Nama : Rindu Roito
Situmeang
Kelas : III-B/Teologi
Mata Kuliah : Homilitika I
Dosen : Pardomuan Munthe, M. Th kelompok
5
Ujud dan Tujuan Khotbah
3. Menurut Kotbah-kotbah Rasul Paulus
4. Menurut Kotbah-kotbah Rasul Yohannes
5. Menurut Tokoh-tokoh Homilitika
I.
Pendahuluan
Khotbah
seperti yang telah kita ketahui, dalam aliran protestan khususnya merupakan
sentral dari ibadah. Begitu pentingnya berkhotbah dalam suatu ibadah, sehingga
dapat digambarkan sebagai “jantung” dari sebuah ibadah. Khotbah selalu identik
dengan pemberitaan firman. Adapun ujud dan tujuan khotbah menurut Rasul Paulus
dan Yohannes dan tokoh-tokoh Homilitika akan kita bahas dalam sajian kita kali
ini. Semoga sajian ini dapat menambah wawasan kita bersama.
II.
Pembahasan
2.1. Pengertian Khotbah
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Khotbah
merupakan suatu pidato yang menguraikan ajaran agama.[1]
Khotbah adalah salah satu pemberitaan Injil. Akan tetapi, bukan menjadi
satu-satunya cara pemberitaan.[2]
Khotbah adalah suatu pembicaraan yang menerangkan jalan keselamatan melalui
Yesus Kristus yang dilakukan melalui mulut manuisa menjadi kesaksian bagi
manusia lain.[3]
2.2. Ujud Kotbah
Ujud dapat diartikan sebagai sifat, corak, atau
khasiatnya khotbah dan itulah yang membedakannya dengan pidato, ceramah, dan
sebagainya. Dalam khotbah yang menjadi sumber dalam pemberitaan kita harus
dititik beratkan tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, karena olehnya
Allah memperdamaikan dunia dengan dirinya sendiri.[4]
2.3. Tujuan Kotbah
Pada umumnya semua khotbah yang Alkitabiah
bertujuan agar pendengarannya menjadi taat kepada Allah.[5]
Tujuan terbaik dalam khotbah ialah Yesus Kristus dan segala pekerjaannya yang
sudah genap sempurna. Khotbah yang semacam ini sering dipakai Roh Kudus untuk
mendatangkan mujijat dalam mendatangkan pertobatan, yaitu seorang berdosa yang
mengisi dosanya, lalu menghampiri tahta anugrah Yesus Kristus memohon
pengampunan dosa.[6]
2.4. Ujud dan Tujuan Khotbah Menurut Kotbah Rasul Paulus
a. Tujuan Umum
Dalam Kis 9:29, Paulus berkotbah sesudah
pertobatannya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Sesuai dengan pernyataan Alkitab,
khotbah-khotbahnya dia berkuasa. Khotbah Paulus, Bernabas, dan para rasul
lainnya disebut “suatu pemberitaan tentang kasih karunia”. Kisah Parah Rasul
4:1-21 merupakan petunjuk yang sangat bagus mengenai kotbah Paulus dan Yohannes
tentang kabar baik di Derbe dan mereka memenangkan orang yang kemudian dimuridkan. Disini dapat dilihat
bahwa tujuan khotbah Alkitabiah adalah memenangkan orang dan merawat iman.[7]
Secara umum khotbah-khotbah Paulus yang
beberapa terdapat di dalam Kis 9:20; Kis
17:23-30; Kis 20:21; Kis 4:1-21; Kis 1:25, adalah untuk memperkenalkan Allah
kepada setiap orang agar mau bertobat. Tuhan Yesus haruslah dijadikan sebagai
teladan utama dalam hidup (1 Yoh 2:6) atau dengan kata lain Paulus
menjelaskan bahwa tujuan khotbah itu
ialah agar setiap orang mau meninggalkan perbuatan yang jahat, buruk, atau
sia-sia dan segera memohon ampun kepada Tuhan Yesus, lalu kembali balik dan percaya
kepada Yesus Kristus agar diselamatkan serta hanya memuliakan dan meninggikan
nama Tuhan.
b. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui salah satu tujuan khusus dari
khotbah Rasul Paulus dapat kita lihat, misalnya pada khotbahnya mengenai Pembenaran
oleh Iman kepada jemaat di Galatia (Lih. Gal 3:1-14), yaitu:
Dimana ia berkotbah : digalatia
Siapa pendengarnya : orang-orang Galatia
Permasalahan : permasalahannya pada saat itu jemaat Galatia sedang
diombang-ambingkan oleh beberapa oknum yang memutarbalikkan injil (gal 1:6-7),
seruan Paulus kepada orang-orang Galatia ini sangatlah kerans, tampak pada
tekanan kata ‘bodoh’ yang ia sampaikan kepada orang-orang Galatia itu (Gal
3:1).
Solusi : Paulus hendak membuka pemikiran
orang-orang Galatia, tentang bodahnya orang yang menggantungkan hidupnya pada
hukum taurat dan bukan kepada iman didalam yesus kristus. Paulus menegaskan
bahwa itu adalah usaha yang sia-sia, sebab jika seseorang telah memulai dengan
roh, janganlah ia mengakhirinya di dalam daging (ay. 3). untuk menyadarkan
orang-orang Galatia, bahwa kristus adalah semua didalam segala sesuatu dan
orang Galatia, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan
dikasdihinya, hendaklah itu hidup didalam keseharian orang-orang Galatia (ay
11-12).Dalam nats ini sangatlah jelas bahwa tujuan khotbah Paulus ini adalah
menekankan kepada orang-orang Galatia agar hidup didalam iman kepada Yesus
Kristus.
Pesan yang diambil : dari hal ini kita dapat mmelihat bahwa
Rasul Paulus adalah salah satu nabi yang ingin menyadarkan orang-orang Galatia
yang dimana mereka diombang ambingkan oleh beberapa oknum yang memutar balikkan
ajaran injil. Disini juga Paulus menunjukkan kepada kita bahwa injil berbicara
tentang keselamatan oleh iman dan bukan oleh perbuatan.
2.5.Ujud dan Tujuan Khotbah Menurut Kotbah Rasul Yohannes
a. Tujuan Umum
Yohanes menyatakan tujuannya dalam Yoh 20:31, yaitu "supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias,
Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya."
Naskah kuno Yunani dari Yohanes memakai satu dari dua bentuk waktu untuk kata
Yunani yang diterjemahkan "percaya". Jikalau
Yohanes bermaksud yang pertama, ia menulis untuk meyakinkan orang yang tidak
percaya untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan diselamatkan. Kalau yang
kedua, Yohanes menulis untuk menguatkan dasar iman supaya orang percaya dapat
terus percaya walaupun ada ajaran palsu, dan dengan demikian masuk dalam
persekutuan penuh dengan Bapa dan Anak (bd. Yoh 17:3). Walaupun kedua tujuan ini didukung dalam kitab Yohanes,
isi dari Injil ini pada umumnya mendukung yang kedua sebagai tujuan utama.
b. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui salah satu tujuan khusus dari khotbahYohanes dapat kita
lihat dalam Yohanes 1:19-28, yaitu:
Di mana Ia berkhotbah: di Betania di seberang sungai Yordan
Siapa Pendengarnya : imam, orang-orang Lewi dan orang-orang
Farisi yang di utus Yahudi untuk menanyakan siapakah Yohanes
Permasalahan :
adanya rasa penasaran orang-orang Yahudi terhadap Yohanes, apakah ia Mesias,
Elia, atau Nabi. Sehingga mengutus beberapa orang untuk menyelidiki tentang
Yohanes.
Solusi : yang awalnya Yohanes menjawab setiap
pertanyaan mereka dengan kata “bukan” dan akhirnya dia menyampaikan Jawabnya: "Akulah suara orang yang
berseru-seru di padang gurun: Lurus kanlah jalan Tuhan!
seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya." 1:24 dan saat ditanyakan kembali, mengapa ia
membaptis maka jawaban Yohanes adalah bahwa Yohanes menjawab mereka,
katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di
tengah-tengah kamu berdiri Dia yang
tidak kamu kenal, 1:27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku.
Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak." 1:28 .
Pesan yang diambil :
dari hal ini kita dapat melihat bahwa Yohanes pembabtis adalah salah satu nabi
yang begitu yakin pada Yesus sebagai Mesias. Dari keyakinan inilah ternyata
Yesus Tuhan itu tidak bisa terselami oleh makhluk ciptanNya.
2.6.Ujud dan Tujuan Kotbah Menurut Tokoh-tokoh Homilitika
2.6.1. Pada Zaman Bapa Gereja
1. Origenes (185-254)
Origenes
lahir dari sebuah keluarga Kristen yang sangat saleh pada tahun 185 di kota
Aleksandria, Mesir. Origenes adalah orang genius yang menulis banyak buku.
Pandangan-pandangan teologinya sangat berpengaruh pada zamannya.[8]
Origenes berpendapat bahwa Alkitab tidak bisa dimengerti sepenuhnya, kecuali
dengan penafsiran alegoris. Ada bagian-bagian dalam Perjanjian Lama yang kurang
menyenangkan kalau diartikan secara harfiah. Maksudnya adalah untuk menunjukkan
bahwa kita perlu mengali lebih dalam untuk mencari makna yang terselubung.
Origenes banyak menulis tafsiran, kotbah (yang praktis dan banyak mendidik).[9]
Origenes
memaparkan tradisi Rasuli, yang
dianggapnya sebagai batu ujian bagi ajaran ortodoksi. Para Rasul telah
menyampaikan beberapa doktrin dengan bahasa sederhana kepada semua orang
percaya. Origenes mendaftartarkannya. Tetapi ia mengatakan bahwa orang Kristen
yang bijaksana boleh menelaah lebih jauh, asal tidak menentang doktrin
tersebut.[10]
Menurut Origenes, homiletika adalah ilmu yang menerangkan atau menjelaskan
arti, isi, maksud, dan tujuan firman Tuhan. Ia mempelopori munculnya metode
menerangkan dan mengkhotbahkan firman Tuhan secara somatis, psikis dan
pneumatic. Somatis artinya mencari pengertian lain yang lebih luas dari yang
tertulis dalam teks, psikis berarti mencari dan mengusahakan keterangan kotbah
yang lebih luas dan mendalam. Pneumatic
artinya jauh lebih dalam lagi dari arti psikis.[11]
2. Agustinus (354-430)
Ia merupakan
seorang Bapa Gereja yang pandangan-pandangan teologinya berpengaruh dalam
Gereja Barat. Dilahirkan di Tagaste Afrika Utara, tidak jauh dari Hippo Regius
pada tanggal 13 November 354.[12]
Menurutnya, pentingnya menekankan persiapan rohani seorang penafsir, pemimpinan
Roh Kudus, pengertian harafiah dan aspek sejarah teks dalam penafsiran.
Agustinus mengatakan bahwa kotbah mencakup unsur mengajar (docere), menyenangkan
hati (delektere) adalah percakapan yang penuh arti; flektere ialah yang
menimbulkan rasa cinta, keinginan, kerinduan akan isi percakapan dalam kotbah.
Agustinus memutuskan tujuan kotbah dengan 3 hal yaitu:
1.
Pateat,
supaya kebenaran semakin diketahui
2.
Placeat,
supaya kebenaran diterima dengan gembira
3.
Moveat,
supaya kebenaran semakin mengerakkan orang
Dalam
kotbah menurutnya harus ada aspek “Moveat” agar kotbah jangan hanya menjadi
obat telinga atau membuat yang geli-geli atau ketawa-ketawa tapi sesuai kebktian
obat telinga itu hilang dan lenyap. Jadi, menurut Agustinus tujuan kotbah
adalah supaya kebenaran semakin luas diketahui, supaya kebenaran diterima
dengan gembira dan supaya kebenaran semakin menggerakkan orang yang
mendengarkan firman Tuhan.[13]
3. Johanes Chrysostomus (398)
Ia adalah seorang imam di Antiokhia pada tahun
387. Ia dikukuhkan sebagai uskup tahun 398.[14]
Menurut dia, seseorang yang mempelajari teologi tujuannya adalah mengkotbahkan
firman Tuhan. Menafsirkan firman Tuhan sama dengan berkotbah. Kotbah, menurut
Chrysostomus, selain mengandung aspek pendidikan, juga membangkitkan Roh
membangun di jemaat. Pengkotbah adalah pembawa suara dan pangilan Yesus. Kotbah
Chrysostomus kebanyakan berisi tafsiran-tafsiran Alkitab dengan aplikasi yang
homiletis. Tugas berkotbah bagi Chrysostomus merupakan tugas pengembalaan.
Kotbah dan pengembalaan sangat erat hubungannya.[15]
2.6.2. Pada Zaman Reformasi
1. Martin Luther (1483-1546)
Martin
Luther lahir pada tahun 1483 di Eisleben, Jerman. Dia lebih dikenal sebagai
seorang tokoh reformasi gereja di Jerman pada abad ke-16.[16]
Martin mengartikan firman Tuhan adalah Kristus, Alkitab dan khotbah gereja
Tuhan Allah menyatakan dirinya dalam Yesus Kristus. Oleh sebab itu, firman
Tuhan (Alkitab) perlu dikhotbahkan. Tampa Roh Tuhan, maka kata-kata dalam
Alkitab hanyalah kata-kata semata. Firman Tuhan dibicarakan, ditafsirkan dan
dikhobahkan agar iman dibangkitkan. Menurut Martin Luther, Yesus adalah Allah
yang dikhotbahkan. Yesus perlu dikhotbahkan. Khotbah memberitakan keselamatan dan menuntun pendengar untuk beerperang melawan
iblis. Tampa Kristus, Alkitab dan khotbah akan kehilangan arti. Tampa Alkitan
dan khotbah, kristus tidak akan sampai kepada kita. Menurut Luther, firman
Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab tetapi tidak diberitakan sama sekali tidak
mempunyai arti. Pemberitaan terjadi bila firman itu dikhotbahkan. Hanya di dalam khotbah, firman tertulis yang
dinyatakan pada masa lampau, menjadi hidup dan actual pada masa kini.[17]
Firman dan sakramen adalah kata-kata kunci dalam kehidupan gereja-gereja
Lutheran dalam nyatanya merupakan pusat ajaran Lutheran “firman” semata-mata
mengacu kepada Alkitab sebagai mana dinyatakan lewat semboyan Sola Scriptura,
artinya hanya oleh Alkitab.[18]
2. Ulrich Zwingly (1484-1531)
Zwingly
dilahirkan pada tanggal 1 Januari 1484 di Wildhaus, Toggenburg, Swiss.[19]
Sehubungan dengan homilitika, Zwingly telah melakukan pembaharuan gereja
melalui seminar PL di Zurich pada tahun 1525. Dalam seminar itu, dia dan
kawan-kawannya berusaha menafsirkan kitab-kitab PL. dan setiap selesai satu
seminar, mereka menyelengarakan khotbah bagi rakyat atau penduduk kota. Menurut
Zwingli Khotbah adalah eksplicatio
(eksplikasi: menggali isi firman Tuhan) dan aplicatio
(aplikasi: menghubungkan dengan kehidupan konkret). Ciri khas khotbah bagi
Zwingly ialah eksegetis (langsung menafsirkan Alkitab), humanisti (pengerakan
pemikiran manusia yang didasarkan humanisme dan dialaskan atas ajaran Alkitab)
dan social politis (konsekuensi dari gerakan humanisme keagamaan, sebab
humanisme itu menyangkut semua bidang kemasyarakatan baik kultural, ekonomi,
social, politik). Zwingly lebih mengutamakan “sensus anagogicus” yaitu mengali
pengertian yang tersirat (Alkitab) sebagai isi khotbah.[20]
3. Yohannes Calvin (1509-1564)
Yohannes
Calvil dilahirkan pada tanggal 10 Juli 1509 di Noyon, disebuah desa di sebelah
Utara kota Paris, Perancis. Ia merupakan seorang pemimpin gerakan reformasi
gereja di Swiss.[21]
Bagi Calvin Alkitab merupakan otoritas tunggal untuk berkotbah. Alkitab
hanyalah alat atau instrument yang digunakan Tuhan untuk menyatakan
kehendaknya. Alkitab yang memiliki otoritas tunggal bagi gereja dan menjadi
satu-satunya norma bagi iman Kristen. Hal ini sesuai dengan ajaran Luther “Sola
Sciptura” (hanya Alkitab). Kemudian, Alkitab itu perlu ditafsirkan melalui
kotbah. Melalui khotbah yang menafsirkan Alkitab, maka rencana Allah yang
menyelamatkan menjadi pemberitaan Injil untuk umat manusia. Khotbah menurut
Calvin merupakan kelanjutan tugas kenabian. Khotbah adalah tanda anugrah Allah
yang besar terhadap kita oleh karena Allah melalui khotbah berbicara dengan
manusia.[22]
III.
Kesimpulan
Dari pemaparan diatas, saya menyimpulkan bahwa
ujud khotbah sesuai denga artinya sebagai sesuatu yang dikehendaki ataupun
maksud dan tujuan. Adapun maksud dari khotbha Rasul Paulus dan Rasul Yohannes
semuannya mengarah kepada Yesus Kristus. Karena tampak, dari tiap khotbah yang
disampaikan oleh kedua rasul ini selalu beriontasi kepada Yesus Kristus yang
menjadi teladan dalam perbuatan orang Kristen. Tujuan khotbah menurut Paulus
adalah lebi-lebih mengarah kepada bagaimana pembaharuan terjadi didalam jemaat-jemaatnya
sementara Yohannes menguatkan dasar iman supaya orang percaya dapat terus
percaya bahwa yesuslah mesias, anak Allah.
IV.
Daftar Pustaka
Aritonang,
Jan. S., Berbagai Aliran di dalam dan
Sekitar Gereja, Jakarta: BPK-GM, 1995.
Curtis, A. Kenneth, dkk, 100 Penting Dalam Sejrah Gereja, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2013.
Gintings, E.
P., Homiletika Khotbah dan Pengkhotbahnya,
Yogyakarta: ANDI Offset, 2013.
Gintings, E.
P., Khotbah dan Pengkhotbah, Jakarta:
BPK-GM, 1998.
Gintings,
E.P., Homiletika dari Teks Sampai
Khotbah, Bandung: BMI, 2012.
Jong, S. de.,
Khotbah, Jakarta: BPK-GM, 1985.
Lane, Tony, Runtut Pijar, Jakarta: BPK-GM, 2016.
Poerdawinta,
W. J. S., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:
Balai Pustaka, 1996.
Pouw, P. H., Uraian Singkat Tentang Homiletik,
Bandung: IKAPI, 1997.
Pouw, P. H., Uraian Singkat Tentang Homiletika Ilmu
Berkotbah, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2006.
Rothlisberger, H., Homiletika
Ilmu Berkhotbah, Jakarta: BPK –GM, 2015.
Wellem, F.
D., Riwayat Hidup Singkat, Jakarta:
BPK-GM, 2011.
[2] S.
de. Jong, Khotbah, (Jakarta: BPK-GM,
1985), 11.
[3] P.
H. Pouw, Uraian Singkat Tentang
Homiletik, (Bandung: IKAPI, 1997), 10.
[4] H. Rothlisberger, Homiletika Ilmu Berkhotbah, (Jakarta:
BPK –GM, 2015), 12.
[5] H. Rothlisberger, Homiletika Ilmu Berkhotbah, 27.
[6] P.
H. Pouw, Uraian Singkat Tentang
Homiletika Ilmu Berkotbah, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2006), 15.
[7] E.
P. Gintings, Homiletika Khotbah dan
Pengkhotbahnya , (Yogyakarta: ANDI Offset, 2013), 110-111.
[8] F.
D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat, (Jakarta:
BPK-GM, 2011), 150-151 .
[9]
Tony Lane, Runtut Pijar, (Jakarta:
BPK-GM, 2016), 16-17 .
[10]
F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat, 152
.
[12]
F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat, 23.
[13]
E.P. Gintings, Homiletika dari Teks
Sampai Khotbah, (Bandung: BMI, 2012), 114-115.
[14] A. Kenneth Curtis, dkk, 100 Penting Dalam Sejrah Gereja, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2013),
28.
[15]
E. P. Gintings, Homiletika Pengkhotbah dan Khotbahnya , 123-124.
[16] Tony
Lane, Runtut Pijar, 132.
[17]
E. P. Gintings, Khotbah dan Pengkhotbah, (Jakarta:
BPK-GM, 1998), 13-17.
[18]
Jan. S. Aritonang, Berbagai Aliran di
dalam dan Sekitar Gereja, (Jakarta: BPK-GM, 1995), 45.
[19]
F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat,
199.
[21] F.
D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat,
49-50.
[22] E.
P. Gintings, Khotbah dan Pengkhotbah, 19-20.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar