Jumat, 16 April 2021

Gereja dan Ketekunan Doa Yohanes Calvin

 

Gereja dan Ketekunan Doa Yohanes Calvin
(Suatu Tinjauan Historis Teologis tentang Gereja dan Ketekunan Doa Yohanes Calvin yang diperhadapkan dalam Roma 12:12 dan Refleksinya bagi Jemaat GBKP Rg. Bangun Mulia)

I.                   Latar Belakang Masalah

Doa merupakan cara kita agar terhubung, terkoneksi dengan Tuhan. Bagi orang Kristen Doa merupakan nafas bagi orang percaya. Doa merupakan kekuatan bagi manusia. Dengan kita berdoa maka terjalin hubungan dengan Tuhan dan membuat kita semakin berakar, bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus. Berdoa bukanlah sebuah persolan tentang rutinitas dalam orang Kristen. Tapi berdoa merupakan suatu kewajiban bagi kita untuk menjalin hubungan yang lebih intim dengan Tuhan yang adalah Sang Pemilik Kehidupan.

Yohanes Calvin merupakan seseorang yang bertekun dalam doa. Ketika Calvin memulai aktivitasnya dalam hari-harinya. Dia selalu mengucap syukur kepada Tuhan dan meminta perlindungan kepada Tuhan. Bukan hanya itu kita Calvin melakukan segala sesuatu juga dia selalu tekun berdoa. Yohanes Calvin menulis dalam buku Institutio, bahwa doa adalah sebuah kewajiban yang harus kita lakukan. Doa merupakan menggali harta karun Injil Tuhan yang memimpin kita. Perlunya kita bertekun dalam berdoa bukan untuk melatih dan mengekspresikan kata-kata yang tepat dan indah, tetapi untuk menyatakan kemulian-Nya. 

Tetapi yang menjadi pertanyaannya, Apakah kita sudah bertekun dalam doa?(Roma 12:12). Bahkan jika kila melihat tantangan sekarang dalam hal berdoa ialah lebih banyak kita memprioritaskan rutinitas kita dengan bermain gadget tanpa membangun hubungan pribadi dengan Tuhan. Sehingga saya merasa hal bertekun dalam doa sangat perlu di aplikasikan di dalam kehidupan kita. Terkhususnya kita sebagai jemaat GBKP, jika kita renungkan ketika kita berdoa dan pelayan gereja membawa doa syafaat. Kita juga merasa ngantuk, tidak fokus, pikiran sedang menghayal tentang pekerjaan, dll. Begitu juga dalam kepribadian kita, Apakah kita memprioritaskan membangun hubungan hubungan kita dengan Tuhan? Jadi begitu banyak tantangan yang terjadi untuk bertekun dalam doa. Sehingga penyeminar sangat terinspirasi oleh Ketekunan doa Yohanes Calvin.

II.                Pembahasan

2.1. Siapakah Yohanes Calvin?

Yohannes Calvin lahir pada tanggal 10 Juli 1509 di Noyon, Prancis Utara.[1] Yohanes Calvin adalah anak keduadari 4 putra yang selamat dalam melewati masa bayinya. Ayahnya, Gerard Cauvin, mempunyai karir yang bagus sebagai notaris katedral dan registrator dalam pengadilan eklesiastikal atau gerejawi. Ayahnya meninggal setelah menderita kanker testikular selama 2 tahun, dan ibunya, Jeanne le French adalah putri pemilik penginapan di Cambrai. Ibunya meninggal beberapa tahun setelah kelahiran Calvin, karena terkena sakit payudara. Gerard mengharapkan Calvin menjadi rohaniawan gereja.[2]

 Yohannes Calvin adalah seorang pemimpin gerakan reformasi gereja di Swiss. Ia merupakan generasi yang kedua dalam jajaran pelopor dan pemimpin gerakan reformasi gereja abad ke-16.[3] Ia belajar di Universitas di Paris, Orleans dan Bourges serta menjadi pengagum Erasmus dan Humanisme. Kakeknya adalah seorang tukang tong.[4]

Gagasan yang mendominasi spiritualitas Calvin, sudah ditemukan dalam gagasan pietas Gerson. Menurut Calvin, kesalehan adalah khas bagi orang yang hidup dalam tatanan Tuhan. Pietas menyerupai sikap wajar dan lazim terhadap seorang bapa pada abad keenam belas. Kesalehan didasarkan pada suatu rasa ketergantungan yang menyingkapkan dirinya dalam pelayanan. Orang saleh taat pada hukum Tuhan dan mengasihi sesamanya. Ia setia pada kewajibannya untuk bermeditasi dan berdoa.[5]

2.2. Gereja Menurut Yohanes Calvin

Gereja adalah persekutuan orang-orang yang telah diselamatkan berkat Kasih Karunia Allah di dalam Yesus Kristus.[6] Menurut Calvin, Allah mengkehendaki orang-orang percaya mencapai kedewasaannya melalui pendidikan dari gereja. Karena dengan sarana kaum pendidik, Allah mengulurkan tangan-Nya untuk menarik orang-orang percaya kepada Dia. Melalui mulut dan lidah manusia yang dikuduskan oleh Roh Kudus, yaitu para pendidik gereja, warga dapat mendengar Firman Allah sama seperti Dia sendiri hadir di dalam kehidupan manusia itu sendiri. Di samping dididik langsung melalui bimbingan seorang guru dalam kelompok orang-orang percaya, pertumbuhan rohani dialami pula melalui kebaktian yang terdiri dari keikutsertaan semua warga di dalamnya; misalnya dalam bagian berdoa, menyanyikan mazmur-mazmur, pengakuan dosa dan penerimaan pengampunan, membuka dirinya kepada Firman yang diberitakan pengkhotbah dan secara khusus menerima Sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus.[7]

2.3. Doa Menurut Alkitabiah

2.3.1.      Doa Menurut Perjanjian Lama

Manusia perlu berdoa, namun ini tidak berarti doa adalah inisiatif manusia semata. Sebelum manusia berdoa, sudah ada Tuhan Kej. 1:1a “Pada mulanya Allah. Tuhan berfirman dan bertindak. Lalu manusia berespon terhadap firman dan tindakan Tuhan dalam bentuk mendengarkan dan taat kepada-Nya. Dalam keadaan tertentu malah manusia bisa balik meminta Tuhan mendengarkannya berbicara, dan mengabulkan doanya. Dengan berarti manusia memohon kepada Yang Mahakuasa dalam bentuk imperatif “dengarlah…! atau lebih halus sedikit dalam bentuk jusif “kiranya Engkau mendengar…!.[8] Doa mengungkapkan kasih dan pujian umat Israel kepada Tuhan; doa merupakan juga sarana untuk menyatakan kasih kepada sesama. Karena berdoa dalam PL menunjukkan tingkat keakraban yang cukup tinggi (Kej. 15:2-3).[9] Ketekunan dalam doa di sini mencakup kesungguhan, ketulusan, dan kerendahan hati (Mat. 6:7).[10]

2.3.2.      Doa Menurut Perjanjian Baru

Doa merupakan mata rantai penting untuk menerima berkat dan kuasa Allah, dan penggenapan janji-janji-Nya. Misalnya, Yesus berjanji bahwa para pengikut-Nya akan menerima Roh Kudus apabila mereka tekun dalam meminta, mencari dan mengetuk pintu Bapa Surgawi (Luk. 11:5-13). Jadi, setelah kenaikan Yesus, para pengikut-Nya bersatu dalam doa terus-menerus di ruang atas (Kis. 1:14) hingga dengan kuasa (Kis. 1:8). Dan ketika para pengikut ditawan dan dibebaskan kembali oleh para pejabat Yahudi, mereka sungguh-sungguh bedoa agar Roh Kudus memberikan keberanian dan pengaruh ketika mengucapkan firman-Nya. Rasul Paulus sering sekali mohon bantuan doa bagi dirinya, karena sadar bahwa pelayanannya tidak akan berhasil terkecuali orang Kristen ikut mendoakan dirinya (Rm. 15:30-32; 2 Kor. 1:11; Ef. 6:18-20; Flp. 1:19; Kol. 4:3-4).[11]

Dalam Perjanjian Baru muncul mengenai orang-orang percaya yang tekun dalam berdoa. Salah satu kesaksian ialah Kis. 1:14. Dikatakan, bahwa sekembalinya murid-murid Yesus dari Bukit Zaitun ke Yerusalem, mereka naik ke ruang atas dari rumah, di mana mereka menumpang, lalu “bersama-sama mereka bertekun dalam doa.”[12]

2.4. Pengertian Ketekunan dalam Berdoa

Di dalam KBBI, doa adalah permohonan (harapan dan pujian) kepada Tuhan.[13] Doa juga merupakan proses yang dialamatkan kepada orang yang berkuasa yang mempunyai kekuatan yang bertujuan memuji, penyembahan, ucapan syukur, permohonan, penyesalan dan lain-lain.[14] Di dalam doa, seseorang dituntut supaya doa dilakukan secara benar. Sebab doa yang baik adalah doa yang penuh kepercayaan, kerendahan hati dan ketekunan. Doa tidak menuntut tetapi pasrah sepenuhnya pada kebijaksanaan Tuhan. Doa adalah salah satu bentuk rahasia iman kita. Karena doa adalah tindakan sederhana kenyamanan bagi orang-orang percaya yang dari awalnya telah berbalik dengan kepercayaan dan iman kepada Tuhan.[15]

Dalam KBBI, kata tekun artinya rajin, keras hati, bersungguh-sungguh, dan tetap berpegang teguh[16]. Ketekunan adalah suatu kekuatan karakter batiniah yang tidak pernah menyerah, melainkan maju terus, menerobos setiap rintangan di sepanjang jalan. Ketekunan adalah suatu kualitas ilahi dan produk iman.[17] Doa bukan suatu tindakan yang dilakukan tanpa perasaan hati dan emosi. Bahkan sikap tubuh dan kata-kata yang digunakan oleh orang percaya di dalam doa merupakan ekspresi dari hati. Ronald S. Wallace menyimpulkannya demikian: “In prayer both the posture of the body and words in which the prayer is expressed should be a genuine expression of what the heart either feels or wills to feel.”[18]

Ketekunan dalam berdoa dilakukan dengan cara menyertakan ucapan syukur di dalam doa.[19] Ketekunan dalam berdoa perlu diimbangi dengan giat bekerja dengan mengarahkan hati pada salib, sehingga pekerjaan tidak menjadi melelahkan. Musuh utama yang perlu diwaspadai adalah kesombongan karena kesombongan membinasakan jiwa bagaikan ulat membinasakan tanaman secara perlahan namun pasti. Seseorang perlu terus berdoa meskipun dirinya terus jatuh dalam dosa yang sama. Bila seseorang berhenti berdoa, ia sudah menyesatkan dirinya sendiri. Selain doa, seseorang yang ingin berkembang dalam hidup rohani perlu membiasakan diri untuk berefleksi dan bermeditasi.[20]

 

2.5. Mengapa Kita Berdoa?

Doa itu merupakan penghubung antara manusia dengan Allah. Apa pun yang menurut janji Tuhan dapat kita harapkan dari Dia, menurut perintah-Nya harus pula kita pinta dengan doa. Memang tidak tanpa alasan dinyatakan oleh Bapa sorgawi bahwa satu-satunya sarana untuk mencapai keselamatan ialah dengan menyeru nama-Nya; sebab dengan memanggil nama-Nya kita memohon kehadiran pemeliharaan-Nya yang menjaga agar perkara-perkara kita terpelihara; kita memohon kehadiran kekuatan-Nya yang menunjang kita yang lemah dan yang selalu mau roboh; kita memohon kehadiran kebaikan-Nya yang menerima kita dalam rahmat-Nya, kita yang secara menyedihkan sarat dengan dosa-dosa; pendeknya, sebab dengan menyeru nama-Nya kita memanggil Dia agar datang, supaya kepada kita Dia menunjukkan kehadiran-Nya sepenuhnya.[21]

Melalui doa, orang-orang percaya meminta agar janji-janji Allah menjadi suatu kenyataan. Melalui doa, orang percaya meminta providensi (pemeliharaan) dari Allah terhadap mereka, kuasa Allah untuk menopang mereka, dan kebaikan Allah, yang melaluinya Ia menerima orang percaya yang berdosa dan menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada mereka. Mungkin ada orang-orang yang mengatakan bahwa doa tidak berguna karena Allah sudah mengetahui apa kebutuhan kita. Lagi pula, Allah adalah Allah yang baik. Ia pasti akan mencukupkan kebutuhan kita tanpa kita perlu berdoa lagi. Akan tetapi bagi Calvin, berdoa adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah untuk kebaikan kita sendiri, yaitu untuk melatih iman percaya kita agar tidak menjadi malas dan lemah.

 Yohanes Calvin memberikan enam alasan mengapa kita perlu berdoa, yaitu:

 Pertama, doa membakar hati kita dengan kemauan untuk mencari, mengasihi, dan melayani Allah, serta mencari pertolongan-Nya di kala kita membutuhkan. Kedua, doa melatih kita untuk membuka rahasia dan keinginan hati kita kepada Allah tanpa perlu merasa malu. Ketiga, doa melatih kita untuk mensyukuri apa yang sudah kita terima dari Allah. Di dalam doa hati kita datang dengan pengucapan syukur dan terima kasih karena semua yang kita terima berasal dari Allah. Keempat, doa membimbing kita untuk merenungkan kebaikan Allah karena Ia telah menjawab doa kita. Kelima, doa menghasilkan suka cita yang lebih besar karena hal-hal yang kita terima melalui doa. Keenam, doa berfungsi sebagai konfirmasi yang bersifat pribadi terhadap pemeliharaan (providensi) Allah, bahwa Allah adalah Allah yang tidak pernah gagal menolong kita.[22]

2.6. Cara Berdoa yang Tepat[23]

Yang harus ditetapkan sebagai hukum pertama dalam merancangkan doa dengan cara yang pantas dan tepat ialah: janganlah suasana hati dan batin kita lain dari yang patut bagi mereka yang hendak berbicara dengan Allah. Hendaklah kita halau segala kesusahan yang asing dan yang datangnya dari luar, yang membuat hati kita yang sudah dari sendirinya tidak tetap, terombang-ambing, dan ditarik dari sorga lalu ditekan ke bumi.

Dua hal yang terutama patut diperhatikan di sini ialah: barangsiapa menyiapkan diri untuk berdoa, hendaklah mengarahkan niat dan perhatiannya pada doa itu, dan jangan karena pikirannya melantur, seperti yang biasanya terjadi, ia tertarik ke sana ke mari. Dan yang kedua yang kami kemukakan ialah: kita tidak boleh minta lebih dari apa yang diizinkan Allah kepada kita. Sebab, meskipun diperintahkannya supaya kita mencurahkan hati kita (Mzm. 62:9), Dia tidak mengendurkan begitu saja kendali kecenderungan-kecenderungan hati kita yang bodoh dan yang buruk.

Menurut hukum yang kedua, hendaklah waktu berdoa kita selalu benar-benar menyadari kekurangan kita dan karena merenungkan dengan sunguh-sungguh betapa kita memerlukan semuanya yang kita minta, pada doa itu kita sertakan keinginan yang tulus bahkan yang berapi-api untuk memperolehnya. Sebab, banyak orang, hendak lekas selesai, memanjatkan doa menurut suatu rumus, seolah-olah mereka sedang menunaikan satu tugas bagi Allah. Hanya orang-orang yang menyembah Allah dengan sungguh-sungguh yang berdoa sebagaimana mestinya dan yang didengar.

Lalu ada pula hukum ketiga: Barangsiapa menghadap Allah untuk berdoa, hendaknya menjauhi segala pikiran akan kekayaannya sendiri, melepaskan segala khayalan mengenai martabatnya sendiri, singkatnya: menanggalkan segala kepercayaan pada dirinya sendiri. Sebab dengan menganggap remeh dirinya ia benar-benar memuliakan Allah. Jangan kita memberanikan diri untuk menuntut sesuatu, betapapun kecilnya, sehingga dengan kesombongan kita yang sia-sia itu kita binasa di hadirat-Nya. Makin suci seorang abdi Tuhan, makin dalam sujudnya bisa tampil di hadirat Allah.

Awal doa dan juga persiapan untuk berdoa sebagaimana mestinya, ialah permohonan ampun diiringi pengakuan bersalah yang tulus dan rendah hati.

Akhirnya hukum keempat: Meskipun dengan demikian kita bersujud dan dikuasai oleh rasa rendah hati yang sungguh-sungguh, hendaknya karena harapan yang kokoh akan didengar, kita masih juga terdorong untuk berdoa. Amaraah Allah sangat terangsang oleh ketidakpercayaan kita apabila kita minta suatu anugerah daripada-Nya padahal kita tidak mengharapkan pengabulannya. Maka tidak ada yang lebih sesuai dengan sifat doa daripada menetapkan dan menegaskan baginya hukum yang ini: janganlah doa itu tersembur begitu saja, tetapi hendaklah datang dengan didahului iman.

2.7. Pemahaman Mengenai Doa Menurut Yohanes Calvin

Menurut Calvin, doa merupakan sesuatu yang harus dilakukan oleh orang-orang Kristen. Orang Kristen perlu menyadari bahwa setiap yang dibutuhkan hanya ada di dalam Allah.[24] Selain itu, Calvin menyebut doa sebagai penghubung antara manusia dengan Allah.[25] Melalui doa, Allah masuk ke dalam hati kita dan berkomunikasi dengan diri kita. Selanjutnya, doa merupakan ekspresi perasaan hati dari orang-orang percaya kepada Allah. Bahkan sikap tubuh dan kata-kata yang digunakan di dalam doa merupakan ekspresi dari hati. Oleh karena itu, bagi Calvin doa harus tetap dilakukan karena hal ini merupakan perintah dari Allah untuk kebaikan hidup manusia.[26]

Kemudian tokoh reformasi Luther dan Calvin merumuskan bahwa doa adalah “permohonan”. Sejalan dengan pengertian tentang ibadah atau kebaktian mereka merumuskan bahwa ibadah pertama sekali harus dilihat sebagai bentuk pelayanan Allah terhadap umat-Nya. Untuk itu suara doa tidak perlu di atur atau dibuat-buat karena itu tidak dapat menyempurnakan doa perenungan kita. Pada saat ini banyak aliran yang mempersoalkan tentang cara-cara dan bentuk-bentuk doa yang bbaik, itu tidak salah tetapi yang terutama kita harus melihat titik pangkal di atas bahwa doa itu adalah bentuk pelayanan Allah terhadap umat-Nya bukan kita yang melayani. Itu sebabnya gereja-gereja reformatoris tidak terlampau memperhatikan mengenai bentuk dan cara-cara berdoa. Bandingkan renungan tentang doa dalam Luk. 18:9-14 yaitu doa orang Farisi dengan doa pemungut cukai. Doa menjadi sarana untuk mengaku dosa dan mengucap syukur atas kebaikan Tuhan. Itu berarti kita harus sujud dihadapan-Nya dengan rendah hati, bukan untuk mempertontonkan keahlian sekaligus kemahiran kita dalam berdoa atau untuk mempermuliakan tingkat kerohanian kita. Karena sebagaimana pengakuan Paulus bahwa kita sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang seharusnya kita mohonkan kepada Allah di dalam doa kita (Rom. 8:26-27). Perkataan Paulus ini mau memperlihatkan bagaimana keterbatasan kita di dalam memohon dan berdoa kepada Allah sekaligus memperlihatkan bagaimana peranan Roh Kudus yang senantiasa menguatkan kita.[27]

Bagi Calvin, doa itu sendiri adalah suatu persekutuan antara manusia dan Tuhan untuk memohon agar apa yang Tuhan telah janjikan dapat terpenuhi dalam kehidupan orang percaya, seperti yang ia katakan: “There is communion of men with God by which, having entered the heavenly sanctuary, they appeal to him in person concerning his promises in order to experience, where necessity so demands, that what they believed was not vain, although he had promised it in word alone.” Menurutnya, doa merupakan suatu persekutuan yang akrab, bahkan suatu percakapan antar manusia dan Tuhan, yang melibatkan dua pribadi yang memiliki perasaan dan hati.[28]

 Dan bagi Calvin, berdoa adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah untuk kebaikan kita sendiri, yaitu untuk melatih iman percaya kita agar tidak menjadi malas dan lemah.[29] Ketaatan kita kepada Allah harus menjadi nyata dalam doa kita kepada-Nya di tengah-tengah segala kesukaran yang kita hadapi. Allah menghendaki agar kita mempermuliakan-Nya melalui doa doa kita.[30] Sehingga Yohanes Calvin mendeskripsikan bahwa seorang kristen hendaknya sama dalam hal perbuatan dan perkataan. Doa merupakan kata-kata yang disampaikan kepada Tuhan lewat pengharapan, iman, dan kasih. Bagi seorang Kristen doa merupakan senjata iman dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan tantangan.[31] Begitu juga dengan Doa Syafaat menurut Calvin adalah doa untuk orang-orang yang masih hidup yaitu doa untuk anggota-anggota gereja, pejabat gereja dan lainnya. Doa yang dilakukan dalam gereja harus berlangsung dengan sopan dan teratur.[32]

Kesaksian Roh Kudus ini penting karena bagi Calvin, orang percaya tidak mungkin bisa berdoa dengan benar jika di dalam hati dan pikiran mereka tidak diyakinkan bahwa mereka adalah anak-anak Allah.[33] Orang percaya sendiri tidak dapat menghasilkan keyakinan tersebut karena selalu terjadi kegelisahan dan ketidakpastian di dalam pikiran mereka. Roh Kuduslah yang memberikan jaminan ke dalam roh dan pikiran orang-orang percaya tersebut bahwa mereka telah menjadi anak-anak Allah. Tanpa kesaksian Roh Kudus orang-orang percaya tidak memiliki keyakinan tersebut. Ketika Roh Kudus bersaksi kepada kita bahwa kita adalah anak-anak Allah, pada saat yang bersamaan Ia memberikan kepada kita suatu keberanian untuk memanggil Allah, Bapa kita. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah, Bapa kita, dengan berani dan dapat berdoa dengan benar.[34]

2.8. Aturan-Aturan Pengajaran Yohanes Calvin tentang Berdoa

Dalam Ketekunan Doa Calvin memiliki berbagai aturan-aturan yang menunjukkan bukti dari ketekunannya, yaitu:

Aturan pertama dalam doa menurut Calvin adalah prinsip penghormatan atau “takut akan Allah.” Calvin menyerukan kepada umat Kristen untuk pertama-tama memahami betapa serius dan agungnya doa itu. Doa adalah audiensi dan percakapan dengan Allah mahakuasa penguasa alam semesta. Sebaliknya, manusia harus datang dalam doa yang “begitu digerakkan oleh keagungan Allah” hingga kita “terbebas dari kekhawatiran dan ikatan duniawi.” Aturan kedua Calvin dalam doa adalah perasaan membutuhkan yang mengecualikan segala kepalsuan. Di sini, Calvin merujuk pada apa yang dapat disebut sebagai kerendahan hati rohani. Hal ini secara umum mencakup perasaan bergantung yang kuat kepada Allah, dan secara khusus kesiapan untuk menyadari serta bertobat dari kesalahan kita sendiri. Calvin memperingatkan umat Kristen terhadap pandangan umum di abad pertengahan (dan modern) bahwa doa adalah sebuah cara untuk menunjukkan tingkat kesungguhan kerohanian manusia kepada Allah. Doa memampukan manusia untuk meninggalkan sikap senang membenarkan diri, mengalihkan kesalahan kepada orang lain, mengasihani diri sendiri, maupun kesombongan rohani.

Aturan ketiga dan keempat Calvin dalam doa harus berjalan beriringan bersama-sama. Aturan ketiganya adalah bahwa kita harus memiliki kepercayaan penuh penundukan diri kepada Allah. siapapun yang berdiri di hadapan Allah untuk berdoa, harus meninggalkan segala pikiran tentang kemuliaan diri sendiri. Calvin menulis, “Meskipun dipenuhi dan dikuasai oleh kerendahan hati sejati, kita harus tetap giat berdoa dengan pengharapan yang pasti bahwa doa kita akan dijawab.” [35]

Bila hati kita biasakan untuk mematuh aturan ini sambil membiarkan diri dibimbing oleh hukum-hukum Pemeliharaan Allah, maka kita dengan mudah akan belajar untuk betekun dalam doa dan untuk, dengan mengesampingkan keinginan-keinginan kita, menantikan Tuhan dengan sabar. Karena kita yakin bahwa dia selalu mendampingi kita, meskipun kelihatannya sama sekali tidak demikian halnya, dan pada waktunya akan menunjukkan bahwa telinga-Nya tidak tuli terhadap doa-doa yang menurut pandangan manusia tampaknya tidak diindahkan.[36]

2.9. Doa dalam Teologi Calvin

Doa-doa Calvin berisi pengajaran teologis yang sangat mendalam. Ketika ia berdoa, maka ia selalu berpikir, bagaimana dapat memberi pengajaran kepada orang Kristen lewat doa-doanya. Salah satu doanya mengajarkan empat sola secara detail. Empat sola yang merupakan ajaran intinya ini ia uraikan secara puitis lewat doanya. Berikut ini adalah salah satu doanya yang bermuatan pengajaran teologis yang sangat mendalam.[37]

Dikaulah kehidupan dari jiwaku...Ya Tuhan..

Jika Kau ambil hadiratMu dari padaku...Jiwaku mati...

Ya Putra Tuhan, hidupkanlah kembali...

Dikaulah terang dari jiwaku...Ya Tuhan..

Di luar Engkau.. Tidak ada terang...

Untuk menerangi malam hari kami...

Jiwa kami buta...

Ya Matahari Kebenaran, bersinarlah...

Dikaulah keselamatan jiwaku... Ya Tuhan...

Tanpa Engkau, jiwaku tersandung tanpa berdiri...

Jiwaku timpang...

Ya tangan Tuhan, sembuhkan aku...

 

Ajaran teologis dari Calvin yang pertama adalah tentang Anugerah Tuhan terhadap kehidupan manusia. Kehidupan manusia hanya bergantung kepada Anugerah Tuhan atau sola gratia. Jika tanpa Anugerah Tuhan, maka pada dasarnya manusia hidup dalam kematian. Calvin berkata: “Jika Kau ambil hadiratMu daripadaku... Jiwaku mati.”

            Kedua, tentang terang Tuhan yang menuntun kehidupan manusia. Melalui terang Tuhan saja, maka kehidupan manusia tertuntun. Tanpa terang Tuhan, maka kehidupan manusia menuju kesesatan yang akan berujung kepada kematian. “Jiwa kami buta” jika tanpa terang Tuhan. Untuk itu Kitab Suci menjadi bagian yang utama dalam kehidupan Calvin. Ini merupakan ajaran sola scriptura.

            Ketiga, tentang sola fide. Tanpa iman kepada Tuhan, maka kehidupan manusia menuju kepada kebinasaan. Dia berkata: “Jika jiwa tidak dapat mengakui imannya dalam Engkau...Jiwaku bisu..” Iman kepada Anugerah Tuhan adalah yang membawa manusia hidup dalam iman. Untuk itu iman itu sendiri adalah Anugerah.

            Keempat, Ajaran tentang empat sola di atas diajarkan Calvin lewat doanya. Hal ini menunjukkan, bahwa doa selain merupakan alat komunikasi manusia dengan Tuhan, doa juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan ajaran teologis kepada yang berdoa bersamanya. Ajaran ini menyatakan, bahwa empat sola tersebut terfokus kepada sola gratia.

 

2.10.                     Ketekunan Doa Yohanes Calvin Diperhadapkan dengan  Teologis Roma 12:12

Yohanes Calvin menekankan pentingnya doa dalam kehidupan orang percaya, bahkan Calvin berkata doa merupakan nafas bagi orang percaya.[38] Menurut Calvin, doa yang benar adalah doa yang lahir dari iman kepada Allah yang benar. Doa yang benar dan sejati bukan hanya sekadar mengangkat suara tetapi merupakan suatu permohonan yang keluar dari prinsip iman yang benar. Berdoa dengan benar lahir dari iman dan iman yang benar lahir dari firman Tuhan.[39]

Bagi Calvin, doa merupakan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang Kristen. Karena, orang-orang percaya yang memiliki iman sejati menyadari bahwa mereka pada dasarnya adalah manusia yang tidak berdaya, lemah, dan miskin di hadapan Allah. Mereka juga tidak berdaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Mereka perlu menyadari bahwa apa yang mereka butuhkan berada di dalam Allah dan Tuhan Yesus Kristus, bukan di dalam diri mereka sendiri. Karena semua yang kita butuhkan ada di dalam Kristus, maka orang Kristen seharusnya mencari dan memintanya di dalam doa kepada Allah. Tidak meminta di dalam doa kepada Allah berarti sama dengan orang yang mengabaikan harta terpendam yang ia miliki.[40]

Yohanes Calvin menjelaskan bahwa kita harus berdoa secara teratur dan dengan tekun. Doa berlandaskan sebagai latihan untuk diri kita sendiri, kita sebaiknya masing-masing menetapkan jam-jam tertentu yang tidak boleh berlalu tanpa doa. Pada jam-jam tersebut seluruh perasaan hati kita harus dicurahkan untuk itu. Yaitu, bila kita bangun pagi-pagi, sebelum kita mulai pekerjaan kita sehari-hari, bila kita duduk untuk makan, setelah kita makan dengan berkat Allah, dan apabila kita hendak tidur. Asal saja perbuatan menepati jam-jam itu tidak mengandung perasaan ketakhayulan, sehingga kita menganggap bahwa dengan demikian kita seakan-akan mengerjakan tugas bagi Allah dan telah memenuhi kewajban kita untuk jam-jam selebihnya. Lebih tepat hendaknya bahwa doa itu mendidik kelemahan kita, supaya itu terlatih dan terus-menerus mendapat dorongan.

Calvin mengatakan bahwa ketaatan kita kepada Allah harus menjadi nayata dalam doa kita kepada-Nya di tengah-tengah segala kesukaran yang kita hadapi. Allah mengkehendaki agar kita mempermuliakan-Nya melalui doa-doa kita.[41] Kita hanya dapat meminta atau berseru kepada-Nya, bukan kepada orang-orang atau benda-benda suci, atau kepada yang lain selain Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Itu makanya di dalam Katekhismus Heidelberg ada tertulis bahwa permohonan doa adalah bagian yang terutama dari mempermuliakan Allah dan yang diinginkan Allah kepada kita.

Menurut Calvin, ketekunan dalam berdoa itu terutama menyangkut doa pribadi masing-masing orang, namun hal itu berkenaan juga dengan doa-doa umum di dalam gereja. Ada jam-jam yang disepakati dan ditetapkan, jamnya tidak penting bagi Allah, tetapi perlu ada bagi kita supaya semua orang diberi kesempatan dan segala sesuatu berlangsung dengan sopan dan teratur di dalam Gereja.[42]

-          Doa-Doa Harian Yohanes Calvin (Doa setelah Bangun Tidur)

Ya Allahku, Bapaku dan Juruselamatku, karena Engkau telah berkenan memberiku anugerah untuk melewati malam sampai pada hari ini, maka kini berbelas kasihlah supaya aku memakai hari ini sepenuhnya demi melayani-Mu, sehingga seluruh pekerjaanku menjadi kemuliaan bagi nama-Mu dan manfaat bagi sesamaku. Sebagaimana Engkau berkenan membuat mentari bersinar di atas bumi demi memberi kami terang badani, maka berkahilah aku dengan Roh-Mu untuk menerangi pengertian dan hatiku...........[43]

-          Doa Bapa Kami Sebagai Perdoman Kita

Menurut Calvin, kita tidak hanya harus belajar tentang cara berdoa yang paling tepat, tetapi juga tentang bentuk doa itu, yaitu bentuk yang diberikan Bapa di sorga kepada kita melalui Anak-Nya yang Dia kasihi (Mat. 6:9; Luk. 11:2).

Rumus atau pedoman untuk berdoa itu terdiri dari enam buah permohonan. Meskipun keseluruhan Doa itu demikian sifatnya sehingga di setiap bagiannya kita pertama-tama harus ingat pada kemuliaan Allah, namun ketiga permohonan pertama khususnya ditujukan ke kemuliaan Allah; dan hanya itulah yang harus kita perhatikan di dalamnya, tanpa mengindahkan keuntungan kita sendiri. Ketiga permohonan lainnya menyangkut keperluan kita, dan pada hakikatnya dimaksudkan untuk meminta apa yang berguna bagi kita.

Segala sesuatu yang harus dan pada umunya dapat kita minta kepada Allah dengan doa, kita dapati tercantum dalam rumus ini, yang merupakan pedoman kita untuk berdoa yang diajarkan kepada kita oleh Kristus, Guru yang paling baik itu, yang oleh Bapa ditetapkan sebagai Guru bagi kita dan yang dikehendaki-Nya sebagai satu-satunya yang harus kita dengarkan (Mat. 17:5).[44]

 

-          Tafsiran Roma 12:12 menurut Yohannes Calvin

Bersukacita dalam pengharapan, dll. Tiga hal di sini dihubungkan bersama, dan terlihat dalam cara untuk mengikuti klausul "melayani waktu;" untuk orang yang mengakomodasi dirinya sendiri yang terbaik untuk saat ini, dan memanfaatkan kesempatan untuk secara aktif memperbarui jalannya, dia yang memperoleh kegembiraannya dari harapan kehidupan di masa depan, dan dengan sabar menanggung kesengsaraan. Namun ini mungkin, (karena tidak terlalu penting apakah kita menganggap mereka terhubung atau terpisah,) dia pertama; melarang kita untuk menerima berkat-berkat saat ini, dan untuk mendasarkan sukacita kita di bumi dan seterusnya dalam hal-hal duniawi, seolah-olah kebahagiaan kita didasarkan padanya; dan dia meminta kami untuk meningkatkan pikiran ke surga, agar kita dapat memiliki sukacita yang solid dan penuh. Jika kegembiraan kita berasal dari harapan kehidupan masa depan, maka kesabaran akan tumbuh dalam kesulitan; karena tidak akan ada jenis kesedihan bisa menguasai kegembiraan ini. Oleh karena itu kedua hal ini saling terkait erat, yaitu, kegembiraan berasal dari harapan, dan kesabaran dalam kesulitan. Tidak ada pria yang akan dengan tenang dan tunduk untuk memikul salib, tetapi dia yang telah belajar untuk mencari kebahagiaannya di luar dunia ini, jadi untuk meringankan dan menghilangkan kepahitan salib dengan penghiburan pengharapan.

Tetapi karena kedua hal ini jauh di atas kekuatan kita, kita harus segera berdoa, dan terus berseru kepada Tuhan, agar Dia tidak membiarkan hati kita pingsan dan tertekan, atau rusak karena efek samping. Tetapi Paulus tidak hanya mendorong kita untuk berdoa, tetapi juga secara tegas membutuhkan ketekunan; karena kita memiliki peperangan yang berkelanjutan, dan konflik baru setiap hari muncul, untuk menopang yang, bahkan yang terkuat pun tidak setara, kecuali mereka sering mengumpulkan ketelitian baru. Agar kita tidak menjadi lelah, obat terbaik adalah ketekunan dalam doa.[45]

Meskipun ketekunan dalam berdoa itu terutama menyangkut doa pribadi masing-masing orang, namun hal itu berkenaan juga dengan doa-doa umum di dalam gereja. Ada jam-jam yang disepakati dan ditetapkan-jamnya tak penting bagi Allah, tetapi perlu ada bagi kita-supaya semua orang diberi kesempatan dan segala sesuatu berlangsung dengan sopan dan teratur di dalam Gereja.[46]

Berdoa bukan sekedar meminta tetapi mempermuliakan Allah di dalam diri kita. Kalau kita merenungkan siapa sebenarnya kita sehingga berani meminta atau menuntut kepada Allah? Dari segi diri kita sebenarnya kita tidak apa-apa. Tetapi oleh kasih karuniaAllah yang telah memberikan perintah itu maka kita memiliki kesempatan untuk berdoa kepada Allah. Jadi, doa bukan mempersoalkan sanggup atau tidak tetapi kemauan atau kesadaran kita untuk melakukannya. Di dalam doa ada pengakuan yaitu pengakuan bahwa kita mau hidup di dalam anugerah Allah.[47]

2.11.                    Ketekunan Doa Jemaat GBKP Rg. Bangun Mulia

Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Runggun Bangun Mulia Klasis Kampung Lalang ini merupakan Gereja yang sangat kecil. Gereja ini terdaftar di Klasis Medan Kampung Lalang dengan Rayon C.  Gereja belum memiliki Pendeta dari tahun 1965 - 2017. Gereja ini juga memiliki 3 sektor (Imanuel, Maranatha, Syalom) dengan jumlah 69 KK.

Doa sangatlah penting bagi kita. Sangat perlu bagi kita sebagai anak-anak Tuhan bertekun dalam doa. Tetapi yang menjadi renungan dan pertanyaan bagi kita ialah “Apakah ketika kita bertekun dalam doa, kita sudah mengaplikasikannya secara nyata di dalam kehidupan kita? Sehingga ini sangat perlu kita lihat di dalam tekunnya kita berdoa harus terlihat dari buah perbuatan dan tingkah laku kita sehingga nama Tuhan semakin dipermuliakan. Tetapi sebaliknya jika kita tekun dalam berdoa pun tetapi hati kita masih bisa membenci sesama kita, tidak mau menolong orang lain, ini sama seperti orang-orang farisi.

Kita harus melihat bagaimana ketekunan doa Yohanes Calvin yang begitu sangat patut untuk diteladani, Calvin sangat menjaga kesalehannya dengan menjaga kekudusan dalam hidupnya dan ketekunanya dalam doa juga dapat terealisasi di dalam buah perbuatannya di kehidupannya. Jadi, tekun dalam berdoa juga sangat perlu dalam pengaplikasiannya.[48]

Pada tahun 2015, di GBKP Rg. Bangun Mulia pernah melakukan kegiatan jam doa subuh

Ketekunan berdoa di tengah-tengah jemaat di GBKP Rg. Bangun Mulia persentasenya masih minim. Tetapi Gereja tetap mengajari agar ketekunan berdoa ini bisa diupayakan. Sebab hidup di dalam doa ini sangatlah penting bagi kita orang Kristen yang beriman. Dengan bertekun dalam doa akan mendapatkan kenyamanan hidup. Panjang dan pendeknya berdoa dilihat dari sesuai kebutuhan apa yang mau di doakan. Ada waktu-waktu tertentu yang khusus untuk apa yang dibutuhkan, di dalam keluarga, jemaat dan masyarakat. Panjang itu tergantung oknumnya. Tetapi ironisnya ada juga doa yang panjang itu membuat jemaat kita yang ketiduran, ada yang bermain hp. Harusnya lebih baik padat, singkat, dan tepat.

Tujuan gereja ialah membawa jemaat nya tetap sabar dan tabah dalam situasi apapun sesuai dengan Roma 12:12 ini, karena Doa adalah nafas kehidupan. Jadi bertekun dalam berdoa itu sangat penting. Karena tanpa doa kita bisa mendapat kekecawaan dalam kehidupan kita. Seseorang yang bertekun dalam doa pasti ada hubungannya dengan kekudusan dan kesalehannya. Sebenarnya sangat  miris melihat tantangan gereja sekarang melihat situasi kita jemaat yang bobrok dalam ketekunan dalam berdoa. Seakan-akan tidak memiliki hati yang Takut akan Tuhan sehingga berani tidak fokus berdoa dan bermain HP. Tetapi itulah tugas dari gereja td agar tetap terus mengajari jemaat untuk bertekun dalam doa. Orang yang bertekun dalam doa mampu membawa diri di dalam situasi apapun. Begitu juga jika kita melihat Yohanes Calvin, dia sangat khusyuk dalam menjaga kekudusan hidup dengan dia juga membangun hubungannya dengan Tuhan.[49]

Doa merupakan kekuatan bagi kita. Doa juga merupakan nafas bagi orang percaya. Untuk pemahaman doa sendiri pasti setiap orang mempunyai pemahaman yang berbeda-beda. Kendala seseorang untuk bertekun dalam doa yaitu: karena tidak fokus untuk berdoa, Cepat bosan dan jenuh dalam berdoa karena doa tidak dijawab Tuhan. Gereja sudah mengajarkan dan memberi pengarahan tetapi mungkin jemaat yang belum menerima atau belum merasa sentuhan terhadap ajaran mengenai ketekunan dalam doa tersebut.[50]

2.12.                     Refleksinya Bagi Jemaat GBKP Rg. Bangun Mulia

1.      Doa merupakan penghubung antara manusia dengan Tuhan. Mengapa kita perlu bertekun dalam doa? Agar kita manusia tidak lupa mengucap syukur kepada Tuhan dan juga tetap terhubung dengan Tuhan melalui doa. Dengan adanya ketekunan dalam doa membawa kita menjadi anak-anak Tuhan yang berakar, bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus.

2.      Jemaat GBKP Rg. Bangun Mulia harus menyadari bahwa kehidupan kita tidak pernah terlepas dari pertolongan kepada Tuhan. Ketika kita memiliki permasalahan sekalipun tetaplah berdoa kepada Tuhan. Orang yang bertekun dalam doa ialah orang-orang yang mampu berpegang teguh kepada pertolongan dari Tuhan. Walaupun melewati penderitaan sekalipun. Sama halnya dapat kita lihat dari Yohanes Calvin yang tetap tekun dalam doa.

3.      Dalam Roma 12:12, kita bisa melihat bahwa kita sebagai anak-anak Tuhan harus bertekun dalam doa. Begitu yang ditulis oleh Paulus untuk jemaat di Roma. Dan dalam tafsiran Yohanes Calvin juga menegaskan bahwa ketekunan dalam doa merupakan kekuatan kepada kita untuk melewati hari demi hari yang kita jalani.

4.      Dan ketekunan dalam berdoa juga harus sesuai dengan buahnya dari tingkah laku hidup kita sehari-hari. Sama halnya yang ditegaskan oleh Yohanes Calvin untuk menjaga kekudusan hidup dan kesalehan. Agar kita tidak menjadi batu sandungan. Dan kita bisa memuliakan Tuhan dalam kehidupan kita.

2.13.                     Analisa Penyeminar

Bagi Calvin, doa itu harus dibentuk oleh Kitab Suci. Harus ada ketekunan, tidak hanya dalam hal berdoa itu sendiri tetapi juga harus tekun dalam hal ini doanya. Doa harian pribadi seharusnya lebih terkait dengan doa bersama dalam gereja. Calvin ingin supaya umat Kristen belajar berdoa secara pribadi dari kesempatan doa bersama. Pada tahun 2015, Jemaat GBKP Rg. Bangun Mulia pernah melakukan kegiatan jam doa subuh bersama di Gereja. Pada saat kegiatan ini dilakukan, jemaat GBKP Rg. Bangun Mulia kira-kira ada sekitar 15 orang yang ikut berpertisipasi di dalam jam doa subuh yang diadakan di Gereja. Tetapi hari semakin hari keadaannya sudah berubah. Jemaat yang datang sudah semakin berkurang. Yang menjadi kendala, jemaat banyak yang belum dapat bangun terlalu subuh dan ada yang tidak terlalu beranggapan ikut jam doa bukanlah suatu hal yang penting bagi dirinya.

Jadi penyeminar melihat ketekunan dalam berdoa sudah hilang. Bahkan berdoa hanyalah sesuatu yang dianggap hanya ketika kita meminta berkat kepada Tuhan saja tetapi bukan membangun hubungan pribadi kita dengan Tuhan dan juga menghadirkan pengalaman rohani bersama Tuhan. Yohanes Calvin di dalam ketekunanya dia setelah bangun tidur berdoa kepada Tuhan dan juga di dalam kesehariannya apa pun yang dia lakukan tetap meminta pertolongan dan perlindungan dari Tuhan. Jadi perlunya jemaat memiliki pemahaman bahwa ketekunan dalam berdoa ini sangat perlu untuk di aplikasikan dan berbuah di dalam kehidupan kita sehari-hari agar hubungan kita semakin intim dengan Tuhan dan nama Tuhan semakin dipermuliakan. Gereja juga harus semangat dalam memberikan pengarahan untuk bertekun berdoa kepada jemaat.

III.             Kesimpulan

Menurut Calvin, doa merupakan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang Kristen. Karena, orang-orang percaya yang memiliki iman sejati menyadari bahwa mereka pada dasarnya adalah manusia yang tidak berdaya, lemah, dan miskin di hadapan Allah. Dengan kita bertekun dalam doa kita bisa menjadi lebih kuat. Ketaatan kita kepada Allah harus menjadi nyata dalam doa kita kepada-Nya di tengah-tengah segala kesukaran yang kita hadapi. Allah menghendaki agar kita mempermuliakan-Nya melalui doa doa kita. Gereja sangat penuh tanggung jawab untuk terus membimbing jemaat untuk selalu bertekun dalam doa dan mungkin di dalam gereja perlu dibuat seminar tentang ketekunan dalam berdoa pertama sekali dan dari sanalah gereja bisa membuat kegiatan jam doa.

 

IV.             Daftar Pustaka

Sumber Buku:

…, Alkitab Penuntun, Jakarta: LAI, 2005

…, Encyclopedia of Knowledge, Danbury: Grolier Incorporated, 1993

Abineno, J. L. Ch. Doa Menurut Kesaksian Perjanjian Baru, Jakarta: BPK-GM, 2004

Aritonang, Jan. S., Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, Jakarta: Gunung Mulia, 2015

B.J. Bolland, G. J. Van Niftrik, Dogmatika Masa Kini, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008

Bailey, Brian J., Pillars Of Faith, Waverly: Zion Chistian, 2020

Boehlke, Robert R., Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, Jakarta: Gunung Mulia, 2009

Calvin, Doctrine Of The Christian Life, Eugene: Wipf and Stock, 1997

Calvin, Institutes of the Christian Religion, Philadelphia: Westminster, 1960

Calvin, John, Calvin’s Commentaries: Acts 14-28, Romans 1-16,  Grand Rapids: Baker, 1984

Calvin, John, Commentary On Romans, Grand Rapids, MI: Christian Classics Ethereal Library

Calvin, Yohanes, Institutio, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2015

Culver, Jonathan E. Sejarah Gereja Umum, Bandung: Biji Sesawi, 2013

Dymens, William, Tema-Tema dalam Teologi Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2004

Ford L. Battles, John Calvin, , Kesalehan John Calvin: Kumpulan Prosa, Puisi, dan Kidung-kidung Rohaninya, Surabaya: Momentum, 2012

Grosse, Frederick G., Panduan Praktis Pertumbuhan Rohani, Jakarta: BPK-GM, 2010

Heuken, A., Spiritualitas Kristiani, Pemekaran Hidup Rohani Selama Dua Puluh Abad, Jakarta, Yayasan Cipta Loka Caraka, 2002

Jonge, De, Calvinisme, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997

Karman, Yonky, Refleksi tentang Tuhan-Manusia, Gereja, dan Masyarakat, Jakarta: Literatur Perkantas, 2017

Keller, Timothy, Doa, Surabaya: Penguin Group, 2014

Keller, Timothy, Prayer, New York: Penguin Group, 2014

Lee, Witness, Doa, Jakarta: Yasperin, 2019

McNeill, J. T. Calvin: Institutes Of The Christian Religion, Philadelphia: Westminster, 1960

Poerdarminta, W. J. S., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1976

Sembiring, Jendamita, Doa dan Rumah Doa, Medan: Yayasan Sola Gratia, 2006

Shakti, Prabowo, Komitmen dalam Berdoa, Yogyakarta: Kanisius, 2018

Tarigan, Mehamad Wijaya, Dasa Titah dalam Tata Ibadah Calvinis, Medan: Bina Media Perintis, 2019

Wendel, Francois, Calvin: Asal Usul dan Perkembangan Pemikiran Religiusnya, Surabaya: Momentum, 2010

 

Sumber Internet:

http://www.glorianet.org/sunanto/1674-doa

https://christsiallagan.blogspot.com/2010/11/pikiran-praktis-pak-yohannes-calvin.html

 

Sumber Wawancara:

Wawancara dengan Pendeta Evi Sembiring, Pada Kamis, 17 September 2020, Pukul 16.00 WIB.

Wawancara dengan Pt. Benyamin Kacaribu, Pada Jumat, 18 September 2020, Pada Pukul 19.00 WIB.

Wawancara dengan Ronsen Tarigan & Dahlia Sitepu, Pada Minggu, 20 September 2020, Pukul 11.00 WIB.

 

 



[1] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, (Bandung: Biji Sesawi, 2013), 272.

[2] Francois Wendel, Calvin: Asal Usul dan Perkembangan Pemikiran Religiusnya, (Surabaya: Momentum, 2010), 4-6.

[3] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, 270.

[4] Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: Gunung Mulia, 2009), 369.

[5] A. Heuken, Spiritualitas Kristiani, Pemekaran Hidup Rohani Selama Dua Puluh Abad, (Jakarta, Yayasan Cipta Loka Caraka, 2002), 169.

[6] Jan. S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, (Jakarta: Gunung Mulia, 2015), 63.

[8] Yonky Karman, Refleksi tentang Tuhan-Manusia, Gereja, dan Masyarakat (Jakarta: Literatur Perkantas, 2017), 188.

[9] William Dymens, Tema-Tema dalam Teologi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2004), 69.

[10] Timothy Keller, Doa (Surabaya: Penguin Group, 2014), 280.

[11] …, Alkitab Penuntun, (Jakarta: LAI, 2005), 542.

[12] J. L. Ch. Abineno, Doa Menurut Kesaksian Perjanjian Baru (Jakarta: BPK-GM, 2004),127.

[13] W. J. S. Poerdarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), 254.

[14] …, Encyclopedia of Knowledge, (Danbury: Grolier Incorporated, 1993), 175.

[15] Witness Lee, Doa (Jakarta: Yasperin, 2019), 22.

[16] W. J. S. Poerdarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), 916.

[17] Brian J. Bailey, Pillars Of Faith (Waverly: Zion Chistian, 2020), 5-6.

[18] Calvin’s Doctrine of the Christian Life (Eugene: Wipf and Stock, 1997) 283.

[19] Frederick G. Grosse, Panduan Praktis Pertumbuhan Rohani (Jakarta: BPK-GM, 2010), 62-63.

[20] Prabowo Shakti, Komitmen dalam Berdoa, (Yogyakarta: Kanisius, 2018), 221.

[21] Yohanes Calvin, Institutio, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2015), 87-88.

[22] Calvin, Institutes of the Christian Religion, (Philadelphia: Westminster, 1960), 130.

[23] Yohanes Calvin, Institutio,189.

[24] J. T. McNeill, Calvin: Institutes Of The Christian Religion, (Philadelphia: Westminster, 1960), 1.

[25] Yohanes Calvin, Institutio, 187.

[26] Calvin, Doctrine Of The Christian Life, (Eugene: Wipf and Stock, 1997), 283.

[27] Jendamita Sembiring, Doa dan Rumah Doa, (Medan: Yayasan Sola Gratia, 2006), 56.

[28] J. T. McNeill, Calvin: Institutes of the Christian Religion, 23.

[29] J. T. McNeill, Calvin: Institutes of the Christian Religion, 130.

[30] G. J. Van Niftrik & B.J. Bolland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 503.

[31] De Jonge, Calvinisme, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), 35.

[32] Mehamad Wijaya Tarigan, Dasa Titah dalam Tata Ibadah Calvinis, (Medan: Bina Media Perintis, 2019), 70.

[33] John Calvin, Calvin’s Commentaries: Acts 14-28, Romans 1-16,  (Grand Rapids: Baker, 1984), 299.

[34] John Calvin, Calvin’s Commentaries: Acts 14-28, Romans 1-16, 312.

[35] Timothy Keller, Prayer, (New York: Penguin Group, 2014), 114-115.

[36] Yohanes Calvin, Institutio, 192.

[37] John Calvin, Ford L. Battles, Kesalehan John Calvin: Kumpulan Prosa, Puisi, dan Kidung-kidung Rohaninya, (Surabaya: Momentum, 2012), 16-17.

[39] J. T. McNeill, Calvin: Institutes of the Christian Religion, (Philadelphia: Westminster, 1960), 27.

[40] J. T. McNeill, Calvin: Institutes of the Christian Religion, 3-4.

[41] G J. Van Niftrik & B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1967), 382.

[42] Yohanes Calvin, Institutio, 190.

[43] Timothy Keller, Prayer, 291-292.

[44] Yohanes Calvin, Institutio, 191.

[45] John Calvin, Commentary On Romans, (Grand Rapids, MI: Christian Classics Ethereal Library), 402.

[46] Yohanes Calvin, Institutio, 191.

[47] Jendamita Sembiring, Doa dan Rumah Doa, 56.

[48] Wawancara dengan Pendeta Evi Sembiring, Pada Kamis, 17 September 2020, Pukul 16.00 WIB.

 

[49] Wawancara dengan Pt. Benyamin Kacaribu, Pada Jumat, 18 September 2020, Pada Pukul 19.00 WIB.

[50] Wawancara dengan Ronsen Tarigan & Dahlia Sitepu, Pada Minggu, 20 September 2020, Pukul 11.00 WIB.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar