15]
Ada beberapa nama Allah yang umum dipergunakan dalam Perjanjian Baru, yaitu:
a. Theos[16]
Theos adalah sebuah kata Yunani. Nama Theos tertulis pertama kali dalam Kitab Septuaginta. Nama Theos dipilih oleh para sarjana Kitab Suci Yahudi sebagai terjemahan bagi nama-nama Ilahi Ibrani. Kata Theos tertulis sebanyak 3.984 kali dalam Kitab Septuaginta, dan 1318 kali dalam Kitab PB. Athena, ibukota Yunani, dijuluki oleh para filsuf kuno sebagai kota para Dewa dan Dewi, karena kota yang penuh dengan patung Dewa-Dewi. Theos adalah sebuah Nama Sebutan Gelar umum dalam Bahasa Yunani yang digunakan oleh masyarakat Yunani untuk menunjuk kepada Dewa-Dewi ini. Setiap Dewa-Dewi Yunani ini memiliki nama diri masing-masing. Zeus adalah Nama Diri Dewa Tertinggi. Zeus adalah Dewa dari segala Dewa-Dewi Yunani. Kenapa penulis Kitab Septuaginta memutuskan memilih Nama Sebutan Gelar Theos? Para ahli Bahasa Yahudi, ketika memutuskan memilih kata Theos dibandingkan Zeus dipastikan terpengaruh oleh tiga hal berikut ini.
1. Mereka mengetahui bahwa kultus pemujaan Zeus sebagai Dewa segala Dewa-Dewi yang popular pada abad ke 2 sM merupakan proses bertahap kemenangan kelompok penyembah Zeus terhadap kelompok-kelompok penyembah Dewa-Dewi yang lain. Zeus telah mencapai kemenangan dijadikan Dewa dari segala Dewa-Dewi. Sesungguhnya, Zeus juga memperanakkan secara jasmani Dewa-Dewi lainnya, seperti contohnya adalah Hercules. Para sarjana Yahudi tidak mungkin menyamakan El, Elohim, yang ridak “beranak dan diperanakkan” ini dengan Zeus.
2. Theos adalah Nama Sebutan Gelar umum untuk menyebutkan pribadi Dia Yang Maha Tinggi.mereka juga mengetahui bahwa nama Theos belum terkorupsi dengan pengertian-pengertian keliru.
Paulus juga sekli memaknakan kata Theos. Lukas sebagai penulis Kitab Kisah Para Rasul juga sepakat dengan Paulus. Theos benar-benar dijaga makna penggunaannya oleh Paulus dan Lukas. Kata Theos hanya dimengerti oleh Paulus dan Lukas sebagai “satu-satunya Allah yang benar”. Akhirnya, kata Theos dalam makna sebagai “Allah yang satu-satunya dan benar” yang sudah dikenal dan dipahami oleh filsuf Yunani ini kemudian terus dijaga maknanya oleh para penulis kitab Septuaginta dan selanjutnya tetap terus dijaga kemurniannya oleh para penulis Kitab PB. Kata Yunani Theos telah berhasil merepresentasikan kata Ibrani El/Elohim.
b. Kyrios
Kata Yunani Kyrios memiliki arti yang sama dengan kata Ibrani Adonay. Kata Kyrios berarti Tuhan. Kyrios bukanlah sebuah nama Diri Ilahi, Kyrios hanyalah sebuah Nama Sebutan Gelar umum bagi Pribadi Ilahi. Pada abad ke-2 sM, dalam kitab Septuaginta, para ahli Bahasa Yahudi menggunakan kata Kyrios bukan saja sebagai terjemahan Yunani bagi kata Ibrani Adonay, tetapi juga menggunakannya sebagai kata terjemahan bagi Nama IlahiYHWH. Alhasil, kata Kyrios tertulis sebanyak 6742 kali dalam Kitab Septuaginta. Pada abad pertama Masehi, kata Kyrios tertulis sebanyak 719 kali di dalam Kitab PB. LAI menerjemahkan kata Kyrios ini dalam arti yang berbeda-beda, kadang sebagai “Tuan”, kadang diterjemahkan sebagai “Tuhan”. ada terlihat ketidak-konsistenan dalam metode penerjemahan. Apa yang dilakukan oleh LAI adalah konsekuensi logis dari kesimpang-siuran pendapat para sarjana ahli tafsir PB yang memang saling berbeda pendapat mengenai metode penerjemahan bagi kata Kyrios ini. Kita harus melihat persoalan ini pada tiga tahapan. Tahapan pertama, adalah pada peroide ketika Yesus berkarya di bumi; tahapan kedua, adalah pada perode ketika para Murid dan Rasul Kristus memberitakan kabar gembira kepada seluruh bangsa; Tahapan ketiga, pada periode ketika kabar gembira ini dikompisisikan menjadi sebuah Kitab PB. Dengan demikian, hamper semua kata Kyrios yang terdapat dalam ke-4 Injil yang adalah berada dalam periode tahapan pertama semestinya diterjemahkan menjadi kata Tuan saja, dengan beberapa pengecualian tentunya, salah satu contohnya adalah pengakuan Tomas “Ko Kyrios mo kai ho Theos mou, ya Tuhan-Ku, dan Allah-Ku” (Yoh 20:28). Semua gelar Kyrios yang dikenakan bagi Yesus yang berada pada periode tahapan kedua, yaitu mulai dari kitab Kisah Para Rasul sampai dengan kitab Wahyu semestinya diterjemahkan menjadi kats Tuhan karena para Murid dan Rasul telah mengerti sepenuhnya ketika mereka memberitakan kabar gembira ini bahwa Yesus adalah ho Kyrios, Yesus adalah Tuhan (Kis. 2:36). Sementara itu, periode tahapan ketiga adalah konsekwensi logis dari periode tahapan kedua. Iman para Murid dan Rasul Kristus kepada Yesus sebagai Kyrios/Tuhan setelah menyaksikan peristiwa kebangkitan dan kenaikan Yesus ke Surga di putar ulang sejarahnya oleh mereka dan dikomposisikan kembali menjadi sebuah kitab. Kita memang sepatutnya memakai kitab Injil sebagai sebuah refleksi kisah kilas balik memori para Murid dan Rasul Kristus mengenai seorang sahabat, seorang Tuan sekaligus Tuhan mereka.
Dikarenakan nama YHWH diterjemahkan nenjadi kata Kyrios dalam Kitab Septuaginta, maka akhirnya beberapa kata Kyrios yang tertulis dalam Kitab PB juga menyatakan namı YHWH. “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun Persiapkanlah jalan untuk Kyriou, uruskanlah jalan bagi-Nya" (Mrk 1:3). Dalam teks ahli Yunani, ayat Mrk 1:3 ini merupakan ayat yang tertulis persis sama dengan kitab Septuaginta Yesaya 40:3. Kata Kyriou ini adalah terjemahan dari Nama YHWH dalam teks PL Ibrani. Dengan demikian sesungguhnya sejak dari mula ayat pertamanya, Markus telah menginformasikan kepada kita bahwa Yohanes Pembaptis telah mempersiapkan jalan bagi YHWH, dan YHWH itu adalah Yesus.
2.2.Penyebutan Nama Allah ditinjau dari Dogmatika
Allah yang dimaksudkan dalam Pengakuan Iman adalah Allah yang Tritunggal, yang menurut kesaksian Alkitab, telah datang kepada manusia di dalam Yesus Kristus, dan yang melalui Roh Kudus menyatakan diriNya juga kepada kita kini. Jadi, mengenai pasal pertama, tidak dapat kita berbicara lepas dari Kristus. Apakah kalau kita mengaku “aku percaya kepada Allah”, maka isi pengakuan itu ditentukan oleh percaya kita kepada Yesus Kristus, Tuhan yang hidup.[17]
Siapakah Allah? Bagaimana Allah itu? Ditegaskan: kita mengenal Allah, sebab Ia telah menyatakan Diri Sendiri. [18] Sebagaimana telah disebutkan terdahulu bahwa Allah dikenal oleh karena Dia yang memperkenalkan diri-Nya. Dalam mengenal Allah, tidak bisa dilepaskan dengan mengenal nama-Nya. Nama-nama Allah yang dinyatakan di dalam Alkitab adalah pernyataan Allah yang bersifat antropomorfisme. Sehingga dapat dikenal oleh umat Allah (manusia). Di dalam dan melalui nama itulah dapat dikenal karakter Allah. Konotasi nama memang menunjukkan kepada karakter yang memiliki nama tersebut. Nama adalah sesuatu yang bersifat personal, bukan hanya sekedar ‘angka’ atau ‘bilangan’. Nama Allah dikenal bukan karena umat memberikan nama kepada-Nya, mlainkan Ia memberi nama bagi diri-Nya sendiri. Nama Allah dikenal oleh karena pernyataan-Nya. Nama-Nya sesuai dengan sifat-sifat dan kebajikan-Nya, kemuliaan-Nya, kehormatan-Nya, .-Nya dalam menebus manusia. Nama yang Dia sendiri nyatakan adalah kudus, benar dan sebagainya.
Di dalam nama-Nya orang percaya juga mempunyai hak menjadi anak-anak Allah (Yoh 1:12) dan hidup yang kekal (1 Yoh 5:13). Di mana ada dua atau tiga orang bersekutu di dalam nama-Nya, maka doa yang akan didengar (Yoh. 14:13). Barangsiapa berseru memanggil nama-Nya akan diselamatkan (Kis. 2:21). Nama Bapa, Anak dan Roh Kudus menjadi kesempurnaan keselamatan manusia. Dibaptis di dalam nama itu merupakan bukti, tanda persekutuan dengan Allah.
Yang masih perlu diingat ialah bahwa nama-nama Allah yang ditemukan di dalam Alkitab, sebenarnya juga bukan pernyataan “being-Nya”, “keberadaan-Nya” secara utuh selengkapnya, melainkan supaya dapat mengenal Allah dalam relasinya dengan ciptaan, khususnya manusia. Jika Allah berfirman dengan bahsa Ilahi, niscaya manusia tidak akan mengerti. Maka sifat-sifat manusiawi, alat-alat, ungkapan perasaan, personifikasi-personifikasi adalah untuk menjelaskan Allah, supaya dapat dimengerti oleh manusia.
Nama Allah yang dinyatakan di dalam Alkitab yang dinyatakan oleh Allah sendiri, bertujuan supaya mengarahkan iman kita kepada-Nya. Di dalam Alkitab ‘to be’ dan ‘to be called’ menerangkan hal yang sama dari sudut yang berbeda. “Allah adalah Dia yang Dia panggil sendiri, dan Dia memanggil sendiri yang Dia ada”.[19]
2.3. Penyebutan Nama Allah ditinjau dari Ilmu Agama-agama
2.3.1. Allah Menurut Islam
Nama “Allah” itu sendiri sering dinamakan isma al-jalalah atau ism al-jam, yaitu nama yang mencakup atau mewadahi semua nama Tuhan yang lain. Karena itu pengertian kata: “Allah” mengacu pada Tuhan dalam keabsolutannya, suatu dzat Maha Akbar dan Gaib, yang hakekatnya kualitasnya tidak mungkin bisa dideskripsikan dan ditangkap oleh nalar manusia. Kata “Allah” sendiri sudah dikenal jauh sebelum Islam dating di Arab. Namun “Allah” dalam pengertian orang-orang pra-Islam itu berbeda dengan “Allah” dakam Islam. Menurut Winnert, seperti dikutip oleh al-Faruqi dalam The Cultural Atlas of Islam, Allah bagi orang-orang Arab pra-Islam dikenal sebagai dewa yang mengairi bumi sehingga menyuburkan pertanian dan tumbuh-tumbuhan serta memberi minum ternak. Islam dating dengan mengubah konsep Allah yang selama itu diyakini oleh orang Arab. Allah dalam Islam dipahami sebagai Tuhan yang Maha Esa, tempat berlindung bagi segala yang ada. Maka ia pun meyakini Tuhan sebagai Pencipta langit dan bumi serta segala yang ada ini.[20] Pandangan terhadap Tuhan dalam Islam berbeda dengan kepercayaan pada agama lain. Islam menegaskan bahwa Tuhan itu Esa, Tuhan itu tidak beranak dan tidak pula di peranakkan, Tuhan tidak bergantung pada siapapun karena Tuhan Maha Kuasa atas segala sesuatu dan tidak satupun yang setara denganNya. [21]
Dari kutipan lengkap ini menjadi jelaslah bahwa bukan maksud untuk menyebutkan bahwa nama Allah asalnya adalah nama Dewa Masa Jahiliyyah, tetapi ia hanya menunjukkan bahwa nama Allah tu dipakai dengan pengertian berbeda pada masa pra-Islam dan Islam mengubah sesuai dengan pengertian agama hanif yang menjurus kepada kepercayaan monotheisme Ibrahim yang sudah ada sebelum masa jahiliyyah di mana penggunaan nama itu telah merosot, bukan lagi untuk menyebut nama Allah monotheisme Abraham melainkan untuk menyebut berhala-berhala kafir yang pada masa pra-Islam mempengaruhi bangsa Arab. Kelihatannya jalur kepercayaan monotheisme Abraham yang dipercayai oleh kaum hanif inilah yang mempengaruhi ajaran Islam, karena itulah pengertian ‘Allah’ dalam agama Islam merupakan pemulihan kembali (restorasi) pengertian Allah yang telah merosot semasa jahiliyyah. [22]
Tuhan memiliki banyak kata yang merujukNya dalam Al-Qur’an. Kata “Allah” saja dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 2697 kali. Belum lagi kata Wahid, Ahad, Ar-Rabb, Al llah atau kalimat yang menafikkan adanya sekutu bagiNya baik dalam perbuatan atau wewenang menetapkan hokum atau kewajaran beribadah kepada selainNya serta penegasan lain yang semuanya mengarah pada penjelasan tentang Tauhid. Menurut konsep ketuhanan dalam Islam dikenakan konsep Tauhid. Tauhid berasal dari Bahasa Arab yaitu wahhada yang berarti menunggalkan, mengesakan. Maka Tauhid dapat dikatakan sebagai sebuah konsep yang harus diyakini bahwa Tuhan itu Esa atau keyakinan akan keesaan Allah Swt. Konsep Tauhid telah dimulai sejak zaman Nabi Adam as., kemudian diperkuat pada zaman Nabi Ibrahim as. Imam Ibdu Katsir membagi tauhid secara konseptual dalam dua bentuk, yaitu:
a. Tauhid Formalis yaitu meyakini bahwa Allah adalah Esa secara otomatis dengan nama tersebut, maka penyebutan dengan nama lain selain Allah tidak diperbolehkan.
b. Tauhid Konseptual yaitu konsep tauhid yang mementingkan sisi konseptual bahwa ketuhanan dalam Islam adalah Esa[23]
2.3.2. Hindu[24]
Dalam ajaran agama Hindu, Dewa (Devanagari: देव) adalah makhluk suci, makhluk supernatural, penghuni surga, malaikat, dan manifestasi dari Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam agama Hindu, musuh para Dewa adalah Asura. Dalam tradisi Hindu umumnya seperti Advaita Vedanta dan Agama Hindu Dharma, Dewa dipandang sebagai manifestasi Brahman dan enggan dipuja sebagai Tuhan tersendiri dan para Dewa setara derajatnya dengan Dewa lain. Namun dalam filsafat Hindu Dvaita, para Dewa tertentu memiliki sekte tertentu pula yang memujanya sebagai Dewa tertinggi. Dalam hal ini, beberapa sekte memiliki paham monotheisme terhadap Dewa tertentu
Kata “dewa” (deva)berasal dari kata “div” yang berarti “bersinar”. Dalam bahasa Latin “deus” berarti “dewa” dan “divus” berarti bersifat ketuhanan. Dalam bahasa Inggris istilah Dewa sama dengan “deity”, dalam bahasa Prancis “dieu” dan dalam bahasa Italia “dio”. Dalam bahasa Lithuania, kata yang sama dengan “deva” adalah “dievas”, bahasa Latvia: “dievs”, Prussia: “deiwas”. Kata-kata tersebut dianggap memiliki makna sama. “Devi” (atau Dewi) adalah sebutan untuk Dewa berjenis kelamin wanita. Para Dewa (jamak) disebut dengan istilah “Devatā” (dewata).
Dalam kitab suci Reg Weda, Weda yang pertama, disebutkan adanya 33 Dewa, yang mana ketiga puluh tiga Dewa tersebut merupakan manifestasi dari kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Dewa yang banyak disebut adalah Indra, Agni, Waruna dan Soma. Baruna, adalah Dewa yang juga seorang Asura.
Menurut ajaran agama Hindu, Para Dewa (misalnya Baruna, Agni, Bayu) mengatur unsur-unsur alam seperti air, api, angin, dan sebagainya. Mereka menyatakan dirinya di bawah derajat Tuhan yang agung. Mereka tidak sama dan tidak sederajat dengan Tuhan Yang Maha Esa, melainkan manifestasi Tuhan (Brahman) itu sendiri.
Dalam kitab-kitab Veda dinyatakan bahwa para Dewa tidak dapat bergerak bebas tanpa kehendak Tuhan. Para Dewa juga tidak dapat menganugerahkan sesuatu tanpa kehendak Tuhan. Para Dewa, sama seperti makhluk hidup yang lainnya, bergantung kepada kehendak Tuhan.
Dalam kitab suci Bhagawad Gita diterangkan bahwa hanya memuja Dewa saja bukanlah perilaku penyembah yang baik, hendaknya penyembah para Dewa tidak melupakan Tuhan yang menganugerahi berkah sesungguhnya. Para Dewa hanyalah perantara Tuhan. Tuhan Yang Maha Esa melalui perantara Sri Krishna bersabda:
sa tayā śraddhayā yuktas
tasyārādhanam īhate
labhate ca tatah kaman
mayaiva vihitān hi tān
(Bhagavad Gītā, 7.22)
Arti:
setelah diberi kepercayaan tersebut,
mereka berusaha menyembah Dewa tertentu
dan memperoleh apa yang diinginkannya. Namun sesungguhnya
hanya Aku sendiri yang menganugerahkan berkat-berkat tersebut.
Beberapa Dewa dan Dewi dalam agama Hindu:
Agni (Dewa api)
Aswin kembar (Dewa pengobatan, putera Dewa Surya)
Brahma (Dewa pencipta, Dewa pengetahuan, dan kebijaksanaan)
Chandra (Dewa bulan)
Durgha (Dewi pelebur, istri Dewa Siva)
Ganesha (Dewa pengetahuan, Dewa kebijaksanaan, putera Dewa Siva)
Indra (Dewa hujan, Dewa perang, raja surga)
Kuwera / Kubera (Dewa kekayaan)
Laksmi (Dewi kemakmuran, Dewi kesuburan, istri Dewa Visnu)
Maruta (Dewa petir)
Saraswati (Dewi pengetahuan, istri Dewa Brahmā)
Shiwa (Dewa pelebur)
Sri (Dewi pangan)
Surya (Dewa matahari)
Waruna (Dewa air, Dewa laut dan samudra)
Wayu / Bayu (Dewa angin)
Wisnu (Dewa pemelihara, Dewa air)
Yama (Dewa maut, Dewa akhirat, hakim yang mengadili roh orang mati)
Kartikeya (Dewa Pembunuh Iblis,Putra pertama Dewa Shiva)
2.3.3. Buddha
Buddhisme lahir di India dan dari latar belakang penghayatan agama Hindu. Namun Buddhisme secara dialektis betul-betul lain dari Hiduisme. Dalam Buddhisme, dewi-dewi Hinduisme tidak berperan sama sekali. Dan Buddhisme menolak system kasta.sang Buddha sendiri justru tidak berbicara tentang Tuhan dan dalam ajarannya dewa –dewi tidak memainkan peranan. Dalam Ajaran Buddha Tuhan tidak bernama. Buddha tidak menyebutkan nama Tuhannya dengan sebutan tertentu. Tapi mereka meyakini bahwa Tuhan itu sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, Yang Mutlak. Tuhan Yang Maha Esa di dalam agama Buddha adalah Anatman (Tanpa Aku), suatu yang tidak berpribadi, suatu yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun.[25] Maka kadang-kadang Buddhisme, terutama dalam bentuk Teravada disebut ateis. Sang Buddha diam tentang Tuhan, itu bukan karena Ia menolak “ketuhanan” dan dewa-dewi. Sang Buddha dalam ajarannya mengandaikan suatu ketuhanan yang lain dari segala benda dan pengada di lingkungan kita. Sang Buddha mengajar kepada muridnya untuk memusatkan segala perhatian dan pada perbuatan, yaitu pelepasan dari segala pamrih, diam itu jangan diartikan sebagai ateisme, melankan sebagai penghayatan Tuhan.[26]
2.4. Penyebutan Nama Allah ditinjau dari Agama Suku (Agama Pemena Suku Karo)
Pemena adalah kepercayaan ataupun agama suku masyarakat suku Karo.[27] Pemena, dalam Bahasa Karo, memiliki arti pertama atau yang awal.[28] Pemena memiliki makna kepercayaan yang pertama, yang dipegang dan dipahami oleh orang Karo. [29] Ada tiga pemahaman dibata menurut orang Karo, yakni:
- Dibata Datas. Dibata Datas disebut juga Guru Batara, yang memiliki kekuasaan dunia atas (angkasa).
- Dibata Tengah. Dibata Tengah disebut juga Tuhan Padukah ni Aji, Dibata inilah yang menguasai dan memerintah di bagian dunia kita ini.
- Dibata Teruh. Dibata Teruh juga disebut Tuhan Banua Koling. Dibata inilah yang memerintah di bumi bagian bawah bumi.
Selain itu, ada dua unsur kekuatan yang diyakini, yaitu sinar mataniari (sinar matahari) dan si Beru Dayang. Sinar Mataniari adalah simbol cahaya dan penerangan. Ia berada saat matahari terbit dan matahari terbenam. Dia mengikuti perjalanan matahari dan menjadi penghubung antara ketiga Dibata. Siberu dayang adalah seorang perempuan yang tinggal di bulan. Si beru dayang sering kelihatan dalam pelangi. Ia bertugas membuat dunia tengah tetap kuat dan tidak digoncangkan angin topan.[30]
2.5. Analisa Penyeminar
Nama Allah adalah Tuhan sebagai pencipta semesta yang Mulia Sempurna, Tuhan Yang Maha Esa yang disembah oleh orang yang beriman, dan nama Allah bukanlah menjadi namanya yang pasti, karena ada begitu banyak allah-allah. Penyebutan nama-nama Allah memiliki konsep yang berbeda dari tiap agama sesuai pengalaman spiritualitasnya. Contohnya, Agama Islam menyembah Allah yang sama dengan Agama Kristen yang membedakannya adalah jalur wahyu yang dipercayai yang berbeda menghasilkan ajaran dogma/aqidah yang berbeda pula. Agama Hindu dan Buddha menggambarkan banyak Allah. Oleh karena itu maka kita harus memandang semua agama sebagai sumber dari segala ilmu, kebenaran, kebijakan, dan pengetahuan. Dengan demikian semua agama adalah setara dalam kedudukannya di bumi. Walaupun banyak pandangan yang juga bisa menimbulkan kontroversi antar agama, tetapi pada dasarnya semua agama mengakui bahwa Allah itu ada dan hadir bagi ciptaan-Nya. Nama Allah yang begitu banyak bukan menandakan Allah yang banyak tetapi menandakan Allah turut bekerja dengan caranya sendiri, sehingga manusia menama-namainya sesuai tindakan Allah di perjalanan kehidupannya atau dalam pengalaman spiritualnya.. Dari agama mana saja boleh menggunakan nama Allah, nama Allah tidak terbatas hanya dalam satu agama saja. Karena kata Allah bukanlah suatu nama yang menandakan orangnya. Allah hanya menggambarkan sesosok yang berkuasa atas segalanya. Atau boleh dikatakan Allah adalah allahnya para allah. Oleh karena itu kata Allah bukan menunjukkan nama yang sebenarnya.
III. Kesimpulan.
Terdapat banyak nama-nama yang mewakili Allah sendiri, tetapi bukan berarti Allah yang banyak. Nama-nama Allah yang begitu banyak, itu dikarenakan pengalaman spiritual umat dan dengan Allah itu sendiri sehingga lahirlah nama-nama Allah tersebut sesuai dengan cara kerja Allah di dalam kehidupan Manusia. Nama Allah boleh ada begitu banyak, tetapi hanya ada satu Allah, yang benar-benar Allahnya para allah-allah Allah dalam PL mempunyai beberapa sebutan, Adonai, El/Elohim, YHWH, sedangkan PB Theos dan Kyrios. Ditegaskan dalam dogma Kristen kita mengenal Allah, sebab Ia telah menyatakan Diri Sendiri. Sebagaimana telah disebutkan terdahulu bahwa Allah dikenal oleh karena Dia yang memperkenalkan diri-Nya. Dalam mengenal Allah, tidak bisa dilepaskan dengan mengenal nama-Nya. Nama-nama Allah yang dinyatakan di dalam Alkitab adalah pernyataan Allah yang bersifat antropomorfisme. Sehingga dapat dikenal oleh umat Allah (manusia).Sedangkan Kata "Allah" delam agama Islam merupakan pengkhususan kata al-tlah (ketuhanan) Jika diturut secara gramatika. Kata tersebut terdiri dari suku kata yaknı al dan ilah (ketuhanan). Dalam ajaran agama Hindu, Dewa (Devanagari: देव) adalah makhluk suci, makhluk supernatural, penghuni surga, malaikat, dan manifestasi dari Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Buddha dalam ajarannya mengandaikan suatu ketuhanan yang lain dari segala benda dan pengada di lingkungan kita. Ada tiga pemahaman dibata menurut Agama Pemena orang Karo, Dibata Datas, Dibata tengah, Dibata Teruh.
IV. Daftar Pustaka
Bangun, Roberto, Mengenal orang Karo, Jakarta: Yayasan Pendidikan Bangun, 1989
Herlianto, Siapakah yang bernama Allah itu?, Jakarta: BPK-GM, 2005.
Lee, Witnes, Sketsa Umum Perjanjian Baru dalam Terang Kristus dan Gereja, Surabaya: Yayasan Perpustakaan Injil, 2019
Mawene, Marthinus, Theodorus, Perjanjian Lama dan Teologi Kontekstual, Jakarta: BPK-GM, 2008
Niftrik, G. C. van & Boland, B. J., Dogmatika Masa Kini, Jakarta: Gunung Mulia, 2001
Priastana, Be Buddhist Be Happy, Jakarta: Yashodhara Puteri Jakarta, 2005
Satyabudi, I. J., Kontroversi Nama Allah, Jakarta:Wacana, 2004.
Sihombing, Lotnatigor, Teologi Sistematika, Jakarta:STT Amanat Agung, 2016
Suseno, Franz Magnis, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2012
Tambun, P., Adat-Istiadat Karo, (Jakarta: Balai Pustaka, 1952
Tarigan, Henry Guntur dan Jago Tarigan, Bahasa Karo, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1979
Umar, Mardan & Feiby Ismail, Buku Ajar Pendidikan Agama Islam, Jawa Tengah: CV. Pena Persada, 2020
Urban, Linwood, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, Jakarta: BPK- GM, 2003
[1] I. J. Satyabudi, Konttroversi Nama Allah, (Jakarta:Wacana, 2004), 75-76
[2] Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, (Jakarta: BPK- GM, 2003), 10-11
[3] Marthinus Theodorus Mawene, Perjanjian Lama dan Teologi Kontekstual, (Jakarta:BPK-GM, 2008), 27-28
[4] I. J. Satyabudi, Konttroversi Nama Allah, (Jakarta:Wacana, 2004), 97
[5] Marthinus Theodorus Mawene, Perjanjian Lama dan Teologi Kontekstual, (Jakarta:BPK-GM, 2008), 27-28
[6] Marthinus Theodorus Mawene, Perjanjian Lama dan Teologi Kontekstual, 30
[7] I. J. Satyabudi, Konttroversi Nama Allah, (Jakarta:Wacana, 2004), 75-76
[8] Marthinus Theodorus Mawene, Perjanjian Lama dan Teologi Kontekstual, 30-31
[9]I. J. Satyabudi, Konttroversi Nama Allah, 76
[10] Marthinus Theodorus Mawene, Perjanjian Lama dan Teologi Kontekstual, 31
[11] I. J. Satyabudi, Konttroversi Nama Allah, 87
[12] Marthinus Theodorus Mawene, Perjanjian Lama dan Teologi Kontekstual, 31
[13] Witnes Lee, Sketsa Umum Perjanjian Baru dalam Terang Kristus dan Gereja, (Surabaya: Yayasan Perpustakaan Injil, 2019), 5
[14] Lotnatigor Sihombing,, Teologi Sistematika, (Jakarta:STT Amanat Agung, 2016), 47
[15] Lotnatigor Sihombing,, Teologi Sistematika, (Jakarta:STT Amanat Agung, 2016), 47
[16] I. J. Satyabudi, Konttroversi Nama Allah, (Jakarta:Wacana, 2004), 98-99.
[17] G. C. van Niftrik, & Boland, B. J., Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: Gunung Mulia, 2001), 76
[18] G. C. van Niftrik, & Boland, B. J., Dogmatika Masa Kini, 76
[19] Lotnatigor Sihombing,, Teologi Sistematika, (Jakarta:STT Amanat Agung, 2016), 46-49
[20] Herlianto, Siapakah yang bernama Allah itu?, (Jakarta: BPK-GM, 2005), 68-69.
[21] Mardan Umar, & Feiby Ismail, Buku Ajar Pendidikan Agama Islam, (Jawa Tengah: CV. Pena Persada, 2020), 38-39.
[22] Herlianto, Siapakah yang bernama Allah itu?, (Jakarta: BPK-GM, 2005), 68-70
[23] Mardan Umar, & Feiby Ismail, Buku Ajar Pendidikan Agama Islam, (Jawa Tengah: CV. Pena Persada, 2020), 38-39.
[24] Suseno, Franz Magnis, Menalar Tuhan, (Yogyakarta: Kanisius, 2012), 21-22
[25] Priastana, Be Buddhist Be Happy, (Jakarta: Yashodhara Puteri Jakarta, 2005), 14
[26] Franz Magnis Suseno, Menalar Tuhan, (Yogyakarta: Kanisius, 2012), 23
[27] Roberto Bangun, Mengenal orang Karo, (Jakarta: Yayasan Pendidikan Bangun, 1989), 13
[28] Henry Guntur Tarigan, dan Jago Tarigan, Bahasa Karo, (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1979), 25
[29] Roberto Bangun, , Mengenal orang Karo, 14
[30] P. Tambun, Adat-Istiadat Karo, (Jakarta: Balai Pustaka, 1952), 22
Tidak ada komentar:
Posting Komentar