Ketaatan John Hus
(Suatu Tinjauan Historis Teologis tentang Ketaatan John Hus masa Perintis Reformasi dan refleksinya bagi Pemimpin Gereja Masa Kini)
I. Latar Belakang Masalah
Ketaatan adalah kunci utama yang tidak bisa dihilangkan dalam hal mengikut Tuhan. Di dalam gereja, ada banyak orang yang tanpa sadar sulit menundukkan diri kepada otoritas rohani. Bahkan ada yang akhirnya sampai menghasut orang percaya yang lain, sehingga terjadi perpecahan di dalam tubuh Kristus. Penyebab utama seseorang tidak tunduk kepada otoritas rohani karena ego yang tinggi, merasa diri lebih baik dan lebih mampu. Prestasi seorang Kristen tidak dilihat dari berapa hebat pelayanan/jabatan/posisi, tetapi dilihat dari seberapa jauh dia taat kepada Firman Tuhan. Semakin berjalan dalam ketaatan, semakin bisa merasakan kesadaran akan hadirat Tuhan, kesadaran akan kelemahan dan kemanusiawian kita. Di sisi lain, ketaatan juga akan membuat ketertarikan kita kepada apa yang selama ini ditawarkan oleh dunia juga akan mulai semakin memudar. Apabila hidup dalam ketaatan berarti memiliki kerelaan untuk mengorbankan apapun yang diingini, demi tetap taat kepada Dia.
Sebagai seorang pemimpin tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang, pasti ada pro dan kontra, terlebih bila dipanggil untuk melayani dengan cara yang tidak umum. Akan ada banyak orang mempertanyakan, di sinilah ujian bagi seorang pemimpin gereja, takut akan opini manusia atau takut pada Allah. Seorang pemimpin dalam gereja bisa saja menjangkau seluruh dunia dalam hitungan menit. Banyak orang yang tersentuh dengan tulisan-tulisan kesaksian para pemimpin gereja, ada begitu banyak orang yang meminta konseling dan dukungan doa, namun sangat sering banyak orang yang tidak suka dan merasa terusik. Seiring perkembangan zaman dan banyaknya kejadian besar yang terjadi, maka akan semakin banyak pula tantangan yang muncul seiring dengan perkembangan zaman. Konflik dari masyarakat ataupun jemaat sendiri, suku maupun etnis. Pengikut Kristus dituntut untuk “menjadi orang Kristen yang taat”. Sehingga dari ketaatan John Hus dapat menjadi refleksi atau menjadi panutan dalam kehidupan pemimpin gereja saat ini serta dari contoh ketaatan John Hus yang dikenal sebagai sosok yang memperjuangkan kebenaran Kristus sampai akhir hidupnya dapat menjadi pelajaran bagi tugas seorang pemimpin gereja dalam meningkatkan nilai-nilai iman Kristen yaitu ketaatannya.
II. Pembahasan
2.1.Pengertian Ketaatan
Pengertian “ketaatan”, sebagaimana disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti kepatuhan, kesetiaan. Ketaatan adalah sifat tunduk terhadap sesuatu yang dianggap mengikat dan memiliki kedudukan lebih tinggi.[1] Kata “ketaatan” dalam bahasa Yunani juga mengandung pengertian mendengar, menyimpan, merenungkan, serta siap melaksanakan. Bagi kita orang percaya, Allah menuntut ketaatan kita dan pengakuan nyata bahwa kita percaya kepada-Nya. Ketaatan kepada Allah adalah pertanda bahwa kita mengasihi-Nya. Ketaatan akan memberi arah dalam kehidupan. Belajar taat kepada Allah melalui pemahaman akan kehendak-Nya.[2]
Ketaatan adalah bagian atau bukti dari iman. Bisa saja ketaatan didasarkan atas motivasi tertentu, tetapi tidak ada cara lain untuk mewujudkan iman kecuali dengan ketaatan. Alkitab menjelaskan orang hidup dalam ketaatan sebagai wujud iman mereka. Mereka bersedia membayar harga untuk sebuah ketaatan, seperti Abraham, Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Namun pada sisi lain, Alkitab juga berbicara tentang ketidaktaatan dan akibatnya, seperti Saul, Yunus dan banyak raja-raja Israel. Seringkali tidak disadari dan berusaha menghindari harga yang harus dibayar untuk semua ketaatan, padahal harus membayar harga yang jauh lebih mahal (resiko) untuk sebuah ketidaktaatan.[3]
2.2.Biografi John Hus
John Hus, juga dikenal sebagai Yohanes Hus atau Juan Hus (sekitar 1369-1415) adalah seorang pemikir dan reformator agama Kristen yang berasal dari negara Ceko (yang saat itu ia tinggal di wilayah itu dan dikenal sebagai provinsi Bohemia). John Hus dilahirkan dari keluarga petani, di Husinetz, Bohemia Selatan. Bagi gereja reformatoris ia dianggap sebagai seorang martir. Ia memulai suatu gerakan keagamaan yang didasarkan pada gagasan-gagasan John Wycliffe. Para pengikutnya dikenal sebagai kaum Hussit. Hus mengajarkan bahwa Alkitab adaah satu-satunya yang memiliki kewibawaan yang tertinggi dalam gereja dan kekristenan. Hus menolak kekuasaan paus dalam gereja dan di dalam kekristenan. Hus juga menolak konsili umum serta praktik penjualan surat penghapusan siksa. Ia juga sama seperti Wycliffe yang menentang transubstansiansi, Hus juga mengkritik kehidupan para pejabat gereja yang mewah.[4]
Pada tahun 1414. Hus dipanggil ke Konsili Konstanz untuk mempertanggung jawabkan ajaran-ajarannya. Gereja Katolik menganggap ajaran-ajarannya sesat dan perlu diberantas karena akan menimbulkan dogma yang salah dalam tubuh kekristenan. [5] Ketika John Huss dihadapkan ke konsili Konstanz John Huss diperintahkan oleh penguasa Gereja untuk menarik kembali ajaran-ajarannya dan berhenti berhenti untuk berkotbah. Pada tanggal 6 Juli 1415, ia dibakar karena menolak perintah dari penguasa Gereja tersebut.[6]
Kematian yang dihadapinya dengan berani, meningkatkan martabatnya. Dipicu dengan semangat kebangsaan dan keagamaan, para pengikutnya memberontak melawan Gereja Katolik dan kekaisaran yang didominasi oleh Jerman. Mereka menggulingkan keduanya secara efektif. Walaupun Paus mencoba segala upaya menindas gerakan ini, namun gerakan ini tetap bertahan sebagai gereja independen, yaitu Unitas Fratrum (Persatuan Persaudaraan).[7]
2.3.Ajaran John Hus di Bohemia
Perseteruan yang terjadi di dalam Gereja Bohemia, sebenarnya adalah dampak dari ajaran-ajaran John Wycliffe yang masuk ke Bohemia. Masuknya ajaran-ajaran Wycliff ke Bohemia, disebabkan oleh beberapa Faktor. Pertama ajaran-ajaran itu dibawa oleh para lolards yang melarikan diri dari Inggris ke Bohemia. Kedua, adanya hubungan yang terjalin dengan baik antara Universitas Oxford dan Universitas Praha dan di Universitas Praha inilah ajaran-ajaran Wycliffe diperdebatkan oleh para mahasiswa. Ketiga hubungan baik kedua Negara yang diikat dengan perkawinan antara Raja Inggris, Richard II dengan Anna Bolein, Puteri dari Raja Wenceslaus dari Bohemia.[8]
Faktor kedua dan ketiga inilah yang akhirnya membuat tulisan-tulisan sang reformator Inggris yaitu Wycliffe, masuk dengan cepat dan berkembang dengan subur di Bohemia. Masuknya ajaran-ajaran teologi sang reformator Inggris ini, kontras dengan hidup keagamaan di Bohemia yang pada umumnya tidak bergairah dan terasa dangkal. Sebab para Klerus yang pada umumnya berkebangsaan Jerman, kerap mengabaikan kewajiban tinggal dan reksa paroki. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengesampingkan hidup selibat dan hidup dalam skandal. Selain itu, mereka tidak terlalu terikat lagi pada lembaga Kepausan dan hierarki, walaupun keadaan hidup keagamaan sangat memprihatinkan, sebenarnya di sana tetap ada usaha untuk memperbaiki cara hidup menggereja. Usaha itu tampak dalam kalangan berjubah yaitu para Kanonik Reguler Santo Agustinus dan para rahib Karthusian. Mereka mencoba menebarkan gerakan devosio moderna. Akan tetapi sayangnya, Jemaat Kristen di Bohemia kurang antusias menanggapinya.[9]
Apa yang mendorong John Huss untuk menyampaikan ajaran-ajarannya dan mengecam hidup keagamaan pada waktu itu sebenarnya bukan karena ia melihat kebobrokan Gereja dan dosa para imam di Bohemia semata-mata. Melainkan karena ia juga sudah mempelajari doktrin-doktrin Wycliffe yang sudah masuk ke Bohemia. Sehingga ia yang saat itu sudah menjadi seorang sarjana nomor satu di Praha dan pengkhotbah yang populer, merasa tergerak untuk mewartakannya dalam khotbah. Ia juga merasa yakin bahwa harus ada perubahan dalam hidup menggereja di Bohemia. Sebab situasi hidup keagamaan di Bohemia sudah bobrok dan sangat memprihatinkan.[10]
Huss dengan semangat pembaharuan, mengkhotbahkan ajaran-ajaran Wycliffe dengan berani, tanpa basa basi dan tanpa pikir panjang akan akibat dari khotbahnya itu. Khotbah-khotbah Huss itu akhirnya dengan segera membangkitkan semangat oposisi terhadap otoritas Gereja di Bohemia. Melihat situasi yang memanas, para professor di Universitas Praha segera melakukan sensor terhadap 45 dalil atau ajaran dari Wycliffe.[11]
Meskipun John Hus dengan penuh semangat mempelajari dan mengkhotbahkan ajaran-ajaran Wycliffe, sebenarnya tidak semua ajaran-ajaran sang reformator dari Inggris itu diterima begitu saja. Faktanya, ia tidak setuju dengan pandangan Wycliff yang menolak doktrin transubsiasi dengan argumennya yang mengatakan bahwa roti dan anggur di altar setelah dikonsekrasi tetaplah roti dan anggur dan hanya sakramen dan Kristus tidak hadir dalam komuni. Sebaliknya ia masih tetap berpegang pada doktrin tradisional mengenai transubsiasi yang mengatakan bahwa Kristus hadir dalam komuni.[12] Mungkin inilah kiranya alasan mengapa ia memasyarakatkan penerimaan roti dalam dua rupa.
Serangan dan kecaman John Hus sebenarnya tidaklah ditujukan pertama-tama pada doktrin-doktrin Gereja. Akan tetapi serangan dan kecaman itu, lebih ditujukan pada hidup keagamaan dan terutama terhadap cara hidup para klerus yang jauh dari ciri khas hidup Kristiani.[13]
2.4.Ketaatan John Hus
Konsili memutuskan untuk meminta Hus menarik kembali ajaran-ajarannya yang dianggap sesat, namun Hus menolak dengan tegas dan menuntut untuk suatu persidangan yang adil. Hus bersedia mengaku bersalah hanya jika konsili berhasil menunjukkan dari Alkitab bahwa ajarannya telah menyimpang. Untuk hal ini Hus tidak pernah mendapatkan jawaban dari sidang konsili. Selama delapan bulan masa persidangan yang silih berganti Hus dipaksa harus meringkuk di dalam penjara dan diperlakukan dengan tidak layak.[14]
Sekali dua kali Raja Sigismund berusaha untuk membujuk anggota sidang konsili agar mereka mendengarkan pembelaan Hus. Namun konsili menolak bahkan mengancam untuk mengucilkan Raja dari gereja jika ia terus mendesak konsili. Ancaman ini membuat Raja tidak berkutik untuk membela Hus, sehingga janji perlindungan Raja terhadap keselamatan Hus pun terpaksa harus dibatalkan dengan alasan bahwa janji terhadap penyesat tidak perlu ditepati.
Keadaan penjara dan masa persidangan yang panjang membuat kondisi fisik Hus menurun dengan drastis. Namun ditengah kelemahan tubuh karena kurang tidur dan penyakit yang menyerangnya, serta desakan Raja agar Hus menyerah, Hus tetap menyatakan tidak bersalah, bahkan ia terus menuntut haknya untuk memberikan pembelaan diri atas tuduhan-tuduhan yang diberikan kepadanya. Pada sidang konsili ia berseru: “Meskipun ditawarkan sebuah kapel yang penuh dengan emas, saya tidak akan mundur dari kebenaran.”[15] Selama dalam penjara John Hus masih sempat menulis banyak surat kepada sahabat- sahabatnya di Bohemia. Surat-suratnya penuh memuat petunjuk- petunjuk bagi para pengikutnya, bahkan untuk beberapa tahun lamanya surat-surat itu menunjukkan wibawa yang besar.[16]
Pada tanggal 6 Juli 1415, sidang konsili di hadapan jemaat membacakan tiga puluh tuduhan yang diberikan kepada ajaran Hus, yang mana tidak satu pun dari tuduhan itu betul. Gereja akhirnya memutuskan dengan resmi menyatakan bahwa Hus adalah pengajar sesat, jabatannya sebagai imam dicopot dan ia diserahkan kepada pihak otoritas sekuler untuk segera dihukum mati pada hari itu juga. Dalam perjalanan menuju tempat eksekusi, Hus melewati halaman sebuah gereja dimana sedang berkobar sebuah api unggun yang dibuat dari buku-bukunya. Hus masih sempat berseru kepada orang-orang yang berkumpul di jalan agar tidak mempercayai kebohongan yang beredar tentang dia dan ajarannya.[17]
Pada saat Hus siap dibakar mati di atas tiang pancang, yaitu hukuman paling keji yang pantas dijatuhkan bagi pengajar sesat jaman itu, pejabat pemerintah yang bertugas melaksanakan hukuman mati masih berharap agar Hus menarik kembali ajaran-ajarannya, namun Hus berkata: “Allah adalah saksi saya. Bukti yang mereka kemukakan salah. Saya tidak pernah mengajar atau berkotbah kecuali untuk maksud memenangkan manusia, jika mungkin, dari dosa mereka. Hari ini saya siap mati dengan gembira.”[18]
2.5.Dampak dari Ajaran John Hus
Sejatinya ajaran-ajaran bidah John Hus dan keinginannya adalah mereformasi Gereja secara radikal. Dengan demikian, ide-ide Hus tentang tidak adanya peran gereja sebagai satu-satunya wakil kehendak Tuhan di bumi, tentang kebobrokan dan keserakahan klerus, mendalami kemewahan dan tidak membiarkan orang-orang datang kepada diri mereka sendiri, termasuk melalui bahasa misterius dan misteri misteri, tentang kebobrokan. sejumlah praktik spiritual dan peninggalan dan penindasan budaya dari orang-orang Ceko menjadikannya salah satu musuh utama Vatikan dalam seluruh sejarah Gereja Katolik Roma dan, terlepas dari sikap loyal kepadanya oleh Raja Wenceslas, dipimpin untuk hasil yang tragis.[19] Pada waktu itu, ada banyak pertikaian di universitas antara orang-orang Jerman dan orang-orang Ceko. Hus menjadi pendukung dari perjuangan orang-orang Ceko, dan pengaruhnya bertambah besar ketika ia menjadi penginjil yang lebih kuat kedudukannya. Untuk beberapa waktu, timbul keresahan dan pembicaraan atas banyak penyelewengan yang menyangkut Gereja Katolik Roma, dan hal ini diperbesar dengan menyebarnya tulisan-tulisan dari tokoh reformasi Inggris John Wycliffe. Gerakan Bohemia tidak timbul karena adanya kejadian-kejadian di Inggris; tetapi, hal itu berlangsung pada waktu yang bersamaan. John Hus ternyata tertarik pada tulisan-tulisan Wycliffe, terutama karya On Truth of Holy Scripture (Mengenai Kebenaran Alkitab), yang ia peroleh pada tahun 1407.[20]
Tetapi, ia ditentang oleh Uskup Agung Zbynek dari Praha, yang merasa tersinggung dengan penginjilan Hus dan pada tahun 1410 di depan umum membakar banyak dari tulisan-tulisan Wycliffe. Setelah itu Zbynek melarang semua kegiatan penginjilan kecuali dalam gereja-gereja yang diakui, yang tidak termasuk Kapel Betlehem yang diketuai oleh Hus sendiri. Hus tidak mau mentaati larangan uskup agung, dan mengatakan bahwa ia harus ”lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia dalam hal-hal yang perlu untuk keselamatan.” Ia naik banding kepada paus, dan sesudah itu uskup agung mengucilkan dia. Tetapi Hus tidak goyah, karena ia mendapati bahwa pengertiannya yang lebih dalam telah mempertajam hati nuraninya dan membuatnya lebih peka kepada ajaran-ajaran Alkitab. Ia mengatakan dengan jelas, ”Manusia bisa berdusta, tetapi Allah tidak,” meniru kata-kata rasul Paulus kepada orang Roma. (Roma 3:4) Raja Wenceslas membela gerakan reformasi Hus. Akhirnya Zbynek lari dari negeri itu, dan tidak lama kemudian meninggal.[21]
Perlawanan terhadap Hus timbul lagi ketika ia mengutuk suatu usaha melawan raja dari Napoli dan menyingkapkan penjualan surat-surat indulgensi untuk hal itu, dengan demikian mengganggu penghasilan para imam. Surat indulgensi memungkinkan seseorang untuk mendapat pengampunan dari hukuman sementara dengan membayar uang. Untuk tidak menimbulkan masalah atas kota Praha, Hus pergi dan diasingkan sementara waktu di negeri itu. Di sana, pada tahun 1413, ia menulis buku On Simony (Mengenai Penyuapan Imam-Imam), ia menyingkapkan cinta uang dari para pendeta dan dukungan yang diberikan kepada mereka oleh para pejabat duniawi. Sekali lagi, Hus mendapatkan wewenang untuk bertindak dari Firman Allah, dengan mengatakan, ”Setiap orang Kristen yang setia harus memperhatikan benar agar tidak melakukan apapun yang bertentangan dengan Alkitab.”[22]
Hus juga menulis sebuah risalat berjudul De Ecclesia (Mengenai Gereja). Di dalamnya ia menyatakan sejumlah masalah, dan salah satu di antaranya berbunyi, ”Bahwa Petrus tidak pernah, dan bukan kepala dari Gereja.” Ia mendapati bahwa ayat-ayat kunci di Matius 16:15-18 dengan jelas meneguhkan Yesus Kristus sebagai dasar dan kepala dari gereja, yaitu seluruh badan dari orang-orang percaya yang dipanggil. Jadi hukum Kristus yang terdapat dalam Firman Allah itulah yang unggul dan bukan peraturan dari paus. Sebaliknya, kepausan berasal dari kekuasaan imperium Roma.[23]
Gereja Katolik tidak dapat bersabar lagi terhadap penyingkapan-penyingkapan yang dilakukan oleh Hus dan memanggilnya untuk mempertanggungjawabkan pandangan-pandangannya di hadapan Konsili di Konstansa, yang diadakan dari tahun 1414 sampai 1418 dekat Danau Konstansa. Ia dijebak untuk hadir oleh saudara raja, Kaisar Sigismund, dengan janji akan mendapat jaminan keselamatan, yang ternyata palsu. Tidak lama setelah ia tiba ia ditangkap, namun ia tetap menolak wewenang dari paus dan juga konsili itu.[24]
Ketika konsili menuntut agar Hus menarik kembali gagasan dan ajaran-ajarannya, ia menjawab bahwa ia akan melakukannya dengan senang hati jika ia terbukti salah berdasarkan Alkitab, sesuai dengan 2 Timotius 3:14-16. Hus merasa bahwa hati nuraninya akan selalu mencelanya jika ia membuat pernyataan penarikan kembali yang ditulis dengan kata-kata yang mempunyai dua mengatakan, ”Keinginan saya selalu ialah agar suatu doktrin yang lebih baik dibuktikan kepada saya berdasarkan Alkitab, dan baru setelah itu saya akan rela mengakui kesalahan saya.” Meskipun ia menantang agar anggota yang paling rendah dari konsili memperlihatkan kesalahannya langsung dari Firman Allah, ia dihukum sebagai orang murtad yang keras kepala dan dikirim kembali ke penjara tanpa sesuatu pun dibahas dari Alkitab.[25]
Pada tanggal 6 Juli 1415, Hus secara resmi dihukum di katedral Konstanza. Ia tidak diijinkan untuk menjawab ketika tuduhan-tuduhan atasnya dibacakan. Kemudian jabatannya sebagai imam dicabut di hadapan umum, sedangkan tulisan-tulisannya dibakar di halaman gereja. Ia digiring ke suatu ladang di pinggir kota dan di sana dibakar hidup-hidup pada sebuah tiang. Abunya dikumpulkan dan dibuang ke Sungai Rein untuk mencegah agar tidak ada yang menyimpan peninggalan-peninggalan dari martir ini. Karena hubungannya yang erat dengan John Wycliffe, konsili itu juga menghukum tokoh reformasi itu, dengan memerintahkan agar jenazahnya dibakar habis dan abunya dibuang ke Sungai Swift di Inggris. Belakangan, pengikut Hus yang paling terkemuka, Jerome dari Praha, juga dibakar pada tiang.[26]
Pada saat Hus siap dibakar mati di atas tiang pancang, yaitu hukuman paling keji yang pantas dijatuhkan bagi pengajar sesat jaman itu, pejabat pemerintah yang bertugas melaksanakan hukuman mati masih berharap agar Hus menarik kembali ajaran-ajarannya, namun Hus berkata: “Allah adalah saksi saya. Bukti yang mereka kemukakan salah. Saya tidak pernah mengajar atau berkotbah kecuali untuk maksud memenangkan manusia, jika mungkin, dari dosa mereka. Hari ini saya siap mati dengan gembira.”[27]
2.6.Pemikiran dan Karya John Hus
Pemikiran reformasi John Hus tidak sempat mengakibatkan perpisahan dengan Gereja, akan tetapi tulisannya memberikan ide untuk gerakan reformasi pada abad berikutnya karena apa yang dikatakannya menjadi bahan pada gerakan bagi para reformator. Bisa dikatakan, ide untuk reformasi diprakarsai oleh John Hus karena keadaan Gereja yang tidak kondusif. Gerakan ini mengkritisi ajaran iman dan institusi dengan mengajukan bentuk teologi baru yang kemudian menjadi dasar untuk memisahkan diri dari Gereja sebagai suatu bentuk protes, sehingga pengikut mereka disebut dengan protestantisme.[28]
John Hus meninggalkan satu kelompok yang mewarisi semangat perjuangannya, yang dikenal dengan nama kaum Hussit. Kaum Hussit terus memperjuangkan semangat pemurnian gereja, meneruskan jejak pendahulunya. Selama beberapa waktu pengikut kelompok ini dikejar-kejar dan dihambat dengan sangat kejam. Namun pemerintah Bohemia dan Gereja Katolik Roma tidak mampu membendung semangat mereka. Setelah melewati perang Hussit yang panjang akhirnya Gereja Hussit diakui keberadaannya di Bohemia disamping Gereja Katolik Roma.[29]
Di luar kota Praha Hus terus melanjutkan perjuangannya dengan mengembangkan perlawanan terhadap gaya hidup yang amoral dari kaum rohaniwan, termasuk Paus, bahkan menegaskan bahwa hanya Kristus lah Kepala Gereja, bukan Paus. Dalam bukunya yang berjudul “On the Church”, Hus mencela otoritas kaum rohaniwan, tapi menekankan bahwa hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Menurut Hus, jika doktrin gereja bertentangan dengan ajaran Alkitab, maka ajaran Alkitab lah yang harus dijunjung tinggi. Pengajaran Hus tentang otoritas Alkitab inilah yang sangat menonjol, bahwa Alkitab adalah satu-satunya yang memiliki kewibawaan yang tertinggi dalam gereja. Kristus adalah Kepala yang memerintah gereja, bukan Paus. Semua ajaran gereja yang bertentangan dengan Alkitab ditolak oleh Hus, seperti penjualan surat penghapusan dosa, kehidupan mewah dan amoral dari para pejabat gereja, termasuk Paus, dan mendesak agar roti dan anggur dalam perjamuan juga harus diberikan kepada semua anggota jemaat.[30]
Pada tahun 1413, ia menulis buku On Simony (Mengenai Penyuapan Imam-Imam), ia menyingkapkan cinta uang dari para pendeta dan dukungan yang diberikan kepada mereka oleh para pejabat duniawi. Sekali lagi, Hus mendapatkan wewenang untuk bertindak dari Firman Allah, dengan mengatakan, ”Setiap orang Kristen yang setia harus memperhatikan benar agar tidak melakukan apapun yang bertentangan dengan Alkitab.[31]
Pada tahun 1400 ia ditahbiskan menjadi imam dan tahun 1402 diangkat menjadi rektor Unversitas Praha. Di samping tugasnya sebagai rektor, ia juga masih diberi tugas untuk menjadi pengkhotbah Kapel Betlehem. Disinilah biasanya ia berkhotbah dua kali sehari dalam bahasa Cekoslowakia. Kesempatan-kesempatan ini dipergunakannya untuk mengkritik para klerus keuskupan serta kepausan.[32]
2.7.Refleksinya bagi Pemimpin Gereja Masa Kini
Dampak Hus di reformis sangat besar. Sebagian andalan teologi Protestan dapat ditelurusi ke Hus “Kristus sendiri sebagai kepala gereja, ketaatan pada Alkitab, semua pembacaan ibadah dan khotbah dalam bahasa lokal, penerimaan dari kedua anggur dan roti di persekutuan, Alkitab setiap hari dibaca oleh orang Kristen, dan bahaya godaan dalam budaya.” Sebagai seorang imam Katolik, Hus tidak pernah menganjurkan melanggar dari gereja. John Hus dikenal sebagai seorang pengkhotbah yang dengan tidak ragu-ragu menyatakan hasratnya untuk kebenaran dan tuntutan Alkitab, yang ditekankan pada aplikasi moral.
Dalam konteks John Huss, banyak terjadi kesesatan, kekurangan moral jemaat. Maka dalam konteks sekarang ini juga banyak terjadi seperti ini. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan pemimpin seperti John Huss, yaitu:
1. Pemimpin harus berani (berani mengambil resiko)
Pemimpin yang bertindak sportif, tidak manipulative, serta berani mengakui kesalahannya. Seorang pemimin harus berani memutuskan apapun resikonya. Dan harus bertindak sesuai dengan ajaran Alkitab, selebihnya adalah dosa.
2. Pemimpin tidak memikirkan zona nyaman
Menjadi pemimpin yang baik berarti bersedia keluar dari zona nyaman. Memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan lainnya untuk kebaikan orang lain.
3. Pemimpin harus konsisten
Gereja saat ini sangat membutuhkan seorang pemimpin yang konsisten dengan semangat yang tinggi. Pemimpin harus berani menerima akibat dari pilihannya dan bertanggung jawab. Artinya, apabila pilihan itu baik menurut seorang pemimpin, tunjukkan bahwa itu adalah pilihan yang tepat, itulah sikap yang konsisten dari seorang pemimpin.
4. Pemimpin harus taat
Ketaatan merupakan kunci utama yang harus dimiliki, karena Kristus telah menjadi teladan yang paling utama dengan menempatkan diri-Nya untuk senantiasa taat kepada kehendak Bapa-Nya.
Perkembangan teknologi yang semakin canggih dan gaya hidup manusia yang semakin berkembang akan sangat mempengaruhi kehidupan dan pola pikir manusia termasuk di dalam kehidupan orang percaya. Akan ada begitu banyak tantangan dan godaan yang bisa menggoncangkan iman dan panggilan orang percaya sebagai murid Kristus. Pada masa sekarang ini banyak orang yang berkobar-kobar untuk mengikut Tuhan dan mengambil komitmen untuk senantiasa taat akan perintah Tuhan tetapi pada akhirnya jatuh dan meninggalkan Tuhan.
Tuhan tidak meminta kita untuk taat seperti robot, taat dengan terpaksa karena tidak punya pilihan ataupun taat tanpa kasih. Ketaatan yang seperti itu sesungguhnya bukanlah ketaatan yang Alkitabiah. Sekalipun memiliki kebebasan untuk memilih tidak taat, namun memilih taat karena mengasihi Tuhan. Pemimpin gereja harus memberikan diri secara penuh kepada Tuhan melalui pelayanan yang dilakukannya. “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” (Yohanes 15:10-11). Jadi, hidup dalam ketaatan yang digambarkan oleh dunia sebagai penghambar potensi pribadi, sama sekali tidaklah benar. Sebaliknya akan mendatangkan sukacita penuh. Sukacita dan kebebasan yang diperoleh tanpa hidup dalam ketaatan adalah sukacita yang semua. Sukacita yang sejati diperoleh dari hidup di dalam ketaatan.
III. Analisa Penyeminar
Analisa yang dapat penyeminar ambil dari bahan bahwa yang Allah inginkan dari kita adalah berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan-Nya. Yang Allah inginkan adalah agar kita merendahkan diri kita di bawah tangan-Nya yang kuat, supaya Ia meninggikan kita pada waktu-Nya (1 Petrus 5:6). Ketidaktaatan, baik dalam bentuk melakukan apa yang Allah katakan ataupun dalam bentuk tidak melakukan apa yang Allah katakan, merupakan sebuah tindakan yang berada di luar Tuhan. Tidaklah penting apa yang kita lakukan, atau apa maksud di balik itu. Yang penting adalah apakah tindakan itu dilakukan berdasarkan ketaatan kita kepada Allah. Taat dan melakukan perintah Tuhan dalam firman-Nya yang tertulis (Alkitab) menandakan bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang bijaksana. Kepatuhan dan ketaatan kepada Tuhan dan firman-Nya pasti akan mendatangkan perkara-perkara yang besar dalam hidup kita. Pemimpin gereja ataupun seorang Kristen hendaklah menekankan perkataan John Hus, yaitu “Setiap orang Kristen yang setia harus memperhatikan benar agar tidak melakukan apapun yang bertentangan dengan Alkitab”. Menaati panggilan Allah dalam kehidupan tidak selalu mudah. Kadang kala banyak hal yang dikorbankan, entah itu mimpi-mimpi, kesenangan atau kenyamanan diri sendiri. Oleh karena itu, perlu ditekankan nilai-nilai iman Kristen khususnya ketaatan di dalam diri pemimpin gereja ataupun orang Kristen.
IV. Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa John Hus adalah seorang pemikir dan reformator agama Kristen. Hus menekankan satu hal yang penting: Firman Allah harus didahulukan. Hendaknya pemimpin di dalam gereja sekarang menekankan seperti yang telah dilakukan John Hus sebagai seorang pengkhotbah yang dengan tidak ragu-ragu menyatakan hasratnya untuk kebenaran dan tuntutan Alkitab. Yesus dapat taat secara mutlak, karena ketaatan-Nya berorientasi kepada kehendak Bapa. Oleh karena itu perlu ketaatan yang berorientasi pada Allah yang akan menghasilkan ketaatan mutlak, sebaliknya ketaatan yang hanya menyenangkan hati manusia akan menimbulkan ketidaktaatan yang tersembunyi.
V. Daftar Pustaka
Adhi, T., Perjalanan Spiritual seorang Kristen Sekuler: Enam Alasan mengapa saya tetap menjadi Kristen, Jakarta: Gunung Mulia, 2008
Clouse, Robert, “Flowering: The Western Church”, The History of Christianity. Tim Dowley (Ed.). Icknield Way, Tring, Herts: Lion Publishing, 1977
Fergusson, Sinclair B., Bertumbuh dalam Anugerah, Surabaya: Momentum, 2005
Hill, Jonathan, The History of Christian Thought, Illinois: Inter Varsity, Press, 2003
Hutton, J. E. A., History of the Moravian Church, Grand Rapids: Christian Classics Ethereal Library
Kenneth, A., dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013
Kristiyanto, Eddy, Gagasan yang Menjadi Peristiwa, Yogyakarta: Kanisius, 2002
Lane, Tony, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani, Jakarta: Gunung Mulia, 2015
McGrath, Alister E., Reformation Thought: An Introduction. 4th ed., Oxford: WileyBlackwell, 2012
Nizar, A. Ibnu, Membedah Pemikiran Filsafat & Agama, 356
Schwarze, William Nathaniel , John Hus, Martir Bohemia: Studi Fajar Protestantisme, Perusahaan Fleming H. Revell, 1915
SJ, Grald O’Collins, Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 2006
Spinka, Matthew, John Hus: A Biography, USA: Princeton University Press, 1968
Wellem, F. D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011
Sumber Internet:
https://technerium.ru/id/yan-gus-propovednik-reformator-nacionalnyi-geroi-chehii/
https://www.greelane.com/id/sastra/sejarah--budaya/jan-hus-biography-4172106/
http://www.covenantalthoughts.com/wp-content/uploads/2014/01/3.2-All-Final.pdf
http://jan-hus.jantung.web.id/id3/2018-1911/Jan-Hus_32534_jan-hus-jantung.html
[1] http://www.covenantalthoughts.com/wp-content/uploads/2014/01/3.2-All-Final.pdf, diakses pada tanggal 29 Oktober 2020, pukul 20.04 Wib
[2] Grald O’Collins SJ, Kamus Teologi, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), 108
[3] Sinclair B. Fergusson, Bertumbuh dalam Anugerah, (Surabaya: Momentum, 2005), 19
[4] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 99
[5] A. Kenneth, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013), 68-69
[6] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani, (Jakarta: Gunung Mulia, 2015), 120
[7] A. Kenneth, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, 69
[8] Alister E. McGrath, Reformation Thought: An Introduction. 4th ed., (Oxford: WileyBlackwell, 2012), 24-26
[9] A. Kenneth, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, 68
[10] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani, 120
[11] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, 98
[12] Matthew Spinka, John Hus: A Biography, (USA: Princeton University Press, 1968), 307
[13] William Nathaniel Schwarze, John Hus, Martir Bohemia: Studi Fajar Protestantisme, (Perusahaan Fleming H. Revell, 1915), 102
[14] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, 99
[15] A. Kenneth, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, 69
[16] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, 99
[17] https://www.greelane.com/id/sastra/sejarah--budaya/jan-hus-biography-4172106/, diakses pada tanggal 30 Oktober 2020 pukul 15.33 Wib
[18] Jonathan Hill, The History of Christian Thought, (Illinois: Inter Varsity, Press, 2003), 176
[19] http://jan-hus.jantung.web.id/id3/2018-1911/Jan-Hus_32534_jan-hus-jantung.html, diakses pada tanggal 30 Oktober 2020, pukul 16.12 Wib
[20] J. E. A. Hutton, History of the Moravian Church, (Grand Rapids: Christian Classics Ethereal Library), 7-9
[21] William Nathaniel Schwarze, John Hus, Martir Bohemia: Studi Fajar Protestantisme, 103
[22] William Nathaniel Schwarze, John Hus, Martir Bohemia: Studi Fajar Protestantisme, 104
[23] A. Kenneth, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, 68
[24] T. Adhi, Perjalanan Spiritual seorang Kristen Sekuler:Enam Alasan mengapa saya tetap menjadi Kristen, (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 53
[25] https://technerium.ru/id/yan-gus-propovednik-reformator-nacionalnyi-geroi-chehii/, diakses pada tanggal 30 Oktober 2020 pukul 21.36 Wib
[26] A. Kenneth, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, 68
[27] A. Kenneth, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, 69
[28] Robert Clouse. “Flowering: The Western Church”, The History of Christianity. Tim Dowley (Ed.). Icknield Way, (Tring, Herts: Lion Publishing, 1977), 330
[29] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, 99
[30] A. Ibnu Nizar, Membedah Pemikiran Filsafat & Agama, 356
[31] Eddy Kristiyanto, Gagasan yang Menjadi Peristiwa, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 223
[32] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, 98
Tidak ada komentar:
Posting Komentar