Sejarah
Kekristenan Di Filipina
I.
Pendahuluan
Filipina adalah sebuah Negara yang
berada di daerah Samudera Pasifik. Kepercayaan di Filipina awalnya adalah
kepercayaan animisme yang menyembah kepada alam. Dalam perkembangannya Filipina
menjadi Negara yang dominan agama Katolik. Dalam proses kristenisasi di
Filipina banyak tantangan dan hambatan yang harus dilalui oleh para misionaris.
Dalam pelajaran kali ini kita akan membahas bagaimana proses yang terjadi dan
bagaimana kekristenan itu pada awalnya di Filipina.
II.
Pembahasan
2.1.Sekilas
Mengenai Negara Filipina
Negara Filipina
letaknya tepat berada di Samudera Pasifik Barat sejauh 800 km di Tenggara Cina
dan berada di Timur Laut Kalimantan serta persis di Selatan Taiwan. Negara ini
diperkirakan memiliki 7100 pulau.[1]
Pada abad ke-16
penduduk Filipina tinggal terpencar-pencar di daerah pedesaan dengan diikat
oleh pertalian keluarga. Belum ada pusat pemerintahan di pulau-pulau Utara,
meski setiap daerah berada dibawah penguasa setempat.[2]
Sistem pemerintahan penduduk adalah bersifat Baranguay (kampung) yang
dipimpin oleh kepala suku. Sehingga pada masa ini belum ada pemerintahan
tunggal atas beberapa Baranguay ini, yang disebabkan saling tidak
mengertinya bahsa masing-masing suku.
Filipina saat ini
merupakan salah satu negara yang paling cepat berkembang di Asia, Filipina
adalah negara Asia Tenggara pertama yang memberontak terhadap penguasa kolonial
Spanyol pada tahun 1896. 95 % penduduk Filipina sekarang adalah keturunan
melayu yang berhubungan dekat dengan bahasa Indonesia dan mayoritas suku melayu
Malaysia. Bahasa utama di Filipina yaitu Filipino (bahasa resmi), Inggris
(bahasa resmi), Ilocano (bahasa lokal), agama utamanya adalah Roma Katolik,
Protestan, Islam, Budha. Sistem pemerintahannya adalah Republik dengan kepala
negara seorang Presiden. Negara Filipina dijajah oleh dua negara yaitu Spanyol
dan Amerika Serikat. Spanyol menjajah lebih kurang dari 3 abad, sedangkan
Amerika Serikat selama 50 tahun.[3]
2.2.Konteks Negara
Filipina
2.2.1.
Konteks
Politik
Republik
Filipina diproklamasikan pada tanggal 4 Juli 1946. Negara Filipina dinyatakan
merdeka, namun Filipina tetap terikat dengan Amerika Serikat dan menerima
bantuan keuangan dari Amerika sebagai balasan perjanjian perdagangan. Pangkalan
Militer Amerika di Filipina mendukung pemerintahan Filipina sebaga satu unsur
penting dalam strategi Amarika melawan komunisme. Ferdinand
Marcos adalah presiden Filipina pada tahun 1965-1986, dengan sistem demokrasi
“otoriterisme berdasarkan Undang-undang
Dasar”.[4]
2.2.2.
Konteks Ekonomi
Filipina memiliki sawah-sawah yang
bertingkat ditambah dengan penanaman tebu dan tembakau namun hasil pertanian
masa itu kurang diindustrialisasikan. Pada umumnya negara Filipina adalah
negara yang mata pencaharian penduduknya dibidang pertanian, pertambangan, dan
industri.
Kehancuran pada
masa perang membuat keadaan di Filipina lebih buruk, sehingga ketegangan antara
kaum petani penyewa yang sangat miskin dengan pemilik tanah yang kaya semakin
meningkat.[5]
2.2.3.
Konteks
Sosial
Pada abad ke-16
penduduk Filipina tinggal terpencar-pencar di daerah pedesaan dengan diikat
oleh pertalian keluarga. Ras Negrito adalah penduduk asli di Filipina, ada juga
campuran melayu dan mangolo. Bahasa resmi di Filipina adalah Tagalog.
Percakapan sehari-hari orang Filipina adalah mancampur bahasa Filipina,
Inggris, dan sedikit Spanyol.
Penduduk yang tertua di Filipina menurut dugaan terdiri dari orang-orang
Negrito, orang yang berbadan kerdil dengan warna kulit yang hitam dan rambut
kriting, seperti yang masih ada di pulau-pulau Malaysia dan di Irian, di pulau
Negro dan Panay masih ada sisa penduduk-penduduk ini di pegunungan, nama pulau
Negro juga menjelaskannya.[6]
2.2.4.
Konteks Budaya
Kebudayaan di
Filipina adalah tradisi artistik diantara nya: dongeng-dongeng rakyat, musik
dan tarian rakyat, seni lukis dan seni pahat juga termasuk dalam kebudayaan
mereka. Tetapi untuk menghadiri festival orang Filipina mampu akan berdandan
dalam pakaian pesta (fiesta) yang juga merupakan mode campuran antara Spanyol
dan pribumi. Baju Balingtawak dengan lengan kupu-kupu yang terkembang adalah
pakaian resmi wanita. Barong Tagalog yang dibuat dari serat nanas merupakan
kemeja untuk kaum lelaki.[7]
2.2.5.
Konteks Keagamaan
Bangsa Filipina
sebelum masuk nya agama Kristen menganut ke percayaan animisme ataupenyembahan
berhala dan animistis yang juga disebut dengan agama primitif atau agama
kepercayaan akan nenek moyang mereka dahulu, karena belum ada agama yang
mendarah daging disana.[8] Cirri-ciri penyembahan unsure-unsur
alam (Matahari, bulan, pelangi, pepohonan, gunung). Keberadaan roh-roh gaib dan
pengaruhnya terhadap keadaan alam begitu sangat dihormati. Mereka percaya bahwa
roh-roh leluhur senantiasa menjagai kehidupan mereka.[9]
2.3.Latar Belakang
Kristen di Filipina
Tidak dapat dipungkiri bahwa
Filipina adalah negara Katolik. Tercatat bahwa 94%; 84% dari jumlah ini adalah orang Katolik, dan 4 %
adalah orang Muslim. Penduduk
Filipina adalah anggota jemaat Gereja Katolik Roma. Data statistik ini memberi
informasi dan indikasi bahwa betapa dominannya agama Katolik dalam masyarakat
Filipina. Katolik menjadi agama dominan bagi rakyat Filipina di tengah berbagai
macam aliran kepercayaan dan agama yang berkembang di sana, termasuk Protestan. Karena
dahulunya bangsa Filipina menganut Animisme, sehingga belum ada agama yang
mendarah daging dalam bentuk kebudayaan yang kuat menentang kekristenan. Faktor
tersebut misi gereja Katolik Roma lebih berhasil di Filipina ketimbang di
tempat-tempat lain di Asia.[10]
2.3.1. Pengkabaran Injil Katolik Di
Filipina
Negara Filipina adalah satu-satunya
Negara di Asia yang penduduknya hampir seluruhnya beragama Kristen. Salah
seorang Yesuit tiba di Filipina pada tahun 1590 yaitu Pedro Chirino yang
menyebarkan agama Katolik di Filipina. Pada saat itu kekurangan pastor
mengakibatkan penggembalaan serta pengajaran Katolik kurang mendalam yang
berbeda dengan kebijakan Misi Protestan. Pada abad ke-19 timbul pertikaian
antara para rahib dan pastor sekuler (yang bukan ordo), bahkan pertikaian ini
mempengaruhi gerakan kemerdekaan di Filipina. Kebanyakan orang rahib adalah
orang Spanyol, sedangkan para pastor sekuler adalah orang Filipina, hal ini
mempunyai akibat bahwa para tokoh nasionalis Filipina menganggap rahib Katolik
sebagai tenaga utama penjajahan Spanyol. Hal ini terlihat dimana para rahib ini
jadi kaya, sementara orang Filipina dikenakan bayaran tinggi untuk pelayanan
sakramen.
Setelah Filipina merdeka 1946 Gereja
Katolik Roma memberikan perhatian terhadap pendidikan kaum awam dengan tujuan
mempersiapkan orang Katolik untuk memainkan peranan penting dalam masyarakat.
Beberapa organisasi awam muncul pada masa itu, termasuk Catholic Action,
Student Catholic Action, dan Legian of Mary. Organisasi ini bergerak
dalam bidang pengembangan masyarakat (sosial) termasuk hal pengajaran doktrin
gereja, semua ini ditempuh melalui pendidikan.sehingga ada yang mengatakan
bahwa hasil pendidikan Katolik dan peranan alumni perguruan Katolik sebagai
pegawai negeri atau pengusaha mempunyai akibat gereja Katolik terikat pada
sistem pemerintahan sebagaimana adanya dan pada keadaan yang bergantung pada
negara-negara Barat. Hal ini terlihat dari adanya 1442 sekolah Katolik pada tahun 1965.[11]
2.3.2. Pengkabaran Injil Protestan Di
Filipina
Protestan di Filipina mulai masuk
ketika Amerika berhasil menaklukkan Spanyol dan menguasai negeri Filipina tahun
1898-1946. Motivasi Amerika Serikat menguasai Filipina merupakan campuran
alasan strategi, persaingan perdagangan dan cita-cita misi. Pemerintahan Amerika
sangat berbeda dengan pemerintahan Spanyol yang diwarnai konsep kebebasan
beragama dan pemisahan gereja dan negara. Misi Protestan masuk ke kepulauan
Filipina bersamaan dengan penjajahan Amerika. Dari sejak awal, pelayanan misi
di Filipina diwarnai suasana kerjasama. Pada bulan April 1901, melalui suatu
pertemuan para Pekabar Injil di Manila membentuk persekutuan injili.
Badan-badan misi bersepakat membagi wilayah-wilayah penginjilan agar tidak
terganggu oleh persaingan. Persetujuan ini berlaku sampai Perang Dunia ke-2.
Pekabaran Injil berkebangsaan Filipina memainkan peran penting dalam
perkembangan Protestanisme di Filipina. Salah seorang penginjil yang terkenal
adalah Pulino Jacinto Zamora (pendeta Protestan pertama yang berkebangsaan
Filipina). Dan seorang pekabar Injil Baptis bernama Eric Lund dan Braulio
Manikan. Gereja Protestan telah membawa 2,4% dari seluruh populasi menjadi
bagian dari anggotanya. Disamping itu banyak juga orang Katolik yang
beralih agama menjadi Protestan dengan alasan politik, dimana menjadi warga
protestan adalah tanda kemandirian dan kebebasan dari Imperialisme Spanyol.[12]
2.4.Peran Penduduk Filipina dalam
Penginjilan
Kedatangan para misionaris terkhusu
dari daerah Spanyol di Filipina berjalan dengan baik melihat penerimaan penduduk
pribumi atas pengkabaran injil yang dilakukan oleh para misionaris serta
kebutuhan pengabar injil yang semakin meningkat. Misionaris belajar bahasa
Filipina dari penduduk setempat begitu juga penduduk setempat belajar bahasa
Spanyol dari misionaris. Pengajaran juga bukan hanya sebatas mengenai Injil
namun para misionaris juga mengajarkan hal pertanian, irigasi, pemeliharaan
tanaman, dan berbagai pengajaran yang berkaitan dengan sosial dan kehidupan
warga pribumi sehingga penerimaan Injil dan peran penduduk sangat mendukung
dalam hal ini. Namun di beberapa wilayah seperti Mindanao dan Gugusan Sulu yang
rata-rata ditempati warga muslim tidak terlalu berdampak kehadirran dan
penerimaan penduduk atas kehadiran Injil. Bahkan ada beberapa misionaris yang
dibunuh karena kepentingan perniagaan, karena warga setempat menganggap
kehadiran misionaris dalam rangka penguasaan wilayah dan perniagaan. Sehingga
Spanyol meninggalkan wilayah ini karena wilayah Mindanao dan Sulu ini akan
menjadi wilayah pusat pengajaran Islam di Filipina serta disebut sebagai
kesultanan Melayu.[13]
2.5.Pertumbuhan
Perkembangan Kristen di Filipina
2.5.1.
Kekristenan
Pada Masa Pencerahan Sampai Sekarang
Pembaruan gereja Katolik Roma sejak
Konsili Vatikan II mempengaruhi perkembangan Gereja Katolik Roma di Filipina.
Pendidikan kepemimpinan diberikan porsi penting bagi kaum awam. Tujuannya
adalah untuk mempersiapkan orang Katolik untuk memainkan peran penting dalam
masyarakat. Beberapa organisasi awam muncul pada saat itu, di antaranya: Chatolic
Action, Student Catolic Action, dll.
Sedangkan dari sisi Protestan,
perkembangannya bergerak dalam dua macam keadaan yang saling bertentangan – di
satu pihak ada upaya untuk saling bersatu dan bekerjasma, namun di pihak lain
sering terjadi perpecahan di dalam gereja. Kesenjangan ekonomi antara Gereja Mandiri Filipina (yang
memiliki banyak anggota tetapi miskin) dan Gereja Episkopal Filipina / Anglikan
(yang memiliki anggota lebih sedikit namun kaya) sangat terasa. Namun di tengah
perkembangan yang demikian, usaha penginjilan mendapat ‘angin segar’ dan
badan-badan penginjilan dan pemerlengkapan kaum awam bertumbuh dengan pesat.
Gereja-gereja Protestan berkembang secara dramatis sejak tahun 1970-an. Salah
satu factor pendukungnya adalah pekabaran Injil yang agresif dalam konteks
jaman yang diwarnai dengan perubahan yang terus menerus dan ketidaktentuan.
Dalam situasi demikian Injil mendapatkan tempat di hati orang Filipina.Pada masa
sekarang Kekristenan di Filipina terus berkembang, dimana agama terbesar adalah
agama katolik. Dan agama terbesar kedua adalah Protestan kemudian diikuti
dengan agama yang lainnya.[14]
2.6.Tokoh-tokoh
Dalam Gereja Filipina
2.6.1.
Sekularisme
(Emerito Nacpil)
Pada tahun 1985 Dewan Gereja-gereja Filipina menerbitkan buku nyanyian
rohani karangan orang Filipina, dengan tujuan mempribumikan ibadalt Kristen
Filipina.
Pada tahun 1960-an sejumlah besar gereja
Protestan di Filipina dipimpin oleh orang Filipina, namun masih tergantung pada
gereja-gercjti di Amerika Serikat dalam hal kebutuhan keuangan. Gereja-gereja
atau hadatt misi yang bare masuk Filipina mempunyai lebih banyak pekabar Injil asing ketimbang
tenaga setempat, walaupun orang asing itu melayani di bawah
kepemimpinan orang Filipina. Pada tahun 1972 gereja-gereja yang telah tumbuh
hasil penginjilan OMF dan SEND bergabung mendirikan ABCOP (Association of
Bible Churches of the Philippines). Kepemimpinan dan keuangan gereja dipegang oleh
orang Filipina, namun OMF dan SEND bekerja sama dengan orang Filipina untuk mengabarkan
Injil serta mendirikan jemaat-jemaat, dengan diawasi oleh yayasan Filipina.
Banyak orang Filipina merasa tidak sabar
lagi karena proses kemandirian dan Filipinisasi ternyata berjalan lambat,
sehingga mereka memisahkan diri dan mendirikan gereja-gereja sendiri.
Akibatnya, muncullah beberapa golongan yang sama sekali asli Filipina, yang
memakai konsep sinkretis, campuran kekristenan dan animisme.
Perpecahan-perpecahan juga terjadi akibat ketidakcocokan pribadi para
pemimpin.[15]
2.6.2.
Ferdinand Magellan
Kekristenan tiba di Filipina bersama Ferdinand
Magellan pada tahun 1521. Pada suatu minggu paskah, 31 maret tahun itu, misa
pertama dirayakan dipulau Limasawa, lalu banyak orang pada waktu itu mengikuti
iman Magellan. Mereka diyakinkan bahwa “Guntur dan kilat” dari meriam-meriam
dikapal-kapalnya adalah suatu penunjukan kekuasaan dewa-dewanya. Dipulau cebu,
Magellan membuat kekristenan berkembang lebih jauh. Kristenisasi, ia rasakan
adalah jalan sempurna untuk mengautkan hubungan antar spanyol dan pulau-pulau
yang baru mereka taklukkan. Proses ini dibuat lebih muda oleh tiga factor: rasa
takut, materialisme dan seks.
Pertama, rakyat dipulau-pulau itu takut bahwa
mereka tentu akan di hancurkan jika mereka menolak untuk memeluk kepercayaan
para penakluk mereka. Pigafetta, pencatat sejarah perjalanan Magellan, telah
menulis: “sebagaimana sapu-saputangan
menghapus keringat, begitu juga tangan-tangan kami telah menumbangkan dan
menghancurkan musuh-musuh kami dan mereka yang membenci kepercayaan kami.”
Kedua, mereka percaya bahwa agama
orang-orang asing itu adalah sumber dari kekuasaan dan keperkasaan. Memang
Magellang telah berjanji kepada humabon, kepala pulau itu, jika Ia mendapat
Kristen, maka ia akan menjadi lebih berkuasa lagi dan akan tidak terkalahkan.
Ketiga, Magellan telah berusaha
untuk mengendalikan kegiatan-kegiatan seksual para awak kapalnya dengan
menyatakan dengan keras sekali bahwa apabila mereka mengadakan hubungan seksual
dengan perempuan-perempuan kafir, maka mereka telah melakukan dosa yang akan
mendatangkan kematian. Jadi untuk menghindarkan murka Allah, maka orang-orang
Magellan gigih melakukan tugas mereka untuk mentobatkan perempuan-perempuan
pribumi itu dan tampa tipu daya, dan dengan wajar saja, membaptis
perempuan-perempuan yang telah mereka sukai. Dalam waktu seminggu, Raja
Humabon, seluruh anggota rumah tangganya dan 800 orang takluhkannya, dibaptis
oleh pendeta armada Magellan.[16]
2.6.3.
Pedro Chirino
Ia adalah
seorang Yesuit, tiba di Filipina pada tahun 1590. Sesudah belajar bahasa
Tagalog ia membuka sekolah di kota Taytay. Kelas katekisasi diadakan setiap
pagi sesudah kebaktian Misa. Sama seperti metode Xaverius, Chirino mengajak
anak-anak terlebih dahulu, kemudian orang dewasa. Chirino memakai
nyanyian-nyanyian Tagalog tradisional sebagai sarana mengajarkan iman Katolik.
Ia menyesuaikan diri sejauh mungkin dengan adat istiadat Tagalog. Namun, secara
tegas ia menyuruh orang yang menjadi Kristen untuk menghancurkan patung-patung
dan perlengkapan kuasa-kuasa roh, supaya jelas pemisahan diri dengan
kepercayaan lama. Chirino melaporkan banyak muzijat dan banyak orang
disembuhkan melalui pelayanan di Taytay. Perkembangan gereja di daerah
kepulauan utara mengalami gerakan massal, sehingga hampir seluruh penduduk
menjadi Kristen.
2.6.4.
Pulino
Jasinto Zamora
Pulino Jasinto Zamora adalah seorang
pendeta Protestan pertama yang berkebangsaan Filipina, ia sangat tertarik
membaca Alkitab sehingga ia berhubungan dengan lembaga Alkitab. Bersama dengan
tiga orang anaknya (Yesus, Nicholass dan Ricardo). Menghadiri kebaktian pertama
yang dipimpin oleh James Rodgers di Manila pada bulan Mei 1899. Gereja Methodis
berkembang cepat di Filipina pada tahun 1903, 40 jemaat dilaporkan berdiri yang
dilayani oleh empat pekabar injil dari luar negeri dan bekerjasama dengan lima
orang Filipina. Perkembangan ini pun dilaporkan telah memiliki 60 ribu anggota
penuh sehingga pada masa itu Gereja Methodis merupakan Gereja Protestan
terbesar di Filipina.
2.6.5.
Eric
Lund
Eric Lund adalah seorang pekabar
injil baptis yang berkebangsaan Swedia tiba di Filipina pada tahun 1900. Ia
bekerjasama dengan seorang Filipina yang bernama Braulio Manikan. Lund dan
Manikan bekerjasama menerjemahkan Perjanjian Baru kedalam bahasa daerah
tersebut. Misi ini pun disambut baik oleh masyarakat pedesaan dan memusatkan
pelayanannya pada pendidikan. Pada tahun 1906 didirikan sekolah industri yang
kemudian berkembang menjadi Universitas Filipina Tengah. Disamping itu banyak juga
orang Katolik yang beralih agama menjadi Protestan dengan alasan politik,
dimana menjadi warga Protestan adalah tanda kemandirian dan kebebasan dari
Imperialisme Spanyol. [17]
2.7.Faktor
Pendukung dan Penghambat Kekristenan di Filipina
2.7.1.
Faktor Pendukung
1.
Masa
Spanyol
-
Agama suku yang tidak kuat sehingga
agama Kristen denga mudah menyebarkan injil.
-
Agama lain belum menyebar ke Filipina,
sehingga penyebaran injil masih mempunyai peluang.
-
Para misionaris di Filipina mempelajari
bahasa Filipina yang berbeda-beda di tiap pulau, tetapi segera mereka
mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa Spanyol, hal ini membuat
orang Filipina tertarik mengingat sebagian besar penduduk Filipina masih
terdiri dari petani yang membuat mereka bersedia masuk agama Kristen.
-
Raja Spanyol Fhilips II mengirim lima
biarawan sebagai misionaris ke Filipina, dan semua biaya misi ini ditanggung
dari uang kerajaan.
2.
Masa
Amerika Serikat
-
Pada masa Amerika Serikat perserikatan
Alkitab di Inggris dengan Amerika bekerjasama untuk menerjemahkan PB dalam tiga
bahasa daerah di Filipina. Jumlah orang Kristen Roma Katolik pada masa Amerika
ini sangat bertambah sampai dua kali lipat.
-
Sarana medis mulai berkembang oleh
pemerintahan.
-
Mahasiswa dan pemuda mengadakan
kampanye pekabaran injil.
-
Adanya kerjasama antara badan Zending
Protestan dengan pemerintahan Filipina.[18]
2.7.2.
Faktor Pendorong dan Faktor
Penghambat kekristenan
Faktor
Penghambat
1.
Masa Spanyol
-
Walaupun misionaris telah banyak
membaptis namun kepercayaan Animisme masih dipertahankan dalam negara tersebut.
-
Kurangnya pastor yang mengakibatkan
penggembalaan serta pengajaran yang kurang mendalam.
-
Gereja dan negara memiliki ikatan yang
kuat, akibatnya gereja dikendalikan oleh penguasa atau pemerintah seperti
mencampuri pemilihan uskup dan pejabat gereja lainnya.
-
Biarawan yang memiliki tanah menyewakan
tanahnya dengan harga tinggi kepada petani Filipina sehingga terjadinya
pemberontakan dan memisahkan diri dari GKR.
2.
Masa Amerika Serikat
-
Pada masa ini dibuat kebebasan beragama
di Filipina dan Amerika membangun banyak sekolah umum, akibatnya pengajaran
tentang agama Katolik semakin menurun dan masyarakat hidup sangat menduniawi
dan masyarakat semakin jauh dari gereja.[19]
-
Misi
Katolik dari Amerika serikat mulai mengelola gereja dengan lebih baik. Mereka
mengambil alih tugas-tugas yang pelayanan yang ditinggalkan oleh para padre
Spanyol. Itulah keadaan pada rentang tahun itu, yang kemungkinan sempat
disertai konflik dan perpecahan dikalangan gereja protestan.[20]
Faktor Pendorong
1. Pada
Masa Spanyol
-
Pekabaran
injil merupakan motivasi pertama bagi penjajahan Filipina.
-
Islam
belum menyebar keseluruhan jajahan Filipina, sehingga penyebaran injil lebih
muda.
-
Pengkabaran
gereja di daerah kepulauan utara mengalami gerakan massal, sehingga hamper
seluruh penduduk menjadi Kristen.
-
Adanya
pendirian perguruan tinggi di Manila yang mendidik calon pastor Filipina.[21]
-
Pada
masa Amerika Serikat, diberikan kebebasan penuh agar para utusan injil dapat
mengembangkan pelbagai aktivitas pelayanan mereka.[22]
2. Pada
Masa Amerika serikat
-
Banyak
para misionaris dari berbagai gereja yang diijinkan Amerika serikat untuk
menginjili sehingga pengkabaran injil lebih baik lagi.
-
Pada
tahun 1929, banyak energy dari para pemimpin gereja Presbeterian di salurkan
kepada upaya-upaya untuk pengabungan.[23]
III.
Kesimpulan
Perkembangan
kekristenan di Filipina dapat berkembang dengan pesat karena beberapa faktor.
Pertama adalah bahwa pada awal masuknya kekristenan, orang Filipina belum
memeluk agama resmi dan masih menganut animisme. Faktor kedua yang penting
adalah bahwa gerakan penginjilan yang agresif dan antusias. Peranan kaum awam
ketika dilibatkan secara menyeluruh juga menjadi faktor pendorong kemajuan
kekristenan. Bangsa yang datang pertama ke Filipina adalah bangsa Spanyol yang
menyebarkan agama Katolik. Kemudian diikuti dengan kedatangan bangsa Amerika
membawa misi Protestan sehingga banyak orang menganut Protestan. Setelah itu
masuklah agama-agama yang lain ke Filipina.
IV.
Daftar
Pustaka
Butwell,
Richard, Negara dan Bangsa (Asia) , Jakarta: Grolier International,
1988), 244
http://en.wikipedia.org/wiki/Filipina, diakses pada
tanggal 19 Februari 2014
http://kekristenandifilipina.blogspot.co.id/2014/10/kekristenan-di-filipina-1.html,
diakses pada tanggal 26 Maret 2018 Pukul
16:35 wib.
Mangandaralam, Syahbuddin, Mengenal dari Dekat
FILIPINA Tanah Air Patriot Pujangga Jose Rizal, Remadja Karya: Bandung,1988
Martinez,
Salvador T., “Yesus Kristus Dalam Kesalehan Orang Banyak Di Filipina” Dalam
Wajah Yesus Di Asia, Jakarta: BPK-GM, 2003
Romulo, Carles
P., Negara dan Bangsa Asia Jilid 3, Jakarta: Widyadara, 2000
Ruck, Anne,
Sejarah Gereja Asia, Jakarta : BPK-GM, 2013
Sugitharajah, R.S., Wajah Yesus di Asia (terj), Jakarta:
Gunung Mulia, 1994
Tolliver,
Ralph, “Filipina” Dalam Sejarah Gereja Asia II, Malang : Gandum Mas, 2002
Van, Schie, G.. Rangkuman Sejarah
Kristiani Dalam Konteks Sejarah Agama-Agama Lain – Buku 3 Jakarta: Obor, 1995
Woltergeek, J.
D, Gereja-gereja Tetangga Indonesia, Djakarta : Percetakan Van
Dorp, 1559
[6] J.D. Wolterbeek, Geredja-Geredja Di Negeri-Negeri Tetangga
Indonesia, (Djakarta: BPK-GM, 1959), 19-21
[11] Salvador T. Martinez, “Yesus Kristus Dalam Kesalehan
Orang Banyak Di Filipina” Dalam Wajah Yesus Di Asia, (Jakarta: BPK-GM, 2003),
391
[12]
Schie, G. van. Rangkuman Sejarah
Kristiani Dalam Konteks Sejarah Agama-Agama Lain – Buku 3 (Jakarta: Obor, 1995), 122
[14]
Syahbuddin Mangandaralam,
Mengenal dari Dekat FILIPINA Tanah Air Patriot Pujangga Jose Rizal, (Remadja Karya: Bandung,1988), 405
[15]
http://kekristenandifilipina.blogspot.co.id/2014/10/kekristenan-di-filipina-1.html,
diakses pada tanggal 26 Maret 2018 Pukul
16:35 wib.
[16]
R.S. Sugitharajah, Wajah Yesus di Asia
(terj), (Jakarta: Gunung Mulia, 1994), 390-391
[18]
J. D. Woltergeek, Gereja-gereja Tetangga Indonesia, (Djakarta
: Percetakan Van Dorp, 1559), 197-212
[20]
Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Asia,(Bandung:
Biji Sesawi, 2014), 267
[22]
Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja
Asia, 267
Tidak ada komentar:
Posting Komentar