Arti dan Makna Kehidupan Hamba
Tuhan yang Berintegritas dan Berspiritualitas dan Implikasinya Bagi Kehidupan
dan Pelayanannya Ditengah Umat
(Tinjauan Biblika, Sistematika, Historika, Praktika, Ilmu Agama-Agama
Diperhadapkan dengan Krisis Moral para Hamba Tuhan Masa Kini)
I. Latar Belakang Masalah
Apa itu hamba Tuhan? Alkitab mengajarkan bahwa hamba Tuhan adalah hamba-Nya Tuhan, di mana harus tunduk, taat dan patuh kepada Tuhan dan firman-Nya. Kata hamba dalam Perjanjian Lama yaitu עֶבֶד “eved” atau “ebed”, yaitu budak, hamba, pelayan. Artinya, seseorang bekerja untuk keperluan orang lain, untuk melaksanakan kehendak orang lain. Atau ia adalah pekerja milik tuannya. Diluar Alkitab kata עֶבֶד “eved” berarti budak, hamba yang melayani raja; bawahan dalam politik; keterangan tentang diri sendiri untuk menunjukkan kerendahan hati; dan hamba-hamba dalam kuil-kuil kafir. Dalam hidup keagamaan Israel kata itu dipakai untuk menunjukkan kerendahan diri seseorang dihadapan Allah. Jadi hamba Tuhan berarti orang yang menjadi milik Allah, berbakti kepada Allah, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah sebagai panggilan hidupnya serta mengabaikan kepentingan sendiri.
Apa yang dibutuhkan dari seorang hamba Tuhan sehingga dapat memenuhi panggilannya dalam Tuhan dan pekerjaan-Nya sesuai dengan Firman Tuhan dalam Alkitab? Yaitu karakter yang seperti Kristus yang menjadi teladan. Seorang hamba Tuhan dikatakan dan diakui cakap bukan dari kepintaran yang dimilikinya tetapi dilihat dari karakternya yang memiliki integritas dan spiritualitas. Tidak dapat dipungkiri bahwa pekerjaan dari seorang hamba Tuhan memiliki tanggung jawab yang besar untuk menyampaikan kabar baik dan melayani umat Tuhan. Lalu Apakah semua hamba Tuhan memiliki karakter integritas yang tetap berpegang teguh imannya dalam penderitaan yang dia hadapi? Apakah semua hamba Tuhan di dalam kesibukannya memiliki spiritualitas yang baik dengan membangun hubungannya yang intim dengan Tuhan? Sehingga dibalik penderitaan dan lelahnya dalam melayani dia tetap berserah diri dan mengucap syukur kepada Tuhan atas tugas panggilannya?
Sehingga kita melihat bahwa tidak dapat dipungkiri seorang hamba Tuhan yang memiliki spiritualitas juga memiliki integritas di dalam Kristus. Itu dapat kita lihat nyata berdasarkan karakternya sehari-hari. Dan Hamba Tuhan yang memiliki integritas dan spiritualitas akan membawa dampak signifikan bagi pertumbuhan dan perkembangan jemaat. Melalui tulisan ini kita akan melihat bagaimana Hamba Tuhan yang berintegritas dan berspiritualitas? dan kita akan melihat bagaimana krisis moral para hamba Tuhan yang terjadi pada masa kini? Bahwasannya ada hamba Tuhan yang mengalami krisis moral ini juga dipengaruhi dari adanya krisis spiritualitas didalam seorang hamba Tuhan. Kita akan menelusuri lebih jelas lagi.
II. Pembahasan
2.1. Pengertian Integritas
2.1.1. Integritas Secara Umum
Kata “integritas” (Ind) dari kata “integer” (Lat)[1] yang artinya: Dalam arti jasmani: a) utuh; seluruhnya; (masih) lengkap; seanteronja; genap; komplit; bulat; tidak tjedera; tidak kena luka; tidak dirusakkan;… b) tidak bercampur; murni;…c) tidak kurang suatu apa; sempurna; tidak bercela; suci; murni; tulen;… d) tidak berubah; masih kuat; segar; belum layu; masih baru; tidak lelah; pulih; sembuh; segar dan kuat;… e) seluruh;.. f) tepat; tidak salah.[2]
Berdasarkan pengertian di atas integritas adalah gambaran seorang pribadi yang memiliki kualitas diri dalam segala dimensi kehidupannya. Seorang yang berintegritas memiliki pikiran yang utuh (cerdas, dalam dan luas), emosi yang stabil, kemauan yang teguh, tidak mudah menyerah, mampu berbagi kehidupan dengan orang lain, menaati aturan yang ada, berfokus pada nilai-nilai luhur agama dan kemanusiaan.
Dalam Bahasa Inggris kata integritas yaitu integrity artinya “moral yang dapat diandalkan” atau “kejujuran” yang mendapat wujud dalam karakter pribadi yang utuh dan lengkap. Dalam konsep ini integritas adalah keutuhan yang berasal dari kualitas sikap seperti kejujuran dan konsistensi karakter.[3] Menurut Kamus Webster’s New World, integritas adalah mutu atau sifat yang utuh, keadaan tidak terpecah, tidak terpisah-pisah, sempurna, tidak rusak, sehat dan tak bernoda secara moral, benar dan jujur.[4]
Inti dari pengertian kata “integrity” adalah seperti yang diartikan oleh Kerby Anderson: “Integer and implies a wholeness person” (Seperti bilangan bulat dan menyatakan seorang pribadi yang utuh). Orang yang berintegritas adalah orang yang jujur dan bermoral teguh. Jika dirumuskan, integritas adalah karakter pribadi yang menyatu atau melekat pada diri seseorang. Itu adalah keutuhan; kelengkapan; kesempurnaan; kebulatan; kemurnian; kesegaran (budi); kesehatan; keluruhan hati; sifat tidak mencari kepentingan sendiri; ketulusan (tak dapat diusap); ketidakjujuran; kebaikan; kesalehan; kesulitan; kemurnian; terpecaya.[5] Kata integritas mempunyai cakupan yang luas. Tidak hanya keutuhan aspek lahiriah tetapi hal yang lebih penting atau mendasar adalah moral, etika, dan karakter yang mulia atau sering disebut “noble character”. Kejujuran moral tersebut tidak bisa dipisahkan dengan level moral seseorang.[6]
Integritas adalah gambaran pribadi yang kuat dan teguh, memiliki kualitas diri dalam aspek hidup. Seseorang yang berintegritas tidak mudah menyerah, memiliki pikiran yang utuh dan lengkap selaras perkataan dengan keinginan tanpa berpura-pura, tidak tercemar. Integritas adalah bentuk kesetiaan seseorang kepada hal-hal benar dalam hidupnya: diawasi atau tidak, baik disaat berada di depan orang lain maupun tidak, baik dalam situasi menyenangkan maupun menyakitkan. Orang yang memiliki integritas akan tetap setia melakukan yang benar tanpa kepalsuan karena setiap perkataan, pemikiran dan perbuatan terdapat sinergi yang kuat dan harmonis. Integritas sebagai kepenuhan kebenaran yang ditandai dengan kebaikan, keadilan, kemurnian, keteguhan, ketulusan, kejujuran, kesetiaan, ketaatan, keberanian dan kepatuhan.[7]
2.1.2. Integritas dalam Perspektif Alkitabiah
Integritas adalah konsep Alkitab karena secara eksplisit Alkitab memberi penjelasan dan mengajarkan tentang integritas. Jadi dapat dikatakan bahwa Alkitab adalah Kitab pertama di dunia yang mengajarkan betapa pentingnya kehidupan yang berintegritas. Tanpa integritas, kehidupan orang percaya, khususnya para hamba Tuhan akan hancur dan menjadi batu sandungan. Jemaat yang sehat dan dewasa pada dasarnya tidak mengidolakan hamba Tuhan yang terkenal, mempunyai jemaat yang banyak, mampu menyembuhkan dan sebagainya. Tetapi jemaat merindukan dan mengidolakan hamba Tuhan yang hidup jujur dan memberitakan kebenaran.[8]
2.1.2.1. Integritas dalam Perjanjian Lama
Dalam bahasa Ibrani konsep integritas banyak diungkapkan dari akar kata תמם (tmm).[9] Kata Ibrani “tom” diartikan ke dalam bahasa Inggris dalam banyak arti, diantaranya adalah “perfect, uprightly, uprightness, blameless life, clear conscience, purity (sempurna, kehidupan yang tidak dapat dipersalahkan, hati nurani yang jernih, kemurniaan)”.[10] Dalam perjanjian lama kata ini muncul sebanyak 200 kali dalam berbagai bentuk dan fungsinya. Yang di mana kata ini mengandung arti di antaranya adalah utuh, tidak bercacat, adil, jujur, sempurna, damai, dll. Kata ini juga menjelaskan sikap dan sifat yang mencerminkan kebenaran/keaslian atau yang dapat dipercaya.[11]
Mereka yang mempunyai integritas dalam Perjanjian Lama biasanya dihubungkan dengan kehidupan yang bergaul karib atau intim dengan Yahwe. Gambaran orang yang berintegritas adalah mereka yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, tidak berjalan di jalan orang bodoh, tidak bergaul dan bersekutu dengan pencemooh (Maz 1:1-2). Sebaliknya dan merenungkan taurat Tuhan (Ams 1:7). Mereka menyukai dan merunungkan taurat Tuhan secara intensif, berjalan di jalan yang benar dan menjauhkan diri dari kejahatan (Maz 1:2,6).[12]
Dalam Perjanjian Lama berintegritas dalam hubungan manusia diterapkan dalam menjaga hubungan dalam tatanan sosial yang berdasarkan pada status moral yang ditetapkan oleh Allah, yang mana juga dipengaruhi oleh kehendak Allah sendiri: Pekerjaan Allah (Ul. 32:4), jalan Allah (2 Sam. 22:31; Ams. 18:31) yang sempurna. Firman Allah membebaskan (Mzm. 19:8). Karena itu setiap orang harus berintegritas kepada Allah (Ul. 18:13). Dia senang dengan jalan orang benar (Ams. 11:20), mereka yang bertingkah laku dengan ketulusan maka Allah juga memperlakukan mereka dengan ketulusan (2 Sam. 22:26 dan Mzm. 18:26). Hidup yang berintegritas sangat dijunjung tinggi dalam Perjanjian Lama, berjalan dalam integritas adalah menjadi dari suatu harapan (Ayb. 4:6), memberikan upah: “Siapa pun yang berjalan dalam integritas akan berjalan dengan aman (Ams. 10:9). Dan hidup berintegritas akan menuai wujudnya dalam pemeliharaan dan pemberian Tuhan (Ams. 2:7); keamanan mereka terjamin (Ams. 2:21; 28:18), dipandu untuk hidup (Ams. 11:3), memperoleh manfaat yang melebihi kekayaan (Ams. 19:1; 28:6).[13]
Makna mendasar dari kata “integrity” dalam Perjanjian Lama adalah “soundness of character and adherence to moral principle (kesehatan karakter dan kepatuhan terhadap prinsip moral).”[14] Mereka adalah orang yang memiliki ketulusan dan kejujuran (Kejadian 20:5). Kehidupan yang berintegritas secara umum diekspresikan dengan:
“to walk integrity indicating a habitual manner of life. In Proverbs integrity is seen as an essential characteristic of the upright life: Yahweh will protect those who protect those who walk in it (2:7); their security is assured (2:21; 10:9; 20:7; 28:18); it is a trust worthy guide for living (11:3), and better than wealth (19:1; 28:6) ( Untuk berjalan dalam integritas, menunjukkan cara/kebiasaan hidup. Dalam Amsal integritas dipandang sebagai karakteristik yang penting dari kehidupan yang tulus: Yahweh akan melindungi orang-orang yang berjalan di dalamnya (2:7); keamanan mereka terjamin (2:21; 10:9; 20:7; 28:18); panduan yang dapat dipercaya untuk hidup (11:3), dan lebih baik daripada kekayaan (19:1, 28:6).[15]
2.1.2.2. Integritas dalam Perjanjian Baru
Salah satu isi Kotbah Tuhan Yesus di atas bukit adalah “Berbahagialah orang yang suci hatinya” (Matius 5:8), hal itu secara langsung menyatakan “an undividedness in following God’s commands” (dengan sepenuh hati mengikuti perintah-perintah Tuhan). Integritas tidak hanya berimplikasi tidak terbagi atau utuh tetapi lebih mengandung arti suatu kemurnian moral.
Penekanan Perjanjian Baru dalam hal integritas adalah kita harus memiliki level kearifan atau kecerdikan dari kehendak Allah dalam kehidupan kita. Tentu saja yang dituntut adalah sikap dari orang-orang yang berintegritas untuk menjadi murid yang selalu belajar firman Tuhan. Kitab Yakobus memperingatkan kita supaya menjadi “pelaku firman”, dan tidak hanya pendengar saja (Yakobus 1:22).[16]
Dalam perspektif Alkitab, kehidupan yang berintegritas bersumber dari kedewasaan rohani dan psikologis. “Moral integrity is felt as a fruit of the Spirit and sanctified through God’s grace” (Integritas moral dirasakan sebagai buah Roh dan disucikan melalui anugerah Allah). Kehidupan yang berintegritas adalah kehidupan dalam segala aspeknya yang memiliki beragam variasi yang terjalin secara harmonis. Integritas juga menyatakan kehidupan yang memiliki kesatuan (unity). Utuh dan segalanya menjadi kesatuan. Dengan demikian dapat dikatakan seorang yang memiliki moralitas integrative adalah mereka yang menghidupi hidup ini dengan segala dimensinya (yang imanen dan transenden) secara utuh.[17]
2.2. Arti dan Makna Integritas
Peran integritas sangatlah penting dalam setiap aspek kehidupan, karena integritas merupakan acuan untuk bisa berprilaku dengan baik dalam menjalankan peran dan fungsi dalam setiap aspek kehidupan.[18] Tanpa integritas maka kepercayaan tidak pernah dicapai, integritas berfungsi sebagai kompas agar seorang memiliki konsistensi, yaitu konsistensi dengan nilai-nilai yang dimiliki, dan kemantapan tujuan dalam membedakan antara yang benar dan yang salah, serta yang bijaksana dan yang tidak.[19] Integritas akan menjadi navigasi yang mengarahkan hidup kita sekaligus mendorong orang banyak melakukannya. Integritas sebenarnya adalah nilai yang akan menjamin terbentuknya nilai-nilai yang lain, memiliki integritas sejati berarti “anda selalu hidup dan bertindak secara konsisten dengan nilai-nilai anda” jika kita memiliki integritas maka dengan mudah mengkompromikan nilai-nilai hidup jika diperhadapkan pada suatu godaan, betapapun kecil godaan itu.[20]
Jika berbicara tentang sumber integritas maka kita bisa menghubungkannya dengan peranan Roh Allah (dalam PL) dan Roh Kudus (dalam PB). Dimana Roh Allah memperlengkapi manusia sehingga mampu hidup sebagai umat Allah. Peran Roh Allah senantiasa hadir di tengah-tengah ciptaan memperlengkapi dan memperbaharui ciptaan. Manusia sebagai pemegang mandat gambar dan rupa Allah memiliki tugas dan tanggungjawab itu, manusia harus sadar akan keterbatasan dirinya dan sekaligus mengalihkan pandangannya akan Roh Allah sebagai kekuatan penyeimbang dan penyempurna. Roh itu memperlengkapi seluruh ciptaan sehingga mencapai kesempurnaan. Keutuhan dan kesempurnaan ciptaan sangat tergantung pada hadir tidaknya Roh di tengah-tengah ciptaan itu, sehingga perlu menyadari akan pentingnya keterbukaan manusia dalam mempersilahkan dan merindukan kehadiran Roh Allah di dalam diri dan kehidupannya.[21]
2.3. Pengertian Spiritualitas
2.3.1. Spiritualitas Secara Umum
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Spiritualitas adalah hubungan dengan sifat kejiwaan (rohani) atau batin.[22] Spiritualitas berasal dari kata Spirit dalam bahasa Latin Spiritus dan juga disebut Sparare artinya bernafas atau berdiri, keteguhan hati, jiwa dan hidup. Kata Spirit dapat dimaknai sebagai azas yang hidup dan menghidupkan. Spiritualitas juga merupakan kesadaran dan sikap tahan uji dalam mewujudkan tujuan dan pengharapan. Spiritualitas juga merupakan gaya hidup, cara hidup yang keluar dari hati. Bila kualitas hidup religius diukur dari kesatuan hidup dengan Allah sebagai isi iman, maka keterpautan hati kepada Tuhan adalah kemampuan yang memungkinkan manusia membangun religius.[23]
Oleh sebab itu dapat dipahami bahwa spiritual adalah pengalaman manusia secara umum dari suatu pengertian akan makna, tujuan dan moralitas. Dalam perkembangannya kata spiritual ini memiliki arti dan makna yang lebih luas lagi. Ada banyak tokoh yang coba memberikan sebuah pemahaman tentang spiritual. Salah satunya adalah M.W.Shafwan yang berpendapat bahwa, Spiritualitas sebagai wujud karakter spiritual, kualitas atau sifat dasar dan upaya dalam berhubungan atau bersatu dengan Tuhan.[24]
2.3.2. Spiritualitas dalam Perspektif Alkitabiah
Alkitab memuat banyak hal mengenai spiritualitas dari hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu Allah adalah sarana bagi orang percaya untuk mengenal lebih dalam spiritualitas Kristen. Sangat banyak manfaatnya ketika hamba Tuhan menggumuli dan mengaplikasikan darispiritual hamba-hamba Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab.[25] Spiritualitas mencakup bagaimana kehidupan iman orang Kristen termasuk hamba Tuhan. Spiritualitas membangkitkan pengharapan orang Kristen terhadap Allah di dalam kehidupannya.[26]
2.3.2.1. Spiritualitas dalam Perjanjian Lama
Pada kitab Perjanjian Lama tidak ditemukan kata spiritualitas secara langsung. Kata yang tepat di temukan adalah jiwa. Hal ini dapat dikatakan sama karena kata spiritualitas itu sendiri berasal dari kata spirit yang berarti Roh seperti yang telah dipaparkan dalam bagian pengertian spiritual. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa spiritualitas adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan Roh yang dimiliki manusia. Spiritualitas juga dapat diartikan sebagai daya kekuatan yang menggerakkan atau menghidupkan seseorang atau kelompok untuk mempertahankan, memperkembangkan dan mewujudkan cita-cita.[27]
Dalam Perjanjian Lama dikisahkan mengenai bangsa Israel yang dibimbing oleh Allah untuk keluar dari tanah perbudakan mesir menuju tanah perjanjian yakni Kanaan. Dalam perjalanan menuju Kanaan selama 40 tahun, Allah membentuk Israel menghadapi banyak ujian. Hal ini juga dinyatakan Allah agar Israel menjadi contoh bagi bangsa-bangsa lainnya.
Kitab Perjanjian Lama juga menceritakan kehidupan keseharian bapa-bapa leluhur, nabi yang dipanggil Tuhan untuk menyatakan firman-Nya terhadap umat manusia. Seluruh cerita tersebut tentunya mengisahkan turun naiknya spiritualitas orang yang hidup pada zaman perjanjian lama. Kisah-kisah tersebut seluruhnya berkaitan dengan kehidupan manusia yang melingkupi tingkah laku manusia, perasaan yang dialaminya, pola pikirnya dan lain-lain. Kisah kehidupan manusia pada jaman Perjanjian Lama juga menyatakan tentang pengharapan kasih Allah, janji yang dinyatakan oleh Allah, aturan yang diperbuat Allah untuk melepaskan manusia dari keberdosaannya dan lain sebagainya. Sehingga terlihat jelas bahwa spiritual mampu mengjangkau semua ruang gerak kehidupan yang dilalui oleh manusia.[28]
Perjanjian Lama juga menyatakan tentang pengharapan kasih Allah, janji yang dinyatakan oleh Allah, aturan yang diperbuat Allah untuk melepaskan manusia dari keberdosaannya dan lain sebagainya. Sehingga terlihat jelas bahwa spiritual mampu menjangkau semua ruang gerak kehidupan yang dilalui oleh manusia.[29] Hal ini menjadikan spiritual manusia menjadi lebih baik dalam kenyataan hidupnya.
2.3.2.2. Spiritualitas dalam Perjanjian Baru
Pada Perjanjian Baru juga tidak ditemukan kata spiritual. Oleh karena itu penulis juga akan merujuk pada kata roh atau jiwa. Dalam Perjanjian Baru banyak dikisahkan mengenai Roh Kudus. Roh Kudus berperan dalam banyak kehidupan tokoh-tokoh dalam Perjanjian Baru. Roh Kudus berkarya dalam kehidupan banyak orang sehingga menjadikan orang tersebut menjadi ciptaan baru. Roh Kudus menganugerahkan dan menumbuhkan iman kepercayaan kepada banyak orang. Ia mendamaikan manusia dengan Allah dan menyatakan kuasa Allah. Roh Kudus mengatasi dosa dan mengarahkan kehidupan manusia agar menjadi lebih baik. Roh Kudus menganugerahkan persatuan, hidup abadi, kemerdekaan dan ketenangan, kekuatan serta kesucian. Kisah tokoh-tokoh dalam Perjanjian Baru menunjukkan betapa Roh Kudus membuat mereka menjadi penuh semangat untuk berjuang Allah yang sejati dengan kerendahan hati.[30]
Spiritualitas Kristen adalah spiritualitas dalam roh dan kebenaran. Artinya roh manusia bersekutu dengan Allah yang adalah Roh (Yohanes 4:24). Karena itu, spiritualitas Kristen bukan tefokus pada “religiously” atau melakukan semua perilaku agama melainkan hubungan rohani yang dalam dengan Allah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa spiritualitas adalah ibadah yang berkaitan dengan hubungan pribadi seorang beriman dengan Allah berdasarkan pengenalan yang benar akan Tuhan secara intim setiap hari dengan Tuhan (Flp. 3:10).[31]
Salah satu dari tokoh yang hidup dalam Perjanjian Baru adalah Paulus. Paulus bersaksi bahwa ditangkap oleh Kristus (Flp. 3:12). Hal inilah yang dimaksudkannya dengan anugerah pertobatan yang diterimanya melalui Roh Kudus. Melalui hal ini pula ia menyatakan bahwa dia ditangkap oleh Kristus (Flp. 3:12). Hal inilah yang dimaksudkannya dengan anugerah yang membutuhkan respon. Respon yang dilakukan oleh Paulus adalah kesungguhannya mengikut Yesus dalam menyampaikan kabar sukacita mengenai Yesus Kristus penebus dosa manusia.[32]
2.4. Arti dan Makna Spiritualitas
Kata Spritualitas berasal dari bahasa Latin spiritus, artinya roh dan jiwa atau semangat, yang memiliki padanan arti dengan bahasa Ibrani ruach atau bahasa Yunani pneuma yang berarti angin atau nafas, yang dalam bahasa dapat diartikan sebagai “semangat yang mengerakan”. Spritualitas merupakan perwujudan hidup dalam roh Tuhan atau hidup yang dibaktikan kepada Tuhan. Bertolak dari makna spiritus, maka spritualitas diberi makna keadaan kehidupan atau kepribadian sesorang yang di dalamnya terkandung kekuatan rohaniah, kekuatan hidup dan semangat hidup.
Alister E. Mc Grath memberikan defenisi tentang spiritualias yaitu Suatu usaha mendapatkan kehidupan Religius yang otentik dan penuh yang melibatkan usaha menyatukan ide-ide khas agama yang bersangkutan serta seluruh pengalaman hidup atas dasar dan lingkup. Spritualitas beraitan dengan kehidupan iman yakni apa yang mendorong dan memotivasinya dan apa yang menurut orang-orang apa yang bisa membantu untuk melanggengkan dan mengembangkanya. Spiritualitas berkaitan dengan cara bagimana kehidupan orang Kisten dipahami serta dihayati. Spritualitas merupakan benteng terluar dalam kehidupan nyata iman religius seseorang, apa yang dilakukan orang bila mereka percaya. Spirtualitas tidak sekedar meyangkut ide-ide meskipun ide-ide dasar iman Kristen sungguh penting bagi spritualitas kristen.[33]
Menurut perspektif bahasa “spiritualitas” berasal dari kata ‘spirit’ yang berarti ‘jiwa’.[34] Istilah “spiritual” dapat didefenisikan sebagai pengalaman manusia secara umum dari suatu pengertian akan makna, tujuan dan moralitas.[35] Pemahaman tentang kata spiritual dalam terminology teologi Kristen, kata spiritual (rohani) dalam bahasa Yunani adalah Pneuma, yang artinya roh atau berkenaan dengan roh.[36] Pendekatan secara antropologis mengatakan bahwa spiritualitas merupakan suatu kualitas pribadi yang memampukan orang untuk keluar dari dirinya sendiri dan berelasi dengan yang lain lewat pengetahuan dan cinta kasih. Pribadi manusia bukan hanya suatu sosok material, tertutup dalam dirinya sendiri.[37]
2.5. Krisis Moral dan Spiritualitas Hamba Tuhan
Krisis moral para hamba Tuhan terlihat dari banyaknya hamba Tuhan telah meninggalkan integritas pribadi. Mereka cenderung dikuasai spirit duniawi dan jalan dunia yang melawan Alkitab (cinta uang, popularitas, prestise, pesta pora, menghalalkan segala cara, dan sebagainya) dalam kepemimpinan pelayanan mereka.[38]
Salah satu penyebab gereja kacau saat ini karena banyak pemimpin atau hamba Tuhan yang tidak memiliki pengenalan akan Tuhan yang memadai. Mereka cenderung enggan belajar firman Tuhan dengan serius atau formal. Kalaupun belajar, mereka tidak mengikuti kurikulum standar yang dirancang para ahli teologi. Banyak pemimpin belum pernah membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu satu kali pun. Gereja tidak lagi diajar dengan benar berdasarkan Alkitab yang lahir dari penafsiran yang konsisten. Jangan heran jika gereja hanya giat melayani tetapi tanpa pengertian yang benar.[39]
Dari seluruh permasalahan hamba Tuhan di atas dan masih banyak lagi permasalahan yang belum diuraikan secara rinci, penulis mengambil kesimpulan adalah hamba Tuhan yang mengalami krisis moral dikarenakan krisis dalam hal spiritual. Spiritual yang seharusnya menjadi dasar pijak hamba Tuhan dalam menjawab panggilan itu. Spiritualitas yang harus dihidupi oleh setiap pendeta dalam jabatan apapun yang dia sandang. Sehingga apabila setiap pendeta meletakkan dasar spiritualitas dalam menjalankan panggilan masing-masing maka semua tercipta indah dalam suatu pelayanan yang terpadu dan berkualitas.
Krisis spiritualitas pelayanan dapat terjadi dalam kehidupan hamba Tuhan. Krisis itu terjadi ketika kita kehilangan arah dalam pelayanan, jenuh atau bosan, terjebak dalam tugas-tugas rutin, letih, kecewa dan putus asa. Sebaliknya, krisis spiritualitas juga bisa terjadi ketika kita merasa sukses dalam pelayanan, anggota jemaat semakin banyak, jumlah persembahan meningkat drastis, makin dikenal dan dikagumi banyak orang.
Orientasi pelayanan kemudian lebih menekankan pada keberhasilan tugas atau program-program, mulai dari rapat, menyusn program kerja jemaat, penelitian, pengembangan organisasi gereja, dll. Orientasi pada relasi dengan manusia dalam komunitas jemaat menjadi terpinggir dan dinomor-duakan. Kerinduan jemaat akan kehangatan persekutuan, suasana saling memperhatikan dan mendampingi pergumulan hidup tidak mampu dijawab pendeta. Kita sibuk dan sangat sibuk untuk menyelesaikan tugas-tugas rutin yang tak habis-habisnya. Kita berusaha sekuat tenaga agar diri kita tampak berguna dan diperhitungkan oleh semakin banyak orang.[40]
Kesimpulan dari Krisis moral hamba Tuhan yang terjadi, menyadari semuanya itu, jika kita rindu melibatkan diri menjadi hamba Tuhan, hal yang sangat indah dan mulia itu, hendaknya mengikuti prosedur dan memenuhi kualifikasi spiritualitas yang baik agar terlihat juga jelas bagaimana integritas seorang hamba Tuhan dalam melakukan pelayanannya dengan mengimani bahwa semua berdasarkan panggilan Tuhan dan kembali dilakukan untuk kemuliaan Tuhan. Hamba Tuhan yang qualified akan membawa pengaruh bagi pertumbuhan spiritualitas dan moral anggota jemaatnya juga.
2.6. Tokoh-Tokoh Alkitab yang Berintegritas dan Berspiritualitas dan Refleksi Bagi Hamba Tuhan Masa Kini
2.6.1. Abraham
Yang menarik dari kisah Abraham dan dapat menjadi pembelajaran bagi kita dalam hal integritas dan spiritual adalah:
a. Dia dilahirkan pada tahun 2018 SM dan dibesarkan di Ur, kota yang besar dan makmur. Abraham dilahirkan pada keluarga yang menyembah berhala (Yos. 24:2) namun Abraham memilih hanya untuk menyembah Allah. Ini terbukti ketaatannya atas panggilan Allah. Panggilan Abraham yang terdapat dalam Kej 12:1 dst. Di sini diceritakan bahwa Abraham dan ayahnya berasal dari tanah Ur. Dipanggil keluar dari tanahnya, Abraham taat dan mengikuti perintah Allah. Dalam panggilannya, Allah mengatakan “Janganlah Takut” kepada Abraham. Panggilan ini selalu diperbaharui oleh Allah dengan janji kepada Abraham.
Panggilan Allah adalah begitu baru diterimanya dan berbahaya dirasa oleh manusia sehingga Abraham ketakutan dan enggan mengikutinya. Panggilan Alah adalah teramat asing dan aneh dari segala apa yang telah biasa dan telah terjamin, sehingga manusia hanya tinggal gemetar dan gelisah. Tiada jaminan sedikitpun selain janji Allah yang disampaikan.[41]
Jadi dkatakan “Janganlah Takut”, maka Allah sendiri telah mengambil alih tanggung jawab atas kehidupan Abraham yaitu perlindungan atas nyawanya dan upah-ganjarannya. Panggilan Allah membebaskan manusia dari segala macam kesentosaan dan jaminan darah dan tanah dan menjatuhkan manusia ke dalam keputusasaan, jikalau tidak percaya akan jaminan dan perlindungan Allah itu. Orang yang mengikuti panggilan Allah adalah orang tergantung antara langit dan bumi, antara sorga dan neraka; mereka hanya dipegang oleh janji Allah saja.[42]
b. Allah memberi jaminan kepada mereka akan kehidupan yang luar biasa. Ini dapat kita lihat dari yang tidak mungkin mempunyai anak karena faktor usia yang sudah tua sekali yakni Abraham 100 tahun dan Sara 90 tahun namun Allah memberikan seorang anak laki-laki. Abraham percaya bahwa Allah sanggup melakukan sesuatu yang mustahil bagi manusia.
c. Pengalaman Abraham berikutnya, ketika Ishak sudah besar, Allah menguji imannya lagi untuk mempersembahkan anaknya sebagai korban kepada Allah. Ketaatan Abraham kepada Allah ditunjukkan tanpa pamrih dengan mengorbankan anaknya yang tunggal. Alangkah besarnya iman Abraham kepada Allah, dia mengorbankan apa yang sangat berharga. Sementara Allah memperhitungkan segala yang diperbuat Abraham dengan cara-Nya sendiri.
Dari pengalaman Abraham dapat kita lihat integritas dan spiritual Abraham tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebesar apapun masalah yang dihadapi oleh Abraham bukan membuat dia menjadi surut dalam panggilan Tuhan namun, justru dia membuktikan ketaatan yang luar biasa dan patut dipuji. Demikian hamba Tuhan belajar dari integritas dan spiritualitas Abraham yang luar biasa, bahwa permasalahan sebesar apapun yang dihadapi hamba Tuhan tidak menjadi penghalang untuk taat akan panggilan Tuhan. Hamba Tuhan diharapkan tetap menjalankan aktivitasnya di manapun ditempatkan walau menghadapi berbagai tantangan bahkan cobaan yang berat. Kekuatan hamba Tuhan melayani bersumber dari Tuhan yang memampukan pendeta menghadapi tingkat kesulitan sesulit apapun.[43]
2.6.2. Amos
Amos menjumpai banyak ketidakadilan sosial yang marak dalam masyarakat pada masa itu. Misalnya perdagangan internasional yang luas untuk keuntungan para penguasa; praktik-praktik bisnis yang penuh tipuan terhadap orang miskin dan tak berdaya begitu juga perampasan tanah milik orang miskin. Namun upacara-upacara keagamaan terus dipelihara walau sifat kefasikan terus dipelihara mereka. Persembahan mereka yang mahal disampaikan dari hasil pemberian orang miskin.
Melihat itu Amos tidak bisa diam, beliau seorang yang tajam akan kritikan, peringatan dan ancaman terhadap kebiasaan hidup masyarakat yang hanya mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dan tidak mengingat karya kasih Allah terhadap mereka. Termasuk bahwa ibadat mereka tidak akan berkenan dihadapan Allah jika tidak disadari sikap hati bertobat dan iman yang hidup, juga tercermin dalam kehidupan manusia dengan sesamanya. Amos juga memiliki pemikiran yang khas bahwa keadilan merupakan ciri moral yang paling penting dari sifat Ilahi sehingga jika Allah itu adil maka ketidakadilan, kejujuran, kebejatan moral tidak dapat ditolerir oleh Allah dan harus mendapat pembalasan yang keras dari Allah.
Manifestasi dari integritas dan spiritual Amos ini dapatlah diperoleh suatu pembelajaran untuk pendeta bahwa keberaniannya melawan ketidakadilan perlu dinyatakan. Kepekaan terhadap masalah-masalah sosial haruslah dimiliki seorang pendeta. Kemudian tidak takut menghadapi penguasa apapun, kapanpun dan darimanapun. Sifat keberanian itu ditunjukkan dalam wujud ketegasan untuk menjunjung keadilan dan kebenaran diri sendiri. Kemampuan yang dimiliki oleh Amos demikian dikarenakan kuatnya keyakinan terhadap Allah yang untuk universal (bangsa-bangsa) bukan hanya untuk orang Yahudi saja. Itulah dasar integritas dan spiritual Amos. Demikian juga para hamba Tuhan diharapkan memiliki integritas dan spiritual Amos yakni yang memiliki kekuatan yang bersumber pada Kristus Yesus yang menegakkan keadilan dan kebenaran bagi semua orang, maka sebagai hamba-Nya hamba Tuhan juga melakukan yang sama. Artinya keberpihakan hamba Tuhan bukan terhadap golongan tertentu tapi untuk semua umat yang tidak mengalami keadilan Allah.
Tentunya integritas dan spiritual yang dimiliki Amos seperti ini bukan tanpa reiko dari pihak musuh atau lawan. Amos lebih memiliki mengikuti teladan Tuhan yakni menegakkan keadilan dan kebenaran dengan keberanian yang menyala-nyala ketimbang sikap apatis terhadap keadaan yang khaos. Demikianlah seharusnya dimiliki hamba Tuhan yang terus menerus menjawab panggilan di tengah ketidakadilan dan ketidakbenaran di bumi ini. Sekalipun banyak penolakan bahkan ancaman yang dirasa pendeta dari pihak manapun namun hamba Tuhan tidak gentar menghadapinya dengan mengandalkan kekuatan Tuhan yang senantiasa menolongnya.[44]
2.6.3. Debora
Debora memimpin bangsa Israel. Siapa bilang perempuan tidak bisa memimpin? Inilah satu dari sekian perempuan yang dipanggil dan dipakai sendiri oleh Allah. Dia sangat dihormati karena kualitas kepemimpinannya yang tidak diragukan lagi. Dia seorang nabi, dan perempuan yang sudah menikah (Hakim 4). Pernikahan tidak pernah dirancang untuk menghalangi pelayanan perempuan bahkan pernikahan itu dirancang untuk sarana mendukungnya.
Tidak berbeda pelayanan yang dilakukan Debora dengan hakim-hakim lainnya, antara lain:
1. Dia pemimpin suatu bangsa
2. Dia membantu menyelesaikan perselisihan
3. Dia nabi yang memberikan petunjuk Tuhan kepada bangsa-bangsanya
4. Dia dihormati semua orang
5. Dia dipanggil oleh Allah
6. Tanah yang ditinggali bangsa Israel menjadi damai selama 40 tahun
Jika Debora ditepatkan dalam konteks sekarang, dia akan menduduki posisi hamba Tuhan, nabi dan pengajar. Ini adalah panggilan dan anugerah Allah dalam hidup Debora yang membawanya terlibat dalam pelayanan Tuhan. Sebagai perempuan tidak menjadi penghalang baginya untuk melayani Tuhan. Ketika membaktikan diri kepada Tuhan dan mencari wajah-Nya, maka hamba Tuhan perempuan akan dipersiapkan untuk menggenapi rencana-Nya dalam segenap kehidupan.
Integritas dan spiritual Debora sangat membantu hamba Tuhan secara khusus hamba Tuhan perempuan bahwa kodrat sebagai perempuan tidak menjadi penghalang untuk melayani umat bahkan memimpin umat dengan sebaik-baiknya. Justru keluarga dijadikan sebagai gereja kecil yang dimana hamba Tuhan perempuan dapat mengimplementasi lebih mudah dalam berkarya. Keluarga juga bisa menjadi pendukung dalam pelayanan hamba Tuhan. Terinspirasi dengan integritas dan spiritual Debora maka, hamba Tuhan terdorong untuk memotivasi pelayanan lebih baik.[45]
2.6.4. Hosea
Hosea melaksanakan tugasnya sebagai nabi sekitar tahun 750 SM di Kerajaan Utara sekitar tahun 750 SM di Kerajaan Utara. Dasar pewartaan Hosea adalah Kasih Allah terhadap umat dan harapan agar Israel tetap menghayati kasih Allah yang telah membebaskan mereka dari Mesir. Ia mengecam pelanggaran keadilan dan penindasan bagi kaum tersingkir menunjukkan bagaimana Israel kembali setia pada perjanjian dengan Tuhan. Hosea sangat menekankan bahwa hanya kasih setia dan belas kasihan Allah yang dapat mendatangkan anugerah bagi bangsa Israel. Namun, dosa membuat bangsa Israel mengalami hukuman dari Allah yaitu hukuman yang bertujuan untuk mendisiplinkan umat.
Dari penjelasan di atas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa spiritual Hosea yang sangat menekankan hanya kasih setia dan belas kasihan Allah ini dasar kekuatannya untuk mewartakan kabar baik kepada umat yang berdosa. Demikianlah para hamba Tuhan memiliki dasar yang sama dalam melayani adalah seperti Hosea yang menekankan akan kasih setia Tuhan dan belas kasih Tuhan pada umat Tuhan yang dapat mendatangkan anugerah bagi umat-Nya. Dari sikap hidup Hosea, hamba Tuhan diharapkan memiliki integritas dan spiritual yang kokoh akan kasih setia Tuhan terhadap kehidupannya. Kehidupan hamba-Nya yang mengalami banyak permasalahan dan apapun permasalahan yang dialami tidak melupakan akan kasih setia Tuhan mengiringi kehidupannya.
Apabila hamba Tuhan memiliki dasar keyakinan bahwa kasih seta Tuhan selalu berjalan mendahalui semuanya yang terjadi maka hamba Tuhan tidak gentar menghadapi permasalahan yang sesulit apapun dialami. Kasih setia Tuhan milik semua hamba Tuhan bahkan umat Tuhan, sehingga sangatlah wajar apabila hamba Tuhan meletakkan dasar panggilannya adalah karena kasih setia Tuhan yang memanggilnya. Inilah kabar baik yang hendak disampaikan pada hamba Tuhan di tengah pelayanan yang beraneka ragam bentuknya, baik itu hamba Tuhan yang melayani secara struktur atau fungsional.[46]
2.7. Arti dan Makna Kehidupan Hamba Tuhan yang Berintegritas dan Berspiritualitas
2.7.1. Tinjauan Biblika
Spiritualitas mempunyai arti yang sangat mendalam dimana yang dihubungkan kepada Roh Kudus. Spiritualitas Kristen adalah spiritualitas yang penghayatannya menjadi jelas dan konkrit karena mengikuti keteladanan kehidupan dan pelayan Tuhan Yesus Kristus. Allah mengutus Tuhan Yesus Kristus ke dunia dan memperlengkapi-Nya dengan kuasa Roh Kudus untuk menyatakan kehendak dan kebenaran-Nya (Yohanes 17:18).[47]
Spiritualitas berkaitan erat dengan hal-hal yang berasal atau bersumber dari Tuhan yang menjadi bagian dari hidup manusia. Manusia juga makhluk material (fisik) yang sekaligus padanya terdapat substansi non-material yakni roh atau jiwa, pikiran dan hati nuraini.[48]
2.7.2. Tinjauan Sistematika
Hamba Tuhan yang berintegritas dalam jemaat akan memelihara hubungan pribadi secara intim dan serius dengan Tuhan, membangun hubungan yang indah dengan sesame, menjaga kualitas Kotbah yang Alkitabiah, kuat dalam konseling, menata keuangan gereja dengan jujur, mengadakan kunjungan yang terjadwal dan berkesinambungan, serta mengobarkan semangat PI dan misi sehingga gereja mempunyai jiwa missioner. Semua ini adalah ciri-ciri hamba Tuhan yang berintegritas dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kepemimpinannya. Ia memimpin jemaatnya dengan benar, bijaksana, penuh kasih dan pengorbanan. Sebagai akibat anugerah Tuhan dan pertolongan Roh Kudus, jemaat akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang signifikan.[49]
Spiritual juga dipahami sebagai hal yang tidak bersifat jasmani (Immaterial) dan terdiri dari roh. Spiritualitas mengacu kepada nilai-nilai manusiawi yang non material seperti keindahan, kebaikan, cinta, kebenaran, belaskasihan, kejujuran dan kesucian. Spiritualitas juga menunjuk pada kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi (mental, intelektual, estetik, religius) dan nilai-nilai pikiran serta mengacu ke perasaan dan emosi-emosi religius dan etestik.[50]
2.7.3. Tinjauan Historika
Dalam ranah keagamaan kata integritas cenderung menekankan pluralitas mutlak dari dua cara hidup yang benar atau yang salah. Kata ini memberikan penjelasan tentang perilaku yang benar, ramah, tulus dan setia, baik terhadap diri sendiri dan orang lain. Dalam naskah gulungan laut mati kata תמם (tmm) banyak diterjemahkan untuk pengertian etika dan moral. Yang menggambarkan kondisi sikap atau kepribadian yang selalu menjalankan keinginan Allah yaitu berjalan dalam kejujuran dan tidak mengikuti nafsu dan keinginan sendiri. Dalam Kitab Sirach, kata ini hanya muncul sebagai istilah untuk beberapa orang yang benar. Seperti Henokh dan Nuh (Sirach 44:16-17) dan dalam Kitab Qumran dijelaskan tentang Raja Yosia yang mengabdikan hatinya sepenuhnya untuk Tuhan, ini menggambarkan bahwa Raja Yosia adalah contoh yang berintegritas, ia tidak memakai otoritasnya sebagai raja untuk mengambil keuntungan yang dapat merusak integritasnya.[51]
Integritas dalam tinjauan historika mengandung arti utuh. Arti utuh adalah orang yang berintegritas seperti angka yang utuh. Gambaran seorang pribadi yang utuh, seorang pribadi yang entah bagaimana tak terpecah-pecah.[52] Allen Walker Read mengatakan: “Constituting a completed whole. Necessary for completeness; intrinsic” (Merupakan suatu keseluruhan. Merupakan bagian penting dari keseluruhan yang diperlukan untuk kelengkapan; sangat hakiki atau fundamental).[53]
Kata spirit juga merupakan istilah untuk menjuluki energi yang tidak kasat mata dan tak berbentuk yang merupakan sumber dan nutrisi kehidupan ini. Kekuatan itu bisa memecahkan setiap masalah yang kita hadapi.[54] Dalam pengertian yang lebih luas dapat dikatakan bahwa spiritualitas terwujud dalam kehidupan sosial budaya, ekonomi dan politik. Spiritualitas merupakan kesadaran dan sikap hidup dari manusia untuk tahan uji dan bertahan mewujudkan tujuan dan pengharapannya. Oleh karena itu spiritualitas dapat menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi kekuatiran, kejenuhan dan kesepian. Spiritualitas juga dapat menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi penganiayaan, kesulitan dan penindasan dan kegagalan yang dialami oleh orang atau kelompok yang sedang mewujudkan tujuan hidupnya.[55]
Spiritualitas juga bukan hanya sekedar pemujaan terhadap Tuhan dan bukan merupakan tradisi kekal masa lampau yang sangat kaku. Tetapi spiritualitas harus dicipta, bukan diulang, sebab zamanlah yang melahirkannya. Spiritualitas haruslah bersentuhan langsung dengan kenyataan hidup sehari-hari.[56]
2.7.4. Tinjauan Praktika
Integritas dalam ranah praktika kata dalam Ibrani menjelaskan tentang sikap dan jalan hidup yang “utuh dan lengkap” yang awalnya memberikan contoh kepada pemikiran, perkataan dan perbuatan diri sendiri yang berhamonisasi atau menyatu dengan norma-norma yang hidup yang benar atau yang mengatur manusia.[57] Diperlukan integritas pribadi ketika seorang hamba Tuhan memiliki tugas dan tanggung jawab untuk melayani umat Tuhan. Seperti, mengunjungi rumah jemaat, orang sakit, dan sebagainya. Jemaat yang dikunjungi bukan hanya jemaat yang kaya dan dekat dengannya. Tugas dan tanggung jawab seorang hamba Tuhan melakukan pelayanannya dengan kelemahlembutan, kesabaran, kasih, dan komitmen yang tinggi.[58]
Spiritualitas dalam tinjauan praktika menunjuk pada cara bagaimana kehidupan Kristen dipahami dan bagaimana praktek-praktek devosi secara eksplisit telah dikembangkan untuk membantu menumbuhkan dan melanggengkan hubungan dengan Kristus. Maka dari itu, spiritualitas mungkin bisa dipahami sebagai cara bagaimana orang-orang Kristen sebagai pribadi maupun sebagai kelompok-kelompok berusaha memperdalam pengalaman mereka tentang Tuhan. Spiritualitas berkaitan dengan usaha mendapatkan eksistensi Kristen yang otentik dan penuh yang melibatkan usaha menyatukan ide-ide fundamental tentang Kekristenan dan seluruh pengalaman hidup atas dasar dan dalam lingkup iman Kristen.[59] Praktik spiritual merupakan cara untuk membuat hidup bekerja di tingkat yang lebih tinggi dan cara untuk menerima bimbingan dalam menangani masalah. Sehingga dibuat sebuah rumusan untuk meningkatkan spiritual yaitu melalui: berserah diri, kasih, tak terbatas, pikiran kosong, kemurahan hati dan rasa syukur, keterhubungan dan keceriaan.[60]
2.7.5. Tinjauan Ilmu Agama-Agama
2.7.5.1. Pandangan Agama Kristen
Integritas dalam agama Kristen adalah gambaran pribadi yang kuat dan teguh, memiliki kualitas diri dalam aspek hidup. Seseorang yang berintegritas tidak mudah menyerah, memiliki pikiran yang utuh dan lengkap selaras perkataan dengan keinginan tanpa berpura-pura, tidak tercemar. Integritas adalah bentuk kesetiaan seseorang kepada hal-hal benar dalam hidupnya: diawasi atau tidak, baik disaat berada di depan orang lain maupun tidak, baik dalam situasi menyenangkan maupun menyakitkan.
Kekristenan juga mengenal istilah spiritualitas. Pada umumnya orang Kristen mengartikan spiritualitas sebagai sikap atau keterarahan batin. Spiritualitas adalah keterarahan batin dalam sikap yang kita ambil. Spiritualitas merupakan suatu keterarahan yang mengandung cita-cita yang menjiwai seluruh diri, seluruh cara bersikap dan bertindak seseorang, dengan kata lain spiritualitas itu sama dengan iman yang sadar. Oleh karena itu dasar spiritualitas bagi orang Kristen adalah Roh Allah itu sendiri. Orang Kristen percaya bahwa Roh Allah atau Roh Kudus tinggal dalam semua orang beriman.[61]
Spiritualitas Kristen merupakan sikap hidup yang berbuahkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Spiritualitas kristiani itu adalah ungkapan sikap hidup yang selalu berkarya, karena dengan berkarya itulah hidup orang Kristen menghidupkan orang lain serta membawakan kebaikan bagi semua orang yang pada dasarnya adalah sesama ciptaan Tuhan.[62] Spiritualitas umat Kristen merupakan sebuah doa dan kehidupan di dalam Yesus Kristus. Dalam hal ini roh manusia ditopang, digenggam dan diubah oleh Roh Kudus. Hal ini juga merupakan pencarian dari seorang percaya pada suatu persekutuan untuk sebuah anugerah keselamatan.[63]
2.7.5.2. Pandangan Agama Islam
Integritas menjadi kunci dalam kehidupan, karena manusia yang tidak memiliki integritas hidupnya akan sengsara. Kesengsaraan tersebut disebabkan karena ucapannya tidak sejalan dengan perbuatannya sehingga kehilangan kepercayaan dari orang lain, seperti koruptor. Akankah manusia mempertaruhkan kebahagiaan sendiri dengan hilangnya integritas, demi sesuatu yang bersifat fisik dan sementara? Oleh sebab itu integritas (kejujuran), menjadi pondasi awal dalam Islam, jujur adalah dua hal yang berpadu. Istilah integrasi intelektual dalam Islam adalah al-ṣidq (perilaku sejalan antara perkataan dan amalan, lahir dan batin, jiwa dan raga, jasmani dan rohani. Sementara kebalikan dari al-shidq adalah al-kadhb (dusta, bohong, tidak benar, tidak sejalan perkataan dan perbuatan, jiwa dan raga, jasmani dan rohani). Dalam Al-Qur’an term tentang integritas adalah iman, Islam, ihsan, ikhlas, taqwa, iḥbāth, al-aql. [64]
Secara tidak langsung spiritualitas Islam muncul sejak abad ke-7 M diawali dari pencerahan nabi Muhammad Saw kepada seluruh pengikutnya. Beliau memberikan pencerahan itu mengenai nilai-nilai moral dan spiritual yang telah diperoleh Allah SWT. Apa yang telah ditanamkan oleh Nabi saw kepada para pengikutnya yang awal, dalam tingkatan-tingkatan yang berbeda, adalah perasaan yang mendalam pada pertanggungjawaban di hadapan pengadilan Tuhan, yang mengangkat perilaku mereka dari alam duniawi dan kepatuhan yang mekanis kepada hukum, kepada alam kegiatan moral. Nilai-nilai moral dan spiritual yang telah diajarkan Nabi ternyata dapat memberikan perubahan bagi umat manusia khususnya Islam dalam mencapai derajat tertinggi (kehidupan hakiki). Pengalaman-pengalaman spiritual tersebut dapat memberikan posisi kehidupan yang lebih baik dan dapat dirasakan dan dinikmati Islam.[65]
Konsep Al-Quran tentang berserah diri kepada Tuhan (taqwa), sebagaimana telah ditekankan oleh paham kesalehan dalam arti etisnya, berkembang dalam kelompok-kelompok tertentu menjadi suatu doktrin ekstrim tentang peningkatan dunia. Maka dalam perilaku ataupun motivasi dari seseorang harus berlandaskan kesucian. Begitupun dalam semua aktivitas kegiatan manusia, hendaklah harus memiliki kesadaran akan pengawasan Tuhan. Taqwa merupakan salah satu kata yang paling tinggi nilainya, yang memiliki arti kurang lebih ‘kemuliaan’ dan ‘kedermawanan’. Hingga pada akhirnya yang akan membawa manusia pada tingkat esoterisme atau yang tidak lain disebut dengan tingkat “spiritualitas”. Spiritualitas Islam itu senantiasa identik dengan upaya menyaksikan yang satu, mengungkap yang satu dan mengenali yang satu. Oleh karena itu, seseorang ketika ingin mencapai tingkatan spiritualitas harus membersihkan hijab-hijab yang telah menghalangi penyatuan diri manusia dengan Tuhannya.[66]
2.7.5.3. Pandangan Agama Hindu
Konsep spiritualitas Hindu adalah spiritualitas yang berorientasi pada Tuhan (God-Oriented), yaitu bersandar pada teologis atau wahyu. Teologi Hindu mengajarkan pada umatnya bahwa Tuhan (Brahman) adalah sumber dari segala yang ada. Dia adalah awal, pertengahan dan akhir dari segala yang ada. Karena Tuhan (Brahman) adalah sumber segala yang ada maka manusia adalah bahagian dari-Nya. Karena atman (jiwa) yang ada dalam diri manusia berasal dari Tuhan (Brahman) sehingga manusia pada hakekatnya adalah bagian dari Tuhan.[67]
Berangkat dari keyakinan tersebut, maka umat Hindu dapat menuju pada Tuhan bahkan bersatu dengan Tuhan melalui jalan spiritualitas yang dipilihnya. Karma Yoga adalah jalan menuju Tuhan melalui kerja tanpa pamrih dan perbuatan baik. Bhakti Yoga merupakan jalan menuju Tuhan melalui pemujaan atau ketataatan. Jnana Yoga adalah jalan menuju Tuhan melalui pemahaman intelektual, kegiatan rasional dan pengetahuan. Adapun Raja Yoga adalah jalan menuju Tuhan melalui disiplin rohani dan asketik. Jalan ini adalah jalan yang cukup sulit karena dalam melakukan Raja Yoga dituntut untuk melakukan latihan-latihan baik latihan jasmani maupun rohani.[68]
2.8. Implikasinya Bagi Kehidupan dan Pelayanan Hamba Tuhan Ditengah Umat
Pribadi yang berintegritas adalah pribadi yang memiliki konsistensi dalam hidup. Konsistensi seharusnya menjadi salah satu identitas diri hamba Tuhan. Pelayan Hamba Tuhan yang beritegritas memiliki moral yang baik. Dalam arti hamba Tuhan menerapkan karakter yang jujur, adil dan bijaksana kepada jemaatnya. Integritas merupakan cerminan karakter seorang hamba Tuhan. Karakter terbentuk dari dan akibat pergaulannya. Karakter terbentuk dari dan akibat pergaulan seorang hamba Tuhan dengan Tuhan, yang mengakibatkan sifat-sifat moral Allah dimiliki oleh orang tersebut. Implikasi etisnya ia berusa hidup benar dalam relasi dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan, tempat ia hidup.
Pelayan Hamba Tuhan yang berintegritas dalam upaya memberi pertumbuhan dan pengembangan jemaat adalah kejujuran, ketulusan, keadilan, konsisten, kemurnian, kerendahan hari dan tidak mencari kepentingan sendiri. Hamba Tuhan yang ideal adalah seorang pelayan yang memiliki karakter-karakter luhur dan mulia, sehingga ia beribawa dan menjadi saluran berkat Allah bagi orang lain. Gereja sedang merindukan para hamba Tuhan yang mempunyai integritas diri untuk menjadi teladan dalam pengabdian dan ketaatan keapda Tuhan melalui hubungan intim yang dibangun dengan Tuhan.
Integritas adalah wujud dan kualitas kehidupan yang sangat penting dan menentukan jatuh bangunnya seorang hamba Tuhan. Seorang hamba Tuhan yang memiliki karakter luhur dan mulia sehingga terlihat dia bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain. Gereja sedang merindukan hamba Tuhan yang mempunyai integritas diri untuk menjadi teladan dalam pengabdian dan ketaatan kepada Tuhan. Jikalau seorang hamba Tuhan yang berintegritas dan berspiritualitas pasti mempunyai pengaruh bagi perkembangan pelayanannya di tengah jemaat. Bahwa pemimpin yang berintegritas adalah pemimpin yang selalu mematutkan hidupnya dengan Firman Tuhan, bergantung penuh pada pimpinan Roh Kudus, mengusahakan karakter yang baik dan selalu menunjukkan sikap kerendahan hati.
2.9. Analisa Penyeminar
Seorang hamba Tuhan haruslah memiliki integritas dan spiritualitas. Ini bisa terlihat dari karakter hamba Tuhan tersebut setiap harinya. Perlunya ketulusan hati dalam melayani Tuhan itu dimiliki dari integritas hamba Tuhan tersebut yang melayani umat Tuhan dalam keadaan apapun. Tidak memandang harta atau fisik dari jemaatnya. Dan spiritualitas hamba Tuhan adalah hidup berdasarkan kekuatan Roh Kudus dengan secara metodis mengembangkan iman, harapan dan cinta kasih atau sebagai usaha mengintegrasikan segala segi kehidupan kedalam cara hidup yang secara sadar bertumpu pada iman akan Yesus Kristus atau sebagai pengalaman iman kristiani dalam situasi konkret masing-masing orang. Spiritualitas hamba Tuhan adalah karya Allah pada manusia dengan memberikan iman. Spiritualitas merupakan hubungan intim dengan Allah. Oleh karena itu iman merupakan penggerak kehidupan bagi orang yang percaya atau mengimani-Nya.
Seiring perkembangan zaman kita dapat melihat dan menganalisa bagaimana seorang hamba Tuhan yang tahan uji. Seorang hamba Tuhan yang tidak taat dalam panggilannya ialah tidak memiliki integritas di dalam Kristus. Ini lah yang menyebabkan adanya krisis moral para hamba Tuhan masa kini. Hal ini didasarkan juga karena kurangnya membangun hubungan intim dengan Tuhan, ini dikarenakan terlalu sibuk dalam tugas pelayanannya padahal di dalam tugas hamba Tuhan itu semua berlandaskan kasih karunia Allah. Bukan tidak bisa seorang hamba Tuhan di dalam kesibukannya dia tetap membangun spiritualitas dengan Tuhan. Dalam keadaan apapun seorang hamba Tuhan yang berintegritas pasti tetap memabangun hubungannya dengan Tuhan. Jika hamba Tuhan tidak melakukannya, dia merasa ada sesuatu yang sangat diindukannya. Ini lah hamba Tuhan yang memiliki integritas dan juga spiritualitas. Sehingga keduanya sangatlah berhubungan.
III. Kesimpulan
Kehidupan hamba Tuhan yang berintegritas adalah kehidupan dalam segala aspeknya yang memiliki beragam variasi yang terjalin secara harmonis. Integritas juga menyatakan kehidupan yang memiliki kesatuan (unity). Utuh dan segalanya menjadi kesatuan. Seseorang hamba Tuhan yang memiliki integritas dan spiritualitas adalah seorang hamba Tuhan yang tahan uji dalam keadaan apapun. Hamba Tuhan pastinya memiliki karakter yang baik dan pastinya dirindukan setiap jemaat. Hamba Tuhan yang berintegritas dan berspiritualitas mengimani panggilan Tuhan dalam hidupnya dan merendahkan dirinya dihadapan Tuhan bahwa hanya karena kasih karunia Tuhan lah hamba Tuhan dapat menikmati dan menjalankan tugas dan tanggung jawab dari panggilannya.
Dan dia memahami dan mengerti apa yang menjadi maksud dan tujuan kehendak Allah dalam hidupnya. Ini dikarenakan adanya ikatan hubungan spiritual seorang hamba Tuhan. Dan walaupun badai menerpa kehidupan di dalam pelayanannya. Seorang hamba Tuhan yang berintegritas tidak akan takut dan tidak akan goyah tetapi dia akan berserah diri kepada Tuhan. Hamba Tuhan yang berintegritas dan berspiritualitas menyadari bahwa dalam pelayanannya kepada jemaat itu semua kembali untuk kemuliaan Tuhan. Sehingga dia bukan melakukan pelayanannya untuk kebesaran nama-Nya tetapi untuk keaguungan nama Tuhan. Di dalam pelayanan nya juga dia tetap memberikan yang terbaik untuk Tuhan.
IV. Daftar Pustaka
al-Kumayi, Sulaiman, Kearifan Spiritual dari HAMKA ke Gym, Semarang: Pustaka Nuun, 2004
Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996
Banawiratma, J.B., Spiritualitas Transformatif: Suatu Pergumulan Ekumenis, Yogyakarta: Kanisius, 1990
Bangun, Yosafat, Integritas Pemimpin Pastoral, Yogyakarta: Andi 2010
Barclay, Cheslyn, The Study of Spirituality, New York: Oxford University Press, 1986
Bawengan, Glorius, Spiritualitas, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000
Botterweek, G. Johanes dkk, Theological Dictionary Of The Old Testament Volume XV, Cambridge: Ermands Publishing Company, 1993
Brumiley, Geoffrey W., Theological Dictionary of The New Tastement, Abridged in One Volume Grand Rapids Zondervan, 1985
Carter, Stephen L., Integritas, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999
Colins, Gary R., Mencari Jiwa Kita, terj. Connie Item Corputty, Batam: Interaksa, 1999
Eldon, George, Teologi Perjanjian Baru Jilid III, Bandung: IKAPI, 2002
Gutherie, Donal, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1991
Harjamto, Wahyu, “Spiritualitas dan atau Teologi”, dalam orientasi baru, Jurnal Filsafat dan Teologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta: Kanisisus, 2002
Herwinwsastra, Pengaruh Kepemimpinan Kristen di Era Globalisasi Abad 21, Bandung: Kalam Hidup, 2015
Houston, Simth, The Religion of Man, Terj. Saafroedin Bahar, Agama-Agama Manusia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
I. Munadhi, D. Darmawangsa, Fight Like a Tiger Win Like a Champion, Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2007
Kesley, Morton, Prophetic Ministry, New York: The Crossroad Publishing Company, 1982.
Krisetya, Mesach, Teologi Patoral, Semarang: PT Panji Graha, 1998
Lempp, Walter, Tafsir Alkitab: Kitab Kejadian 12:4-25:18, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003
Mc Grath, Alister E., Spritualitas Kristen, Medan: Bina Media, 2007
Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manẓur al-Afriqi al-Mashri, Lisān al-Arab, Beirut: Dar Shadir, 1882
Muhammad, Hasyim, Dialoq Antara Taqwa dan Psikologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002
Nut, Paul C., Why Decisions Fail: Menghindari Kesalahan Besar dan Jebakan yang Mengarah pada Kegagalan Total, Jakarta: Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer, 2005
Pangaribuan, Anna. Ch. Vera, Penguatan Spiritual Pendeta, Pematang Siantar: L-SAPA Pematangsiantar, 2016
Poewardaminta, W.J.S., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1988
Prent, K., Kamus Latin-Indonesia, Yogyakarta: Percetakan Offset Kanisius, 1969
Prince, J. R., “Integrity”, The Internasional Standard Bible Encyclopedia, Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1982
Rummo, Gregory J., The View From the Grass Roots Another Look, Enumclay Pleasant World, 1984
Saragih, Agus Jetron, Teologi Perjanjian Lama dalam Isu-isu Konstektual, Medan: Bina Media Perintis, 2015
Saragih, Jhon Renis, Keadilbenaran Sebagai Watak Allah dalam Iman dan Paradoks, Medan: Komunikasi OKLOS, 2002
Sartono, 99% Diterima menjadi CPNS, Jakarta: Tangga Pustaka, 2015
Shafwan, M.W., Wacana Spiritual Timur dan Barat, Yogyakarta: Qalam, 2000
Sivananda, Sri Swami, All About Hinduisme, Intisari Ajaran Hindu, Surabaya: Paramita, 1993
Suseno, Franz Magnis, Beriman dalam Masyarakat, Yogyakarta: Kanisius, 1993
Tanja, Victor I., Spiritualitas, Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996
The American Heritage Dictionary of the English Language, Amerika: El-shaddai, 2009
Tracy, Brian, Change Your Thingking Change Your Life, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2003
Van Gemeren, Willem A., New Internasional Dictionary of Old Testament Theologi & Exgetis Volume 4, Amerika: United States, 1997
W. Dyer Wayner, There’s a Spiritual Solution to Every Problem, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005
Wainwright, Geoffrey, Christian Spirituality, Mcmillan Library Reference USA: Simon & Schuster Macmillan New York, 1995
Walker, Allen, The New International Webster’s Compherensive Dictionary of the English Language, Naples, Florida: Trident Pess International, 2003
Wardaya, Baskara T., Spiritualitas Pembebasan, Yogyakarta: Kanisius, 1995
Webster’s New World, Delhi: Books India, 2000
Wuellner, Flora Slosson, Gembalakanlah Gembala-gembala-Ku, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008
Zastrow, Charles H., The Practice Work, University of Wisconsin, An Internasiona Thompson Publishinh Company, 1999
[1] Paul C. Nut, Why Decisions Fail: Menghindari Kesalahan Besar dan Jebakan yang Mengarah pada Kegagalan Total, (Jakarta: Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer, 2005), 283.
[2] K. Prent, Kamus Latin-Indonesia, (Yogyakarta: Percetakan Offset Kanisius, 1969), 450.
[3] The American Heritage Dictionary of the English Language, (Amerika: El-shaddai, 2009), 13.
[4] Webster’s New World, (Delhi: Books India, 2000), 742.
[5] K. Prent, Kamus Latin-Indonesia, 450.
[6] Yosafat Bangun, Integritas Pemimpin Pastoral, (Yogyakarta: Andi 2010), 89.
[7] Gregory J. Rummo, The View From the Grass Roots Another Look, (Enumclay Pleasant World, 1984), 264.
[8] Yosafat Bangun, Integritas Pemimpin Pastoral, 124.
[9] Willem A.Van Gemeren, New Internasional Dictionary of Old Testament Theologi & Exgetis Volume 4, (Amerika: United States, 1997), 306.
[10] Yosafat Bangun, Integritas Pemimpin Pastoral, 90
[11] Willem A.Van Gemeren, New Internasional Dictionary of Old Testament Theologi & Exgetis Volume 4, 306.
[12] Yosafat Bangun, Integritas Pemimpin Pastoral, 90.
[13] D. Darmawangsa, & I. Munadhi, Fight Like a Tiger Win Like a Champion, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2007), 271.
[14] J. R. Prince, “Integrity”, The Internasional Standard Bible Encyclopedia, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1982), 857.
[15] Yosafat Bangun, Integritas Pemimpin Pastoral, 91.
[16] Yosafat Bangun, Integritas Pemimpin Pastoral, 92.
[17] Stephen L. Carter, Integritas, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999), 10.
[18] Sartono, 99% Diterima menjadi CPNS, (Jakarta: Tangga Pustaka, 2015), 333.
[19] Herwinwsastra, Pengaruh Kepemimpinan Kristen di Era Globalisasi Abad 21, (Bandung: Kalam Hidup, 2015), 25.
[20] Brian Tracy,Change Your Thingking Change Your Life, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2003), 366.
[21] Agus Jetron Saragih, Teologi Perjanjian Lama dalam Isu-isu Konstektual, (Medan: Bina Media Perintis, 2015), 14-15.
[22] W.J.S. Poewardaminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), 677.
[23] Jhon Renis Saragih, Keadilbenaran Sebagai Watak Allah dalam Iman dan Paradoks, (Medan: Komunikasi OKLOS, 2002), 8-9.
[24] M.W.Shafwan, Wacana Spiritual Timur dan Barat, (Yogyakarta: Qalam, 2000), 7.
[25] Victor I Tanja. Spiritualitas, Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 8.
[26] Morton Kesley, Prophetic Ministry, (New York: The Crossroad Publishing Company, 1982), 47-48.
[27] J.B. Banawiratma, Spiritualitas Transformatif: Suatu Pergumulan Ekumenis, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), 37.
[28] Baskara T. Wardaya, Spiritualitas Pembebasan, (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 44.
[29] Baskara T. Wardaya, Spiritualitas Pembebasan, 44.
[30] Flora Slosson Wuellner, Gembalakanlah Gembala-gembala-Ku, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 33.
[31] Gary R. Colins, Mencari Jiwa Kita, terj. Connie Item Corputty, (Batam: Interaksa, 1999), 224.
[32] Cheslyn Barclay, The Study of Spirituality, (New York: Oxford University Press, 1986), 9.
[33] Alister E. Mc Grath, Spritualitas Kristen, (Medan: Bina Media, 2007), 20-25.
[34] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1986), 963
[35] Charles H. Zastrow, The Practice Work (University of Wisconsin, An Internasiona Thompson Publishinh Company, 1999), 317
[36] Pneuma yang memiliki beberapa arti seperti angin, nafas, hidup, dan roh. Penggunaan kata ini ditemukan dalam berbagai konteks seperti digunakan dlaam konteks Yunani, mitologi dan agama-agama, perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Geoffrey W. Brumiley, Theological Dictionary of The New Tastement, Abridged in One Volume (Grand Rapids Zondervan, 1985), 876-885
[37] Wahyu Harjamto, “Spiritualitas dan atau Teologi”, dalam orientasi baru, Jurnal Filsafat dan Teologi, Universitas Sanata Dharma (Yogyakarta: Kanisisus, 2002), 106.
[38] Yosafat Bangun, Integritas Pemimpin Pastoral, 124-125.
[39] Yosafat Bangun, Integritas Pemimpin Pastoral, 27-28.
[40] Anna. Ch. Vera Pangaribuan, Penguatan Spiritual Pendeta, 13-14.
[41] Walter Lempp, Tafsir Alkitab: Kitab Kejadian 12:4-25:18, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 112.
[42] Walter Lempp, Tafsir Alkitab: Kitab Kejadian 12:4-25:18, 114.
[43] Anna. Ch. Vera Pangaribuan, Penguatan Spiritual Pendeta, (Pematang Siantar: L-SAPA Pematangsiantar, 2016), 22-23.
[44] Anna. Ch. Vera Pangaribuan, Penguatan Spiritual Pendeta, 24-25.
[45] Anna. Ch. Vera Pangaribuan, Penguatan Spiritual Pendeta, 25-26.
[46] Anna. Ch. Vera Pangaribuan, Penguatan Spiritual Pendeta, 27-28.
[47] George Eldon, Teologi Perjanjian Baru Jilid III, (Bandung: IKAPI, 2002),88.
[48] Donal Gutherie, Teologi Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1991), 167.
[49] Yosafat Bangun, Integritas Pemimpin Pastoral, 16.
[50] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996), 1034.
[51] G. Johanes Botterweek, dkk, Theological Dictionary Of The Old Testament Volume XV, 711.
[52] Stephen L. Carter, Integritas, 10.
[53] Allen Walker, The New International Webster’s Compherensive Dictionary of the English Language, (Naples, Florida: Trident Pess International, 2003), 660.
[54] Wayner W. Dyer, There’s a Spiritual Solution to Every Problem, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), 4.
[55] Banawiratma, Spiritualitas Transformatif; Suatu Pergumulan Ekumenis, 57-58.
[56] Glorius Bawengan, Spiritualitas, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 87-89.
[57] G. Johanes Botterweek, dkk, Theological Dictionary Of The Old Testament Volume XV, (Cambridge: Ermands Publishing Company, 1993), 710.
[58] Mesach Krisetya, Teologi Patoral, (Semarang: PT Panji Graha, 1998), 53.
[59] Alister E. Mc Grath, Spritualitas Kristen, 2-4.
[60] Wayner W. Dyer, There’s a Spiritual Solution to Every Problem, 12-14.
[61] Franz Magnis Suseno, Beriman dalam Masyarakat, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), 14.
[62] Victor I Tanja. Spiritualitas, Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia, 9-10.
[63] Geoffrey Wainwright, Christian Spirituality, (Mcmillan Library Reference USA: Simon & Schuster Macmillan New York, 1995), 452-453.
[64] Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manẓur al-Afriqi al-Mashri, Lisān al-Arab, (Beirut: Dar Shadir, 1882), 323.
[65] Hasyim Muhammad, Dialoq Antara Taqwa dan Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), 9.
[66] Sulaiman al-Kumayi, Kearifan Spiritual dari HAMKA ke Aa Gym, (Semarang: Pustaka Nuun, 2004), 4.
[67] Sri Swami, Sivananda, All About Hinduisme, Intisari Ajaran Hindu, (Surabaya: Paramita, 1993), 32.
[68] Simth, Houston, The Religion of Man, Terj. Saafroedin Bahar, AgamaAgama Manusia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia), 1985.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar