Jumat, 16 April 2021

Arti dan Makna Pelaksanaan Misi Allah (Misio Dei) di Tengah-tengah Kehidupan Global yang Mengalami Krisis Global

 


Arti dan Makna Pelaksanaan Misi Allah (Misio Dei) di Tengah-tengah Kehidupan Global yang Mengalami Krisis Global

(Tinjauan Biblika, Sistematika, Historika, Misiologi, Agama-agama Lain)

I.                   Pendahuluan

Hamba Tuhan sebagai pelaksana misi Allah (Misio Dei) perlu tunduk kepada Sang Pelaksana misi. Dalam hal inilah komitmen dan integritas kepada Allah dipertaruhkan. Bersamaan dengan itu, hamba Tuhan sebagai penerus misi juga dituntut untuk memiliki sensitivitas atas realitas krisis yang melanda secara lokal, regional maupun global. Jika demikian ada beberapa kajian yang perlu mendapat perhatian dari tema di atas, yaitu: pertama, perlunya kajian Biblika, Sistematika, Historika, dan Misiologi untuk memaparkan adanya krisis berskala global. Pada pertemuan ini, saya sebagai penyeminar akan membahas tentang “Arti dan Makna Pelaksanaan Misi Allah (Misio Dei) di Tengah-tengah Kehidupan Global yang Mengalami Krisis Global”. Kiranya melalui pembahasan kali ini kita dapat belajar untuk menambah wawasan kita bersama. Terimakasih.

II.                Pembahasan

2.1.Pengertian Misi

Istilah misi (Mission) berasal dari bahasa Latin mission yang diangkat dari kata dasar mittere yang artinya to send, mengirim, mengutus, act of sending. Padanan dari kata Yunani ialah apostello.5 Kata mission adalah bentuk substantive dari kata kerja mittere (mitto, missi, missum) yang mempunyai beberapa pengertian dasar: (1) membuang, menembak, (2) mengirim, mengutus, (3) membiarkan, melepaskan pergi, (4) mengambil – menyadap.[1] Kata mission adalah bentuk substantive dari kata kerja mittere (mitto, missi, missum) yang mempunyai beberapa pengertian dasar: (1) membuang, menembak, (2) mengirim, mengutus, (3) membiarkan, melepaskan pergi, (4) mengambil – menyadap.[2] Mission juga dapat berarti pengutusan Tuhan, dimana Mission beranjak dari hati Allah kedalam dunia ciptaanNya. Mission adalah rencana pengutusan Allah (Missio Dei) yang kekal untuk membawa syalom kepada manusia dan segenap ciptaanNya demi kejayaan Kerajaan Allah. Defenisi ini mengemukakan bahwa misi adalah rencana Allah Yang Esa, yang merupakan isi hati-Nya sejak kekal yang bertujuan untuk membawa syalom bagi manusia dan segenap ciptaanNya.[3]

2.2.Misi Allah dalam Biblika

2.2.1.      Misi Allah dalam Perjanjian Lama

Berangkat dari pengertian misi yakni sebagai “pengutusan”, muncul dua istilah yaitu Missio Dei (misi Allah) dan Missio Christi. Missio Dei artinya penyataan diri Allah sebagai Dia yang mengasihi dunia, keterlibatan Allah di dalam dan dengan dunia, sifat dan kegiatan Allah.[4] Missio Dei merupakan titik tolak dalam memulai penyelidikan tentang hakekat misi.[5] Yang mana Missio Dei memberitakan kabar baik bahwa Allah adalah Allah untuk manusia.[6] Misi Allah diungkapkan melalui keseluruhan pekerjaan-Nya untuk menyelamatkan dunia dan segala isinya. Kepedulian Allah terhadap manusia dan segala ciptaan-Nya diwujudkan dengan cara mengutus Yesus Kristus untuk keselamatan dunia.

Misi Allah dalam Perjanjian Lama dapat dilihat dari panggilan atas Abram (Kej 12:1-4). Allah membuat sebuah janji  (yang terdiri dari tiga unsur, seperti akan kita lihat) kepada Abraham. Pengertian akan janji itu sangat penting untuk mengerti  Alkitab  dan  misi  Kristen.  Sebagai  pengantar,  kita  perlu  memerhatikan  latar  janji Allah dan konteksnya. Kita membagi menjadi dua bagian. Pertama, janji (tepatnya, apa yang dikatakan  Allah  akan  dilakukan-Nya)  dan  kedua  yang  lebih  panjang-penggenapannya (bagaimana Allah telah menepati dan akan menepati janji-Nya).[7]

Dalam kitab Kejadian 1:28, Adam diberi mandat misi untuk memenuhi, menguasai, dan menaklukkan bumi bagi kemuliaan Tuhan. Tuhan memberi tanggungjawab sebagai mandat untuk dilakukan Adam dalam mewujudkan damai sejahtera atau syalom bagi bumi dan segala isinya.[8] Pemberian mandat dan tanggungjawab dari Allah kepada orang yang dipilih-Nya merupakan tugas misi Allah untuk kesejahteraan umat manusia dan segala ciptaan-Nya. Allah dalam karya-Nya tentu melibatkan manusia sebagai rekan kerja untuk mewujudkan damai sejahtera bagi semua ciptaan-Nya. Dalam kitab Kejadian 12 dijelaskan tentang pemanggilan Abram untuk keluar dari negerinya dan kaum keluarganya demi mewujudkan misi Allah, yaitu menjadi berkat bagi semua bangsa di bumi.[9] Berdasarkan uraian di atas sangat jelas bahwa dalam Perjanjian Lama misi Allah telah dilaksanakan untuk memberitakan keselamatan dan berkat dari Tuhan kepada semua manusia dan seluruh ciptaan. Allah memanggil orang yang dianggap mampu untuk melakukan misi-Nya agar keselamatan dari Allah dapat dilihat dan dialami orang lain.

2.2.2.      Misi Allah dalam Perjanjian Baru

Misi Allah dalam Perjanjian Baru dapat kita lihat dari karya pelayanan Yesus Kristus yang mengutus para murud-Nya untuk memberitakan dan mendemonstrasikan kuasa pemerintahan Allah yang membebaskan dan menyembuhkan (Matius 10:5-8). Sebagai rasul, mereka diutus untuk memuridkan, membabtis, dan mengajar (Matius 28:18-20). Yesus mengutus mereka ke dunia dengan cara yang sama seperti Bapa telah mengutus-Nya, dan ini memunculkan berbagai pertanyaan dan tantangan yang menarik (Yohanes 17:18; 20:21). Paulus dan Barnabas diutus untuk membawa bantuan bencana kelaparan (Kisah Para Rasul 11:27-30). Kemudian mereka diutus untuk melakukan penginjilan dan perintisan jemaat (Kisah Para Rasul 13:1-3).[10]

Berbeda dengan Perjanjian Lama, di dalam Perjanjian Baru “Misi” merupakan tema utama. Hampir semua Kitab dan Surat yang ada di dalamnya berbicara tentangmisi. Dimulai dari kedatangan Yesus Kristus ke Bumi, Ini merupakan misi yang sangat Agung, Ini disebut dengan “Missio Christi (pengutusan Kristus): Allah mengutus Kristus dan Kristus mengutus murid-murid-Nya. “Sebagaimana Bapa telah mengutus Aku, demikianpun Aku mengutus kamu” (Yohanes 20:21).[11]

2.3.Misi Allah dalam Sistematika

Pandangan sistematis dari Choan Seng Song yang berbicara mengenai misi Allah dalam rangka “pencarian manusia akan perikemanusiaan” (man’s quest for humanity), Song telah berusaha untuk merekonstruksikan konsep misioner untuk menjadikannya relevan bagi konteks Asia. Lewat bukunya Christian Mission in Reconstruction (1977) ia mempertahankan bahwa misi kristen di Asia harus dibangun kembali dalam rangka dua hal: “sejarah dan kebudayaan Asia,” dan hubungan dengan gereja Barat. Selanjutnya ia menjabarkan pandangannya ini ke dalam sepuluh tesisnya yang terkenal: “Ten Theological Proposals”. Walau kesepuluh tesis ini tidak mengungkapkan tentang konsep “Missio Dei” namun setidaknya merefleksikan gagasan-gagasan dasar mengenai kegiatan Allah dalam sejarah manusia. Dalam kaitan ini ia berpendapat bahwa Yesus Kristus yang merupakan firman menjadi manusia adalah pembimbing bagi kegiatan dan refleksi teologis di Asia. Tipenya terkesan antroposentris dan humaniter.[12]

Missio Dei boleh dikatakan sebagai bagian yang integral dalam diri Allah, bila Allah turut bekerja di dalamnya untuk mendatangkan kebaikan. Pekerjaanmisi bukanlah pekerjaan manusia atau orang Kristen yang tidak melibatkan Allah. Sebaliknya, dalam kesadaran penuh bahwa misi itu merupakan tindakan kasihAllah akan dunia yang berdosa dimana didalam dan melalui Anak Tunggal-Nyaada keselamatan, maka mereka mengerjakan missio Dei memerlukan intervensi Allah dalam pemberitaan dan pelayanan sehari-hari. Tanpa campur tangan Allahitu sendiri, semuanya menjadi sia-sia.Efektivitas pekerjaan misi Allah harus melibatkan Roh Allah yang menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman (Yoh 16:8-11). Mengesampingkan kuasa Roh Allah, sesuatu yang adikodrati dengan hanya membicarakan atau mendiskusikannya, bukan maksud Allah dalam menjalankan misiNya yang melibatkan gereja. Pukat Misio Dei di tangan kaum oikumenikal hendaknya menjadi pelajaran berharga sehubungan dengan hal ini. Allah mau memakai gereja-Nya (bukan karena gagah, kuat, elok, atau cakap) karena justrudalam kelemahan, kasih karunia Allah menjadi sempurna (2Kor 12:9-10) dan Iahendak mempermalukan apa yang dianggap dunia layak (1Kor 1:26-29).[13]

2.4.Misi Allah dalam Historika

Misi dipahami berasal dari hakikat Allah sendiri. Dengan demikian misi diletakkan dalam doktrin tritunggal, bukan eklesioologi atau soteriologi. Sejauh menyangkut pemikiran misioner, pengaitan tentang doktrin tritunggal ini merupakan inovasi penting. Misi kita tidak mempunyai kehidupannya sendiri, hanya di dalam tangan Allah yang mengutuslah misi dapat benar-benar disebut misi, khususnya karena inisiatif missioner itu datang dari Allah sendiri. Tetapi misi tidak dipandang dari kategori-kategori triumfalistik. Willengen mengakui hubungan yang erar antara Misio Dei dan misi sebagai soloidaritas dengan Kristus yang menjelma dan disalibkan. Dalam citra yang baru misi bukanlah pertama-tama aktivitas gereja, melainkan suatu ciri Allah. Allah adalah Allah yang misioner. Bukanlah gereja yang mempunyai misi keselamatan yang harus digenapi di dalam dunia, ini adalah misi sang Anak dan Roh Kudus melalui Bapa yang mengikutsertakan dunia. Denngan demikian misi dipandang sebagai sebuah gerakan dari dunia dari Allah kepada dunia. Geraja dipandang sebagai sebuah alat untuk misi tersebut. gereja ada karena ada misi, bukan sebaliknya. Ikut serta di dalam misi, berarti ikut serta di dalam gerakan Kasih Allah kepada manusia, karena Allah adalah sumber dari kasih yang mengutus. Misi adalah tindakan Allah yang berpaling kepada dunia sehubungan dengan ciptaan, pemeliharaan, penebusan, dan penggenapan. Ia berlangsung dalam sejarah manusia yang biasa, bukan secara ekslusif di dalam dan melalui gereja. Misi Allah sendiri lebih besar daripada misi gereja. Mission Dei adalah kegiatan Allah yang merangkul baik gereja maupun dunia, dan di dalamnya gereja dapat memperoleh hak istimewa untuk berperan serta. Sejarah dunia bukanlah tentang sejarah jahat, melainkan juga tentang kasih, sejarah di mana pemerintahan Allah diusahakan melalui karya Roh.[14]

2.5.Misi Allah dalam Misiologi

Arie de Kuiper menjelaskan tentang asal kata Misi, dalam ilmu pengetahuan dipakai istilah missiolgia atau Ilmu yang mempelajari tentang misi. Istilah missiologia berasal dari kata lati ittere atau mission yang artinya pengutusan.[15] Dalam baha Yunani dipakai dua kata: apostello artinya mengutus dan pempo yang artinya mengirim. Dalam Yohannes 20:21 kedua kata ini dipakai dalam satu ayat, “Sama seperti Bapa mengutus (apostello) Aku, demikian juga Aku mengutus (pempo, mengirim) kamu”. Kata kerja latin mittere (mengirim) digunakan sebagai terjemahan untuk kedua kata Yunani apostello dan pempo. Sudah jelas dari terjemahan Yohannes 20:21, bahwa dua kata ini dipakai dengan arti yang sama. Hanya, kata pempo (mengirim) lebih luas dari kata apostello (mengutus).[16] Tomatala menyebutkan bahwa misi adalah suatu mandat yang harus dilihat dari sisi penugasan pengutusan Allah, artinya bahwa misi mulia di hati Allah, sehingga misi dengan sendirinya berpusat pada Allah.[17]

2.6.Misi Allah dalam Agama Islam

Secara etimologi bahasa Arab, Islam memiliki makna berserah diri. Maka dari itu banyak sekali teks Al-Qur'an yang menjelaskan bagaimana kondisi spiritual nabi-nabi terdahulu dari sebelum Nabi Muhammad SAW sampai Nabi Adam AS, dalam berbagai redaksinya Al-Qur'an selalu menegaskan dengan bunyi yang sama "wa nahnu lahu al muslimun" . Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas bahwa makna dari Islam sejatinya adalah identifikasi sebuah perilaku, dan karna sebuah kepasrahan adalah perilaku maka bisa disebutkan seseorang yang berserah diri kepada Tuhan itu adalah Islam.[18]

Misi Rasulullah terkait dengan perbaikan akhlak manusia begitu jelas pada saat beliau diutus. Bangsa Arab pada saat itu jauh dari kasih sayang dan memiliki sihap bengis. Anak perempuan yang merupakan belahan jiwa ibu harus dikubur hidup-hidup karena akan membawa aib bagi keluarga. Perbudakan merupakan bagian kehidupan orang-orang kaya dan bangsawan Arab. Perbuatan mungkar menjadi hiasan di dalam masyarakat. Khamar dan judi manjadi adat dan kehormatan di kalangan suku Arab. Penipuan berupa kecurangan di dalam takaran dan timbangan merupakan pekerjaan pedagang untuk mencari keuntungan. Riba dalam dunia dagang menjadi hal yang biasa. Kedatangan Rasululah saw. ke masyarakat bertujuan untuk mengubah perilaku dan tata kehidupan karena akhlak sudah rusak menjadi kemulian bagi manusia yang menginginkan hak-haknya dihargai. Jadilah Rasulullah pembebas masyarakat Arab dan umat manusia dari dekadensi moral. Amar makruf dan nahi munkar yang menjadi tugas Rasulullah saw. harus pula ditegakkan oleh kita sebagai umatnya. Kemakrufan sangat diharapkan di dalam masyarakat yang beradab dan kemungkaran wajib dibasmi agar kehidupan masyarakat yang beradab itu tidak terganggu. Allah SWT berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110). Misi Rasulullah saw. selanjutnya adalah menegakkan kebenaran, mengajak orang berbuat baik, dan mecegah orang berbuat kemungkaran. Terkait dengan kemungkaran masing-masing memiliki cara untuk mencegah kemungkaran di tengah masyarakat. Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadisnya,Siapa saja yang melihat kemungkaran hendaklah mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah dengan lisannya. Jika tidak mampu, hendaklah dengan hatinya.Yang demikian selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim dan Ahmad).[19]

2.7.Misi Allah di Tengah-tengah Kehidupan Krisis Global

Ada banyak contoh krisis yang dialami oleh umat Tuhan. Alkitab cukup banyak memberi contoh krisis yang dibarengi dengan kesempatan. Salah satu diantaranya yaitu tentang Yusuf. Yusuf mengalami krisis, dibenci saudara-saudaranya, menjadi budak di negeri orang, dipenjara, namun itu semua merupakan jalan bagi kesempatan dia menjadi orang yang mempunyai kuasa di Mesir (Kej. 37-43). Lalu kisah lainnya lagi, seorang ibu mengalami sakit pendarahan, suatu krisis yang panjang, selama 12 tahun. Kemudian ia pergi kepada Tuhan Yesus, walau ia hanya mempunyai kesempatan menyentuh purca (ujung) jubbah-Nya saja, ia menjadi sembuh karena iman, dan Sang Mesias itu memberi pujian kepadanya "imanmu menyelamatkan engkau" (Mat. 9:20-22). Dalam suatu perumpamaan, Tuhan Yesus mengajar: ada seorang janda menghadapi krisis, ia sedang memperkarakan haknya di pengadilan, ia menghadapi hakim yang jahat, walau kelihatannya krisisnya mustahil diselesaikan, ia masih mempunyai kesempatan, ia memohon tak henti-hentinya kepada hakim itu, dan ia pun mempunyai kesempatan melewati krisisnya (Luk. 18:1-8). Perjuangan kemerdekaan Israel merupakan krisis yang mendunia. Hal ini dimulai dari pengutusan murid-murid Tuhan Yesus yang pada masa itu merupakan bagian dari masyarakat Palestina. Mereka menghadapi keadaan krisis, diremehkan dan mengalami kemiskinan yang luar biasa, namun Tuhan Yesus justru mengutus mereka untuk menjadi saksi-saksiNya. Besarnya kerinduan, banyaknya doa yang dipanjatkan serta pengharapan untuk pemulihan dan kemerdekaan Israel baru dijawab 1900 tahun kemudian yaitu pada tahun 1947 ketika Israel mengalami kemerdekaan. Dari sinilah titik tolak misi para rasul, yaitu dalam keadaan krisis dimensi ekonomi dan politik, atau ’krisis multidimensi’. Berdasarkan pengalaman tersebut, Surjantoro menyampaikan bahwa misi tidak dimulai dengan modal kebesaran, kekayaan, kemegahan gereja, anggota jemaat yang banyak, tetapi dari situasi kemiskinan dan krisis.[20]

Dampak krisis secara nasional maupun global saat ini juga sangat berpengaruh kepada perubahan peradaban. Krisis ekonomi juga berkaitan dengan  perilaku koruptif hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Krisis sosial memicu perilaku sosial yang tidak peduli akan sesama, penipuan, pembunuhan bahkan sikap brutal. Krisis politik yang sangat mengganggu kestabilan hidup masyarakat terutama menjelang pemilu (pilkada atau pilpres). Inilah kenyataan yang harus dihadapi juga oleh umat Kristen saat ini yang harus dihadapi dan diatasi baik secara internal maupun eksternal. Labberton mengatakan bahwa situasi mencemaskan semacam ini mungkin tidak terlalu banyak berarti bagi gereja jika dunia dimana gereja ditempatkan dan untuk mana gereja didirikan tidak terhilang pula.[21] Penderitaan, kesengsaraan, penyakit, kebingungan, kekacauan ekonomi, permusuhan antar agama, kekerasan, kepemimpinan yang gagal, rasa takut dan tirani teknologi menyesaki dunia saat ini, semua inipun menjadi pengalaman hidup umat Allah. Kita adalah partisipan, bukan korban, di tengah situasi ini.

III.             Kesimpulan

Melalui makalah ini, saya sebagai penyeminar menyimpulkan bahwa misi Allah (Misio Dei) itu sangat berperan penting untuk menjawab semua pergumulan manusia maupun krisis global yang menimpa manusia di muka bumi ini. Di atas juga telah penyeminar jelaskan bahwa dampak krisis secara nasional maupun global saat ini juga sangat berpengaruh kepada perubahan peradaban. Krisis ekonomi juga berkaitan dengan  perilaku koruptif hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Krisis sosial memicu perilaku sosial yang tidak peduli akan sesama, penipuan, pembunuhan bahkan sikap brutal. Krisis politik yang sangat mengganggu kestabilan hidup masyarakat terutama menjelang pemilu (pilkada atau pilpres). Inilah kenyataan yang harus dihadapi juga oleh umat Kristen saat ini yang harus dihadapi dan diatasi baik secara internal maupun eksternal. Labberton mengatakan bahwa situasi mencemaskan semacam ini mungkin tidak terlalu banyak berarti bagi gereja jika dunia di mana gereja ditempatkan dan untuk mana gereja didirikan tidak terhilang pula.

IV.             Daftar Pustaka

H. Venema, Injil Untuk Semua Orang, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1997

Kuiper. Arie De, Missiologia: Ilmu Pekabaran Injil, Jakarta: Gunung Mulia, 2006

Labberton. Mark,  Dipanggil: Krisis dan Janji Dalam Mengikut Yesus Pada Masa Kini, Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur, 2014

M. David Sills, Panggilan Misi, Surabaya: Momentum, 2015

Surjantoro. Bagus, Hati Misi, Yogyakarta: Andi Offset, 2005

Siwu. Richard A. D., Missi Dalam Pandangan Ekumenikal dan Evangelical Asia Tahun 1910, 1961, 1991, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996

Tomatala. Yakob, Teologi Misi, Jakarta: YT leadership Fondation, 2003

Tomatala. Yakob, Penginjilan Masa Kini, Malang: Gandum Mas, 2004

Woga.Edmund, Dasar-dasar Misiologi, Yogyakarta: Kanisius, 2002

Stott. John R. W., “Allah yang Hidup adalah Allah Misioner”  dalam Misi Menurut Perspektif Alkitab, Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2007

Wright. Christopher J. H., Misi Umat Allah:Sebuah Teologi Biblika Tentang Misi Gereja,  Jakarta: Literatur Perkantas, 2011

 

 

V.                Sumber Lain

https://www.academia.edu/43480609/Pukat_Missio_Dei_bagi_Kaum_Oikumenikal, Diakses Pada: Kamis, 15 Oktober 2020, Pukul 18.15 WIB

https://www.kompasiana.com/stevhira/5d5dc951097f36360f5c4fa3/menyegarkan-kembali-makna-dan-misi-islam-yang-sesungguhnya, Diakses Pada: Kamis, 15 Oktober 2020, Pukul 16.00 WIB

https://sangpencerah.id/2020/07/melanjutkan-misi-rasulullah-saw/, Diakses Pada: Kamis, 15 Oktober 2020, Pukul 16.30 WIB

 



[1] Arie De Kuiper, Missiologia: Ilmu Pekabaran Injil, (Jakarta: Gunung Mulia, 2006), 9

[2] Edmund Woga, Dasar-dasar Misiologi, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 15

[3] David J Bosch, Transformasi Misi Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), 10

[4] David J Bosch, Transformasi Misi Kristen, 15

[5] David J Bosch, Transformasi Misi Kristen, 27

[6] David J Bosch, Transformasi Misi Kristen, 15

[7] John R. W. Stott, “Allah yang Hidup adalah Allah Misioner”  dalam Misi Menurut Perspektif Alkitab, (Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2007),  22

[8] Y. Tomatala, Penginjilan Masa Kini, (Malang: Gandum Mas, 2004), 7

[9] M. David Sills, Panggilan Misi, (Surabaya: Momentum, 2015),  45

[10] Christopher J. H. Wright, Misi Umat Allah:Sebuah Teologi Biblika Tentang Misi Gereja,  (Jakarta: Literatur Perkantas, 2011), 26-27

[11] H. Venema, Injil Untuk Semua Orang, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1997), 10

[12] Richard A. D. Siwu, Missi dalam Pandangan Ekumenikal dan Evangelical Asia Tahun 1910, 1961, 1991, (Jakarta: Gunung Mulia, 1996), 202

 

[13] https://www.academia.edu/43480609/Pukat_Missio_Dei_bagi_Kaum_Oikumenikal, Diakses Pada: Kamis, 15 Oktober 2020, Pukul 18.15 WIB

[14] David J Bosch, Transformasi Misi Kristen, 596-599

[15] Yakob Tomatala, Teologi Misi, (Jakarta: YT leadership Fondation, 2003), 16

[16] H. Venema, Injil Untuk Semua Orang, 46

[17] Yakob Tomatala, Teologi Misi, 77

[19] https://sangpencerah.id/2020/07/melanjutkan-misi-rasulullah-saw/, Diakses Pada: Kamis, 15 Oktober 2020, Pukul 16.30 WIB

[20] Bagus Surjantoro, Hati Misi, (Yogyakarta: Andi Offset, 2005), 5

[21] Mark Labberton,  Dipanggil: Krisis dan Janji Dalam Mengikut Yesus Pada Masa Kini, (Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur, 2014), 35

Tidak ada komentar:

Posting Komentar