Kekristenan dan Gerakan Nasionalisme di Indonesia
I.
Abstraksi
Semangat
nasionalisme dan pergerakan kebangsaan mulai bangkit sejak sekitar tahun 1900,
secara umum umat Kristen belum segera kena pengaruhnya, antara lain karena para
zendeling yang memahami diri mereka sebagai pengasuh umat Kristen, hingga waktu
itu tidak mendorong mereka terlibat dalam urusan duniawi termasuk politik. Hal
ini membuat umat Kristen pribumi, terutama yang berada di lingkungan mayoritas
Islam, merasa terpencil dari masyarakat umum. Mereka dijaga oleh para pengasuh
agar jangan sampai kena pengaruh pergerakan nasional yang bersifat politis,
sebab dianggap berbahaya. Nasionalisme yang diarahkan untuk melawan
pemerintah kolonial dianggap sebagai
sesuatu yang berbahaya terhadap iman, dan gerakan politik dinyatakan sebagai
perbuatan dosa karena melawan pemerintah. Walau begitu, gerakan nasionalisme di
kalangan orang Kristen mulai tumbuh baik di lingkungan gereja tertentu maupun
di perkumpulan-perkumpulan pemuda dan pelajar, terutama yang merantau ke Jawa.
Di kawasan zendeling sendiri terutama sejak 1920an, semakin tumbuh penghargaan
terhadap cita-cita dan gerakan nasionalisme Indonesia di kalangan masyarakat
luas pada umumnya, maupun di kalangan gereja dan umat Kristen khususnya. Dalam
ungkapan teologis dapat dikatakan bahwa pergerakan nasional Indonesia menjadi
konteks di mana panggilan gereja di Indonesia diberi bentuk. Sebab itu, perlu
diungkapkan bersama, baik sumbangan yang diberikan oleh pihak Kristen terhadap
pergerakan nasional Indonesia, maupun pengaruh nasionalisme terhadap
kekristenan di Indonesia.
II.
Pembahasan
2.1.
Pengertian
Nasionalisme
Secara
etimologi nasionalisme berasal dari kata “nation”
dan “isme”, nation yang berarti
bangsa dan isme berarti paham.[1]
Nasionalisme (nilai kebangsaan) adalah keyakinan bahwa kehadiran sekelompok
manusia yang disebut bangsa atau suku tidak bersifat kebetulan saja, tetapi
mempunyai nilai yang sangat tinggi yang melebihi nilai banyak hal lain.[2]
Nasionalisme adalah reaksi dan penolakan terhadap kolonialisme.[3]
Nasionalisme adalah manifestasi kesadaran bernegara atau semangat bernegara.[4] Pada
abad 19 nasionalisme sebagai ideologi politik semakin menghangat. Kesetiaan
orang kepada tanah air lebih diutamakan.[5] Dalam
konteks pokok kajian ini, nasionalisme Indonesia diartikan keseluruhan
gagasan-gagasan dan tindakan-tindakan yang bertolak dari dan terarah kepada
perjuangan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan bersatu.[6]
Nasionalisme di Indonesia dipahami sebagai sebuah pergerakan perjuangan
putera-puteri Indonesia untuk menjadi bangsa yang merdeka dan bersatu. Awalnya,
gerakan ini berusaha untuk membebaskan Indonesia dari masa kolonialisme, tetapi
pada akhirnya pergerakan Nasional mengalami peningkatan tujuan, yaitu
perjuangan untuk memajukan kehidupan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan
rakyat sebagai bentuk tanggungjawab.[7]
2.2.
Latar
Belakang Munculnya Gerakan Nasionalisme di Indonesia
Selama abad ke-17 dan ke-18, semua orang Kristen Protestan di
wilayah Indonesia yang sekarang termasuk satu badan gereja, yaitu Gereja
Reformeerd, yang dipimpin oleh majelis jemaat di Batavia dan yang berhubungan
erat dengan pemerintahan VOC. Hanya sejak tahun 1741 terdapat jemaat Lutheran
di Batavia. Masuknya lembaga-lembaga PI sejak tahun 1815 pada mulanya tidak
membawa perubahan, sebab utusan-utusan NZG yang mula-mula diperkerjakan dalam
Gereja Protestan yang ada. Sebaliknya, sejak tahun 1835 karya RMG di Kalimantan
dan NZG di Jawa Timur menghasilkan jemaat yang tidak termasuk Persekutuan
Gereja Protestan maka berdirilah tersendiri jemaat-jemaat serta gereja-gereja
di daerah-daerah lain. Di pihak lain, pemerintah pada tahun 1854 memaksa jemaat
Lutheran di Batavia untuk masuk menjadi sebagian Gereja Protestan (Gereja Am).
Maka selama abad ke-19, bahkan sampai dengan tahun 1940-an, orang Kristen
Protestan di Indonesia terbagi atas dua kelompok besar, yaitu Gereja Protestan
di satu pihak dan Gereja-gereja hasil karya lembaga PI.[8]
Sampai tahun 1858, NZG adalah zending yang berperanan besar dalam kegiatan
pengutusan, yang relatif mandiri kerena tidak menjadi bagian dari Gereja
Protestan Indonesia (GPI) Gereja yang diakui secara resmi oleh pemerintah
Hindia-Belanda. Tetapi, sejak tahun 1858 mulai bermunculan lembaga-lembaga
pengutusan yang lain di Indonesia.[9]
Pada
awal abad ke-19 timbul banyak gerakan perlawanan rakyat terhadap kekuasaan
pemerintah kolonial utamanya di pulau Jawa. Reaksi berupa perlawanan bersenjata
terhadap penjajahan berlandas sebelum tahun 1905 dicetuskan oleh Sultan Agung
Mataram, Pangeran Diponegoro, Cik Di Tiro dan lain-lainnya yang telah
membangkitkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Sebagai reaksi terhadap
penderitaan lahir dan batin akibat penjajahan kolonialis itu.[10] Semangat
nasionalisme memproses pembangunan bangsa dan modernisasi. Nasionalisme melihat
dirinya sendiri sebagai pelindung warisan prakolonial dan serentak sebagai
perintis masa depan yang baru.[11] Dalam
kurun waktu kurang dari setengah abad sejak awal abad ke-20 ini, pergerakan
nasionalis Indonesia berhasil membawa bangsa Indonesia kepada kemerdekaan dan
kesatuan nasional. Dalam pergerakan itu berhadap-hadapan pihak pemerintah
kolonial Belanda yang ingin mempertahankan kekuasaannya atas bangsa dan wilayah
Indonesia, dengan bangsa Indonesia yang ingin menjadi bangsa yang merdeka. Bagi
Indonesia, pergerakan nasional itu merupakan proses di mana rasa kebangsaan
makin mengental mengatasi kepelbagaian suku dan daerah.[12]
· Aspek Agama
Para pengutus Injil bangsa Eropa, yang diklaim
memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih luas, ternyata masih sulit untuk
menerima bahwa gereja-gereja di Indonesia perlu dipersiapkan secara saksama dan
sistematis agar ke depan dapat berdiri sendiri
secara mandiri, lepas dari supervisi gereja-gereja induk di negeri Belanda atau
Jerman.
· Aspek Ekonomi
Pada tahun 1830-1870 pemerintah kolonial Hindia-Belanda menerapkan
sistem Tanam Paksa (Culturstelsel). Sistem ini dipakai untuk membantu pemerintah
pusat Belanda untuk mengatasi isi kas yang kian menipis seiring dengan makin
besarnya pengeluaran untuk menjaga stabilitas sosialpolitik di Hindia-Belanda.
Sejalan dengan perluasan wilayah dan pengintensifan kekuasaan yang
dilakukan pemerintah H-B, sistem Tanam paksa yang diberlakukan dahulu mulai
dihapuskan dan diganti dengan sistem ekonomi liberal yang secara formal mulai
berlaku pada periode 1870-1900. Pada periode ini pemerintah membuka kesempatan
yang luas bagi para pengusaha swasta, dari Belanda maupun dari beberapa negara
Barat lain, untuk ikut berperan dalam kehidupan ekonomi. Mereka kemudian
membuka banyak perkebunan dan tambang di Jawa dan Sumatera. Pemerintah sendiri
mendukung dengan membangun sarana di bidang pendidikan dan kesehatan,
pemerintah juga menggunakan jasa lembaga swasta bersubsidi, khususnya zending
dan misi, karena cara itu lebih mudah.
· Aspek Politik
Pada
tahun 1901, pemerintahan Hindia-Belanda menerapkan kebijakan baru yang disebut Ethische
Politiek. Kebijakan tersebut mengakui kedudukan norma-norma moral sebagai
penuntun bidang-bidang kehidupan yang lain (termasuk bidang ekonomi
perdagangan). Namun, implementasi Ethische Politiek tersebut di wilayah
Hindia-Belanda ternyata tidak berjalan secara sepenuhnya. Tidak banyak pejabat
Belanda yang terbuka terhadap pemikiran tentang Indonesia merdeka.[13]
· Aspek Sosial-Budaya
Gerakan ini
mulai tahun 1908 sebagai gerakan di antara mahasiswa-mahasiswa Sekolah
Kedokteran di Jakarta dan mula-mula memperlihatkan pengaruh kebudayaan Jawa yang
sangat kuat. Dengan waktu singkat gerakan ini disambut oleh generasi muda
terpelajar di seluruh wilayah Indonesia. Dalam proses selanjutnya gerakan
tersebut makin mendapat watak politik. Zaman itu adalah gerakan-gerakan pemuda
dalam lingkungan suku-suku tertentu. Ada gerakan yang disebut Jong Batak, Jong
Minahasa, Jong Ambon, dan sebaginya (jong berarti muda dalam bahasa Belanda).
Pada tahun 1928 muncullah suatu gerakan pemuda seluruh Indonesia diikat oleh
“Sumpah Pemuda” yang mengikrarkan satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa
(bahasa Indonesia). Sementara itu gerakan nasionalisme telah menjadi suatu
gerakan masa. Muncullah juga partai-partai politik yang mempunyai masa. Dalam
perkembangan ini, cita-cita bersama yaitu Negara dan bahasa yang merdeka, dalam
kesadaran berbagai kelompok manusia, dihubungkan cita-cita religius dan sosial. [14]
2.3.
Gerakan
Nasionalisme di Indonesia[15]
Dalam perjuangan kemerdekaan bangsa
Indonesia, maka para pemimpin nasional Indonesia memakai dua cara melawan
kekuasaan kolonialisme, yaitu bekerja sama dengan pemerintahan jajahan dengan
maksud mencapai perbaikan ekonomi rakyat sehingga nantinya mampu memperjuangkan
kemerdekaan politik rakyat; atau menolak bekerja sama dengan pihak penjajah dan
memperjuangkan kemerdekaan rakyat berdasarkan pada kepercayaan serta kekuatan
sendiri. Perbedaan cara memperjuangkan kemerdekaan itu timbul disebabkan adanya
perbedaan kedudukan golongan-golongan tertentu di dalam masyarakat Indonesia.
Misalnya golongan menengah dalam memperjuangkan kemerdekaan itu dengan harapan
bisa memperbaiki keadaan dan mendapat tempat dalam pimpinan pergerakan
nasional. Sedang rakyat biasa berusaha memperbaiki nasib hidup. Kaum bangsawan
ada kalanya bersikap dualistis terhadap pergerakan nasional. Motivasi-motivasi
pergerakan nasional yang diuraikan di atas itu kemudian dinyatakan dalam
pelbagai bentuk pergerakan seperti: Budi Utomo, Syarekat Islam, PNI dan
lain-lain. Adapun Pergerakan nasional yang mempunyai pengaruh besar dalam
kehidupan bangsa yaitu:
2.3.1. Budi
Utomo
Pergerakan ini dicetus
oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo untuk memajukan pendidikan bangsa Indonesia.
Pergerakan yang dibentuk pada 20 Mei 1908 ini pada mulanya berpola sosial, yakni
mengadakan usaha pendidikan dan pengajaran. Namun sesungguhnya merupakan
gerakan politik. Budi Utomo terpaksa bersifat sosial pada saat itu. Usaha-usaha
pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan oleh Budi Utomo sangat berlainan
dengan program edukasi dari politik etis Belanda. Bahkan menunjukan “kehormatan
bangsa” yang tersirat pada organisasi tersebut. Cita-cita Budi Utomo yang
tersembunyi pada saat itu kemudian menjadi cita-cita kaum nasionalis Indonesia.
Kelahiran Budi Utomo telah membangkitkan semangat nasionalisme Indonesia.
2.3.2. Pergerakan
Islam
Di kalangan umat Islam
Indonesia timbul pula kesadaran untuk berorganisasi. Di bawah pimpinan Demak,
raja-raja bandar beragama Islam menyatukan diri untuk melawan imperialis
Portugis. Rasa persatuan di kalangan umat Islam yang terpuruk sampai saat
lahirnya pergerakan nasional sangat penting artinya bagi nasionalisme
Indonesia. Perlawanan terhadap penguasa VOC yang gigih dan berani dari
pemimpin-pemimpin Islam telah menciptakan semangat nasionalisme Indonesia bagi
bangsa Indonesia.
Pergerakan Islam yang
terkenal adalah terbentuknya Syarekat Dagang Islam pada tahun 1911 atas
inisiatif K.J.Samanhudi yang kemudian diubah namanya menjadi Syarekat Islam.
Tujuan utama pergerakan ini adalah mengembangkan perdagangan yang dilakukan
oleh pedagang-pedangang pribumi, memajukan perbaikan hidup pribumi dan
memperkembangkan agama Islam. Dari pergerakan inilah, kemudian lahir
pergerakan-pergerakan lainnya seperti Partai Serikat Islam (PSI), pada tahun
1923, yang kemudian tumbuh beberapa aliran daripada partai tersebut menjelang
penjajahan Dai Nippon. Selain pergerakan Budi Utomo dan Sarekat Islam,
pergerakan seperti PASUNDAN (1914), Sarekat Sumatera (1918), Ambonsche
Studiebond (1909), MENAMURIA (1911), Rukum Minahasa (1912) yang juga turut
menentukan pertumbuhan pergerakan nasional.
2.4.
Kekristenan
dalam Gerakan Nasionalisme
Pengaruh Nasionalisme Indonesia,
terhadap kalangan Kristen di Indonesia, turut menentukan perkembangan menuju
kemandirian dan keesaan gereja-gereja. Dan hal itu diusahakan menunjukkan
proses kemandirian melalui asuhan zending yang bermuara pada pembentukan DGI
pada tahun 1950. Gerakan nasionalisme dimulai dengan pembentukan Budi Utomo,
partai-partai PNI, Serikat Islam sampai pada pergerakan-pergerakan lainnya
(1908-1928) yang menyebabkan berkorbarnya semangat nasionalisme bangsa, turut
juga mempengaruhi kehidupan umat Kristen dan Gereja-gereja di Indonesia.
Perkembangan kehidupan umat Kristen pada saat ini jelas ikut diwarnai oleh
pergolakan politik tersebut. Oleh sebab itu pengertian dan penghayatan
kehidupan gereja-gereja turut dipengaruhi semangat nasionalisme yang bergerak
di tengah-tengah kehidupan masyarakat.[16]
a.
Pertumbuhan dan
Perkembangan Jemaat-Jemaat
Usaha-usaha penyebaran Injil yang
dilakukan oleh missionaris-missionaris dari berbagai badan zending pada masa
lampau di tanah air itu tidaklah sia-sia. Karena jerih payah pekerjaan mereka
itu pada saat ini memperlihatkan hasil buahnya. Dimana pertumbuhan dan
perkembangan jemaat-jemaat yang sangat menonjol periode ini disebabkan adanya
gerakan-gerkan pekabaran Injil yang dilakukan oleh kaum awam yang sungguh-sungguh
bertobat dan menerima Injil sebagai pedoman hidup baru mereka. Untuk
mempercepat proses pekabaran Injil, misionaris-misionaris kemudian mulai
meminta bantuan dari rekan-rekan pribumi untuk melakukan pekabaran Injil kepada
suku bangsa mereka sendiri (1930-1941). Mission Methodist Amerika, NZG, NZV dan
badan-badan zendling lainnya mulai melihat pentingnya peranan rekan-rekan
pribumi dalam usaha bersama di bidang pekabaran Injil. Dr. Kraemer, salah satu
tokoh missionaris yang berpandangan jauh bahkan mendesak agar usaha pekabaran
Injil dikerjakan langsung oleh orang-orang pribumi sendiri.[17]
b.
Kedewasaan Dalam
Kepemimpinan Gereja-Gereja
Salah satu ciri yang menonjol dalam
kehidupan umat Kristen pada periode ini adalah kesadaran gereja akan pengenalan
dirinya dalam rangka pergerakan nasionalisme yang sedang berkobar di berbagai
daerah. Semangat kebangsaan Nampak dalam kedewasaan dikalangan
pemimpin-pemimpin gereja pribumi. Sekalipun sudah ada hasrat dan kemauan keras
untuk berdiri sendiri, namun dalam kenyataannya, terutama dalam pembiayaan
jemaat masih belum kuat. Untuk kebutuhan pelayanan jemaat, ditahbiskanlah
pendeta-pendeta pribumi. Dalam usaha mencapai kedewasaan dan pendewasaan
gereja-gereja Tuhan di Indonesia berhasil di bidang kepemimpinan gereja dan
pengakuan resmi sebagai Gereja yang otomi, baik dari pemerintahan maupun
badan-badan PI yang bersangkutan. Tetapi dalam bidang keuangan dan administrasi
masih jauh dari sempurna. Pemimpin-pemimpin gereja di Indonesia menyadari
perlunya meningkatkan usaha pengadaan tenaga gerejani pribumi untuk mencapai
pengaturan sendiri, pembiayaan sendiri dan otonomi penuh.[18]
c.
Pengadaan Tenaga Gereja
Pribumi
Sebelum periode ini, memang sudah
terdapat sejumlah tenaga-tenaga pembantu missionaris yang berkebangsaan
Indonesia, yang diusahakan secara pribadi oleh missionaris-missionaris Barat. Kursus-kursus
Alkitab dan pendidikan guru-guru Injil melalui sekolah-sekolah zendling
ditujukan untuk mengadakan tenaga-tenaga pemabntu missionaris. Pendidikan
pembinaan tenaga gerejani sangat menolong jemaat-jemaat setempat, pengadaan
tenaga gerejani yang dilakukan oleh missionaris sangat kuat didorong oleh
semangat pekabaran Injil. Namun pada saat itu gereja Indonesia mulai merasa
bahwa pendidikan tenaga gerejani oleh missionaris kurang cukup. Perlu
diselenggarakan pusat pelatihan gerejani. Pengadaan tenaga gerejani pribumi
dipengaruhi oleh situasi dunia yang menyebabkan posisi missionaris semakin
terjepit di Indonesia. Pihak badan-badan PI luar negeri berharap mengutus lebih
banyak missionaris ke Indonesia apabila jemaat-jemaat semakin maju, namun
mereka menyadari pula bahwa situasi Indonesia yang semakin anti penjajahan
Belanda serta bangsa kulit putih menimbulkan keraguaan terhadap masa depan
pelayanan mereka.[19]
d.
Pengenalan Diri dalam Pergerakan
Nasionalisme[20]
Semangat nasionalisme menggugah
kesadaran diri gereja-gereja dalam pergerakan nasional bahwa corak kelembagaan
gereja harus mencerminkan jiwa kebangsaan umat Kristen tidak ada jalan lain
kecuali memihak pada bangsanya sendiri. Missionaris-missionaris bertindak
sebagai penasehat atau pembimbing gereja.
Semangat nasionalisme menggugah
kesadaran diri gereja-gereja dalam pergerakan nasional bahwa corak kelembagaan
gereja harus mencerminkan jiwa kebangsaan umat Kristen tidak ada jalan lain
kecuali memihak pada bangsanya sendiri. Missionaris-missionaris bertindak
sebagai penasehat atau pembimbing gereja. [21]
2.5.
Organisasi-organisasi
Politik Kristen pasa Masa Gerakan Nasionalisme
2.5.1.
Rencono
Budiyo dan Mardi Pracoyo
Rencono
Budiyo (RB) didirikan tahun 1898 di Mojowarno, pusat Kekristenan di Jawa Timur
pada waktu itu, oleh sejumlah tokoh Kristen pribumi setempat. Semula
perkumpulan ini sekedar bertujuan mendalami Alkitab dan ajaran Kristen. Tetapi
sejak 1909 RB direorganisasi agar menjadi organisasi yang lebih modern dan bisa
keluar dari isolasinya di lingkungan pedesaan. Tokoh reorganisasi ini adalah
Jerobean Mattheus Jr. Melalui tokoh ini RB menjangkau orang Kristen di
Surabaya, bahkan bergaul dengan kalangan Islam, sehingga wawasannya bertambah
luas dan mulai berkenalan dengan semangat dan gerakan kebangsaan. Hubungan
kerjasama dengan kalangan zending (yaitu
NZG) dipelihara, baik menyangkut pembinaan
kerohanian maupun peningkatan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat
Kristen. Namun kendali organisasi tetap dipegang kalangan pribumi, dan sampai
sejauh itu RB belum mengarahkan kegiatannya ke bidang politik.
Pada
tahun 1912 dibentuklah Madi Pracoyo (MP), yang diresmikan pada tahun 1913,
sebagi kelanjutan atau perluasan dari RB. Dengan sadar dinyatakan bahwa MP juga
akan bergerak di bidang politik, dan salah satu tujuannya dalah untuk merespon
tantangan yang dimunculkanSI, yang sering mengecam agama Kristen, sekaligus
mengimbangi kiprah SI, kendati tekanan tetap diletakkan pada peningkatan kualitas
spiritual dan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat.
Namun
dalam kenyataannya MP tidak berkembang dengan baik dan karena itu tidak
berhasil mengemban misinya unt menjadi pesaing SI. Menurut Sumartana hal itu
terutma karena mayoritas warga Kristen di Jawa Timur masih tinggal di pedesaan
dan belum memahami panggilan mereka di bidang politik. Karena itulah kemudaian
mereka lebih mendukung organisasi baru yang dibentuk di lingkaran mereka, yaitu
Mardi Pirukunan, yang lebih memberi perhatian pada hal-hal rohani. Dengan
begitu ada tiga faktor yang memperlemah MP, yaitu: kepemimpinan yang kurang
memadai, kurangnya kesatuan (seperti diperlihatkan oleh berdirinya Mardi
Pirikunan), dan kurangnya dukungan kalangan zending terhadap kiprah MP di
bidang politik.[22]
2.5.2. Christelijjk
Ethische Partij (CEP)
Pada tanggal 25
September 1917 dibentuk Christelijjk
Ethische Partij (CEP, Partai Etika Kristen). Pada tahun 1929 bertepatan
pada hari partai (partijdag) ke-10 di
Bandung ketika citra politik etis memudar, namanya diganti menjadi Christelijjk Staatkundige Partij (CPS,
Partai Politik Kristen). Panitia persiapannya adalah V.J. Van Marle, P.
Bergmeijer (ketua CSP pertama), M. Middelberg dan Mr. C.C. Van Helsdingen.
Kalangan Kristen pribumi dilibatkan sejak semula dengan merangkul tokoh-tokoh
suku Kristen.
Panitia persiapan
bekerja sama dengan redaksi mingguan Kristen De banier untuk menjelaskan dasar
dan program bakal partai, didahului suatu uraian bersambung mengenai kewajiban
orang Kristen untuk berpolitik. Dalam sepuluh seri bersambung De Banier memuat
karangan “De Cristen en de Politiek” yang menguraikan dasar-dasar Alkitab,
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dari keniscayaan orang Kristen berpolitik,
dengan tekanan pada tugas kesaksian untuk memuliakan Tuhan.
Selain Alkitab,
dikemukakan dasar Sejarah Negeri Belanda sebagai sejarah penegakan panji-panji
Kristen dan dengan menunjukan bait terakhir lagu kebangsaan Belanda sebagai
rencana kerja ringkas semua politik Kristen. CEP/CSP mempunyai program-program
partai yang lebih membumikan pada kenyataan sejarahnya:
a.
Hubungan kekristenan
dan politik.
b.
Hubungan Belanda dan
Hindia Belanda.
c.
Mengenai pemerintahan;
panggilan dan kewajibannya.
d.
Kebebasan rohani, yaitu
kebebasan hati nurani dan agama.
e.
Otoritas dan mayoritas.
f.
Hubungan dengan
partai-partai politik lainnya.[23]
2.5.3.
Perserikatan
Kaum Christen (PKC)
Pada
tanggal 20 Mei 1918 di Mojokarno diputuskan bahwa Mardi Pracoyo yang kian
merosot itu dijadikan partai politik dan namanya diganti menjadi Perserikatan
Kaum Christen (PKC) atau Perserikatan Kaum Kristen (PKK). Keputusan ini diambil
karena di satu pihak Mardi Pirukunan dilihat sebagai perpecahan yang sangat
melemahkan MP, dan di lain pihak tantangan dari SI kian meningkat. Di dalam PKC
bergabung juga sejumlah orang Kristen dari Jawa Tengah. Ini tak terlepas dari
perkembangan di kalangan Kristen sejak MP mengalami kemunduran, antara lain
terbentuknya Guyuban Among Siswo (Perhimpunan Guru-guru Kristen) di
Jatim dan di Jateng. Sejakk 1916 perhimpunan guru ini bekerjasama, terutma
dalam upaya meningkatkan pendidikan bagi masyarakat, terutama masyarakat
Kristen Jawa.
Di
Jateng kemudian, hampir di sepanjang
dasawarsa 1920an, PKC kurang berhasil berkembang, bahkan tersisih dari
pergaulan luas. Ada beberapa faktor penyebabnya, yaitu:
·
Jumlah
orang Kristen di Jawa ketika itu sangat kecil, hanya sekitar seperseribu dari
umat Islam, dan di mata umat Islam mereka tidak lagi sungguh-sungguh orang Jawa
ketika mereka menjadi Kristen, karena sudah ikut Belanda, apalagi agama Kristen
yang mereka anut ditampilkan sebagai yang bertentangan dengan Islam, sehingga
mereka dikucilkan dari gerakan-gerakan kebangsaan yang ada.
·
PKC
tidak berhasil menguatkan akar pengarauhnya di desa, padahal terutama di Jatim,
masyarakat Kristen sebagian besar berada di pedesaan.
·
PKC
tidak dipedulkan partai Kristen dari kalangan orang Belandan dan Indo, sebab
orang-orang Kristen Belanda itu lebih merasa terikat pada kepentingan bangsa
dan negerinya, sehingga minat politik mereka sebagai orang Kristen tidak
diarahkan untuk kepentingan orang-orang Kristen pribumi.
·
Zending
tidak mampu mendukung mereka, karena kedatangan zending terutama adalah untuk
menjadi penyebar Injil atau agama Kristen, bukan sebagai penasihat di bidang
politik.
Dalam
situasi berat yang mengarah kepada kematian ini, sejak 1925 diupayakan untuk
menghidupkan kembali PKC, tetapi baru terlihat hasil yang cukup nyata pada
1930, ketika diadakan kongres, yang antara lain merevisi Anggaran Dasarnya.
Dinyatakanlah tentang dasar iman PKC, yaitu: keyakinan bahwa kemerdekaan hindia
harus dengan kerja Roh Suci dalam hati rakyat dan PKC beralaskan Kitab Suci
dalam berpolitik. Juga dinyatakan keyakinannya bahwa Indonesia pada akhirnya
akan merdeka juga. Bahkan dinyatakan juga keterbukaan kepada PKC percaya dan
yakin bahwa macam-macam agama itu tidak dianggap menjadi halangan satu sama
lainnya, buat jalan bersama-sama, guna mencapai maksud yang utama dan tinggi,
terutama pula dunia ini diadakan oleh kemurahannya Tuhan tidak saja kepada
orang yang beragama semat-mata.[24]
2.5.4.
Partai
Kaum Masehi di Indonesia (PKMI)
PKMI
merupakan partai Kristen Indonesia pada zaman pergerakan yang berusaha menjadi
partai untuk seluruh orang Kristen Indonesia.[25] Adanya kerinduan untuk membentuk sebuah partai Kristen yang
berskala nasional danh bersifat nasionalistik yang sudah muncul sejak tahun
1926, mula-mula dicetuskan oleh J. U. Mongowal dari Tomohon, Sulawesi Utara,
lalu disambut oleh sejumlah tokoh Kristen pribumi lainnya, maupun dari kalangan
Kristen Belanda (antara lain H.Kraemer). Ketika dibentuk
namanya disepakati Partai Masehi
Indonesia (PMI); baru belakangan ini diubah menjadi PKMI disambut baik,
tidak hanya oleh kalangan Kristen, melainkan kaum nasionalisme sekuler. Tapi
tidak semua orang Kristen mendukung berdirinya PKMI. Adanya yang mengkritik
karena menurutnya orang Kristen tidak perlu mencampur adukkan agama dan
politik. Ada pula yang berpendapat bahwa
orang Kristen tidak perlu mendirikan partai politik sendiri, melainkan melebur
atau bergabung dalam partai-partai nasional yang sudah ada.[26]
2.6.
Tokoh-Tokoh
Kristen pasa Masa Gerakan Nasionalisme
2.6.1.
Hendrik
Kraemer
Hendrik
Kraemer (1888-1965) pertama kali bertugas di Indonesia pada tahun 1921-1932
sebagai utusan Lembaga Alkitab Belanda, segera setelah ia menyelesaikan studi
doktornya di Universitas Leiden, antara lain di bawah bimbingan Snouck
Hurgronje, dengan disertasi mengenai teks-teks Islam berbahasa Jawa. Ia tidak
hanya ditugaskan membantu revisi terjemahan Alkitab dalam bahasa Jawa,
melainkan juga mengamati tren atau kecenderungan paling mutakir yang terlihat
di dalam masyarakat Indonesia, perkembangan di kalangan Islam, maupun juga
perkembangan di lingkungan gereja (terutama aspirasi kalangan Kristen peribumi
menuju kemandirian Gereja). Dalam perkembangan selanjutnya, Kraemer dikenal
sebagai seorang teolog awam yang berperan penting dilingkungan zending, antara
lain menyangkut dukungan terhadap semangat dan gerakan kebangsaan di Indonesis
serta dorongan kepada orang Kristen agar ambil bagian dalam gerakan itu.[27]
Oleh
karena itu Hendrik Kraemer mengawali dobrakan besar ke dinding jiwa
paternalistik. Sebelum tahun 1930, zending belum mengakui satu gereja pun
berstatus mandiri. Kemudian pada periode tahun 1930-1942, terdapat tujuh buah
gereja yang menerima status tersebut: HKBP, GKE, GKJW, GKJ, GKP, GMIM, dan GPM.
Beliau tampaknya berperan besar dalam hal ini dan Beliau lebih mementingkan
tentang tekad kuat untuk melaksanakan panggilan pelayanan Gereja secara
konsisten. Bagaimana gereja bertekun untuk memberitakan kabar baik (Injil),
melayani pembinaann kerohanian jemaat, dan menyampaikan layanan
sakramen-sakramen.[28]
Kreamer
dianggap sebagai pembawa wawasan baru zending terhadap nasionalisme Indonesia.[29]
Kreamer meyakinkan para zending di berbagai daerah bahwa kemadirian orang
Kristen Indonesia di daerahnya tidak perlu lagi ditunda-tunda. Perkembangan dan
lingkuangan GPI, yang membawa ke pembaharuan tahun 1935, diantara lain
merupakan hasil dorongan Kreamer. Ia terlibat dalam perjungan melawan
pemerintah dan pendapat umum masyarakat Belanda di Indonesia berkenaan dengan
pekabaran Injil di Bali.[30]
2.6.2.
J.
Leimena[31]
Johannes Lameina (1905-1977), berasal dari Ambon, tetapi ia tinggal
di Jakarta sejak usia mudanya. Di kota itu ia bersekolah di STOVIA. Kemudian,
dari tahun 1930 sampai 1941 ia bekerja sebagai dokter di RS Zending di Bandung,
dan setelah itu di tempat lain lagi. Tahun 1939 ia mencapai gelar doktor di
Jakarta, dengan tesis uji coba hati pada kaum pribumi. Di tahun-tahun
kemahasiswaannya, Leimena giat dalam Jong Ambon. Tetapi tak lama kemudian ia
terlibat dalam pelayanan mahasiswa Kristen yang dimulai oleh dr. C.L. Van
Doorn. Ia tergolong pendiri CSV di Jawa. Lima tahun kemudian ia ikut diutus ke
Tambaram, dan ia juga ikut hadir dalam berbagai konferensi NIZB (Serikat
Zending Hindia Belanda) di negerinya sendiri. Tahun 1927 Lameina menulis
artikel Zaman Baroe mengenai keadaan menyedihkan dimana para pekerja
harus bekerja, baik para kuli di desa-desa maupun para pekerja pabrik. Dalam
tulisanya yang disusun dalam bahasa Melayu khas Indonesia Timur, ia menunjukkan
bagaimana situasi tersebut dapat diperbaiki. Usaha untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat selalu menjadi tujuan penting bagi Lamena.
Di bawah pengaruh Karl Barth, ia
menyadari bahwa zending medis adalah tanda dari kasih Allah. Demikianlah, di
tahun 1939 ia dapat menentukan bahwa alasan keberadaan zending pada akhirnya
tidak terletak dalam kesaksian oleh perbuatan (seperti meringankan kesusahan
jiwa dan raga pasien), melainkan dalam “pemberitaan Rahmat dan Kasih Allah
kepada manusia yang hidup dalam kesusahan”. Pengutusan Sang Putra ke Dunia,
Menurut Lameina adalah “perbuatan paling mulia yang dapat dilakukan Allah Bapa
bagi anak-anak-Nya yang berdosa”. maka bagian Alkitab dari Yoh 1:1-18 tergolong
ayat yang paling disukainya (dan juga disukai oleh Soekarno).
Sejak saat ia dipengaruhi oleh
orang-orang seperti Van Doorn, Kraemer, dan W.A. Visser ‘t Hooft, kebutuhan
mengenai kerukunan dan persatuan menjadi sangat nyata bagi Lamena berlaku
sebagai tugas bagi negara, tetapi khususnya bagi gereja.
2.6.3.
A.L.
Fransz
Agustine Fransz (1907-1995), selalu bersikap sangat sederhana, namun
ia mewakili segi yang sangat unik dikalangan Oikumene. Ia tergolong generasi
pertama dari CSV, dan belajar hukum di Jakarta. Setelah lulus tahun 1933 ia
menjadi sekretaris bagian Indonesis dari Young Women Christian Association.
Setelah tahun 1950 tak terhitung banyaknya konferensi dan konsultasi di dalam maupun
diluar negeri yang ia hadiri selaku sekretaris DGI. Beliau mengadakan ceramah
yang diadakan dalam konferensi pemimpin kaum muda Kristen, November 1940 di
Salatiga, berjudul Persatuan kita dalam Kristus, yang melebihi segala
persatuan lain. kata-kata dari Yohanes 17:22 memiliki validasi yang sangat
menarik. Persatuan dalam Kristus mendobrak segala perbedaan antara ras, bangsa
atau gereja, yang membagi-bagi manusia mejadi berbagai kelompok. Hanya Kristus yang
mampu mendobrak keterpecahan kita dan menjadikan persatuan itu nampak.[32]
2.6.4.
Amir
Sjarifuddin
Amir
Sjarifuddin (1907-1948) berasal dari lingkungan keluarga Islam liberal,
walaupun banyak kerabatnya beragama Kristen, dan ia baru dibaptis dan menjadi
anggota HKBP pada tahun 1931 berkat pengaruh dr. C.L. van Doorn. Bagi kalangan
Kristen pada masa itu Amir dilihat sebagai pembela yang oaling fasih bahasanya
dalam memperjuangkan emansipasi kaum Kristen dan pandangannya memberikan
inspirasi yang menjadi relevan dalam sejarah peranan orang-orang Kristen pada
periode-periode berikutnya.[33]
2.6.5.
Mattheus
Jr.
Dalam
pidato peresmian MP pada hari raya Pentakosta 1913, Mattheus seebagai ketbagai
ketua MP antara lain berbicara mengenai kerukunan dan kerjasama, baik dengan
penganut lain maupun di kalangan orang Kristen, demi kemajuan bersama sebab
“kalau orang Kristen tidak menunjuan kerukunan di antara mereka, maka mereka
tidak dapat memberi sumbangan pada persatuan dan kesadaran bangsanya”. Pada
kesempatan lain, dalam acara kamp pemuda pada tahun 1920-an, ketika Mattheus
berbicara dan membawakan makalah berjudul Allah memberi tempat bagi semua
bangsa dan agama. Ia berkata:
“Semua
bangsa, baik mereka yang sudah mengenal dan beriman kepada Allah maupun mereka
yang belum beriman, telah memasuki rancangan keselamatan Allah. Karena itu
kehidupan bangsa-bangsa di masa kini, suka atau tidak, dipaksa untuk
memanfaatkan sarana-sarana keselamatan: ini merupakan bukti yang paling nyata
bahwa panggilan Allah kepada bangsa-bangsa telah datang, dan lingkaran cahaya
keselamatan telah dilihat semua orang”.[34]
2.7.
Pertumbuhan
dan Perkembangan Kekristenan pada Masa Gerakan Nasionalisme di Indonesia
Gerakan
nasionalisme di Indonesia turut menentukan perkembangan menuju kemandirian dan
keesaan gereja-gereja. Dan hal itu diusahakan menunjukkan proses kemandirian
melalui asuhan zending yang bermuara pada pembentukan DGI pada tahun 1950.
Gerakan nasionalisme dimulai dengan pembentukan Budi Utomo, partai-partai PNI,
Serikat Islam sampai pada pergerakan-pergerakan lainnya (1908-1928) yang
menyebabkan berkorbarnya semangat nasionalisme bangsa, turut juga mempengaruhi
kehidupan umat Kristen dan Gereja-gereja di Indonesia. Perkembangan kehidupan
umat Kristen pada saat ini jelas ikut diwarnai oleh pergolakan politik
tersebut. Oleh sebab itu pengertian dan penghayatan kehidupan gereja-gereja
turut dipengaruhi semangat nasionalisme yang bergerak di tengah-tengah
kehidupan masyarakat.
Usaha-usaha penyebaran Injil yang
dilakukan oleh missionaris-missionaris dari berbagai badan zending pada masa
lampau di tanah air itu tidaklah sia-sia. Karena jerih payah pekerjaan mereka
itu pada saat ini memperlihatkan hasil buahnya. Dimana pertumbuhan dan
perkembangan jemaat-jemaat yang sangat menonjol periode ini disebabkan adanya
gerakan-gerkan pekabaran Injil yang dilakukan oleh kaum awam yang
sungguh-sungguh bertobat dan menerima Injil sebagai pedoman hidup baru mereka.
Untuk mempercepat proses pekabaran Injil, misionaris-misionaris kemudian mulai
meminta bantuan dari rekan-rekan pribumi untuk melakukan pekabaran Injil kepada
suku bangsa mereka sendiri (1930-1941). Mission Methodist Amerika, NZG, NZV dan
badan-badan zendling lainnya mulai melihat pentingnya peranan rekan-rekan
pribumi dalam usaha bersama di bidang pekabaran Injil. Kraemer, salah satu
tokoh missionaris yang berpandangan jauh bahkan mendesak agar usaha pekabaran
Injil dikerjakan langsung oleh orang-orang pribumi sendiri.[35]
Semangat
kebangsaan Nampak dalam kedewasaan dikalangan pemimpin-pemimpin gereja pribumi.
Sekalipun sudah ada hasrat dan kemauan keras untuk berdiri sendiri, namun dalam
kenyataannya, terutama dalam pembiayaan jemaat masih belum kuat. Untuk
kebutuhan pelayanan jemaat, ditahbiskanlah pendeta-pendeta pribumi. Dalam usaha
mencapai kedewasaan dan pendewasaan gereja-gereja Tuhan di Indonesia berhasil
di bidang kepemimpinan gereja dan pengakuan resmi sebagai Gereja yang otomi,
baik dari pemerintahan maupun badan-badan PI yang bersangkutan. Tetapi dalam
bidang keuangan dan administrasi masih jauh dari sempurna. Pemimpin-pemimpin
gereja di Indonesia menyadari perlunya meningkatkan usaha pengadaan tenaga
gerejani pribumi untuk mencapai pengaturan sendiri, pembiayaan sendiri dan
otonomi penuh.[36]
2.8.
Dampak
Kekristenan dan Gerakan Nasionalisme di Indonesia Bagi Negara
·
Keterlibatan
orang Kristen termasuk pemuda pelajarnya, dalam pergerakan nasional sempat
menimbulkan bahwa Kekristenan identik dengan semangat kolonialisme Belanda,
sehingga mustahil bagi orang-orang Kristen ikut dalam keterlibatan politik
untuk mencapai kemerdekaan. Tetapi keterlibatan orang Kristen yang makin besar
dalam pergerakan kebangsaan banyak mengubah pandangan negatif ini. Pertumbahan
pemikirn kalangan Kristen ini tak lepas dari bangkitnya kesadaran bersama
gereja-gereja di Indonesia untuk menjalin kerjasama yang lebih baik.[37]
·
Umat
Kristen yang menganut paham konservatif-tradisional, yang kebanyakan dianut oleh
kebanyakan orang Belanda maupun pribumi di kalangan GPI. Pemahaman ini tidak
hanya merintangi hubungan yang lebih terbuka dengan umat Islam, malah juga
dengan umat Kristen dari berbagai gereja Kristen lainnya yang sudah diisi oleh
semangat nasionalisme yang tidak terikat pada agama tertentu.[38]
·
Pengaruh Nasionalisme
Indonesia, terhadap kalangan Kristen di Indonesia, turut menentukan
perkembangan menuju kemandirian dan keesaan gereja-gereja. [39]
·
Akibat pengaruh
nasionalisme dalam ilmu pekabaran Injil, para zending pada umumnya dan tenaga
RMG pada khususnya memberi penilaian yang lebih positif dari pada sebelumnya
terhadap persekutuan masyarakat tempat mereka bekerja dan terhadap susunan
masyarakat itu. Maka orang yang masuk Kristen tidak lagi didesak untuk
memisahkan diri dari masyarakat tempat asal mereka.[40]
III.
Refleksi
Teologis
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa semangat kebangsaan
atau gerakan nasionalisme dimulai dari para generasi-generasi muda Indonesia
yang memiliki jiwa kebangsaan yang menghasilkan semangat gerakan nasionalis
yang besar. Melalui semangat generasi muda itu terlihatlah jelas walaupun masih
muda jangan merasa rendah atau takut untuk melakukan sesuatu yang sulit seperti
dalam 1 Tim. 4: 12a, “Jangan seorangpun
menganggap engkau rendah karena engkau muda”. Semangat kebangsaan yang telah
menjadi gerakan besar itu awalnya sulit untuk bersatu karena melihat status
agama, suku dan budaya. Namun karena menyadari bahwa Indonesia adalah Indonesia
yang satu, maka bangsa Indonesia menjadi satu untuk mencapai kemerdekaan.
Seperti dalam 1 Kor. 1:1 dikatakan “Tetapi aku menasihatkan kamu,
saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata
dan jangan ada perpecahan diantara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat
bersatu dan sehati sepikir
IV.
Daftar
Pustaka
Aritonang, Jan
S., Sejarah Perjumaan Kristen dan Islam di Indonesia, Jakarta: BPK-GM,
2015.
Culver,
Jonathan E., Sejarah Gereja Indonesia, Bandung: Biji Sesawi, 2014.
End, Th. Van
Den & J. Weitjens, Ragi Cerita 2,
Jakarta: BPK-GM, 1989.
Hoekema, A.G., Berpikir dalam Keseimbangan yang Dinamis,
Jakarta: BPK-GM, 1997.
Kamsori, M.
Eryk, Ilmu Pengetahuan Sosial Sejarah,
Bogor: CC.Regini, 2006.
Muljana, Slamet,
Kesadaran Nasionalisme dari Kolonialisme
sampai Kemerdekaan, jillid 1, Yogyakarta:
LKIS, 2008.
Schie, G. Van, Rangkuman Sejarah Gereja Kristiani dalam Konteks
Sejarah Agama-agama Lain, Jakarta: Obor, 1995.
Simatupang,
T.B., Iman Kristen dan Pancasila, Jakarta:
BPK-GM, 1989.
Ukur, F., &
F.L Cooley, Jerih dan Juang, Jakarta:
LPDS-DGI, 1979.
Zakaria, Kekristenan dan Nasionalisme, Jakarta:
BPK-GM, 2001.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar