Selasa, 31 Maret 2020

Sejarah Kekristenan Di Filipina


Sejarah Kekristenan Di Filipina
I.                   Pendahuluan
Filipina adalah sebuah Negara yang berada di daerah Samudera Pasifik. Kepercayaan di Filipina awalnya adalah kepercayaan animisme yang menyembah kepada alam. Dalam perkembangannya Filipina menjadi Negara yang dominan agama Katolik. Dalam proses kristenisasi di Filipina banyak tantangan dan hambatan yang harus dilalui oleh para misionaris. Dalam pelajaran kali ini kita akan membahas bagaimana proses yang terjadi dan bagaimana kekristenan itu pada awalnya di Filipina.
II.                Pembahasan
2.1.Sekilas Mengenai Negara Filipina
            Negara Filipina letaknya tepat berada di Samudera Pasifik Barat sejauh 800 km di Tenggara Cina dan berada di Timur Laut Kalimantan serta persis di Selatan Taiwan. Negara ini diperkirakan memiliki 7100 pulau.[1] Pada abad ke-16 penduduk Filipina tinggal terpencar-pencar di daerah pedesaan dengan diikat oleh pertalian keluarga. Belum ada pusat pemerintahan di pulau-pulau Utara, meski setiap daerah berada dibawah penguasa setempat.[2] Sistem pemerintahan penduduk adalah bersifat Baranguay (kampung) yang dipimpin oleh kepala suku. Sehingga pada masa ini belum ada pemerintahan tunggal atas beberapa Baranguay ini, yang disebabkan saling tidak mengertinya bahsa masing-masing suku.
Filipina saat ini merupakan salah satu negara yang paling cepat berkembang di Asia, Filipina adalah negara Asia Tenggara pertama yang memberontak terhadap penguasa kolonial Spanyol pada tahun 1896. 95 %  penduduk Filipina sekarang adalah keturunan melayu yang berhubungan dekat dengan bahasa Indonesia dan mayoritas suku melayu Malaysia. Bahasa utama di Filipina yaitu Filipino (bahasa resmi), Inggris (bahasa resmi), Ilocano (bahasa lokal), agama utamanya adalah Roma Katolik, Protestan, Islam, Budha. Sistem pemerintahannya adalah Republik dengan kepala negara seorang Presiden. Negara Filipina dijajah oleh dua negara yaitu Spanyol dan Amerika Serikat. Spanyol menjajah lebih kurang dari 3 abad, sedangkan Amerika Serikat selama 50 tahun.[3]
2.2.Konteks Negara Filipina
2.2.1.       Konteks Politik
            Republik Filipina diproklamasikan pada tanggal 4 Juli 1946. Negara Filipina dinyatakan merdeka, namun Filipina tetap terikat dengan Amerika Serikat dan menerima bantuan keuangan dari Amerika sebagai balasan perjanjian perdagangan. Pangkalan Militer Amerika di Filipina mendukung pemerintahan Filipina sebaga satu unsur penting dalam strategi Amarika  melawan komunisme. Ferdinand Marcos adalah presiden Filipina pada tahun 1965-1986, dengan sistem demokrasi “otoriterisme berdasarkan Undang-undang Dasar”.[4]
2.2.2.      Konteks Ekonomi
Filipina memiliki sawah-sawah yang bertingkat ditambah dengan penanaman tebu dan tembakau namun hasil pertanian masa itu kurang diindustrialisasikan. Pada umumnya negara Filipina adalah negara yang mata pencaharian penduduknya dibidang pertanian, pertambangan, dan industri. Kehancuran pada masa perang membuat keadaan di Filipina lebih buruk, sehingga ketegangan antara kaum petani penyewa yang sangat miskin dengan pemilik tanah yang kaya semakin meningkat.[5]
2.2.3.       Konteks Sosial
Pada abad ke-16 penduduk Filipina tinggal terpencar-pencar di daerah pedesaan dengan diikat oleh pertalian keluarga. Ras Negrito adalah penduduk asli di Filipina, ada juga campuran melayu dan mangolo. Bahasa resmi di Filipina adalah Tagalog. Percakapan sehari-hari orang Filipina adalah mancampur bahasa Filipina, Inggris, dan sedikit Spanyol. Penduduk yang tertua di Filipina menurut dugaan terdiri dari orang-orang Negrito, orang yang berbadan kerdil dengan warna kulit yang hitam dan rambut kriting, seperti yang masih ada di pulau-pulau Malaysia dan di Irian, di pulau Negro dan Panay masih ada sisa penduduk-penduduk ini di pegunungan, nama pulau Negro juga menjelaskannya.[6]
2.2.4.      Konteks Budaya
Kebudayaan di Filipina adalah tradisi artistik diantara nya: dongeng-dongeng rakyat, musik dan tarian rakyat, seni lukis dan seni pahat juga termasuk dalam kebudayaan mereka. Tetapi untuk menghadiri festival orang Filipina mampu akan berdandan dalam pakaian pesta (fiesta) yang juga merupakan mode campuran antara Spanyol dan pribumi. Baju Balingtawak dengan lengan kupu-kupu yang terkembang adalah pakaian resmi wanita. Barong Tagalog yang dibuat dari serat nanas merupakan kemeja untuk kaum lelaki.[7]
2.2.5.      Konteks Keagamaan
Bangsa Filipina sebelum masuk nya agama Kristen menganut ke percayaan animisme ataupenyembahan berhala dan animistis yang juga disebut dengan agama primitif atau agama kepercayaan akan nenek moyang mereka dahulu, karena belum ada agama yang mendarah daging disana.[8] Cirri-ciri penyembahan unsure-unsur alam (Matahari, bulan, pelangi, pepohonan, gunung). Keberadaan roh-roh gaib dan pengaruhnya terhadap keadaan alam begitu sangat dihormati. Mereka percaya bahwa roh-roh leluhur senantiasa menjagai kehidupan mereka.[9]
2.3.Latar Belakang Kristen di Filipina
Tidak dapat dipungkiri bahwa Filipina adalah negara Katolik. Tercatat bahwa 94%; 84% dari jumlah ini adalah orang Katolik, dan 4 % adalah orang Muslim. Penduduk Filipina adalah anggota jemaat Gereja Katolik Roma. Data statistik ini memberi informasi dan indikasi bahwa betapa dominannya agama Katolik dalam masyarakat Filipina. Katolik menjadi agama dominan bagi rakyat Filipina di tengah berbagai macam aliran kepercayaan dan agama yang berkembang di sana, termasuk Protestan. Karena dahulunya bangsa Filipina menganut Animisme, sehingga belum ada agama yang mendarah daging dalam bentuk kebudayaan yang kuat menentang kekristenan. Faktor tersebut misi gereja Katolik Roma lebih berhasil di Filipina ketimbang di tempat-tempat lain di Asia.[10]
2.3.1.      Pengkabaran Injil Katolik Di Filipina
Negara Filipina adalah satu-satunya Negara di Asia yang penduduknya hampir seluruhnya beragama Kristen. Salah seorang Yesuit tiba di Filipina pada tahun 1590 yaitu Pedro Chirino yang menyebarkan agama Katolik di Filipina. Pada saat itu kekurangan pastor mengakibatkan penggembalaan serta pengajaran Katolik kurang mendalam yang berbeda dengan kebijakan Misi Protestan. Pada abad ke-19 timbul pertikaian antara para rahib dan pastor sekuler (yang bukan ordo), bahkan pertikaian ini mempengaruhi gerakan kemerdekaan di Filipina. Kebanyakan orang rahib adalah orang Spanyol, sedangkan para pastor sekuler adalah orang Filipina, hal ini mempunyai akibat bahwa para tokoh nasionalis Filipina menganggap rahib Katolik sebagai tenaga utama penjajahan Spanyol. Hal ini terlihat dimana para rahib ini jadi kaya, sementara orang Filipina dikenakan bayaran tinggi untuk pelayanan sakramen.
Setelah Filipina merdeka 1946 Gereja Katolik Roma memberikan perhatian terhadap pendidikan kaum awam dengan tujuan mempersiapkan orang Katolik untuk memainkan peranan penting dalam masyarakat. Beberapa organisasi awam muncul pada masa itu, termasuk Catholic Action, Student Catholic Action, dan Legian of Mary. Organisasi ini bergerak dalam bidang pengembangan masyarakat (sosial) termasuk hal pengajaran doktrin gereja, semua ini ditempuh melalui pendidikan.sehingga ada yang mengatakan bahwa hasil pendidikan Katolik dan peranan alumni perguruan Katolik sebagai pegawai negeri atau pengusaha mempunyai akibat gereja Katolik terikat pada sistem pemerintahan sebagaimana adanya dan pada keadaan yang bergantung pada negara-negara Barat. Hal ini terlihat dari adanya 1442 sekolah Katolik pada  tahun 1965.[11]
2.3.2.      Pengkabaran Injil Protestan Di Filipina
Protestan di Filipina mulai masuk ketika Amerika berhasil menaklukkan Spanyol dan menguasai negeri Filipina tahun 1898-1946. Motivasi Amerika Serikat menguasai Filipina merupakan campuran alasan strategi, persaingan perdagangan dan cita-cita misi. Pemerintahan Amerika sangat berbeda dengan pemerintahan Spanyol yang diwarnai konsep kebebasan beragama dan pemisahan gereja dan negara. Misi Protestan masuk ke kepulauan Filipina bersamaan dengan penjajahan Amerika. Dari sejak awal, pelayanan misi di Filipina diwarnai suasana kerjasama. Pada bulan April 1901, melalui suatu pertemuan para Pekabar Injil di Manila membentuk persekutuan injili. Badan-badan misi bersepakat membagi wilayah-wilayah penginjilan agar tidak terganggu oleh persaingan. Persetujuan ini berlaku sampai Perang Dunia ke-2. Pekabaran Injil berkebangsaan Filipina memainkan peran penting dalam perkembangan Protestanisme di Filipina. Salah seorang penginjil yang terkenal adalah Pulino Jacinto Zamora (pendeta Protestan pertama yang berkebangsaan Filipina). Dan seorang pekabar Injil Baptis bernama Eric Lund dan Braulio Manikan. Gereja Protestan telah membawa 2,4% dari seluruh populasi menjadi bagian dari anggotanya.  Disamping itu banyak juga orang Katolik yang beralih agama menjadi Protestan dengan alasan politik, dimana menjadi warga protestan adalah tanda kemandirian dan kebebasan dari Imperialisme Spanyol.[12]


2.4.Peran Penduduk Filipina dalam Penginjilan
Kedatangan para misionaris terkhusu dari daerah Spanyol di Filipina berjalan dengan baik melihat penerimaan penduduk pribumi atas pengkabaran injil yang dilakukan oleh para misionaris serta kebutuhan pengabar injil yang semakin meningkat. Misionaris belajar bahasa Filipina dari penduduk setempat begitu juga penduduk setempat belajar bahasa Spanyol dari misionaris. Pengajaran juga bukan hanya sebatas mengenai Injil namun para misionaris juga mengajarkan hal pertanian, irigasi, pemeliharaan tanaman, dan berbagai pengajaran yang berkaitan dengan sosial dan kehidupan warga pribumi sehingga penerimaan Injil dan peran penduduk sangat mendukung dalam hal ini. Namun di beberapa wilayah seperti Mindanao dan Gugusan Sulu yang rata-rata ditempati warga muslim tidak terlalu berdampak kehadirran dan penerimaan penduduk atas kehadiran Injil. Bahkan ada beberapa misionaris yang dibunuh karena kepentingan perniagaan, karena warga setempat menganggap kehadiran misionaris dalam rangka penguasaan wilayah dan perniagaan. Sehingga Spanyol meninggalkan wilayah ini karena wilayah Mindanao dan Sulu ini akan menjadi wilayah pusat pengajaran Islam di Filipina serta disebut sebagai kesultanan Melayu.[13]
2.5.Pertumbuhan Perkembangan Kristen di Filipina
2.5.1.       Kekristenan Pada Masa Pencerahan Sampai Sekarang
Pembaruan gereja Katolik Roma sejak Konsili Vatikan II mempengaruhi perkembangan Gereja Katolik Roma di Filipina. Pendidikan kepemimpinan diberikan porsi penting bagi kaum awam. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan orang Katolik untuk memainkan peran penting dalam masyarakat. Beberapa organisasi awam muncul pada saat itu, di antaranya: Chatolic Action, Student Catolic Action, dll.
Sedangkan dari sisi Protestan, perkembangannya bergerak dalam dua macam keadaan yang saling bertentangan – di satu pihak ada upaya untuk saling bersatu dan bekerjasma, namun di pihak lain sering terjadi perpecahan di dalam gereja. Kesenjangan ekonomi antara Gereja Mandiri Filipina (yang memiliki banyak anggota tetapi miskin) dan Gereja Episkopal Filipina / Anglikan (yang memiliki anggota lebih sedikit namun kaya) sangat terasa. Namun di tengah perkembangan yang demikian, usaha penginjilan mendapat ‘angin segar’ dan badan-badan penginjilan dan pemerlengkapan kaum awam bertumbuh dengan pesat. Gereja-gereja Protestan berkembang secara dramatis sejak tahun 1970-an. Salah satu factor pendukungnya adalah pekabaran Injil yang agresif dalam konteks jaman yang diwarnai dengan perubahan yang terus menerus dan ketidaktentuan. Dalam situasi demikian Injil mendapatkan tempat di hati orang Filipina.Pada masa sekarang Kekristenan di Filipina terus berkembang, dimana agama terbesar adalah agama katolik. Dan agama terbesar kedua adalah Protestan kemudian diikuti dengan agama yang lainnya.[14]
2.6.Tokoh-tokoh Dalam Gereja Filipina
2.6.1.      Sekularisme (Emerito Nacpil)
Pada tahun 1985 Dewan Gereja-gereja Filipina menerbitkan buku nyanyi­an rohani karangan orang Filipina, dengan tujuan mempribumikan ibadalt Kristen Filipina.
Pada tahun 1960-an sejumlah besar gereja Protestan di Filipina di­pimpin oleh orang Filipina, namun masih tergantung pada gereja-gercjti di Amerika Serikat dalam hal kebutuhan keuangan. Gereja-gereja atau hadatt misi yang bare masuk Filipina mempunyai lebih banyak pekabar Injil asing ketimbang tenaga setempat, walaupun orang asing itu melayani di bawah kepemimpinan orang Filipina. Pada tahun 1972 gereja-gereja yang telah tumbuh hasil penginjilan OMF dan SEND bergabung mendirikan ABCOP (Association of Bible Churches of the Philippines). Kepemim­pinan dan keuangan gereja dipegang oleh orang Filipina, namun OMF dan SEND bekerja sama dengan orang Filipina untuk mengabarkan Injil serta mendirikan jemaat-jemaat, dengan diawasi oleh yayasan Filipina.
Banyak orang Filipina merasa tidak sabar lagi karena proses keman­dirian dan Filipinisasi ternyata berjalan lambat, sehingga mereka memi­sahkan diri dan mendirikan gereja-gereja sendiri. Akibatnya, muncullah beberapa golongan yang sama sekali asli Filipina, yang memakai konsep sinkretis, campuran kekristenan dan animisme. Perpecahan-perpecahan juga terjadi akibat ketidakcocokan pribadi para pemimpin.[15]


2.6.2.      Ferdinand Magellan
Kekristenan tiba di Filipina bersama Ferdinand Magellan pada tahun 1521. Pada suatu minggu paskah, 31 maret tahun itu, misa pertama dirayakan dipulau Limasawa, lalu banyak orang pada waktu itu mengikuti iman Magellan. Mereka diyakinkan bahwa “Guntur dan kilat” dari meriam-meriam dikapal-kapalnya adalah suatu penunjukan kekuasaan dewa-dewanya. Dipulau cebu, Magellan membuat kekristenan berkembang lebih jauh. Kristenisasi, ia rasakan adalah jalan sempurna untuk mengautkan hubungan antar spanyol dan pulau-pulau yang baru mereka taklukkan. Proses ini dibuat lebih muda oleh tiga factor: rasa takut, materialisme dan seks.
Pertama, rakyat dipulau-pulau itu takut bahwa mereka tentu akan di hancurkan jika mereka menolak untuk memeluk kepercayaan para penakluk mereka. Pigafetta, pencatat sejarah perjalanan Magellan, telah menulis: “sebagaimana sapu-saputangan menghapus keringat, begitu juga tangan-tangan kami telah menumbangkan dan menghancurkan musuh-musuh kami dan mereka yang membenci kepercayaan kami.”
Kedua, mereka percaya bahwa agama orang-orang asing itu adalah sumber dari kekuasaan dan keperkasaan. Memang Magellang telah berjanji kepada humabon, kepala pulau itu, jika Ia mendapat Kristen, maka ia akan menjadi lebih berkuasa lagi dan akan tidak terkalahkan.
Ketiga, Magellan telah berusaha untuk mengendalikan kegiatan-kegiatan seksual para awak kapalnya dengan menyatakan dengan keras sekali bahwa apabila mereka mengadakan hubungan seksual dengan perempuan-perempuan kafir, maka mereka telah melakukan dosa yang akan mendatangkan kematian. Jadi untuk menghindarkan murka Allah, maka orang-orang Magellan gigih melakukan tugas mereka untuk mentobatkan perempuan-perempuan pribumi itu dan tampa tipu daya, dan dengan wajar saja, membaptis perempuan-perempuan yang telah mereka sukai. Dalam waktu seminggu, Raja Humabon, seluruh anggota rumah tangganya dan 800 orang takluhkannya, dibaptis oleh pendeta armada Magellan.[16]


2.6.3.      Pedro Chirino
Ia adalah seorang Yesuit, tiba di Filipina pada tahun 1590.  Sesudah belajar bahasa Tagalog ia membuka sekolah di kota Taytay. Kelas katekisasi diadakan setiap pagi sesudah kebaktian Misa. Sama seperti metode Xaverius, Chirino mengajak anak-anak terlebih dahulu, kemudian orang dewasa. Chirino memakai nyanyian-nyanyian Tagalog tradisional sebagai sarana mengajarkan iman Katolik. Ia menyesuaikan diri sejauh mungkin dengan adat istiadat Tagalog. Namun, secara tegas ia menyuruh orang yang menjadi Kristen untuk menghancurkan patung-patung dan perlengkapan kuasa-kuasa roh, supaya jelas pemisahan diri dengan kepercayaan lama. Chirino melaporkan banyak muzijat dan banyak orang disembuhkan melalui pelayanan di Taytay. Perkembangan gereja di daerah kepulauan utara mengalami gerakan massal, sehingga hampir seluruh penduduk menjadi Kristen.
2.6.4.      Pulino Jasinto Zamora
Pulino Jasinto Zamora adalah seorang pendeta Protestan pertama yang berkebangsaan Filipina, ia sangat tertarik membaca Alkitab sehingga ia berhubungan dengan lembaga Alkitab. Bersama dengan tiga orang anaknya (Yesus, Nicholass dan Ricardo). Menghadiri kebaktian pertama yang dipimpin oleh James Rodgers di Manila pada bulan Mei 1899. Gereja Methodis berkembang cepat di Filipina pada tahun 1903, 40 jemaat dilaporkan berdiri yang dilayani oleh empat pekabar injil dari luar negeri dan bekerjasama dengan lima orang Filipina. Perkembangan ini pun dilaporkan telah memiliki 60 ribu anggota penuh sehingga pada masa itu Gereja Methodis merupakan Gereja Protestan terbesar di Filipina.
2.6.5.      Eric Lund
Eric Lund adalah seorang pekabar injil baptis yang berkebangsaan Swedia tiba di Filipina pada tahun 1900. Ia bekerjasama dengan seorang Filipina yang bernama Braulio Manikan. Lund dan Manikan bekerjasama menerjemahkan Perjanjian Baru kedalam bahasa daerah tersebut. Misi ini pun disambut baik oleh masyarakat pedesaan dan memusatkan pelayanannya pada pendidikan. Pada tahun 1906 didirikan sekolah industri yang kemudian berkembang menjadi Universitas Filipina Tengah. Disamping itu banyak juga orang Katolik yang beralih agama menjadi Protestan dengan alasan politik, dimana menjadi warga Protestan adalah tanda kemandirian dan kebebasan dari Imperialisme Spanyol. [17]
2.7.Faktor Pendukung dan Penghambat Kekristenan di Filipina
2.7.1.      Faktor Pendukung
1.      Masa Spanyol
-          Agama suku yang tidak kuat sehingga agama Kristen denga mudah menyebarkan injil.
-          Agama lain belum menyebar ke Filipina, sehingga penyebaran injil masih mempunyai peluang.
-          Para misionaris di Filipina mempelajari bahasa Filipina yang berbeda-beda di tiap pulau, tetapi segera mereka mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa Spanyol, hal ini membuat orang Filipina tertarik mengingat sebagian besar penduduk Filipina masih terdiri dari petani yang membuat mereka bersedia masuk agama Kristen.
-          Raja Spanyol Fhilips II mengirim lima biarawan sebagai misionaris ke Filipina, dan semua biaya misi ini ditanggung dari uang kerajaan.
2.      Masa Amerika Serikat
-          Pada masa Amerika Serikat perserikatan Alkitab di Inggris dengan Amerika bekerjasama untuk menerjemahkan PB dalam tiga bahasa daerah di Filipina. Jumlah orang Kristen Roma Katolik pada masa Amerika ini sangat bertambah sampai dua kali lipat.
-          Sarana medis mulai berkembang oleh pemerintahan.
-          Mahasiswa dan pemuda mengadakan kampanye pekabaran injil.
-          Adanya kerjasama antara badan Zending Protestan dengan pemerintahan Filipina.[18]
2.7.2.      Faktor Pendorong dan Faktor Penghambat kekristenan
Faktor Penghambat
1.      Masa Spanyol
-          Walaupun misionaris telah banyak membaptis namun kepercayaan Animisme masih dipertahankan dalam negara tersebut.
-          Kurangnya pastor yang mengakibatkan penggembalaan serta pengajaran yang kurang mendalam.
-          Gereja dan negara memiliki ikatan yang kuat, akibatnya gereja dikendalikan oleh penguasa atau pemerintah seperti mencampuri pemilihan uskup dan pejabat gereja lainnya.
-          Biarawan yang memiliki tanah menyewakan tanahnya dengan harga tinggi kepada petani Filipina sehingga terjadinya pemberontakan dan memisahkan diri dari GKR.
2.      Masa Amerika Serikat
-          Pada masa ini dibuat kebebasan beragama di Filipina dan Amerika membangun banyak sekolah umum, akibatnya pengajaran tentang agama Katolik semakin menurun dan masyarakat hidup sangat menduniawi dan masyarakat semakin jauh dari gereja.[19]
-          Misi Katolik dari Amerika serikat mulai mengelola gereja dengan lebih baik. Mereka mengambil alih tugas-tugas yang pelayanan yang ditinggalkan oleh para padre Spanyol. Itulah keadaan pada rentang tahun itu, yang kemungkinan sempat disertai konflik dan perpecahan dikalangan gereja protestan.[20]
Faktor Pendorong
1.      Pada Masa Spanyol
-          Pekabaran injil merupakan motivasi pertama bagi penjajahan Filipina.
-          Islam belum menyebar keseluruhan jajahan Filipina, sehingga penyebaran injil lebih muda.
-          Pengkabaran gereja di daerah kepulauan utara mengalami gerakan massal, sehingga hamper seluruh penduduk menjadi Kristen.
-          Adanya pendirian perguruan tinggi di Manila yang mendidik calon pastor Filipina.[21]
-          Pada masa Amerika Serikat, diberikan kebebasan penuh agar para utusan injil dapat mengembangkan pelbagai aktivitas pelayanan mereka.[22]
2.      Pada Masa Amerika serikat
-          Banyak para misionaris dari berbagai gereja yang diijinkan Amerika serikat untuk menginjili sehingga pengkabaran injil lebih baik lagi.
-          Pada tahun 1929, banyak energy dari para pemimpin gereja Presbeterian di salurkan kepada upaya-upaya untuk pengabungan.[23]
III.             Kesimpulan
Perkembangan kekristenan di Filipina dapat berkembang dengan pesat karena beberapa faktor. Pertama adalah bahwa pada awal masuknya kekristenan, orang Filipina belum memeluk agama resmi dan masih menganut animisme. Faktor kedua yang penting adalah bahwa gerakan penginjilan yang agresif dan antusias. Peranan kaum awam ketika dilibatkan secara menyeluruh juga menjadi faktor pendorong kemajuan kekristenan. Bangsa yang datang pertama ke Filipina adalah bangsa Spanyol yang menyebarkan agama Katolik. Kemudian diikuti dengan kedatangan bangsa Amerika membawa misi Protestan sehingga banyak orang menganut Protestan. Setelah itu masuklah agama-agama yang lain ke Filipina.
IV.             Daftar Pustaka
Butwell, Richard, Negara dan Bangsa (Asia) , Jakarta: Grolier International, 1988), 244
http://en.wikipedia.org/wiki/Filipina, diakses pada tanggal 19 Februari 2014
http://kekristenandifilipina.blogspot.co.id/2014/10/kekristenan-di-filipina-1.html, diakses pada tanggal 26 Maret 2018 Pukul  16:35 wib.
Mangandaralam, Syahbuddin, Mengenal dari Dekat FILIPINA Tanah Air Patriot Pujangga Jose Rizal, Remadja Karya: Bandung,1988
Martinez, Salvador T., “Yesus Kristus Dalam Kesalehan Orang Banyak Di Filipina” Dalam Wajah Yesus Di Asia, Jakarta: BPK-GM, 2003
Romulo, Carles P., Negara dan Bangsa Asia Jilid 3, Jakarta: Widyadara, 2000
Ruck, Anne, Sejarah Gereja Asia, Jakarta : BPK-GM, 2013
Sugitharajah, R.S., Wajah Yesus di Asia (terj), Jakarta: Gunung Mulia, 1994
Tolliver, Ralph, “Filipina” Dalam Sejarah Gereja Asia II, Malang : Gandum Mas, 2002
Van, Schie, G.. Rangkuman Sejarah Kristiani Dalam Konteks Sejarah Agama-Agama Lain – Buku 3 Jakarta: Obor, 1995
Woltergeek, J. D, Gereja-gereja Tetangga Indonesia, Djakarta :  Percetakan Van Dorp, 1559


[1] Ralph Tolliver, “Filipina” Dalam Sejarah Gereja Asia II (Malang:Gandum Mas, 2002), 231
[2] Carles P. Romulo, Negara dan Bangsa Asia Jilid 3, (Jakarta: Widyadara, 2000), 246-247
[3] Richard Butwell, Negara dan Bangsa (Asia) , (Jakarta: Grolier International, 1988), 244
[4] Richard Butwell, Negara dan Bangsa, (Jakarta : Widya Kara, 2000), 247-249
[5] Richard Butwell, Negara dan Bangsa,247-249
[6] J.D. Wolterbeek, Geredja-Geredja Di Negeri-Negeri Tetangga Indonesia, (Djakarta: BPK-GM, 1959), 19-21
[7] Richard Butwell, Negara dan Bangsa, 247-249
[8] Richard Butwell, Negara dan Bangsa, 247-249
[9] Jonathan E.Culver, Sejarah Gereja Asia (Bandung:Biji Sesawi, 2014), 254
[10] http://en.wikipedia.org/wiki/Filipina, diakses pada tanggal 10 April 2018
[11] Salvador T. Martinez, “Yesus Kristus Dalam Kesalehan Orang Banyak Di Filipina” Dalam Wajah Yesus Di Asia, (Jakarta: BPK-GM, 2003), 391
[12] Schie, G. van. Rangkuman Sejarah Kristiani Dalam Konteks Sejarah Agama-Agama Lain – Buku 3 (Jakarta: Obor, 1995), 122

[13] Anne Ruck, Sejarah Gereja Asia, (Jakarta : BPK-GM, 2013), 241
[14] Syahbuddin Mangandaralam, Mengenal dari Dekat FILIPINA Tanah Air Patriot Pujangga Jose Rizal, (Remadja Karya: Bandung,1988), 405
[15] http://kekristenandifilipina.blogspot.co.id/2014/10/kekristenan-di-filipina-1.html, diakses pada tanggal 26 Maret 2018 Pukul  16:35 wib.
[16] R.S. Sugitharajah, Wajah Yesus di Asia (terj), (Jakarta: Gunung Mulia, 1994), 390-391
[17] Anne Ruck, Sejarah Gereja Asia, 241-242
[18] J. D. Woltergeek, Gereja-gereja Tetangga Indonesia, (Djakarta :  Percetakan Van Dorp, 1559), 197-212
[19] http://en.wikipedia.org/wiki/Filipina, diakses pada tanggal 10 April 2014
[20] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Asia,(Bandung: Biji Sesawi, 2014), 267
[21] Anne Ruck, Sejarah Gereja Asia, 232-235
[22] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Asia, 267
[23] Richard Butwell, Negara dan Bangsa, 256

Tidak ada komentar:

Posting Komentar