Jumat, 16 April 2021

Arti dan Makna Janji Kedatangan Mesias di Tengah-tengah Kehidupan Umat Allah yang Sedang Mengalami Krisis Global

 

Arti dan Makna Janji Kedatangan Mesias di Tengah-tengah Kehidupan Umat Allah yang Sedang Mengalami Krisis Global

(Biblika, Sistematika, Historika, Praktika, Ilmu Agama-Agama)

 

I.                   Latar Belakang Masalah

Dunia sedang berada di dalam krisis global yang maha dasyat. Krisis tidak hanya dialami oleh negara-negara yang kecil saja namun juga dihadapi oleh negara-negara yang besar seperti Amerika Serikat , negara-negara Eropa serta negara-negara Asia seprti Cina, Jepang, dll. Krisis sedang menggerogoti dan merusak sendi-sendi kehidupan manusia. Krisis global menyebabnya munculnya krisis multi dimensi yang melanda umat manusia ditengah jagat raya yang kita diami ini. Manusia sedang menuju kepada kehancuran yang tiada terkira. Krisis global merupakan ancaman yang sangat menakutkan bagi umat manusia yang hidup didalam dunia. Krisis global membawa pengaruh yang sangat dasyat bagi keberlangsungan hidup manusia. Krisis global membuat manusia hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Krisis global membuat manusia kehilangan akal dan asa. Ditengah kondisi seperti ini, manusia membutuhkan seseorang yang mampu melepaskan manusia dari belenggu krisis global yang sedang melilit dengan kuatnya. Manusia membutuhkan seseorang yang sanggup membawanya keluar dari kegelapan dunia yang mencekam dan masuk kedalam terang yang penuh harapan. Siapakah yang sanggup menolong manusia yang sedang dihimpit oleh krisis global ini? Apakah yang mampu menyelamatkan manusia yang sedang terpuruk tidak berdaya ini? Hartakah? Kedudukankah? Kekuasaankah? Kepandaiankah? Bagaimana sebenarnya arti dan makna janji kedatangan Mesias itu akan dibahas di dalam  seminar ini.

 

II.                Pembahasan

2.1.Arti dan Makna Janji Kedatangan

Arti dan Makna Janji Kedatangan disini berkaitan dengan makna dari “Nubuat” Walvoord dengan mengutip tulisan William H Thomson menjelaskan bahwa nubuat yang sejati adalah suatu mujizat, karena sifatnya yang begitu berbeda dengan ramalan manusia belaka. Menurutnya nubuat tidak memiliki hubungan dengan pengalaman (seperti kata manusia), atau ditentukan oleh pengalaman, karena nubuatan itu dasarnya adalah kemampuan mengetahui terlebih dahulu, dimana tak seorangpun mempunyai kemampuan ini tanpa suatu pertolongan. Pengertian lain ialah bahwa nubuat merupakan suatu tanda dari kuasa dan kemuliaan Allah dan menunjukkan sifat ajaib perkataanNya. Itu bukan hanya suatu pertunjukkan dari kuasa Allah, tetapi juga merupakan jawaban bagi doa dan kebutuhan manusia. Karena Allah mengungkapkan masa depan suatu pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh seorang manusia pun.[1]

 

2.2.Arti dan Makna Mesias

Secara etimologi katanya, kata Mesias berasal dari bahasa Ibrani yaitu “masah” (מָשַׁח) yang memiliki arti “meminyaki” atau “memberi upacara peminyakan suci.” Dari kata “masah” ini juga bisa terbentuk kata “mesah, misah” yang artinya “sedang meminyaki” dan bisa menjadi “mesiha”, serta karena adanya substansi kata maka kata “masah” menjadi “masiah” yang berbentuk aktif menjadi bentuk pasif partisif yang artinya “yang diurapi” dan juga bisa berbentuk kata benda yaitu “masiah” yang artinya “minyak.” Kata benda “masiah” artinya mengarah pada “yang diberkati untuk selama-lamanya dengan sebuah kedudukan dimasyarakat,” penggunaan kata “masiah” merupakan perisai bagi Saul dan pada umumnya “mesiah” dipakai untuk melek/raja (2 Sam. 3:39, Yes. 21:5).[2] Kata Mesias diambil dari bahasa Aram mesyiha, yaitu dialek dari bahasa Ibrani masyiah yang berarti “yang diurapi.” Pada awalnya kata ini menunjuk kepada raja yang sedang berkuasa di Kerajaan Israel Raya, terutama dari dinasti Daud. Tetapi  lambat  laun  istilah  Mesias  digunakan  pada  Raja  keselamatan  yang  akan datang,  yaitu  sebagai  pengharapan  bangsa  Israel. Raja yang dinanti-nantikan tersebut dikumandangkan sebagai keturunan Raja Daud, sesuai dengan nubuat nabi Natan dalam  2 Samuel 7. Penantian dan pengharapan bangsa Israel akan seorang raja keselamatan dapat ditemukan dalam nubuat para nabi yang berkarya antara abad 9 sampai dengan abad 5 sebelum masehi. Pada  masa ini bangsa Israel telah mengenal pemerintahan dan kekuasaan raja, sehingga para nabi juga sering menggambarkan Mesias yang dinanti-nantikan itu sebanding dengan raja yang sedang berkuasa pada masa itu.[3] Kata Mesias diterjemahkan dalam bahasa Yunani sebagai “khristos” (diurapi) dan dari kata itu timbul kata Kristus. Kata Mesias dan Kristus memiliki arti dasar yang sama yaitu orang yang akan menjadi juruselamat umat-Nya.[4] Jadi, dari banyaknya pengertian Mesias di atas, dapat disimpulkan bahwa Mesias adalah seorang Raja yang diurapi dan berkuasa penuh di dalam keselamatan manusia.

 

2.3.Latarbelakang Janji Kedatangan Mesias

Pada mulanya gambaran tentang Mesias agak suram dan sulit untuk ditemukan titik terangnya. Pemikiran tentang mengurapi dan pemikiran tentang orang yang diurapi adalah lazim dalam Perjanjian Lama. Dalam kerajaan Israel para raja biasanya diurapi sebagai wakil khusus Allah terhadap umat-Nya. Bagi bangsa Israel Daud merupakan salah satu raja mereka yang termasyur. Kesetiaan Yahweh untuk menjamin janji-Nya tidak dapat diingkari, janji itu diteruskan kepada penerus-penerus raja Daud; kesetiaan Yahwe tidak tergantung pada kesetiaan keturunan Daud yang meragukan. Sesudah Daud, muncul raja-raja baru dan kerajaan Israel terpecah menjadi beberapa bagian. Ditengah keterpurukan ini muncul suatu pengharapan akan datang seorang raja dari keturunan Daud yang akan memulihkan kerajaan Israel seperti yang diramalkan oleh nabi Yesaya (Yes. 7:14; 9:2-7 -7).[5]

Sudah sejak awal Kitab suci menjelaskan bahwa Allah adalah Raja orang Israel. Semula istilah Mesias menunjuk pada seorang raja yang merupakan manifestasi dari pemerintahan Allah di dunia. Raja sebagai wakil Allah menjadi pelindung dan pemelihara kedamaian dan kedilan di dunia. Mazmur 72 menunjukkan tugas seorang raja (Maz. 72:2; 7, 12). Salah satu contoh pengurapan seorang raja dalam Perjanjian Lama adalah pengurapan raja Koresy. Dalam Yes . 45:1 dikatakan bahwa Koresy, raja Persia disapa sebagai “yang Ku-urapi” (mesyikho). Disini ada 5 unsur yang jika ditinjau dengan terang Alkitab bagian yang lain, jelas menentukan garis pikiran utama tertentu mengenai Mesianisme Perjanjian Lama. Koresy adalah orang yang dipilih Allah (Yes. 41:25) ditetapkan untuk menggenapi satu tujuan penyelamatan bagi umat Allah (Yes. 45:11-1), dan menggenapi hukuman terhadap musuh-musuhNya (Yes.47). Kepadanya diberikan kuasa untuk memerintah bangsa-bangsa (45:1-3), dan dalam semua tindakannya, yang sesungguhnya bertindak adalah Yahweh sendiri (Yes. 45:1-7). Kedudukan n“yang diurapi” dari Koresy, dengan jelas menunjukkan bahwa dapat dikatakan ada pemakaian “secular” dari istilah mesianik.[6]

 

2.4.Arti dan Makna Janji Kedatangan Mesias Secara Biblika

2.4.1.   Perjanjian Lama

Janji akan Kedatangan Mesias pada Perjanjian Lama bukanlah tanpa alasan, dari berbagai alasan yang menyebabkan adanya pengharapan tersebut diantaranya adalah karena Allah telah menjanjikan kedatang dan kehadiran Juruselamat. Karena bangsa Israel menginginkan sosok yang membawa keselamatan serta membebaskan mereka dari musuh-musuh. Asal-usul adanya Mesias dapat ditelusuri dari gagasan adanya raja yang ilahi. Pengharapan akan Mesias itu timbul karena penglihatan gambaran raja keturunan Daud yang ideal pada raja-raja masa mendatang yang terkait dengan nubuat Natan dalam 2 Samuel 7.[7] Nubuatan nabi Natan tersebutlah yang semakin berkembang dan diinterpretasikan ulang oleh para nabi kemudian sehingga timbul gagasan dan pengharapan Mesianis. Memang para nabi semakin jelas menunjuk pada kedatangan seorang Mesias tetapi tanpa menggunakan istilah Mesias secara langsung. Antara lain diantara beberapa bagian Perjanjian Lama sering disebutkan bahwa dinasti Daud akan abadi, tanpa menyebut nama seorang Putra ataupun keturunan Daud (bnd. 2 Sam. 7:12-17; Yer. 33:17; Mzm. 88:4, 29; 18:5).[8] Penantian seorang raja adil yang akan diangkat Tuhan memainkan peranan yang semakin besar di dalam kepercayaan mereka, terutama para nabi pada zaman raja-raja itulah yang membangkitkan dan mengembangkan penantian yang biasa disebut penantian Mesias. Berkaitan dengan hal ini maka Tuhan Allah Israel menghendaki suatu pemerintahan yang adil, sehingga ia berulang-ulang mengambil tindakan mengangkat raja-raja dan melenyapkan raja-raja.[9]

2.4.2.   Perjanjian Baru

Perjanjian Lama memberi kesaksian tentang Mesias ialah Kristus yang akan datang; Perjanjian Baru memberi kesaksian tentang Kristus ialah Mesias yang telah datang. Perjanjian Lama berpusat pada Janji Allah; Perjanjian Baru memberikan penggenapan Janji itu.[10] Mesias akan dilahirkan dari seorang Perempuan (Kej. 3:15) dan ini digenapi dalam (Mat.1:20; Gal. 4:4), Mesias akan datang dari keturunan Abraham (Kej. 12:3; 22:18) dan ini digenapi dalam (Mat.1:1; Rm.9:5), Mesias akan datang dari keturunan Ishak (Kej. 17:19; 21:12) dan ini digenapi dalam (Luk. 3:34), Mesias akan datang dari keturunan Yakub (Bil. 24:17) dan ini digenapi dalam (Mat. 1:2),  Mesias akan datang dari suku Yehuda (Kej. 49:10) dan ini digenapi dalam (Luk. 3:33; Ibr. 7:14), Mesias merupakan ahli waris tahta raja Daud (2 Sam. 7:12-13) dan ini digenapi dalam (Luk. 1:32-33; Rm. 1:3).[11]

Kata Mesias dalam PL merujuk kepada Kristus dalam PB, sebagai sebuah gelar yang diberikan kepada Yesus. Pandangan Yesus tentang kedatangan Mesias dan akhir zaman dapat dilihat dalam kitab Injil, khususnya Markus dan Lukas. Kerajaan Allah (basileia tou theou) adalah istilah pokok pemberitaan Yesus yang memproklamasikan bahwa waktunya telah genap; “Kerajaan Allah sudah dekat (Mrk.1:15)”. Kerajaan yang dimaksudkan bukanlah pemerintahan dan otoritas secara teretorial di tengah-tengah dunia ini, melainkan pemerintahan yang membawa keadilan, keselamatan dan perlindungan bagi mereka yang miskin dan sakit, yang hina-dina, ditindas, janda-janda dan yatim piatu, juga membawa pertolongan serta kebahagiaan, sehingga semua bangsa akan mengakui dan memuliakan pemerintahan-Nya. Dalam Injil dikatakan bahwa waktu penyelamatan sudah dekat (Luk.21:28), dan menjelang masa eskaton, dunia akan dilanda malapetaka (Mat.24:35, par. Mrk.13:1-37) sebagai pendahuluan parousia Tuhan. Yesus menyatakan bahwa Injil harus diberitakan terlebih dahulu kepada semua bangsa sebagai pra-syarat parousia tersebut (Mrk.13:10). Semua peristiwa yang dinyatakan Yesus tersebut merupakan isyarat-isyarat bagi jemaat yang menunjukkan bahwa jemaat sedang berada di tengah jalan, dengan sangat susah payah menuju kemuliaan parousia Kristus yang sudah dekat itu (Mrk.13:26, bnd. Dan.7:13). Oleh karena itu, manusia dituntut untuk senantiasa berjaga-jaga dan siap sedia. (Luk.21:34-36; bnd.Mat.25). Seiring dengan itu, jemaat juga semakin didorong untuk mengucapkan permohonan: “Datanglah Kerajaan-Mu (Mat.6:10)”, yang juga merupakan bagian dari Doa Bapa Kami.[12]

 

 

2.5.Arti dan Makna Kedatangan Mesias Secara Sistematika

Kedatangan Tuhan Yesus yang pertama telah menggenapi banyak nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama. Dalam terminologi menuliskan bahwa kata telos menunjuk juga pada “akhir dunia‟ (lih. Mat. 24:6; 24:14, Mrk.13:7, Luk. 21:9, 1Kor. 10:11, 1Pet. 4:7, Why. 2:26). Tuhan Yesus juga menjanjikan penggenapan akhir zaman pada kedatanganNya yang kedua kali yang juga disebut penyempurnaan (consumasi). Jadi secara garis besar ada korelasi yang simultan dan progress antara penggenapan dan penyempurnaan. Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua dikategorikan dalam Eskatologi umum. Anthony H. Hoekma menggunakan istilah Eskatologi yang akan datang (future eschatology).[13]

Sepanjang Alkitab peristiwa kedatangan Kristus yang kedua kali memperoleh kedudukan yang penting. Sekalipun kedatangan yang pertama dan kedua sering digabungkan dengan begitu erat dalam nubuat PL sehingga sulit mengemukakan ayat-ayat yang secara khusus membahas tentang kedatangan Kristus yang kedua kali, namun ada beberapa ayat yang dengan jelas berbuat demikian (Ayb. 19:25, 26; Daniel 7:13, 14; Zakharia 14:4; Maleakhi 3:1,2). PB menyebut doktrin ini lebih dari tiga ratus kali. Bahkan ada pasal-pasal yang seluruhnya dipakai untuk memberitahukan kedatangan Kristus yang kedua kali ini (Mat. 24, 25; Mar. 13; Luk. 21; band. 1Kor. 15). Bahkan ada kitab-kitab tertentu yang secara khusus ditulis untuk membahas pokok ini (ITesalonika; IITesalonika; dan Kitab Wahyu).[14] Jadi kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali adalah janji Tuhan Yesus yang akan digenapi pada kedatangan-Nya yang kedua kali.

Perjanjian lama menegaskan bahwa waktu penggenapan perjanjian tersebut akan terjadi dimasa depan (Yer. 31:31-40; Hos. 2:18-20). Rasul Paulus mempercayai keterangan Alkitab tersebut dan menganggap penggenapan Perjanjian Baru akan terjadi setelah kedatangan Kristus ke Bumi (Rm. 11:26-27).[15] Paul Enns menjelaskan tentang pekerjaan Kristus di masa yang akan datang, ia menjelaskan pengharapan yang diperlihatkan di Kitab Suci merupakan restorasi terakhir dari segala sesuatu di bawah Mesias. Dalam satu fase kedatangan-Nya akan menggenapi pengharapan mulia dari gereja, suatu peristiwa kebangkitan dan reuni (1Kor. 15:51-58; 1Tes. 4:13-18; Tit. 2:13) dalam fase yang lain kedatangan-Nya akan merupakan penghakiman bagi bangsa yang tidak percaya dan setan (Why. 19:11-21), dan akan merupakan penyelamatan bagi umat-Nya, Israel (Mik. 5:4, Zak. 9:10).[16] Jadi Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali merupakan penggenapan janji Tuhan Yesus tentang akhir zaman yang akan menggenapi peristiwa kebangkitan (resurection), pengangkatan (rapture), perubahan (translation), penyiksaan (tribulasion) dan penghakiman (judgement) di akhir zaman. Peristiwa ini merupakan dasar dari pengharapan orang Kristen, yaitu peristiwa yang merupakan awal dari puncak penggenapan rencana Allah[17]

 

2.6.Arti dan Makna Janji Kedatangan Mesias Secara Historika

2.6.1.      Pada masa pra-pembuangan

Nabi Amos kelihatan sebagai nabi yang pertama mengukuhkan nubuat nabi Natan tersebut. Bahwa Israel sedang menantikan mesias dari keturunan Daud (Am.9:11-15). Di sini nabi Amos melihat kedatangan mesias sebagai pembawa keselamatan bangsa. Nabi yang sezaman dengan Amos, yakni Hosea mengembangkannya dalam rangka penyatuan kembali Israel yang terpecah, mesiaslah yang akan melakuaknnya. Implikasi kedatangan Mesias bagi nabi Hosea adalah Israel akan bersatu dan menjadi bangsa yang baru yang dipenuhi kedamaian (Hos. 2:20-22). Yesaya dalam bagian tertentu bernubuat pada zaman prapembuangan melihat bahwa Yerusalem akan runtuh tapi dalam pasal yang sangat terkenal yakni 7, 9 dan 11 melihat di masa depan, mesias akan datang dari keturunan Daud, namun penekanannya bukan lagi bangsa Israel secara keseluruhan namun sisa Israel yang taat hukum dan berlaku adil. Mesias itu sendiri dipenuhi Roh Yahweh, dan namanya ialah Imanuel (nama yang populer bagi umat Kristen, namun sebenarnya Imanuel sarat dengan multi-interpretasi). Sementara nabi yang lain yakni Mikha (Mi.5:1-4a) melihat Mesias tidak hanya berkaitan dengan Yehuda dan Israel melainkan pemerintahannya sampai ke ujungujung bumi.[18]

2.6.2.      Masa Pembuangan

Dinamika kehancuran Israel mewarnai pemberitaan tentang Mesias oleh nabi Yeremia. Faktanya memang dinasti Daud sudah hancur. Namun, sang nabi tetap memberitakan kedatangan Mesias dari keturunan Daud; bedanya ialah bahwa pemerintahan raja akan berdampingan dengan keimaman yang sungguh sungguh terarah kepada penyembahan Yahweh (Yer.33:17-18). Mirip dengan Yeremia nabi Yehezkiel yang juga bernubuat setelah runtuhnya Yerusalem, melihat Mesias akan datang tapi warna kepemimpinannya lebih sebagai seorang gembala dan kawanan dombanya. Dalam kitabnya kata “nasi” berarti “gembala” dan “melekh” berarti “raja” dipakai dalam arti yang sama.[19]

2.6.3.      Masa setelah Pembuangan

Diwakili oleh kitab Hagai dan Zakharia, pengharapan Mesias tetap ada dan kuat yang telah mendinamisasi pembangunan kembali tembok Yerusalem dan Bait Allah. Nabi Hagai sendiri melihat Zerubabel sebagai Mesias yang diharapkan sebab ia memimpin Israel untuk membangun Bait Allah. Namun Zakharia melihat bukan dia melainkan tokoh yang masih dinanti kedatangannya dalam dua sosok yakni iman dan raja.[20]

 

2.6.4.      Masa Reformasi Gereja

Martin Luther adalah seorang imam Katolik di Jerman pada era Reformasi Protestan, yang membawa pembaharuan sehingga Gereja Lutheran terbentuk.  Ajarannya tentang Kristus adalah bahwa setiap orang Kristen tidak bebas dari Kristus, melainkan bebas dalam Kristus.[21] Luther tidak percaya bahwa orang Kristen atau seorang manusia mana pun mampu membawa orang Yahudi mengenal Yesus Kristus sebagai Mesias. Hal ini hanya bisa dilakukan lewat firman Tuhan. Menurutnya, hanya Alkitab yang mampu membawa seorang Yahudi kepada Mesias dan berdasarkan firman Tuhan saja (sola scriptura) dapat dibuktikan bahwa mereka tidak perlu menunggu seorang Mesias lagi karena Mesias sudah datang dalam diri Yesus Kristus. Kejadian 49:10-12 Membuktikan Bahwa Mesias Sudah Datang Berdasarkan Kejadian 49:10-12: “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa,” Luther menjelaskan bahwa orang Yahudi salah jika mereka tetap menunggu kedatangan seorang Mesias karena terbukti di sini bahwa Mesias sudah datang. Sejak Yerusalem dimusnahkan oleh orang Roma, bangsa Yahudi tidak memiliki seorang raja lagi. Itu berarti selama 1500 tahun (dihitung dari zaman Luther) tidak ada “tongkat kerajaan” bagi mereka dan mereka tidak memiliki kerajaan atau seorang raja lagi. Dengan demikian nubuatan Yakub leluhur mereka tentang seorang Mesias telah digenapi sebelum Yerusalem dimusnahkan pada 70 AD, membuktikan bahwa Mesias sudah datang sejak 1500 tahun lalu (dari zaman Luther).[22]

 

2.7.Arti dan Makna Kedatangan Mesias Secara Praktika

Penginjilan atau memberitakan Injil adalah menyebarluaskan kabar baik bahwa Yesus Kristus telah mati untuk dosadosa manusia dan bangkit di antara orang mati sesuai dengan Alkitab, dan bahwa sebagai Tuhan yang memerintah, Ia sekarang menawarkan pengampunan dosa dan pembebasan oleh Roh kepada semua orang yang bertobat dan percaya.[23] Lukas mencatat di dalam Injilnya demikian, Kata-Nya kepada mereka, "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem (Luk. 24:46-47). Sejatinya orang Kristen itu sebagai penyambung lidah Allah untuk menyampaikan berita pengampunan Allah kepada manusia berdosa.[24]

 

2.8.Arti dan Makna Kedatangan Mesias Secara Ilmu Agama-Agama

2.8.1.      Agama Hindu

Pada salah satu teks kuno India, yaitu Visnu Purana, disebutkan bahwa di penghujung periode kali Yuga (era terburuk dari era-era sebelumnya), akan datang seorang kalki atau “Sang Penunggang” yang merupakan “the tenth avatar” atau inkarnasi kesepuluh dari Wisnu. Menurut riwayat, Kalki akan datang ke dunia sambil menunggangi seekor kuda putih dan meng genggam sebilah pedang api untuk menumpas segala bentuk kejahatan dan mengembalikan nilai-nilai kesucian.[25]

2.8.2.      Agama Buddha

Menurut ajaran Budha, disebutkan bahwa Siddhartha Gautama meramalkan datangnya seorang Budha yang lain atau the Buddha to come di masa yang akan datang. Budha yang akan datang ini bernama Mettaya (dalam bahasa Sansekerta disebut; Maitreya), artinya adalah “cinta”. Menurut riwayat, Sang Mettaya akan datang untuk menegakkan sebuah kerajaan ideal di muka bumi. Sebuah kerajaan yang akan memerintah dengan keadilan dan penuh kedamaian.[26]

2.8.3.      Agama Islam

Umat Islam melalui ajaran Kitab Suci Al-Qur’an dan hadis-hadis Baginda Rasulullah saw, juga meyakini akan datangnya seorang manusia yang bergelar al-Mahdi menjelang akhir zaman untuk menegakkan ajaran Islam dan kebenaran, menuai kebatilan serta menabur keadilan. Banyak riwayat hadis-hadis Nabi SAW yang telah dicatat oleh para perawi hadis kelas pertama Suni dan Syiah tentang keda tangan al-Mahdi untuk menyelamatkan Islam dan pengikutnya dari keterpurukan dan kehancuran. Di dalam Islam, konsep mesianik terdapat di dalam pemahaman mengenai Nabi Isa yang akan datang menjelang hari pembalasan untuk mengalahkan al-Masikh ad-Dajjal. Pemahaman ini tidak terdapat di dalam Quran, melainkan bersumber dari al-Hadits. Dahulu Nabi Isa belum mati sebab Allah SWT mengangkat dirinya ke langit (syurga-belum mati hingga sekarang) ketika orang-orang/masyarakat pada saat itu ingin menyalibnya dengan menggantinya pada orang yang diserupakan, sehingga Nabi Isa akan diturunkan kembali ke dunia sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana.[27]

 

III.             Analisa Penyeminar

Dari pemaparan di atas, janji kedatangan Mesias telah ada sejak zaman Perjanjian Lama. Saat itu bangsa Israel sedang berada didalam pembuangan di mana mereka dijajah dan ditindas oleh bangsa lain. Bangsa Israel hidup tanpa memiliki harapan tentang masa depan. Masa depan mereka sangat suram bahkan cenderung gelap. Didalam situasi dan kondisi seperti ini mereka menantikan munculnya secercah harapan bagi pemulihan kondisi mereka. Mereka sungguh menanti-nantikan hadirnya Mesias yang akan mengubah masa depan suram menjadi masa depan yang penuh harapan.

Sama seperti bangsa Israel, saat ini krisis global menyebabkan banyak orang mengalami stress, depresi dan gangguan jiwa. Banyak insan manusia yang hidupnya remuk redam dan hancur berantakan karena hantaman badai krisis global yang sangat kuat. Akibatnya tidak sedikit orang yang tidak mampu lagi menghadapi tekanan hidup dan mengambil jalan pintas dengan melakukan bunuh diri. Didalam dunia ini tidak ada seorangpun yang sanggup memberikan pertolongan yang sempurna dan menyeluruh. Konselor-konselor didalam dunia hanya memiliki kemampuan untuk memahami pergumulan dan perasaan konselinya secara dangkal. Selain daripada itu konselor didalam dunia juga tidak akan mau dan mampu menanggung beban serta pergumulan yang dihadapi oleh konselinya. Hanya Yesus, Sang Penasehat Ajaib (Yes. 9:6)  adalah satu-satunya jawaban bagi segala persoalan dunia. Yesus sanggup memberi kekuatan bagi yang lemah, memberi kemenangan bagi mereka yang menyerah dan memberi gairah kehidupan bagi mereka yang patah semangat (Mat. 11: 28). Yesus sungguh dibutuhkan oleh manusia yang berada dalam dunia yang sedang mengalami krisis global yang mengerikan ini.

Oleh sebab itu manusia harus segera lari dan datang kepada Yesus yang adalah Penasehat Ajaib untuk mendapatkan penghiburan dan kekuatan yang sejati dalam menghadapi krisis global. hanya dekat dengan Yesus saja, sang Pahlawan yang Perkasa, manusia akan kuat dan tangguh dalam menghadapi serangan dari musuh abadi yaitu iblis. Dekat dengan Yesus berarti memiliki hubungan yang intim dengan Yesus melalui berdoa dan membaca Alkitab dalam saat teduh setiap hari. Dekat dengan Yesus juga berarti hidup selalu takut akan Tuhan dengan selalu mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dengan demikian maka iblis akan gentar dan lari dari hadapan orang yang dekat dengan Yesus.

                                                     

IV.             Kesimpulan

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa:

1.      Mesias adalah seorang Raja yang diurapi dan berkuasa penuh di dalam keselamatan manusia. Mesias adalah Raja di atas segala Raja yang memberikan keadilan dan kebebasan bagi semua orang.

2.      Secara Biblika, dalamPerjanjian Lama Mesias dinubuatkan dan digenapi di dalam Perjanjian baru. Kelahiran Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru dilihat sebagai penggenapan nubuatan para nabi Perjanjian Lama tentang kedatangan Mesias. Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, dunia PL mengharapkan kedatangan seorang Mesias, yang akan membebaskan mereka dari ketertindasan jasmani dan seorang Raja yang akan mengalahkan tirani Romawi yang sedang menjajah mereka (pembebasan secara politis).

3.      Di dalam Sistematika janji kedatangan Mesias ialah kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali merupakan penggenapan janji Tuhan Yesus tentang akhir zaman yang akan menggenapi peristiwa kebangkitan (resurection), pengangkatan (rapture), perubahan (translation), penyiksaan (tribulasion) dan penghakiman (judgement) di akhir zaman. Peristiwa ini merupakan dasar dari pengharapan orang Kristen, yaitu peristiwa yang merupakan awal dari puncak penggenapan rencana Allah.

4.      Janji kedatangan Mesias tidak hanya ada di dalam ajaran Kristen saja, melainkan di dalam ilmu agama-agama pun ada pembahasan tentang kedatangan Mesias yang disebut sebagai Mesianik. Di dalam ilmu agama-agama Mesias hadir sebagai penolong,  pembebas, penegak keadilan, menumpas segala bentuk kejahatan dan mengembalikan nilai-nilai kesucian.

5.      Di dalam masa krisis global, tidak ada alasan untuk bersedih, terpuruk, atau bahkan jatuh karena manusia memiliki Mesias yang mampu untuk menopang dan menolong ketika manusia itu  mengimani bahwa ia memiliki Mesias di dalam hidupnya, yaitu  Yesus Kristus. Yesuslah satu-satunya pribadi yang mampu memberikan pertolongan bagi manusia dalam krisis global. Yesuslah jawaban bagi manusia didalam dunia yang sedang dihantam oleh krisis global.

 

V.                Daftar Pustaka

Barth, C., Teologi Perjanjian Lama 2, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2009.

Berkhof, Louis, Teologi Sistematika, Doktrin Tentang Akhiir Zaman, Surabaya: Momentum, 2010.

Beyer, Ulrich, Garis-garis Besar Eskatologi Dalam Perjanjian Baru, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.

Darmawijaya, Jiwa dan Semangat Perjanjian Lama 2, Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Enns, Paul, The Moody Hand Book Of Theology 1 Malang: Literatur SAAT, 2004.

Erickson, Millard J., Teologi Kristen Volume III, Malang: Gandum Mas, 2004.

https://id.wikipedia.org/wiki/Yesus_dan_nubuat_mesianik, diakses pada Senin, 12 Oktober 2020

https://www.kompasiana.com/www.warungjagadsamudra.com/55185c00a333115307b66499/lima-agama-besar-yang-mendominasi-dunia-termasuk-islam-menyatakan-bahwa-mereka-meyakini-konsep-mesianisme, diakses pada Senin, 12 Oktober 2020

Iskander, John, "Antichrist". In Encyclopedia of Islam. Juan Campo (ed.), New York: Facts On File. 2009.

Kustono, A. Hari, Diktat Seminar Paham Mesias, Yogyakarta: Fakultas Teologi Wedabhakti, 2012.

Lasor, W. S., dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2 (Sastra dan Nubuat), Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2011.

Ludji, Barnabas, Kerajaan Mesias, Jakarta: UPI STT Jakarta, 2002.

Mc.,  Dowell, Josh, Apologetika I, Malang: Gandum Mas, 2000.

Packer, J. I., Penginjilan Dan Kedaulatan Allah, Surabaya: Momentum, 2003.

Pandesolang, Welly, Eskatologi Biblika, Yogyakarta: Andi Offset, 2009.

Scheunemann, V. V., Apa Kata Alkitab Tentang Dogma Kristen, Malang: YPPII, 1992.

Schweid, Elizer, Jewish Messinism Metamorphoses of an Idea, Yogyakarta: Diktat Seminar Paham Mesias, Fakultas Teologi Wedah Bhakti, 2012.

Seybold, masah dalam Theological Dictionary Of The Old Testment Volume IX, ed: G. Johannes Botter Week-Helmer Ringgren, Heinz-Josef Fabry, Michigan/ Cambridge, U. K: Williams B. Edrmans Publishing Company, 1974.

Siahaan, S. M., Pengharapan Mesias Dalam Perjanjian Lama, Jakarta :BPK Gunung Mulia, 2008.

Siahaan, S. M. Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2008.

Snoek, I. Sejarah Suci, Jakarta: BPK-GM, 2008.

Thiessen, Henry c., Teologi Sistematika, Malang: Gandum Mas, 1992.

Veronika Johanna Elbers, Martin Luther dan Penginjilan Terhadap Kaum Yahudi, Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, 2003.



[1] Dowell, Josh Mc.,  Apologetika I, (Malang: Gandum Mas, 2000), 412.

[2] Seybold, masah dalam Theological Dictionary Of The Old Testment Volume IX, ed: G. Johannes Botter Week-Helmer Ringgren, Heinz-Josef Fabry, (Michigan/Cambridge, U. K: Williams B. Edrmans Publishing Company, 1974), 44.

[3] S. M. Siahaan, Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2008), 3- 4.

[4] W. S. Lasor, dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2 (Sastra dan Nubuat), (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2011), 295

[5] Elizer Schweid, Jewish Messinism Metamorphoses of an Idea, (Yogyakarta: Diktat Seminar Paham Mesias, Fakultas Teologi Wedah Bhakti, 2012), 6-7.

[6] A. Hari Kustono, Diktat Seminar Paham Mesias, (Yogyakarta: Fakultas Teologi Wedabhakti, 2012), 1. 

[7] Barnabas Ludji, Kerajaan Mesias, (Jakarta: UPI STT Jakarta, 2002), 34.  

[8] Darmawijaya, Jiwa dan Semangat Perjanjian Lama 2, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), 4-5.

[9] C. Barth, Teologi Perjanjian Lama 2, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2009), 59.

[10]I. Snoel, Sejarah Suci, (Jakarta: BPK-GM, 2008), 250

[11] https://id.wikipedia.org/wiki/Yesus_dan_nubuat_mesianik, diakses pada Selasa pukul 20.34.  

[12] Ulrich Beyer, Garis-garis Besar Eskatologi Dalam Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 17-19

[13] Louis Berkhof, Teologi Sistematika, Doktrin Tentang Akhiir Zaman, (Surabaya: Momentum, 2010), 12

[14] Henry c. Thiessen, Teologi Sistematika, (Malang: Gandum Mas, 1992), 526

[15] Welly Pandesolang, Eskatologi Biblika, (Yogyakarta: Andi Offset, 2009), 19

[16] Paul Enns, The Moody Hand Book Of Theology 1, (Malang: Literatur SAAT, 2004), 295

[17] Millard J. Erickson, Teologi Kristen Volume III, (Malang: Gandum Mas, 2004), 508

[18] S. M. Siahaan, Pengharapan Mesias Dalam Perjanjian Lama, (Jakarta :BPK Gunung Mulia, 2008), 18-27

[19] S. M. Siahaan, Pengharapan Mesias Dalam Perjanjian Lama, 27-94

[20] S. M. Siahaan, Pengharapan Mesias Dalam Perjanjian Lama, 95-159

[21] .D. Wellem., Riwayat Hidup Singkat tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987

[22] Veronika Johanna Elbers, Martin Luther danPenginjilan Terhadap Orang Yahudi, (Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, 2003), 60

[23] V. V. Scheunemann, Apa Kata Alkitab Tentang Dogma Kristen (Malang: YPPII, 1992), 163

[24] J. I. Packer, Penginjilan Dan Kedaulatan Allah (Surabaya: Momentum, 2003), 29

[25]https://www.kompasiana.com/www.warungjagadsamudra.com/55185c00a333115307b66499/lima-agama-besar-yang-mendominasi-dunia-termasuk-islam-menyatakan-bahwa-mereka-meyakini-konsep-mesianisme, diakses pada Senin, 12 Oktober 2020

[26]Ibid

[27] John Iskander, "Antichrist". In Encyclopedia of Islam. Juan Campo (ed.), (New York: Facts On File. 2009).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar